Showing posts with label mozaik dari fargo. Show all posts
Showing posts with label mozaik dari fargo. Show all posts

Saturday, December 22, 2012

The Version of My Success

With Mr. Trump. Thanks, sir!
There are so many successful people out there. They achieve something precious for their lives. Some become so popular and get so much praise from other people. We can recognize how Bill Gates successfully built his Microsoft, and how Steve Jobs created Apple Inc. Nobody will denies that those two men have succeeded on their path.

Their lives have become inspiration for lots of people around the world. Their persistence to get their success gives us many lessons to study and to follow. Now, the question is what does success mean? Are those who are as rich as those two not successful persons? To agree or do not agree is part of of those questions. You can keep your answer now. I have a version of my success.

I spent all of my childhood in a country called Indonesia. I was born there about twenty two years ago. Anyway, Indonesia is an archipelago containing more than 17,000 islands. We have so many different ethnic groups. I am from one of them called Java. I was born in a little town, Blitar, which is located at Java Island, on of five largest islands there.

My late father was a local entrepreneur in Blitar. He fixed broken sewing machines and we earned money from that. We did not make much money from that job, just enough to meet our daily needs. My mom was the manager, which mean actually she had no job, just helped my dad. Nevertheless, both are the best parents ever for me!

Thursday, December 22, 2011

Mozaik dari Fargo (4): Menjadi Manusia Sejati

with pak susilo at the home-coming parade
Sebenarnya menjadi orang baik syaratnya cuma satu: berperilakulah yang baik. Tapi apa semua orang akan setuju dengan apa yang kita anggap baik? Atau malah menganggapnya buruk setengah mati? Masalahnya adalah setiap orang punya standar nilai dan pengetahuan yang berbeda untuk menilai sesuatu: baik atau buruh, benar atau salah.

Perbedaan atau keragaman dalam kehidupan adalah anugerah Tuhan. Percaya atau tak percaya, tak akan ada orang yang punya pikiran sama persis. Tak ada pula orang paling pintar sebab terlampau banyak pengetahuan yang di dunia ini yang harus diketahui. Maka dari itu, jadi orang terbuka saja. Nikmati saja hidup, dan tak perlu membesar-besarkan perbedaan. Bahasa Inggrisnya, just walk it off, enjoy our life.

Perbedaan biarlah jadi sumber pengetahuan, persamaan biarlah jadi penyambung persaudaraan.

Januari – April 2011
Setelah aku selesai wawancara untuk Global Ugrad, kuliah berjalan seperti biasa. Tapi, karena ini semester terakhirku, maka aku tak punya banyak mata kuliah. Hanya tiga mata kuliah. Aku hanya masuk Senin dan Selasa, selebihnya, aku fokus untuk berorganisasi. Lagipula, aku sudah tak terlalu memikirkan apa yang harus aku lakukan setelah seleksi wawancara Program Global Ugrad usai.

Namun seminggu setelahnya, aku dapati telponku berdering ketika aku masih bertugas menjaga stand Paramadina di sebuah SMA. Kala itu aku bersama Nyonyah Liz dan kawanku, Eci. Kira-kia akhir Desember.

Monday, December 12, 2011

Mozaik dari Fargo (3): Masa Bodoh!

di NDSU, lompat ngga jelas!
Masa bodoh. Bagaimana pendapatmu dengan frase ini? konotasinya, setahuku, selama ini adalah buruk. Ini berarti sebuah pengingkaran terhadap kondisi sekitar, tak mau tahu, dan ujungnya: Masa bodoh!

Tapi bagiku, ada masa bodoh yang penting. Masa bodoh ini berarti tak usah peduli dengan apa yang terjadi di masa depan. Maksudku bukan sekarang ini kita bisa bermalas-malasan. Kita harus berusaha meraih segala yang kita bisa raih. Semboyannya “Kalau dia bisa, kenapa aku tidak?” Nah, setelah semboyan itu kita tanam dalam-dalam di kepada, maka kita harus berusaha sekuat-kuatnya.

