Showing posts with label pendapatku. Show all posts
Showing posts with label pendapatku. Show all posts

Monday, October 20, 2014

Jumlah Gaji Bukan Segala-Galanya


Selalu saja ada orang di sekitar kita yang suka bertanya tentang gaji teman-temannya lalu membandingkannya dengan miliknya. Kita mungkin salah satunya. Saya mungkin, tapi saya selalu menghindarinya. Membandingkan antara jumlah gaji yang satu dengan yang lain memang mudah. Hasilnya jelas, siapa yang lebih ‘makmur’ adalah yang lebih besar dan yang lebih kecil yang ‘nelangsa’.

Seorang kawan saya bercerita kalau gaji seorang pegawai warteg di Jakarta biasanya berkisar 1 juta  hingga 1,5 juta rupiah. Kalau dibandingkan mereka yang kerjadi kantoran yang bergaji 4 juta, tentu angka gaji pegawai warteg jauh lebih kecil. Dengan mudah, kita bisa berkesimpulan kalau mereka yang di kantoran lebih makmur.

Memang kelihatannya demikian. Tapi kita lupa banyak hal di luar sekedar angka gaji yang tidak kita perhitungkan. Pegawai warteg mungkin bergaji 1 juta rupiah, tapi ia tak butuh bayar tempat tinggal dan bayar makan. Gaji 1 juta itu sudah bersih ia bisa simpan. Sementara mereka yang bergaji 4 juta, harus membayar kos, makan, dan juga transport.

Katakanlah kos di Jakarta mencapai 750 ribu, makan 1,5 juta, dan transportasi 500 ribu. Jadi uang yang bisa disimpan hanya sekitar 1,25 juta. Kalau ini dibandingkan dengan yang bergaji 1 juta, ya yang kantoran akan sedikit beruntung. Tapi jika dibandingkan dengan yang bergaji 1,5 juta, yang kantoran tentu yang ‘nelangsa’.

Siapa nelangsa, siapa makmur

Itu hanya sedikit hal yang banyak orang tidak atau lupa menghitungnya. Tapi di luar itu, ada banyak hal lainnya yang harus kita perhatikan sebelum kita men-judge diri kita lebih ‘nelangsa’ atau lebih ‘makmur’.

Thursday, September 25, 2014

MP3EI: Antara Niat Baik dan Lagu Lama

Sumber: LIPI
Pemerintah SBY dengan jumawa menetapkan arah pembangunan negara hingga 2025 melalui MP3EI pada 2011 lalu. Target-target yang ditetapkan menjanjikan kemajuan. Tapi di perjalanannya, nampaknya pemerintah tidak serius mengimplementasinya. Sepertinya lagu lama akan diperdengarkan kembali, pemerintah kita cuma jago bikin konsep.

Dalam pidatonya yang bernada optimistis pada 2011 lalu, SBY mendengungkan Indonesia akan menjadi pemain penting dalam ekonomi dunia. Melalui MP3EI, pemerintahan SBY melihat Indonesia akan memiliki pendapatan perkapita 15.000 dollar pada 2025. Indonesia juga akan terbagi menjadi enam klaster-klaster industri dan zonna-zona ekonomi  atau yang disebut koridor-koridor ekonomi.

MP3EI membagi Indonesia menjadi lima koridor yakni Sumatra, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Bali – Nusa Tenggara dan Maluku – Papua. Untuk mencapainya, syarat pertumbuhan ekonomi negeri ini minimal harus mencapai 7-8% (eurocham.or.id, 2013).

Pada 2014 ini, fase pertama telah dilalui (2011-2014). Pada fase ini sudah banyak groundbreaking yang dilakukan, beberapa proyek juga sudah diselesaikan. Beberapa jalan khusus dan bandara selesai. Namun apa ini cukup untuk mempertahankan keberlangsungan program?

Tuesday, September 9, 2014

Siap-Siaplah Jadi Kacung Setelah Lulus Kuliah

(Sumber: www.personnel-placements.co.uk)

Setelah lulus kuliah, apa yang mau kamu lakukan? Yang Alhamdulillah punya bisnis keluarga, bisa langsung terjun ke dunia itu. Ini tentu menarik sekali. Tapi sayangnya pilihan itu belum banyak di sekitar kita. Lalu apa pilihannya? Ya cari kerja.

Buka-bukalah website penyedia lowongan kerja. Sekarang semua mudah sebab banyak media bisa kita akses untuk info lowongan. Saya sendiri juga sempat beberapa kali melamar hingga akhirnya berlabuh di pekerjaan saya sekarang. Tapi, ada yang menarik setelah saya masuk dunia kerja.

Dunia kuliah dengan dunia kerja sepintas tak memiliki batas. Sama-sama berisi manusia, tugas, deadline, senior-junior (atasan-bawahan) dan lain-lainnya. Tapi bila kita sudah masuk dunia kerja, rupanya dunia kuliah dengan dunia kerja sangat berbatas.

Mengapa? Karena dua dunia ini berbeda sama sekali. Ketika kita masuk dunia kerja, maka mau tak mau kita memasuki alam lain, dunia lain, suasana lain sehingga langkah kita pun mau tak mau dimulai lagi dari nol. Artinya?

