 |
| In front of microwave, stove, and oven |
JAKARTA-JAZZMUHAMMAD - Di Indonesia, dalam hal membangun rumah, tak ada aturan tertentu. Kalau memang punya petak tanah dan punya uang untuk membangunnya, maka,
“Here we go!” Bangun rumahnya!
Maka yang terjadi adalah desain rumah di Indo yang terlihat sangat bervariasi. Dari yang kecil sekali hingga besar seperti istana. Di Blitar, kampung halamanku, ada sebuah rumah yang berdiri megah seperti istana. Besar sekali. Tapi kalau dilihat samping kanan-kirinya, rumah ini sepertinya dibangun bukan pada tempatnya.
Kanan kirinya adalah perkampungan biasa dengan rumah-rumah yang kecil dan juag banyak warung-warung. Nah, ketimpangan ekonomi pun sangat terlihat. Akhirnya, mungkin demi “keamanan”, sang istana pun dilengkapi tembok super tinggi dan tebal.
Di Indo, yang kulihat, orang membangun rumah tak ada aturan yang mengaturnya. Pemerintah kota juga tak memedulikan bagaimana desain rumah, sanitasinya, dan juga segala macam keperluan lainnya: jarah antar rumah, jenis bahan bangunan, dan juga jarah rumah dengan jalan.
Bangun rumah ya bangun rumah saja. Kok pake aturan segala.
Nah, di US, pembangunan rumah benar-benar agak rumit. Pemerintah kota sangat pengatur setiap keluarga yang akan membangun rumah. Tak bisa orang asal bangun rumah yang “pokoknya bisa berteduh”.
Rumah-rumah di US tak semuanya punya halaman depan atau front yard. Cuma sebagian besar memilikinya. Seperti di Fargo, semua rumah memiliki
front yard yang akan memberi jarak tertentu antara rumah dengan jalan. Di antara rumah dan jalan raya juga pasti ada tempat jalan kaki atau sidewalk. Tapi, untuk sidewalk ini, ada tidaknya tergantung daerahnya.
Kalau di daerah kota besar, maka biasanya sidewalk sudah menempel di badan jalan. Tapi kalau di luar kota, atau disebut country, maka antara keduanya masih ada space untuk rerumputan.