Nah, setelah itu? Berdoa? Yes, lalu? Masa bodoh! Di sinilah masa bodoh itu penting. Tak usah perlu memerhatikan apa hasilnya nanti. Kalau memang kita sudah melakukan yang terbaik, hasil terbaik pasti akan tercapai. Tapi seperti diceritaku sebelumnya, yang terbaik belum tentu berarti menang.

Bagi yang percaya pada Yang Maha Kuasa, ya sudah, masa bodoh saja. Serahkan semuanya pada-Nya. Yang atheis dan agnostik? (Weleh apalagi ini?) Ya sudah, yakin saja sama apapun yang kau yakini. Yang penting masa bodoh.

Pertengahan Desember 2010
Setelah aku serahkan form aplikasiku pada aminef untuk program Global Ugrad, aku ya sudah masa bodoh. Lalu aku jalani kehidupanku sehari-harinya sebiasa-biasanya di asrama 33b dan kampus Paramadina.

Namun semuanya akhirnya menemukan titik terang ketika pada awal minggu Desember 2010, malam hari, aku dapati email dari aminef ber-subject: 2011 Global UGRAD Program Interview Schedule – JAKARTA. Saat itu aku sedang duduk-duduk di ruang tamu asrama malam-malam. Biasa, sejak menjadi mahasiswa, aku sering tidur malam-malam. Kerjaanya cuma ada dua: facebook-an, atau SKS. Yang kedua itu adalah singkatan dari kebiasaan terburuk mahasiswa di manapun: sistem kebut semalaman!

Saturday, November 19, 2011

Mozaik dari Fargo (2): Belum Tentu Kemenangan!

masih summer,
pakai "shorts" ke kampus
Berada di “teritori” orang lain tentu akan menyenangkan. Tetapi proses adaptasinya tentu akan memakan waktu.

Memiliki perkiraaan tentang tempat baru tentu wajar-wajar saja. Aku akan lakukan ini, lakukan itu, pergi ke sana, pergi ke sini. Tapi pesan dari seorang penulis mengatakan: Hal yang paling perlu dipercayai adalah kenyataan itu sendiri. Karena tak ada yang nyata selain kenyataan itu sendiri.

Tapi bukan berarti memiliki harapan adalah kesalahan. Karena, dengan harapan sesorang dapat memetakan kemana ia akan pergi, atau setidaknya apa yang akan ia lakukan sejam ke depan.

Kalau bicara soal kompetisi, semuanya pasti ingin menang. Tapi menang semua adalah humor paling gila sedunia. Kalau ada lomba yang menjanjikan kemenangan buat semuanya, juara satu semua, maka lebih baik lupakan saja.

Yang dicari sebenanrya adalah kebaikan. Dan, kebaikan bukan selalu kemenangan. Sebab, mungkin kekalahan jauh lebih memberi pelajaran daripada yang lain. Tapi, tetap, kemenangan akan membawa kebahagiaan. Maka dari itu, menang dan kalah, ya sudah, suck it up saja, jalani saja.

Akhir Oktober, awal November 2010
Minggu terakhir Oktober 2010, tahun lalu, aku telan bulat-bulat segala kegamangan. Kubeli tiket pulang ke Blitar. Lima-lima ribu perak. Pulang pergi jadinya 110 ribu rupiah. Kau tahu kenapa orang kadang bilang rupiah dengan perak? Aku juga tak tahu dan tak akan bicara itu.

Aku harus segera dapatkan surat rekomendasi dari Tatik Sensei (Bu Tatik). Kenapa beliau? Baiklah, karena beliau adalah, bagiku, guru paling visioner yang pernah aku punya. Beliau tak pernah mengajarku, sebenarnya. Tapi aku akhirnya bertemu dengannya ketika aku harus berlatih shodo, kaligrafi Jepang, untuk perlombaan semasa SMA.

Beliau selalu mengajak murid-uridnya untuk selalu melangkah maju meskipun kami tumbuh di “daerah pinggiran”. Jangan pernah berhenti belajar dan jadilah orang baik, begitu pesannya.

“Sensei, saya perlu surat rekomendasi dari sensei. Apa Sensei ada waktu untuk bertemu?” kutelpon beliau dari Jakarta.

