Sunday, October 30, 2011

Sepotong Cerita Fargo

Orang aneh di depan Fargodome
FARGO-JAZZ MUHAMMAD - Sebelum ke sini, aku tak pernah dengar nama kota ini seumur hidup. Di Indonesia, yang kudengar tentang US adalah New York, Washington, San Fransisco, Miami, Patung Liberty, dan tentunya Bahasa Inggris. Kau tahu apa tentang US? Sejadinya, sejujurnya pula, aku tak pernah tahu persis negara ini. Oh, paling-paling kalau “FPI-like organization” dan “extremist-like community” teriak-teriak anti-amerika, nah waktu itu aku dengar amerika. Bercanda.

Dan, ketika aku dapatkan placement dari aminef, aku mulai mencari apa itu Fargo, kota yang sekarang aku akan tinggal di dalamnya untuk beberapa waktu ke depan.

Baiklah, kota ini adalah yang tak terlalu besar. Kalau dibandingkan dengan Jakarta, kota ini tentu tak sebanding dan memang tak mungkin membandingkannya.

Fargo berada di perbatasan antara state North Dakota (ND) dan Minnesota. Tepat di perbatasan, tak kurang tak lebih. Di sampingnya ke arah timur, terdapat kota bernama Moorhead yang tata kotanya kembar. Karena itu, orang di sini sering menyebut nama Fargo-Moorhead. Tapi Moorhead sudah bukan bagian ND, ia Minnesota. FYI, di state sebelah, Minnesota, ada juga kota kembar: Twin City, yakni Minneapolis dan St. Paul. Twin City yang kedua ini jauh lebih populer. Tentunya.

Salah satu sisi downtown Fargo
Kembali ke Fargo. Downtown atau pusat kota Fargo seperti kota tua. Bangunannya sederhna dan tak punya skyscraper meski satupun. Jalan-jalannya bersih dan tata lalu lintasnya, bagiku, mengagumkan. Jalan-jalannya tak terlalu besar, tetapi orang tertib mematuhi aturan (meski tak semuanya, soalnya aku pernah hampir ditabrak driver “o-on” yang tak lihat tanda lalu lintas).

Store-store di sini rapi terbangun. Di sini suasananya quiet, calm. Pokoknya jauh lebih nyaman hidup dari pada di Jakarta. Sepertinya. Kau terserah percaya atau tidak.

Angkutan umum di sini cuma satu jenis: Bus. Namanya MATBUS. Mereka sediakan jadwal kedatangan dan keberngkatan bus di tiap shelter. Dan yang mengagumkan adalah, dibandig dengan yang di Indo, mereka hampir selalu tepat waktu.
Let's Go BISON!!!

Ya, mungkin hal ini, soal tepat waktu, akan selalu mengagumkan bagi orang indo sepertiku ini. Tapi, ini sekaligus menyebalkan karena rupaya budaya "ngaret" sudah mengakar-bumi dalam di dalam diriku. Jadinya: ketinggalan bus berkali-kali. Ingin bertobat dari ngaret? Ya, tak ada pilihan.

Shelter MATBUS
Meskipun Fargo bukan ibu kota North Dakota, tapi kota ini adalah kota terbesar. Bismarck, yang notabene ibukota, tak ada apa-apanya. Di Fargo ini juga, berdiri universitas tua: North Dakota State University (NDSU). Itu tempat aku belajar saat ini.

NDSU, begitu kami menyebutnya, memiliki spesialisasi dalam dunia agriculture. Dari logonya saja sudah bisa dilihat. Dengar-dengar, kampus ini adalah kampus terbaik untuk urusan agriculture di US.

Omong-omong soal football, karena orang amerika gila football, NDSU punya tim berjuluk Bison. Jujur saja, sejak di sini, aku tak pernah lewatkan nonton Football. I love it.

Dari permaian, sebenarnya soccer tetap lebih menarik bagiku. Tetapi karena Fragodome, tempat “home” Bison, selalu penuh dengan penonton baik dari students atau orang-orang sekitar, aku merasakan sense belongness yang begitu super.

I like it here. Well, see you then.


Sunday, October 23, 2011

Mozaik dari Fargo (1): Apapun Hasilnya!

Di depan Union, NDSU
Kalau ada orang bilang: di dunia ini semuanya dapat terjadi, maka siapapun boleh jadi percaya atau juga tidak. Terserah. Monggo.Tapi aku akan memilih untuk percaya. Kenapa? Karena percaya itu gratis.

Apa kita percaya kalau batu bisa jadi uang? Percaya kalau manusia bisa terbang tanpa bantuan apa-apa? Atau tangan kita dapat menyentuh langit? Atau ketika kita bangun pagi lalu rupanya semua orang menunggu anda di luar jendela, karena kita jadi presiden?

Kalaupun itu semua terjadi maka kepercayaan kita dapat pembuktian yang akan membuat kita senang sejadi-jadinya. Kalau tidak terbukti? Buat saja kepercayaan yang lain. Mudah bukan?

Tetapi masalahnya akan timbul kalau kita terlalu banyak kepercayaan. Akan menjadi sampah dalam kepala kalau setiap hari kita membuat kepercayaan-kepercayaan baru. Sebab hidup ini hanya sebentar. Saya memilih-milih mana yang akan ku-percayai, dan aku akan buktikan kepercayaan itu.

Dan, sedari kecil, dunia yang kulihat bukanlah macam istana dalam cerita. Dunia ini bukan dongeng dalam cerita anak-anak yang dapat memberikan segala-galanya. Dunia ini bukan dongeng yang dapat memberikan kita hujan uang, yang dengannya kita dapat menjadi orang kaya.

Tapi yang kulihat adalah kerja keras. Ya, dengan kerja keras, kepercayaan itu akan terwujud. Bagaimana kalau tak terwujud? Ya sudahlah. Memang mau apalagi? Biar Yang Disana yang mengatur.

Pertengahan Oktober 2010
Baiklah, dari kepercayaan saya pindah ke pengalaman. Berawal dari akhir tahun 2010 lalu, tepatnya pertengahan Oktober 2010.

Kampusku, Universitas Paramadina, dibuat heboh dengan selebaran berbahasa Inggris. IELSP atau Indonesia English Language Study Program: sebuah program yang akan memberangkatkan beberapa puluh mahasiswa ke negeri yang tepat berseberangan dengan Indonesia di bumi ini, sebuah negeri yang kini dikenal dengan negeri adidaya, Negeri Paman Sam, The United States of America.

Beberapa kawan sudah siap dengan aplikasinya, lengkap dengan surat rekomendasi yang “heboh”, rekomendasi dari pemuncak-pemuncak kampus, penghuni rekotorat. Beberapa dapatkan rekomendasi dari Pak Wija, beliau adalah, menurutku, orang orang dua di kampus setelah Pak Anies, Pak rektor. Adakah dari Pak Anies? Entah, aku kurang tahu. Mungkin saja.

Aku memutuskan untuk “ikut-ikutan” mengirimkan aplikasi. Aku berencana mengecek website organisasi yang mengelola beasiswa itu. Aku sedikit bertanya pada Fajar, kawan baikku yang waktu itu menjadi “warga negara” DKPM—Direktorat Kemahasiswaan dan Pengabdian Masyarakat.
“Jar, aku ingin ikutan donk! Gimana caranya?” tanyaku.

“Oh, dedlen-nya tiga hari lagi,” jawabnya. Mungkin baginya ini fakta dan memang demikian adanya. Tapi bagiku: Holy cow! Mana bisa aku ikutan?! Aku masih memegang nol besar untuk memulai. Tiga hari? Satu kata: mustahil!

“Memang syaratnya apa?” tanyaku, sekedar meredam kekecewaan.

“TOEFL. Minimal 450,” jawabnya.

“Memang kapan ada tes TOEFL?”

“Minggu depan.”

Oh, deadline hanya tiga hari lagi, dan salah satu syaratnya baru bisa kupenuhi minggu depan? Rupanya, bukan meredam, ini malah menggandakan kekecewaan. Ini rupanya benar-benar juga menutup pintu kepercayaanku untuk ikut serta.

Berkabung, tapi hanya dalam pikiran. Sepulang dari kampus, aku, seperti biasa saling sapa dengan kawan-kawan di asrama 33b. Istirahat sejenak di ruang tamu sambil menyaksikan siaran TV kabel yang kami pasang beberapa bulan lalu. Kami bisa menyaksikan banyak siaran TV dari dalam dan luar negeri. Yang paling laris adalah “Star World”. Beberapa kawan seperti dibuat ketagihan dengannya.

Baiklah, kembali topik semula. Menjelang malam, aku buka laptop-ku. Tujuan utama: facebook. Kau tahu apa nyawa dari facebook? Notification. Tanpa itu, facebook serasa barang mati yang tak sedap dipandang. Maka dari itu, mari meramaikan notification. Tapi, terserah juga, karena terlalu banyak akan membuat orang malas, dan: apapun yang berlebihan itu bukanlah hal yang baik, bukan?

