Showing posts with label artikel dari fargo. Show all posts
Showing posts with label artikel dari fargo. Show all posts

Thursday, April 18, 2013

Tragedi Mencuci Baju di Amerika

Contoh ruang laundy (unc.edu)
Mencuci baju adalah kegiatan rutin setiap orang di belahan bumi manapun. Tak ada yang istimewa. Kecuali kalau kau ada yang jadi artis dan merasa jijik kalau harus memakai baju yang sama dalam hidup. Jadi sekali pakai buang. Baiklah, kali ini aku akan bahas soal cuci baju bagi orang biasa-biasa saja.

Tapi begini, mencuci baju memang tak ada istimewanya. Aku mencuci baju dengan mengisi ember dengan air lalu kumasukkan air dan sabun. Lalu baju aku rendam beberapa waktu dan kemudian aku kucek. Kalau aku sedang jorok-joroknya, maka akan ada yang perlu aku sikat. Lalu dijemur (sehari, dua hari, atau bisa lebih lama). Beres.

Namun pengalaman seperti ini akhirnya berhenti sejenak ketika aku belajar di Amerika. Ketika sampai di asrama, aku tak menemukan ember untuk mencuci. Aku ke Walmart, semacam pasarnya di sana, untuk membeli ember untuk mencuci. Dan, tak kutemukan juga ember seperti yang ada di Indonesia.

Friday, November 23, 2012

Free-sex di Amerika

Young couples (cnn.com)
Akhir-akhir ini aku sering ditanya tentang sebenarnya apa benar free-sex itu dilakukan oleh remaja di Amerika. Aku sering ditanya hal ini ketika kami sedang menonton film Hollywood bersama-sama yang sebagian besar mempertunjukkan adegan ciuman, sex dan sebagainya.

Jawabanku adalah ya dan tidak. Sebagian besar masyarakat di US sebenarnya adalah masyarakat yang religious. Mereka punya banyak gereja dan di kampus banyak sekali kelompok-kelompok bible study. Aku juga yakin bahwa dalam Christianity tak ada aturan yang melegalkan free-sex.

Tapi pada kenyataannya, banyak pula yang tak religious. Amerika itu luas sekali, dan manusianya bermacam-macam. Banyak yang tak mengikuti agama manapun.

Nah, kembali ke soal free-sex, bagi kebanyakan orang US, sex adalah bagian dari hidup yang tak perlu dianggap tabu. Sex adalah bagian dari kebudayaan yang relax dan memang perlu. Oleh karena itu, sex dilakukan sebagai kebutuhan natural seseorang. Tak ada urusannya dengan sopan atau tak sopan, bermoral atau pun tidak.

Prinsip orang Amerika pada dasarnya adalah asal tak merugikan dan menggangu orang lain, segalanya sah-sah saja.

Tuesday, October 16, 2012

Let It Snow and Rain

Go sledding!
A few days ago, I’ve heard that Fargo had its first snow. It was too early, everybody says. It was a fluke? Probably. But that’s not what I’m going to talk about.

If you ask me what is it worth if you let me see snow? I’d probably say that I’d buy you food for a whole year. I am kind of half serious and half joking, though.

Part of me is serious. Last year, when I was looking at this stuff at first, I could not help but admired it. It was so white that I could do nothing but staring at it like a child gets his birthday present. I hold it. I smiled at it. I balled it up. I fell on it. I was knee-deep in it. I even tested it to make sure that what was right in front of me was what people call snow.

The dream of us
Snow is like dream for everybody in Indonesia. We watch movies, shows, and news that show us snow a lot. But it is our TV screens that do it. We can’t feel it first hand. We just let our mouth half-open and keep wondering how it feels. We always dream to someday hold it. Firsthand.

Tuesday, September 25, 2012

Study-loads!!!

JAKARTA-JAZZMUHAMMAD - Sepulang dari US, aku sering ditanya, apa perbedaan kuliah di Indo dan di sana? Susah-susah gampang menjawabnya. Banyak sekali berbedanya. Mulai dari pakaian, lingkungan, kegiatan after-school, student government, absensi dan masih banyak lagi.

