Showing posts with label liputan. Show all posts
Showing posts with label liputan. Show all posts

Sunday, December 5, 2010

Keranjang Lipat: Pengabdian untuk Negeri

(REFLEKSI HARI/JAZZ MUHAMMAD)
Keranjang Lipat - Enur yang giat memasarkan produk
kerajinan tangan dari Tasikmalaya
Tampilannya tidak macam-macam dan memang demikian yang ia lalui setiap hari. Kesehariannya dipenuhi kegiatan berkuliah dan berbisnis. Ketika saya mencoba menemuinya, tidaklah sesulit menemui pejabat-pejabat. Mudah, tinggal SMS (short message service) dan tentukan kapan bertemu dan bertemulah saya dengannya. Tidak seperti pejabat yang selalu birokratis, saya temui seorang Enur Nursyamsi begitu mudah.

Ada yang menarik dari anak muda satu ini: kuliah sambil berbisnis. Ini adalah kegiatan yang masih langka di dunia perkuliahan. Umumnya mahasiswa akan menghabiskan waktunya dengn mengerjakan tugas-tugas makalah dan ngetem di depan komputer. Tapi Enur mencoba hal lain. Meski nilai kuliahnya tak bagus-bagus amat, ia mampu menciptakan prestasi di sisi lain kehidupannya: berbisnis untuk kemandirian hidupnya.

Waktu luang ia gunakan untuk berkeliling mencari pelanggan dagangan-nya. Ia berjualan kerajinan tangan yang berasal dari kampung halamannya: Tasikmalaya. Barang-barang kerajinan yang ia dagangkan antara lain keranjang lipat, tas, sandal, tikar, dan bebebrapa macam barang-barang rumah tangga lainnya.

Barang-barang kreatif itu dibuat oleh tangan-tangan pengrajin dari ‘kota anyaman’ itu. Bahan-bahan yang digunakan dari alam, kata Enur. Ada yang terbuat dari pandan, rotan, ataupun mendong. Produsennya adalah keluarganya sendiri. Akan tetapi, ketika pemesanan terlampau banyak, maka ia tak segan untuk melibatkan produsen lain untuk bergabung.

Di samping kegiatan bisnis yang sedikit menyibukkan, Enur tetaplah mahasiswa Universitas Paramadina dengan segala kawajiban akademis yang melingkupinya. Ia mengaku memang sedikit sulit untuk mengatur waktu. Kuliah dan bisnis bila sekilas akan berseberangan, tetapi bila dijalani dengan hati-hati dan sungguh-sungguh akan membuahkan hasil yang memuaskan di kedua pihak.

“Ya bisnis mah di waktu luang, kuliah tetep jalan, bisnis jalan. Tugas-tugas tetep ngumpulin, ya meski pas-pasan nilainya. He-he.” Ujarnya dengan logat khas sunda yang kental.

Bantuan teknologi
Enur mengakui, memang jarak yang cukup jauh antara pasar yang ia kelola dengan asal produk membuat sedikit kendala. Namun, menurutnya, itu semua teratasi dengan kemajuan teknologi yang sekarang ini berkembang. Teknologi seluler yang ini marak dan maju membuatnya mudah untuk menjalankan bisnis kerajian ini.

“Telepon geggam ini sangat membantu saya,” selanya sambil menunjukkan sebuah telepon genggam sederhananya, “saya merasa ini sangan efisien. Komunikasi lancar, apalagi untuk buat agreement (perjanjian) dengan pelangan. Dan apapun jadi cepat, saya merasa teknologi ini sangat membantu saya.”

Perihal teknologi ini, Enur yang menggunakan layanan produk XL ini mengatakan bahwa memang ada kelemahan dan kelebihan. Ada provider yang murah juga ada yang mahal. Yang murah kadang tak berlayanan bagus, pun sebaliknya, untuk mendapat layanan yang qualified, harga selangit harus ditelan.

Meski demikian, kemajuan teknologi seluler di Indonesia memang harus diakui cukup pesat. Kemampuan layanannya pun ikut berkembang pesat. Misal, produk XL telah mengaplikasikan teknologi GSM 900/DCS 1800 dan sistem IMT-2000/3G untuk meningkatkan kualitas layanannya. Jaringan GSM dengan tekonologi DCS (Digital Celluler System) 1800 ini dapat meng-cover pelanggan jauh lebih banyak. Sementara, IMT-2000 merupakan sistem komunikasi bergerak (Mobile Communication System) generasi ketiga (3G) yang diciptakan untuk layanan global. Teknologi ini mengintegrasikan telepon selular dengan sistem komunikasi bergerak dengan satelit (Mobile Satellite System).

