Tuesday, January 19, 2010

Balada Bersepeda di Jakata

Akhir-akhir ini sering digemborkan budaya bersepeda di kota besar. Saya tinggal di Jakarta. Jakarta sendiri tentu anda ketahui adalah kota besar. Maka saya juga mendapat gemboran untuk bersepeda.

Sedikit alur silogisme tersebut saya sampaikan untuk membuka ulasan saya tentang balada yang saya alami ketika berupaya untuk mengikuti gemboran naik berspeda tadi.

Kegiatan rutin saya adalah kuliah di Universitas Paramadina. saya tinggal di asrama mahasiswa yang jauhnya hampir dua kilometer dari kampus. Jarak yang cukup jauh untuk ditempuh on foot.


Tentu saya akhirnya memilih untuk naik angkot. Tiap naik saya harus keluarkan kocek sebesar 2000 rupiah. Jumlah yangs sedikit, tapi kalau lama-lama yang bolong juga kantong saya . Mungkin karena udah ngga ada duitnya, terus masih aja dikorek-korek. Hehehe…

Akhirnya saya memilih membeli sepeda. Pada awalnya saya merasa terbantu. Waktu tempuh berkurang bila dibanding saat dulu berjalan. Aku juga merasakan nyaman sekaligus sehat dengan bersepeda. Tapi kemudian masalah datang.

Suatu hari saya berangkat pagi karena masuk kuliah juga pagi. Sebuah kejadian aneh aku alami. Ketika aku keluar ke jalan utama, wow, macet gila broo! Aku kira dengan bersepeda, aku akan bisa melesat pergi meningggalkan kemacetan. Tapi keadaan berbicara lain.

Aku terhempas dalam rumitnya kemacetan ibukota. Sepedaku hanya bisa merayap dan merayap. Mungkin juga meratap. Tak ada space yang cukup untuk membiarkan spedaku melaju.

Masalah seakan bertubi datang. Suatu ketika saat bersepeda, di depanku ada bus Metromini, bus yang super laris tapi juga super jorok dan bau besi. Asal kau tahu kawan, asap bus jorok itu menyembur ke arah belakang di mana aku sedang melaju dengan spedaku.

Wuzzzz! Keadaan langsung berubah seperti habis kebakaran. Sejenak jarak pandangku berkurang dan kegelapan menyelimutiku. Sialan! Asap hitam bus itu menyembul membahana di uadara depanku. Pastinya, saya batuk-batuk dn mata mulai meleleh airnya. Oh..

Saya tak tahu apa gembar-gembor memakai sepeda itu cocok untuk diterapkan di ibukota, seperti Jakarta. Kalau idealnya, pasti cocok dan bermanfaat. Tapi, sepertinya, in term of Jakarta, itu bohong. saya telah merasa kecewa.

Sepertinya ini karena tak terintegrasinya upaya pembuat kebijakan. Mereka seenaknya bikin kebijakan seenara sarana penunjang nya tak dipedulikan. Anda tentu setuju bila orang Jakarta harus naik angkot atau bis di halte. Lalu kalau mau menyeberang jalan harus lewat zebra cross atau jembatan penyeberangan. Namun, udara Jakarta yang semakin panas yang bercampur dengan busuknya zat-zat polutan, maka jelas sudah mengapa orang tak mau jalan sebentar sekedar untuk menuju halte atau jembatan penyeberangan .

Saya sendir tak kuat dengan panasnya Jakarta. Mungkin busway adalah solusinya. Tapi msaalah muncul lagi. Di halte-halte terjadi penumpukan penumpang. Saya kenal sial lagi. Suatu ketika saya sore hari ke halte Dukuh Atas. E…. saya harus menunggu 45 menit untuk bisa menaiki bus. Itupun saya berdiri akhirnya.

Saya pikir pemerintah sebagai pembuat kebijakan harus tanggap dengan hal-hal semacam ini. transportasi di Jakarta itu semrawutnya minta ampun.

Saya suka bersepeda. Tapi kalau keadaannya seperti ini, ya mohon maaf, saya menolak tegas utuk imbauan untuk bersepeda. Kalau seperti itu, bersepeda di Jakarta sama saja dengan bunuh diri perlahan-lahan.


nikmati juga tulisan ini di http://sosbud.kompasiana.com/2010/01/19/balada-bersepeda-di-jakata/

5 comments:

  1. Wah wah wah curhat niih, sabar jazz itu hanya sekelumit kecil saja, masih banyak manfaat bersepeda yang lainnya kok di jakarta, untuk pengalaman kamu mungkin benar, berbagai solusi yang dilakukan pemerintah seperti busway masih harus dibenahi soalnya klo antri sama aja boong juga kan?? artikel yang bagus dan berbobot... Like this, tetaplah jadi dirimu Jazz

    Wirawan < www.jangandibuka.com >

    ReplyDelete
  2. hahaha.....

    emang nih, aku masih sebel sebenarnya...tapi ya aku coba beristiqomah....

    makasih we

    ReplyDelete
  3. Pakai masker yg ada filternya maz :)

    ReplyDelete
  4. cari jalur alternatif syd, masalah iki pernah dibahas ng forum bike 2 work, awkm gabung o ae, ngko akeh trik2 ngge menghadapi macetnya jakarta..

    ReplyDelete