Tuesday, October 16, 2012

Let It Snow and Rain

Go sledding!
A few days ago, I’ve heard that Fargo had its first snow. It was too early, everybody says. It was a fluke? Probably. But that’s not what I’m going to talk about.

If you ask me what is it worth if you let me see snow? I’d probably say that I’d buy you food for a whole year. I am kind of half serious and half joking, though.

Part of me is serious. Last year, when I was looking at this stuff at first, I could not help but admired it. It was so white that I could do nothing but staring at it like a child gets his birthday present. I hold it. I smiled at it. I balled it up. I fell on it. I was knee-deep in it. I even tested it to make sure that what was right in front of me was what people call snow.

The dream of us
Snow is like dream for everybody in Indonesia. We watch movies, shows, and news that show us snow a lot. But it is our TV screens that do it. We can’t feel it first hand. We just let our mouth half-open and keep wondering how it feels. We always dream to someday hold it. Firsthand.

Tuesday, September 25, 2012

Study-loads!!!

JAKARTA-JAZZMUHAMMAD - Sepulang dari US, aku sering ditanya, apa perbedaan kuliah di Indo dan di sana? Susah-susah gampang menjawabnya. Banyak sekali berbedanya. Mulai dari pakaian, lingkungan, kegiatan after-school, student government, absensi dan masih banyak lagi.

Tapi sebenarnya yang paling teringat adalah bahwa kuliah undergraduate di sana tak ada skripsi! Titik! Anda senang? Tunggu dulu.

Bahwa fakta ini sangat menggembirakan adalah benar adanya. Skripsi adalah, kalau tak berlebihan, tugas paling tak disukai. Setidaknya Sembilan dari sepuluh mahasiswa akan mengatakan demikian. Yang satu? Mungkin maniak menulis. Siapa tahu?

Ketika fakta bahwa kuliah di US tanpa skripsi itu menyenangkan aku sampaikan pada kawanku di US, ia langsung bilang, “That’s not true. Not true. We’ve capstones.”

Kuliah tanpa skripsi kalau dibayangkan adalah seperti surga dunia. Bayangkan kalau kita di Indonesia kuliah tanpa harus menulisnya, Oh my God! That’s gonna be a lot of fun!

Friday, September 21, 2012

Go Bison: All I know about NDSU

Global Ugraders of Indonesia
Well, I was there only for one year. I got a scholarship from the US Department of State under a program called Global Undergraduate Exchange Program. So, have I known NDSU pretty well?

If you count whether or not the president of NDSU and I are friends to see if I knew NDSU well, you might as well just jump on another blog and swing by a gun shop, grab any gun and point it at me and shout: this guy is making up something!

But, never mind, that is just an exaggeration. I have a whole bunch of friends over there, though. So I might have known NDSU well. I might have.

Okay, first off, this is the biggest university in North Dakota. It’s in Fargo, which is not the capital but the biggest city over there. The place is really cool and clean. You’ll see a lot of green areas where you can hang out with friends. Fresh air and nice atmosphere will lure you to stay there.

As typical big universities in the US, NDSU was founded way back then. When was it? It’s none of my business. An excuse? Yeah, but I have another answer: Wake up and smell the Internet, Buddy! Just kidding. It’s founded in 1891 and back then it wasn’t NDSU yet but North Dakota Agricultural Collage.

Thursday, September 20, 2012

Nama orang AS

Hanging out with Justin
(He was my roommate)
JAKARTA-JAZZMUHAMMAD - Di Indonesia, orang memberi nama anaknya tanpa ada aturan baku. Maksudnya, tak ada ketentuan berapa banyak kata dalam sebuah nama atau juga apakah harus mencatumkan nama keluarga atau tidak.

Di US, memang juga tak ada aturan atau undang-undang yang mengatur penamaan seseorang. Tetapi nama-nama orang di US seragam. Mereka punya susunan nama yang sama dan dengan jumlah kata yang seragam pula.

