Kuliah Bayar Berapa?

NDSU Bison!
FARGO-JAZZMUHAMMAD - Biaya kuliah. Apa yang kau pikirkan tentang biaya kuliah? Bagi yang kuliah di negeri, maka bisalah bilang murah, terjangkau, atau mungkin juga bebas biaya. Yang kuliah di swasta , maka satu kata yang paling banyak muncul adalah mahal, ya meski ada yang murah sekali. Baiklah, intinya sama saja: kuliah harus bayar.

Cara pembayaran kuliah pun ternyata bermacam-macam. Ada yang memang bayar sepenuh-penuhnya, khususnya bagi mereka yang berada. Ada yang bayar setengahnya, ada yang seperempatnya, dan masih banyak lagi. Ada juga yang tak bayar sama sekali. Salah satu caranya adalah dengan beasiswa.

Cara inilah yang dilakukan oleh orang-orang yang belum mampu. Aku mungkin salah satunya. Di Paramadina, alhamdulillah, aku tak harus membayar biaya kuliah karena beasiswa, Paramadina Fellowship namanya.

Sementara, Di US, biaya kuliah ternyata tidak mahal. Tapi, sangat-sangat-sangat mahal! Bagi orang Indo, seperti aku ini, biaya kuliahnya benar-benar “sundul” melangit.

Sebagai contoh adalah NDSU, tempat aku sekarang sedang menimba ilmu. Untuk undergraduate, biaya kuliahnya mencapai lebih dari $3000. Itu hanya untuk satu semester. Kalau di rupiahkan, jumlah itu bisa mencapai lebih dari 25 juta. Nah, biaya itu adalah untuk residents alias anak asli Amerika atau mereka yang lulus SMA dari Amerika.

Community service
Ceritanya akan lain untuk mahasiswa internasional. Mereka harus membayar hampir 3 kali lipat dibanding yang residents. Di NDSU, untuk nonresidents adalah lebih dari $8000. Hebat bukan? 70 juta lebih hanya untuk 1 semester. Oleh karena itu, banyak mahasiswa international yang mengajukan beasiswa.

Nah, beasiswa ini mempersyaratkan beberapa hal, tapi satu hal yang baru bagiku adalah si penerima beasiswa harus melakukan community service alias volunteering selama sejumlah jam. Aku kira sistem ini belum ada di Indonesia. Jadi, mereka membantu komunitas-komunitas lokal atau apapun untuk memenuhi persyaratan beasiswa.

Mereka, mahasiswa international, kebanyakan juga bekerja di kampus. Mereka bekerja di dinning center, bookstore, laboratorium, dan banyak tempat lain. Di sini gajinya cukup lumayan. Rata-rata mencapai $8 per jam.

Pinjaman
Kembali ke yang residents. Jangan dikira $3000 itu murah bagi orang di US, meskipun NDSU ini termasuk kampus dengan tuition yang murah, (Universitas-universitas lain bisa jadi 5 kali lipat lebih mahal). Nah, untuk membayarnya, banyak mahasiswa di sini meminjam uang dari pemerintah federal. Pinjaman itu nantinya akan dibayar ketika mereka sudah kerja.

Tak ada perbedaan bagi universitas negeri maupun swasta. Semuanya sama. Sebab, yang diupayakan oleh pemerintah federal di sini adalah menjamin pendidikan setiap warganya. Istilahnya semua harus sekolah, setinggi-tingginya.

Mereka harus meminjam karena memang banyak yang harus mereka bayar, apalagi kalau masih freshmen alias tahun pertama. Mereka wajib tinggal di asrama dan membeli meal plan. Kalau di total, biaya yang harus dibayar mencapai dua kali lipat, atau mungkin lebih, dari tution fee-nya.

Namun, kalau memang orang tua si mahasiswa memang kaya raya, semua itu tak harus dilalui. Tinggal bayar.Ya kalau kaya.

Baik, ada banyak cara untuk membayar biaya kuliah. Mahal, murah, gratis, bayar sediri, pakai pinjaman, atau beasiswa. Tinggal dipilih yang sesuai dengan kondisi sosial, ekonomi, dan religious masing-masing.

Anyway, kuliah juga bukan jawaban segalanya. Tak menjamin bisa kaya, hidup makmur, dan hidup bahagia juga. Tapi setidaknya kuliah membuka jalan untuk semua itu.

Bagi yang berada, silakan manfaatkan sumberdaya yang dipunya. Bagi yang belum berada, seperti aku ini, setidaknya selama pikiran masih dapat digunakan, insyaallah, jalan pasti ada.

Mengutip quote dari Bill Gates: Lahir miskin bukan salah kita, tapi mati miskin-lah adalah benar-benar salah kita. Aku ubah sedikit: Lahir bodoh dan miskin bukan salah kita, tapi mati dengan tetap bodoh dan miskin adalah kesalahan paling besar kita.



read more...

Siapa Orang Amerika?

with Koreans at Mt. Rushmore
FARGO-JAZZMUHAMMAD - Kalau ketemu orang Amerika, maka yang ada dipikiran kita adalah orang white alias orang kulit putih. Rambut blonde alias pirang, hidung mancung, kulit putih, dan mata biru, coklat terang, atau hijau.

Anggapan itu memang benar sih. Cuma pada kenyataannya, Amerika adalah bangsa yang terdiri dari berbagai macam orang dari berbagai belahan bumi. Ada orang Black America, Asian American, Hispanic American, Native American, dan masih ada beberapa lagi yang aku kurang tahu.

Namun demikian, orang white tetaplah yang paling banyak. Mereka masih mendominasi jumlah populasi. Tapi jangan salah, mayoritas white bukan berarti itu merata di semua daerah.

