Sunday, February 12, 2012

What Am I Doing Here? (Part 1)

Manhattan Broadway! 
If somebody asks me, what are your goals studying here in the US? I just have a couple answers for this past Fall and Spring semester. First, I really want to learn the language more, which is English. Second, I want to know how people live outside my country.

It’s about English
The first reason might be seen as a simple thing. If you guys think so, it is just fine. But, I think it’s a lot more than that.

Well, people know what others want through a language. See what people are doing when they work at, say, fast food restaurants. They carry out what the customers say to order. There is such a mutual understanding between both so they would feel satisfied each other.

Further than that, see what our teachers are doing in our class. See, they are talking and talking. It is the way people send their knowledge to others. They educate us through their languages and that’s why students can become more and more knowledgeable.

When our teachers are talking about something, you think it is usually fun, right? Not! It is boring very often. Well, but suck it up bud! All right, this part is joke. Don’t really mind about it.

Thursday, February 9, 2012

Antara Nama, Jurusan, dan Angkatan

My Professor and I
(Dakota Tribal History Class)
FARGO-JAZZ MUHAMMAD - Kalau kuliah di Indo, ketika ada orientasi, para orientator atau senior yang mengorientasi pasti akan berkenalan satu per satu. Nah, ketika mereka mengenalkan dirinya, tiga hal yang mereka katakan adalah nama, jurusan, dan angkatan.

Hal ini semacam norma yang tak terlulis yang harus dipatuhi. Nama akan menunjukkan bagaimana ia ingin dipanggil, disapa, dan dikenali. Kebanyakan memakai nama asli, tapi tak sedikit juga yang menggunakan nama samaran yang sangat berbeda dengan nama aslinya. Katanya biar keren.

Hal kedua adalah jurusan. Itu yang akan menunjukkan apa yang ia pelajari di kampus. Di beberapa kampus, jurusan menunjukkan kasta. Orang kelas macam apa dia itu.

Khususnya di kampus-kampus negeri, kasta ini nampak terlihat. Kalau ada yang bilang, “Kedokteran”, para junior langsung diam, sedikit berbisik, “Anak ini pintar.” Kalau ada yang bilang, “Teknik Elektro”, maka mereka berbisik, “Oh, ia jenius!” Demikian juga untuk jurusan-jurusan yang dianggap keren: Hukum atau Kedokteran Gigi.

Tapi kalau ada yang bilang “Penyakit Tanaman” atau “Agrikultur”, yang mendengar berbisik-bisik, “Ngapain kuliah itu?”

Aku tak bermaksud membanding-bandingkan. Tetapi itulah kenyataan yang terjadi di Indonesia. Satu jurusan didewakan, satu lainnya dianggap barang rongsokan. Satu diburu banyak orang, yang lain kekurangan mahasiswa. Sah-sah saja sih. Aku hanya merasa aneh saja.

Sunday, January 29, 2012

I Went Broke Afterward

New York at night
The rest of my holiday I spent visiting the Big Apple, New York. I was going to be there for 10 days. To be honest, at that time I was kind of totally blind about what to do. But that would never prevent me from going to a new place.

I met my friend Tyas over there. We rented an apartment with some other friends so the cost could be split up. We stayed in Brooklyn.

When I was in Indonesia, I watched some movies, which showed me many things about New York. I saw the Statue of Liberty, Manhattan, the Empire State Building, and the Wall Street Bull, all through my TV! But then, finally, Oh God, I was there! I bought the city pass to make the costs cheaper. If I didn’t buy that, I would have spent twice as much as I did.

To get around the city, I used the subway. That was also my first experience riding an underground train. I’m actually already familiar with the train, but for the way it runs, I mean the underground track, that was surprising for me. I wondered how they came up with that idea. It’s supposed to be really expensive to build it, but then, the advantages exceed all the costs.

Thursday, January 26, 2012

I was Rocketing!

I conquered the frozen lake!
In the past Winter break, I got about two weeks off. My friend told me that she wanted to do something for the break even though the Fall Semester did not conclude. I was kind of curious about what she was going to plan for it. Then she ended up with an idea: Go to New York!

I didn’t know if I wanted to go for it or not. It’s far away from Fargo, and it would cost me too much. Then I thought that this could be the only one chance I got in my life to see the popular city. Whether I would like it or not, I should see it. I finally bought the ticket then arranged where I would stay. On December 27th, in the second week, I decided I would be flying there.

But why did I decide to fly in a week after the holiday got started? Christmas! That’s the only reason for it. I wanted to know how people here in Fargo celebrate their Christmas.

I did not want to miss this chance since I’m here in the US. Well, I don’t want to talk more about religious stuff here, but I see that every religious celebration among different people has a cultural side that welcomes diverse people to join in the fun the celebrations.