Alhamdulillah, beliua menyambut dengan baik permintaanku. Aku ceritakan hal perihal program pertukaran yang akan aku ikuti. Reaksi beliau cukup melegakan bagiku. Yang tinggal kulakukan sekarang adalah pulang.

Di waktu lain, aku dapatkan dua surat rekomendasi lainnya dari bu Prima Naomi, pembimbing akademikku dan bu Iin Mayasari, saat itu kepala jurusan manajemen;. Keduanya “ngantor” di Paramadina.

“Bu, saya ingin ikut program ini. Apa Ibu dapat memberi saya rekomendasi?” kataku waktu itu.

“Baik… baik Rosyid. Saya doakan kamu bisa dapatkan apa yang kamu cita-citakan!” sahut Bu Iin.

“Terima kasih bu!”

Tapi, ngomong-ngomong, jangan langsung percaya dengan percakapan yang aku tulis. Nampaknya memang serius, tapi nyatanya aku ini orangnya gampang tertawa, jadi waktu juga sedikit ketawa-ketiwi. Ya sedikit tidak sopan, tapi yang penting tidak keterlaluan.

Kembali ke permasalahan. Sebelum pulang, aku upayakan untuk dapatkan rekomendasi dari kedua dosenku. Dan, akhirnya kudapatkan juga dengan mudah. Aku sangat berteima kasih pada mereka berdua. Oya, sebenarnya aku bisa dapatkan rekom dari Pak Wija, deputi rector; atau juga Pak Anies, Pak Rektor.

Tapi aku berpikiran lain. Rekom, begitu aku sebut surat rekomendasi, ini harus benar-benar merepresentasikan diriku, maka aku kira akan lebih baik kalau rekom itu dari orang yang memang aku dan dia saling mengenal dengan baik. Akan ada penilaian yang detail dan objektif. Aku mengenal dengan baik Pak Wija dan Pak Anies, tapi aku jarang ada kontak dengan mereka.

Yang kumaksud detail di sini adalah seperti yang ditulis Bu Iin: Rosyid suka beli buku teks untuk kuliah. Ini pun aku tak bayangkan akan ditulis oleh beliau.

Aku pun pulang ke Blitar. Aku hanya punya waktu 3 hari di Blitar. Aku tak sia-siakan waktu yang kupunya. Aku langsung ke rumah sensei untuk dapatkan rekom. Beliau tulis dalam Indonesia, aku terjemahkan ke Inggris.

Di rumah aku selalu meminta doa pada orang tua agar aku sukses melewati setiap seleksi, pendeknya aku ingin lolos. Tapi jawaban ibuku cuma satu: Semoga kau dapatkan yang terbaik! Bagaimanapun, ibuku adalah manusia paling T.O.P.B.G.T! Bukan berarti aku kecewa, aku selalu bangga dengan ibuku sebab nyatanya memang yang terbaik belum tentu selalu kemenangan!

Aku kembali ke Jakarta. Dang! 17 jam di kereta ekonomi. Tapi apapun, aku jalani dengan ikhlas. Ikhlas… ikhlas… ikhlas… memang susah, tapi yang penting sudah niat.

Hari Senin, 1 november 2011, dedlen Global Ugrad. Aku sempatkan main-main ke DKPM. Aku bertemu Fajar Anandi, kawanku asal Padang. Aku sampaikan padanya,

“Jar, aku mau ke Senen, mau ngumpulin form aplikasi.” Waktu itu kantor aminef masih di dekat Pasar Senen, Jakarta. Sekarang sudah di Jl. Sudirman.

“Eh, aku boleh lihat aplikasimu?” tanyanya.

“Oke. Kenapa tidak.”

Aku berikan aplikasiku padanya. Ia mulai lihat-lihat satu persatu. Dan akhirnya dia katakan sesuatu.

“Syid, kau ada yang kurang?”

“Hah!!! Apa, Jar?”

“Lihat ini. Bagian terakhir,” katanya sambil tunjukkan bagian yang seharusnya aku tanda tangani dan ternyat masih kosong. Oh, Ya Allah!

