Friday, January 29, 2010

Perihal Industri Telekomunikasi Selular di Indonesia

Salah satu modal pembangunan ekonomi masyarakat di suatu negara adalah infrastruktur. Pembangunan infrastruktur yang baik akan memberikan akses barang maupun informasi pada masyarakat secara luas. Salah satu infrastruktur yang perlu diperhatikan pembangunannya adalah infrastruktur di bidang telekomunikasi, tepatnya pada industri selular.

Di negara-negara maju, sumbangsih dunia telekomunikasi pada pendapatan negara telah mencapai 30% sementara di Indonesia, angkanya masih jauh lebih rendah yakni 2,8% (2007). Melihat pada data tersebut, indikasi yang muncul adalah perkembangan dunia telekomunikasi mendapat perhatian pening di negara-negara maju. Sepertinya, perkembangan teknologi informasi menjadi salah satu infrastruktur penopang keberhasilan negara-negara tersebut.


Dalam konteks pembangunan,secara sederhana, infrastruktur bisa dibagi menjadi tiga: infrastruktur yang bidang perhubungan, bidang telekomunikasi dan bidang regulasi. Seperti diungkapkan sebelumnya, infrastrutur-infrastruktur ini adalah penunjang pembangunan ekonomi negara yang berkelanjutan. Infrastruktur perhubungan bisa berupa jalan, jembatan, terminal, stasiun ataupun bandara tentu akan menunjang mobilitas manusia dan barang dalam pergerakan roda pembangunan nasional. Fasilitas-fasilitas ini akan menunjang distribusi barang maupun orang.

Sementara, Infrastruktur regulasi terdiri dari dua hal utama: kebijakan pemerintah sebagai penentu arah pembangunan dan nilai dan norma masyarakat yang mengendalikan dan juga membentuk mental dan budaya masyarakat sekitar. Pembanguan infrastruktur ini dianggap penting karena hal ini bertindak sebagai penjamin keberlangsungan pembangunan infrastruktur perhubungan dan sebagai penentu iklim ekonomi suatu negara.

Yang terakhir, dan yang terbaru, adalah infrastruktur telekomunikasi. Sebenarnya ini, bisa dikatakan, adalah subsidiary dari infrasruktur perhubungan. Perkembangan teknologi yang semakin pesat, memaksa dunia perhubungan mengarah pada terma boarderless communication (komunikasi tanpa batas). Dengan demikian, pembangunan infrastruktur telekomunikasi adalah sebuah kebutuhan yang mendesak bagi suatu negara dewasa ini. Di era globalisasi ini, mengesampingkan pembangunan infrastruktur telekomnikasi adalah hal yang naïf. Akses komunikasi selular dan internet yang semakin luas telah menciptakan suasana yang serba cepat. Maka, ketersediaan infrastruktur telekomunikasi menjadi sebuah keharusan.

Bila dicermati lebih dalam, maka dalam konteks kekinian, di era perkembangan teknologi yang begitu cepat, maka penitikberataan perhatian pada perkembangan industri-industri telekomunikasi adalah sesuatu yang wajar. Hal ini berpijak pada tiga alasan penting yakni pertama, Kemajuan teknologi telekomunikasi dan informatika. Kedua, Globalisasi ekonomi yang menempatkan telekomunikasi sebagai jasa yang diperdagangkan dan sebagai sarana vital bagi sebagian besar jasa lainnya. Yang terakhir, datangnya masyarakat informasi yang menempatkan informasi menjadi faktor produksi yang amat strategis.

Salah satu industri telekomunikasi yang saat ini berkembang pesat adalah industri selular. Bila dibandingkan dengan sektor lain, maka industri selular ini yang paling mungkin mendapat jangkauan paling luas. Di Indonesia, angka penetrasi yang telah dilakukan juga merupakan yang paling besar yakni mencapai 28,6%, jauh mengungguli yang lain: internet (11,4%) atau broadband (0,2%)(2007). Akses layanan operator yang semakin mudah tentu menjadi faktor penyebabnya. Kebutuhan akan berkomunikasi yang semakin bertambah dari perkotaan, pedesaan, hingga pelosok merupakan sebuah kenyataan yang tak mungkin dipungkiri. Selain itu, kesederhanan atau simplicity dari layanan industri ini agakanya mendukung penuh perkembangannya.

Implikasi Ekonomi
Dalam laporan tahunan negara yang tercatat dalam nota keuangan RI 2010, sektor telekomunikasi, pada 2009, menempati urutan pertama sebagai sektor yang mengalami pertumbuhan signifikan. Tak tanggung-tanggung, angka pertumbuhannya mencapai 13,6%. Hal ini tak lepas dari peran sektor telekomunikasi dalam membantu proses pertumbuhan ekonomi di Indonesia.

Kenyataan-kenyataan di atas tentu sudah harus menjadi perhatian pada pemain indiustri selular untuk terus meningkatkan investasinya. Dalam ilmu ekonomi, keberhasilan atau kesuksesan akan diraih bila penjual bisa memenuhi kebutuhan pasar minimal pada harga ekuilibrium. Pendek kata, antara supplay dan demand harus di sesuaikan. Maka, bagi pemain industri selular, pangsa pasar yang terus bertumbuh juga harus disikapi dengan peningkatan investasi yang rasional demi menjaga supply yang dibutuhkan.. Hal ini tak hanya berimplikasi pada profit yang di raih, tetapi sumbangsih pada pembangunan nasional yang berkelanjutan pun juga bisa di-cover.