Se senior-seniornya kita di kampus, sekeren-kerennya kita di kampus, segarang-garangnya kita di tempat kuliah, ketika masuk dunia kerja, jadilah semua itu tak berguna.

Saya teringat cletukan teman saya yang, menurutku, spontan tapi menggambarkan bagaimana rasanya ketika ia masuk dunia kerja. Kalau tidak salah dia berujar dengan canda: Gila, sekeren ape lu di kampus, mau dari kampus macam apa lu, kalau pertama masuk kerja, lu jadi kacung… Haha.  Ketik ini itu, foto kopi ini itu… Haha.

Friday, December 20, 2013

"Tai Kucing"-lah Hidup Sehat (Hidup Sehat Tak Perlu Mahal) ...

ilustrasi (buysafegenerics.com)

Kalau lihat kampanye hidup sehat di tipi-tipi, sepertinya hidup sehat itu mahal sekali. Seringkali makanan yang ditampilkan tak terjangkau harganya bagi yang belum dan kurang mampu menjangkau. Bagaimana tidak, kampanyenya kita makan-makanan seperti yogurt, susu bebas lemak, salad, daging-dagingan dan kacang-kacangan yang biasanya kurang terjangkau. Itu soal makanannya.

Soal program olahraganya beda lagi. Kita harus ikut program ini dan itu yang tak jarang perlu merogoh kocek lebih. Belum lagi sekarang banyak orang berbondong-bondong ke wellness center atau fitness center yang bagi kebanyakan orang Indonesia tentu tidak terjangkau.

Seorang kawanku ketika melihat kampanye hidup sehat di sebuah tv langsung menyerocos, “Halah, tai kucing-lah hidup sehat. Itu mah buat orang kaya doank!”

Aku sejenak berpikir, apa memang begitu susah hidup sehat? Kalau melihat tayangan ajakan hidup sehat di acara-acara berita atau semacamnya, memang rasanya ingin bilang juga, “Bullcrap deh itu semua! Yang ada malah tekor bandar…”

Belum lagi program ini dan itu yang dianjurkan untuk memiliki trainer yang tak murah untuk menggajinya. Menggaji diri sendiri saja susah, mana mungkin menggaji orang lain? Tai kucing lah pokoknya, kata kawanku.

Hormatku dan Selamat Jalan pada Mandela

Nelson Mandela (the guardian)

Hari Kamis malam awal Desember lalu (5/12) dunia berduka. Dunia telah kehilangan Nelson Mandela yang telah menjadi tokoh penghapusan politik rasisme di dunia ini. Jasa-jasanya tentu tak banyak menyentuh bagian dunia lain kecuali Afrika dan spesifiknya Afrika Selatan.

Namun, keberaniannya kemudian menjadi inspirasi bagi sebagian besar manusia di muka bumi ini untuk terus menghargai persamaan dalam perbedaan. Mandela menghapuskan apharteid di Afsel, tapi sejatinya hisupnya telah menjadi inspirasi untuk upaya-upaya menghapuskan segala bentuk diskriminasi yang ada di muka bumi ini, dan Afsel adalah contohnya.

Mengenang Madiba, panggilan akrab Mandela, aku teringat sebuah film berjudul Invictus yang sudah dua kali aku tonton.

Film sebenarnya bukan fokus pada bagaimana Mandela berdemo lalu dipenjara dan kemudian menjadi presiden ‘anti-diskriminasi’ pertama di sana. Film ini focus pada bagaimana Mandela mempertahankan tim rugby Springbok yang bisa dikata dibenci 90 persen umat Afsel.

Tuesday, November 26, 2013

Antara Uang Receh di Indonesia dan di Amerika

Uang 'receh' 200 perak (uang-kuno.com)

Pada saat suatu kali berangkat kerja, di bus kusaksikan seorang pengamen yang membawa alat music pukul beraksi. Ia nyanyikan lagu-agu shalawatan yang aku sudah familiar. Suaranya sumbang sana sini (Bukan berarti aku bisa bernyanyi, tapi aku tahu mana suara dan nyanyian yang menarik atau tidak secara umum).

Selesai ia bernyanyi, ia balik alat musikya, dan berkeliling ke tiap penumpang. Sebagian memberi sebagian tidak. Aku pada sebagian kedua. Jujur saja, nyanyiannya kurang bagus, jadi agak malas memberi tip.

Aku perhatikan ada seorang mbak-mbak kasih pengamen itu sebuah coin. Aku tak perhatikan coin apa dan berapa nominalnya. Lagipula buat apa juga mikirin itu.

Tapi momen yang mengagetkan terjadi ketika si pengamin turun dari bus. Sesegera it turun, terdengar suara “klincing…”

Tuesday, November 19, 2013

Konsekuensi Negatif Apa Positif?

Halaman depan kosanku
Sepagi tadi rasanya mata pedih. Soalnya bukan apa-apa, seketika aku membuka pintu kosan, bukannya kesejukan atau keramahan pagi yang menyapa, tapi sampah bekas ranting dan dedaunan pohon belimbing. Tinggi dan rindangnya pohon ini, ternyata bikin juga banyak sampah, apalagi musim hujan begini.

Aku sedikit diam. Ini sampah semua mau diapakan?

