Saturday, August 7, 2010

Report Medio Juli: Dari SP sampai Tarekat Fesbukiyah

Kali ini telah sampai medio Juli. Tak terasa 2010 ini sudah setengah lebih berlangsung. Banyak hal yang sudah kulalui hingga kali ini. Beberapa waktu lalu semester IV dan kini adalah semester pendek (SP) kedua. Maat kuliah yang “umum-umum” jadi bahan belajar : Kewirausahaan, Pancasila, dan Antikorupsi.

Alhamdulillah, hasil semester genap (IV) itu cukup memuaskan. Masih dalam koridor harapan awal. Minimal beasiswaku masih dalam posisi aman. Maklum, sebagai seorang yang seolah gratisan, ada konsekuensi yang harus kulaksanakan.

Kegiatan sehari-hari akhir-akhir ini sering dipenuhi oleh “fesbukan”. Maklum, di kampus ada wifi, pun di asrama. Di dua tempat itu aku leluasa akses internet untuk email, blog, fesbuk atau sekedar surfing cari-cari berita dan bahan bacaan lainnya. Tapi yang jelas fesbuk menempati urutan teratas soal intensitasku dalam memakainya.

Aku jadi ingat soal tulisanku di blog beberapa waktu lalu soal fesbuk. Aku tulis soal sebuah aliran kebatinan baru yang menjadikan layar monitor menjadi alat ritusnya, sebuah kebaktian berupa ngetem di depan fesbuk, tepatnya. Ya, inilah sebuah tarekat baru yang bernama, meminjam istilah G. Muhammad, Tarekat Fesbukiyah. Sebuah tarekat yang aneh.

Tapi aku akui, fesbuk sedikit banyak memberiku manfaat. Beberapa kali aku dapatkan quote menarik dari berbegai sumber. Aku tuliskan itu sebagai statusku. Ya, niatnya sih bagi-bagi semangat. Salah satunya dari Pak Rektor sendiri

“When you are thinking the future, so you are young, then when you are thinking the past, you are old… (Baswedan, 2010)”


“Aku melihat indahnya dunia, di kota-kota yang berbeda, nyata sekali... ini mimpiku...(Ini Mimpiku, Claudia Sinaga)”

Oya, ngomong-ngomong bagi semangat, kampusku kali ini dapat kesempatan baik untuk unjuk gigi di kancah internasional. Salah satu UKM bertitel T-ta Paramadina, sebuah UKM yang konsen pada tari tradisional, akan berangat ke Polandia 7-23 Agustus untuk ikut beberapa festival kebudayaan di sana.

Sebagai apresiasiku, aku tuliskan uneg-unegku pada event itu. Aku tuliskan sebuah prosa pendek dengan judul “Selamat Jalan, Pemahat-Pemahat Mozaik Negeri!”. Aku post tulisan itu ke fesbuk. Alamdulillah, tanggapan baik dari personil T-ta maupun yang lain cukup baik. Hingga akhirnya, tulisanku itu akan dicetak pada booklet T-ta saat gelar pamit nanti 32 Juli.

Dari fesbuk, aku juga dapatkan beberapa teman baru yang ingin tahu Paramadina. Ada bebrapa teman yang komen di wall Paramadina. Aku bantu untuk menjawab beberapa pertanyaan yang muncul.

Sesekali aku juga terlibat chat dengan orang yang ingin tahu soal Paramadina. Aku sendiri cukup antusias menjawabnya. Bukan karena apa-apa, karena aku cinta kampus kecil ini dan sejenak aku tumpukan masa depanku padanya, yang setidaknya masih tersisa 1,5 tahun lagi.



*sumber gambar bisa di-klik langsung pada gambarnya.

maaf ini telat karena kuliah menggila....

Saturday, July 17, 2010

Selamat Jalan, Pemahat-Pemahat Mozaik Negeri!

Adalah sebuah kebanggaan yang tiada tara ketika sesorang bisa menjadi wakil sebuah entitas yang amat dicintainya. Ini adalah momen terbaik ketika sesorang telah didapuk menjadi the front line troopers of the nation. Mereka benar-benar menjadi the first impression bagi seluruh kapasitas yang dimiliki.

Sebenarnya tanggung jawabnya bukanlah pada lapisan terdepan saja, tetapi pada seluruh lapisan hingga yang paling dalam. Namun, tanggung jawab the front liner menjadi lebih penting karena ketika mereka terjebak kegagalan, maka keindahan-keindahan pada lapisan-lapaisan selanjutnya akan menjadi barang usang yang tak pernah akan orang berkenan melihat, atau bahkan sekedar melirik. Maka, adalah pantas untuk menyematkan perhatian penuh pada the front liner ini.

Dalam konteks ini, T-ta Paramadina (T-ta) sejenak kiranya akan menjadi the front liner itu. Berdiri sejak April tahul lalu, T-ta telah mecatat beberapa keberhasilan. Sebagai oragnisasi kemahasiswaan yang berupaya melestarikan tarian tradisional, T-ta berhasil menebar pukau dan pesona pada mata-mata pengunjung seminar, workshop, dan kegiatan lainnya dalam skala nasional. Dan kini, sebentar lagi, mereka masih akan menyajikan tampilan gerak tari nusantara, tetapi dalam konteks yang lebih besar, konteks internasional, konteks dunia.

Bukan Pada 7-23 Agustus 2010, teman-teman dari T-ta yang berjumlah 23 orang akan mengikuti dua festival kebudayaan berskala dunia di Polandia. Adalah acara bertajuk World Folk Review Integration 2010 yang menjadi ajang pertama yang akan dilakoni. Festival besar yang digagas oleh seorang Dariusz Majchrowicz, seorang manajer artistik, direktur and koreografer grup Folk Dance "Poznan", ini akan berlangsung pada 8-16 Agustus 2010 di Kota Poznan. Semoga sukses T-ta!

Hari berikutnya, 17 Agustus 2010, bertepatan dengan hari kemerdekaan negeri tercinta ini, T-ta akan melawat ke KBRI (Kedutaan Besar Republik Indonesia). Tentu ini akan menjadi sebuah kebanggaan tersendiri ketika orang-orang Indonesia yang berada di sana bisa kembali merasakan keindahan mozaik kebudayaan dari negeri mereka yang separated away. Ini ‘kan menjadi pelepas dahaga kerinduan akan suasana negeri yang terpisah jauh. Semoga berhasil T-ta!

Hingga pada 18-23 Agustus 2010, kawan-kawan T-ta akan melibatkan diri pada Internasional Folk Festival di kota bersejarah Warsawa. Sebuah perjuangan yang tak mudah. Selama dua minggu mereka akan menjadi “tameng muka” bangsa ini. Maka jangan anggap kalau ini adalah tugas mudah, jangan anggap ini tugas sepele yang bersikan jalan-jalan santai ke luar negeri, tetapi adalah tanggung jawab besar atas nama besar negeri Bumi Pertiwi ini, juga pada entitas pendidikan bernama Paramadina.