Sementara, pembangunan nasoinal ini tentunya juga bergantung pada kesuksesan pembanguan ekonomi daerah-daerahnya. Kebijakan-kebijakan nasional akan dengan mudah dilimpahkan dengan komunikasi yang baik. Tentu industri selular dengan segala kemudahannya akan menunjangnya. Akses informasi yang luas juga menjadi implikasi pengembangan industri selular ini. Fleksibilitas dan simplisitas menjadi andalannya. Kenyataan ini berujung pada kemungkinan pemerataan ekonomi yang terbuka lebar, meski butuh proses yang panjang. Artinya, industri selular tak menjamin pemerataan itu terjadi, tetapi industri ini tetap memiliki peran vital dalam menyukseskannya.

Investasi di bidang telekomunikasi, terutama pada industri telekomunikasi selular akan menjamin ketersediaan akses informasi di daerah-daerah perkotan, pedesaan, hingga pelosok. Perkembangan industri ini akan mempermudah transaksi serta distrbusi karena komunkasi yang terbangun semakin mudah. Investasi yang tepat di bidang selular nantinya juga akan membentuk sebuah integrasi antar wilayah. Pada akhirnya upaya-upaya tersebut akan berimbas pada pengembangan potensi ekonomi di daerah-daerah. Upaya tersebut juga akan mendorong dengan terciptanya masyarakat informasi yang lebih luas. Selain itu, integrasi ekonomi antarwilayah akan mempermudah proses pembanguanan karena akses informasi terbuka seluas-luasnya. Indikator pamungkas yang diinginkan yakni jumlah produksi yang meningkat, tentunya, menjadi perihal yang tak sulit dicapai.

Peluang dan Tantangan
Dilihat dari kacamata ekonomi, maka jumlah penduduk Indonesia yang hampir mencapai 250 juta jiwa merupakan pasar yang sangat potensial. Jumlah ini bila digarap dengan baik tentu akan menjadi sumber pendapatan yang besar. Faktanya, penguna seuler di Indonesia terus menanjang, dari 2007 berjumlah 63 juta, 2008 berjumlah 70 juta dan 2009 mencapai hampir 90 juta pengguna.

Namun, tentu disadari bahwa saat ini adalah era globalisasi yang mengarah pada sistem market-driven. Sederhananya, operator selular tak boleh dan tak bisa mendikte pasar, yakni masyarakat. Pasar kini menetukan apa maunya dan yang terjadi adalah pasar balik mendikte operator. Selain, itu iklim kompetisi sudah pasti dihadapi. Tidak mungkin tidak. Pemain industri seuler harus bersiap kompetisi yang banyak memiliki kemungkinan.

Dalam kompetisi ini, tentu yang muncul pertama adalah perang tarif. Hal ini sudah pasti tak akan terlekkan. Meski demikian, Perang tarif yang dilakukan operator saat ini masih dianggap wajar, tidak akan merugikan operator itu sendiri, karena faktanya tarif terendah yang ditawarkan operator itu dibandingkan dengan operator di negara lain, Indonesia masih diatasnya. Selain itu, dilihat dari populasi penduduk Indonesia dewasa ini, kini ada sekitar delapan operator telekomunikasi dan jumlah ini dipandang masih belum jenuh.

Namun, pada tahap selanjutnya, fokus pada persaingan tarif juga akan membunuh diri sendri. Hal ini disebabkan perkembangan eknologi informai (IT) yang begit pesat, memaksa operator merubah paradigmanya, dari fokus pada tarif menjadi fokus pada layanan dan content. Kerena, yang dibutuhkan msayrakat sekarang bukan lagi hanya tarif yang kompetitif, tapi juga akses data-data dan informasi mengenai berbagai hal untuk mendukung aktivitasnya. Industry telekomunikasi yang dulu voice centric, kini telah beralik ke data centric.

Dengan tarif berkomunikasi (telepon, SMS, dan internet) murah, lalu dilengkapi fasilitas lebih, konsumen akan memiliki opsi dalam membelanjakan dananya. Kemajuan teknologi yang diimplementasikan oleh operator memang tidak akan membuat operator makin kaya, tetapi membuat mereka tetap kompetitif di masa sulit.

Dengan demikian, masyarakat sebagai konsumennya tentu juga akan dimudahkan dengan dua hal. Pertama tarif yang rasional. Artinya, masyarakat ditawari sebuah layanan yang terjangkau oleh kondisi ekonomi mereka. Tidak terlalu mahal yang tidak juga murah. Kedua, layanan, content yang didukung kualitas jaringan yang memadai. Pelayanan yang terbaik akan menciptakan desire masyarakat untuk terus menggunakan layanan selular, dan kualitas yang terjaga akan menjamin kontinuitas dan durabilitas penggunaan layanan yang berujung pada hubungan yang bersifat profitabel dan berkelanjutan (sustainably-profitable relationship). Dengan demikian, secara tidak langsung roda perekonomian daerah hingga nasional pun semakin lancar.


tulisan ini juga bisa dinikmati di kompasianaku

Tuesday, January 19, 2010

Balada Bersepeda di Jakata

Akhir-akhir ini sering digemborkan budaya bersepeda di kota besar. Saya tinggal di Jakarta. Jakarta sendiri tentu anda ketahui adalah kota besar. Maka saya juga mendapat gemboran untuk bersepeda.