Pengabdian kecil
Untuk bisnis kecil-kecilan, kadang ini jadi pilihan sulit. Tapi baginya, dengan layanan seluler yang ia gunakan sekarang, ia sudah cukup puas, setidaknya dalam hal harga. “Maklum, masih kecil-kecilan, kalo yang mahal belum terjangkau, Mas.” katanya.

Namun, ia masih mengharap bahwa layanan provider-provider seluler di Indonesia harus ditingkatkan. Soalnya, kemajuan industri kreatif di Indonesia akan menjadi tren menarik di masa depan. Teknologi seluler ia buktikan bahwa punya peranan penting dalam menopang kemajuannya. Buat bisnis yang masih baru, teknologi ini sangat memantu untuk ekspansi, tegasnya kemudian. “Ya kalau bisa mah murah dan layanannya bagus. Tapi ya kayaknya sulit itu, Ha-ha-ha!”

Bisnis ini akan terus ia jalankan meski kuliah makin terasa memadat di akhir-akhirnya. Enur berkomitmen bahwa ia yakin ini adalah wujud upayanya untuk mandiri secara pribadi. Minimal, ia tak mem-‘benalu ‘pada orang lain maupun orang tuanya sendiri. Dari usaha ini, ia cukuplah terbantu biaya hidupnya sehari-hari. Untuk biaya kuliah, ia telah mendapat pembiayaan penuh dari program beasiswa Paramadina Fellowhip yang ia terima sejak semester pertama kuliah.

Sejauh ini, pasar yang ia kelola masih terbatas mahasiswa di kampus. Dosen-dosen juga ia tawari dan responnya positif. Layanan transaksi on-line pun mulai ia jajaki. Lewat situs dagang on-line, ia jajakan dagangannya. Tapi, yang jelas untuk sekarang ini, ia masih memanfaatkan layanan seluler yang ia gunakan sekarang. “Layanan on-line masih agak susah, Mas. Mungkin belum terbangun kepercayaan di sana,” tukasnya.

Ia terlihat giat mengembangkan bisnisnya. Memang ini tidak terlalu besar, omzetnya juga masih jauh dari gaji bersih seorang Gayus Tambunan. Tapi mimpinya untuk menjadi wirausahawan patut kita apresiasi. Ia yakin bahwa dengan berwirausaha ia bisa berkontribusi bagi negerinya, mengabdi barang sedikit. “Saya ingin melihat penduduk negeri ini bisa bekerja semuanya, Mas, itu saja…”

Biodata
Nama : Enur Nursyamsi
Tempat dan tanggal lahir : Tasikmalaya, 1 Oktober 1989
Pendidikan : Universitas Paramadina / Manajemen
Prestasi : Penerima beasiswa penuh Paramadina Fellowship 2008

Wednesday, February 17, 2010

Memandang Positif Pernyataan Presiden

”Keadilan tidak selalu sejalan dengan hukum meskipun penegakan hukum itu sendiri harus sedekat mungkin dengan keadilan. Manakala ada jarak antara hukum dan keadilan, mari kita tata kembali agar keadilan itu betul-betul tegak,”

Pernyataan itu aku dapatkan dari Kompas (17/2). Pertama kali aku tak tertarik membaca artikel berjudul “Presiden: Jangan Sama Ratakan Perbuatan Kriminal”. Di tengah pesismisme publik atas kinerja pemerintah, pernyataan itu sungguh terdengar hampa. Preseden buruk terhadap pemerintah, sepertinya membuatku engggan untuk membacanya. Paling juga “omdo” alias omong doank.

Persepsi Optimis
Tapi aku berusaha untuk objektif. Aku paksa mataku untuk mengarah pada artikel itu. Akhirnya kata demi kata aku lahap. Sampai aku temukan pernyataan presiden tersebut. Sebenarnya aku juga tak yakin, apa benar seperti itu kalimatnya? Tapi lupakan saja.

Namun, aku terus berupaya melihat sejenak hal itu dengan pandangan positif. Pandangan yang menempatkan persepsiku pada sisi optimisme.