Embanan tanggung jawab itu menjadi sangat penting untuk dihargai karena dalam konteks finansial, aktivitas ini pun benar-benar didukung hasil jerih payah yang diperas langsung dari setiap ide-ide kawan-kawan T-ta dalam meluluhkan hati para sponsor soal urgensitas kegiatan ini.

Tecatat beberapa sponsor pun tak segan ikut bergabung seperti Bank OCBC NISP, Grand Indonesia, PT Djarum, Rajawali Group dan sponsor utamanya Global Media Group. Bergabungnya institusi-institusi tersebu juga tak terlepas dari dukungan pihak Kampus Paramadina lewat aksi tanggap seorang Wijayanto, salah seorang deputi rektor. Terima kasih, Pak!

Kesungguhan T-ta dalam menggalang pendanaan juga ditunjukkan melalui komitmen mereka dengan “merelakan diri” berjualan makanan kecil, baik dengan diam-diam (klandestin) atau juga terang-terangan, di beberapa tempat seperti Senayan, Monas, Ragunan, Museum juga mendirikan stan penjualannya di kampus. Acara manggung “tanpa bayar” pun mereka lakoni demi kesuksesan kegiatan ini.

Di sana, kawan-kawan T-ta ‘kan memberikan sajian terbaik mereka dalam tari-tari tradisional negeri seperti Tari Sedati dari Aceh, Tari Lenso dari Maluku, dan Tari Betwai juga Tari Saman, Tari Kalimantan, dan Tari Zapin. Beragam tarian itu akan mereka bawakan demi keluhuran citra negeri kaya Budaya ini, Indonesia, sebuah negeri yang terdiri dari 17.504 pulau, 10.068 suku bangsa, 615 bahasa, 3.025 spesies binatang, 47.000 jenis tumbuh-tumbuhan, 300 gaya seni tari, dan 485 lagu daerah, yang Segala sesuatunya teriikat dalam satu ikatan Bhinneka Tunggal Ika dan rasa cinta Tanah Air, bangsa, dan negara (Kompas, 2010).


Pemahat
Maka, bila dibayangkan, T-ta ini pemahat sekaligus penjual mozaik berjalan yang siap sampaikan pada dunia akan eksistensi keunikan dan keagungan budaya Nusantara ini. Dengan penuh semangat saya sampaikan, Selama jalan, Kawan! Perjuangan ini bukan sebuah hal yang mudah, yang bisa dianggap sekedar jalan-jalan, tetapi ini adalah misi mulia, sebuah perjalanan penuh tanggung jawab atas sebuah entitas yang bukan main-main.

Sudah barang tentu tak semua orang bisa mendapatkan kesempatan emas seperti ini. Kini, nama baik mozaik nusantara ada di tangan mereka. Apapun tidakannya, akan menjadi preseden yang signifikan efeknya.

Tanggal 31 Juli 2010 kelak, adalah acara Gelar Pamit yang akan diselenggarakan. Saya harap momen ini benar-benar menjadi titik tumpu lecutan semangat kawan-kawan T-ta. Mereka ini pemahat-pemahat mozaik negeri yang dengan susah payah akan berjualan di negeri lain. Yang diharapkan bukanlah hasil penjualan, tetapi kepuasan serta optimisme bahwa mozaik itu kan dapat penghargaan oleh dunia.

Terakhir, saya tak mungkin terlibat langsung dalam kegiatan mulia ini. Namun setidaknya tulisan ini bisa mewakili kegembiraanku yang tak diduga ikut menyeruak ke permukaan perasaan atas perjuangan ini. Selamat jalan selamat berjuang, Kawan-kawan!

Kalian akan terbang dengan banyak beban, tapi semoga pulang dengan banyak gegap gempita kegembiraan yang kan langsung menyebar laksana awan yang menyelimuti gunung. Sebuah selimut kepuasan akan capaian terbaik saya, dan mungkin oleh teman-teman lain, tunggu-tunggu. Karena mungkin selama kalian pergi, kami kedinginan dalam ketidaktahuan yang berpadu dalam sebuah penantian yang mendebarkan. Semoga sukses, Kawan-kawan!


****

Tulisan ini saya khusus persembahkan untuk Keberangkatan T-ta Paramadina ke Polandia 7-23 Agustus 2010. Semoga sukses, Kawan!

Jazz Muhammad
Jakarta, 8 Juli 2010

Selesai di pojokan kamar sehabis bercerita ria dengan salah satu personil T-ta Paramadina..


Kalau berkenan, sila berkunjung juga pada Gelar Pamit T-ta Paramadina


Tuesday, July 13, 2010

Berani Memimpin

Siapa yang mau mimpin?
Dia, dia, dia Bu…
…..
Saya Bu!
Ha..ha..ha…

Pernahkah Kamu diminta untuk memimpin? Kalau jawabannya ya, maka baca lanjutan tulisan ini, tapi kalau tidak, ya juga lanjutkan. Loh? Tapi ngga maksa ko’..pis2

Tulisan saya kali ini dibuka dengan secuplik percakapan yang sering kita temui. Mungkin dulu saat SD. Seorang guru meminta salah seorang muridnya untuk memimpin doa atau salam atau membaca Pancasila. Tapi kemudian kelas bergemuruh oleh tindakan siswa-siswi yang saling tuding, menunjuki temannya. Dia bu..dia bu..!

Lalu ada salah seorang siswa yang berdiri lalu berkata, “Saya, Bu!” Dengan lantang ia mengucapkannya. Tapi bukan ungkapan bangga yang muncul dari teman-temannya kelas itu. Yang ada adalah tertawaan teman-teman. Tertawaan bernada meremehkan. Emang dia bisa?

Inilah masalah anak muda zaman ini. Ketika mereka diminta menjadi pimpinan, mereka bersembunyi di belakang dan menutupi ke-cemen-annya dengan saling tuding siapa yang pantas memimpin.

Tapi, ketika ada yang tampil menjadi pemimpin, semuanya geger. Mempermasalahkannya. Dilematis memang. Muda-mudi ini tak senang bila ada temannya yang tampil menjadi pemimpin mereka. Ko’ gitu ya? Ya gitu…

Memang ini yang perlu disadari oleh saya dan juga kamu. Sering kali kita malu dan takut untuk memimpin, tapi ketika kepemimpinan itu dibutuhkan, kita malah mencemooh teman kita yang tampil, seakan tak rela dia berada satu tingkat di atas kita.