Di Indonesia, sesorang ada yang memiliki nama hanya satu kata saja, missal Susanto, Wijayanto, Ayub, Sujono. Tapi, ada juga yang namanya bisa lima kata lebih!

Sementara di US, nama orang tak akan lebih dari tiga kata. Nama di sana hanya berisi dua kata atau tiga. Kalaupun tiga, biasanya yang kedua jarang dimunculkan.

Nah nama depan adalah nama “that they will go by.” Itu nama yang akan mereka gunakan ketika berkenalan dan disapa. Sementara itu, nama belakang adalah nama keluarga yang diambil dari pihak ayah. Dan, nama tengah merupakan nama tambahan yang pada kenyataannya jarang sekali dipakai.

Beberapa contoh nama belakang adalah Clinton, Hamilton, Baker, McCoy, McDonald, Taylor, Arthur, dan masih banyak lagi. Nama depan bisa jadi juga nama-nama itu. Berikut beberapa nama depan John, William, Robert, Jake, Kimberly, Matthew dan banyak lagi.

Tuesday, August 7, 2012

Padamu Pribumi

front desk h. santika jogja (ilustrasi / baliwww.com)
JAKARTA-JAZZMUHAMMAD - Aku untuk sekarang ini bekerja di sebuah perusahaan di Jakarta. Kantor perusahaan ini ada di sebuah sky scraper di Jakarta. Aku bekerja sebagai apa dan apa yang aku kerjakan? Itu bukan yang ingin aku bicarakan di sini.

Tapi, ada yang lebih menarik untuk menjadi bahan tulisan kali ini. Front desk. Ada yang tahu front desk? Literally, istilah itu berarti meja depan. dalam organisasi atau perusahaan, front desk digunakan untuk menamai area resepsionis atau meja apapun yang berada di “garis paling depan”.

Nah, di gedung tempat aku bekerja juga ada front desk. Ada beberapa orang yang bekerja di sana. Mereka mengecek identitas setiap pegawai atau pekerja yang akan masuk ke dalam gedung.

Mereka juga mengecek barang bawaan siapapun yang akan masuk ke gedung. Tas-tas akan diperiksa. Lalu apa spesialnya dengan front desk ini sehingga aku jadikan bahan bicaraan atau tulisan ini?

Bertugas beberapa orang di front desk di gedung ini. Mereka semua pribumi, kasarannya orang Indonesia asli, bukan keturunan apapun. Kalau aku bicara pribumi, Jawa, Madura, Batak, Minang, Sunda, Bugis, Papua, semua itu pribumi.

Saturday, July 14, 2012

Diskriminasi di US

Laura and Hannan, two of my best buddies
JAKARTA-JAZZMUHAMMAD - Setelah aku pulang dari US, banyak yang bertanya bagaimana orang-orang US menganggapku. Seperti orang Black-kah? Atau apa? Atau ada yang tahu tentang Indonesia? Tapi jelasnya, pertanyaan pertama adalah yang paling banyak ditanyakan. Kau apa dikira orang African-American?

Baiklah, aku memang orang dengan kulit yang gelap. Aku orang Indonesia ber-ras Jawa, sehingga kukira it just makes sense if I have kinda dark skin. Jadi make sense juga kalau ada yang bertanya apa aku dianggap sebagai Black American.

Nah, mungkin semua orang sudah familiar dengan istilah rasisme. Sederhananya, rasisme adalah salah satu bentuk diskriminasi yang didasarkan atas ras. Masih banyak lagi bentuk diskriminasi: kekayaan, ukuran tubuh, warna kulit, tinggi-rendah badan, cacat tak cacat, dan masih banyak lagi.

Nah, menjawab pertanyaan itu, aku pun jelaskan bahwa di US diskriminasi yang ada adalah rasisme. Orang melihat orang lain berdasarkan ras-nya, bukan yang lain seperti warna kulit dan lainnya.

Jadi ketika aku di US, There was absolutely nobody asked me whether I am Black. Tak ada yang menganggapku sebagai Black American. Kebanyakan dari mereka bingung aku ini orang mana. Nah, akhir tebakan mereka berakhir pada orang India atau orang China.