Aku lihat presidenku ini memang manusia. Ya, manusia seutuhnya. Manusia yang tentunya tak lepas dari kesalahan. Namun, tentunya tetap punya sisi kebenaran. Cak nur, pendiri Paramadina, pernah mengungkapkan bahwa falsafah dasar manusia itu adalah sifat hanif. Artinya manusia itu memiliki kecenderungan untuk berbuat baik. Maka aku simpulkan, presidenku ini tentu juga berkecenderungan baik.

Aku sangat tersentak ketika membaca kalimat pertama pernyataan orang nomer satu di negeri itu. Beliau melihat secara jelas kenyataan hidup itu memang tak mudah dihadapi. Banyak hal ideal yang sampaikan orang, tapi pelaksaanananya memang tak mungkin seideal celotehannya. mungkin malah berkebalikan.

Perihal Bualan
Beliau menyampaikan perihal keadilan dengan begitu elegan. Aku akui, kalimat itu tak akan bisa di ucapkan politisi-politisi macam hari ini yang suka membual. Lihat saja saat acara debat di salah satu TV swasta. Mereka begitu gethol bin ngeyel atas pendapat mereka, yang tentu disesuaikan kesepakatan kolektif partainya. Padahal masalah di depan mereka begitu banyak dan jelas mana yang salah dan benar. Mana yang harus diprioritaskan mana yang tidak.

Aku dapati mereka berdebat begitu panjang soal reshuffle kabinet. Aku sendiri tak paham kenapa harus di reshuffle. Kalau alasannya gara-gara kinerja menteri yang tak beres, maka reshuffle itu masuk akal. Tapi kalau karena gerak geriknya pansus century yang dianggap membahayakan, inilah yang membuat reshuffle benar-benar tak masuk logikaku.

Partai pemenang pemilu merasa telah dikhianati. Tapi yang kalah pemilu bilang kalau mau objektif. Mereka, kedua-duanya, sibuk berwacana tapi miskin aksi. Hanya bualan-bualan berbumbu kata-kata akadmis yang mereka tawarkan. Sementara bulan mereka itu tentu dan sudah pasti tak akan membuat angka kemiskinan yang 14% segera beranjak.

Memandang Positif
Tapi jangan-jangan kata-kata presiden tadi juga hanya bualan? Sekali lagi, aku kali ini mau berpikir positif. Aku akui keadilan saat ini sudah tak karuan lagi. Hukum sebagai batas keadilan itu telah bersikap mendua. Hukum saat ini tegas pada yang kecil, tapi tak tegas pada yang gedhe. Kau pasti tahu maksudnya.

Presiden menutup pernyataannya dengan pernyataan bernada upaya. Beliau menunjukkan itikad baik untuk membenahi keadilan. “….mari kita tata kembali agar keadilan itu betul-betul tegak,…”
Sebuah penutup yang juga persuasif. Berisi ajakan untuk berbenah. Sebuah ajakan untuk beranjak dari ketidakseimbangan penyelenggaraan hukum di negeri ini. Apa kau masih menganggap presiden itu membual? Terserah. Tapi yang penting tetaplah berpandangan optimistis-positif.

*kunjungi juga kompasianaku untuk membaca tulisan ini



*sumber gambar bisa diklik langsung gambarnya


Monday, February 1, 2010

Ventilasi Kereta Ekonomi Multifungsi

Apa yang di cari manusia? Aku jawab, yang gratis-gratis. Kalau tak ada yang gratis? Ya yang murah. Aku ini manusia. Jadi aku juga suka yang gratis, kalau tak ada, ya minimal yang murah. Tapi harap tahu, kalau yang murah dan gratis itu konsekuensinya adalah komfortabilitas yang rendah.

Sebagai perantauan di Jakarta, pulang kampung adalah hal yang sangat menarik. Setelah berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun tak bertemu, maka moment pertemuan dengan keluarga menjadi sangat sakral lagi penting. Pulang kampung tentu membutuhkan transportasi dan tentunya, transportasi yang murah meriah.

Sebagai perantauan, aku tentu juga tak akan melewatkan kesempatan untuk pulang kampung. Transportasi yang aku pilih adalah tentu yang murah meriah. Kau tahu kenapa? Ya karena aku manusia dan manusa kan suka yang gratis atau minimal murah.