Tapi sebenarnya yang paling teringat adalah bahwa kuliah undergraduate di sana tak ada skripsi! Titik! Anda senang? Tunggu dulu.

Bahwa fakta ini sangat menggembirakan adalah benar adanya. Skripsi adalah, kalau tak berlebihan, tugas paling tak disukai. Setidaknya Sembilan dari sepuluh mahasiswa akan mengatakan demikian. Yang satu? Mungkin maniak menulis. Siapa tahu?

Ketika fakta bahwa kuliah di US tanpa skripsi itu menyenangkan aku sampaikan pada kawanku di US, ia langsung bilang, “That’s not true. Not true. We’ve capstones.”

Kuliah tanpa skripsi kalau dibayangkan adalah seperti surga dunia. Bayangkan kalau kita di Indonesia kuliah tanpa harus menulisnya, Oh my God! That’s gonna be a lot of fun!

Thursday, September 20, 2012

Nama orang AS

Hanging out with Justin
(He was my roommate)
JAKARTA-JAZZMUHAMMAD - Di Indonesia, orang memberi nama anaknya tanpa ada aturan baku. Maksudnya, tak ada ketentuan berapa banyak kata dalam sebuah nama atau juga apakah harus mencatumkan nama keluarga atau tidak.

Di US, memang juga tak ada aturan atau undang-undang yang mengatur penamaan seseorang. Tetapi nama-nama orang di US seragam. Mereka punya susunan nama yang sama dan dengan jumlah kata yang seragam pula.

Di Indonesia, sesorang ada yang memiliki nama hanya satu kata saja, missal Susanto, Wijayanto, Ayub, Sujono. Tapi, ada juga yang namanya bisa lima kata lebih!

Sementara di US, nama orang tak akan lebih dari tiga kata. Nama di sana hanya berisi dua kata atau tiga. Kalaupun tiga, biasanya yang kedua jarang dimunculkan.

Nah nama depan adalah nama “that they will go by.” Itu nama yang akan mereka gunakan ketika berkenalan dan disapa. Sementara itu, nama belakang adalah nama keluarga yang diambil dari pihak ayah. Dan, nama tengah merupakan nama tambahan yang pada kenyataannya jarang sekali dipakai.

Beberapa contoh nama belakang adalah Clinton, Hamilton, Baker, McCoy, McDonald, Taylor, Arthur, dan masih banyak lagi. Nama depan bisa jadi juga nama-nama itu. Berikut beberapa nama depan John, William, Robert, Jake, Kimberly, Matthew dan banyak lagi.

Saturday, July 14, 2012

Diskriminasi di US

Laura and Hannan, two of my best buddies
JAKARTA-JAZZMUHAMMAD - Setelah aku pulang dari US, banyak yang bertanya bagaimana orang-orang US menganggapku. Seperti orang Black-kah? Atau apa? Atau ada yang tahu tentang Indonesia? Tapi jelasnya, pertanyaan pertama adalah yang paling banyak ditanyakan. Kau apa dikira orang African-American?

Baiklah, aku memang orang dengan kulit yang gelap. Aku orang Indonesia ber-ras Jawa, sehingga kukira it just makes sense if I have kinda dark skin. Jadi make sense juga kalau ada yang bertanya apa aku dianggap sebagai Black American.

Nah, mungkin semua orang sudah familiar dengan istilah rasisme. Sederhananya, rasisme adalah salah satu bentuk diskriminasi yang didasarkan atas ras. Masih banyak lagi bentuk diskriminasi: kekayaan, ukuran tubuh, warna kulit, tinggi-rendah badan, cacat tak cacat, dan masih banyak lagi.

Nah, menjawab pertanyaan itu, aku pun jelaskan bahwa di US diskriminasi yang ada adalah rasisme. Orang melihat orang lain berdasarkan ras-nya, bukan yang lain seperti warna kulit dan lainnya.