Di daerah selatan, orang black American mendominasi. Ini karena sejarahnya dulu orang black adalah slave alias budak dan kebanyakan perusahaan-perusahaan yang mempekerjakan mereka ada di sana.

Di bagian timur, macam-macam orang besatu padu. Sejarahnya, amerika adalah negara yang menerima imigran, dan hingga sekarang pun masih demikian. Mereka dulu masuk lewat Ellis Island di mana kantor imigrasi US berpusat di sana dulunya. Anyway, Ellis Island adalah sebuah pulau buatan yang dibangun di daerah New York City, tepatnya di dekat pulaunya Patung Liberty.

Sekarang pindah ke bagian mid-west. Di sini dominasi kulit putih dalam hal populasi nampak sekali. Seperti di kampusku, NDSU, hampir 75 persen mahasiswanya adalah orang white.

Kalau keliling-keliling kota atau biasanya sering disebut downtown, yang banyak bisa dilihat adalah orang white. Di NDSU juga, muter-muter ke mana-mana ya lihatnya orang white.

Di bagian mid-west, juga banyak orang Native American, alias yang biasa orang sebut American Indian. Sebenarnya mereka berasal dari bagian timur, tapi karena settlement di awal-awal negara ini dibentuk, maa mereka “digeser” ke barat. (Untuk soal bagaimana hidup Native American ini, nanti aku tulis di kesempatan lain)

Pertama kali aku datang, aku tak begitu “ngeh” dengan ini. Tapi ketika waktu winter break aku ke New York, baru kusadari kalau setiap daerah punya karakter populasinya.

Nah, untuk bagian barat dari US misal California, orang-orangnya juga beragam, tapi kebanyakan di sana Asian dan Hispanic. Di bagian selatan juga banyak orang Hispanic. Secara, daerah itu dekat dengan Mexico.

Nah, kalau sudah berbeda-beda, then what? Kalau bertemu orang baik, maka perbedaan ini tak akan jadi masalah. Mereka oke-oke saja dengan semua ini. Aku lihat juga beberapa orang bersahabat dengan orang yang berbeda rasa tau juga warna kulitnya. Juga sebagian malah berkeluarga.

Tapi, tak semua orang seperti itu. Ada saja bad people yang always mean to others. Mereka menjadikan ras jadi bahan ejekan. Entah itu hanya buat having fun atau memang doing that on purpose alias disengaja.

Anyway, yang aku cermati di sini adalah orang white itu tak semua juga berkulit sangat putih. Mereka bermacam-macam. Begitu juga orang Asian, Hispanic, dan Black. Misal, orang Black di sini juga tak semua kulitnya hitam. Akan tetapi, bagusnya adalah mereka tak pernah mempermasalahkan warna kulit at least untuk sesama ras.

Hal berbeda aku temui di Indo. Orang sesama suku, Jawa misalnya, kerjaannya membanding-bandingkan warna kulit. Beda kulit sedikit cerah saja sudah bangganya ampun-ampunan. Aku yang punya dark skin ini selalu jadi bahan ejekan.

Keadaan ini diperburuk dengan iklan pemutih kulit yang makin marak. Nah ini dia, makin menjadilah rasisme antar sesama manusia. Kau setuju atau tidak? Monggo. Aku sih pikir: Mbelgedhes!

Ya aku sih berdoa saja, semoga mereka yang mengejekku karena warna kulitku bisa bertobat nantinya. (Hahaha, just kidding. Anyway I don’t care people say I am Black or Dark Brown. Karena, hanya amal dan perbuatan kita-lah yang akan kelah membawa kebaikan bagi diri sendiri, maupun bagi orang lain. Salam super! Hahaha just kidding again).

Tapi ya begitulah manusia. Diciptakan berbeda-beda untuk saling mengenal. Juga untuk bermusuhan? Mungkin juga. Karena dari semua itu kita semua bisa belajar. Bukan begitu, Mas Bro?!


read more...

Soal Absensi Kuliah

Let's Go Bison! 
FARGO-JAZZMUHAMMAD - Yang cukup menghantui mahasiswa di Indo adalah absensi. Kebanyakan mahasiswa di Indo masuk karena tak mau failed. Satu hal yang menentukannya, lagi-lagi: absensi.

Kalau di Paramadina, absensi disediakan melalui selembar kertas yang berisi nama-nama mahasiswa yang mendaftar pada kelas itu. Di awal, atau seringkali di akhir kelas, mereka menandatanganinya sebagai bukti kehadiran.

Umumnya, syarat agar tidak failed di Indo adalah kehadiran yang harus mencapai 75%-80%. Di Paramadina, biasanya kalau sudah tak masuk lebih dari 4 kali, maka you get kicked out!

Di US, sistem pendidikan tingginya memiliki perbedaan yang cukup signifikan. Baiklah, beberapa telah aku tuliskan sebelumnya, tapi kali ini khusus untuk absensi.

Di US, mahasiswa tak diharuskan mengisi lembar absensi. Mau masuk silakan, mau tak masuk silakan juga. Tapi yang, bagiku, aneh adalah masih banyak saja yang masuk kuliah. Apalagi hampir tak ada yang datang terlambat.

Sepengetahuanku, sejauh ini, mereka masuk memang karena butuh pengetahuannya. Sebab, pada dasarnya mereka juga tak ingin mendapatkan nilai buruk. Mereka mencatat dan memperhatikan dengan saksama apa yang dijelaskan dosen.

Meski demikian, tak semua hari kelas penuh. Ada saja yang men-skip kelas. Tapi ketika ujian datang, kelas seperti penuh. Nah di sinilah, mereka yang sering masuk akan punya, setidaknya, peluang lebih untuk mendapatkan nilai lebih bagus.