Akhinya aku putuskan untuk mengambil sapu dan sedikit demi sedikit, halaman depan kosan nampak bersih kembali. Sejenak duduk, aku senang melihat suasana kembali bersih. Tapi kemudian aku berpikir, pohon yang rindang ini rupanya punya sebuah dampak negatif: sampah ranting dan dedaunan yang banyak.

Aku kemudian terus berpikir. Apa ini benar-benar konsekuensi negatif?

Thursday, October 17, 2013

Karena SBY Lebay, Siapa Pemimpin Indonesia Sebenarnya?

(Sumber: JusufKalla.info)
Tentu kalau kau bertanya siapa pemimpin tertinggi negara ini, jawabannya pasti presiden. Dan, saat ini yang jadi presiden adalah Pak SBY. Tapi apakah benar dia adalah pemimpin utama? Apakah SBY adalah penentu utama keputusan-keputusan negeri ini?

Kalau melihat reaksi SBY yang baru-baru tentang isu Bunda Putri kurasa lebay sekali. Bagaimana tidak lebay, banyak kasus yang seharusnya dia serius menanggapi, ia malah keluar dengan gaya lamanya: Saya instruksikan, saya himbau, dan saya prihatin.

Negara impor bahan-bahan pangan, tanggapan si SBY hanya, "Saya instruksikan ini dan itu..." Soal korupsi di pemerintahan, jawabnya "Saya himbau..."

Tentu ini terlihat tidak fair karena sudah seharusnya presiden tak boleh terlihat reaktif di depan media dan kerja keras di belakang layar. Tapi kalau kau lihat tanggapannya soal Bunda Putri, lebay tingkat dewa sekali menurutku dia itu!

Ke-lebay-an SBY ini tentu membuat banyak orang merasa gregetan dengan satu orang ini. Itu sebenarnya menunjukkan kalau dia sebenarnya terlibat dalam kasus itu, bukan begitu?

Jadi, kalau Si SBY sibuk menciptakan lagu, berprihatin, menginstruksi dan menghimbau, siapa yang menentukan arah negeri ini sebenarnya?

Tuesday, August 13, 2013

Tips Terbaik dan Alami Menghilangkan Jerawat

ilustrasi
Banyak orang yang punya masalah dengan ini. Umumnya ia muncul mengganggu kecantikan atau ketampanan seseorang. Ia muncul tanpa diundang di pemukaan wajah manusia. Tak lain tak bukan, masalah ini adalah JERAWAT.

Jadi, seorang kawan datang menghampiriku yang Alhamdulillah tak punya jerawat. Ia kemudian menanyakan kenapa aku tak berjerawat. Maka aku katakan bahwa sebelumnya aku pernah berjerawat yang sedikit akut. Namun aku menempuh beberapa cara dan upaya yang akhirnya dapat menghilangkan jerawat-jerawat itu.

Baiklah, treng... teng... teng... inilah jawabanku padanya yakni tips terbaik dariku untuk menghilangkan jerawat.

Pertama, jangan dipikir. Jerawat itu biasanya muncul karena kita banyak pikiran, baik terlalu senang maupun terlalu stress. Jadi, cara pertama untuk menghilangkannya adalah kalau ada jerawat, biarkan dia keluar. Tidak usah dipikir.

Monday, May 20, 2013

Kita yang Malas Jalan Kaki

Ilustrasi (www.crowdrise.com)
Mau ke Indomaret yang berjarak hanya 100 meter, aku lihat banyak kawanku yang langsung menyaut motor, lalu wuuzzz sampai ke tujuan. Ke tempat beli pulsa yang beberapa ratus meter juga, pakai motor. Lalu apa masalahnya? Mengapa harus jadi topic tulisan ini?

Kalau soal buru-buru dan memang dikejar waktu, tentu tak ada masalah. Kau bisa tinggalkan tulisan ini. Tapi, kalau situasinya sedang santai dan taka da yang memang dikejar, menurutku ini baru masalah.

Jadi, di Indonesia ini, kita sudah lumrah untuk pergi ke mana-mana menggunakan sepeda motor atau mobil. Baik jarak pendek maupun panjang, kendaraan seperti tak bisa lepas, karena ini memang memudahkan. Pertanyaanya, mengapa tak mau jalan kaki?

Kalau dipikir-pikir, apa relevansinya pertanyaan ini?

Jalan kaki memang tak ada keren-kerennya dilingkungan kita. Kesannya ini adalah miskin. Mereka yang jalan kaki adalah mereka yang tak punya uang untuk membeli kendaraan bermotor dan bensin (bersubsidinya). Kalau naik motor, kesannya itu seperti cepat dan jagoan dan intinya keren seperti apa yang diiklankan. Tak ada salahnya berpendapat seperti ini.

Friday, March 29, 2013

Jusuf Kalla dan Subsidi Sontoloyo

(tribunnews)
Persoalan subsidi akhir-akhir ini makin buat panas acara-acara berita. Apalagi kalau bukan subsidi BBM yang kian kini kian membengkak. Dengan jumlah penjualan kendaraan pribadi yang makin meningkat tiap tahunnya maka subsidi yang makin membengkak adalah hal yang “normal,” maksudku, memang beginilah hukum sebab akibatnya. Pada kenyataannya, subsidi yang besar ini memang tak normal.

