Saturday, July 16, 2016

Katanya Sarjana? Mengerjakan Hal Kecil Saja Tidak Bisa!


Sudah lama sepertinya saya diwisuda. Sekitar 3 tahun lalu saya akhirnya lulus setelah kuliah 5 tahun lamanya. Memakai toga dan mendapatkan ijazah adalah dua hal terlihat membanggakan. Keluarga dan teman-teman dating memberikan selamat. Foto-foto kemudian.

Di era digital begini, kebahagiaan dan kebanggaan saat diwisuda langsung dapat disaksikan real-time. Foto-foto wisuda bertebaran di dunia media sosial hari itu juga. Teman-teman dan keluarga yang berada di tempat jauh langsung dapat informasi. Saya juga menulis ini karena timeline saya penuh dengan foto kebahagiaan kawan-kawan saya diwisuda. Selamat ya….

Meraih kelulusan di Indonesia tidaklah mudah. Ada ‘hantu’ tantangan besar berdiri kokoh sebelum sampai upacara wisuda: Skripsi. Sesusah-susahnya pasti dikerjakan juga. Untuk lulus dan wisuda. Namun apa sesudah wisuda?

Wednesday, March 25, 2015

S-Word dan Pendidikan Bahasa Inggris Kita

Kegiatan Conversational English Circle yang saya inisiasi untuk belajar Bahasa Inggis bersama

“Haha, gue sorry banget setiap kali gue nyebut nama lu sambil ngomong bahasa Inggris, serasa ngomong jelek. Roshit!”

Sering kali saya mendengar pernyataan itu dari berbagai kawan-kawan saya yang tentunya orang Indonesia. Nama Rosyid memang pada akhirnya sering dilafalkan Roshit, dengan akhiran huruf t. Ini terjadi karena memang dalam bahasa Indonesia, tidak banyak terdapat kata dengan akhiran d.

Konstruksi kata-kata dalam bahasa Indonesia ini kemudian membuat aksen mereka yang berbahasa Indoensia tidak mengenal akhiran 'd'. Dampaknya, beberapa kata yang berakhiran 'd' pun dilafalkan berakhiran 't', seperti kata akad, tekad, dan Rosyid, nama saya sendiri. Ketiganya sering terbaca: akat, tekat dan roshit.

Ketika mereka yang beraksen bahasa Indonesia ini mencoba berbahasa Inggris, disitulah masalah datang. Mereka umumnya tidak bisa membedakan mana yang harus berakhiran 'd' atau 't'. Bagi mereka, Kebanyakan juga, kata 'kid' akan dilafalkan 'kit', kata 'Sid' (nama orang) akan sama dengan 'sit'. Tentu juga, nama saya Rosyid menjadi Roshit yang tentu membuatnya terdengar jorok.

Mensyukuri Bahasa Kita, Mensyukuri Kebangsaan Kita

Bersama teman-teman dari berbagai latar belakang (dok Icha CEC)

Menjadi anak perantauan, bertemu dengan bermacam tipe orang adalah sesuatu yang pasti terjadi. Perbedaan mudah sekali ditemui dari yang paling sederhana misalkan warna kulit, hingga yang sedikit komplek, katakanlah budaya. Tapi salah satu yang menarik perhatian saya adalah keragaman bahasa kita.

Setelah beberapa tahun tinggal, belajar dan bekerja di Jakarta, saya baru menyadari bahwa rupanya Bahasa Indonesia itu ‘banyak macamnya’. Dari beberapa kawanku, bahasa Indonesia terdengar tak sama, meski maksudnya tak berbeda. Aksen mereka berbeda-beda.

Bahasa ini, terlepas dari perbedaan aksesnnya yang menarik, rupanya telah menyatukan dan menyelaraskan banyak pembicaraan, canda, diskusi, perundingan, negosiasi dan transaksi di negeri ini.

Aneh-aneh bahasa kita

Dari pertemanan, baru kita sadari kalau di Indonesia aksen bahasa ini bisa beratus-ratus jumlahnya. Beragam aksen tersebut diantaranya Jawa, Minang, Batak, Tegal, Madura, Sunda, Papua, Aceh, Bugis, Manado, Bali, Jakarta, dan masih banyak lagi. Saya sendiri beraksen Jawa yang kental dengan medhok-nya.

Sunday, January 4, 2015

Bikin Karya Tulis dan Skripsi Itu Mudah! Ini Strateginya!

(credit to @rgl_11)

Salah satu momen yang paling kurang disukai oleh anak muda Indonesia adalah ketika diminta menulis oleh guru atau dosen. Bagi yang masih SMA, kalau sudah disuruh buat karya tulis atau esai, malasnya minta ampun. Rasanya pikiran buntu. Tangan seakan beku tak mau menulis.
Bagi yang kuliah, momen agak mengerikan itu datang ketika mulai harus menulis skripsi. Pikiran serasa hilang. Ide pun jadi barang paling sulit dicari.

Beberapa cerita miris bahkan terjadi karena skripsi ini. Beberapa anak muda harus merenggut nyawa sendiri karena data skripsinya hilang. Saya sendiri pasti akan ‘hancur hatiku’ sekali kalau itu terjadi, tapi tentu saya masih sayang umur dan kebetulan belum menikah (hehe).

Baiklah, apa sebenarnya menulis esai, karya tulis dan skripsi itu sulit? Tentu sulit! Tapi, bukan berarti tidak bisa diselesaikan kan? Saya dulu menulis skripsi memang merasa kesulitan, tapi karena saya menerapkan sebuah pola tertetu, saya tahu kapan skripsi akan selesai dan optimis bisa diselesaikan.