Omong-omong soal ujian, ada suatu hal yang menarik dari US. Di sini tak ada namanya bangku di jauh-jauhnya. Atau pula, duduk saling berjauhan. Ujian tetap dilaksanakan di ruang kuliah seperti biasa, duduk berimpitan, bahkan.

Tapi, hampir tak satupun saling mencontek. Yang mencontek tetap ada, tapi sangat sedikit. Ada dua alasan untuk ini. pertama, kalau benar-benar ketahuan mencontek, maka nilai F benar-benar diberikan. Kok tidak kasihan?

Ini dia alasan kedua: di sini dosen dan mahasiswa tak terlalu kenal, maka nilai F mudah saja diberikan. Maksudnya, tak akan ada rasa iba. Mencontek yang mencontek, itu tindakan melawan hukum.

Ya begitulah kuliah di US. apa itu baik semua. Aku rasa tidak. Memaksa mahasiswa masuk dengan selembar kertas “ajimat” bernama absensi baik-baik juga. Soalnya memang orangnya beda. Kebanyakan males-males. Yang nulis ini saja juga males. Kerjaannya nge-blog, terus kalau di kelas tidur.

Baiklah, bagaimanapun juga, semoga ada yang bisa dipetik dari ini semua. Mana yang baik mana yang buruk, silakan dipilah-pilah sendiri


read more...

What Am I Doing Here? (Part 2)

crazy Bison fan!
(inforum.com)
How they live their lives
Then the second purpose I am studying in the US is I want to know how people live their lives. No matter what, the US is not Indonesia, China, or India. Not even Europe. The US is the US. Since it has been a few months since I’ve been studying in this country, I’ve seen a lot of differences. It’s a lot different from what we have in Indonesia.

In general, people are so nice here. Their way of lives could be defined as individualism or specific culture. It doesn’t mean that they do not care about others. They like helping others, though.

What I’ve seen here, individualism means that their appreciation to individual work is really high. Generally they don’t want to intervene others’ lives or choices no matter what. As long as it is not bothering them, it’s fine. Here, I very seldom hear about people say something bad to somebody else’s ways to do something.

“Just do what you want. Don’t bother me, or you can otherwise get in trouble.”

Anyway, Americans are crazy of sports especially football, basketball, and baseball. They very often bring their whole families to watch sport games. I frequently notice young wives bringing their 5-year-ish daughters or sons to the game. I even see very old people screaming in support of their team.

“Go Bison!” (FYI, Bison is the name for all NDSU sport teams) Oh man! What the hell is going on here? But yeah, that is America.

Here, people go somewhere just for fun very often. They just spend a lot of money for fishing, traveling, or even hunting.

While they are doing such things, it’s easy to find a grandpa hanging out with his grandchildren. They talk to each other like friends. They even could argue with each other. But who wants to argue with each other while having fun? Well, in my country, it will never happen. All the things we can do to our grandpa or grandma is just keeping silent or saying “yes” and “yes”.

Well, it seems like that I love the US a lot. I like it, but it doesn’t mean that it will let my love to my country fade away. I’d say that not all Americans are good people. Some people are racist and arrogant; some are just bad people that don’t like anybody else. But it’s just something that also happens everywhere. Even in my country. It’s just everywhere.

Anyway, something that surprised me a few times ago is that here there are a lot of hobos or homeless people. When I asked about my roommate about that, he just answered, “Dude, there is nothing perfect in this world!”

“All right,” I said.

“So how is it going?”

“What do you mean?”

“Every thing.”

“It’s going good,” yeah, all things above, my goals, are going well. I’m still learning and learning, though.

“That’s cool!” he replied. I’m telling you guys that American people say that a lot: That’s cool!


read more...

What Am I Doing Here? (Part 1)

Manhattan Broadway! 
If somebody asks me, what are your goals studying here in the US? I just have a couple answers for this past Fall and Spring semester. First, I really want to learn the language more, which is English. Second, I want to know how people live outside my country.

It’s about English
The first reason might be seen as a simple thing. If you guys think so, it is just fine. But, I think it’s a lot more than that.

Well, people know what others want through a language. See what people are doing when they work at, say, fast food restaurants. They carry out what the customers say to order. There is such a mutual understanding between both so they would feel satisfied each other.

Further than that, see what our teachers are doing in our class. See, they are talking and talking. It is the way people send their knowledge to others. They educate us through their languages and that’s why students can become more and more knowledgeable.

When our teachers are talking about something, you think it is usually fun, right? Not! It is boring very often. Well, but suck it up bud! All right, this part is joke. Don’t really mind about it.

Other than that, in this world, through languages many books are written. We can see a lot of part of this world, from the greatest to the tiniest, or from the funkiest to the yuckiest, through those books. For those who like reading stories, many kinds of novels are also available out there.

Just imagine if we can’t read, or we don’t understand the language spoken by our teachers or used by those books, what are we going to do? Illiteracy will just make us so dumb; we know nothing and do nothing. So dumb!

But, why English? Recently, I would say that many good things are spoken in English and written in English. It’s a fact that many good movies are spoken in English. Of course, it’s going to be so much fun if we can understand the story directly (Even though there are many kinds of subtitles, it’s still cool if we can understand it right away). We know what the actors and actresses talk about and what happens here and what’s going to happen there. Is that cool, isn’t it?

Jumping onto another fact, there is a lot of knowledge, information, and science that is written in English. We won’t understand those at all till we understand English. This is why people need to understand the English language.

Just imagine, once we got it, we can know pretty much everything in this world. As students, we might know quite a bit about many good sources for our papers that are written in English. So, it’s going to be so fantastic if we can understand English really well, correct?

Honestly, to me, language is kind of a bridge for people getting connected with each other around the world. Through it, people communicate with each other. They share, they talk, they ask through it. But then understanding English will make it easier. This language connects many people. It really works at bridging people around the world.