Berita terakhir tentang subsisi BBM mengatakan bahwa jumlahnya capai 137 trilliun yang merupakan bagaian dari subsidi energi yang totalnya 225 trilliun (2012). Subsidi ini jumlahnya jauh lebih besar disbanding subsidi social yang hanya 0,5% dari APBN-P 2012 sementara total subsidi energi adalah 2,2%.

Sejak terpilihnya SBY menjadi presiden 2004 lalu, harga bensin masih 4.500 rupiah terlepas dari beberapa waktu ketika ia menjadi 6.000. Baik, poinnya adalah harga bensin atau katakanlah BBM tak naik dalam kurung waktu sebegitu lama. Padahal, harga minyak dunia terus mengalami kenaikan.

Kau dapatkan masalahnya?

Kalau kau tahu maksudku, maka secara mudah hanya ada satu missing link di sini. Jadi, apa yang bisa membuat harga BBM tetap stabil? Dalam konteks ekonomi negara, maka jawabannya yang mungkin adalah subsidi. Maka, masalahnya adalah subsidi yang dikeluarkan pemerintah pastilah naik setiap tahunnya seiring kenaikan harga minyak dunia PLUS naiknya jumlah pengendara kendaraan bermotor.

Stabilnya harga BBM tentu seperti angin segar bagi masyarakat. Ya iyalah, lha wong harga tetep kok ngga senang?! Tapi tunggu dulu, memang harga BBM tak naik, tapi coba kau perhatikan harga makanan di sekitarmu. Adakah yang dalam kurung waktu tertentu, katakanlah dari tahun 2004 hingga sekarang, hargnya sama?


Monday, March 18, 2013

Sevel dan Toko Kelontong

Sevel Mampang (beritajakarta.com)
Beberapa hari lalu aku mampir ke Sevel aka Seven Eleven dekat asrama. Seorang kawan mengajakku ke sana untuk berdiskusi soal sesuatu. Setelah berdiskusi panjang, sampailah kami pada bahasan, sebenarnya mengapa tempat ini menjadi pusat anak nongkrong se-Jakarta?

Baiklah, Sevel sebenarnya adalah perusahaan tua yang dibentuk di Amerika. Sevel sebenarnya tak ubahnya toko kelontong yang menjual bahan makanan seperti susu, telur dan roti bagi orang-orang lokal. Namanya sendiri sebenarnya merupakan jam dari operasinya yang asli yakni dari jam 7 pagi sampai jam 11 malam.

Seiring berjalannya waktu, sevel menjadi convenient store mini yang berkembang di negara asalnya. Dalam perjalanannya, Sevel berhasil melebarkan sayapnya hingga ke luar AS. Tapi kemudian collapse dan dibeli oleh frienchisee-nya sendri yang lebih besar di Jepang. Makanya, sekarang HQ-nya di sana.

Dalam pengalamanku, di Amerika banyak sekali jenis usaha seperti ini. Tapi segmennya berbeda-beda. Jadi sebenarnya, Sevel ini tak berbeda dengan McDonald’s, KFC, Taco Bell, DQ dan berbagai convenient store yang selalu ada di pom bensin.

Friday, March 1, 2013

Dakwah Ompong

ilustrasi (republika.or.id)
Suatu pagi aku menyapu halaman depan asramaku. Sepagi itu, sebuah sepeda motor masuk pelataran. Ia kawanku, datang sehabis pengajian ba’da Shubuh. Sekonyong ia menyapa, aku jawablah sapanya. Lanjutnya, “Kau rajin sekali bersihkan ini. Kau dakwah dengan perilaku ya?”

“Ayo bantu…” ajakku. Rupanya ia hanya melempar senyum. Lalu aku basa-basi, “Habis dari mana memang?”

“Biasa, pengajian…,” dengan masih tersenyum, ia masuk ke asrama.

Dari pengalaman singkat itu, aku melihat ada dua kategori dakwah: perilaku dan pengajian. Sederhananya, tindakan dan ucapan. Mana yang lebih penting, itu yang akan menjadi pertanyaan pada tulisan saya kali ini.

Kalau bicara soal dakwah, saya bertaruh apa yang terlintas dengan dalam pandangan Anda adalah para ‘ulama’ bersorban yang berseru-seru kepada umat untuk berbuat baik dengan mengutip ayat-ayat Al-Quran dan Hadits di sana-sini.

Orang berdakwah harus punya pengetahuan agama yang cukup. Harus pernah belajar agama di sekolah agama atau pesantren. Harus punya hafalan ayat-ayat yang luas sehingga setiap pertanyaan soal apapun bahkan soal teknologi harus ada rujukan ayatnya, setidaknya itu anggapan umum yang berkembang di masyarakat.

Friday, January 25, 2013

Mengemas Sejarah Gula Nusantara

PG Watoetoelis (ptpn10.com)
Ketika masih kecil, saya sering diajak Bapak (alm) pergi ke Kota Malang dengan bersepeda motor. Satu setengah jam lama perjalanannya dari kotaku, Blitar. Ketika telah sampai tujuan, aku sering bertanya-tanya mengapa banyak rel-rel kereta pengangkut tebu. Di Kota ini ada pabrik tebu yang besar, begitu katanya.