Economy Class
Aku memilih kereta. Economy class tentunya. Kelas ekonomi adalah standar paling rendah dalam tingkatan pelayanan in term of kereta api di Indonesia. Aku beri tahu, sesuai pernyataan di awal tulisan ini, harganya yang murah benar-benar terbukti berkonsekuensi logis pada komfortabilitas yang super rendah.

Kereta api economy class terkenal dengan keretanya yang superkotor. Aku bertaruh, kalau Anda menemukan kereta api ekonomi yang bersih di Indonesia, silahkan melangkahi mayatku, hehehe….

Yang bertanggung jawab atas kekotoran ini adalah dua pihak utama. Pertama adalah pihak PT KAI yang memang tak peduli kebersihan. Tak ada upaya unuk mebuat fasilitas itu terlihat bersih dan nyaman. Meski ini kelas ekonomi, yang bayarnya murah, tentunya pengelola tersebut tahu bahwa kebersihan adalah sesautu yang penting. Kalau kereta bersih, yang menggunakannya juga nyaman.

Kedua, penumpangnya sendiri. Inilah masalah klasik di bumi Indonesia. Orang tak tahu kebersihan dan buang sampah sembarangan. Aku sendiri tak paham, apa yang menjadi mereka itu tak tahu kebersihan. Sampah plastik akan berserakan dan mengganggu pandangan, bagiku. Kecil besar, tua muda, sama saja. Mereka seakan tak peduli atas apa yang mereka lakukan itu, tak sadar bahwa kebersihan itu akan memberi manfaat jangka panjang.

Yang mereka pikir adalah ego mereka masing-masing. Bagaimana tidak? Pokoknya urusan mereka selesai ya sudah. Selesai makan, lalu perut mereka kenyang ya sudah. Selesai minum, botolnya ke mana, tak dipikirkan. Sampahnya sudah tak ada dalam perhuitungan lagi. Kalaupun ada itu nomer tigaratus sekian. Lalu dibuang begitu saja.

Mungkin memang budayanya seperti itu. Dan masalahnya, ketika budaya itu kuat maka regulasi macam apapun tak akan mempan membendungnya. Inilah keajaiban budaya, punya invisible power yang mengendalikan orang secara massa. Namun keajaiban itu akan menjadi musibah kalau budaya yang tercipta adalah budaya yang penuh sia-sia.

Pasar Jalan
Anda akan menemukan pasar berjalan di dalam kereta kelas ekonomi. Dengan duduk di satu tempat saja, Anda akan bisa menemui beberapa penjual makanan, souvenir, oleh-oleh sampai baju batik pun ada. Ketika anda haus, maka tunggu saja sebentar, maka akan muncul suara, “Akua-akua, mizon-mizon!”. Lamat-lamat, tapi pasti datang. Yang lebih unik lagi, pasar berjalan ini akan berganti genre ketika berganti daerah yang dilalui kereta. Anda tahu maksudnya? Anda tak akan menemui penjual baju batik, kecuali anda lewat Pekalongan dan sekitarnya. Anda tidak akan menemui nasi pecel dan juga brem, kecuali Anda melewati daerah Madiun dan sekitarnya.
Satu fenomena menarik dalam kereta api ekonomi yang kulihat adalah kehadiran vetilasi multifungsi. Memang banyak fungsinya ventilasi kerea api itu.

Anda pasti tahu kalau kereta api ekonomi tak punya AC (air conditioner). Yang ada AC alam alias angin cendela. Maka, ventilasi itulah yang jadi penyegar ruangan. Angin yang masuk jadi alternatif kesegaran yang tak mungkin di jangkau oleh kelas ekonomi. Ventilasi adalah sarana untuk ngisis.

Tempat Sampah Jalan
Kalau tak mau buang sampah di dalam kereta, maka ventilasi itu jadi tempat sampah berjalan. Mulutnya tak beranjak dan kecil, tapi kantong adalah dunia sepanjang rel kereta api itu. Inilah tempat sampah yang hanya Anda jumpai di Indonesia, lebih tepatnya kalau Anda naik kereta kelas ekonomi. Ini berarti buang sampahnya kemana-mana. Jadi penumpang kereta ekonomi tak mau area sekitar tempat duduknya kotor, tapi menciptakan kekotoran di tempat lain. Sungguh lihai orang-orang kelas ekonomi ini.