Why not Indonesian language? I hope it could happen, but I just want to be a realistic man. This is English time, bud! I don’t care if American people or British feel super glad because of it. Do they? I don’t know.

Because, the fact is that it’s super fun and cool for non-native people that can understand English while we still can speak our native language. Yay! (To be continued)



read more...

Antara Nama, Jurusan, dan Angkatan

My Professor and I
(Dakota Tribal History Class)
FARGO-JAZZ MUHAMMAD - Kalau kuliah di Indo, ketika ada orientasi, para orientator atau senior yang mengorientasi pasti akan berkenalan satu per satu. Nah, ketika mereka mengenalkan dirinya, tiga hal yang mereka katakan adalah nama, jurusan, dan angkatan.

Hal ini semacam norma yang tak terlulis yang harus dipatuhi. Nama akan menunjukkan bagaimana ia ingin dipanggil, disapa, dan dikenali. Kebanyakan memakai nama asli, tapi tak sedikit juga yang menggunakan nama samaran yang sangat berbeda dengan nama aslinya. Katanya biar keren.

Hal kedua adalah jurusan. Itu yang akan menunjukkan apa yang ia pelajari di kampus. Di beberapa kampus, jurusan menunjukkan kasta. Orang kelas macam apa dia itu.

Khususnya di kampus-kampus negeri, kasta ini nampak terlihat. Kalau ada yang bilang, “Kedokteran”, para junior langsung diam, sedikit berbisik, “Anak ini pintar.” Kalau ada yang bilang, “Teknik Elektro”, maka mereka berbisik, “Oh, ia jenius!” Demikian juga untuk jurusan-jurusan yang dianggap keren: Hukum atau Kedokteran Gigi.

Tapi kalau ada yang bilang “Penyakit Tanaman” atau “Agrikultur”, yang mendengar berbisik-bisik, “Ngapain kuliah itu?”

Aku tak bermaksud membanding-bandingkan. Tetapi itulah kenyataan yang terjadi di Indonesia. Satu jurusan didewakan, satu lainnya dianggap barang rongsokan. Satu diburu banyak orang, yang lain kekurangan mahasiswa. Sah-sah saja sih. Aku hanya merasa aneh saja.

Hal ketiga adalah angkatan. Ini adalah puncak budaya kasta di kampus-kampus di Indonesia. Dengan bilang tahun angkatan, akan ketahuan siapa yang harus dihormati dan mana yang harus menghormati. Lalu akan muncul panggilan“Kak-kak-kak”

Makin tua angkatan, makin tinggi kastanya dan makin banyak pula hormat yang harus ditaruh padanya. Makin lama di kampus, makin bangga, karena banyak “adik-adik” angkatan yang akan “sujud-sembah” padanya.

Di Amerika, atau tepatnya di NDSU—dan sangat mungkin juga di kampus-kampus lain, tiga hal itu juga disampakan pada masa orientasi. Nama, jurusan, dan tahun. Untuk nama, tak terlalu banyak perbedaan. Cuma nama orang-orang di US sulit dieja. Itu saja.

Nah, untuk hal kedua, jurusan, di US kampus-kampus tak punya sistem jurusan. Yang ada adalah major dan minor, khususnya untuk undergraduate. Misalnya, majorku di sini adalah Business Management. Tapi karena itu adalah hanya major, maka banyak mata kuliah yang tak memiliki hubungan sama sekali degannya.

Misalnya, mahasiswa di major management akan belajar Psikologi, English, dan Filosofi, dan Sejarah. Bahkan ada jatah elective classes yang berarti mahasiswa dapat mengambil mata kuliah apapun. Bahasa asing, studi tentang Native American, Sosiologi, Hukum, dll.

Tak ada yang berbeda satu sama lain. Maksudnya soal kasta-kasta yang berlaku seperti di Indo, di sini tak berlalku sama sekali. Semua major adalah penting dan mahasiswa saling menghargai hal itu. Mungkin saja ada juga, tetapi tak terlalu mencolok seperti di Indonesia.

Sekarang mari bicara soal angkatan. Di US, angkatan sama sekali tak menunjukkan tingkat kehormatan mahasiswa. Mau angkatan berapapun, mahasiswa ya mahasiswa. Semuanya sama. Di sini taka da senioritas yang kental sekali terasa di kampus-kampus di Indo.

Di US ada istilah khusus untuk nama angkatan. Mahasiswa tahun pertama disebut Freshmen. Tahun kedua adalah Sophomore. Tahun ketiga disebut Junior, dan terakhir adalah Senior.

Nah, dari keempatnya, yang punya nama panjang cuma yang Senior. Maksudnya, kalau mahasiswa telah lebih dari empat tahun kuliah, dan masih akan terus kuliah, maka namanya akan berubah menjadi super senior, atau juga super-super senior. Sebenarnya, secara resmi itu tak ada, tapi hanya sering digunakan di kalangan mahasiswa.

Kalau di Indo makin tua makin keren (terutama bagi yang kuliah dan politik maniak), di US makin tua makin memalukan. Kalau mahasiswa ditanya, “What year are you?” kalau jawabannya super senior, kebanyakan akan disertai dengan rasa agak malu.

Di sini tak ada senioritas. Semuanya sama saja. Freshmen bisa hang out dengan senior. Begitu juga dengan yang lainnya: Sophomore dan Junior. Dan yang penting tak ada “Kak-kak”. Mahasiswa ya mahasiswa. Students is students. That’s it.

Meski demikian, tetap ada mahasiswa yang ditakuti oleh yang lain. Maskdunya jangan macam-macam dengannya, yakni mereka yang badannya besar. Bigger size will win. So start making you body big! Just joking.

Bagaimana yang terjadi di kampusmu?


read more...

