Showing posts with label profilku. Show all posts
Showing posts with label profilku. Show all posts

Friday, May 28, 2010

Berangkat dari Sebuah Kesederhanaan


Sebuah kota kecil berjuluk Bumi Bung Karno menjadi tempatku mulai menatap dunia. Di sana, ibuku melahirkanku sebagai seorang anak laki-laki. Tak ada yang istimewa dari keluargaku. Ayahku adalah seorang wirausahawan. Ia seorang tukang servis mesin jahit. Rendahan kedengarannya. Tapi kami mandiri. Itu yang membuatku bangga padanya hingga kini.

Ibuku adalah ibu rumah tangga. Seseorang yang menjadi manajer keluarga kami. Dan aku sendiri lahir di kota kecil ini, Blitar namanya, sebagai seorang anak yang bernama Muhamad Rosyid Jazuli.

Sedikit perkenalanku itu semoga memberi gambaran bahwa tak ada yang bisa aku sombongkan dari duniaku. Aku dibesarkan di suasana kesederhanaan keluarga. Bahkan, di kemudian hari, keluarga kami memiliki empat anak, dan akulah yang pertamanya. Aku akhirnya memiliki tiga adik. Inilah kehidupan keluargaku, enam orang yang selalu penuh semangat kemandirian megarungi samudera kehidupan.

Tentunya setiap orang punya jalan hidupnya masing-masing. Aku pun demikian. Aku menjalani waktu pendidikanku sebagian besar di kotaku. Ketika aku lulus dari TK al-Hidayah, aku melanjutkan proses belajarku di SD Islam Sukorejo. Kemudian aku memilih SMP Negeri dua Blitar untuk menempuh masa pendidikan menengahku yang pertama. Cukup baik hasil yang aku capai saat itu. Aku menjadi peraih NEM tertinggi se SMP.


Sentuh organisasi
Pendidikan menengah atasku aku tempuh di SMA Negeri 1 Blitar. Lokasinya cukup jauh, hampir dua kali lipat jarak rumahku ke SMP. Aku hanya memiliki sepeda butut bekas yang dibelikan ayah ketika aku kelas 4 SD. Dan itulah yang terus membantuku sampai di tempatku belajar, tempatku menyemai benih masa depanku.

Ketika aku SMA, aku mulai bersentuhan dengan dunia organisasi. Aku memutuskan untuk bergabung dengan IPNU (Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama). Aku mulai karyaku di organisasi itu mulai dari ranting di kelurahan-ku, PR (Pengurus Ranting) IPNU Pakunden. Saat itu aku mejadi wakil ketua. Beberapa kali aku ikut serta dalam acara rutinan. Bagiku acara itu sederhana sekali. Akan tetapi, itulah basis peraudaraan yang nyata dan tentunya benar-benar menyatukan rasa kebersamaan antaranggota.

Satu periode berjalan, aku pindah ke pengurusan yang lebih tinggi tingkatannya, tingkat cabang. Usai konfercab (Konferensi Cabang), aku ditempatkan di posisi bendahara. Aku sungguh menikmati masa-masaku saat itu. Sayang, belum lengkap satu periode berjalan, aku harus meninggalkan organisasi itu karena sesuatu. Aku, kebetulan, dapat beasiswa untuk melanjutkan studi sarjanaku di Jakarta.

Di dalam SMA sendiri, aku pernah merasakan bagaimana menjadi pemimpin organisasi kesiswaan tertingggi. Aku perah menjadi ketua OSIS. Banyak hal tentunya aku dapat ketika itu: pengalaman memimpin, mengelola, dan berdinamika di dalam organisasi. Sungguh pengalaman yang tidak akan pernah aku lupakan. Sebuah pengalaman yang menjadi titik balik kehidupanku saat itu. Aku yang dahulunya penuh dengan rasa minder, berubah hampir seratus delapnpuluh derajat menjadi pribadi yang penuh rasa percaya diri menghadapi kehidupan.