Sedikit alur silogisme tersebut saya sampaikan untuk membuka ulasan saya tentang balada yang saya alami ketika berupaya untuk mengikuti gemboran naik berspeda tadi.

Kegiatan rutin saya adalah kuliah di Universitas Paramadina. saya tinggal di asrama mahasiswa yang jauhnya hampir dua kilometer dari kampus. Jarak yang cukup jauh untuk ditempuh on foot.


Tentu saya akhirnya memilih untuk naik angkot. Tiap naik saya harus keluarkan kocek sebesar 2000 rupiah. Jumlah yangs sedikit, tapi kalau lama-lama yang bolong juga kantong saya . Mungkin karena udah ngga ada duitnya, terus masih aja dikorek-korek. Hehehe…

Akhirnya saya memilih membeli sepeda. Pada awalnya saya merasa terbantu. Waktu tempuh berkurang bila dibanding saat dulu berjalan. Aku juga merasakan nyaman sekaligus sehat dengan bersepeda. Tapi kemudian masalah datang.

Suatu hari saya berangkat pagi karena masuk kuliah juga pagi. Sebuah kejadian aneh aku alami. Ketika aku keluar ke jalan utama, wow, macet gila broo! Aku kira dengan bersepeda, aku akan bisa melesat pergi meningggalkan kemacetan. Tapi keadaan berbicara lain.

Aku terhempas dalam rumitnya kemacetan ibukota. Sepedaku hanya bisa merayap dan merayap. Mungkin juga meratap. Tak ada space yang cukup untuk membiarkan spedaku melaju.

Masalah seakan bertubi datang. Suatu ketika saat bersepeda, di depanku ada bus Metromini, bus yang super laris tapi juga super jorok dan bau besi. Asal kau tahu kawan, asap bus jorok itu menyembur ke arah belakang di mana aku sedang melaju dengan spedaku.

Wuzzzz! Keadaan langsung berubah seperti habis kebakaran. Sejenak jarak pandangku berkurang dan kegelapan menyelimutiku. Sialan! Asap hitam bus itu menyembul membahana di uadara depanku. Pastinya, saya batuk-batuk dn mata mulai meleleh airnya. Oh..

Saya tak tahu apa gembar-gembor memakai sepeda itu cocok untuk diterapkan di ibukota, seperti Jakarta. Kalau idealnya, pasti cocok dan bermanfaat. Tapi, sepertinya, in term of Jakarta, itu bohong. saya telah merasa kecewa.

Sepertinya ini karena tak terintegrasinya upaya pembuat kebijakan. Mereka seenaknya bikin kebijakan seenara sarana penunjang nya tak dipedulikan. Anda tentu setuju bila orang Jakarta harus naik angkot atau bis di halte. Lalu kalau mau menyeberang jalan harus lewat zebra cross atau jembatan penyeberangan. Namun, udara Jakarta yang semakin panas yang bercampur dengan busuknya zat-zat polutan, maka jelas sudah mengapa orang tak mau jalan sebentar sekedar untuk menuju halte atau jembatan penyeberangan .

Saya sendir tak kuat dengan panasnya Jakarta. Mungkin busway adalah solusinya. Tapi msaalah muncul lagi. Di halte-halte terjadi penumpukan penumpang. Saya kenal sial lagi. Suatu ketika saya sore hari ke halte Dukuh Atas. E…. saya harus menunggu 45 menit untuk bisa menaiki bus. Itupun saya berdiri akhirnya.

Saya pikir pemerintah sebagai pembuat kebijakan harus tanggap dengan hal-hal semacam ini. transportasi di Jakarta itu semrawutnya minta ampun.

Saya suka bersepeda. Tapi kalau keadaannya seperti ini, ya mohon maaf, saya menolak tegas utuk imbauan untuk bersepeda. Kalau seperti itu, bersepeda di Jakarta sama saja dengan bunuh diri perlahan-lahan.


nikmati juga tulisan ini di http://sosbud.kompasiana.com/2010/01/19/balada-bersepeda-di-jakata/

Sunday, January 17, 2010

Parkir Dadakan di Jakarta

Jakarta terkenal dengan aura menariknya. Ia menarik banyak orang untuk mengadu nasib di sana. ada yang berspekulasi menjadi pengusaha, menjadi kuli, menjadi artis, dan pula yang menjadi pejabat. Semua orang dari luar Jakarta berdatangan setiap tahunnya.

Keramaian Jakarta semakin kompleks dengan hadirnya pendatang yang memiliki kendaraan. Mereka yang sudah sedikit sukses membeli atau kebanyakan mengkredit mobil. Hampir 90 persen mobil di Jakarta adaah mobil kreditan. Pembelian mobil di Jakarta bahkan tak menunjukkan angka penurunan. Tiap tahun terjadi kenaikan terus menerus.