Tapi, jarang sekali saya mendapati kereta ini melintas. Seingatku, hanya sekali terlihat. Setelah sekian tahun, terakhir aku ke Malang, rel-rel itu mulai hilang. Sudah tak nampak lagi rel yang melintasi jalan raya karena terkubur aspal. Tak mungkin ada lagi kereta tebu lewat karena sudah diganti dengan truk-truk besar yang melintasi jalan raya.

Sebagai seseorang yang menyukai sejarah, bagiku ini sangat di sayangkan. Setidaknya, pabrik gula tadi sudah kehilangan salah satu nilai pentingnya: nilai sejarah. Mereka lahir sejak negeri ini belum bernama Indonesia. Tentu akan banyak sekali yang perlu dilakukan. Kalau begitu, harus mulai dari mana?

Pabrik gula di Indonesia
Tahun 1637 menjadi awal mula produksi besar-besaran gula di Hindia Belanda terutama di Jawa. Pembangunan pabrik-pabrik gula di Jawa tak lain adalah imbas dari permintaan gula di Eropa yang terus meningkat (Bachriadi, 1998). VOC sebagai organisasi dagang penguasa masa itu tentu tak mau melewatkan kesempatan ini.

Pada 1830, lewat tanam paksa (cuulturstelsel), pribumi diharuskan menanam tanaman wajib yang salah satunya tebu sebagai suplai utama pabrik-pabrik gula. Layaknya banyak cerita kolonialisme, bangsa Eropa-lah yang menikmati keuntungannya dan pribumi-pribumi negeri ini hanya menjadi kuli-kuli. Pada masa jayanya, banyak berdiri pabrik gula di Nusantara. Beberapa yang masih bertahan hingga kini adalah Pabrik Gula (PG) Kebon Agung di Malang. Inilah pabrik gula yang sedari kecil sering saya lihat. Hingga saat ini, telah terdapat 48 pabrik di Jawa dan 58 di luar Jawa (Thebioenergysite.com, 2012).

Bicara soal sejarah dan pabrik gula di negeri ini, adalah menarik untuk menilik intensi PTPN X yang akhir-akhir ini membuka program wisata pabrik gula. Apa menariknya? Bagaimana upaya untuk mengembangkannya?

Sunday, November 18, 2012

People Have Dreams

I opened my Facebook one time. A notification popped up. My friend tagged me to a video: A short remarks from Nurcholish Madjid (1939 – 2005) about civil society. I opened it.

I found Madjid clearly said that civil society is a dream of Indonesia in the future. It struck me when he mentioned civil society is there when people obey the laws, so that the people are civilized! It struck me because when I reflected what he mentioned to what is going on around me, it even hurts!

Our media is full of news about endless corruption and stuff. The government, the ones who are meant to shine the people to get their bright future, just gets their people thrown away out of the windows. While they are proud of stuffing their mouths with full of fancy foods, people are starving to death.

People here are even lack of education. That means people are failing to see their bright futures. People fail to see what they are up against: poverty, hunger, unemployment, injustice, human right violation and so forth. These situations could even end up with some other painful situations: crimes and even murders. I bet life has driven people nuts. No times to think of the future.

But, Madjid’s idea about nur’any or our deepest heart finally tickles me when I am overwhelmed by all these problems. He came up with a small but very important thing: listening to and obeying what our nur’any says.

Tuesday, August 7, 2012

Padamu Pribumi

front desk h. santika jogja (ilustrasi / baliwww.com)
JAKARTA-JAZZMUHAMMAD - Aku untuk sekarang ini bekerja di sebuah perusahaan di Jakarta. Kantor perusahaan ini ada di sebuah sky scraper di Jakarta. Aku bekerja sebagai apa dan apa yang aku kerjakan? Itu bukan yang ingin aku bicarakan di sini.

Tapi, ada yang lebih menarik untuk menjadi bahan tulisan kali ini. Front desk. Ada yang tahu front desk? Literally, istilah itu berarti meja depan. dalam organisasi atau perusahaan, front desk digunakan untuk menamai area resepsionis atau meja apapun yang berada di “garis paling depan”.

Nah, di gedung tempat aku bekerja juga ada front desk. Ada beberapa orang yang bekerja di sana. Mereka mengecek identitas setiap pegawai atau pekerja yang akan masuk ke dalam gedung.

Mereka juga mengecek barang bawaan siapapun yang akan masuk ke gedung. Tas-tas akan diperiksa. Lalu apa spesialnya dengan front desk ini sehingga aku jadikan bahan bicaraan atau tulisan ini?

Bertugas beberapa orang di front desk di gedung ini. Mereka semua pribumi, kasarannya orang Indonesia asli, bukan keturunan apapun. Kalau aku bicara pribumi, Jawa, Madura, Batak, Minang, Sunda, Bugis, Papua, semua itu pribumi.

Sunday, January 22, 2012

Satu Setengah Juta Kami untuk Pak Polisi

Pak Polisi (tribunnews.com)
Sedari kecil, di sekolah, aku seringkali diberitahu kalau menjadi Polisi itu tugas mulia. Menangkap pencuri, menertibkan lalulintas, dan yang paling aku suka adalah menyeberangkan orang tua dan anak-anak. Mulia bukan? Mulia sekali!