“Eko, kau ikut IELSP?” tanyaku pada Eko yang kebetulan melintas. Ia salah satu kawan penggila “Star World”.

“Iya. Ikutan. Lha, elo ngga tahu?,” jawabnya mudah.

Aku mulai menanyai beberapa kawan. Ternyata beberapa dari mereka telah siap dengan form aplikasinya, lengkap dengan surat rekomendasi dan nilai TOEFL. Beberapa dari mereka sudah ada yang mendaftar. Dari asrama 33b, kukira ada sekitar tiga atau orang yang ikut seleksi. Fajar ada di asrama lain, asrama 25. Cuma dia yang mendaftar dari asrama itu.

Dang!

Ya Allah, kalau memang bukan kesempatanku, tolong redam rasa kecewaku ini! Kalau memang ada kesempatan, tunjukkan pada hambamu ini jalan yang terbaik. Begitu doaku kala itu.

“Rosyid, coba kau cek website aminef,” Eko tiba-tiba beri tahu. “Aku tahun kemarin daftar Global Ugrad di sana. Mungkin masih ada waktu.”

Aku buru-buru “bertanya” pada “Mbah Gugel”. Aku coba cari website aminef dan kukerahkan segenap kekuatan untuk mencari apa itu Global Ugrad. Setelah beberapa kali upaya, akhirnya kutemukan juga. Global Ugrad adalah kependekan dari Global Undergraduate Exchange Program, sebuah beasiswa bagi mahasiswa Indonesia untuk belajar tentang pendidikan dan segala aspek kehidupan di US. jenjang waktunya bisa satu semester atau satu tahun akademik.

Deadline-nya kapan? Itu pertanyaan yang jawabannya harus kutemukan.

Dua minggu lagi. Tepatnya 1 November 2010.

Apa syaratnya? Pertanyaan kedua.

Dari semua syarat seperti beberapa lembar form aplikasi yang harus aku isi, essay, surat rekomendasi dari dosen, dapatlah aku penuhi. Tapi rasanya seperti disambar badai ketidakpastian: sayaratnya adalah ijasah SMA dan surat rekomendasi dari guru SMA. Kau tahu kenapa ini mengejutkan? Aku butuh hampir sehari semalam untuk mencapai kampung halamanku, Blitar.

Aku biasa menggunakan kereta Matarmaja untuk pulang. Berangkat jam 2 siang dari Stasiun Pasar Senen, aku akan sampai esok pagi di Blitar dengan waktu yang tidak tentu, tapi kira-kira aku akan sampai jam 7 pagi. Kau tahulah bagaimana transportasi negeri ini. Bagus bukan? Siapa dulu donk yang mengurusi?!

Sesampai di rumah, aku akan butuh waktu berjam-jam untuk istirahat dan tidur karena perjalanan benar-benar melelahkan. Dalam kereta, hanya ada tempat duduk dengan sudut sempurna 90 derajat. Dan aku duduk begitu selama perjalanan. Menarik bukan?

Baik, aku hanya punya waktu dua minggu. Sempat tumbuh rasa ragu dalam benakku. Sebab, pulang pergi Jakarta-Blitar bukanlah hal yang mudah untuk dijalani. Selain itu, aku sadari: ini kesempatan ke USA.

Ini bukan kesempatan seharga permen yang setiap orang bisa dapatkan. Akan banyak mahasiswa yang mendaftar, ratusan mungkin, dan aku satu dari, katakan 500 orang yang mendaftar. Dalam benak: mustahil tak mustahil!

Tapi rupanya sisa waktu yang ada, dan sebenarnya juga tak lama, diam-diam menjadi harapan terakhir yang kumiliki. Ini adalah kesempatan ke negeri adidaya, USA. Kalau tidak di coba, mana tahu hasilnya. Aku bangun kepercayaan dalam diriku. Sedikit demi sedikit.

Kalau gagal? Setidaknya aku sudah mencoba. Akan ada pelajaran dari sana. Sedikit demi sedikit, kepercayaanku memadat. Bagaimana kalau menyesal? Itu takdir, tak aka nada penyesalan di awal. Lagipula, gagal setelah mencoba setidaknya lebih punya martabat daripada diam dan tak berbuat apa apa.

“Ibu, saya ingin daftar beasiswa ke USA?” aku telpon ibuku.

“Apapun yang jadi keputusanmu, ibu cuma bisa mendoakan yang terbaik buatmu,” jawab beliau. Pelan.

Kini aku percaya, benar-benar percaya. Apapun hasilnya! Allah tahu yang terbaik buat makhluk-nya.

Pertengahan Agustus 2011
Hari orientasi dimulai, 17 Agustus 2011. Aku bersama Jean Max, mahasiswa asal Haiti, berangkat bersama menuju Memorial Union. Tempat ini adalah semacam students center dari North Dakota State University (NDSU).

Sesampai di Union, begitu kami menyebut Memorial Union, aku bertemu dengan mahasiswa dari berbagai negara. Ya, itu hari pertama orientasi untuk mahasiswa internasional di NDSU. Aku bertemu dengan banyak orang dengan macam-macam bahasa.

Aku lihat banyak bahasa berbeda mereka gunakan, pula warna kulit berbeda-beda. Aku tak tahu mereka bicara apa. Jujur, ini pertama kali aku berada dalam situasi seperti ini.

Sesuai dugaan, kulihat ada banyak mahasiswa dari India dan China. Ini terlihat dari bagaimana mereka berbicara dan mengelompok. Natural saja kalau mereka akan mengelompok dengan yang mereka sudah kenali dan dapat berbicara satu dengan lain. Kukira, sebagai calon negara maju, sudah tentu mereka banyak mengirimkan mahasiswanya ke luar negeri, salah satunya ke USA. Aku juga banyak, ini di luar dugaan, melihat mahasiswa dari Korea. Apapun, aku sungguh tak mengerti apa yang mereka bicarakan.

Aku datang dengan kemampuan berkomunikasi dalam Bahasa Inggris yang super minim. Aku akan katakan: bahasa bukan hanya soal tulisan, tetapi tentang bagaimana menggunakannya dalam keseharian. Ini persoalan yang berbeda sekali.

Di Indonesia, aku sangat jarang menggunakan bahasa ini. Dan, ding-ding! Di hari pertama orientasi ini, aku seperti orang hilang yang tak tahu harus berbicara apa jika perlu sesuatu. Setiap orang berbicara dengan cepat, ini benar-benar di luar dugaan. Dan, “kelangkaan” kemampuan berbicara sungguh-sungguh berjung pada isolasi diri yang benar-benar membuat sakit kepala.

Minggu pertama di Fargo, di NDSU, aku adalah orang dari planet lain yang tak tahu bagaimana berkomunikasi. Bahkan, sebenarnya ini masih Ramadhan, seharusnya aku berpuasa. Tapi aku benar-benar frustasi. Jujur, aku ingin pulang kembali ke Indonesia. Aku tak puasa. Di hari pertama orientasi, aku: orang hilang di Fargo.

Jazz Muhammad (Global Ugrad Indonesia)
78 Niskanen Hall, NDSU
Fargo, ND, USA





Sunday, June 26, 2011

Bumiputera dan Balada Asuransi Kita

Bu Zaid (44) dengan polis asuransinya (dok. pribadi)
Bu Zaid (44) adalah ibu rumah tangga bersuami tukang servis mesin jahit. Sebagai pengurus rumah tangga, ia sekaligus manager bagi usaha suaminya. Meski begitu, “Saya asuransikan (pendidikan) anak saya di Bumiputera,” ucapnya. Untuk pendidikan puteranya, Ibnul (10), Bu Zaid berasuransi pendidikan lewat AJB Bumiputera cabang Kota Blitar.

Fakta itu boleh-jadi biasa saja terdengarnya. Tetapi adanya perkaitan dengan asuransi, membuat siapapun akan bertanya: Apa dan mengapa asuransi? Bagaimana bisa istri tukang servis mesin jahit di kota kecil itu bisa berasuransi?

Bermula, berkembang, dan bertumbuh
Pada masa Hindia Belanda, 1912, M Ng Dwidjosewojo—seorang guru Bahasa Jawa di Kweekschool Yogyakarta—mendirikan Persatuan Guru-guru Hindia Belanda (PGHB). Ia menggagas dibuatnya asuransi karena prihatin akan nasib guru-guru bumiputera. Majalah Tempo (2008) menulis, pada kongres I PGHB, 12 Februari 1912 di Magelang, terbentuk sebuah badan usaha bernama Onderlinge Levensverzekering Maatschappij PGHB “Boemi Poetera” (O.L. Mij. PGHB) yang merupakan cikal bakal AJB Bumiputera dan peletak batu pertama perasuransian di bumi Nusantara ini.