Duta
Kini, aku telah berada di Jakarta, pusat atmosfer negeri ini. Aku menerima beasiswa Paramadina Fellowship 2008 seketika aku lulus dari SMA. Sekarang aku kuliah di Universitas pemberi beasiswa itu, Universitas Paramadina. Hanya syukur kepada Tuhan yang bisa aku sampaikan. Beasiswa itu telah membiayai seluruh kebutuhan kuliahku. Biaya kuliah selama empat tahun, biaya buku sudah menjadi tak menjadi beban pikiranku. Bahkan uang saku aku juga dapatkan.

Aku dapat kejutan di Jakarta. Karir oragnisasiku di IPNU ternyata juga masih berlanjut. Aku mendapat kesempatan untuk bergabung dengan kepengurusan Pimpinan Pusat (PP IPNU) untuk periode tiga tahun mendatang (2009-2012). Sementara, aku juga menjadi duta bagi universitasku. Layaknya duta pada umumnya, adalah tugasku menyampaian berita baik dari dan ke dalam universitas. Tapi tentunya, secara kultural, aku juga duta bagi organisasi tempatku bernaung, PP IPNU.

Kukira apa yang kuraih selama ini bisa aku anggap sebuah prestasi. Tapi, tak perlu dibangakan, tak perlu disombongkan. Masih banyak orang yang jauh memiliki prestasi di luar sana. Aku yakin kebanggaan diri dan kesombongan hanya menutup hati yang berujung pada ketinggian hati. Sebuah sikap yang sangat di benci masyarakat.

Terakhir, adalah sungguh menyenangkan bagiku untuk mengingat perkataan seorang dosenku, “Just keep highly motivated, you will see the world.” (*)



*sumber gambar bisa diklik langsung pada gambarnya.

Monday, February 22, 2010

Aku dan Kehidupanku (3)

Sekedar Kisah SMA

Layaknya anak pada umumnya, tentunya aku juga ingin mendapatkan pendidikan yang layak. Bahkan, kalau bisa yang terbaik. Maka dari itu, aku memilih SMA 1 Blitar. Sebuah sekolah yang punya reputasi terbaik di kotaku, Blitar. Sebuah sekolah yang paling digemari oleh setiap anak SMP yang baru lulus. Kalau bisa masuk di sana, prestigious sekali. Syukur, aku bisa masuk.

Awalnya aku mengira bangunan SMA ini berkorelasi positif reputasinya. Tapi kenyataannya ironi yang kudapatkan. Sekolah ini dipenuhi bangunan tua. Atap kelas-kelasnya tinggi sekali, persis bangunan peninggalan penjajah. Tak ada kesan sebuah sekolah modern seperti yang aku bayangkan selama ini. Aku kira semua areanya dibalut oleh rumput dan paving untuk tempat berjalan atau taman-taman indah tertata rapi. Tapi bukan itu nyatanya.

Area Horor
Masih banyak area yang hampa tak berhias sama sekali. Tanahnya kusam. Berpasir. Kalau hujan maka bersiaplah melihat sepatumu basah kuyub plus lumpur gratis yang tanpa diperintah menyasar sepatumu. Dan bila kau masuk dengan sepatu habis disemir, maka jangan harap bisa keluar dengan selamat. Kau akan melihat sepatumu dikerumuni oleh debu sialan yang merusak nan menjengkelkan.

Bahkan, satu hal yang tak pernah masuk dalam rangkaian dugaan di otakku, sekolah ini dilengkapi dengan area paling horor. Sebuah lapangan basket tua dan kotor dan dikelilingi pohon-pohon tua nan tinggi. “Teksas” nama daerah itu. Katanya itu singkatan dari “tempat eksis anak smasa (SMA 1)”, tapi bagiku, "Eksis engga, menakutkan iya." Ada 3 kelas dan 1 laboratorium di sana. Horor juga ruang-ruang itu.

Sungguh di luar dugaan. Selama ini ternyata hanya reputasinya yang baik, gedungnya sedikit menyedihkan. masih bagus bagunannya SMA 3. Tapi ya sudahlah, terlanjur masuk.





Sequence Pertama: Karma
Aku mulai sequence hidup di sekolah ini dengan biasa saja. Tak ada yang spesial. Tapi yang sedikit aku sayangkan, ternyata aku memulainya dengan menjadi penghuni Teksas. Sungguh aku tak menyangka. Kalau aku sebut teksas itu sedikit menyedihkan, maka orang-orang yang “terjebak” didalamnya juga sdikit menyedihkan. Aku ini adalah bagian dari orang-orang sedikit menyedihkan itu. Kesannya sedikit termarjinalkan. Aku dimasukan di salah satu kelas di dalam teksas. Kelasnya X-7.