Saturday, July 7, 2012

Membuka business di US

JAKARTA-JAZZMUHAMMAD - Sebagai negara maju, Amerika memiliki standar untuk apapun. Mulai dari hukum hingga ukuran ember ada standarnya. Kalau di Indonesia mungkin ini semacam SNI.

Nah, standar ini juga berlaku dalam membuka business. Di Indonesia, orang membuka business atau usaha yang buka saja. Mau jualan nasi uduk atau nasi pecel, gelar saja meja di depan rumah lalu jual nasinya. Buka bengkel, siapkan saja alat-alatnya, pasang papan namanya, lalu buka-lah usaha bengkelnya.

Berbeda dengan di Indonesia, di US ada sebuah lisensi atau izin untuk membuka usaha. Setiap usaha yang menghasilkan uang akan didaftar oleh pemerintah federal. Pemerintah akan melakukan inspeksi mengenai banyak hal tentang kebersihan, kelayakan, dan masih banyak lagi.

Apabila seseorang membuka usaha yang dilakukan dalam kurung waktu tertentu namun tak berlisensi, negara berhak membubarkan usaha tersebut. Jadi jualan nasi ke tetangga tidak diperbolehkan tanpa ada lisensi.

Bagusnya dari system ini adalah setiap barang yang sampai ke konsumen di US pasti terjamin kualitasnya. Dalam hal alat-alat rumah tangga, alat-alat yang dijual ke warga US adalah barang yang tak mudah rusak.

Scheels, raksasa toko olahraga di US
Soal lain, soal fashion misalnya, tak ada barang palsu di sana. Kalau ada celana Levi’s, berarti itu asli Levi’s. kalau ada tas Guess, maka tasnya pasti asli.

Soal makanan, setiap makanan yang akan dimakan oleh warga US sangat terjamin kesehatan dan kebersihannya. Maksudnya, bukan berarti semua makanan bebas kalori dan lemak, tetapi setiap makanan pasti memiliki nutrition facts yang konsumen bisa melihat-lihatnya sebelum menetukan mau beli apa tidak.

Untuk semacam restoran, setiap rumah makan di US diharuskan memiliki standar kebersihan dan layanan yang ditentukan negara. Jadi, makanan yang disajikan tak boleh mengecewakan konsumen.

Friday, June 29, 2012

Language Determinism dalam Berbahasa

I just call him Dennis, not Pak Dennis
JAKARTA-JAZZMUHAMMAD - Di Spring semester kemarin aku ambil kelas Introduction to Psychology atau yang lebih dikenal dengan intro to psych. Kelas ini merupakan kelas besar yang berisikan mungkin hampir 300 lebih mahasiswa. Dosen yang mengajar adalah Jared Ladbury.

Nah, di dalam kelas itu, aku mendapatkan sebuah istilah language determinism. Dalam buku text yang kami mahasiswa pelajari, language determinism adalah a hypothesis saying that language determines the way we think. Jadi, bahasa dapat menentukan bagaimana cara kita berpikir.

Jauh lebih dari itu, aku mengartikannya bahwa imbas dari situasi itu adalah bahasa menentukan bagaimana pergaulan, budaya dan juga peradaban terbentuk dimana cara berpikir manusianya menjadi landasan paling mendasarnya.

Pada awalnya aku tak terlalu memikirkan istilah ini. Namun, ketika aku lihat perbedaan budaya yang ada antara Indonesia dan USA, aku sadar bahwa apa yang dikatakan oleh definisi istilah tersebut benar adanya.

Begini, dalam bahasa Inggris, tak ada tingkatan-tingkatan yang seperti terjadi di bahasa kita. Baiklah mungkin kita bisa katakan kalau bahasa Indonesia itu egaliter. Tapi pada kenyataannya, penggunaannya tetap terpengaruh oleh bahasa daerah yang bertingkat-tingkat.