I Went Broke Afterward

New York at night
The rest of my holiday I spent visiting the Big Apple, New York. I was going to be there for 10 days. To be honest, at that time I was kind of totally blind about what to do. But that would never prevent me from going to a new place.

I met my friend Tyas over there. We rented an apartment with some other friends so the cost could be split up. We stayed in Brooklyn.

When I was in Indonesia, I watched some movies, which showed me many things about New York. I saw the Statue of Liberty, Manhattan, the Empire State Building, and the Wall Street Bull, all through my TV! But then, finally, Oh God, I was there! I bought the city pass to make the costs cheaper. If I didn’t buy that, I would have spent twice as much as I did.

To get around the city, I used the subway. That was also my first experience riding an underground train. I’m actually already familiar with the train, but for the way it runs, I mean the underground track, that was surprising for me. I wondered how they came up with that idea. It’s supposed to be really expensive to build it, but then, the advantages exceed all the costs.

With the city pass, I went to six places: Statue of Liberty, Top of the Rock at Rockefeller Center, Empire State Building, Museum of Modern Art, Metropolitan Art Museum, and National History Museum. I’m telling you guys that all those things are gorgeous. But it was not really that expensive. Not! It was definitely expensive! Obviously! I went broke afterward.

Dude, what are you doing?
Other than those places, I went to some other places that are free such as the Central Park, New York Public Library, Federal Hall, New York Stock Exchange, American Indian Museum, and 9/11 Memorial. The first place is a super-huge park, located at the center of Manhattan. The second one is an old library, which also functions as a museum. The third one is the center of stock trading, located at the very infamous, Wall Street.

The fourth one is a museum for the history of Native Americans and Native artist. And the last one is the place where the two buildings of the World Trade Center collapsed. Now, two buildings are being built in their place. Both would be the new World Trade Center.

I finished traveling around the Big Apple on the eighth day. The day after, I did almost nothing. I was taking a rest. My legs were sore. This is the thing I don’t like about travelling: walking and walking! If you have a deep pocket you can avoid those things.

But, remember, when I got tired, I felt really happy because it felt like I conquered something through hard work. And hard walking! Haha! That’s worth it, though! I think I had a great moment for the past holiday. What did you guys do for the holidays?


read more...

I was Rocketing!

I conquered the frozen lake!
In the past Winter break, I got about two weeks off. My friend told me that she wanted to do something for the break even though the Fall Semester did not conclude. I was kind of curious about what she was going to plan for it. Then she ended up with an idea: Go to New York!

I didn’t know if I wanted to go for it or not. It’s far away from Fargo, and it would cost me too much. Then I thought that this could be the only one chance I got in my life to see the popular city. Whether I would like it or not, I should see it. I finally bought the ticket then arranged where I would stay. On December 27th, in the second week, I decided I would be flying there.

But why did I decide to fly in a week after the holiday got started? Christmas! That’s the only reason for it. I wanted to know how people here in Fargo celebrate their Christmas.

I did not want to miss this chance since I’m here in the US. Well, I don’t want to talk more about religious stuff here, but I see that every religious celebration among different people has a cultural side that welcomes diverse people to join in the fun the celebrations.

Finally, I went to Dennis’ house in Hawley, Minnesota. His family is the family I joined during Thanksgiving Day. They invited me to their Christmas party. I was so excited. I went there with Susilo’s family, an Indonesian family in Fargo I’ve been getting along with. They gave me a ride.

When I got there, I ran over the frozen lake. I saw some people doing ice fishing! Whoa! They dug a hole and started setting their fishing rod, it’s called “tip-up”. I got some pictures with the fish they got. It was really cold, though! I didn’t even know what the purpose for doing such a thing?

With Dennis
Then I asked Susilo and he replied, “American people like doing something useless, but you know what? It’s all for fun. They are relaxing. They spend a lot of money and time to go for it. But they’re fun. That’s why people here have a long life expectancy.” I just said, “Oh okay! Makes sense then.”

Suddenly, Dennis offered me a ride on his snowmobile. I said yes! I didn’t know why he came up with that idea, but I was just excited. I thanked him. I rode the snowmobile for a couple times. It was a lot of fun! That was my first time looking at and riding that thing. Even though it was cold, I didn’t care. I was rocketing across the frozen lake! Wow! Afterward, we had a lunch together. Absolutely, I will never forget that moment.

There were also Dennis’ daughters with their husbands and one of his grandchildren. There was a bunch of other stuff we did over there. Watching movie, watching football game, playing cards, and so forth. I also saw a Christmas tree standing nicely in the house. I took a picture with Dennis by that tree before I left.


read more...

Satu Setengah Juta Kami untuk Pak Polisi

Pak Polisi (tribunnews.com)
Sedari kecil, di sekolah, aku seringkali diberitahu kalau menjadi Polisi itu tugas mulia. Menangkap pencuri, menertibkan lalulintas, dan yang paling aku suka adalah menyeberangkan orang tua dan anak-anak. Mulia bukan? Mulia sekali!

Beberapa kawanku ada yang ketika ditanya: Apa cita-citamu? Jawabnya: Polisi. Dengan tegas ia jawabnya dan ketika ada karnaval peringatan HUT RI, ibunya rela pergi penyewaan kostum anak-anak dan membayar harga tinggi hanya untuk mendandani anaknya menjadi Polisi.

Ketika masuk SMA, beberapa kawanku telah bersiap-siap masuk Akademi Kepolisian. Masuk akal-kah? Masuk akal sekali. Polisi itu tugas mulia, dan juga keren. Aku katakan itu keren! Hingga akhirnya lulus, aku lihat beberapa yang akhirnya benar-benar jadi Polisi. Selamat kawan! Kau mengemban tugas mulia!