Sayangnya, pemerintah DKI Jakarta seakan tak memberi batasan jumlah kepemilikan kendaraan tersebut. Setiap keluarga diperbolehkan memiliki mobil yang tak terbatas jumlahnya. Pokoknya ada duit, kalau mau beli mobil ya beli saja. Apalagi, hal ini ditambah pemilik sepeda motor yang terus memadati jalan-jalan kota Jakarta.


Anda perlu tahu, jumlah kendaraan pribadi di Jakarta merupakan sumber keruwetan lalu lintas. Perbandingan jumlah kendaraan pribadi dan kendaraan umum adalah 98% kendaraan pribadi dan 2% kendaraan umum.

Padahal jumlah orang yang diangkut kendaraan umum jauh lebih banyak dari pada jumlah orang yang diangkut oleh kendaraan pribadi. Dari total 17 juta orang yang melakukan perjalanan setiap hari, kendaraan pribadi hanya mengangkut sekitar 49,7% penumpang. Sedangkan 2% kendaraan umum harus mengangkut sekitar 50,3% penumpang.

Anda bisa bayangkan, ke-jomplang-an tersebut. Seharusnya masyarakat Jakarta tahu kalau kendaraan-kendaraan mereka itu membuat Jakarta semakin ruwet.

Melihat data-data tersebut, lumrah saja kalau kita akan melihat fenomena parkir dadakan di Jakarta. Utamanya pagi dan sore hari. Jala-jalan utama dan jalan tol dalam kota akan dipenuhi mobil dan motor. Inilah yang jadi parkiran dadakan itu.

Pemerintah Jakarta malah seakan tutup mata melihat masalah ini. Masalah transportasi yang sarat kontribusi pada pembanguan seakan diabaikan.

Transportasi umum terbaru di Jakarta adalah trans Jakarta atau lebih dikenal dengan busway. Transportasi ini memang nyaman dan ber-AC. Tapi, jumlahnya tetap tak memadai, tak bisa men-cover masyarakat yang ingin melakukan perjalanan di Jakarta. Selain itu sarana pendukungnya juga tak terurus dengan baik. Meski di beri tempat sendiri, busway sering juga terjebak macet. Jadi ujung-ujung nya sama saja dengan transportasi lain.

Fenomena parkir dadakan akan terus terjadi bila pemerintah tak serius menangani pelayananransportasinya. Selain itu kesadaran masyarakat untuk mengunakan public servise juga harus ditingkatkan. Memang dilematis bila dua solusi diatas dilakuakn sendiri-sendiri. Pemerintah memperbaiki transportasi umum tapi tidak ada penumpangnya atau keinginan menggunakan public transportation tapi pemerintahnya diem-diem saja adalah humor yang tidak lucu. Maka dari itu, Keduanya harus dilakukan beriringan dan bersamaan.



Friday, January 15, 2010

Sedikit-Sdikit Akhirnya Jadi Jurang (Bukan Bukit)


Sedikit saja..
Ngga apa-apa kok
Ngga bakal ketahuan..

Saya sebenarnya agak sedih kalau banyak orang mneyebutnegara kita ini adalah negara korup. Apalagi, yang mengucapannya adalah anak bangsa sendiri. Mereka seringkali melontarkan pernyataan kalau negaranya sendiri menjadi sarag karuptor. Eits….Kadang saya sih juga begitu juga..

Kata anak Jakarta, habis loe mau gimana lagi? Saya bingung juga. Sedih, tapi memang itu realitasnya. Ada KPK, ada Polisi, ada Kejaksaan, dan lain-lain, tapi angka korupsi Indonesia tetap begitu tinggi. Dari pejabat tinggi sampai tukang parkir pun ikutan korupsi. Tidak laki tidak perempuan sama saja.

Saya kira permasalahan ini berawal dari kebiasaan menyepelekan hal-hal kecil. Mengambil uang rakyat sedikit saja dipikir tak apa-apa. Kamu tentu sering mendengar percaapan di awal tulisan ini. sedikit saja, ngga apa-apa kan? Kebiasaan megambil uang sisa pelaksanaan kebijakan dianggap tak apa-apa. Pungutan liar dianggap hal yang lumrah. Huh…..


Masalahanya hal itu terjadi berulang-ulang. Sekali, dua kali, tiga kali seterusnya. Cuwilan-cuwilan uang yang diambil semakin banyak. Apalagi, yang punya pikiran itu bukan satu orang, tapi banyak orang, kadang berjamaah lagi. Pengli dari bawahan disetor ke atasan, terus ke atasnnya lagi dan seterusnya, hm…sampai presiden kali ya? Maaf.

Dalam hal ini, sepertinya bahasa sedikit-sedikit lama-lama menjadi bukit harus diubah. Menjadi, sedikit-sedikit menjadi jurang. Habisnya, yang sedikit bukan nabungnya, tapi ngeruk-nya!

Saya teringat sebuah cerita yang mirip dengan fenomena semacam itu.