Beberapa kawanku ada yang ketika ditanya: Apa cita-citamu? Jawabnya: Polisi. Dengan tegas ia jawabnya dan ketika ada karnaval peringatan HUT RI, ibunya rela pergi penyewaan kostum anak-anak dan membayar harga tinggi hanya untuk mendandani anaknya menjadi Polisi.

Ketika masuk SMA, beberapa kawanku telah bersiap-siap masuk Akademi Kepolisian. Masuk akal-kah? Masuk akal sekali. Polisi itu tugas mulia, dan juga keren. Aku katakan itu keren! Hingga akhirnya lulus, aku lihat beberapa yang akhirnya benar-benar jadi Polisi. Selamat kawan! Kau mengemban tugas mulia!

Tapi kau tahu, itu semua, bahwa Polisi adalah tugas mulia, bahwa mereka adalah penyelamat bangsa, penertib lalu-lintas, penyeberang orang tua dan anak-anak, tak berarti sama sekali bagiku. Aku dulu berpikiran demikian, tapi sekarang tidak sama sekali.

Sunday, June 26, 2011

Bumiputera dan Balada Asuransi Kita

Bu Zaid (44) dengan polis asuransinya (dok. pribadi)
Bu Zaid (44) adalah ibu rumah tangga bersuami tukang servis mesin jahit. Sebagai pengurus rumah tangga, ia sekaligus manager bagi usaha suaminya. Meski begitu, “Saya asuransikan (pendidikan) anak saya di Bumiputera,” ucapnya. Untuk pendidikan puteranya, Ibnul (10), Bu Zaid berasuransi pendidikan lewat AJB Bumiputera cabang Kota Blitar.

Fakta itu boleh-jadi biasa saja terdengarnya. Tetapi adanya perkaitan dengan asuransi, membuat siapapun akan bertanya: Apa dan mengapa asuransi? Bagaimana bisa istri tukang servis mesin jahit di kota kecil itu bisa berasuransi?

Bermula, berkembang, dan bertumbuh
Pada masa Hindia Belanda, 1912, M Ng Dwidjosewojo—seorang guru Bahasa Jawa di Kweekschool Yogyakarta—mendirikan Persatuan Guru-guru Hindia Belanda (PGHB). Ia menggagas dibuatnya asuransi karena prihatin akan nasib guru-guru bumiputera. Majalah Tempo (2008) menulis, pada kongres I PGHB, 12 Februari 1912 di Magelang, terbentuk sebuah badan usaha bernama Onderlinge Levensverzekering Maatschappij PGHB “Boemi Poetera” (O.L. Mij. PGHB) yang merupakan cikal bakal AJB Bumiputera dan peletak batu pertama perasuransian di bumi Nusantara ini.

Kini, hampir seabad sudah industri asuransi bermula, bertumbuh, dan berkembang di Bumi Pertiwi ini. Dari Hindia Belanda hingga menjadi Indonesia, industri ini alami pasang surut ketika badai krisis menghantam-hantam. Namun pada 2010, pendapatan premi industri ini telah capai Rp115 triliun (Kompas, 2011), naik dari tahun sebelumnya, yakni Rp 91 triliun.

Namun demikian, pada kenyataannya kontribusi asuransi pada PDB negara ini, menurut Bapapem LK, hanya sebesar 2,29 % (2009), angka yang minim mengingat vital-nya peran asuransi pada masyarakat.

Kompas (2011) mencatat bahwa sebenarnya asuransi memiliki tiga peran penting. Pertama, asuransi sumber pembiayaan pertumbuhan. Pendapatan dari asuransi tentu akan mendorong hidupnya perekonomian. Pendeknya, makin banyak orang berasuransi, makin baik iklim ekonomi kita.

Kedua, asuransi mendorong budaya perencanaan keuangan. Asuransi dapat membantu perencanaan pembiayaan kejadian-kejadian yang memang perlu pendanaan mendadak. Terakhir, asuransi sudah pasti menjadi tempat berkarier tenaga kerja. Sebab, nyatanya pada industri ini bernaung ratusan ribu agen asuransi. Namun perlu diingat bahwa asuransi adalah produk absurd; yang dibeli konsumen adalah ketenangan hidup. Maka dari itu, kepercayaan dan integritas menjadi tumpuan utama perkembangannya.

Hingga 2011, Asosial Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) mencatat bahwa pemilik polis asuransi di Indonesia adalah 14 % dari total penduduk. Jumlah agennya mencapai 350.000. Namun, AAJI memunyai target bahwa hingga 2015, pemegang polis akan capai 50%. Selain itu, pada 2012, jumlah agen menjadi 500.000.

Perkembangan ini tentu harus ditanggapi opotimistis oleh segenap elemen bangsa. Kontribusi potensial asuransi sudah harus ditangkap momentumnya, jangan sampai empas, digulung waktu begitu saja.

Bila dibanding negara lain, Indonesia belum bisa berbangga. Malaysia telah mencatatkan 41 % penduduknya sebagai pemegang polis. Sementara Singapura lebih tinggi dan fantastis: 250 % (Kompas, 2011)! Memang ini tak bisa-jadi perbandingan begitu saja, tapi melihat perbandingan sebagai pemacu bukanlah kesalahan, bukan?