Sekarang bahasannya adalah bagaimana menjadi pemimpin agar di cintai dan dihormati oleh yang dipimpin. Hal ini sangat penting karena realitanya, pemimpn dan yang dipimpin sama-sama manusia. Sama-sama makan nasi. Jadi lumrah kalau ada yang jealous kalau dipimpin sesamanya. Ya kayak anak SD tadi…

Setidaknya menarik untuk menilik pesan Bu Mega, Presden RI ke-5 yang memberi tips kepemimpinan (Media Indonesia, 8/2/10). Pertama, kejujuran. Menjadi pemimpin harus berani mengakui kekuarangan dan kelemahannya, bukan hanya kekuatannya. Kalau memang membutuhkan bantuan ya bilang. Jangan karena telah menjadi pemimpin, terus jaim bin gengsi. Ah emang gue siap, elo siapa?

Kedua, kerendahan hati. Pemimpin harus bisa merasa setara dengan yang dipimpin. Tak ada yang beda. Yang beda hanya posisi strukturalnya. Secara sosial, sama saja. Jadi kalau sudah jadi pemimpin, terus senaknya sendiri, wah ngga bener itu!

Ketiga, keteguhan. Pemimpin sudah seharusya memiliki sikap tegas terhadap keputusan yang diambil. Pemimpin juga harus seteguh dalam pendirian. Bahasa jawanya, Ojo mencla-mencle!


Keempat, kesabaran. Inilah yang membuat orang layak memimpin. Sabar dalam menghadapi masalah. Baik dari yang dipimpin ataupun dari lingkungan sekitarnya. Pasti ada saja masalah yang timbul dari hubungan kepemimpinan. Lebih-lebih terjadi salah paham atau perbedaan pendapat. Kalau berbeda itu wajar. Yang tak wajar kalau perbedaan itu disikapi dengan emosi dan lalu menimbulkan perpecahan.

Yang terkahir, pemimpin harus ikhlas. Pemimpin harsu dengan sukarela melaksakan tugas mulianya. Kesuksesan kerja tentu menjadi tujuannya. Ya-iyalah, mana ada yang mau gatot, alias gagal total.
Seorang pemimpin harus menjadi pribadi yang penuh rasa ikhlas dalam mengabdikan diri pada apa dan siap ayang ia pimpin. Ya namanya pemimpin itu kan sebenarnya pelayan. Karena, pemimpin itu adalah ssorang yang ditunjuk untuk megarahkan orang lain. Ya artinya melayani orang lain untuk bisa mencapai tujuan bersama.

Bagaimanapun orangnya, darimanapun asalnya, sudah seharusnya menyadari bahwa mereka adalah pemimpin. Lho ko’ bisa? At least mereka ataupun kita jadi pemimpin diri sendiri. Ya ngga? Ayo berani memimpin!(*)

(Tulisan ini di-post kembali untuk just remembering aja... buatku ya buatmu....)



*sumber gambar bisa diklik langsung pada gambarnya

Saturday, July 10, 2010

Report Akhir Juni

Minggu kedua Juni, masih sama seperti sebelumnya. Beberapa teman add dan dikonfirm. Ada yang ingin daftar masuk regular, atau juga teman-teman yang deg-degan menunggu penyematan nama-nama penyandang beasiswa PF 2010(Paramadina Fellowship 2010—sekarang adalah angkatan ketiga, dan semoga Allah Swt akan memberi jalan untuk terus lanjut).

Saya berinisiatif menuliskan semacam motivasi di wall Paramadina. Alhamdulillah dapat sambutan baik, baik yang komen atau sekedar like. Beberapa kali aku chat dengan teman bicara soal paramadina. aku juga masih aktif di blog meski hari-hari ini off karena kemarin PLC (Paramadina Leaders Camp—semacam camp pelatihan kepemimpinan untuk setiap mahasiswa baru Paramadina, kalau di UI, zaman Hok-gie, dulu ada semacam kegiatan naik gunung). Berikut kutipannya

“Untuk seluruh Kawan-Kawan Budiman, sekiranya satu bulan lagi PF 2010 akan menyematkan nama-nama terbaiknya.
Yang tersemat, ribuan kata Selamat aku sampaikan dan sila dengan semangat penuh mimpi bergabung dengan kami...
Yang belum, sekiranya bijak untuk selalu berpikir positif... Paramadina bukanlah ukuran kesuksesan, karena mungkin Tuhan telah siapkan jalan kesuksesan lain untukmu sekalian...”

Dan akhirnya report ini pun telat juga.

Aku sempat berdiskusi dengan teman soal masa depanku dengan predikat mahasiswa universitas swasta. Di tengah paradigma yang begitu negeri-centered, sepertinya menjadi seakan-akan a big fault. Ini adalah salah jalan. Yang negeri adalah yang terbaik, whatever ratingnya, dan yang swasta is the one (and the only) which is necessary to be left behind.

Bagiku ini aneh. Di tengah arus informasi yang begitu luas, premis-premis yang tersedia tentu salah besar kalau berkonklusi pada paradigma tersebut. Aku ingat sekali statement Pak Anies kalau tujuan teman-teman bukanlah universitas yang kalian anggap “baik” itu. Tetapi tujuan yang hakiki adalah mimpi-mimpi teman-teman sendiri yang tentu harus kontributif, baik bagi diri sendiri, ataupun orang lain.

Seorang teman bilang kalau sekolah, dalam konteks keilmuan, sebenarnya “ngga penting”. Tapi karena itu adalah tempat orang bersosialisasi, berasimilasi, berjejaring, dan berinterasi, maka sekolah menjadi penting, namun tetap pada batasan itu, tak lebih. Dan kalau mau pintar, maka silakan “ngetem” di depan layar computer, dan sila berjelajah ria.

Aku kira itu paradigma yang harus direkonstruksi. Pondasi-pondasi pemikirannya perlu ditata ulang. Universitas hanya sebagai wadah pengelola diri, pemahat intelektual, dan penyunting tata-krama. Dan yang paling penting adalah yang menjadi aktor adala mahasiswa itu sendiri, dan sekali-kali bukan universitas itu sendiri.(*)

Jazz Muhammad

Tuesday, June 29, 2010

Falsafah Sepeda

Yuk, ke sekolah naek sepeda
Ke kantor naek sepeda
Ke Mall naek sepeda
Ke rumah temen naek sepeda
Pokok jangan ke toilet naek sepeda ya……

Di dalam tubuh yang sehat, terdapat jiwa yang kuat. Begitu kata orang. Hidup perlu sehat donk. Siapa sih yang mau sakit? Tentu tidak ada. Hidup itu yang di harapkan ya yang enak-enaklah. Hidup yang bersih, hidup yang sehat.