Kini, hampir seabad sudah industri asuransi bermula, bertumbuh, dan berkembang di Bumi Pertiwi ini. Dari Hindia Belanda hingga menjadi Indonesia, industri ini alami pasang surut ketika badai krisis menghantam-hantam. Namun pada 2010, pendapatan premi industri ini telah capai Rp115 triliun (Kompas, 2011), naik dari tahun sebelumnya, yakni Rp 91 triliun.

Namun demikian, pada kenyataannya kontribusi asuransi pada PDB negara ini, menurut Bapapem LK, hanya sebesar 2,29 % (2009), angka yang minim mengingat vital-nya peran asuransi pada masyarakat.

Kompas (2011) mencatat bahwa sebenarnya asuransi memiliki tiga peran penting. Pertama, asuransi sumber pembiayaan pertumbuhan. Pendapatan dari asuransi tentu akan mendorong hidupnya perekonomian. Pendeknya, makin banyak orang berasuransi, makin baik iklim ekonomi kita.

Kedua, asuransi mendorong budaya perencanaan keuangan. Asuransi dapat membantu perencanaan pembiayaan kejadian-kejadian yang memang perlu pendanaan mendadak. Terakhir, asuransi sudah pasti menjadi tempat berkarier tenaga kerja. Sebab, nyatanya pada industri ini bernaung ratusan ribu agen asuransi. Namun perlu diingat bahwa asuransi adalah produk absurd; yang dibeli konsumen adalah ketenangan hidup. Maka dari itu, kepercayaan dan integritas menjadi tumpuan utama perkembangannya.

Hingga 2011, Asosial Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) mencatat bahwa pemilik polis asuransi di Indonesia adalah 14 % dari total penduduk. Jumlah agennya mencapai 350.000. Namun, AAJI memunyai target bahwa hingga 2015, pemegang polis akan capai 50%. Selain itu, pada 2012, jumlah agen menjadi 500.000.

Perkembangan ini tentu harus ditanggapi opotimistis oleh segenap elemen bangsa. Kontribusi potensial asuransi sudah harus ditangkap momentumnya, jangan sampai empas, digulung waktu begitu saja.

Bila dibanding negara lain, Indonesia belum bisa berbangga. Malaysia telah mencatatkan 41 % penduduknya sebagai pemegang polis. Sementara Singapura lebih tinggi dan fantastis: 250 % (Kompas, 2011)! Memang ini tak bisa-jadi perbandingan begitu saja, tapi melihat perbandingan sebagai pemacu bukanlah kesalahan, bukan?

Siapa berasuransi?
Perkembangan industri asuransi di negeri ini tentu tak bisa dilepaskan dari pemulanya: AJB Bumiputera. Pada tahun ini, perusahaan ini sudah hampir seabad perkembangannya. Pada pengujung abad 20, ketika krisis menghantam, perusahaan ini sempat goyah. Kompas.com menulis, pada 2008 pendapatannya sekitar Rp 276 miliar turun dari tahun sebelumnya: Rp 403 miliar.

Namun demikian, konsistensinya menjaga layanan terbaik menjadikan perusahaan sebagai real survivor di industrinya. Hingga pada 2011, AJB Bumiputera mendapatkan gelar The Greatest Brand of The Decade 2010 dan predikat Top Brand 2011 (Marketing, 2011).

Peran penting hingga potensi-potensi asuransi tentu menyadarkan kita: Asuransi memiliki peran mulia yang perlu dimaksimalkan. Kalau begitu, siapa yang dapat berasuransi? Siapapun! Dari tukang ojek hingga presiden, dari istri tukang servis mesin jahit hingga istri anggota dewan pun dapat berasuransi.

Kini, perkembangan AJB Bumiputera dan industri asuransi yang dirintisnya akan menghadapi masa-masa se-abadnya. Kembali, apa dan mengapa asuransi? Pembaca budiman sendiri yang dapat menentukan.

Akhirnya, “Soal pendidikan putera saya, berasuransi setidaknya menjamin dan menenangkan, meski tak bisa sepenuhnya. Sebab ya tetap Tuhan yang tahu masa depan, Mas,” ujar Bu Zaid pada saya.

(Tulisan ini sekaligus diikut-sertakan dalam Lomba Menulis Artikel Asuransi dalam rangka memperingati se-abad AJB Bumiputera 2011)


Friday, May 20, 2011

Tahayul Modern

(baltyra.com)
Eh, sepatu merek ini nih lebih keren
Ayo makan ke sana, lebih prestis lah
Aih, merek apa ini bajumu?

Pernah saya menulis soal “Gengsi itu mahal”. Ya memang demikian, untuk memenuhi gengsi, tak jarang kita spend uang cukup banyak dari yang seharusnya. Demi sebuah brand tertentu, kita rela mengantri berjam-jam dan membuang waktu begitu saja dengan penantian yang membosankan (tapi mungkin menyenangkan bagi yang suka). Untuk makan saja, pakai naik taksi ke mall yang cukup jauh. Ya ngga ada yang salah sih, toh juga uang-uang kamu. (Sirik lho Jazz?) Ya kagak sih.

Tapi mari sejenak melihat sesuatu jauh lebih mendalam, sedikit jauh ke depan.

Dalam ilmu marketing, brand atau merek adalah keluaran paling terakhir dari sebuah proses bisnis. Dari mulai produksi hingga penjualan, brand adalah ujung tombak apakah produk itu sukses atau tidak. Dan kenyataannya, seringkali brand inilah yang membedakan produk satu dengan yang lain. Padahal isi dan fungsi, dan perlu-nya sama saja.

Orang-orang banyak yang tertipu dengan brand ini. Karena berbeda merek saja, sudah ngga mau pakai. Karena merek tertentu, sebuah barang ‘dipersepsikan’ lebih baik dari yang lain. Karena merek tertentu, seseorang mau membayar harga jauh lebih tinggi. Karena merek tertentu, seseorang merasa lebih pe-de. Dan karena merek tertentu, seseorang merasa harga dirinya lebih baik!

Kalau tidak celana merek ini, ngga keren. Kalau bukan kaos merek ini, ngga gaul. Lalu kalau ngga pernah makan di sini, berarti ndeso. Kalau motornya bukan merek ini, jadinya kurang gagah, apalagi kalau ke kampus naik bis, wadoww, kuno banget sih. Kalau ke sekolah naik sepeda, widiihh, ketinggalan jaman loe….

Apalagi, iklan-iklan TV dan media lainnya pun seperti mendukung. Benar-benar memborbardir rasio kita dalam hidup dengan tampilan-tampilan produk yang membuai.

Susah juga sebenarnya. Bagi saya yang kantongnya tipis-tipis, kalau nurutin itu semua ya bisa babak belur-lah. (Ah, elo Jazz, cari pembelaan kan lewat tulisan ini ‘kan?) Eits tunggu dulu men!

Sebenarnya, kalau saya sih cuek aja. Rasa minder pasti ada ketika kita tidak bisa memakai produk dengan brand yang umum dipakai. Tentu kita mengerti bahwa harga diri yang hakiki tidaklah ditentukan apa yang ada menempel di diri kita, apa atribut yang kita punya, anak siapakah kita, dan merek motor apa yang kita pakai.

Yang membuat kita berharga adalah perilaku dan jasa-jasa kita, bukan yang untuk diri kita saja, tapi kepada lingkungan dan orang-orang sekitar kita. Kadang sibuk mempercantik diri, sibuk dengan baju apa yang harus dipakai, motor apa yang harus dibeli, atau tempat makan mana yang mau disambangi, tapi kita lupa untuk mempercantik perilaku.

Kata Cak Nun, ini nama tahayul modern. Tahayul adalah sesuatu yang tidak rasional. Tahayul tak hanya soal main 'jailangkung', atau 'pocong versus kuntilanak' (film itu mah, Mas). Tapi masalah apapun yang tidak rasional di dunia ini. Kalau iman, Mas? Ya, kalau soal akidah itu lain-lah, saya bukan bahas itu, kedaleman itu, Bos.

Kegalauan seseorang karena tidak bisa pakai baju merek ini, atau rasa rendah dirinya karena tidak bisa makan di tempat tertentu adalah pikiran yang tidak rasional. Makan mah makan aja, pakai baju mah ya yang penting rapi dan sopan. Tapi, memang itulah tahayul modern, yang membingungkan dan memang tercipta untuk tidak masuk akal.

Saya tetap terkesan dengan hidup Gus Dur. Orangnya sederhana, dandanannya sangat tidak modis, tapi bisa-bisanya orang dari berbagai jurusan (eitss, emang angkot apa?!), agama, suku, bisa simpati kepada beliau. Penampilan memang perlu tapi janganlah itu jadi titik pusing dalam hidup ini. Pusingkan perilaku kita yang sering kali bikin orang sebel, juga kontribusi kita yang terlampau sedikit pada negeri ini… (Iya sih, gue kan makan dari sawah petani sini, minum dari air gunung sini, tapi ngga tau yah kalau impor semua itu.. he-he)

Merek memang membuat orang kehilangan rasionalitasnya dan masih banyak tahayul modern lainnya. Mau-mau?