Finally, I went to Dennis’ house in Hawley, Minnesota. His family is the family I joined during Thanksgiving Day. They invited me to their Christmas party. I was so excited. I went there with Susilo’s family, an Indonesian family in Fargo I’ve been getting along with. They gave me a ride.

Sunday, January 22, 2012

Satu Setengah Juta Kami untuk Pak Polisi

Pak Polisi (tribunnews.com)
Sedari kecil, di sekolah, aku seringkali diberitahu kalau menjadi Polisi itu tugas mulia. Menangkap pencuri, menertibkan lalulintas, dan yang paling aku suka adalah menyeberangkan orang tua dan anak-anak. Mulia bukan? Mulia sekali!

Beberapa kawanku ada yang ketika ditanya: Apa cita-citamu? Jawabnya: Polisi. Dengan tegas ia jawabnya dan ketika ada karnaval peringatan HUT RI, ibunya rela pergi penyewaan kostum anak-anak dan membayar harga tinggi hanya untuk mendandani anaknya menjadi Polisi.

Ketika masuk SMA, beberapa kawanku telah bersiap-siap masuk Akademi Kepolisian. Masuk akal-kah? Masuk akal sekali. Polisi itu tugas mulia, dan juga keren. Aku katakan itu keren! Hingga akhirnya lulus, aku lihat beberapa yang akhirnya benar-benar jadi Polisi. Selamat kawan! Kau mengemban tugas mulia!

Tapi kau tahu, itu semua, bahwa Polisi adalah tugas mulia, bahwa mereka adalah penyelamat bangsa, penertib lalu-lintas, penyeberang orang tua dan anak-anak, tak berarti sama sekali bagiku. Aku dulu berpikiran demikian, tapi sekarang tidak sama sekali.

Thursday, January 5, 2012

Jalan-Jalan di US

this is it!
FARGO-JAZZ MUHAMMAD - Hal ini sangat simple, tapi kalau tak tahu, bisa buat orang tersesat. Tersesat? Wah ada aliran sesat ini! Gundhulmu aliran sesat! Dasar orang, sukanya bikin masalah. Kalau orang alirannya sesat, terus mau apa? Kau gatal-gatal? Kulitmu ada yang luka? Atau tanganmu putus? Bisulan?

Ya sudahlah biarin aja. Ngapain ngurusin orang, hidup saja yang damai. Buka-buka usaha atau apa gitu. Nulis-nulis juga boleh. Atau bikin blog juga boleh. Sini temenan sama aku. Lagipula, masih banyak hal yang bisa dibicarakan.

Tapi soal sesat-sesatan orang di US tak gampang tersesat. Bukan karena minimnya aliran sesat, tetapi karena jalan-jalan di sini memiliki sistem penamaan yang cukup sederhana. Jalan yang mana? Ya jalan yang pakai aspal itu.

Di bagian yang melintang ke arah barat-timur, nama jalannya cuma satu yakni Avenue atau biasa disingkat Ave. Nah, untuk membedakan Avenue satu dengan yang lainnya, jalan diurutkan dengan angka mulai dari Main Avenue, 1st Avenue, dst.

Begitu juga dengan jalan yang membujur ke arah utara-selatan. Namun, namanya bukan Avenue, tetapi Street atau disingkat St. seperti sebelumnya, pengurutan jalan juga dengan angka: Main Street, 1st St, dst. Kalau nanti ada tambahan N atau S, itu berarti north atau south.

Akan tetapi, tak semua juga jalan seperti itu. Untuk jalan-jalan tertentu, ada nama-nama khusus seperti Broadway, Park, University Drive, dan masih banyak lagi. Namun demikian, jumlah jalan yang dengan nama khusus itu tak seberapa bila dibanding jalan yang hanya bernama Avenue atau Street.

Wednesday, December 28, 2011

Negeri yang Terstandardisasi

US light switch (click on it for the source)
FARGO-JAZZMUHAMMAD - Dulu, yang muncul dipikiranku tentang negara adidaya Amerika adalah sebuah negara maju. Teknologi dan pendidikannya seperti beberapa ratus langkah di depan dari Negara-negara lain. Tapi apa yang membuat negara ini begitu punya pengaruh di dunia?

Jared Diamond, seorang ilmuan mencoba mencari jawaban mengapa “orang-orang kulit putih” saat ini menguasai dunia dengan kemampuan teknologi. Ia berargumen bahwa gun, germ dan steel telah membawa orang-orang ini dapat menaklukkan dunia. Okelah, itu masa lalu. Saiki-saiki, biyen-biyen. Mari lihat apa yang terjadi sekarang pada negara-negara maju ini, dan secara khusus di US. Anyway, kalau mau lihat videonya, klik di sini.