Saat tulisan ini dibuat, ayah saya sedang menderita sakit katarak. Beliau juga kadang gejala stroke-nya “kumat”. Kalau lihat pas beliau sakit, sepertinya sedih. Ya saya sedih, tentu bapak juga sedih. Apalagi bapak saya adalah “tulang punggung” keluarga……

Kadang saya berpikir, mungkin saja ada toko spare part organ tubuh manusia. Pagi buta saya akan antri duluan untuk membeli spare part itu, meski toko belum buka. Saya akan beli mata dan pembuluh darah buat ayah saya. Berapa pun uang yang harus saya bayar akan saya sanggupi. Ya sayangnya, tentu ini tidak mungkin ada. Itu hanya angan-angan anak bodoh.

Yang saya mau adalah menggambarkan bahwa kesehatan adalah hal yang paling mahal harganya di dunia ini. Mau mata kamu yang cantik itu saya ganti duit 3 millyar? Kalau kamu mau ya mungkin ada yang ngga berez di kepalamu.

Menjaga kesehatan akhirnya menjadi sangat penting bagi pemuda. Siapa lagi yang akan dititpin masa depan bangsa kalau bukan pemuda. Yang tua mah udah tinggal nunggu (nunggu apa ya…?). Sangat penting bagi pemuda untuk terus siap berkarya demi bangsa dan negara. Ya, pemuda tak hanya butuh pintar, tapi juga sehat. Sepinter-pinter kamu, kalau sakit ya sudah…..ngga bisa apa-apa.

To the point aja, salah satu cara yang bisa dipakai untuk menjaga kesehatan adalah bersepeda. Ke kantor bersepeda, ke warung bersepeda, ke sekolah pakai sepeda, sampai-sampai ke kamar naek sepeda (uups..). Selain badan kamu juga sehat, polusi udara juga bisa berkurang. Terus di jalan bisa menyapa orang lain dengan hangat. Aduh, enak deh kalau bisa dilakuin..


Tentu ada maksudnya donk saya memberi judul tulisan ini “Falsafah Sepeda”. Jadi, bersepeda itu ternyata mengambarkan semangat muda generasi pemuda. Sepeda memberikan simbol-simbol kemandirian, kerja keras dan pantang mundur. Menurut Anies Baswedan, sepeda punya tiga simbol dalam meggambarkan kehidupan pemuda.

Pertama, ingat, sepeda adalah kendaraan non bahan bakar. Eh.. ngga dink. Kan kamu makan nasi dulu kalau mau kuat bersepeda..hehe. Ya maksudnya ngga ada polusi yang ditimbulkan sepeda. Ini menunjukkan bahwa sepeda adalah kendaraan ramah lingkungan. Pemuda pun juga harus demikian. Lingkungan menjadi tempat pemuda bertumbuh. Maka, menjaga kelestarian dan kebersihannya tentu menjadi keharusan. Mau sehat ya lingkungan juga harus bersih. Bersih dari sampah, dari polusi, sampai bebas dari niat jahat. Pokoknya bersih luar dalam.

Kedua, agar bisa jalan, sepeda butuh dikayuh, bukan hanya memutar “stir” ke depan belakang. Jadi, jadi pemuda itu harus bekerja keras bak mengayuh sepeda. Pemuda adalah tempat penitipan masa depan. Kalau yang dititpi “keok” yang gimana lagi. Pemuda harus siap menjadi insan yang penuh harapan. Jadi, Pemuda harus menjadi generasi yang inovatif, kreatif dan kompetitif. Pemuda harus penuh dengan karya demi masa depan bangsa.

Sebagai contoh, di era 66, terdapat pemuda bernama Soe Hok-gie yang dengan keras menolak kekuasaan yang semena-mena dari penguasa. Tanpa pandang bulu dan bahkan acuh dengan keselamatannya sendiri, ia kritik segala bentuk ketidakadilan. Yang ia inginkan hanya satu, Indonesia yang bersih dari tindakan-tidakan korup.

Terakhir, sepeda tidak bisa mundur. Jadi pemuda jangan sekali-kali mundur dari perjuangan membangun masa depan bangsa ini. Karena, apa yang bisa ditawarkan pemuda adalah masa depan. Kalau mau cerita masa lalu, apa yang mau diceritakan. Pemuda sudah harus bisa menawarkan masa depan bagi bangsa. Mimp-mimpi pemuda menjadi penting untuk menentukan nasib negeri. Toh mereka juga yang akan menggantikan generasi pemimpin negeri kelak. Oleh karena itu tentu masa depan harus ditata dengan baik dan pemuda punya peran penting di dalamnya.

Masa depan tidak ada yang tahu, tetapi tentu bukan berarti tidak bisa dipersiapkan. Nah, peran-peran semacam inilah yang harus menjadi teladan bagi kita semua.

Berati, kalau bersepeda, selain kita sehat. Kita juga telah mendukung terciptanya masa depan bangsa yang cemerlang. Ya mungkin masih bersifat simbolik, tapi 'kan daripada ngga peduli sama sekali.

Ini memang teresan remeh, sekedar hal kecil. Namun, apa yang bisa dilakukan sekarang ya sekarang dilakukan. Tentu mulai dari diri kita dulu bukan orang lain.



*sumber gambar bisa diklik langsung pada gambarnya.

Wednesday, June 23, 2010

Start Small for Our Environment

In 1960s, manufacturing with DDT (Dichloro diphenyl trichloro ethane), a kind of pesticide, became a huge industry. But this condition had broken the wonderful sounds of nature. DDT had killed many kinds of birds, harmless insects. DDT also polluted the environment and be able to increase human cancer.

It was Rachel Carson who woke up the US government’s attention to this condition by publishing a book entitled “Silent Spring”. She showed how dangerous the effect of DDT by posing many studies and many expert opinions. Eventually, in 1966, US government started stopping the use of DDT in two years (www.voaspecialenglish.com).

Another story comes from Japan. It was Yasuyo Tabete, who was the climate champion of British Council, who created a simple action, but this had a great and futuristic objection. This action is called “mug action”. He began not to use a paper cup to drink coffee. He thinks that drinking coffee just spends not more than 5 minute, but then he throw the cup out.

Yasuyo has an honorable objection that this action can decrease the number of deforestation. Wherever he goes, he brings his own mug and starts invite others to follow him. A great changes and positive effect, according to him, can be started from individual actions (www.kompas.com).

A Little Lesson
The story of Rachel Carson and Yasuyo Tabete is a little example that we can get many lessons from both of them. They never give up in struggling keeping their environment being safe. Both of them of course are from abroad. From the home, it is Victor Emanuel Rayun (Baba Akang) who struggles to keep the mangrove forest in Ndete coast, Flores. He has been doing his valuable action since 1992. In a program called Kick Andi Heroes 2009, he got an honor “Pahlawan Bangsa” together with six other heroes (Media Indonesia, 2009).