Saturday, April 16, 2011

Segenggam Pasir di Tanah Letih…

ini aku (dok. mas arief tito)
Keep highly motivated to see the world

Rasanya, banyak sekali orang yang sukses di dunia ini. Nama mereka pun banyak tercatat dalam ingatan orang-orang. Salah satu yang mengingat itu tentu aku sendiri. Aku ingat nama Aristoteles, Yesus, Muhammad, Ibnu Sina, Isaac Newton, Alexander Graham Bell, Soekarno, hingga tokoh-tokoh kontemporer saat ini: Mark Zuckerberg, hingga Sandiaga Uno.

Mereka, dan masih banyak lagi, adalah orang-orang yang umumnya selalu meleka padanya satu frasa: orang sukses. Dengan capaiannya masing-masing, mereka memukau publik dengan gilang-gemilang usaha mereka yang berbuah manis. Bukan hanya itu, dari hasil itu semua, mereka menginspirasi dunia! Orang-orang menjadikan mereka kiblat jejak langkah setiap upaya-upaya. Namun, satu hal yang menjadi penting untuk dipelajari adalah: mereka sukses di bidangnya masing-masing. Sukses itu sesuai passion!

Lalu aku? Dari banyak tokoh yang ku-sajikan di depan, rasanya diri seperti debu di tengah angkasa raya. Bukan hanya tak berarti, tapi juga tak laku untuk jadi bahan pembicaraan. Tapi apakah sejatinya itu kesuksesan? Sebuah hasil pembandingan apa yang ku-capai dengan yang mereka capai?

Bumi Bung Karno
Baiklah, di depan, aku mengutip sebuah ungkapan yang hingga kini masih menempel kuat di benakku. Kira-kira itu artinya: tetaplah punya motivasi tinggi, kamu akan melihat dunia! Itu diucapkan oleh dosenku beberapa waktu lalu.

Dari ungkapan itulah, sebenarnya, aku ingin berbagi di sini. Apa yang ingin aku bagikan? Setidaknya, aku punya cerita menarik tentang kehidupanku sendiri. Aku pun punya motivasi dalam hidup ini yang dapat ku-bagikan. Sesungguh-sungguhnya, di tengah derasnya arus berita-berita bernada pesimisme, semoga ada sedikit berita baik dalam apa yang ku-sampaikan.

Sebuah kota kecil berjuluk Bumi Bung Karno menjadi tempat aku mulai menatap dunia. Ibu melahirkanku sebagai seorang anak laki-laki 20 tahun lalu. Tak ada yang istimewa dari keluargaku. Ayahku adalah seorang wirausahawan. Ia seorang tukang servis mesin jahit. Rendahan kedengarannya, memang. Tapi dengan itu, kami mandiri. Itu yang membuatku bangga padanya hingga kini. Ibuku sendiri adalah ibu rumah tangga. Seseorang yang menjadi manajer dalam keluarga kami. Dan saya sendiri lahir di kota kecil itu, Blitar namanya, sebagai seorang anak yang bernama Muhamad Rosyid Jazuli.

Sedikit perkenalan masa kecil itu semoga memberi gambaran bahwa bisa-jadi tak ada yang bisa aku sombongkan dari duniaku. Aku dibesarkan di suasana kesederhanaan keluarga. Bahkan, di kemudian hari, keluarga kami dikaruniai empat anak, dan aku-lah yang pertamanya. Aku akhirnya memiliki tiga adik. Inilah kehidupan keluargaku, enam orang yang selalu penuh semangat kemandirian mengarungi samudera kehidupan, menyongsongi setiap tantangan yang boleh-jadi tiap waktu datang.

Tabir masa
Tentunya setiap orang punya jalan hidup pendidikannya masing-masing. Aku pun demikian. Aku jalani waktu pendidikan sebagian besar di kotaku. Ketika aku lulus dari TK al-Hidayah, ku-lanjutkan proses belajar di SD Islam Sukorejo. Kemudian aku memilih SMP Negeri 2 Blitar untuk menempuh masa pendidikan menengah yang pertama. Cukup baik hasil yang aku capai saat itu: aku menjadi peraih NEM tertinggi se-SMP.

Pendidikan menengah aku lanjutkan dengan duduk di bangku SMA Negeri 1 Blitar. Lokasinya cukup jauh, hampir dua kali lipat jarak rumahku ke SMP. Aku hanya memiliki sepeda butut bekas yang dibelikan ayah ketika aku kelas 4 SD. Dan sepeda itulah yang terus membantuku sampai di tempatku belajar, tempatku menyemai benih masa depan.

Semangatku bersekolah sebenarnya tak bisa dikatakan terlalu tinggi. Makna pendidikan di daerahku bukanlah hal yang menarik untuk jadi pembahasan, kalah dari hiruk pikuk pemilukada atau juga bola dengan perebutan kelasemennya. Tapi kemudian seorang guru menyadarkanku: “Pendidikan itu adalah pembuka tabir kehidupan, tabir tentang masa depan juga masa ke belakang. Tanpa itu, kamu hanya akan jalan di tempat sambil tidak menyadari kalau zaman telah jauh berjalan, atau mungkin berlari…”

Ketika SMA, aku mulai bersentuhan dengan dunia organisasi. Ku-putuskan untuk bergabung dengan IPNU (Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama). Ku-mulai karyaku di organisasi itu mulai dari ranting di kelurahan-ku, PR (Pengurus Ranting) IPNU Pakunden. Saat itu aku mejadi wakil ketua. Beberapa kali aku ikut serta dalam acara rutinan. Bagiku acara itu sederhana sekali: berkumpul, melingkar, duduk-duduk, bicara satu tema lalu entah arah selanjutnya ke mana. Akan tetapi, itulah basis persaudaraan yang nyata dan tentunya benar-benar menyatukan rasa kebersamaan antar-anggota.

Kalau boleh sedikit berbagi, IPNU ini merupakan organisasi yang bergerak untuk membangun benih-benih muda generasi bangsa yang punya akar di masyakarat. Kami di IPNU juga terus mengembangkan jangkauan sebaran moderasi dalam paham keagamaan, Islam, di kalangan anak muda. Kami tanamkan pada mereka untuk punya kebanggaan pada agama dan bangsa pada satu garis, satu visi dan satu mimpi: perdamaian dan kemanusiaan.

Satu periode berjalan, aku pindah ke pengurusan yang lebih tinggi tingkatannya, tingkat cabang (kota). Usai konfercab (Konferensi Cabang), aku ditempatkan di posisi bendahara. Aku sungguh menikmati masa-masaku saat itu. Sayang, belum lengkap satu periode berjalan, aku harus meninggalkan organisasi itu karena sesuatu. Aku, kebetulan, dapat beasiswa untuk melanjutkan studi sarjanaku di Jakarta.

Persimpangan
Di dalam SMA sendiri, aku pernah merasakan bagaimana menjadi pemimpin organisasi kesiswaan tertingggi. Aku pernah menjadi ketua OSIS. Banyak hal tentunya aku dapat ketika itu: pengalaman memimpin, mengelola, dan berdinamika di dalam organisasi. Sungguh pengalaman yang tidak akan pernah aku lupakan. Sebuah pengalaman yang menjadi titik balik kehidupanku saat itu.

Aku yang dahulunya kepalaku penuh sesak dengan rasa minder, berubah hampir seratus delapan puluh derajat menjadi pribadi yang cukup punya rasa percaya diri menghadapi kehidupan. Belajar untuk bernegosiasi dengan orang lain adalah momen yang bagiku paling membekas hingga kini. Dealing with others merupakan pelajaran paling berharga dalam organisasi. Dinamikanya seperti memasak matang-matang mental orang-orang yang terlibat di dalamnya, sejauh tidak menjadi free ride. Lagipula, secara historis, dari organisasi pula putra-putra bangsa negeri ini memulai perjuangannya menempuh jalan terjal menuju kemerdekaan.

Selepas SMA, kelanjutan studiku berada pada titik yang cukup gamang. Semangat untuk terus belajar rasa-rasanya tak ada surutnya. Lagipula, kalau aku berhasil kuliah, aku-lah anggota pertama keluargaku yang dapat mencicipi atmosfer perkuliahan. Harapanku tentu cukup besar, tapi nyatanya itu berbenturan dengan kenyataan bahwa kami tak punya kecukupan biaya untuk sekedar biaya masuknya saja. Mulailah aku berada pada persimpangan.