Sebuah pelajaran secara sederhana aku simpulkan. Jangan pernah mencibir atau mengumpat sesuatu hal, karena bisa saja kau nanti jadi bagian hal yang kau cibir itu. Inikah karma? Entahlah.
Aku lewati masaku pada tahun pertama dengan sungguh tak berima. Datar saja. bahkan sedikit menyebalkan. Aku tak bertaji. Tak ada kontribusi. Padahal usia muda itu kesempatannya banyak.

Meski demikian, bagaimanapun gedungnya, SMA-ku ini tetap yang terbaik. Aku berhutang budi pada SMA ini begitu banyak. Aku diberi kesempatan untuk mengenyam pendidikan menengah atas terbaik di kotaku. Aku dihadapkan dengan guru-guru berkualitas meski pembawaannya sedikit menjengkelkan, kadang malah bikin bosan. Dan tentunya, aku dapatkan teman-teman yang sungguh luar biasa. Teman-teman yang menjadi keluarga keduaku.

Sequence Kedua: Bunderan HI
Setelah menyelesaikan tahun pertamaku dengan begitu membosankan, aku akhirnya juga bisa melarikan diri dari cengkeraman teksas yang selalu membuatku tak nyaman. Akhirnya aku hengkang dari rumah hantu sialan itu. Aku akhirnya naik kelas dua.

Aku dapatkan kelas yang jauh lebih lumayan. Kelas XI-IA 6. Tempatnya terang. Di depannya ada taman tua yang dibatasi kolam melingkar. Tak ada airnya nan terkesan kotor. Itu adalah area yang sering disebut bunderan HI (Hotel Indonesia). Aku tak yakin setiap anak di SMA itu pernah melihat bunderan HI yang sebenarnya. Tapi mengapa mereka sebut bunderan HI? Misteri.

Berharap mendapatkan suasana kelas yang lebih baik, ternyata aku dimasukkan dalam kelas yang anak-anaknya super-individual. Tak mau tahu urusan orang lain. Ini bencana keduaku. Setelah lama aku menghuni “rumah hantu”, kini aku menghadapi anak-anak yang menyebalkan. Sampai-sampai beberapa guru bilang kalau kami ini meski sekelas, tapi punya gab. Kelas yang berlagak akur tapi menyimpan keretakan yang sangat potensial di dalam. Semu nan membahayakan.

Memang beberapa teman telah bisa menyatu, tapi tetap berkelompok-kelompok. Tak ada sinkronisasi dan harmonisasi. Aku sendiri tak paham apa yang jadi sebabnya. Terasa saja. Kau pasti pernah merasa di mana suatu suasana yang tak ada kosa kata untuk menjelaskannya. Kelas yang membosankan. Bagaimana tidak? Hampir satu tahun tak ada kesamaan visi dan persepsi.

Sequence Ketiga: Integrasi Rolasipasiji
Ketika naik kelas tiga, aku dikejutkan oleh keputusan dewan guru yang tak mengacak kelas layaknya tahun sebelumnya. Kau tahu kan maksudnya? Aku akan melanjutkan masa terakhirku, di kelas yang paling membosankan itu. memang namanya berubah. Menjadi XII-IA 1. Tapi tetap saja isinya. Aku tak bisa apa-apa. Ya sudahlah, jalani saja. Sambil aku berdoa agar kelas ini berubah.

Dan ternyata tuhan menjawab doaku. Aku tak paham kenapa Ia mengabulkannya. Maklum, aku ini bukan anak yang relijius-relijius amat. Perlahan ternyata keraguanku terkonfirmasi. Salah ternyata keraguanku. Dengan komposisi yang sama, ternyata kelas ini mulai berintegrasi. Mulai muncul keharmonisan antar anggota kelasnya. Mungkin juga karena kami mendapatkan wali kelas yang cukup tegas tapi sedikit membuat kami sekelas mencekam. Apa mungkin karena kesamaan rasa tercekam itu kelas kami jadi harmonis? Entahlah.