Dikisahkan disebuah desa, seorang kepala desa ingin mengmpulkan madu dari masyaraktnya. Ia meminta setiap orang untuk menyumbangkan madu se-sendok per kepala. Madu itu harus dibaa malam hari ke atas bukit.

Sang kepala desa meletakkan sebuah ember di sana. Ada seorang pemuda yang berpikiran lain. Ia tak akan memberikan madu. Ia bawa air biasa. Ia berpikir, “Toh, satu sendok air ini tak akan memengaruhi madu itu.” Ia berpikir bahwa madu-madu dari orang lain jauh lebih banyak dan air tawar yang ia bawa tak akan memberikan efek.

Malam harinya ia benar-benar membawa air saja. Setelah selesai, ia pulang dan istirahat.
Esok hari sang kepala desa meninjau hasil pengumpulan. Tapi, ia terperangah. Tak bisa berkaa-kata (ah, lebay loe..). Yang ia temukan adalah seember air, bukan madu. Tak ada bau madu sama sekali. Anda tau pemirsa…Ternyata semua orang berpikiran sama denga si pemuda tadi.

Cerita itu, mungkin, meruakan ilustrasi buat negeri ini. Terlalu banyak yang berkorupsi. Kalau dilihat individu perindividu, nilainya memang kecil, tapi kalau diakumulasikan, ya jadi banyak juga.

Pungutan-pungutan yang ada di instansi-instansi, terutama yang punya pemerintah, memang sedikit. Tetapi hal itu terus berulang dan terjadi di sebagian besar instansi. Yang sedikit itu pun jadi banyak juga. Jurang korupsi pun semakin dalam.

Saya tidak berusaha sok yes dengan tulisan ini. Saya mengingatkan saya pribadi dan kamu semua. Korupsi itu sangat berbahya. Masih banyak orang yang tak beruntung daripada kita. Bagi yang korupsi, mungkin tak pernah memikirkan bagamana akan makan besok. Tapi bagi rakyat kecil, untuk makan esok hari, mereka mash harus memutar otak. Hmm… mbok ya dari pada dikorupsi, uangya disumbangkan aja…(Heh..enak aja..)

Mari yang sedikit sedikit menjadi jurang itu kita kembalikan lagi menjadi bukit. Buat apa juga korupsi, kalau yang lain malah susah. Negara ini kan butuh kemamuran bersama, ya ayolah……!

Tulisan ini, selain sebagai tulisan lepas, juga diikutsertakan Djarum Black Blog competition Vol. 2. Event ini diadakan oleh PT Djarum yang memproduksi Djarum Black Menthol dan Djarum Black Slimz.



*sumber gambar bisa diklik langsung pada gambanrnya


nikamti tulisan ini juga di http://www.kompasiana.com/jazzmuhammad

Wednesday, January 13, 2010

Pelajaran dari Dilema Jeruk

Beberapa waktu lalu, muncul iklan sebuah minuman dengan lelucon “jeruk makan jeruk”. Saat itu tak ada maslah dengan kalimat itu. Tapi kini itu menjadi realita.

ACFTA atau sering dikenal dengan ASEAN-ChinaFTA, yang dibuka tepat pada tanggal 1 januari 2010, telah memengaruhi berbagai pasar di Indonesia, salah satuya adalah pasar jeruk. Jeruk-jeruk lokal seperti jeruk Medan, jeruk Garut dan jeruk Pontianak, pasanya mulai disasar oleh jeruk-jeruk China.


Hal ini tentu imbas dari diberlakukannya ACFTA tersebut. Harga yang jauh lebih murah tentu mendukung pemasaran jeruk-jeruk dari negeri panda itu. Jeruk-jeruk china du jual dengan harga jauh lebih murah disbanding jeruk local. Jeruk lokal saat ini harganya pada kisaran 12.000 per kilo, tetapi jeruk China malah 9000 per kilo.

Data dari Departemen Pertanian menunjukkan bahwa produksi jeruk di Indonesia terus mengalami kenaikan pada periode 2005-2007, yakni berturut-turut 2,15 juta ton, 2, 47 jua ton, dan 2,5 juta ton (MI, 13/01). Meski jumlahnya terus naik, ternyata kebutuhan lokal. Sisa kebutuhan itu dipenuhi oleh produk impor.

Sayangnya, jeruk impor itu kini telah menggurita. Jeruk china telah menyasar ke pasar lokal. Jeruk impor seperti makan jeruk lokal.
Masalah sepeti ini memang harus disikapi secara serius, dan bukan sederhana untuk menyelesaikannya. Pemerintah telah berupaya meningkatkan kapasitas produksi ,tapi permintaan pasar tetap tak terpenuhi.
Pemerintah, di satu sisi, harus meningkatkan program-program berorientasi pengembangan sektor pertanian, tetapi disisi lain, upaya ini dicegat oleh ke-bebas-tarif-an impor akibat ACFTA. Produk-produk China yang masuk semakin murah harganya. Yang terbebani tentu petani-petani lokal.

Produk lokal selama ini masih belum memenuhi standar kualitas global. Buah-buah lokal masih terlihat kurang menarik bila dibandingkan buah-buah impor. Hal ini tentu akan memengaruhi preferensi pelanggan buah.