Jadi ketika aku di US, There was absolutely nobody asked me whether I am Black. Tak ada yang menganggapku sebagai Black American. Kebanyakan dari mereka bingung aku ini orang mana. Nah, akhir tebakan mereka berakhir pada orang India atau orang China.

Saturday, July 7, 2012

Membuka business di US

JAKARTA-JAZZMUHAMMAD - Sebagai negara maju, Amerika memiliki standar untuk apapun. Mulai dari hukum hingga ukuran ember ada standarnya. Kalau di Indonesia mungkin ini semacam SNI.

Nah, standar ini juga berlaku dalam membuka business. Di Indonesia, orang membuka business atau usaha yang buka saja. Mau jualan nasi uduk atau nasi pecel, gelar saja meja di depan rumah lalu jual nasinya. Buka bengkel, siapkan saja alat-alatnya, pasang papan namanya, lalu buka-lah usaha bengkelnya.

Berbeda dengan di Indonesia, di US ada sebuah lisensi atau izin untuk membuka usaha. Setiap usaha yang menghasilkan uang akan didaftar oleh pemerintah federal. Pemerintah akan melakukan inspeksi mengenai banyak hal tentang kebersihan, kelayakan, dan masih banyak lagi.

Apabila seseorang membuka usaha yang dilakukan dalam kurung waktu tertentu namun tak berlisensi, negara berhak membubarkan usaha tersebut. Jadi jualan nasi ke tetangga tidak diperbolehkan tanpa ada lisensi.

Bagusnya dari system ini adalah setiap barang yang sampai ke konsumen di US pasti terjamin kualitasnya. Dalam hal alat-alat rumah tangga, alat-alat yang dijual ke warga US adalah barang yang tak mudah rusak.

Scheels, raksasa toko olahraga di US
Soal lain, soal fashion misalnya, tak ada barang palsu di sana. Kalau ada celana Levi’s, berarti itu asli Levi’s. kalau ada tas Guess, maka tasnya pasti asli.

Soal makanan, setiap makanan yang akan dimakan oleh warga US sangat terjamin kesehatan dan kebersihannya. Maksudnya, bukan berarti semua makanan bebas kalori dan lemak, tetapi setiap makanan pasti memiliki nutrition facts yang konsumen bisa melihat-lihatnya sebelum menetukan mau beli apa tidak.

Untuk semacam restoran, setiap rumah makan di US diharuskan memiliki standar kebersihan dan layanan yang ditentukan negara. Jadi, makanan yang disajikan tak boleh mengecewakan konsumen.

Friday, June 29, 2012

Language Determinism dalam Berbahasa

I just call him Dennis, not Pak Dennis
JAKARTA-JAZZMUHAMMAD - Di Spring semester kemarin aku ambil kelas Introduction to Psychology atau yang lebih dikenal dengan intro to psych. Kelas ini merupakan kelas besar yang berisikan mungkin hampir 300 lebih mahasiswa. Dosen yang mengajar adalah Jared Ladbury.

Nah, di dalam kelas itu, aku mendapatkan sebuah istilah language determinism. Dalam buku text yang kami mahasiswa pelajari, language determinism adalah a hypothesis saying that language determines the way we think. Jadi, bahasa dapat menentukan bagaimana cara kita berpikir.

Jauh lebih dari itu, aku mengartikannya bahwa imbas dari situasi itu adalah bahasa menentukan bagaimana pergaulan, budaya dan juga peradaban terbentuk dimana cara berpikir manusianya menjadi landasan paling mendasarnya.

Pada awalnya aku tak terlalu memikirkan istilah ini. Namun, ketika aku lihat perbedaan budaya yang ada antara Indonesia dan USA, aku sadar bahwa apa yang dikatakan oleh definisi istilah tersebut benar adanya.

Begini, dalam bahasa Inggris, tak ada tingkatan-tingkatan yang seperti terjadi di bahasa kita. Baiklah mungkin kita bisa katakan kalau bahasa Indonesia itu egaliter. Tapi pada kenyataannya, penggunaannya tetap terpengaruh oleh bahasa daerah yang bertingkat-tingkat.