Orang akan cenderung memakai “saya” daripada “aku” ketika bicara dengan orang yang lebih tua atau lebih dihormati. Ada juga kata beliau yang untuk orang seperti itu.

Tuesday, June 26, 2012

Membangun Rumah di US

In front of microwave, stove, and oven
JAKARTA-JAZZMUHAMMAD - Di Indonesia, dalam hal membangun rumah, tak ada aturan tertentu. Kalau memang punya petak tanah dan punya uang untuk membangunnya, maka, “Here we go!” Bangun rumahnya!

Maka yang terjadi adalah desain rumah di Indo yang terlihat sangat bervariasi. Dari yang kecil sekali hingga besar seperti istana. Di Blitar, kampung halamanku, ada sebuah rumah yang berdiri megah seperti istana. Besar sekali. Tapi kalau dilihat samping kanan-kirinya, rumah ini sepertinya dibangun bukan pada tempatnya.

Kanan kirinya adalah perkampungan biasa dengan rumah-rumah yang kecil dan juag banyak warung-warung. Nah, ketimpangan ekonomi pun sangat terlihat. Akhirnya, mungkin demi “keamanan”, sang istana pun dilengkapi tembok super tinggi dan tebal.

Di Indo, yang kulihat, orang membangun rumah tak ada aturan yang mengaturnya. Pemerintah kota juga tak memedulikan bagaimana desain rumah, sanitasinya, dan juga segala macam keperluan lainnya: jarah antar rumah, jenis bahan bangunan, dan juga jarah rumah dengan jalan.

Bangun rumah ya bangun rumah saja. Kok pake aturan segala.

Nah, di US, pembangunan rumah benar-benar agak rumit. Pemerintah kota sangat pengatur setiap keluarga yang akan membangun rumah. Tak bisa orang asal bangun rumah yang “pokoknya bisa berteduh”.

Rumah-rumah di US tak semuanya punya halaman depan atau front yard. Cuma sebagian besar memilikinya. Seperti di Fargo, semua rumah memiliki front yard yang akan memberi jarak tertentu antara rumah dengan jalan. Di antara rumah dan jalan raya juga pasti ada tempat jalan kaki atau sidewalk. Tapi, untuk sidewalk ini, ada tidaknya tergantung daerahnya.

Kalau di daerah kota besar, maka biasanya sidewalk sudah menempel di badan jalan. Tapi kalau di luar kota, atau disebut country, maka antara keduanya masih ada space untuk rerumputan.

Monday, June 18, 2012

Demokrasi di US dan Indonesia

(www.typography.com)
JAKARTA-JAZZMUHAMMAD - Sudah menjadi kesepahaman umum kalau Amerika adalah negara demokrasi. Negara yang berdiri di abad 17 ini sepertinya menjadi kiblat demokrasi dunia yang pada akhir-akhir ini.

Aku mungkin tak pintar mengartikan apa itu demokrasi, tetapi pada dasarnya dalam demokrasi, rakyat lah yang memegang kekuasaan. Kira-kira begitulah teorinya. Lalu ada hukum yang mengatur tata-cara atau protocol atas segala aktivitas penyelenggaraan Negara.

Lalu, bagaimana prakteknya? Sepanjang hidup ini, tentu ada pemahaman umum kalau teori sering kali, atau hampir tiap kali, tak sama dengan apa yang dipraktekkan. Baiklah, setelah satu tahun tinggal di sana, tentu aku punya pandangan sendiri bagaimana US menyelenggarakan kehidupan bernegaranya berdasarnya demokrasi.

Suap berujung rampas
Layaknya di US, hampir semua pejabat dipilih langsung oleh rakyat US. Mereka juga akan kampanye dan melakukan promosi layaknya apa yang terjadi di Indonesia.

Di Indonesia, kampanye politik sudah sepertinya identik dengan pasang-pasang poster sembarangan dengan muka-muka “senyum” calon. Di Indonesia, calon pejabat suka “narsis” dengan pasang-pasang muka di buku tulis sekolah, papan pengumuman, dan segala macam spanduk.