Pada umumnya, pelanggan akan mempersepsikan sesuatu pertama kali dari penampilan. Kalau penampilan baik, maka menarik onsumen adalah hal mudah.

Selain itu, sebagai makhluk ekonomi, pelanggan akan membeli produk yang murah dan berualitas. Sepertinya jeruk local belum bisa menjawab tantangan itu. Sementara, jeru impor ternyata mampu menjawab tantangan itu dengan sebaik-baiknya.

Sudah saatnya merenungi makan dlema jeruk ini. Jangan sampai rakyat Indonesia menjadi tamu di rumah sendiri.



Friday, January 8, 2010

Ayo Raih Paramadina Fellowship 2010!

Mendapatkan kesempatan kuliah adalah hal yang sangat menyenangkan. Memiliki kesempatan untuk melanjutan sekolah tentu akan membawa kita ke gerbong lanjutan kereta cita-cita kita. Banyak orang mendambakan kesempatan semacam ini.

Bukan saja karena harapan-harapan yang ditawarkan oleh dunia perkuliahan, tapi karena ini adalah kesempatan langka.

Meski demikian, banyak reamaja Indonesia yang tak bisa memiliki kesempatan ini. Banyak alasan yang menjadi latar belakangnya. Tetapi alasan utamanya adalah perihal ekonomi.

Biaya kuliah yang begitu tinggi sangat tidak affordable. Keadaan ekonomi yang belum tuntas dalam keluarga, ternyata harus memaksa kesempatan kuliah itu terpendam.
Beberapa kampus menyediakan beasiswa sebagai upaya mengakomodasi masaah ini. Macam-macam bentuknya. Ada yang beasiswa penuh, yakni biaya kuliah sampai uang sakunya, tapi juga ada yang hanya uang kuliahnya

Di tahun 2010 ini, salah satu kampus yang memberikan beasiswa itu adalah Universitas Paramadina. Kampus ini memberikan sebuah beasiswa bernama Paramadina Fellowship. Bagi fellow—sebutan untuk yang mendapatkannya—mereka akan dibiayai kuliahnya sampai mendapat gelar sarjana. Selain itu, para fellow juga mendapatkan uang saku tiap bulan satu juta rupiah. Kalau di nominalkan, total beasiswa yang diterima adalah 110 juta per fellow.

Untuk itu, kesempaan ini tentu tak boleh terlewatkan. Siapapun berhak menerimanya. Ayo raih kesempatan emas ini!

Untuk info lanjut, pembaca bisa buka situs paramadina

Yang Penting Buang Sampah Pada Tempatnya

Lingkungan merupakan hal yang krusial untuk dijaga dan dilestarikan. Manusia tak akan bisa hidup tanpa adanya lingkungan yang bersih. Hal ini tentu berkonsekuensi logis pada pentingnya menjaga kebersihan lingkungan. Air, tanah, dan udara (kurang lengkap ya…belum ada apinya, hehe…emang avatar) merupakan contoh komponen lingkungan yang penting untuk dilestarikan. Komponen-komponen itu sangat menentukan kualitas hidup manusia, terutama air.

Sebagai contoh mudah, kasus munculnya kabut asap di beberapa daerah di Sumatera sangat bermasalah. Kendaraan harus memperlambat lajunya karena jarak pandang berkurang, pertanian terhambat karena cuaca menjadi tak tentu, penerbangan banyak yang mengalami delay, dan penumpangnya ngamuk-ngamuk karena kabut menganggu navigasi pesawat. In term of water, masalah yang sering muncul adalah pencemaran oleh sampah, ya yang organic atau yang tidak. Kasus ini terlihat sudah menjadi lazim di Indonesia, seperti sudah biasa dan tak ada upaya untuk menyelesaikannya.


Ketika terjadi pencemaran air, terutama yang di sungai-sungai, terutama di Ibukota, pemerintah daerah seringkali langsung mengerahkan traktor-traktor pengangkut sampah. Sampah-sampah dikeruk dan diangkuti keluar sungai. Banyak memang. Tapi yang menjadi masalah, mengapa dari zaman Mbah Soekarno sampai Pak SBY masalah pencemaran air tak ada habisnya. Tak di Jakarta, tak di Surabaya, dimana saja, tempat-tempat air termasuk sungai dan laut sudah tercemar. Entah itu oleh sampah plastik, sampah detergen, limbah pabrik, and many more.

Kalau dilihat dari solusi yang ditawarkan pemerintah sebenarnya tak ada yang salah. Tapi salahnya itu kejadian pencemaran terus berulang. “Udah tahu lobang disitu, ko’ bolak-balik masuk?”

Sebenarnya semua hal bisa ditangggulangi bila sumber masalah dibabat dulu. Masalah di negara sebenarnya kuatnya budaya buang sampah sembarangan. Hayu, paling kamu juga buang sampah sembarangan.

Saya sendiri kadang berpostulat bahwa budaya tradisional orang Indonesia belum hilang. Kalau dulu yang dibuang mungkin bungkus makanan yang terbuat hanya dari daun pisang, maka tidak akan mencemari lingkungan, kan itu bahan-bahan organik. Bahan itu akan larut dengan alam karena memang alami.