Tapi kau tahu, itu semua, bahwa Polisi adalah tugas mulia, bahwa mereka adalah penyelamat bangsa, penertib lalu-lintas, penyeberang orang tua dan anak-anak, tak berarti sama sekali bagiku. Aku dulu berpikiran demikian, tapi sekarang tidak sama sekali.

Semua penggambaran mulia dan terhormat tentang polisi di negeriku sendiri roboh sudah dikepalaku sejak awal 2008 lalu. Benar-benar roboh dan kini, apa mereka masih terhormat? Aku menghormati, tapi terhormat dan dihormati adalah beda.

Berawal dari motor
Memang bodohnya aku ketika di Blitar, awal tahun baru 2008, persis tahun baru, aku tak curiga sama sekali ketika seseorang menelponku dan kemudian ia mengajakku bertemu. Ia mengaku wartawan sebuah radio. Saat itu aku baru turun jabatan dari ketua OSIS SMA.

Ia ingin mewawancaraiku tentang sekolah. Aku kira itu makes sense, karena aku sedikit banyak tahu apa yang dilakukan sekolah, setidaknya tentang event-event yang dilaksanakan. Lagipula, siapa yang tak suka bila kelak namanya disebut disebuah media? Aku jujur saja. Presiden kita saja suka sekali dengan hal seperti demikian bukan? DPR-DPR itu juga? Aku jujur, THAT’S DISGUSTING!

Aku sambangi dia. Dan rupanya, ia adalah pencuri dan punya daya hipnotis. Aku memakai sepeda motor milik bapakku waktu itu. Aku juga sempat meminjam hp milik teman. Rupanya, aku terhipnotis, hp dan motor lenyap. Kau tahu bagaimana rasanya? Hari itu macam hampir kiamat!

Kenapa? Bagi orang ekonomi yang tak terlalu bagus, punya sepeda motor adalah sesuatu hal yang berharga sekali. Dengan benda macam itu, orang, khususnya di Indonesia, bisa bekerja dan pergi ke mana-mana. Ini teknis sekali dan mungkin kau dengar ini konyol. Apapunlah! Tapi sepeda motor tetaplah sesuatu berharga dalam keluarga macam itu. Keluargaku? Apalagi kalau tidak memang yang seperti itu.

Aku menuju kantor Polisi terdekat bersama seorang teman yang bersedia membantuku. Kenapa aku ke kantor polisi? Anak SD kelas satu pun tahu kalau ada pencurian, maka Polisi dapat menolong. Ya aku tahu itu. Polisi itu juga pahlawan yang mulia, itu yang kupikirkan dulu. Mereka akan membantuku. Membantuku!

Kuceritakan apa yang terjadi, tapi apa yang kudapatkan? Di sinilah mulai retak-retak kepercayaanku pada intitusi yang disanjung-sanjung sebagaimana kuceritakan sebelumnya. Aku sampaikan baik-baik apa yang terjadi baru saja, dan,

“Maaf Dik, kantor ini tak mengurusi kasus di sana. Kamu pergi ke kantor yang di sana, nanti mereka yang mengurusi.” Hah?! Apa tak bisa aku lapor di sini dulu nanti kalian bisa sampaikan ke tempat yang kalian bilang lebih tepat itu? Kukira jaringan telpon telah tersambung di mana-mana.

Layanan macam apa ini? Jelas-jelas itu kantor yang paling dekat! Apa kau kira orang yang baru kehilangan sesuatu itu seperti orang normal yang bisa berpikir normal. Kalau ia malaikat, mungkin saja. Tapi manusia punya batas di mana ia bisa berpikir jernih dan tidak.

Baiklah, aku tak akan berdebat. Aku malas sudah melihat muka-muka orang yang tak dapat bersikap ramah terhadap orang lain. Aku akhirnya pergi ke kantor Polisi yang mereka bilang. WHATEVER! Aku berterima kasih sekali lagi pada kawanku yang mau mengantarku. Kulaporkan semuanya.

Aku pulang. Bapakku marah besar. Aku tahu ia sudah mau mengataiku dengan segala sumpah serapah. Aku tahu tabiat bapakku. Tapi ia memilih pergi entah ke mana. Aku sudah tak peduli. Ibuku menangis. Sejak saat itu, bapakku terkena gejala stroke.

Pertengahan 2008, aku dipanggil ke kantor polisi tempat aku melapor. Sepulang sekolah aku menuju ke sana. Sang polisi yang kutemui menunjukkan selembar koran nasional.

Kau tahu? Rupanya pelaku pencurian motorku telah tertangkap di kota lain, Kediri. Aku senang bukan main. Aku akan dapatkan kembali motor bapakku. Ini akan membuatnya senang. Aku sampaikan ini pada ibuku. Aku tak bisa katakan bagaimana ia begitu senangnya waktu itu.

Satu setengah juta
Rupanya persepsiku tentang Polisi akhirnya agak merekat-rekat kembali retakannya. Meski di luar sana banyak cerita tentang polisi yang suka menilang motor hanya untuk cari uang, aku tak peduli sesaat. Mereka kali ini pahlawanku.

Beberapa hari kemudian seorang polisi menelpon rumah. Aku yang mengangkat. Si penelpon meminta bicara dengan bapakku.

Dalam pembiacaraan, bapakku menyatakan banyak terima kasih. Ia mengawali dengan banyak tawa, tapi kemudian tawa itu redam. Kini ia hanya tersenyum. Aku sudah merasa, ada yang tak beres di percakapan mereka. Akhirnya bapakku benar-benar tak ada tawa atau tak senyum sama sekali. Yang nampak adalah mukanya yang bingung. Setelah ia tutup telpon, ia diam sejenak. Lalu mulai membuka mulut,

“Jaluke karotengah,” katanya pelan. Kau tahu apa itu maksudnya? Satu setengah alias satu juta lima ratus rupiah.