Orang akan cenderung memakai “saya” daripada “aku” ketika bicara dengan orang yang lebih tua atau lebih dihormati. Ada juga kata beliau yang untuk orang seperti itu.

Tuesday, June 26, 2012

Membangun Rumah di US

In front of microwave, stove, and oven
JAKARTA-JAZZMUHAMMAD - Di Indonesia, dalam hal membangun rumah, tak ada aturan tertentu. Kalau memang punya petak tanah dan punya uang untuk membangunnya, maka, “Here we go!” Bangun rumahnya!

Maka yang terjadi adalah desain rumah di Indo yang terlihat sangat bervariasi. Dari yang kecil sekali hingga besar seperti istana. Di Blitar, kampung halamanku, ada sebuah rumah yang berdiri megah seperti istana. Besar sekali. Tapi kalau dilihat samping kanan-kirinya, rumah ini sepertinya dibangun bukan pada tempatnya.

Kanan kirinya adalah perkampungan biasa dengan rumah-rumah yang kecil dan juag banyak warung-warung. Nah, ketimpangan ekonomi pun sangat terlihat. Akhirnya, mungkin demi “keamanan”, sang istana pun dilengkapi tembok super tinggi dan tebal.

Di Indo, yang kulihat, orang membangun rumah tak ada aturan yang mengaturnya. Pemerintah kota juga tak memedulikan bagaimana desain rumah, sanitasinya, dan juga segala macam keperluan lainnya: jarah antar rumah, jenis bahan bangunan, dan juga jarah rumah dengan jalan.

Bangun rumah ya bangun rumah saja. Kok pake aturan segala.

Nah, di US, pembangunan rumah benar-benar agak rumit. Pemerintah kota sangat pengatur setiap keluarga yang akan membangun rumah. Tak bisa orang asal bangun rumah yang “pokoknya bisa berteduh”.

Rumah-rumah di US tak semuanya punya halaman depan atau front yard. Cuma sebagian besar memilikinya. Seperti di Fargo, semua rumah memiliki front yard yang akan memberi jarak tertentu antara rumah dengan jalan. Di antara rumah dan jalan raya juga pasti ada tempat jalan kaki atau sidewalk. Tapi, untuk sidewalk ini, ada tidaknya tergantung daerahnya.

Kalau di daerah kota besar, maka biasanya sidewalk sudah menempel di badan jalan. Tapi kalau di luar kota, atau disebut country, maka antara keduanya masih ada space untuk rerumputan.

Wednesday, May 30, 2012

Kehidupan Asrama di US

Niskanen Hall!
JAKARTA-JAZZMUHAMMAD - Rasanya hampir semua kampus di US memiliki asrama atau residence hall. Kebanyakan, asrama diperuntukkan untuk mahasiswa tahun pertama atau yang disebut freshmen.

Pada umumnya, asrama berupa gedung besar yang berisi kamar-kamar. Di dalamnya ada sebuah hall desk atau kantor dari asrama tersebut dan tentunya kamar-kamar mahasiswa. Biasanya berisi dua tempat tidur dan dua meja belajar. Jenis ini adalah yang paling umum. Mandinya juga bisa ditebak. Mandi di communal shower atau tempat mandi “umum”.

Nah, ada juga yang modelnya seperti apartment. Jenis memiliki, selain bedrooms, juga living room, kitchen dan juga shower room sendiri. Aku dulu sendiri tinggal di jenis yang kedua ini. Jenis umumnya di isi oleh mahasiswa tingkat II (sophomore) dan seterusnya (junior dan senior).

Asramaku bernama Niskanen atau yang biasa disebut Niskanen Hall. Aku tinggal bersama tiga roommates. Dua Americans satu English. Baiklah, apakah hidup di asrama di amerika sama dengan hidup di asrama Indonesia?

Bagiku sangat berbeda.