Kami mulai familiar dengan jalan-jalan bersama. Kami sekelas sempat bersepeda bersama ke candi terkenal di kotaku. Kami semakin akur saja. Semuanya jadi kompak. Ketika bulan ramadhan, kami sekelas mengadakan buka puasa bersma, meski tak semua muslim. Ketua kelas kami pun bukan muslim.

Kami kemudian mndeklarasikan diri menjadi sebuah kelompok massa yang sedikit konyol. Kami menyebut diri “Rolasipasiji”. Itu gabungan dari Rolas Ipa Siji. Bahasa jawa dari dua belas ipa satu (XII-IA 1).

Main Kartu
Tapi jangan dikira kekompakan itu selalu positif. Kekompakan kelasku juga punya sisi negatif. Inilah dunia, segalanya seimbang. Ada yang positif dan negatif. Yang baik dan yang buruk.
Kami sekelas sering berkomplot untuk menciptakan cara-cara jitu ngrepek alias menyontek. Jangan salah. Solidaritas kelas kami sangat kuat, tapi mungkin sedikit kebablasan. Puncak kegilaan kelas kami adalah saat UAN.

Saat pra UAN, kami sekelas malah menghabiskan waktu dengan main kartu. Kami main dua kartu. Poker dan UNO. Kami sering membuat forum kecil-kecilan. Bukan berdiskusi, tapi main kartu.

Dan puncak solidaritas gila ini adalah terciptanya sistem kerjasama bersama sukses UAN. Namanya bagus, tapi hakikatnya adalah sistem contekan masal. Anak yang pintar bertugas menyebarkan jawaban pada yang lain. Ketika satu siswa telah mendapat jawaban, maka ia bertugas menyebarkan ke yang lain. Apa medianya? SMS. Karena soalnya multiple choice, maka sangat mudah untuk eksekusi program underground ini. Hanya cukup satu sms buat seluruh jawaban tiap pelajaran.

Memang ini tak baik, tapi kami tak punya pilihan lain. UAN yang hanya 3 hari itu menentukan proses belajar kami selama 3 tahun. Pilihannya cuma dua saat itu. Lulus atau tidak. Tak ada kompromi macam-macam. Kalau lulus ya jalan terus, kalau tidak ya kalau tetep ingin lulus terhormat berarti mengulang satu tahun atau ambil paket C. Dilematis bukan?





Tuhan Bersabar
Kami dihadapkan oleh pilihan sulit. Maka, kami bertekad, kalau lulus, ya harus semuanya. Tak boleh ada yang tertinggal. Memang kami akui itu tak baik dan sungguh tak pantas dicontoh. Itu idealnya. Tapi kami terbentur keadaan. Kalau Kau bilang kami ini tak tahu aturan, maka kami akan jawab terima kasih mengingatkan.

Kali itu mungkin Tuhan masih bersabar. Dia menitipkan sedikit nikmatnnya pada kami. Dua tahun silam, 2008, kami sekelas lulus semua. Juga seluruh siswa SMA, sekolahku lulus 100%.
Aku kini telah hengkang dari SMA-ku itu. Aku juga tak lagi di kotaku itu. Aku merantau ke sebuah tempat di mana bunderan HI berada. Akhirnya aku melihat sendiri bunderan HI itu seperti apa. Tapi aku tak akan pernah lupa akan masaku yang kulalui di sana, di SMA itu. Karena masa itulah, aku jadi seperti saat ini.

Beberapa hari lalu aku menilik sekolahku itu. Mumpung lagi libur kuliah. Aku tak dapati lagi gedung itu seperti dulu. Ia sekarang lebih baik. Tanah-tanahnya mulai tertata. Beberapa bagian telah dipaving. Taman-taman juga tertata rapi. Sudah nampak modern.

Kelas-kelas tua yang dulu, kini sudah berubah. Sekolah itu membuka program enris (enrichment) dan aksel (acceleration) yang membatasi jumlah siswa perkelasnya. Jumlahnya lebih sedikit dari yang reguler. Kelas itu dilengkapi AC dan proyektor. Yang jelas mahal tentu biayanya. Aku dikasih tahu kalau biayanya lima kali lipat dari yang aku dulu bayar.