“Wah, makasih banyak Jar, makasih!” aku benar-benar merasa tertolong. Rasanya memang hal kecil, tapi kalau terlewat, rasanya semua yang kutulis di lembar-lembar sebelumnya jadi muspro karena seperti tak punya otoritas. Siapa yang nulis? Mbahmu? Tukang Bakso?

Akhirnya kutanda tangani juga.

Aku menuju ke Senen dengan bus paling sialan di Jakarta: kopaja atau metro mini! Tapi tak sialan-sialan juga, soalnya angkutan itu adalah yang paling murah di dunia, mungkin. Sekali jalan, sejauh-jauhnya cuma dua ribu perak. Paradoks? Entahlah.

Aku sampai ke Senen dan langsung menyambangi ruangan yang mengurusi Global Ugrad. Aku katakan pada mereka kalau aku akan kumpulkan form aplikasiku. Aku berharap akan ada sambutan seperti ini: Ohya, mana aplikasimu? Baiklah saya terima dengan baik. Ya, tapi itu hanya harapan, dan nyatanya adalah seperti ini:

“Oh, begitu. Di luar ada kardus, nah ada tulisannya Global Ugrad. Taruh saja di situ,” hanya itu. Oke.

“Aku keluar dan dapati kardusnya. Memang ada tulisan Global Ugrad, tapi demi Allah ini rasanya tak sepadan dengan program yang katanya akan memberangkatkan mahasiswa ke negeri jauh sana. Kutaruh form aplikasiku. Sedikit melemparnya, karena kardus hanya tergeletak di lantai.
“Ini bener ngga sih?” batinku. Ya sudahlah. Bismillah!

Pertengahan Agustus 2011
Minggu-minguu pertama orientasi di NDSU, masih Ramadhan, masih juga seperti orang hilang. Aku coba bicara dengan beberapa yang sudah aku kenal. Tapi tetap, semua yang ada di kepala tersangkut ditenggorokan dan yang pasti rasanya sakit. Bahasa jawanya: gregeten! Goblok eram tho cah iki! Maksudnya ya saya sendiri.

pose "sok yes"

Sederhananya, aku bayangkan aku segera punya banyak teman. Cerita ini-itu. Cerita tentang banyak hal dari indonesia. Tapi kenyataan Aku tak terlalu punya banyak teman di orientasi. Ini menambah rasa sakit dalam hati. Aku ingin berkomunikasi dengan yang lain tapi apa daya mulut terkunci kebodohan bahasa.

Soal Ramadhan, ini yang sekiranya perlu aku sampaikan. Ketika aku masih di minggu-minggu pertama, Fargo masih summer. Shubuh ada di jam 5 pagi sementara maghrib jam setengah Sembilan malam. Aku belum temukan sama sekali sesama Muslim di sini. Setidaknya ada teman untuk berbuka. Jadinya yang lain makan, nyam… nyam… nyam… dan aku: mengelus dada. Oh, Gusti! Dosa nopo kulo niki?

Aku sekali ikut belanja dengan yang lain menggunakan sebuah bis. Ini pertama kalinya aku lihat Walmart, sebuah toko yang gedhenya minta ampun! Aku selesai belanja jam 7. Tapi ketika aku lihat sekitar, ini seperti masih jam 3 sore. Ini benar-benar terang benderang. Di Blitar, sekitar jam itu aku sudah siap-siap berangkat ke masjid untuk menunaikan shalat tarawih.

Di minggu-minggu pertama ini, NDSU masih sepi. Kelas belum dimulai. Yang berkeliaran hanyalah mahasiswa internasional yang bahasa Inggrisnya macam-macam aksesnya. Yang paling menyenangkan tentu mendengar bahasa Inggrisnya orang India. I wanth tho thalk about how tho geth tho Union…

Tapi ini tetaplah Amerika. Tak ada yang bicara bahasa Indonesia. Aku, waktu itu, tak tahu apa nasibku. Tapi beberapa teman yang aku kenal, meski aku tak terlalu banyak bicara dengannya karena kendala teknis, hanya bilang: you will get used to it.