Anda yang suka meludah, bersuka rialah karena dengan naik kereta ekonomi, anda bisa meludah sepuasnya. Dimana mas meludahnya? Ventilasi, ya ventilasi. Aku lihat seringkali penumpang kereta ekonomi memuntahkan ludahnya melalui ventilasi. Sungguh multi fungsi ventilasi yang satu ini.

Kalau anda mau naik kereta ekonomi, temukan saja fungsi-fungsi lain dari ventilasi nya. Akan ada macam-macam yang bisa Anda temui dan eksplorasi.

Kalau mau naik kereta ekonomi class, itulah gambarannya. Bagi Anda yang tetap ingin menaikinya, silakan, bagi yang tidak silakan. Tapi yang jelas, meski murah, pelayanannya tetap harus dan perlu diperbaiki.


nikmati juga tulisan ini di kompasianaku
jangan lupa ninggal komen ya....

Tuesday, January 19, 2010

Balada Bersepeda di Jakata

Akhir-akhir ini sering digemborkan budaya bersepeda di kota besar. Saya tinggal di Jakarta. Jakarta sendiri tentu anda ketahui adalah kota besar. Maka saya juga mendapat gemboran untuk bersepeda.

Sedikit alur silogisme tersebut saya sampaikan untuk membuka ulasan saya tentang balada yang saya alami ketika berupaya untuk mengikuti gemboran naik berspeda tadi.

Kegiatan rutin saya adalah kuliah di Universitas Paramadina. saya tinggal di asrama mahasiswa yang jauhnya hampir dua kilometer dari kampus. Jarak yang cukup jauh untuk ditempuh on foot.


Tentu saya akhirnya memilih untuk naik angkot. Tiap naik saya harus keluarkan kocek sebesar 2000 rupiah. Jumlah yangs sedikit, tapi kalau lama-lama yang bolong juga kantong saya . Mungkin karena udah ngga ada duitnya, terus masih aja dikorek-korek. Hehehe…

Akhirnya saya memilih membeli sepeda. Pada awalnya saya merasa terbantu. Waktu tempuh berkurang bila dibanding saat dulu berjalan. Aku juga merasakan nyaman sekaligus sehat dengan bersepeda. Tapi kemudian masalah datang.

Suatu hari saya berangkat pagi karena masuk kuliah juga pagi. Sebuah kejadian aneh aku alami. Ketika aku keluar ke jalan utama, wow, macet gila broo! Aku kira dengan bersepeda, aku akan bisa melesat pergi meningggalkan kemacetan. Tapi keadaan berbicara lain.

Aku terhempas dalam rumitnya kemacetan ibukota. Sepedaku hanya bisa merayap dan merayap. Mungkin juga meratap. Tak ada space yang cukup untuk membiarkan spedaku melaju.

Masalah seakan bertubi datang. Suatu ketika saat bersepeda, di depanku ada bus Metromini, bus yang super laris tapi juga super jorok dan bau besi. Asal kau tahu kawan, asap bus jorok itu menyembur ke arah belakang di mana aku sedang melaju dengan spedaku.

Wuzzzz! Keadaan langsung berubah seperti habis kebakaran. Sejenak jarak pandangku berkurang dan kegelapan menyelimutiku. Sialan! Asap hitam bus itu menyembul membahana di uadara depanku. Pastinya, saya batuk-batuk dn mata mulai meleleh airnya. Oh..

Saya tak tahu apa gembar-gembor memakai sepeda itu cocok untuk diterapkan di ibukota, seperti Jakarta. Kalau idealnya, pasti cocok dan bermanfaat. Tapi, sepertinya, in term of Jakarta, itu bohong. saya telah merasa kecewa.

Sepertinya ini karena tak terintegrasinya upaya pembuat kebijakan. Mereka seenaknya bikin kebijakan seenara sarana penunjang nya tak dipedulikan. Anda tentu setuju bila orang Jakarta harus naik angkot atau bis di halte. Lalu kalau mau menyeberang jalan harus lewat zebra cross atau jembatan penyeberangan. Namun, udara Jakarta yang semakin panas yang bercampur dengan busuknya zat-zat polutan, maka jelas sudah mengapa orang tak mau jalan sebentar sekedar untuk menuju halte atau jembatan penyeberangan .

Saya sendir tak kuat dengan panasnya Jakarta. Mungkin busway adalah solusinya. Tapi msaalah muncul lagi. Di halte-halte terjadi penumpukan penumpang. Saya kenal sial lagi. Suatu ketika saya sore hari ke halte Dukuh Atas. E…. saya harus menunggu 45 menit untuk bisa menaiki bus. Itupun saya berdiri akhirnya.