Wednesday, May 2, 2012

Olahraga di US

The last Superbowl (www.phandroid.com)
FARGO-JAZZMUHAMMAD - Olahraga di Amerika, seperti aku tuliskan dalam artikel sebelumnya, merupakan sesuatu yang penting bagi hidup masyarakatnya. Sepertinya hampir seluruh masyarakat amerika adalah fan dari sebuah tim olahraga. Namun, sebenarnya bagaimana system pengelolaan olahraga di US?

Olahraga di US bisa dibilang unik dan tak seperti di belahan bumi lainnya. Dari segi jenisnya, US memiliki banyak cabang olahraga yang ditonton oleh warganya. Maksudnya, sangatlah bervariasi olahraga yang ditayangkan di TV yang berarti juga banyak yang menonton di lapangan atau stadiumnya secara langsung.

Ada American football, basketball, baseball, ice hokey, softball, volleyball, soccer (yang biasanya disebut sepak bola di Negara lain) dan masih banyak lagi. Kalau di ranking, maka American football menjadi jawaranya. Lalu basketball dan baseball mengikuti.

Dari segi waktu pelaksanaannya, olahraga di US dilaksanakan tidak dalam waktu satu tahun penuh, tetapi mengikuti arus perubahan musim.

Tuesday, April 17, 2012

Greek Life on Campus

Anggota Sigma Chi sedang mempromosikan event
FARGO-JAZZMUHAMMAD - Di Indonesia kampus-kampus penuh dengan organisasi-organisasi luar kampus seperti HMI, PMII, PMKRI dan masih banyak lagi. Semuanya punya “sekre” sendiri-sendiri sebagai tempat berkumpulnya para anggota. Di luar kampus, organisasi ini menggabung menjadi satu dalam tingkat nasional.

Pengurus organisasi-organisasi itu juga bertahap-tahap mulai dari tingkat kampus, provinsi, sampai nasional. Bagi yang gila organisasi, pasti sudah paham dengan semua ini. Dan, seringkali organisasi itu punya agenda politik yang macam-macam. Ada yang bagus ada yang kurang bagus. Untuk bagian ini, aku tak bahas banyak-bahas, karena aku tak terlalu tahu juga.

Nah, bagaimana dengan kampus-kampus di US?

Di US, seperti yang aku lihat di North Dakota State University (NDSU), kampus juga punya organisasi eksternal. Mereka juga punya system kepengurusan yang bertahap mulai dari tingkat kampus, state (di US taka da provinsi), hingga nasional. Organisasi-organisasi ini biasanya disebut fraternity (untuk laki-laki) dan sorority (untuk perempuan) atau juga disebut Greek Life.

Thursday, April 12, 2012

Kebanggaan sebuah Kampus di US

Bison Game! 
FARGO-JAZZMUHAMMAD - Kebanggaan pada sebuah kampus mungkin bukan hal yang luar biasa. Di US, mahasiswa juga punya hal itu. Tetapi, ada satu hal yang menarik yang bisa dibicarakan dari hal ini: Olahraga.

Hampir semua kampus di US punya departemen olahraga atau yang biasa disebut athletics. Nah, department inilah yang mengatur dan mengelola semua cabang olahraga yang dimiliki kampus tersebut.

Di antara semua cabang olahraga yang ada, ada tiga olahraga yang paling populer: Baseball, Basketball, dan yang pasti American Football.

Ketika ada pertandingan olahraga, Football utamanya, mahasiswa berbondong menuju stadium untuk menyaksikan tim kampusnya berlaga. Lagi, yang paling banyak penontonnya adalah Football. Di NDSU, tempat aku belajar sekarang ini, tim Football-nya, juga semua cabang olahraganya, punya julukan Bison.

Pada Football season di Fall semester kemarin (2011), aku hampir tak pernah melewatkan Bison game. hal ini bukan lain karena ketika menonton Bison, rasa kebersamaan sesama pendukung bison sangat terasa. Hampir tidak ada yang tidak memakai pakaian dengan atribut NDSU atau Bison.