Sementara sekarang zaman sudah berganti, daun pisang sebagai bungkus makanan telah berganti dengan plastik yang sulit mengalami pelapukan. Apalagi bahan kimianya tak ramah lingkungan. Apalagi kalau sudah bersentuhan dengan air yang merupakan kebutuhan utama umat manusia.

Oleh karena iu, sangat penting untuk menumbuhkan budaya buang sampah pada tempatnya. Memang terlihat remeh. Tapi kalau dilakukan oleh banyak orang, maka dampaknya pun juga besar. Kadang saya bingung bila menegur orang yang buang sampah sembarangan. Seringkali dia bilang “Ah, orang lain aja boleh, kenapa aku dilarang (buang sampah sembarangan)?”

“Hallooo, kalau harus nunggu yang lain kapan mulainya, Buu?”

Logika berpikir saya memang hanya sampai segitu. Tapi yang penting saya yakin bahwa buang sampah pada tempatnya itu benar dan berdampak baik bila dijalani apalagi dihayati.




*sumber gambar bisa diklik langsung pada gambarnya



Tan Malaka di Balik Layar Kemerdekaan


Judul : Penyamaran Terakhir-Tan Malaka di Banten 1945-1945
Penulis : Hendri F. Isnaeni
Penerbit : Mas-Media Alam Semesta
Terbit : I, 2009
Tebal : xix+154 halaman
Harga : Rp25.000,00

Setelah lama mengasingkan diri, kira-kira hampir 23 tahun, Tan Malaka kembali ke Indonesia pada 1942. Kala itu Indonesia dalam kubangan penjajahan Jepang. Namun, Tan Malaka hadir bukan sebagai Tan Malaka.

Malaka melanjutkan kehidupannya di Indonesia sebagai pekerja di Bayah, Banten. Ia bekerja di perusahaan milik Jepang bernama Bayah Kozan.

Tan Malaka berusaha menyembunyikan identitasnya dengan menyebut dirinya Ilyas Hussein, seorang lulusan tingkat 2 MULO. Ia awalnya bekerja sebagai juru tulis di gudang penyimpanan. Akan tetapi karena bekerja dengan baik. ia didaulat untuk mengurus romusha.

Pergulatan politik Hussein tampak kembali dimulai. Ia mulai memperjuangkan hak-hak romusha, mulai dari kesehatan, gaji, dan kehidupan yang layak. Dari sini pembaca mulai diajak penulis untuk memahami semangat nasionalisme dan kemanusiaan seorang Ilyas Hussein. Melihat kinerja Hussein yang baik, Pemerintah Jepang lalu menjadikannya menjadi ketua BPP (Badan pembantu keluarga PETA).

Pembaca akan dibawa ke sebuah lankap sejarah yang, saya pikir, klimaks dari buku ini: Tahun 1943, saat Soekarno ke Bayah, Hussein terlibat adu mulut dengannya. Dengan tegas, Hussein menolak keras strategi politik Soekarno yang memilih berkolaborasi dengan Jepang yang terkesan mengemis kemerdekaan. Hussein bersikukuh bahwa kemerdekaan adalah penjamin kemengan terakhir Bangsa Indonesia.

Tak hanya di bidang politik, Hussein juga terampil memimpin pagelaran sandiwara. Ia sering menuliskan lakon untuk diperankan romusha-romusha asuhannya. Ia juga aktif sebagai pemain sepak bola. Kedua hal itu ia lakukan semata-mata untuk menghilangkan rasa lelah yang dialami para romusha.

Dua puluh enam Agustus 1945 perjalanan penyamaran Hussein terhenti. Adalah Ahmad Soebarjo yang pertama menguaknya. Namun, nahas bagi Tan Malaka, ia tidak tahu kalau Indonesia telah merdeka. Ia katakan, ”Rupanya sejarah proklamasi 17 Agustus 1945 tidak mengizinkan saya campur tangan, hanya mengizinkan campur jiwa saja. Ini sangat saya sesalkan! Tetapi sejarah tidak mempedulikan penjelasan seorang manusia atau segolongan manusia.” Padahal ia adalah orang Indonesia yang menggagas konsep republik dalam bukunya berjudul Naar de Republiek Indonesia tahun 1925.

Meski penulis terkesan terseok-seok dalam penulisannya, buku ini bisa jadi sebuah sumber sejarah baru. Penulis berhasil mengungkap nasionalisme dari sosok Tan Malaka. Buku ini setidaknya telah berhasil mengundang pembacanya untuk kembali menilik sejarah bangsa Indonesia ini. Aktivisme Malaka dalam sejarah perjuangan negeri ini, saya rasa, memang sangat perlu diapresiasi.


Tuesday, December 8, 2009

Senyum Bocah Pangerasan

Agung dan Abe-dari kiri- bocah pangerasan yang semangat bersekolah meski dalam keterbatasan.
Agung harus berjalan hampir setengah jam untuk sampai ke sekolahnya.

Sebuah Harapan di SMP Pangerasan

Udara sejuk lansung menyapa. Sebuah lanskap penuh hijau membentang membelai mata kami. Alam pangerasan ini terlihat masih perawan.