Nah, sebagai negara maju, ternyata satu hal yang bagiku cukup sederhana tapi mengherankan adalah hampir semua hal di sini terstandadisasi. Negara ini menerapkan sistem standar pada setiap apapun yang ada di dalamnya.

Aku akan mulai dengan light switch atau yang di Indo biasa disebut dengan sakelar. Setahuku (Ini setahuku, jadi mau percaya atau tidak tak apa-apa) di Negara ini, semua sakelar punya bentuk yang sama. Mulai di tempat umum sampai rumah-rumah sakelarnya akan punya bentuk yang sama.

Thursday, December 22, 2011

The Thanksgiving of Mine

with Dennis
To be honest I did not have any idea a couple weeks before Thanksgiving Day. I thought that I would be staying in my room and chilling with my roommate who is also international student. But eventually I got email from office of international program at NDSU that they have like host family program for international students.

I applied for that. “Hopefully something changes,” I said, “because I don’t want to be stuck in this room while everybody is leaving.”

Then right a week before Thanksgiving, I got a call from Karen. She would be my host family. Thank God! She said that I had to get to her house around noon. On the Thanksgiving Day, I went there with an Indonesian family, Susilo’s family, that I know them really well.

Mozaik dari Fargo (4): Menjadi Manusia Sejati

with pak susilo at the home-coming parade
Sebenarnya menjadi orang baik syaratnya cuma satu: berperilakulah yang baik. Tapi apa semua orang akan setuju dengan apa yang kita anggap baik? Atau malah menganggapnya buruk setengah mati? Masalahnya adalah setiap orang punya standar nilai dan pengetahuan yang berbeda untuk menilai sesuatu: baik atau buruh, benar atau salah.

Perbedaan atau keragaman dalam kehidupan adalah anugerah Tuhan. Percaya atau tak percaya, tak akan ada orang yang punya pikiran sama persis. Tak ada pula orang paling pintar sebab terlampau banyak pengetahuan yang di dunia ini yang harus diketahui. Maka dari itu, jadi orang terbuka saja. Nikmati saja hidup, dan tak perlu membesar-besarkan perbedaan. Bahasa Inggrisnya, just walk it off, enjoy our life.

Perbedaan biarlah jadi sumber pengetahuan, persamaan biarlah jadi penyambung persaudaraan.

Januari – April 2011
Setelah aku selesai wawancara untuk Global Ugrad, kuliah berjalan seperti biasa. Tapi, karena ini semester terakhirku, maka aku tak punya banyak mata kuliah. Hanya tiga mata kuliah. Aku hanya masuk Senin dan Selasa, selebihnya, aku fokus untuk berorganisasi. Lagipula, aku sudah tak terlalu memikirkan apa yang harus aku lakukan setelah seleksi wawancara Program Global Ugrad usai.

Namun seminggu setelahnya, aku dapati telponku berdering ketika aku masih bertugas menjaga stand Paramadina di sebuah SMA. Kala itu aku bersama Nyonyah Liz dan kawanku, Eci. Kira-kia akhir Desember.

Monday, December 19, 2011

Belajar di Negeri Paman Sam (2-habis)

"sok cool" in front of the union
FARGO-JAZZ MUHAMMAD - Pendidikan di US ternyata tak senjelimet yang aku kira. Di sini semua dibuat simple tetapi punya pakem aturan yang harus ditaati. Waktu kumpulkan tugas ya kumpulkan, kalau sudah due atau deadline, ya sudah kalau terlambat tak akan akan ada belas kasihan. Oke, kali ini aku akan teruskan artikel sebelumnya tentang belajar di Negeri Paman Sam. Klik di sini untuk artikel pertamanya!

Keempat, tak seperti di Indo yang kalau satu kelas ada 3 SKS, semua digabung menjadi satu, dan jadinya kuliah 2,5 jam. Wah, ini yang berat buatku. Aku hampir selalu tidur di kelas. Di US berbeda.

Pembagian waktu kuliah biasanya menjadi dua atau tiga hari. Jadi, jadwal tiap mata kuliah selalu Senin-Rabu-Jumat (Mo We Fr) atau Selasa-Kamis (Tu Th). Tiga SKS dibagi menjadi tiga atau dua. Jadi di kelas, mahasiswa akan mendengar “ceramah” dosen selama 50 menit atau 1 jam 15 menit. Ya bagiku agak lumayan. Meskipun masih kadang tidur, at least tak separah ketika di Indo. Ini anak kerjaannya tidur kok berani-beraninya kuliah di US?! (Hehe no komen)

Kelima, silabus di US sangat penting untuk mengetahui apa yang akan diajarkan dosen di kelas. Apa di Indo tak penting? Ya pentinglah, cuma pengemasannya yang berbeda sehingga seringkali tidak penting. Atau sebenarnya penting tapi mahasiswanya tukang tidur seperti aku ini. lha itu yang buat itu tak penting. Entahlah.