Kau tahu itu untuk apa? Aku beritahu: THAT FREAKING MONEY IS FOR REDEEMING THAT’S FREAKING MOTOBIKE! WHAT A FREAK!

Satu setengah juta itu bukan uang yang sedikit, Pak! Kalau anda memang bergaji berjuta-juta, itu hanya urusan kecil, tapi lihat orang-orang di bawah. Makan esok saja belum tentu! Aku merasa sedih kalau harus mengingat bagaiamana ibuku harus bersusah payah menenangkan bapakku yang super-tempramental. Melihat ibuku menangis adalah hal paling melukai hatiku.

Aku kemudian mengetahui kalau uang itu kelak akan diberikan pada kepala polisi di kantor Polisi Kediri. Aku mungkin salah. Tapi itu yang kutemukan. Baiklah, aku revisi, itu untuk polisi apapun jabatannya. Entahlah. Yang jelas itu untuk mereka yang telah merasa berjasa menemukan motorku.

Polisi itu berjasa? Absolutely yes! Tapi meminta jumlah imbalan?! Pak Polisi, jujur saja, ini semua akhirnya benar-benar meobohkan pangkat, harkat, serta kehormatan yang ada dipundakmu! Kekagumanmu pada kalian yang dulu ditanamkan oleh guru-guruku sewaktu SD, roboh sudah. ROBOH!

Okelah, kalau mungkin itu prosedur, beri aku peraturannya Pak?! Aku kira hanya peraturan orang gila yang menuliskan bahwa seorang yang baru kehilangan harta berharganya sebuah imbalan pada penemunya dengan jumlah sekian dan sekian!

Kalau kami dulu punya satu setengah juta, itu tak akan masalah. Kalau aku kaya raya, aku akan segela bayar dan motor itu lebih baik aku berikan pada polisi yang meminta imbalan untuk penebusan itu. Itu kalau kami kaya raya. Nyatanya, untuk satu juta setengah itu, kami harus mengutang-utang ke beberapa kerabat.

Pak, meski kami miskin, kami tidak bodoh. Kami akan bayar dan kalau memang itu akan membuat anda senang, kami akan bayar! Tapi satu hal, Pak, kami masih menghormati Anda, tapi apa anda patut dihormati, atau katakanlah terhormat? Kalau Anda memang cerdas, aku tak perlu menjawabnya.

Bapak dan diriku menuju ke Kediri untuk mengambil motor. Kami menumpang mobil Polisi dari Blitar. Terima kasih memberi tumpangan, Pak. Di perjalanan, uang satu setengah juta kami serahkan. Si polisi membungkusnya dengan amplop cokelat.

Di Kediri, kami menunggu cukup lama. Aku masih ingat dua moment dimana aku masih dapat meihat tawa bapakku kembali muncul sejak kami kehilangan motor. Satu, kami melihat motor itu terparkir di parkiran. Aku lega sekali. Kedua, waktu itu pertama kali bapakku buang air kecil menggunakan closet yang ber-flush. Nampaknya ia benar-benar senang sekali melihat benda semacam itu.

Aku juga lihat pencurinya. Tampilannya kini berbeda. Dulu ia macam wartawan yang professional dan bersih, kini ia nampak pesakitan dan sudah kehilangan kehormatan dari ujung ambut hingga ujung kaki. Tak ada berharga sama sekali, kecuali dia adalah manusia.

Ternyata motor itu telah dimodifikasi oleh dipencuri. Ia sudah tak layak jalan. Tapi ia masih bisa digunakan. Kami pulang menggunakan motor itu. Berbekal sebuah surat dari kepolisian, kami tak akan ada masalah di jalan. Surat izin motor sudah dihilangkan oleh si pencuri. Kami pulang.

Demi Tuhan, aku senang sekali. Meskipun ia, motor itu, sudah tak seperti dulu lagi karena banyak modifikasi tak masuk akal ala si pencuri, ini motor bapakku. Kami mampir di pom bensin sekali. Aku melihati motor itu. Ini cukup bisa membuatku tersenyum.

Sekali lagi tentang terhormat
Kini aku di Negeri Paman Sam. Di sini juga ada Polisi di sini. Pria wanita juga. Sama saja dengan Indonesia bukan? Tapi satu hal yang ada di sini yang paling berbeda dengan yang ada di Indonesia: Mereka terhormat! Mau kau menghormati mereka atau tidak, mereka terhormat. Maka kau tahu bukan bagaimana terhormat itu?

Polisi di sini akan sangat sulit terkena suap karena nilai-nilai dalam profesi mereka dijaga baik-baik.

Mari sedikit ku beritahu mengapa demikian. Di sini Polisi tak akan menerima suap karena si penyuap bisa jadi seseorang yang menjebaknya. Si penyuap dapat melapor pada atasannya dan siapapun yang melapor akan dilayani dengan hak yang sama. Dan kalau ini benar-benar terjadi, profesinya sebagai polisi akan benar-benar hancur.

Dalam menjalankan prosedurnya, polisi tak akan pernah meminta uang, sebab semua diselesaikan di sidang. Terhadap kerabat dekatnya pun, mereka juga punya perlakukan yang sama dengan orang lain. Sebab, siapapun kelak dapat melapor pada instansi yang berwenang ketika terjadi diskriminasi.

Apa polisi Amerika benar-benar sempurna? Apa Polisi Indonesia memang benar-benar buruk? Aku hanya jawab bahwa tak ada yang sempurna di dunia ini. Pasti akan kelakukan buruk polisi di Amerika, juga tak sedikit hasil gemilang Polisi Indonesia.