Bagiku program ini sedikit mendikotomi, antara reguler dan program khusus. Hanya anak orang mampu yang bisa masuk. Pada kenyataannya memang demikian. Prestasi anak-anak "kelas khusus" itu, aku dengar, juga tak bagus-bagus amat. Tapi entahlah, aku tak terlalu mempedulikannya. Toh itu juga yang membuat sekolahku itu jadi lebih baik.

Sementara bunderan HI tetap kering. Taman tuanya tetap tua. Bagaimana dengan teksas?
Sudah lebih baik. Tanah daerah itu sudah di-paving. Tak ada lagi debu-debu sialan itu lagi. Sepatuku yang bersemir terbukti selamat. Lapangan basket telah dicat kembali, begitu juga ruang-ruang kelasnya. Sudah agak terang sekarang. Tapi aku tak tahu, masih ada aroma horor. Tak mau aku berlama-lama di sana.

Ah, sekolahku, sudah lebih baik. Apa jadinya tahun-tahun selanjutnya ya?


Tulisan ini, selain sebagai tulisan lepas, juga diikutsertakan Djarum Black Blog competition Vol. 2. Event ini diadakan oleh PT Djarum yang familiar komunitas-komunitas inovatif-nya seperti Black Car Community, Black Motor Community, dan Black Community.





Sunday, February 14, 2010

Aku dan Kehidupanku (2)

Ini adalah sekuen kehidupan yang paling membuatku tak pernah bisa melupakannya. Kau pasti juga punya. Sebuah scene hidup yang membuka matamu lebar-lebar bahwa kenyatan hidup itu tak mudah. Tak mudah untuk dihadapi tapi juga tak perlu takut untuk mengatasinya.

Aku tak pernah menyangka akan pernah memimpin organisasi tertinggi di SMA. Aku pernah terpilih menjadi ketua OSIS. itulah saat aku mulai berkenalan dengan dunia yang komunal. Dunia di mana aku belajar untuk menegosiasikan apapun meski hanya sebuah keputusan. Pasti kau tahu, menyamakan pendapat itu hal yang sulit.

Mindset Murahan
Menjadi ketua OSIS merupakan turning point kehidupanku. Aku yang dulunya begitu minder, mulai terlatih untuk mengatasi diri, meski perlahan. Aku dihadapkan oleh situasi di mana aku harus menjadi penentu keputusan.

Perlahan tapi pasti aku menyadari bahwa selama ini mindset-ku-lah yang tak beres. Aku punya mindset murahan. Sebuah pola pikir yang selalu mengangap diri inferior. Aku selalu menganggap diri sendiri tak mampu. Aku selalu medahului nasibku. Tapi suasana ternyata berhasil memaksaku untuk memendam dalam-dalam mindset murahan itu.

Aku tak mungkin terus memlihara mindset seperti itu. oraganisasi yang aku pimpin ini rusak karenaku. Lalu mulailah aku berbenah. Pelan-pelan. Aku sadar kalau berada pada garis kepemimpinan yang punya reputasi baik sebelum-sebelumnya. Aku tak mau dan tak akan merusaknya.

Alasan Menyedihkan
Aku masih ingat bagaimana aku bisa “nyangkut” di organisasi itu. sebenarnya bukanlah aku ini yang dipiloh ketua kelasku untuk mewakili kelas ikut LDKS. LDKS atau Latihan Dasar Kepemimpinan Siswa merupakan pelatihan sebelum pencalonan ketua. Ketua kelasku memilih dua orang untuk ikut acara itu. Tapi, Salah seoarang dari mereka berdua menolaknya. Aku lupa alasannya.

Yang jelas undangan itu diberikan padaku. Aku semangat mengikuti LDKS. Kau tahu kenapa? Pesertanya akn mendapatkan makan siang gratis. Ya, makan siang gratis. Just that. Sungguh alasan yang sangat naïf. Menyedihkan sekaligus ta masuk akal. Sungguh alasan yang bila aku konfirmasi dengan pikiranku sekarang, itulah alasan yang paling bodoh di dunia ini. Dan aku sendiri yang melakukannya. Mengikuti sebuah pelatihan yang ditujukan untuk memilih pemimpin siswa, tapi alasannya hanya untuk cari makan siang.