‘Kantong’ keluarga kami pun cukup perlu banyak pertimbangan untuk dirogoh koceknya hanya untuk sekedar ikut seleksi masuk. Sudahlah diketahui kalau sekarang, baik kampus negeri maupun tak negeri, sama saja mahalnya, bukan hanya saat kuliah, tetapi juga ketika calon mahasiswa akan mengikuti tes. Betapa ‘gila’-nya sebuah universitas negeri (tepatnya institusi teknik) saat itu sudah mematok harga formulir masuknya saja mencapai 400 ribu (bagi beberapa orang, angka ini mungkin ‘lumrah’, tapi bagi kebanyakan sudahlah tentu ini memberatkan; rasanya aku berani bersumpah demi apapun!).

Aku terus memutar otak. Tak mungkin momen bahwa keluargaku akan punya satu anggotanya yang dapat kuliah terlepas, empas begitu saja. Akhirnya aku dapat jawaban: beasiswa. Sekiranya hanya itu jalur yang mungkin (kemungkinannya pun masih dipertanyakan) untuk aku ikuti.

Aku mengorek informasi lewat dunia maya. Aku sering keluar-masuk warnet hanya untuk menjelajah, mengais kesempatan yang mungkin bisa aku coba raih. Ketika tak mendapatkan apa yang kucari, rasanya jalan-jalan yang menyimpang makin banyak dan makin membingungkan: mau apa sebenarnya aku ini?

Di tengah kegamangan itu, aku terus ingat kata-kata guruku: tanpa itu (pendidikan), kamu hanya akan jalan di tempat sambil tidak menyadari kalau zaman telah jauh berjalan, atau mungkin berlari… God! Aku tak mau tertinggal!

Jadilah kutemui beberapa kesempatan program beasiswa di beberapa kampus. Kutemukan sebuah nama yang boleh-jadi aneh waktu itu: Paramadina Fellowship. Itu adalah sebuah program beasiswa penuh untuk anak-anak negeri ini, untuk melanjutkan studinya di jenjang perkuliahan, di Universitas Paramadina (jujur saja, waktu itu nampaknya semua masih bergelayut keraguan, perihal diriku sendiri, juga pandanganku pada program tersebut).

Kupaksa diriku sendiri untuk lengkapi segala persyaratannya. Formulirnya yang belasan lembar rasanya memang memusingkan. Namun mau apalagi? Ku-minta dua guru paling visioner ku untuk memberikan surat rekomendasi. Salah satunya Tatik Sensei (Jepang: (Bu) guru Tatik), yang terus memberiku motivasi sebagaimana kusampaikan sebelumnya. Essai kubuat sesungguh-sungguhnya, sehati-hatinya (aku membuatnya memakai pensil dulu, lalu kutebali, setidaknya agar tak ada coretan).

Kawan, kini, aku telah berada di Jakarta, pusat atmosfer negeri ini. Aku berhasil dapatkan beasiswa Paramadina Fellowship seketika aku lulus dari SMA 2008 lalu. Sekarang aku kuliah di Universitas pemberi beasiswa itu, aku belajar di jurusan Manajemen. Hanya syukur kepada Tuhan yang bisa aku sampaikan. Beasiswa itu telah membiayai seluruh kebutuhan kuliahku. Biaya kuliah selama empat tahun, biaya buku pun, alhamdulillah, sudah menjadi tak menjadi beban pikiranku. Bahkan uang saku aku juga dapatkan. Yang paling penting tentu: janjiku akan adanya anggota keluargaku yang dapat kuliah terbayar!

Aku dapat kejutan lain di Jakarta. Karir organisasiku di IPNU ternyata juga masih berlanjut. Aku mendapat kesempatan untuk bergabung dengan kepengurusan Pimpinan Pusat (PP IPNU) untuk periode tiga tahun mendatang (2009-2012). Dengan ini pula, kesempatan untuk menebarkan ‘jalan-jalan moderasi keumatan’ pun menjadi lebih luas.

Sementara, aku juga berkesempatan menjadi duta bagi universitasku pada 2010 lalu. Layaknya duta pada umumnya, adalah tugasku menyampaian berita baik dari dan ke dalam universitas. Tapi tentunya, secara kultural, aku juga duta bagi organisasi tempatku bernaung, PP IPNU.

Segenggam pasir
Kukira apa yang kuraih selama ini bisa aku anggap sebuah prestasi. Tapi, tentulah tak perlu dibanggakan, sebab sudalahlah disadari masih banyak orang yang jauh memiliki prestasi di luar sana. Aku yakin kebanggaan diri dan kesombongan hanya menutup hati yang berujung pada ketinggian hati. Sebuah sikap yang sangat di benci masyarakat, hati nurani pun sebenarnya juga tak menyukainya sama sekali.

Just keep highly motivated, you will see the world, kata-kata ini masih kuat menempel di benakku. Tapi dari itu semua, sepertinya menarik untuk menilik pernyataan seorang bijak: Kesuksesan bukanlah hasil pembandingan antara capaian kita dengan capaian orang lain, tapi perbandingan antara capaian itu dengan apa yang menjadi rencana kita…

Capaianku ini hanya sekedar pasir barang segenggam untuk membangun peradaban. Membaginya, kukira akan lebih banyak cerita kesuksesan lain yang lebih menarik, berbobot, dan penuh motivasi. Genggaman pasirnya tentu akan makin banyak dan makin melimpah untuk modal membangun sebuah peradaban hidup yang gilang-gemilang.

Jakarta, kota yang letih, ini kini menjadi rumah sementaraku. Entah setelah ini mau kemana? Tapi semoga Tuhan tetap memberkahi jalanku, jalan kita semua yang tetap menggenggam mimpi untuk berbuat yang terbaik, bukan buat diri sendiri, tetapi untuk semuanya: keluarga, kawan, bangsa dan negara… (*)


Muhamad Rosyid Jazuli (Jazz Muhammad)
Selesai 29 Maret 201, di Perpustakaan kampus Paramadina

Monday, March 7, 2011

Yang Syariah, yang Gaul Juga…

Eko dan ATM bank syariah-nya
Penampilannya nyentrik, dengan hanya berkaos oblong putih polos. Kadang juga pakai polo-shirt yang sedikit body-fit. Tatanan rambut sudah pasti ala masa kini dan kadang di-kerukup dengan topi gaul ala Mao Zedong. Celananya? Celana jeans tiga perempat sepertinya rutin ia pakai untuk hang-out, kecuali pas kuliah. Ia adalah Eko saputra.

Beberapa hari lalu saya sedikit terlibat diskusi dengannya. Mahasiswa Jurusan informasi dan teknologi (IT) di Universitas Paramadina ini secara umum, dari kenampakannya, sudahlah jelas kalau bisa dibilang: anak gaul masa kini. Ia akui bahwa berbusana yang up-date itu wajib. “Biar ngga ketinggalan jaman-lah gua ni,” ungkapnya lengkap dengan logat Jakarta yang kental dengan elo-gua-nya.

Ia juga teman saya sendiri di kampus yang sama. Namun, kami berbeda jurusan. Tentu anda bertanya-tanya, sebenanrnya saya ini mau nulis apa sih? Baiklah, yang jelas apa yang ingin saya sampaikan saya yakini ada manfaatnya.

Nabung kemana?
Dari diskusi yang serampangan itu, sampailah kami pada satu topik: menabung. Kami sadar bahwa menabung adalah aksi penting dalam hidup ini, apalagi di masa kami yang muda ini. Pertanyaan pun bergeser: kemana menabungnya? Itu pertanyaan saya pada Eko.

“Bank Syariah Mandiri. Elo?” saya tidak segera jawab. Melihat tampilannya, saya kira tak ada potongannya anak ini menabung di bank syariah. Tebakan saya sebelumnya adalah Bank Mandiri, atau BCA, atau BNI dan mungkin bank konvensional lainnya.

Tapi memang demikian kenyataannya. Ia tunjukkan pula buku tabungan dan kartu ATM-nya. “Nih, kalau ngga percaya…” tegasnya. Rupa-rupanya ia menangkap keraguan saya.

Keraguan saya tentu bukan tidak punya pijakan. Bahasa ilmiahnya, saya tentu punya referensi untuk meragu. Bank syariah selama ini adalah bank “percil” yang muncul untuk golongan tertentu. Mereka yang masuk bank syariah adalah yang berjenggot tebal, pakai kopyah yang laki-laki, dan berjilbab panjang, atau perlu pakai cadar sekalian bagi yang wanita. Ini adalah bank eksklusif dan untuk orang-orang tertentu saja. Tak ada tempat untuk orang-orang kantoran, pejabat, pengusaha, sampai anak gaul untuk ikut-ikutan bank syariah.

“Gua juga pake e-banking ama mobile-banking-nya… gimana-gimana?” tambah Eko lagi.

Setelah berjumpa dengan Eko, setidaknya saya mulai sedikit menggeser pandangan saya pada bank syariah ini. Penelusuran saya pun saya lanjutkan dan memang kenyataan persepsi saya bukanlah salah, tetapi itu tidak representatif.