A little lesson that we can get from the stories is like what Yoris Sebastian said, “starts small”. In term of Indonesia, we can explore so many environmental problems. This problem, severely, damage the balance of our nature. We will find that the number of deforestation of Indonesia is the biggest number in the world, which Brazil is just the same. We will find that we have a big problem of garbage management.

The data from Kementrian Negara Lingkungan Hidup shows us, each person in this country produces 800/gr/day/person in average. This number looks a little bit common, but let’s times it to the number of Indonesian population which is more than 200 million. The number will be so fantastic. Indonesia has 160 thousand ton garbage per day.

If that number is managed well, there will not be a problem, but the condition looks so different. That big number seems haphazard managed. The garbage which has some types is not separated well. This makes the after-use process becoming difficult to exercise. Besides, there is a problem with this nation people behavior. They do not have such “do not litter” behavior. To be honest, it is so difficult to find a really green area, where every body will get their best pleasure to be in.

There is no willingness to be aware to the environment condition. The willingness to clean their public area seems very seldom. In the end of the show, the garbage will meet the drainages then plug them up. Tragically, it is common to be occurred in many big cities, like Jakarta and Surabaya.

Of course, simply, we can say that this is why Indonesia is likely a subscriber of flood. Despite, the number of budget in order to handle this one is so much expensive. For example, Jakarta has 762 billion rupiahs for it (Kompas, 2009).

Start Small
To solve such problem is not just a simple way. Many complicated studies must be taken to get the best solution. But, as a simple, to solve this problem, it is not necessary to get a structural approach. Make such legal binding through some bills will not get any effect. This is just going to make somebody become stressful. And sometimes, the effect will be in the opposite position of our expectation.

It is interesting to remember Gandhi statement that “reconciliation will takes times without any violence, but violence will never get any reconciliation” (Kompas, 2010). This statement shows us that any pressure will not get any success. In term of environment, there must be such soft approach. This of course takes time, but it really works. This kind of approach sometimes called cultural approach. We will not doubt about it because this kind of approach had been done by Rachel Carson, Yasuyo Tabete, Baba Akang, and other environmental activists.

In the day of earth, this is a very good opportunity to pose and discuss that issue. Many youngsters, who have so many fresh ideas, from many countries, have to gather together and ready to give a creative solution to the world. To me, it is the right time to tell the world that to be environmentalist is an urgent, in current context. Many youngsters from many countries can share some information.

This information will become so important because of the different context. By collecting many facts from the attending countries, there will be a kind of common platform to create common understanding. Because, we realize, that environmental issue is not only in a developing country, but also in a developed one.

This is important to create something like a community to pose and campaign ‘Save this earth!’ This is the cultural approach that I mean. In term of Indonesia, to ‘save the earth’ of course is not the same with what Rachel Carson or Yasuyo Tabete had done.

Discussing this phenomenon in a community is really interesting to take. Facing the fact that garbage is a problem, realized or not, an action must be taken as soon as possible. It is even the problem of developing country like India, Brazil, and many more.

Some action can be a very simple but important like campaigning “do not litter” by us ourselves to some people around us. If necessary, this will be continued to the bigger society or government, but it is not the priority.

The youngster has to take this rule very well. Youngsters have much more power to initiate and accomplish change than what others may believe. Then, youngsters often achieve much more than they ever expect they will.

Through community, there will be some important general point for action, but the implementation is certainly different from each country (www.greenkampong.com). Like Yoris Sebastian said, we create an out of the box idea, but the execution is inside the box. Certainly, different pond, different fish.

Youngster’s Action
Shortly, by gathering in community, posing this kind fo issue in a global forum, we can create such way against earth destruction that called community-based cultural approach. Back to the home, the youngster, including me, have to campaign how to be a green citizen, to be a citizen who has awareness for their environment.

In term of Indonesia, this will be focused on garbage management issue. The campaign is not such big event like a concert or such Clean and Green Week, but this is an individual campaign. The target is not a mass people, but the people around us, start from our family and friends.

In home, it is necessary to create such community to get more power but the action still individually. Saving the environment means more than just holding large public events targeted at adults. Just as a simple like “do not litter” campaign, in my opinion, it has a big impact to start being aware to the garbage management and saving the environment.

Youngsters can make a certain difference, through smaller actions at home or larger campaigns. By influencing families, corporations and government, youngster can have a significant positive impact.

So working with community can be the start to making big changes. This change is a cultural-and-communal-based. Taking times but really working. This small action of course can have a big impact. With these small and symbolic yet highly impactful changes, youngsters have an effect beyond just their own actions.(*)



*sumber gambar bisa diklik langsung pada gambarnya.

Friday, June 18, 2010

Filosofi Berbagi ala B.A.B

tulisan ini aku re-post, buat inget-inget aja.......

Mau nymbang ngga?
Ah, ntar aja….
Ayo berbagi!
Ah ntar jadi kurang dunk duitku…..

Menysihkan harta untuk diberikan pada yang lain memang mulia. Yang kaya membantu yang miskin sehingga yang miskin pun terangkat derajatnya. Pada akhirnya tercipta keseimbangan dalam kehidupan. Tak ada ketimpangan. Tak ada diskriminasi antara di kaya dan si miskin.

Saya memberi judul tulisan ini mungkin agak jorok. Tapi saya yakin kebaikan itu berasal dari mana saja. Jadi jangan underestimate dulu ya..

BAB itu buang air besar (sudah tahu, Mas). Semua tentu tahu kalau kepanjangan dari buang air besar. BAB merupakan ritual yang bersifat natural buat manusia. Maksudnya baik ko’, yakni membuang kotoran yang ada di dalam tubuh. Ketika kotoran itu keluar maka tubuh pun semakin sehat. Mau?

Saya masih ingat apa yang diajarkan guru agama saya dulu. Saat masih di SMA, guru saya itu mengatakan bahwa berbagilah seperti kamu ingin buang air besar. BAB itu kegiatan yang paling ikhlas di dunia ini. Bahkan kalau tak dikeluarkan malah jadi penyakit.

Sang guru menjelaskan bahwa berbagi itu laksana BAB itu, adalah berbagi yang diladasi oleh rasa perlu. Perlu itu, bagi saya berbeda dengan harus. Perlu berarti berdasarkan rasa butuh, dan bila tidak dipenuhi kebutuhan itu, maka akan aada yang kurang. Kalau orang merasa perlu melakukan sesuatu, maka ketika ia telah memenuhinya, tak akan ada tasa dongkol atau kecewa. Kalau harus itu kan dasarnya desakan. Jadi sedikit tak ikhas. Terpaksa.