Aku memang tak bisa memungkiri. Makan siang di sana pasti pakai daging atau ayam. Sesuatu hal yang jarang aku temui di rumah. Penghasilan ayahku sebagi tukang servis mesin jahit tak memungkinkan diriku ntuk menikmati ayam atau daging setiap harinya. Mungkin hanya sekali seminggu. Dan inilah yang membuat akal pikiranku jungkir balik.

Satu hal yang sedikit aku ingat, saat itulah namaku mulai dikenal oleh masyarakat SMA. Aku sedikit dikenal. Maklum, posisi sebagai ketua OSIS adalah kedudukan paling prestigious di mata mereka, terutama siswa. Jadilah aku anak yang terkenal di SMA.

Aku juga mulai menjadi anak yang berani berbicara. Bagaimana tidak? Hampir tiap minggu ada rapat dan aku harus memimpinnya. Kau pasti tahu, kalau kau dipaksa melakukannya, aku jamin kau juga akan seperti diriku.

Klise


Aku dilantik pada September 2006 lalu. Aku tak ingat tanggalnya. Tapi aku masih ingat bagaiamana prosesnya. Aku dan teman-teman kepengurusan baru di bariskan pada tempat sendiri saat upacara. Lalu kami dipandu oleh seorang komandan kompi untuk masuk lapangan saat upacara berlangsung.

Bagiku, itulah adegan hidupku yang mendebarkan. Aku tak bilang paling mendebarkan. Tapi pastinya itu sangat mendebarkan. Pagi itu, di upacara bendera, aku akan dinobatkan menjadi seorang pemimpin Organisasi kesiswaan tertinggi. Aku dambil sumpah untuk setia menjalankan tugas. Selama acara jantungku terus berdebar. Mata-mata peserta upacara menambah kencang saja debarannya. Mereka adalah saksinya. Kalau aku gagal nanti, maka habislah aku.

Saat itu aku diharuskan untuk menyampaikan pidato pelantikan. Asal tahu saja, pidato itu aku siapkan satu minggu lamanya. Hanya untuk berbicara tak lebih dari sepuluh menit. Bergaya sedikit politis, tapi juga tak substantif. Tapi aku tak bicara tipu daya. Aku bicara apa adanya, kalau nanti terjadi kesalahan itu memang wajar. Tapi kalau ada kebenaran dan kesuskesan, itulah nikmat Tuhan. Memang klise nampaknya, tapi memang itu yang aku anggap penting.

Akhir
Aku sudahi perjalananku di organisasi itu pada akhir agusus 2007. Lagi-lagi aku lupa tanggalnya. Aku mengucap syukur pada Tuhan karena semua kegiatan dapat aku laksanakan dengan lancar. Tentu dengan bantuan dan dukungan teman-teman sesama pengurus juga guru-guru pembimbing. Tapi jangan dikira perjalanan itu mulus. Aku sempat sakit karena harus tidur di sekolah selama tiga malam. Yang aku pelajari semua itu perlu pengorbanan.

Menjadi pemimpin itu memang tak mudah. Harus banyak batuan terjal yang dilalui. Tapi kalau dilalui dengan penuh keyakinan dan mau bekerja sama , semaunya psti bisa terlewati. Pasti ada saja cerita yang menyedihkan, kekonyolan, juga keusksesan yang tak akan pernah terlupakan. Kau tahu kenapa? Karena itulah yang membuatku sekarang jadi seperti ini.


baca juga tulisan ini di kompasianaku

Tulisan ini, selain sebagai tulisan lepas, juga diikutsertakan Djarum Black Blog competition Vol. 2. Event ini diadakan oleh PT Djarum yang familiar komunitas-komunitas inovatif-nya seperti Black Car Community, Black Motor Community, dan Black Community.






Thursday, February 11, 2010

Aku dan Kehidupanku

Aku adalah anak laki-laki kelahiran kota yang selama ini dikenal sebagai Bumi Bung Karno. Kota yang masih jauh dari aroma metropolis. Seingatku aku lahir pada Senin, 10 September 1990. Hampir tidak ada gedung-gedung menjulang. Masih banyak taman-taman dan juga pepohonan meski di tengah kota. Ini yang membuatku selalu rindu untuk pulang ke sana.