Tengok sejarah
Di dunia perekonomian, sepak terjang bank syariah, menurut Hartono Sudiro—dosen mata kuliah bank dan lembaga keuangan di Universitas Paramadina—bermula di Mesir yang digawangi oleh Ahmad El Najjar pada 1963. Sampai 1967 bank syariah di dunia telah ada 9 unit. Perkembangan bank syariah terus bergulir hingga berdiri bank-bank lain di tempat lain pula seperti Islamic Development Bank (1974) oleh OKI, Dubai Islamic Bank (1975), Faisal Islamic bank of Egypt (1977), dan Faisal Islamic Bank of Sudan (1977).

Di Indonesia, Bank Muamalat hadir sebagai pionir perbankan syariah pada 1991 dengan dukungan Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan Ikatan Cendekiawan Indonesia (ICMI). Sistem perbankan syariah pun segera dilegalisasi dengan dikeluarkannya UU no. 10 / 1998 yang menggantikan UU no. 7 / 1992. Undang-undang tersebut menjelaskan bahwa bentuk bank di Indonesia ada dua: bank umum dan bank perkreditan rakyat (BPR). Sistem yang digunakan ada dua pula: konvensional dan syariah. Jadi bank umum bisa syariah atau konvensial, pun demikian pada BPR.

Perkembangan perbankan syariah kian pesat hingga pada 2010 kemarin, jumlahnya cukup banyak. Harian Republika (25/11/2010) memberitakan bahwa bank umum syariah (BUS) di Indonesia telah mencapai 11 bank, di antaranya adalah Bank Muamalat Indonesia, Bank Mandiri Syariah, Bank Mega Syariah, BNI Syariah, Bank Jabar Banten Syariah, Maybank Syariah. Sementara, unit usaha syariah (UUS) mencapai 23 bank. Sebagai contoh UUS adalah BRI Syariah, Bank DKI Syariah, BII Syariah, Bank Danamon Syariah, dll. Dan, jumlah BPR Syariah telah mencapai 146 bank.

Pertambahan asetnya juga kian mengesankan sebuah perkembangan yang menjanjikan. Aset bank syariah berkisar 86 trilliun hingga Oktober 2010 sementara proyeksi Bank Indonesia (BI), aset ini akan mencapai 125 trilliun pada 2011 (tempointeraktif.com, 2011). Jumlah nasabahnya pun pada akhir 2010 telah menapai 6,5 juta jiwa (surabaya.detik.com, 2010)

Slogannya menarik: beyond banking (lebih dari sekedar bank). Bank syariah hadir memberi alternatif sistem perbankan yang ada, yakni konvensional. Dengan sistem bagi hasil-nya, memberi semacam jalan baru untuk perbankan negeri ini. Kecanggihan teknologi pun telah bersentuhan dengan perbankan syariah ini. Seperti diuangkap Eko, fasilitas e-banking, bahkan mobile-banking sudah menjadi layanan bank-bank syariah dewasa ini.

Dengan rata-rata perkembangan mencapai 33 persen selama lima tahun ke belakang, tentu potensi perkembangan sistem alternatif ini menjadi sangat menarik dijadikan bahan diskusi (Republika, 2010).

Rangkuman strategi bertajuk Grand Strategy Pengembangan Pasar Perbankan Syariah pun disiapkan oleh BI melalui Komite Perbankan Syariah Direktur Direktorat Perbankan Syariah pada 2009 lalu. Strategi ini meliputi beberapa strategi utama yakni pencitraan baru, pengembangan segmen, pengembangan produk, peningkatan pelayanan dan komunikasi yang terbuka dan universal.

Mendangkal
islamic banking (http://islamicbanking.info)
Namun, fakta-fakta perkembangan perbankan syariah yang fantastis tersebut belum bisa menghindarkan perbankan ini dari kesan eksklusif. Seperti yang saya ungkap sebelumnya, kesan eksklusif tersebut, sayangnya terjadi secara umum: bank syariah adalah bank-nya orang muslim, khususnya yang jenggotan, yang pakai jilbab panjang, dan bercelana cingkrang. Untuk Eko? Itu tentu kejutan bagi saya.

Hal ini tentu menjadi hambatan bagi perkembangan bank syariah sendiri. Unsur keterbukaan yang seharusnya menjadi semangat utamanya, tereduksi oleh mekanisme tersembunyi yang mengurungnya menjadi eksklusif.

“Bank Syariah memang menjadi sebuah ekspresi keagamaan terutama Islam, tetapi masyarakat muslim sendiri yang terlalu dangkal memaknai,” ujar Handi Risza, dosen Master Manajemen dan Bisnis Keuangan Islam di Paramadina Graduate School. Dia, yang saya temui sekitar sebulan lalu, menyatakan bahwa ekspresi keislaman pada bank syariah akhirnya mendangkal pada wacana halal-haram dan tertutup.

Perbankan syariah adalah sebuah tunas baru alternatif perbankan yang akan memberi manfaat yang sangat besar bagi siapapun, baik muslim maupun non-muslim, bila sukses dijalankan. Tentu itu semua butuh dukungan. Dan bank konvensional yang memiliki potensi bantuan yang kuat serta-merta ditinggalkan begitu saja eksistensinya. “Mereka bermimpi bangkit sendiri tanpa bantuan orang lain karena dianggap itu haram,” tambahnya kemudian, “masalahnya, ini mau berkembang atau tidak, mau sukses atau tidak”.

Menurutnya, penekanan bank syariah selama ini masih berkutat pada hal-hal fikih saja, sementara konsentrasi pada konsep pengembangannya sebagai jalur alternatif terkesan parsial dan akhirnya jalannya, meski menarik, tetap saja tertatih-tatih bila dibanding bank konvensional.

Pengenalan bank syariah pun terkesan hanya menyasar pasar orang muslim, sementara orang di luar muslim, yang seharusnya potensial sekali, diabaikan begitu saja. “Lihat saja iklannya, eksklusif kan? Konsepnya Islam itukan sebenarnya rahmatal lilalamin, seharusnya ya buat semua orang” kata Handi.

Menurut Handi, masyarakat muslim pengguna bank syariah ikut andil dalam peng-eksklusif-an bank yang potensial ini. Kebanyakan malas mengenalkan bank syariah kepada mereka yang dianggap ‘orang lain’. “Saya sebagai pengguna, tak akan segan-segan kenalkan ini ke semua orang.” tegasnya.

Namun akhir-akhir ini perkembangan bagus ditunjukkan, yakni masuknya bank-bank yang terkenal begitu konvensional dalam konstelasi perbankan syariah seperti bank BCA. Tentu ini pragmatis sekali pertimbangannya, tetap itulahyang dibutuhkan. Inklusivisme harus dibangun dengan tetap menegaskan posisinya sebagai perbankan yang ‘islami’ dan islami itu soal keterbukaan.

Jangan picik
Senada dengan Handi, Hartono menyatakan bahwa perkembangan perbankan syariah di Indonesia akan makin sulit berkembang bila eksklusivitas ini dipertahankan. Sebagai pengamat, dosen, dan mantan praktisi perbankan, ia menjelaskan bahwa salah satu kunci sukses bangunnya sebuah bank adalah memiliki afiliasi dan jejaring yang kuat dengan bank-bank lain.

“Pada dasarnya, anda harus tahu bahwa bank itu meletakkan idle money-nya, selain di SBI (sertifikat bank Indonesia), juga di bank-bank lain,” jelasnya.

Stereotyping eksklusif tidak bisa dihindarkan karena kebanyakan orang muslim masih memaknainya dalam kacamata halal-haram, riba – tidak riba. Bukannya itu tidak penting, tetapi ada sisi lain yang lebih perlu ditonjolkan yakni sifatnya yang alternatif dan tahan krisis.

Jarang terbentuk dialog terbuka tentang perbankan syariah dengan potensinya yang mengagumkan kepada orang yang non muslim, atau lebih ekstrem pada mereka yang tak berpenampilan islami, macam Eko tak masuk kategori islami ini tentunya. Alasannya klasik, bahwa mereka tidak islami sehingga tidak perlu bank syariah.

“Wooo, salah besar (kalau bank syariah hanya tertutup untuk yang ‘islami’)! Kalau mau yang benar-benar halal, nunggu saja duit dari langit, yang nyetak biar Tuhan sendiri. Kita jangan picik donk. Ekonomi itu sudah terintegrasi dan sistemnya saling silang sengkarut kemana-mana…” tegas Hartono dalam satu sesi kuliah yang saya ikuti.

Perbankan syariah memang telah terbuka di mata para pemangku kebijakan, misal BI sendiri, tetapi belum di kalangan grass-root.

Buat yang gaul dan tak gaul
Kembali ke Eko. Setelah saya tanya lebih dalam, ternyata alasannya juga menarik.

“Ya ini kan fair, dengan bagi hasil, ngga ada yang dirugikan. Makanya gua pake yang syariah,“ ungkapnya, “ya itung-itung ‘kan gua juga muslim, so ngga ada masalah-lah. Toh juga ini salah satu tuntunan agama kan?”