Baiklah, aku ini bicara dengan siapa? Siapapun! Tapi kalau Pak Polisi membacanya itu lebih baik. Sebab aku tak akan pernah melupakan satu setengah juta rupiah keluargaku yang aku berikan pada mereka. Aku orang pendendam, terserah apa katamu! Yang jelas aku tak akan pernah melupakannya.

Jazz Muhammad
298 Niskanen, Fargo, ND, USA




read more...

Jalan-Jalan di US

this is it!
FARGO-JAZZ MUHAMMAD - Hal ini sangat simple, tapi kalau tak tahu, bisa buat orang tersesat. Tersesat? Wah ada aliran sesat ini! Gundhulmu aliran sesat! Dasar orang, sukanya bikin masalah. Kalau orang alirannya sesat, terus mau apa? Kau gatal-gatal? Kulitmu ada yang luka? Atau tanganmu putus? Bisulan?

Ya sudahlah biarin aja. Ngapain ngurusin orang, hidup saja yang damai. Buka-buka usaha atau apa gitu. Nulis-nulis juga boleh. Atau bikin blog juga boleh. Sini temenan sama aku. Lagipula, masih banyak hal yang bisa dibicarakan.

Tapi soal sesat-sesatan orang di US tak gampang tersesat. Bukan karena minimnya aliran sesat, tetapi karena jalan-jalan di sini memiliki sistem penamaan yang cukup sederhana. Jalan yang mana? Ya jalan yang pakai aspal itu.

Di bagian yang melintang ke arah barat-timur, nama jalannya cuma satu yakni Avenue atau biasa disingkat Ave. Nah, untuk membedakan Avenue satu dengan yang lainnya, jalan diurutkan dengan angka mulai dari Main Avenue, 1st Avenue, dst.

Begitu juga dengan jalan yang membujur ke arah utara-selatan. Namun, namanya bukan Avenue, tetapi Street atau disingkat St. seperti sebelumnya, pengurutan jalan juga dengan angka: Main Street, 1st St, dst. Kalau nanti ada tambahan N atau S, itu berarti north atau south.

Akan tetapi, tak semua juga jalan seperti itu. Untuk jalan-jalan tertentu, ada nama-nama khusus seperti Broadway, Park, University Drive, dan masih banyak lagi. Namun demikian, jumlah jalan yang dengan nama khusus itu tak seberapa bila dibanding jalan yang hanya bernama Avenue atau Street.

Untuk jalan Broadway, ini seringkali identik dengan pusat kota atau biasa disebut downtown. Pusat kota ini maksudnya adalah pusat di mana kota mulai dibangun awal dulunya. Jadi bangunan-bangunan yang ada di Broadway tampak tua-tua dan artistik.

Penamaan jalan yang mudah seperti ini juga didukung dengan konsep tatakota yang baik. Di US, jalan dibangun berblok-blok. Kalau dilihat dari atas, maka terlihat kotak-kotak. Pemisah antara kotak-kotak itulah yang menjadi jalan.

see! this car is going thru the 5th ave s
Di samping itu, sistem jalan di US punya penempatan papan nama yang sangat berbeda dengan Indonesia. Bila kita melihat jalan di Indonesia, maka nama jalannya akan berada di paling ujung dan posisinya membelakangi jalan itu sendiri.

Di US, papan nama jalan ditempatkan searah dengan jalannya. Dari sisi penempatan, sebenarnya tak terlalu berbeda dengan yang ada di Indonesia, tetapi jalan mana yang dinamai-lah yang berbeda.

Kalau di Indo ada papan nama jalan, maka nama yang tertulis adalah untuk jalan yang ada dibelakangnya. Kalau di US, nama jalan itu berarti untuk jalan yang berada di sampingnya. Kalau agak susah membayangkannya, mudahnya begini: Di Indo banyak proyek pembangunan got atau saluran air bukan? Nah biasanya ada nama proyeknya. Ya begitulah penempatan papan nama jalan di US. Ini akan memudahkan seseorang yang bingung akan belok atau terus di pertigaan atau perempatan.

Selain itu, yang membuat mudah di sini adalah penempatan lampu merah. Lampu yang menyala hijau kuning dan merah itu diletakkan di jalan seberang, bukan tepat di atas jalan di mana lampu itu dipergunakan, sebagaimana di Indonesia.

Kalau di Indo, orang yang berhenti di garis paling depan ketika lampu merah, untuk mengetahui lampu telah berubah atau belum, ia harus mendongak ke atas karena lampu benar-benar tepat di atasnya. Namun, untuk di kota-kota besar, seperti Jakarta, aku kira sudah tidak demikian, tapi di banyak kota lainnya sepertinya masih demikian (Ini apa sih demikian-demikian!) yaudah sih!

Tapi, meskipun nampaknya di sini semua tertata rapi, bukan berarti ini lebih baik daripada yang ada di Indo. Kalau di sini, orang tak mudah tersesat jadi ya kurang tantangannya (Halah!). Terus jalan kotak-kotak seperti batu bata, sebuah benda mati.

a part of fargo seen from google maps
Kalau di Indo, jalan berkelok-kelok seperti ular. Ular benda hidup bukan? Makanya, jalan-jalan di Indo lebih menatang untuk berpetualang. Makanya di Indo ada acara “Jejak Petualang”! (Apaan ini?! Promosi?! Sumpah, it has no freakin' sense at all dude!)

Demikian bapak-bapak dan Ibu-ibu. Semoga tidak tersesat! Saya instruksikan untuk berhati-hati di jalan. Presiden SBY mode: ON. Saya instruksikan! (Apa Pak?) Ya apalah, karepmu! Eh-eh, nanti kalau saya selametan, kau ikut bantu-bantu ya, ya ulek-ulek bumbu gitu. Tenang, ada 12 miliar. Super sekali presiden kita ini.


read more...