Sebutan Bumi Bung Karno begitu melekat karena makam sang proklamator diletakkan di sana. Kotaku adalah Blitar. Sebuah kota administrasi yang umurnya tak genap satu abad. Sebuah kota yang walikotanya sempat menjadi tokoh Tempo 2008. blitar nama kota itu.

Keluarga Sederhana
Aku dilahirkan dari keluarga sederhana. Ayahku adalah seorang tukang servis mesin jahit. Tapi ia pernah berjaya ketika dulu masih berada di Kalimantan. Ia sempat menjadi tenaga eksplorasi perusahaan minyak negra yakni pertamina. Beliau telah berkeluarga sebelumnya. Tapi keadaan tak berpihak padanya. Ia harus mengalami pertengkaran dengan keluarganya di sana dan akhirnya ia memutuskan untuk kembali ke Jawa.

Kemudian beliau menikah dengan seorang wanita dari pesantren. Wanita inilah yang menjadi ibuku. Seorang ibu yang lalu memberi anak pertamanya ini sebuah nama Muhammad Rosyid Jazuli. Beliau, ibuku, sangat rajin beribadah. Tak pernah aku lihat ia absen untuk sholat tahajud dan dhuha. Tak seperti ayahku yang asal yang wajib terpenuhi, ya sudah. Ibuku begitu ketat mengajarkan agama dan etika pada anak-anaknya.

Bagaimanapun keadaan orang tuaku, aku tetap bangga pada mereka. Meski ayah tak begitu paham agama, ia adalah ayah yang begitu semangat memperjuangkan keluarganya. Tak pernah kulihat beliau mengeluh ketika harus memutar balik kehidupan masa lalunya dengan kehidupan sekarang yang jauh berubah. Tapi kami mandiri. Kami tak pernah mengemis pada orang lain untuk hidup ini.

Kini aku punya saudara lain. Tiga jumlahnya. Adikku pertama hanya berselisih satu tahun denganku. Yang ketiga terpaut cukup jauh denganku, hampir 10 tahun. Dan yangterakhir adalah adik yang berjenis kelamin paling beda. Ia perempuan. Sementara yang lain laki-laki. Ia, adiku ketiga, terpaut 15 tahun denganku.

Sedikit perkenalanku itu semoga memberi gambaran bahwa tak ada yang bisa aku sombongkan dari duniaku juga keluargaku. Aku dibesarkan di suasana kesederhanaan keluarga. Inilah kehidupan keluargaku, lima orang yang selalu penuh semangat kemandirian megarungi samudera kehidupan.

Jalan Hidupku
Tentunya setiap orang punya jalan hidupnya masing-masing. Aku pun demikian. Aku menjalani waktu pendidikanku sebagian besar di kotaku. Ketika aku lulus dair TK al-hidayah, aku melanjutkan proses belajaru di SD Islam Sukorejo. Kemudian aku memilih SMP Negeri dua Blitar untuk menempuh masa pendidikan menengahku yang pertama. Cukup baik hasil yang aku capai saat itu. Aku menjadi peraih NEM tertinggi se SMP.

Pendidikan menengah atasku aku tempuh di SMA Negeri 1 Blitar. Tempatnya cukup jauh, hampir dua kali lipat jarak rumahku ke SMP. Aku hanya memiliki sepeda butut bekas yang dibelikan ayahku ketika aku kelas 4 SD. Dan itulah yang terus membantuku sampai di tempatku belajar, tempatku menyemai benih masa depanku.

Ketika aku SMA, aku mulai bersentuhan dengan dunia organisasi. Aku memutuskan untuk bergabung dengan IPNU. Kala itu, aku sempat ikut kepengurusan tingkat cabang kota. Di dalam SMA sendiri, aku pernah merasakan bagaimana menjadi pemimpin organisasi kesiswaan tertingggi. Aku sempat menduduki posisi sebagai ketua OSIS.

Banyak hal tentunya aku dapat ketika itu: pengalaman memimpin, mengelola, dan berdinamika di dalam organisasi. Sungguh pengalaman yang tidak akan pernah aku lupakan. Sebuah pengalaman yang menjadi titik balik kehidupanku saat itu. Aku yang dahulunya penuh dengan rasa minder, berubah hampir seratus delapnpuluh derajat menjadi pribadi yang penuh rasa percaya diri menghadapi kehidupan.