Siapa berasuransi?
Perkembangan industri asuransi di negeri ini tentu tak bisa dilepaskan dari pemulanya: AJB Bumiputera. Pada tahun ini, perusahaan ini sudah hampir seabad perkembangannya. Pada pengujung abad 20, ketika krisis menghantam, perusahaan ini sempat goyah. Kompas.com menulis, pada 2008 pendapatannya sekitar Rp 276 miliar turun dari tahun sebelumnya: Rp 403 miliar.

Namun demikian, konsistensinya menjaga layanan terbaik menjadikan perusahaan sebagai real survivor di industrinya. Hingga pada 2011, AJB Bumiputera mendapatkan gelar The Greatest Brand of The Decade 2010 dan predikat Top Brand 2011 (Marketing, 2011).

Peran penting hingga potensi-potensi asuransi tentu menyadarkan kita: Asuransi memiliki peran mulia yang perlu dimaksimalkan. Kalau begitu, siapa yang dapat berasuransi? Siapapun! Dari tukang ojek hingga presiden, dari istri tukang servis mesin jahit hingga istri anggota dewan pun dapat berasuransi.

Kini, perkembangan AJB Bumiputera dan industri asuransi yang dirintisnya akan menghadapi masa-masa se-abadnya. Kembali, apa dan mengapa asuransi? Pembaca budiman sendiri yang dapat menentukan.

Akhirnya, “Soal pendidikan putera saya, berasuransi setidaknya menjamin dan menenangkan, meski tak bisa sepenuhnya. Sebab ya tetap Tuhan yang tahu masa depan, Mas,” ujar Bu Zaid pada saya.

(Tulisan ini sekaligus diikut-sertakan dalam Lomba Menulis Artikel Asuransi dalam rangka memperingati se-abad AJB Bumiputera 2011)


Thursday, September 16, 2010

Surga-Neraka Bukan Milikku


Pandangan atas dunia ini dengan segala aspeknya tentu memiliki perbedaan antara satu orang dengan yang lain. Hal ini disebabkan kapasitas keilmuan yang berbeda-beda, juga bidang ilmu yang didalami. Pun perihal keagamaan, banyak tafsiran yang mengemuka. Ilmu-ilmu keagamaan pun harus diakui bukan hanya terbatas pada soal syariat-fiqihiyah, tetapi juga meliputi ilmu-ilmu lain: filsafat, tasawuf, dan ilmu-ilmu lainnya. Hal ini menunjukkan bahwa keberagaman itu adalah keniscayaan. Pluralitas adalah hukum Tuhan.

Mengenai keberagaman ini, suatu saat saya ditanyai oleh seorang teman mengenai opini pribadi menyoal konsep pluralisme di Indonesia? Apakah itu tidak bertentangan dengan ajaran Islam? dan bagaimana seharusnya sikap kita dalam menghadapi kehidupan beragama.

Saturday, July 17, 2010

Selamat Jalan, Pemahat-Pemahat Mozaik Negeri!

Adalah sebuah kebanggaan yang tiada tara ketika sesorang bisa menjadi wakil sebuah entitas yang amat dicintainya. Ini adalah momen terbaik ketika sesorang telah didapuk menjadi the front line troopers of the nation. Mereka benar-benar menjadi the first impression bagi seluruh kapasitas yang dimiliki.

Sebenarnya tanggung jawabnya bukanlah pada lapisan terdepan saja, tetapi pada seluruh lapisan hingga yang paling dalam. Namun, tanggung jawab the front liner menjadi lebih penting karena ketika mereka terjebak kegagalan, maka keindahan-keindahan pada lapisan-lapaisan selanjutnya akan menjadi barang usang yang tak pernah akan orang berkenan melihat, atau bahkan sekedar melirik. Maka, adalah pantas untuk menyematkan perhatian penuh pada the front liner ini.

Dalam konteks ini, T-ta Paramadina (T-ta) sejenak kiranya akan menjadi the front liner itu. Berdiri sejak April tahul lalu, T-ta telah mecatat beberapa keberhasilan. Sebagai oragnisasi kemahasiswaan yang berupaya melestarikan tarian tradisional, T-ta berhasil menebar pukau dan pesona pada mata-mata pengunjung seminar, workshop, dan kegiatan lainnya dalam skala nasional. Dan kini, sebentar lagi, mereka masih akan menyajikan tampilan gerak tari nusantara, tetapi dalam konteks yang lebih besar, konteks internasional, konteks dunia.

Bukan Pada 7-23 Agustus 2010, teman-teman dari T-ta yang berjumlah 23 orang akan mengikuti dua festival kebudayaan berskala dunia di Polandia. Adalah acara bertajuk World Folk Review Integration 2010 yang menjadi ajang pertama yang akan dilakoni. Festival besar yang digagas oleh seorang Dariusz Majchrowicz, seorang manajer artistik, direktur and koreografer grup Folk Dance "Poznan", ini akan berlangsung pada 8-16 Agustus 2010 di Kota Poznan. Semoga sukses T-ta!

Hari berikutnya, 17 Agustus 2010, bertepatan dengan hari kemerdekaan negeri tercinta ini, T-ta akan melawat ke KBRI (Kedutaan Besar Republik Indonesia). Tentu ini akan menjadi sebuah kebanggaan tersendiri ketika orang-orang Indonesia yang berada di sana bisa kembali merasakan keindahan mozaik kebudayaan dari negeri mereka yang separated away. Ini ‘kan menjadi pelepas dahaga kerinduan akan suasana negeri yang terpisah jauh. Semoga berhasil T-ta!