Hal itu cukup menggambarkan apa yang kami temui di pangerasan, kabupaten Bogor. Setidaknya kami seperti menemukan dunia baru. Dunia yang hampir 100% bertolak belakang dengan Jakarta yang kering dan panas.

Kalau anda di Jakarta, jangan harap menemukan satu hektar lahan yang masih hijau. Yang anda temukan hanya hamparan hutan beton. Itu di bagian tengah. Di bagain pinggiran, anda akan menemukan sebuah paradoks kehidupan. Di wilayah itu anda akan terpana melihat kekumuhan, serakan-serakan sampah dan orang-orang yang terlihat tidak terurus. Ini setidaknya bisa menyadarkan anda yang masih mengebu ingin berlabuh di kota berjuluk Batavia ini.
Merasa puyeng dengan keadaan Jakarta, pada 21 November dan 5 Desember saya dan beberapa teman di Hima Manajemen Paramadina berinisiatif pergi keluar kota. Sekali dayung, tiga pulau terlampaui, kami tidak hanya ingin refreshing, tapi juga bekerja sosial. Kami mengunjungi sebuah sekolah binaan, bukan negeri tentunya. Namanya SMP Pangerasan.

SMP yang terpencil. Ungkapan yang agaknya pas dengan kondisi sekolah itu. Kami, terpaksa, memarkir kendaraan setengah kilo dari lokasi. Sudah kami tebak, kami harus jalan kaki ke sana.


Terisolasi
Perjalanan on-foot kami di sambut dengan jembatan kereta api. Kami melewatinya sebagai pembukaan langkah perjalanan menuju SMP tersebut. Mungkin anda berpikir kami pencilakan dan berkata dalam hati, “Memang tidak ada jalan lain apa?” kami jawab, “Ya!” kalaupun ada, hanya terdapat jembatan yang terbuat dari bambu, yang kalau dilewati bergoyang kesana-kemari.

Jalan menuju SMP naik turun, tapi banyak naiknya. Kami beralan kaki sekitar 15 menit agar bisa sampai di tempat tujuan. Sekolah berada di atas bukit, jadi walau setengah kilometer jauhnya, terasanya satu kilo atau bahkan lebih. Cukup untuk membuat kami bernafas tersengal-sengal. Cukup untuk membuat kami keringatan.

Kami tiba di SMP Pangerasan sudah agak siang. Akan tetapi masih terlihat beberapa anak yang berseliweran. Kami langsung masuk ke area sekolah dan langsung disambut oleh bebrapa guru plus sang kepala sekolah, Pak Heri. Setelah dipersilakan istirahat, kami mulai rangkaian kegiatan kerja sosial kami.

Bagi Buku dan Mengajar
Kami awali kerja kami dengan menyumbang buku. Kegiatan ini dilaksanakan di perpustakaan SPM tersebut. Sebelumnya kami membuka stand kecil-kecilan di kampus. Selama seminggu kami buka, setidaknya ada puluhan buku kami dapat, serta sedikit uang. Kami memang hanya menjadwalkan menymbang buku, jadi uang itu pun kami belikan buku, tepatnya atlas dan kamus.

Tidak disangka, kedua jenis bacaan itulah yang selama ini belum ada di sekolah tersebut. Penyerahan buku di wakili oleh ketua OSIS SMP tersebut. Dalam sambutannya, ia menyatakan sangat bangga bisa memiliki buku-buku yang kami sumbangkan.

Kami sedikit bingung. Ini fenomena pertama yang kami lihat. Atlas dan kamus adalah bukan hal penting, biasa saja bagi kami. Hanya mengarahkan mata ke depan layar computer dan lalu klik sana klik sini, kami sudah bisa mendapatkan mengakses atlas dan kamus. Sementara anak-anak ini baru pertama kali mendapatkan informasi dari kedua jenis buku itu. “Haha..kami harus bersyukur sepertinya..”

Kegiatan kedua adalah mengajar. Kami bukan mengajar mata perlajaran sehari-hari. Kami hanya membina siswa-siswi kelas tiga untuk persiapan Ujian AKhir. ada 6 mata pelajaran yang kami ajarkan: IPA, IPS, Matematika, Bahasa Indonesia, Pkn, dan Bahasa Inggris. Semua pengajar adalah mahasiswa. Kami mempersiapkannya selama seminggu.

Saat proses pengajaran berlangsung, pada awalnya anak-anak terlihat diam. Mungkin ini karena pertemuan kami yang pertama dengan mereka. Namun, dalam perjalananya, kegiatan pengajaran berlangsung lancar. Sorak sorai dan gelak tawa anak-anak desa itu sering menyeruak. Mahasiswa pengajar berupaya sekreatif mungkin. Sebagian besar bukan hanya menajar, tetapi juga sharing pengalaman dan seskali menyisipkan humor. Kadang kami juga berpikir, anak ini suka humornya apa pelajarannya? Tetapi semoga pelajarannya.

Kami menilai sebenarnya mereka sangat potensial. Mereka sangat antusias atas materi yang disampaikan. Bahkan ia telah menilai bahwa beberapa dari mereka adalah anak yang memang pandai. Namun, yang ia sayangkan adalah sepertinya mereka kurang perhatian. Belum ada akses yang memadai bagi putra putri Pangrasan ini.