19 November 2011
Jazz Muhammad (Global Ugrad Indonesia)
78 Niskanen Hall, NDSU
Fargo, ND, USA



Sunday, October 23, 2011

Mozaik dari Fargo (1): Apapun Hasilnya!

Di depan Union, NDSU
Kalau ada orang bilang: di dunia ini semuanya dapat terjadi, maka siapapun boleh jadi percaya atau juga tidak. Terserah. Monggo.Tapi aku akan memilih untuk percaya. Kenapa? Karena percaya itu gratis.

Apa kita percaya kalau batu bisa jadi uang? Percaya kalau manusia bisa terbang tanpa bantuan apa-apa? Atau tangan kita dapat menyentuh langit? Atau ketika kita bangun pagi lalu rupanya semua orang menunggu anda di luar jendela, karena kita jadi presiden?

Kalaupun itu semua terjadi maka kepercayaan kita dapat pembuktian yang akan membuat kita senang sejadi-jadinya. Kalau tidak terbukti? Buat saja kepercayaan yang lain. Mudah bukan?

Tetapi masalahnya akan timbul kalau kita terlalu banyak kepercayaan. Akan menjadi sampah dalam kepala kalau setiap hari kita membuat kepercayaan-kepercayaan baru. Sebab hidup ini hanya sebentar. Saya memilih-milih mana yang akan ku-percayai, dan aku akan buktikan kepercayaan itu.

Dan, sedari kecil, dunia yang kulihat bukanlah macam istana dalam cerita. Dunia ini bukan dongeng dalam cerita anak-anak yang dapat memberikan segala-galanya. Dunia ini bukan dongeng yang dapat memberikan kita hujan uang, yang dengannya kita dapat menjadi orang kaya.

Tapi yang kulihat adalah kerja keras. Ya, dengan kerja keras, kepercayaan itu akan terwujud. Bagaimana kalau tak terwujud? Ya sudahlah. Memang mau apalagi? Biar Yang Disana yang mengatur.

Pertengahan Oktober 2010
Baiklah, dari kepercayaan saya pindah ke pengalaman. Berawal dari akhir tahun 2010 lalu, tepatnya pertengahan Oktober 2010.

Kampusku, Universitas Paramadina, dibuat heboh dengan selebaran berbahasa Inggris. IELSP atau Indonesia English Language Study Program: sebuah program yang akan memberangkatkan beberapa puluh mahasiswa ke negeri yang tepat berseberangan dengan Indonesia di bumi ini, sebuah negeri yang kini dikenal dengan negeri adidaya, Negeri Paman Sam, The United States of America.

Beberapa kawan sudah siap dengan aplikasinya, lengkap dengan surat rekomendasi yang “heboh”, rekomendasi dari pemuncak-pemuncak kampus, penghuni rekotorat. Beberapa dapatkan rekomendasi dari Pak Wija, beliau adalah, menurutku, orang orang dua di kampus setelah Pak Anies, Pak rektor. Adakah dari Pak Anies? Entah, aku kurang tahu. Mungkin saja.

Aku memutuskan untuk “ikut-ikutan” mengirimkan aplikasi. Aku berencana mengecek website organisasi yang mengelola beasiswa itu. Aku sedikit bertanya pada Fajar, kawan baikku yang waktu itu menjadi “warga negara” DKPM—Direktorat Kemahasiswaan dan Pengabdian Masyarakat.
“Jar, aku ingin ikutan donk! Gimana caranya?” tanyaku.

“Oh, dedlen-nya tiga hari lagi,” jawabnya. Mungkin baginya ini fakta dan memang demikian adanya. Tapi bagiku: Holy cow! Mana bisa aku ikutan?! Aku masih memegang nol besar untuk memulai. Tiga hari? Satu kata: mustahil!

“Memang syaratnya apa?” tanyaku, sekedar meredam kekecewaan.

“TOEFL. Minimal 450,” jawabnya.

“Memang kapan ada tes TOEFL?”

“Minggu depan.”

Oh, deadline hanya tiga hari lagi, dan salah satu syaratnya baru bisa kupenuhi minggu depan? Rupanya, bukan meredam, ini malah menggandakan kekecewaan. Ini rupanya benar-benar juga menutup pintu kepercayaanku untuk ikut serta.