Ketika Bison mencetak angka, dalam Football disebut touchdown, kami menteriak sekencang-kencangnya. Beberapa saling tos atau disebut high-five, yang lain berpelukan.

Saturday, March 10, 2012

Kuliah Bayar Berapa?

NDSU Bison!
FARGO-JAZZMUHAMMAD - Biaya kuliah. Apa yang kau pikirkan tentang biaya kuliah? Bagi yang kuliah di negeri, maka bisalah bilang murah, terjangkau, atau mungkin juga bebas biaya. Yang kuliah di swasta , maka satu kata yang paling banyak muncul adalah mahal, ya meski ada yang murah sekali. Baiklah, intinya sama saja: kuliah harus bayar.

Cara pembayaran kuliah pun ternyata bermacam-macam. Ada yang memang bayar sepenuh-penuhnya, khususnya bagi mereka yang berada. Ada yang bayar setengahnya, ada yang seperempatnya, dan masih banyak lagi. Ada juga yang tak bayar sama sekali. Salah satu caranya adalah dengan beasiswa.

Cara inilah yang dilakukan oleh orang-orang yang belum mampu. Aku mungkin salah satunya. Di Paramadina, alhamdulillah, aku tak harus membayar biaya kuliah karena beasiswa, Paramadina Fellowship namanya.

Sementara, Di US, biaya kuliah ternyata tidak mahal. Tapi, sangat-sangat-sangat mahal! Bagi orang Indo, seperti aku ini, biaya kuliahnya benar-benar “sundul” melangit.

Sebagai contoh adalah NDSU, tempat aku sekarang sedang menimba ilmu. Untuk undergraduate, biaya kuliahnya mencapai lebih dari $3000. Itu hanya untuk satu semester. Kalau di rupiahkan, jumlah itu bisa mencapai lebih dari 25 juta. Nah, biaya itu adalah untuk residents alias anak asli Amerika atau mereka yang lulus SMA dari Amerika.

Friday, March 2, 2012

Siapa Orang Amerika?

with Koreans at Mt. Rushmore
FARGO-JAZZMUHAMMAD - Kalau ketemu orang Amerika, maka yang ada dipikiran kita adalah orang white alias orang kulit putih. Rambut blonde alias pirang, hidung mancung, kulit putih, dan mata biru, coklat terang, atau hijau.

Anggapan itu memang benar sih. Cuma pada kenyataannya, Amerika adalah bangsa yang terdiri dari berbagai macam orang dari berbagai belahan bumi. Ada orang Black America, Asian American, Hispanic American, Native American, dan masih ada beberapa lagi yang aku kurang tahu.

Namun demikian, orang white tetaplah yang paling banyak. Mereka masih mendominasi jumlah populasi. Tapi jangan salah, mayoritas white bukan berarti itu merata di semua daerah.

Di daerah selatan, orang black American mendominasi. Ini karena sejarahnya dulu orang black adalah slave alias budak dan kebanyakan perusahaan-perusahaan yang mempekerjakan mereka ada di sana.

Di bagian timur, macam-macam orang besatu padu. Sejarahnya, amerika adalah negara yang menerima imigran, dan hingga sekarang pun masih demikian. Mereka dulu masuk lewat Ellis Island di mana kantor imigrasi US berpusat di sana dulunya. Anyway, Ellis Island adalah sebuah pulau buatan yang dibangun di daerah New York City, tepatnya di dekat pulaunya Patung Liberty.

Thursday, February 23, 2012

Soal Absensi Kuliah

Let's Go Bison! 
FARGO-JAZZMUHAMMAD - Yang cukup menghantui mahasiswa di Indo adalah absensi. Kebanyakan mahasiswa di Indo masuk karena tak mau failed. Satu hal yang menentukannya, lagi-lagi: absensi.

Kalau di Paramadina, absensi disediakan melalui selembar kertas yang berisi nama-nama mahasiswa yang mendaftar pada kelas itu. Di awal, atau seringkali di akhir kelas, mereka menandatanganinya sebagai bukti kehadiran.