Kini, aku telah berada di Jakarta, pusat atmosfir negeri ini. Aku menerima beasiswa Paramadina Fellowship 2008 seketika aku lulus dari SMA. Sekarang aku kuliah di Universitas pemberi beasiswa itu, Universitas Paramadina. Hanya syukur kepada Tuhan yang bisa aku sampaikan. Beasiswa itu telah membiayai seluruh kebutuhan kuliahku. Biaya kuliah selama empat tahun, biaya buku sudah menjadi tak menjadi beban pikiranku. Bahkan uang saku aku juga dapatkan.

Sebuah Perjuangan
Aku masih ingat perjuangan ku dalam meraih beasiswa itu. Aku harus melewati seleksi dokumen dulu. Ada 14 lembar tebalnya formulir yangharus aku isi. Cukup meelahkan. Aku harus membuat esai tentang “apa yang akan aku lakukan setelah lulus kuliah” dan “apa yang menjadi pengalaman terbaikku. aku juga disibukkan dengan urusan lehgalisasi fotokopi dokumen-dokumen sepeti rapor, piagam organisasi, piagam prestasi dll.

Aku kirimkan dokumen pengajuauanku beberapa hari sebelum deadline. Lama menunggu, aku agak putus asa. Tak ada kabar apa-apa. Aku tak mungkin meneruskan kuliah yang biayanya selangit. Tapi Tuhan sepertinya mendengarkan doa ibuku yang tak henti ia panjatkan. Aku mendapati namaku masuk jajaran peserta yang lolos tahap wawancara.

Aku pun ke Surabaya untuk mengikuti tes wawancara tersebut. Sungguh menegangkan acara itu. Sedikit saya aku berbohong, akan terbuka kebohongan kebohongan lainnya. Bagaimana tidak? Di awal aku langsung dihajar dengan pertanyaan yang simple tapi sulit dijawab. Aku di tanya, “Ceritakan tentang dirimu?” inilah pertanyaan yang sepele tapi akan menjatuhkan bila jawabannya menipu. Karena, pertanyaan selanjutya disesuaikan apa jawabanku atas pertanyaan pertama tadi. Jadi tak mungkin pertanyaan tiap siswa sama. Sistem ini tak memungkinkan adanya contek-mennyontek.

Malam itu, sebulan setelah aku pulang dari Surabaya menjadi malam paling membahagiakan bagi orang tuaku. Aku ke warnet dan tak kusangka. Aku dapati namaku masuk daftar penerima beasiswa Paramadina fellowship 2008. Aku pulang dengan sejuta kesukacitaan. Ibuku tak bisa menutupi kegembiraannya. Kau tahu mengapa? Aku adalah anak pertama dari klan ibuku yang akan melanjutkan belajar ke perguruan tinggi. Bagi orang lain mungkin ini biasa, tapi bagiku ini luar biasa. Aku menjadi starting point perubahan di keluargaku.

Tak Perlu Sombong
Di Jakarta, Karir oragnisasiku di IPNU ternyata juga masih berlanjut. Aku bergabung dengan kepengurusan Pengurus Pusat untuk periode tiga tahun mendatang. Sementara, aku juga menjadi duta bagi universitasku. Layaknya duta pada umumnya, adalah tugasku menyampaian berita baik dari dan ke dalam universitas.

Kukira apa yang kuraih selama ini bisa aku anggap sebuah prestasi. Tapi, tak perlu dibanggakan, tak perlu disombongkan. Masih banyak orang yang jauh memiliki prestasi di luar sana. Aku yakin kebanggaan diri dan kesombongan hanya menutup hati yang berujung pada ketinggian hati. Sebuah sikap yang sangat dibenci masyarakat.

Terakhir, adalah sungguh menyenangkan bagiku untuk mengingat perkataan seorang dosenku, “Just keep highly motivated, you will see the world.”


nikmati juga tulisan ini di kompasianaku


Tulisan ini, selain sebagai tulisan lepas, juga diikutsertakan Djarum Black Blog competition Vol. 2. Event ini diadakan oleh PT Djarum yang familiar komunitas-komunitas inovatif-nya seperti Black Car Community, Black Motor Community, dan Black Community.