Saya tidak mengira dalam penampilannya yang nyentrik, ia punya sisi keagamaan yang ia jaga kuat-kuat. Dan ketika saya tanya soal mengapa ia tidak memakai yang konvensional saja, ia menjawab kalau sebenarnya sama saja, cuma karena ia ingin yang alternatif.

“Gua tuh bukan ngga suka sama yang konvensional. Ya mumpung masih muda, ini jadi investasi. Kali aja ini bank nanti gedhe dan gua pas udah jadi orang. ‘Kan lumayan itu. Jadinya win-win solution…” tandasnya kemudian.

Keterlibatan Eko yang gaul dalam perbankan syariah tentu akan mengejutkan kita semua, saya sendiri dan para pembaca yang budiman. Dan saya pribadi mendapat pandangan baru: Islami itu setidaknya bukan hanya mereka yang seperti kita persepsikan: berjenggot, berjilbab, dan semacamnya. Islami itu soal tindakan dan sikap. Islami itu soal substansi kehidupan yakni perilaku. Ini sebuah pelajaran sederhana yang sering kita lupakan. Kita cenderung memaknai sesuatu pada atributnya, bukan substansinya. Mana tahu preman pakaiannya jubah? Dan mana tahu ada ulama yang pakaiannya seperti Eko?

Kembali ke perbankan syariah. Memang sisi-sisi bank syariah yang bisa dibahas: mulai dari angka kemajuan yang pesat, namun tersisipi masalah pelik yang klasik, sampai giat perkembanganya yang telah memikat pemuda gaul untuk menjatuhkan pilihan padanya.

Kelihatannya jelas sudah bahwa napas dari perbankan syariah adalah keterbukaan dan kebutuhan akan bantuan untuk mengembangkan potensinya yang begitu besar. Selubung-selubung masalah memang masih mengganjal, tetapi semoga ini semua menjadi bahan bahasan dan renungan bersama, dan mungkin akan ada diskusi yang lebih serius untuk bagaimana meng-gaul-kan bank syariah agar Eko-Eko yang lain, yang gaul-gaul, juga bisa ikut bergabung dengan perbankan islami ini. Dan bukan hanya Eko, tapi semua orang, yang gaul dan tidak gaul, yang muslim dan non-muslim. (*)

tulisan ini dimuat juga di kompasianaku...
alhamdulillah dapat menang di ib blogger competition kompasiana...



Monday, February 28, 2011

Tentang (Perbedaan) Kita Semua…

(ksupointer.com)
Perbedaan bikin masalah: "NOL!!!"
Perbedaan adalah gudang ilmu pengetahuan: "SERATUS!!!"

Rasis, Golonganis: "NOL!!!"
Apresiasi: "SERATUS!!!"

Eksklusif: "NOL!!!"
Inklusif: "SERATUS!!!"

Kekerasan atas nama apapun: "NOL!!!"
Kebebasan berpendapat dan apresiatif : "SERATUS!!!"

Main hakim sendiri: "NOL!!!"
Tegakkan hukum: "Sori, gua mikir dulu nih… (alaaah, elo jangan sok, deh!) Yaudah: SERATUS!!!"

Demo-demo ngga jelas: "NOL!!!"
Terus menuntut ilmu pengetahuan: "SERATUS!!!"

Bikin onar: "NOL!!!"
Bangun kasih sayang dan damai: "Eh buat siapa dulu nih? (Ya kita semua lah) Yaudah: SERATUS!!!"

Jazz Muhammad: "NOL !!!" (Apaaaa???!!!)
Yang baca semua: "DUA RATUSSSS!!! GOPEK DEH…BIAR PAS…" (Ah, sialan, Lo…!)


Sunday, February 27, 2011

Soal Aliran Keyakinan yang Berbeda

ilustrasi kekerasan terhadap fasilitas Ahmadiyah
(img.ibtimes.com)
Wooy, sesat… sesat!!!
Hajar… hajar…!!!

Isu terakhir yang berkembang adalah tentang Ahmadiyah. Ini tentang salah satu alur pemahaman dalam agama Islam. Jargon-jargon sesat menyembur kuat-kuat dari mulut-mulut mereka yang tak setuju. Yang selanjutnya membumbuinya dengan bacaan takbir. Ahmadiyah dianggap sesat dan diminta untuk tobat!

Siapa yang salah? Siapa yang sesat? Itu tentu pertanyaannya. (beeuuuh, serius nih kali ini tulisannya). Ini sudah menyentuh soal keyakinan. Oleh karena itu, dalam tulisan yang biasanya hanya 'kerjaan anak kurang kerjaan ini' (he-he), soal ayat-ayat tak mungkin dibahas.

Soal keyakinan, saya kesampingkan dulu. Yang mau dibahas adalah soal kekerasan dan main hakim sendiri-nya.

Baiklah, kalau mau dipikir lebih dalam, buat apa sebenarnya orang lakukan kekerasan? Terlepas dari setuju atau tidak setuju, ada saja yang akan dikecewakan: keluarga, orang-orang yang dicintai, dan juga teman-temannya.

Manusia adalah hewan yang berakal, itu kata seorang filusuf. Akal sejatinya harus membimbing manusia untuk melakukan proses berpikir lanjut untuk setiap tindakannya. Asasnya sederhana: perbuatan yang mau dilakukan bermanfaat tidak? Memberi perubahan tidak? Atau malah menambah masalah?

Dimana pun, kekerasan tak akan menyelesaikan masalah. Nampaknya memang akan segera selesai masalahnya. Misal dengan main keroyokan, seorang maling bisa saja jera, atau mungkin mati sekalian. Tapi apa selesai masalahnya? Lalu puas? Saya kira, yang dapat puas melihat sesama makhluk mati hanyalah binatang!

Kita juga dianugerah hati oleh Tuhan untk membimbing kita berpikir jernih. Bahwa, seperti diungkapkan oleh Cak Nur, hati nurani adalah bekal sifat ketuhanan yang dititipkan oleh-Nya pada kita semua. Oleh karena itu, semua manusia punya potensi baik. Namun, tempat ia bertumbuh kembang, itu masalahnya.

Tapi mari sejenak berpikir? Siapa memilih lahir di keluarga Muslim, atau dikeluarga Katholik, atau dikeluarga Ahmadiyah, atau juga lahir di China, lahir di Eropa, pun lahir di kubangan lumpur atau tempat sampah?

Kalau lahir dan besar dengan didikan Ahmadiyah dari ibu yang Ahmadiyah, apa itu salah? Kalau kita bisa tentukan siapa lahir dari rahim siapa, dan lahir dimana, maka tentulah namanya ini bukan dunia. Ini hanya khayalan belaka dengan tingkat kebodohan paling tinggi. Kebodohan manusia yang bermimpi menjadi Tuhan!

Dalilnya? Kan mereka salah menurut keyakinan yang umum? Kemooon, apakah pembunuhan orang lain dijustifikasi oleh ajaran agama? Pakai dalil lagi! Agama macam apa kalau begitu itu? Itu kan pemikiran kamu.

Baik, mari sejenak kita memanfaatkan logika. Tuhan adalah realitas yang tak mungkin berbatas, tak terjangkau, dan Mahasegala-galanya. Sementara dunia ini, adalah realitas yang batasannya di sana-sini. Maka apakah mungkin ketidak-terbatasan Tuhan diterjemahkan dalam keterbatasan dunia ini?

Begini, kita pahami bahwa ayat-ayat Tuhan yang dikemas dalam Kitab Suci. Nah, untuk membacanya, kita perlu penfsiran. Ya, itu adalah penafsiran manusia yang hidup dalam keterbatasan. Maka, apakah dengan demikian penafsiran itu dapat menjadi representasi pesan Tuhan yang sebenarnya? Memangnya, yang menjadi Tuhan itu siapa?

Penafsiran tetaplah penafsiran dan ia adalah produk manusia. Bukan maksud Tuhan yang sebenarnya! Banyak orang punya penafsiran berbeda-beda. Banyak ahli atau pun ulama yang telah melakukannya. Kita semua mencoba untuk menafsirkan kehendak Allah di dunia ini, tetapi kita punya keterbatasan. Maka penafsiran itu bukanlah nilai absolut yang bisa menjustifikasi sebuah masalah secara keseluruhan.

Memang agak serius tulisan ini. (Hadeeh, ngga usah elo jelasin juga, dari tadi udah serius ini..) Okelah, jalan yang terbaik adalah jalan tengah, jalan moderasi yang mengedepankan apresiasi antar sesam. Perbedaan sudahlah menjadi realitas takdir Allah di bumi ini. Dan untuk mengakomodasinya, bersikap apresiatif adalah solusi terbaik.

Sebab, memang harus diakui bahwa salah satu penyebab kerusuhan juga ada oknum Ahmadiyah yang mengacau, bikin provokasi, atau juga sikapnya yang eksklusif!