Umumnya, syarat agar tidak failed di Indo adalah kehadiran yang harus mencapai 75%-80%. Di Paramadina, biasanya kalau sudah tak masuk lebih dari 4 kali, maka you get kicked out!

Di US, sistem pendidikan tingginya memiliki perbedaan yang cukup signifikan. Baiklah, beberapa telah aku tuliskan sebelumnya, tapi kali ini khusus untuk absensi.

Di US, mahasiswa tak diharuskan mengisi lembar absensi. Mau masuk silakan, mau tak masuk silakan juga. Tapi yang, bagiku, aneh adalah masih banyak saja yang masuk kuliah. Apalagi hampir tak ada yang datang terlambat.

Thursday, February 9, 2012

Antara Nama, Jurusan, dan Angkatan

My Professor and I
(Dakota Tribal History Class)
FARGO-JAZZ MUHAMMAD - Kalau kuliah di Indo, ketika ada orientasi, para orientator atau senior yang mengorientasi pasti akan berkenalan satu per satu. Nah, ketika mereka mengenalkan dirinya, tiga hal yang mereka katakan adalah nama, jurusan, dan angkatan.

Hal ini semacam norma yang tak terlulis yang harus dipatuhi. Nama akan menunjukkan bagaimana ia ingin dipanggil, disapa, dan dikenali. Kebanyakan memakai nama asli, tapi tak sedikit juga yang menggunakan nama samaran yang sangat berbeda dengan nama aslinya. Katanya biar keren.

Hal kedua adalah jurusan. Itu yang akan menunjukkan apa yang ia pelajari di kampus. Di beberapa kampus, jurusan menunjukkan kasta. Orang kelas macam apa dia itu.

Khususnya di kampus-kampus negeri, kasta ini nampak terlihat. Kalau ada yang bilang, “Kedokteran”, para junior langsung diam, sedikit berbisik, “Anak ini pintar.” Kalau ada yang bilang, “Teknik Elektro”, maka mereka berbisik, “Oh, ia jenius!” Demikian juga untuk jurusan-jurusan yang dianggap keren: Hukum atau Kedokteran Gigi.

Tapi kalau ada yang bilang “Penyakit Tanaman” atau “Agrikultur”, yang mendengar berbisik-bisik, “Ngapain kuliah itu?”

Aku tak bermaksud membanding-bandingkan. Tetapi itulah kenyataan yang terjadi di Indonesia. Satu jurusan didewakan, satu lainnya dianggap barang rongsokan. Satu diburu banyak orang, yang lain kekurangan mahasiswa. Sah-sah saja sih. Aku hanya merasa aneh saja.

Thursday, January 5, 2012

Jalan-Jalan di US

this is it!
FARGO-JAZZ MUHAMMAD - Hal ini sangat simple, tapi kalau tak tahu, bisa buat orang tersesat. Tersesat? Wah ada aliran sesat ini! Gundhulmu aliran sesat! Dasar orang, sukanya bikin masalah. Kalau orang alirannya sesat, terus mau apa? Kau gatal-gatal? Kulitmu ada yang luka? Atau tanganmu putus? Bisulan?

Ya sudahlah biarin aja. Ngapain ngurusin orang, hidup saja yang damai. Buka-buka usaha atau apa gitu. Nulis-nulis juga boleh. Atau bikin blog juga boleh. Sini temenan sama aku. Lagipula, masih banyak hal yang bisa dibicarakan.

Tapi soal sesat-sesatan orang di US tak gampang tersesat. Bukan karena minimnya aliran sesat, tetapi karena jalan-jalan di sini memiliki sistem penamaan yang cukup sederhana. Jalan yang mana? Ya jalan yang pakai aspal itu.

Di bagian yang melintang ke arah barat-timur, nama jalannya cuma satu yakni Avenue atau biasa disingkat Ave. Nah, untuk membedakan Avenue satu dengan yang lainnya, jalan diurutkan dengan angka mulai dari Main Avenue, 1st Avenue, dst.