Itulah yang harus kita lakukan. Berbagi dengan landasan filosofi BAB. Kita perlu berbagi. Dalam agama, bahkan diajarkan bahwa harta kita itu ada bagian milik orang lain. Jadi kalau tak bagikan, berarti kita telah mencuri, bahasa kerennya korupsi. Bener ngga ya….

Kalau tidak berbagi, bahkan malah jadi sarang musibah. Tapi kalu dilaksanakan dengan baik akan menjadi lading kesuksesan, baik lahir dan batin.

Dalam buku Setengah Isi Setengah Kosong, saya membaca sebuah kisah sesorang yang memberikan susu pada seorang anak terlantar.

Anak tersebut datang ke sebuah rumah dengan keadaan kelaparan. Ia meminta minuman pada pemilik rumah. Pemilik rumah iu agak sedikit ragu. Tapi ia memberanikan diri untuk membagikan apa yang ia punya. Ketika diminta sekedar air minum, pemilik rumah memberinya susu segelas. Betapa girang anak tadi.

Lima belas tahun kemudian, sang pemilik rumah berada dalam kejatuhan. Ekonomi keluarganya menurun. Sang pemilik rumah sakit-sakitan. Bahkan, kondisi ekonominya tak mendukung ia untuk berobat ke rumah sakit. Tapi mau bagaimana lagi, penyakitnya sudah parah.

Akhinya pemilik rumah tadi memberanikan diri untuk ke rumah sakit. Masalah bayar nanti saja. Bisa ngutang. Ia lalu ke rumah sakit. Kemudian ia dirawat. Ketika ia sembuh, ia terkejut ternyat tagihan pembayarannya sudah dibayar. Yang membayar tak lain dan tak bukan adalah dokter yang merawat dia sendiri.

Ketika bertemu dengan sang dokter ia terkejut. Ternyata dokter itu adalah anak terlantar yang ia beri susu lima belas tahun yang lalu. Oh, segala puji bagi Tuhan, Subhanallah.

Betapa besar manfaat berbagi. Kalau kamu tahu sebuah pohon maka pohon itu akan tumbuh baik bila semak-semak di sampingnya dibuang. Semak-semak itulah harta kita yang harus di bagikan.

Berbagi bukan membuat makin tetapi malah berkecukupan. Tentu saja asal ikhlas melakuannya. (*)





*sumber gambar bisa diklik langsung pada gambarnya.



Tuesday, June 1, 2010

Si Mbah Dawuh dan Negeri Antah Brantah

"Di Negeri Antah Brantah ini, Le, sebenarnya sudah enak. Tanahnya subur, terus cuaca juga ngga macem-macem. Wis poko'e joss lah!!!" tandas Mbah No.

"Nggih, Mbah..." jawabku.

Aku tak menyangka bertemu si Mbah ini saat aku baru pulang. Tiba-tiba dia nongol dan ajak aku ngobrol. Seingatku aku tadi lelah sekali seharian kuliah. Namanya Suseno. Tapi lebih dikenal dengan Mbah No. Aku sendiri tak tau kenapa bisa kenal orang tua ini.

"Le, kowe sekarang masih sekolah 'kan? Sing tenanan, Le. Negara Antah Brantah ini butuh orang yang jujur. Jadi kamu sekolah yang sungguh-sungguh biar bisa jujur...ya, sekolah yang penting itu biar bisa jujur..."

Hah? Aku geleng-geleng saja. Aku sekarang ini kuliah di ibukota. Kampusku juga, ya bisa dikatakan kampus terbaik. Aku juga kuliah di jurusan yang aku impikan agar aku bisa jadi, jujur saja, orang kaya. Kok bisa-bisanya si Mbah bilang sekolah hanya untuk jujur.

"Lah, Mbah, kalau cuma jujur kenapa harus sekolah ya Mbah? Terus harus sungguh-sunggung lagi..."

"Le, ati-ati lek ngomong. Kowe ngerti, jangan kau kira jujur itu mudah. Apalagi ngga perlu sekolah. Susah banget itu...ngerti kowe?!!!" tandas si Mbah. Beliau terlihat agak gemas dengan pertanyaanku tadi.

"Nggih, Mbah, nggih Mbah...."

Aku merasa tak punya otoritas. Aku tak tahu kenapa. Kebebasanku agak terbelenggu oleh situasi. Umur juga. Si Mbah sudah tua memang. Tapi, Si Mbah agaknya menyimpan sesuatu.

"Sori kalau aku agak naik nadanya. Lha wong kamu itu lho, masih bau kencur. Mau ngapain? Aku ngerti kalau kau sekolah, kau mau mengejar mimpi tho? Mengejar cita-cita?" tegas si Mbah. Kini nadanya sudah agak menurun.

"Nggih Mbah..."

"Ngene Le, kamu jangan kira jujur itu mudah. Kau tahu kan keadaan Negeri Antah Brantah saat ini? Sumber daya alam di eksploitasi Le.. Duite wong-wong dikorupsi... Yang susah lagi, yang terjadi bukan penghilangan kemiskinan, tapi penghilangan orang miskin...beh-beh-beh.."

Si Mbah terlihat geleng-geleng sambil diam sejenak. Seperti berpikir. Tapi sepertinya memang berpikir. Aku agak bingung. Apa maksud Mbah ini? Tiba-tiba saja beliau melontarkan pertanyaan konfirmasi yang tak diduga-duga.

"Kowe ngerti le ngono kuwi?"

Aku terbelalak ternganga. Dari tadi aku manggut, tapi jujur, aku tak paham. Si Mbah bilang soal jujur, tapi kok bilang eksploitasi lah, korupsi lah, kemiskinan lah. Aku bingung. Pastinya, ekspresiku yang muncul sudah bisa ditebak, geleng-geleng lagi dan lagi.

Si Mbah ternyata juga geleng-geleng. Tapi,

"Hmm... Bagus..bagus.."

Aku makin bingung. Sementara mulutku masih terbuka, menegaskan bahwa aku sungguh tak paham dengan orang tua ini.

"Kau sudah berani jujur.. Kau tak tahu dan mengaku tak tahu. Kan lebih baik daripada mengaku tahu tapi sebenarnya tak paham sama sekali. Ya kayak pejabat-pejabatnya Negeri Antah Brantah sekarang itu.... Nah, mereka itu pintar lho..sekolahnya ke luar negeri, ada juga yang sekolah kedinasan. Weleh-weleh, apa itu ngga berkualitas sekolahnya. Apalagi dibanding sekolahmu yang swasta itu..."

"Ya ngga gitu Mbah.. Meski swasta, belum tentu juga kalah.. "

Si Mbah mulai kemana-mana omongannya. Dasar orang tua! Tapi yang jelas aku tahu, kenapa beliau minta aku untuk belajar jujur. Meski sekolah dan pintar, tapi kalau tak pintar, kata si Mbah, malah buat minterin orang lain. Huh..