Saya pikir pemerintah sebagai pembuat kebijakan harus tanggap dengan hal-hal semacam ini. transportasi di Jakarta itu semrawutnya minta ampun.

Saya suka bersepeda. Tapi kalau keadaannya seperti ini, ya mohon maaf, saya menolak tegas utuk imbauan untuk bersepeda. Kalau seperti itu, bersepeda di Jakarta sama saja dengan bunuh diri perlahan-lahan.


nikmati juga tulisan ini di http://sosbud.kompasiana.com/2010/01/19/balada-bersepeda-di-jakata/

Sunday, January 17, 2010

Parkir Dadakan di Jakarta

Jakarta terkenal dengan aura menariknya. Ia menarik banyak orang untuk mengadu nasib di sana. ada yang berspekulasi menjadi pengusaha, menjadi kuli, menjadi artis, dan pula yang menjadi pejabat. Semua orang dari luar Jakarta berdatangan setiap tahunnya.

Keramaian Jakarta semakin kompleks dengan hadirnya pendatang yang memiliki kendaraan. Mereka yang sudah sedikit sukses membeli atau kebanyakan mengkredit mobil. Hampir 90 persen mobil di Jakarta adaah mobil kreditan. Pembelian mobil di Jakarta bahkan tak menunjukkan angka penurunan. Tiap tahun terjadi kenaikan terus menerus.

Sayangnya, pemerintah DKI Jakarta seakan tak memberi batasan jumlah kepemilikan kendaraan tersebut. Setiap keluarga diperbolehkan memiliki mobil yang tak terbatas jumlahnya. Pokoknya ada duit, kalau mau beli mobil ya beli saja. Apalagi, hal ini ditambah pemilik sepeda motor yang terus memadati jalan-jalan kota Jakarta.


Anda perlu tahu, jumlah kendaraan pribadi di Jakarta merupakan sumber keruwetan lalu lintas. Perbandingan jumlah kendaraan pribadi dan kendaraan umum adalah 98% kendaraan pribadi dan 2% kendaraan umum.

Padahal jumlah orang yang diangkut kendaraan umum jauh lebih banyak dari pada jumlah orang yang diangkut oleh kendaraan pribadi. Dari total 17 juta orang yang melakukan perjalanan setiap hari, kendaraan pribadi hanya mengangkut sekitar 49,7% penumpang. Sedangkan 2% kendaraan umum harus mengangkut sekitar 50,3% penumpang.

Anda bisa bayangkan, ke-jomplang-an tersebut. Seharusnya masyarakat Jakarta tahu kalau kendaraan-kendaraan mereka itu membuat Jakarta semakin ruwet.

Melihat data-data tersebut, lumrah saja kalau kita akan melihat fenomena parkir dadakan di Jakarta. Utamanya pagi dan sore hari. Jala-jalan utama dan jalan tol dalam kota akan dipenuhi mobil dan motor. Inilah yang jadi parkiran dadakan itu.

Pemerintah Jakarta malah seakan tutup mata melihat masalah ini. Masalah transportasi yang sarat kontribusi pada pembanguan seakan diabaikan.

Transportasi umum terbaru di Jakarta adalah trans Jakarta atau lebih dikenal dengan busway. Transportasi ini memang nyaman dan ber-AC. Tapi, jumlahnya tetap tak memadai, tak bisa men-cover masyarakat yang ingin melakukan perjalanan di Jakarta. Selain itu sarana pendukungnya juga tak terurus dengan baik. Meski di beri tempat sendiri, busway sering juga terjebak macet. Jadi ujung-ujung nya sama saja dengan transportasi lain.

Fenomena parkir dadakan akan terus terjadi bila pemerintah tak serius menangani pelayananransportasinya. Selain itu kesadaran masyarakat untuk mengunakan public servise juga harus ditingkatkan. Memang dilematis bila dua solusi diatas dilakuakn sendiri-sendiri. Pemerintah memperbaiki transportasi umum tapi tidak ada penumpangnya atau keinginan menggunakan public transportation tapi pemerintahnya diem-diem saja adalah humor yang tidak lucu. Maka dari itu, Keduanya harus dilakukan beriringan dan bersamaan.