Berkabung, tapi hanya dalam pikiran. Sepulang dari kampus, aku, seperti biasa saling sapa dengan kawan-kawan di asrama 33b. Istirahat sejenak di ruang tamu sambil menyaksikan siaran TV kabel yang kami pasang beberapa bulan lalu. Kami bisa menyaksikan banyak siaran TV dari dalam dan luar negeri. Yang paling laris adalah “Star World”. Beberapa kawan seperti dibuat ketagihan dengannya.

Baiklah, kembali topik semula. Menjelang malam, aku buka laptop-ku. Tujuan utama: facebook. Kau tahu apa nyawa dari facebook? Notification. Tanpa itu, facebook serasa barang mati yang tak sedap dipandang. Maka dari itu, mari meramaikan notification. Tapi, terserah juga, karena terlalu banyak akan membuat orang malas, dan: apapun yang berlebihan itu bukanlah hal yang baik, bukan?

“Eko, kau ikut IELSP?” tanyaku pada Eko yang kebetulan melintas. Ia salah satu kawan penggila “Star World”.

“Iya. Ikutan. Lha, elo ngga tahu?,” jawabnya mudah.

Aku mulai menanyai beberapa kawan. Ternyata beberapa dari mereka telah siap dengan form aplikasinya, lengkap dengan surat rekomendasi dan nilai TOEFL. Beberapa dari mereka sudah ada yang mendaftar. Dari asrama 33b, kukira ada sekitar tiga atau orang yang ikut seleksi. Fajar ada di asrama lain, asrama 25. Cuma dia yang mendaftar dari asrama itu.

Dang!

Ya Allah, kalau memang bukan kesempatanku, tolong redam rasa kecewaku ini! Kalau memang ada kesempatan, tunjukkan pada hambamu ini jalan yang terbaik. Begitu doaku kala itu.

“Rosyid, coba kau cek website aminef,” Eko tiba-tiba beri tahu. “Aku tahun kemarin daftar Global Ugrad di sana. Mungkin masih ada waktu.”

Aku buru-buru “bertanya” pada “Mbah Gugel”. Aku coba cari website aminef dan kukerahkan segenap kekuatan untuk mencari apa itu Global Ugrad. Setelah beberapa kali upaya, akhirnya kutemukan juga. Global Ugrad adalah kependekan dari Global Undergraduate Exchange Program, sebuah beasiswa bagi mahasiswa Indonesia untuk belajar tentang pendidikan dan segala aspek kehidupan di US. jenjang waktunya bisa satu semester atau satu tahun akademik.

Deadline-nya kapan? Itu pertanyaan yang jawabannya harus kutemukan.

Dua minggu lagi. Tepatnya 1 November 2010.

Apa syaratnya? Pertanyaan kedua.

Dari semua syarat seperti beberapa lembar form aplikasi yang harus aku isi, essay, surat rekomendasi dari dosen, dapatlah aku penuhi. Tapi rasanya seperti disambar badai ketidakpastian: sayaratnya adalah ijasah SMA dan surat rekomendasi dari guru SMA. Kau tahu kenapa ini mengejutkan? Aku butuh hampir sehari semalam untuk mencapai kampung halamanku, Blitar.

Aku biasa menggunakan kereta Matarmaja untuk pulang. Berangkat jam 2 siang dari Stasiun Pasar Senen, aku akan sampai esok pagi di Blitar dengan waktu yang tidak tentu, tapi kira-kira aku akan sampai jam 7 pagi. Kau tahulah bagaimana transportasi negeri ini. Bagus bukan? Siapa dulu donk yang mengurusi?!

Sesampai di rumah, aku akan butuh waktu berjam-jam untuk istirahat dan tidur karena perjalanan benar-benar melelahkan. Dalam kereta, hanya ada tempat duduk dengan sudut sempurna 90 derajat. Dan aku duduk begitu selama perjalanan. Menarik bukan?