Si Mbah sempat bilang, kalau sekolah di Negeri Antah Brantah itu, meski bagus, tapi tidak seimbang. Katanya ada yang salah kaprah.

"Sing bener kuwi, sekolah ora mung ngurusi ini thok, tapi juga ini..."

Pada "ini" pertama, si Mbah menunjuk kepala. Bukan kepalanya yang ditunjuki, tapi kepalaku. Sial! Apalagi beliau sambil sedikit mendorong-dorong telunjuknya. Lengkap sudah aku kelihatan orang bodoh. Tapi, aku paham, yang dimaksudnya adalah pikiran, otak, atau intelejensi.

Dan pada "ini" kedua, si Mbah menunjuki dada. Kali ini dadanya sendiri. Maksudnya hati. Jadi maksudnya sekolahku tak bisa mengasah hati. Sementara kejujuran itu asalnya adalah hati. Tapi ada yang aku sayangkan. Seenaknya si Mbah menunjukku untuk barang jelek sementara yang bagus buat beliau sendiri. Huh...

"Lah, kalau gitu harus ada yang ditakuti donk, Mbah... Ya biar ngga korup lagi." aku spontan bertanya.

"Halah, di negeri antah brantah itu, ngga ada yang bisa ditakuti lagi, Le.. Sopo maneh? Polisi? Hakim? Jaksa? Lha wong kabeh yo podo korupsi ko'. Coba kamu tampar saja muka mereka pakai uang. Pasti diam..."

"Kalau gitu, Mbah, terus gimana?"

Si Mbah tiba-tiba diam. Tapi sejenak. Lalu berkoar kembali.

"Tapi, koyoke masih ada yang bisa ditakuti."

"Nopo Mbah?"

"Mati. Ya, mati. Le, kowe kudu ngerti, wong mati itu meninggalkan reputasi. Kalau mati pas korupsi, nah, dunia akan mengingat orang itu sebagai koruptor. Ya sudah, ya kau tahu kan reputasi macam apa yang pantas buat koruptor? Ya kalau dibandingin sama reputasinya tikus, ya sebelas duabelas-lah..."

"Nggih Mbah" aku manggut-manggut takdzim.

"Dan, Kau harus ingat, Le, reputasi itu umurnya sepanjang masa. Kata nenek moyang, reputasi itu ya gambaran apa yang diterima si empunya reputasi kelak di akherat... Hayu! Makanya, orang harus takut mati. Bukan matinya yang ditakuti, tapi reputasi setelah mati itu yang harus direnungkan. Nah, reputasi itu tentu dibangun saat masih hidup.. Gitu, Le."

Aku terus manggut-manggut. Menandai kalau aku berada pada sisi orang bodoh dan si Mbah adalah orang pintarnya. Tapi jujur, aku masih penasaran dengan negeri antah brantah itu. Dimana ya negeri itu?

Sayang si Mbah sudah pergi. Tak ada lagi. Si Mbah lenyap seraya aku membuka mata. Aku baru ingat. Ya, tadi setelah kelelahan kuliah seharian aku tertidur. Sekarang sudah bangun dan si Mbah sudah pergi.
****


Jazz Muhammad
Jakarta, 11 April 2010



*sumber gambar bisa diklik langsung pada gambarnya.

Friday, May 28, 2010

Berangkat dari Sebuah Kesederhanaan


Sebuah kota kecil berjuluk Bumi Bung Karno menjadi tempatku mulai menatap dunia. Di sana, ibuku melahirkanku sebagai seorang anak laki-laki. Tak ada yang istimewa dari keluargaku. Ayahku adalah seorang wirausahawan. Ia seorang tukang servis mesin jahit. Rendahan kedengarannya. Tapi kami mandiri. Itu yang membuatku bangga padanya hingga kini.

Ibuku adalah ibu rumah tangga. Seseorang yang menjadi manajer keluarga kami. Dan aku sendiri lahir di kota kecil ini, Blitar namanya, sebagai seorang anak yang bernama Muhamad Rosyid Jazuli.

Sedikit perkenalanku itu semoga memberi gambaran bahwa tak ada yang bisa aku sombongkan dari duniaku. Aku dibesarkan di suasana kesederhanaan keluarga. Bahkan, di kemudian hari, keluarga kami memiliki empat anak, dan akulah yang pertamanya. Aku akhirnya memiliki tiga adik. Inilah kehidupan keluargaku, enam orang yang selalu penuh semangat kemandirian megarungi samudera kehidupan.

Tentunya setiap orang punya jalan hidupnya masing-masing. Aku pun demikian. Aku menjalani waktu pendidikanku sebagian besar di kotaku. Ketika aku lulus dari TK al-Hidayah, aku melanjutkan proses belajarku di SD Islam Sukorejo. Kemudian aku memilih SMP Negeri dua Blitar untuk menempuh masa pendidikan menengahku yang pertama. Cukup baik hasil yang aku capai saat itu. Aku menjadi peraih NEM tertinggi se SMP.


Sentuh organisasi
Pendidikan menengah atasku aku tempuh di SMA Negeri 1 Blitar. Lokasinya cukup jauh, hampir dua kali lipat jarak rumahku ke SMP. Aku hanya memiliki sepeda butut bekas yang dibelikan ayah ketika aku kelas 4 SD. Dan itulah yang terus membantuku sampai di tempatku belajar, tempatku menyemai benih masa depanku.

Ketika aku SMA, aku mulai bersentuhan dengan dunia organisasi. Aku memutuskan untuk bergabung dengan IPNU (Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama). Aku mulai karyaku di organisasi itu mulai dari ranting di kelurahan-ku, PR (Pengurus Ranting) IPNU Pakunden. Saat itu aku mejadi wakil ketua. Beberapa kali aku ikut serta dalam acara rutinan. Bagiku acara itu sederhana sekali. Akan tetapi, itulah basis peraudaraan yang nyata dan tentunya benar-benar menyatukan rasa kebersamaan antaranggota.

Satu periode berjalan, aku pindah ke pengurusan yang lebih tinggi tingkatannya, tingkat cabang. Usai konfercab (Konferensi Cabang), aku ditempatkan di posisi bendahara. Aku sungguh menikmati masa-masaku saat itu. Sayang, belum lengkap satu periode berjalan, aku harus meninggalkan organisasi itu karena sesuatu. Aku, kebetulan, dapat beasiswa untuk melanjutkan studi sarjanaku di Jakarta.