Hingga pada 18-23 Agustus 2010, kawan-kawan T-ta akan melibatkan diri pada Internasional Folk Festival di kota bersejarah Warsawa. Sebuah perjuangan yang tak mudah. Selama dua minggu mereka akan menjadi “tameng muka” bangsa ini. Maka jangan anggap kalau ini adalah tugas mudah, jangan anggap ini tugas sepele yang bersikan jalan-jalan santai ke luar negeri, tetapi adalah tanggung jawab besar atas nama besar negeri Bumi Pertiwi ini, juga pada entitas pendidikan bernama Paramadina.

Embanan tanggung jawab itu menjadi sangat penting untuk dihargai karena dalam konteks finansial, aktivitas ini pun benar-benar didukung hasil jerih payah yang diperas langsung dari setiap ide-ide kawan-kawan T-ta dalam meluluhkan hati para sponsor soal urgensitas kegiatan ini.

Tecatat beberapa sponsor pun tak segan ikut bergabung seperti Bank OCBC NISP, Grand Indonesia, PT Djarum, Rajawali Group dan sponsor utamanya Global Media Group. Bergabungnya institusi-institusi tersebu juga tak terlepas dari dukungan pihak Kampus Paramadina lewat aksi tanggap seorang Wijayanto, salah seorang deputi rektor. Terima kasih, Pak!

Kesungguhan T-ta dalam menggalang pendanaan juga ditunjukkan melalui komitmen mereka dengan “merelakan diri” berjualan makanan kecil, baik dengan diam-diam (klandestin) atau juga terang-terangan, di beberapa tempat seperti Senayan, Monas, Ragunan, Museum juga mendirikan stan penjualannya di kampus. Acara manggung “tanpa bayar” pun mereka lakoni demi kesuksesan kegiatan ini.

Di sana, kawan-kawan T-ta ‘kan memberikan sajian terbaik mereka dalam tari-tari tradisional negeri seperti Tari Sedati dari Aceh, Tari Lenso dari Maluku, dan Tari Betwai juga Tari Saman, Tari Kalimantan, dan Tari Zapin. Beragam tarian itu akan mereka bawakan demi keluhuran citra negeri kaya Budaya ini, Indonesia, sebuah negeri yang terdiri dari 17.504 pulau, 10.068 suku bangsa, 615 bahasa, 3.025 spesies binatang, 47.000 jenis tumbuh-tumbuhan, 300 gaya seni tari, dan 485 lagu daerah, yang Segala sesuatunya teriikat dalam satu ikatan Bhinneka Tunggal Ika dan rasa cinta Tanah Air, bangsa, dan negara (Kompas, 2010).


Pemahat
Maka, bila dibayangkan, T-ta ini pemahat sekaligus penjual mozaik berjalan yang siap sampaikan pada dunia akan eksistensi keunikan dan keagungan budaya Nusantara ini. Dengan penuh semangat saya sampaikan, Selama jalan, Kawan! Perjuangan ini bukan sebuah hal yang mudah, yang bisa dianggap sekedar jalan-jalan, tetapi ini adalah misi mulia, sebuah perjalanan penuh tanggung jawab atas sebuah entitas yang bukan main-main.

Sudah barang tentu tak semua orang bisa mendapatkan kesempatan emas seperti ini. Kini, nama baik mozaik nusantara ada di tangan mereka. Apapun tidakannya, akan menjadi preseden yang signifikan efeknya.

Tanggal 31 Juli 2010 kelak, adalah acara Gelar Pamit yang akan diselenggarakan. Saya harap momen ini benar-benar menjadi titik tumpu lecutan semangat kawan-kawan T-ta. Mereka ini pemahat-pemahat mozaik negeri yang dengan susah payah akan berjualan di negeri lain. Yang diharapkan bukanlah hasil penjualan, tetapi kepuasan serta optimisme bahwa mozaik itu kan dapat penghargaan oleh dunia.

Terakhir, saya tak mungkin terlibat langsung dalam kegiatan mulia ini. Namun setidaknya tulisan ini bisa mewakili kegembiraanku yang tak diduga ikut menyeruak ke permukaan perasaan atas perjuangan ini. Selamat jalan selamat berjuang, Kawan-kawan!

Kalian akan terbang dengan banyak beban, tapi semoga pulang dengan banyak gegap gempita kegembiraan yang kan langsung menyebar laksana awan yang menyelimuti gunung. Sebuah selimut kepuasan akan capaian terbaik saya, dan mungkin oleh teman-teman lain, tunggu-tunggu. Karena mungkin selama kalian pergi, kami kedinginan dalam ketidaktahuan yang berpadu dalam sebuah penantian yang mendebarkan. Semoga sukses, Kawan-kawan!


****

Tulisan ini saya khusus persembahkan untuk Keberangkatan T-ta Paramadina ke Polandia 7-23 Agustus 2010. Semoga sukses, Kawan!

Jazz Muhammad
Jakarta, 8 Juli 2010

Selesai di pojokan kamar sehabis bercerita ria dengan salah satu personil T-ta Paramadina..


Kalau berkenan, sila berkunjung juga pada Gelar Pamit T-ta Paramadina