Jadi, Ahmadiyah benar atau salah? Itu tak perlu dijawab. Bagi saya yang ikut ajaran Sunni, maka saya katakan bahwa ia berbeda dengan saya. Lalu? Ya sudah biarkan. Toh, yang tanggung jawab juga mereka sendiri kelak di Hari Kemudian. Allah dan Rasulullah pun tak akan kurang kehormatannya hanya gara-gara ada mereka.(Ha-ha, serius bener Bos…)

Ya sudah, yang penting mari kita semua refleksikan diri sejauh mana kita lakukan kebaikan untuk orang lain. Banyak hal yang harus diselesaikan. Kemiskinan, pengangguran, pendidikan dan lain-lain. Dari pada gontok-gontokan, mendingan pergi ke panti asuhan dan ajak mereka bernyanyi lagu-lagu yang membangkitkan semangat mereka, bukan? (tidak terlalu nyambung sih… tapi saya kira itu lebih baik)


Friday, February 25, 2011

Disiplin ala Si Jiran

twin tower (mbah google)
Nak, kenapa sih Indonesia ga maju-maju?
Ya iyalah, Pak, kalau maju jadi masalah nanti
Kok gitu sih?
Kalau maju nanti nabrakin negara tetangga
O... murid sialan!

Suatu saat, saya bertemu seorang general manajer (GM) di sebuah perusahaan telekomunikasi. Orangnya enerjik. Pembawaannya ceria. Saat itu ia bercerita tentang pengalamannya ketika tahun 1998 mengunjungi Malaysia. Ia menjadi wakil Indonesia pada sebuah acara konferensi pemuda.

Ia kemudian berteman dengan seorang Malaysian. Ketika di Malaysia, mendadak, pagi buta ia harus menuju tempat konferensi. Benar-benar mendadak sekali dan penting. Mereka memakai mobil. He...he ganjil ya ceritanya...tapi aku dengarkan saja…

Ketika telah hampir sampai, laju mobil itu dihentikan paksa oleh traffic light yang sedang merah. Saat itu masih jam 5 pagi. Sebagai seorang Indonesian, si manajer bilang pada si Malaysian,

"Bang, terus aja... ngga bakal ada yang tau.."

"Hei, tak bise...tak liat kau merah lampu itu.. Ini aturan di sini..!" tangkis si Malaysian.

Sebenarnya si manajer tadi agak geram, tapi sejenak sadar bahwa apa yang ia lakukan adalah salah.

Cerita itu menunjukkan bahwa kedisiplinan telah mendarah daging pada diri rakyat negeri tetangga itu. Meski telah pada posisi paling aman untuk melakukan pelanggaran, mereka berikukuh enggan lakukan itu. Mereka seakan sadar bahwa disiplin tak harus diawasi, dan melanggalr kedisplinan adalah hal yang naïf. Wah kok bise gitu yah..?

Secara sederhana, bisa disimpulkan bahwa ini soal mental. Kedisiplinan telah menjadi budaya di negeri jiran itu. Siapa pun yang melanggarnya berarti telah melanggar nilai-nilai luhur masyarakat di sana.

Saya sendiri bingung. Dulu tahun 80-an, negeri Malaya itu masih impor guru dari Indonesia. Tapi kenapa sekarang anak-anak Indonesia malah bangga bisa sekolah di sana? Tapi bagi saya memang Malaysia adalah wujud bangsa yang punya mental integritas yang cukup kuat. Inilah kunci pertumbuhannya yang pesat, terlepas dari kontroversinya selama ini.

Hehe kok jadi serius yah...

Pada era 97-98 ketika Indonesia sibuk menyiapkan demokrasi dan perpolitikan yang carut-marut, Malaysia telah sibuk dengan pertumbuhan ekonominya. Mereka telah punya monorel dan twin tower yang megah itu. Sementara, di Jakarta, sampai tulisan ini dibuat, itu pancang-pancang monorel ngga jadi-jadi.

(Heh, lo jangan banding-bandingin ya...) Eiittsss... pis2

Ya bukan maksud saya untuk membandingkan. Ini soal mau benchmarking atau tidak. Dulu Malaysia berkenan mengemis guru dari Nusantara. Mereka mengakui memang belum semampu Indonesia kala itu. Tapi mereka benar sungguh-sungguh mau berbenah. Dan kini sepertinya kesungguhan itu menjadi kenyataan.

Kadang yang menyedihkan itu ada saja bilang gini, "Ya iyalah, Malaysia kan dijajah Inggris, kita kan jajahan Belanda..."

Aduh, kemooon, ini bukan lagi soal romantika masa lalu, ini masalah mental bangsa yang tak kunjung usai. Kalau begitu kita mau mulai dari mana? Dengan apa?

Kata Cak Nur, mulailah dari mana saja. Bangsa ini bisa dibenahi dari sudut mana saja, asalkan ada kemauan kuat. Lalu kata Yoris Sebastian, starts small. Mulai saja dari yang kecil aja. Mulai dari diri sendiri. Memang butuh waktu, tapi yang jelas ini akan berdampak.

Contohnya? Hadehhh cari sendiri ah.....baca buku kek, buang sampah pada tenpatnya kek, nulis kek, nanem pohon kek..... tapi yang penting disiplin…….

Tuesday, February 1, 2011

Kebutuhan Primer Baru

www.pasarkreasi.com
Aduh gue ketinggalan hp
aduh gmana nih
wah, ga bisa ngapa-ngapain nih...
hah? Ke laut aja deh...

Globalisasi kini memang jadi makhluk yang menjelma menjadi buah bibir di mana-mana. Globalisasi, ditunjukkan oleh terhubungnya orang-perorang di mana pun, kapan pun. Pertukaran informasi juga kini tak mengenal batas wilayah lagi. Yang dari Amerika bisa ketemu orang di Indonesia langsung dalam satu waktu. Yang dari Indonesia bisa langsung ketemu nyokap-nya yang lagi haji di Arab sana.

Salah satu wujudnya adalah adanya hp alias handphone. Sejak telepon ditemukan oleh Alexander Graham Bell (1871-1922), pada 1876, perkembangannya begitu pesat. Hingga kini, berbagai teknologi telah membuat telpon berevolusi menjadi hp. Bahkan, dengan teknologi yang ada, hp kini bukan hanya untuk berbicara, tapi juga dilengkapi kamera lalu internet, dan lain-lain .

Semua orang jadi bisa ngemeng sepuasnya di mana saja dengan hp. Hp seakan menghubungkan kita dengan orang lain meski di lain tempat. Hp juga mempermudah sesorang untuk mencari keberadaannya. Ya kali aja ada urusan penting kan? Nah, inilah yang membuat hp menjadi barang penting. Kadang kalau pas hp ketinggalan, wow, bingungnya setengah mati. Ah, yang bener, Mas?

Ya, ini karena kebutuhan untuk berkomunikasi menjadi sangat penting. Hp seperti jadi nyawa kedua di dunia kedua. Kalau dunia yang kita tempati ini tuh dunia pertama, nah dunia kedua adalah dunia maya dimana tak ada batasnya.

Jadi maklum kalau pas hp ngga dibawa bisa kayak kebakaran jenggot (Ngga segitunya kaleee…). Ya apalah terserah. Tapi yang jelas seperti kayak lagunya Anang Hermansyah, 'Separuh jiwaku pergi.... ' memang agak mendramatisasi, tapi kalau mau merenungkan, ya memang kayak gitu.

Terus, jadilah sekarang kebutuhan primer itu bukan hanya sandang pangan papan, tapi tambah satu, jadi "sandang pangan papan dan .... handphone". (Kok aneh ya...memang, kok jayus ya, ....biarin)

Tak ada sebuah pelajaran yang saya sampaikan kai ini. Ya FYI aja, alias for your information, alias asal elo tahu aja... Hehe

Ya, inilah faktanya. Hp sudah jadi konsumsi publik. Siapa yang tak punya hp ya sedikit merasa terkucilkan. Tapi bukan maksudku untuk bilang kalau kamu harus punya hp. Ya kalau enjoy tak tanpa hp yang sudah. Toh juga ini hanya alat bantu untuk berkomunikasi. Perasaan dulu jaman nenek moyang elo juga biasa-biasa aja...

Apalagi, hp kini sudah dilengkapi berbagai fasilitas termasuk internet. Ya jadinya bisa pesbukan atau juga ym-an lewat hp. Ya buat eksis-eksisan aja. Haree genee gitu lho…

Tapi, sayang, sekarang hp jadi bahan gengsi. Katanya yang ngga punya hp adalah yang ngga gaul. Apalagi sekarang ada yang namanya BB (Ngerti ngga lo? He-he). Semakin kompleks saja. Tapi mari kita luruskan. Yang tidak bisa beradaptasi dengan globalisasi itulah yang ngga gaul. Memang hp jadi salah satu indikator, tapi yang jelas itu bukan satu-satunya.