Begitu juga dengan jalan yang membujur ke arah utara-selatan. Namun, namanya bukan Avenue, tetapi Street atau disingkat St. seperti sebelumnya, pengurutan jalan juga dengan angka: Main Street, 1st St, dst. Kalau nanti ada tambahan N atau S, itu berarti north atau south.

Akan tetapi, tak semua juga jalan seperti itu. Untuk jalan-jalan tertentu, ada nama-nama khusus seperti Broadway, Park, University Drive, dan masih banyak lagi. Namun demikian, jumlah jalan yang dengan nama khusus itu tak seberapa bila dibanding jalan yang hanya bernama Avenue atau Street.

Wednesday, December 28, 2011

Negeri yang Terstandardisasi

US light switch (click on it for the source)
FARGO-JAZZMUHAMMAD - Dulu, yang muncul dipikiranku tentang negara adidaya Amerika adalah sebuah negara maju. Teknologi dan pendidikannya seperti beberapa ratus langkah di depan dari Negara-negara lain. Tapi apa yang membuat negara ini begitu punya pengaruh di dunia?

Jared Diamond, seorang ilmuan mencoba mencari jawaban mengapa “orang-orang kulit putih” saat ini menguasai dunia dengan kemampuan teknologi. Ia berargumen bahwa gun, germ dan steel telah membawa orang-orang ini dapat menaklukkan dunia. Okelah, itu masa lalu. Saiki-saiki, biyen-biyen. Mari lihat apa yang terjadi sekarang pada negara-negara maju ini, dan secara khusus di US. Anyway, kalau mau lihat videonya, klik di sini.

Nah, sebagai negara maju, ternyata satu hal yang bagiku cukup sederhana tapi mengherankan adalah hampir semua hal di sini terstandadisasi. Negara ini menerapkan sistem standar pada setiap apapun yang ada di dalamnya.

Aku akan mulai dengan light switch atau yang di Indo biasa disebut dengan sakelar. Setahuku (Ini setahuku, jadi mau percaya atau tidak tak apa-apa) di Negara ini, semua sakelar punya bentuk yang sama. Mulai di tempat umum sampai rumah-rumah sakelarnya akan punya bentuk yang sama.

Monday, December 19, 2011

Belajar di Negeri Paman Sam (2-habis)

"sok cool" in front of the union
FARGO-JAZZ MUHAMMAD - Pendidikan di US ternyata tak senjelimet yang aku kira. Di sini semua dibuat simple tetapi punya pakem aturan yang harus ditaati. Waktu kumpulkan tugas ya kumpulkan, kalau sudah due atau deadline, ya sudah kalau terlambat tak akan akan ada belas kasihan. Oke, kali ini aku akan teruskan artikel sebelumnya tentang belajar di Negeri Paman Sam. Klik di sini untuk artikel pertamanya!

Keempat, tak seperti di Indo yang kalau satu kelas ada 3 SKS, semua digabung menjadi satu, dan jadinya kuliah 2,5 jam. Wah, ini yang berat buatku. Aku hampir selalu tidur di kelas. Di US berbeda.

Pembagian waktu kuliah biasanya menjadi dua atau tiga hari. Jadi, jadwal tiap mata kuliah selalu Senin-Rabu-Jumat (Mo We Fr) atau Selasa-Kamis (Tu Th). Tiga SKS dibagi menjadi tiga atau dua. Jadi di kelas, mahasiswa akan mendengar “ceramah” dosen selama 50 menit atau 1 jam 15 menit. Ya bagiku agak lumayan. Meskipun masih kadang tidur, at least tak separah ketika di Indo. Ini anak kerjaannya tidur kok berani-beraninya kuliah di US?! (Hehe no komen)

Kelima, silabus di US sangat penting untuk mengetahui apa yang akan diajarkan dosen di kelas. Apa di Indo tak penting? Ya pentinglah, cuma pengemasannya yang berbeda sehingga seringkali tidak penting. Atau sebenarnya penting tapi mahasiswanya tukang tidur seperti aku ini. lha itu yang buat itu tak penting. Entahlah.