Baik, aku hanya punya waktu dua minggu. Sempat tumbuh rasa ragu dalam benakku. Sebab, pulang pergi Jakarta-Blitar bukanlah hal yang mudah untuk dijalani. Selain itu, aku sadari: ini kesempatan ke USA.

Ini bukan kesempatan seharga permen yang setiap orang bisa dapatkan. Akan banyak mahasiswa yang mendaftar, ratusan mungkin, dan aku satu dari, katakan 500 orang yang mendaftar. Dalam benak: mustahil tak mustahil!

Tapi rupanya sisa waktu yang ada, dan sebenarnya juga tak lama, diam-diam menjadi harapan terakhir yang kumiliki. Ini adalah kesempatan ke negeri adidaya, USA. Kalau tidak di coba, mana tahu hasilnya. Aku bangun kepercayaan dalam diriku. Sedikit demi sedikit.

Kalau gagal? Setidaknya aku sudah mencoba. Akan ada pelajaran dari sana. Sedikit demi sedikit, kepercayaanku memadat. Bagaimana kalau menyesal? Itu takdir, tak aka nada penyesalan di awal. Lagipula, gagal setelah mencoba setidaknya lebih punya martabat daripada diam dan tak berbuat apa apa.

“Ibu, saya ingin daftar beasiswa ke USA?” aku telpon ibuku.

“Apapun yang jadi keputusanmu, ibu cuma bisa mendoakan yang terbaik buatmu,” jawab beliau. Pelan.

Kini aku percaya, benar-benar percaya. Apapun hasilnya! Allah tahu yang terbaik buat makhluk-nya.

Pertengahan Agustus 2011
Hari orientasi dimulai, 17 Agustus 2011. Aku bersama Jean Max, mahasiswa asal Haiti, berangkat bersama menuju Memorial Union. Tempat ini adalah semacam students center dari North Dakota State University (NDSU).

Sesampai di Union, begitu kami menyebut Memorial Union, aku bertemu dengan mahasiswa dari berbagai negara. Ya, itu hari pertama orientasi untuk mahasiswa internasional di NDSU. Aku bertemu dengan banyak orang dengan macam-macam bahasa.

Aku lihat banyak bahasa berbeda mereka gunakan, pula warna kulit berbeda-beda. Aku tak tahu mereka bicara apa. Jujur, ini pertama kali aku berada dalam situasi seperti ini.

Sesuai dugaan, kulihat ada banyak mahasiswa dari India dan China. Ini terlihat dari bagaimana mereka berbicara dan mengelompok. Natural saja kalau mereka akan mengelompok dengan yang mereka sudah kenali dan dapat berbicara satu dengan lain. Kukira, sebagai calon negara maju, sudah tentu mereka banyak mengirimkan mahasiswanya ke luar negeri, salah satunya ke USA. Aku juga banyak, ini di luar dugaan, melihat mahasiswa dari Korea. Apapun, aku sungguh tak mengerti apa yang mereka bicarakan.

Aku datang dengan kemampuan berkomunikasi dalam Bahasa Inggris yang super minim. Aku akan katakan: bahasa bukan hanya soal tulisan, tetapi tentang bagaimana menggunakannya dalam keseharian. Ini persoalan yang berbeda sekali.

Di Indonesia, aku sangat jarang menggunakan bahasa ini. Dan, ding-ding! Di hari pertama orientasi ini, aku seperti orang hilang yang tak tahu harus berbicara apa jika perlu sesuatu. Setiap orang berbicara dengan cepat, ini benar-benar di luar dugaan. Dan, “kelangkaan” kemampuan berbicara sungguh-sungguh berjung pada isolasi diri yang benar-benar membuat sakit kepala.

Minggu pertama di Fargo, di NDSU, aku adalah orang dari planet lain yang tak tahu bagaimana berkomunikasi. Bahkan, sebenarnya ini masih Ramadhan, seharusnya aku berpuasa. Tapi aku benar-benar frustasi. Jujur, aku ingin pulang kembali ke Indonesia. Aku tak puasa. Di hari pertama orientasi, aku: orang hilang di Fargo.

Jazz Muhammad (Global Ugrad Indonesia)
78 Niskanen Hall, NDSU
Fargo, ND, USA