Di dalam SMA sendiri, aku pernah merasakan bagaimana menjadi pemimpin organisasi kesiswaan tertingggi. Aku perah menjadi ketua OSIS. Banyak hal tentunya aku dapat ketika itu: pengalaman memimpin, mengelola, dan berdinamika di dalam organisasi. Sungguh pengalaman yang tidak akan pernah aku lupakan. Sebuah pengalaman yang menjadi titik balik kehidupanku saat itu. Aku yang dahulunya penuh dengan rasa minder, berubah hampir seratus delapnpuluh derajat menjadi pribadi yang penuh rasa percaya diri menghadapi kehidupan.


Duta
Kini, aku telah berada di Jakarta, pusat atmosfer negeri ini. Aku menerima beasiswa Paramadina Fellowship 2008 seketika aku lulus dari SMA. Sekarang aku kuliah di Universitas pemberi beasiswa itu, Universitas Paramadina. Hanya syukur kepada Tuhan yang bisa aku sampaikan. Beasiswa itu telah membiayai seluruh kebutuhan kuliahku. Biaya kuliah selama empat tahun, biaya buku sudah menjadi tak menjadi beban pikiranku. Bahkan uang saku aku juga dapatkan.

Aku dapat kejutan di Jakarta. Karir oragnisasiku di IPNU ternyata juga masih berlanjut. Aku mendapat kesempatan untuk bergabung dengan kepengurusan Pimpinan Pusat (PP IPNU) untuk periode tiga tahun mendatang (2009-2012). Sementara, aku juga menjadi duta bagi universitasku. Layaknya duta pada umumnya, adalah tugasku menyampaian berita baik dari dan ke dalam universitas. Tapi tentunya, secara kultural, aku juga duta bagi organisasi tempatku bernaung, PP IPNU.

Kukira apa yang kuraih selama ini bisa aku anggap sebuah prestasi. Tapi, tak perlu dibangakan, tak perlu disombongkan. Masih banyak orang yang jauh memiliki prestasi di luar sana. Aku yakin kebanggaan diri dan kesombongan hanya menutup hati yang berujung pada ketinggian hati. Sebuah sikap yang sangat di benci masyarakat.

Terakhir, adalah sungguh menyenangkan bagiku untuk mengingat perkataan seorang dosenku, “Just keep highly motivated, you will see the world.” (*)



*sumber gambar bisa diklik langsung pada gambarnya.

Thursday, May 20, 2010

Terangisme (2)

Yaudahlah kalah
Terang aja, emang gue ngga pintar
Emang ini takdir
Terang aja, gue pas ngga sehat tuh

Kamu pernah ngga kalah pas ikut sebuah kompetisi? Atau dapat nilai buruk saat ujian? Atau gagal ngurusin sebuah acara? Hmm..rasanya pasti pernah, tapi saya sih SERING bin BANGET pernahnya. Berbagai kompetisi saya ikuti, tapi yang nyantol cuma bebrapa saja. Saat mengerjakan tugas apalagi. Alih-alih mendapatkan nilai yang bagus, seringkali saya ikut ujian ulang. (to the point aja deh kalo nilainya jelek, he he). Fiuhh…..

Bagi kita, seringkali yang muncul saat keadaan seperti itu biasanya bukan terus nyari solusi, yang ada adalah sikap nyari persalahan. Kamu atau saya seringkali berusaha mencari-cari alasan apa yang bisa “menutupi muka” yang sudah bingung mau ditaruh dimana (emang muka bisa dipindahin yah?). Terus akhirnya bilang terang ini… terang itu…..

Ya, muncullah kembali paham terangisme. Sebenarnya bukan paham sih. Ini hanya bahasa Mario Teguh untuk orang-orang yang selalu mencari persalahan untuk setiap kegagalan. Dalam bab sebelumnya telah diterangkan masalah terangisme, tetapi dari sudut pandang diluar diri orang yang gagal. Kalau sekarang perspektifnya saya ubah ke dalam diri orang tersebut (termasuk saya sih). Simak baik-baik ya! (Sok banget ngga sih?..hehe)

Terangisme yang satu ini juga disebut, pinjam istilah Paulus Winarto, sebuah penyakit dalih. Dalam buku The Magic of Thinking Big, David J. Schwartz menyebut penyakit dalih sebagai penyakit pikiran yang mematikan (parah kan?). Dia menambahkan bahwa penyakit ini punya empat bentuk, yakni dalih kesehatan, dalih intelegensi, dalih usia, dan dalih nasib.

Ada aja alasan yang dibuat pas lagi gagal. Coba simak percakapan diawal tulisan ini. macem-macem kan alasannya. Yup nilai 100 buat pak Schwartz.

Ketika mengalami kekalahan dalam perlombaan atau kompetisi, yang diucapkan hanya “Ah, aq memang badoh”, atau “Aduh, saya sudah tua, sudah waktunya istirahat, lumrah la kalau kalah”, bahkan “Ah sudah nasib, ini takdir Tuhan”. Aduh mas, lebay banget sih.

Dalam agama ada sebuah ajaran bahwa Tuhan tidak akan mengubah nasib sebuah kaum sebelum kaum itu berusaha sendiri. Jadi takdir Tuhan itu bukan tempat persalahan atas kegagalan kita. Yang masalah sebenarnya kita sendiri yang selalu pesimis atau bahkan apatis terhadap masa depan. Hidup ini dianggap will go on well without any efforts. Biasanya orang-orang seperti ini selalu bilang the show must go on. Memang ini tidak salah, tetapi sebelum go on ya mbok disiapkan dulu.

Selain itu, sering juga saat gagal, kita langsung menghukum diri sendiri dengan pernyataan-pernataan yang mempersalahkan otak sendiri. Otak dianggap sebagi sumber masalah. Dikira otanya sudah tidak pintar lagi. Hmm…. Mari lihat cuapan Thomas Alpha Edison, si bapak bohlam. Dia berkata, kesuksesan itu 1% inspirasi, 99% eksekusi. Jadi sebuah ide akan sukses atau tidak itu tinggal tergantung bagaimana kita berusaha.

Setelah alasan takdir dan masalah otak (intelejensi), sepertinya kurang lengkap bila belum menyebutkan alasan kesehatan ataupun usia. Aduh, sepertinya bakal panjang nih.

Saya bukan ingin menyatakan bahwa kita harus menang dan sukses terus, bukan itu. Kalah atau gagal itu pasti dialami. Akan tetapi, membuat beribu alasan untuk menutupi kegagalan itu yang harus dihindari. Saya rasa menerima kekalahan adalah hal yang sangat bijak. Tidak perlu alasan apapun.

Sepertinya perlu sedikit dipertegas seuah ungkapan yang mungkin kamu hapal tapi jarang dilakukan yakni “kegagalan adalah kesuksesan yang tertunda”. Kemudian, yang penting adalah segera buat solusi, bukan dramatisasi keadaan.(*)



*sumber gambar bisa diklik langsung pada gambanrnya (http://www.siswonugroho.com)