Sunday, November 16, 2014

Guru Bukan Dewa: Akhirnya, Senangnya Menjadi Guru (4-habis)

Sumber: www.napavalley.edu

Profesi guru memang sangat menyita waktu, tenaga dan pikiran. Tapi saya tetap setuju dengan slogan “Teaching is a noble profession”. Melalui guru dan pendidikan lah, para generasi penerus bangsa yang berkualitas dapat tercetak.

Lagipula, dari semua tantangan menjadi guru yang saya tulis sebelumnya, ada banyak keuntungan menjadi guru, antara lain ketika murid libur sekolah, kita juga libur sekolah bahkan bisa sampai satu bulan, tapi gaji tetap mengalir. Selain itu ketika sekolah mengadakan field trip, kita pun bisa ikut menikmati kegiatan tersebut tapi tetap dengan tanggung jawab untuk menjaga keselamatan anak-anak.

Monday, November 10, 2014

Belajar dari Brazil: Mengentaskan Kemiskinan tanpa Merendahkan

(endtheneglect.org)
Beberapa waktu lalu pemerintahan Jokowi JK memulai program peningkatan ekonomi dan pendidikan masyarakat Indonesia melaui tiga ‘kartu sakti’: Kartu Indonesia Pintar, Kartu Indonesia Sehat, dan Kartu Keluarga sejahtera. Apakah kart-kartu itu akan efektif? Tentu terlalu dini untuk menilai. Kalau pun mau menilai, penilaiannya akan invalid, terlalu pesimistik karena memang belum ada dampaknya.

Berbicara tentang kesejahteraan masyarakat, menarik untuk menilik bagaimana negara lain telah berhasil menjalankan programnya. Salah satu di antara negara- negara itu adalah Brazil.

Guru Bukan Dewa: Bimbel, Orangtua dan Nilai yang Jelek (3)

Ilustrasi (nedmartin.org)
Mengenai profesi guru, adalah penting memahami dengan siapa kita bekerja. Objek pekerjaan seorang guru adalah benda hidup, yaitu anak-anak dengan berbagai karakter dan keunikan yang bervariasi. Tugas guru adalah mengakomodasi semua kebutuhan murid-murid tersebut dalam belajar di sekolah. Tapi apakah seorang guru mampu melakukan hal tersebut? Harus! Karena target akhir profesi ini adalah menjadikan anak didik menguasai ilmu yang diajarkan. Tapi saya tahu ini sangat susah.

Bayangkan saja, jika kita mengajar 100 anak dengan kepribadian dan kebutuhan yang berbeda. Betapa capeknya untuk dapat memahami kebutuhan anak satu persatu dan akan lebih sulit jika mereka itu orang yang tertutup. Kalau mereka robot, pasti pekerjaan ini akan jadi sangat mudah. Tapi sayangnya bukan. Terlebih jika pelajaran yang diajarkan adalah Matematika. Bagi anak yang tidak suka Matematika, bisa menjurus benci kepada gurunya juga. Saya pun mengalaminya dan merasa ingin berteriak “Salah gue apa??”

Tuesday, November 4, 2014

Guru Bukan Dewa: Jaga Media Sosial (2)

ilustrasi (mochadad.com)

Selain dari segi akademik, ada juga masalah dari segi afektif yang harus dipenuhi oleh guru dengan target yang tinggi. Sikap kita haruslah menggambarkan arti profesi kita. Tantangan di abad ini adalah sosial media. Facebook, Twitter, Path, Instagram dan lainnya. Sosial media tersebut sangat menggambarkan sisi afektif kita. Dari situ orang dapat menilai kepribadian kita.

Sunday, November 2, 2014

Lemahnya Nilai Rupiah: Baik atau Buruk?

(policy.paramadina.ac.id)

Nilai tukar Rupiah yang kini cenderung melemah atas dolar AS menjadi kesempatan besar bagi Indonesia mendorong pertumbuhnan ekonomi. Pasalnya, situasi tersebut akan sangat menguntungkan bagi pengembangan indsutri manufaktur berorientasi ekspor.

“Nilai tukar kuat sebenarnya berarti ekonomi lemah. Sebaliknya, nilai tukar lemah berarti ekonomi kuat. Tiongkok sudah membuktikan itu, ketika mereka cenderung mendevaluasi nilai tukarnya untuk mengembangkan industri manufaktur di dalam negerinya. (Saat rupiah melemah seperti sekarang ini) Saat ini kesempatan bagi Indonesia,” demikian diungkapkan professor Emeritus Bidang Ekonomi Universitas Boston, Gustav Papanek di Jakarta Jumat (31/10) minggu lalu.

Saturday, November 1, 2014

Guru Bukan Dewa: Akui Ketidaktahuan (1)

ilustrasi (schooldesk.net)
Setahun ini berkecimpung di dalam dunia pendidikan telah memberi saya banyak sekali penglaman tentang hal-hal menarik, aneh dan menantang yang saya alami selama menjadi guru. Pembaca dan guru-guru yang budiman, saya membuat tulisan ini bukan untuk menjadikan profesi guru terkesan susah dijalani dan membuat kita terkekang. Saya sendiri adalah seorang yang baru saja menjadi guru.

Apakah guru itu role model yang harus selalu mengajarkan hal-hal yang baik kepada para murid? Jawabannya adalah benar. Tapi pertanyaan selanjutnya adalah, Apakah guru itu seorang dewa? Tentu jawabannya bukan.