Tuesday, November 19, 2013

Konsekuensi Negatif Apa Positif?

Halaman depan kosanku
Sepagi tadi rasanya mata pedih. Soalnya bukan apa-apa, seketika aku membuka pintu kosan, bukannya kesejukan atau keramahan pagi yang menyapa, tapi sampah bekas ranting dan dedaunan pohon belimbing. Tinggi dan rindangnya pohon ini, ternyata bikin juga banyak sampah, apalagi musim hujan begini.

Aku sedikit diam. Ini sampah semua mau diapakan?

Akhinya aku putuskan untuk mengambil sapu dan sedikit demi sedikit, halaman depan kosan nampak bersih kembali. Sejenak duduk, aku senang melihat suasana kembali bersih. Tapi kemudian aku berpikir, pohon yang rindang ini rupanya punya sebuah dampak negatif: sampah ranting dan dedaunan yang banyak.

Aku kemudian terus berpikir. Apa ini benar-benar konsekuensi negatif?

Tuesday, October 22, 2013

Tukang Parkir di Indonesia Itu Bikin Orang Korupsi

ilustrasi

Aku tak bilang bahwa pekerjaan sebagai tukang parkir itu buruk. Semua pekerjaan, asal resmi dan jelas (tentu mencuri dan menjadi mafia bukanlah pekerjaan resmi dan jelas) pasti memberikan kebaikan. Menjadi tukang parkir pun memberikan kebaikan: tata kendaraan yang baik, paling tidak.

Tapi mengapa tukang parkir bisa buat orang lain berbuat gila seperti korupsi? Di Indonesia ini tukang parkir ada yang resmi dan tak resmi. Tak akan aku bahas perbedaan antara keduanya karena menyangkut perundang-undangan dan peraturan terkait yang aku sendiri pusing membacanya.

Tapi yang sama adalah orangnya. Parkiran dijaga oleh tukang-tukang parkir yang tentu manusia. Nah, yang menjadi awal masalah dari mengapa tukang parkir bisa buat orang korupsi adalah sikap mereka yang sering kali tak adil.

Kejadiannya adalah pada umumnya ketika kau akan memarkir mobil pada sebuah, katakanlah, restoran, maka si tukang parkir akan mengarahkan spot mana yang cukup untuk mobilmu.

Thursday, October 17, 2013

Karena SBY Lebay, Siapa Pemimpin Indonesia Sebenarnya?

(Sumber: JusufKalla.info)
Tentu kalau kau bertanya siapa pemimpin tertinggi negara ini, jawabannya pasti presiden. Dan, saat ini yang jadi presiden adalah Pak SBY. Tapi apakah benar dia adalah pemimpin utama? Apakah SBY adalah penentu utama keputusan-keputusan negeri ini?

Kalau melihat reaksi SBY yang baru-baru tentang isu Bunda Putri kurasa lebay sekali. Bagaimana tidak lebay, banyak kasus yang seharusnya dia serius menanggapi, ia malah keluar dengan gaya lamanya: Saya instruksikan, saya himbau, dan saya prihatin.

Negara impor bahan-bahan pangan, tanggapan si SBY hanya, "Saya instruksikan ini dan itu..." Soal korupsi di pemerintahan, jawabnya "Saya himbau..."

Tentu ini terlihat tidak fair karena sudah seharusnya presiden tak boleh terlihat reaktif di depan media dan kerja keras di belakang layar. Tapi kalau kau lihat tanggapannya soal Bunda Putri, lebay tingkat dewa sekali menurutku dia itu!

Ke-lebay-an SBY ini tentu membuat banyak orang merasa gregetan dengan satu orang ini. Itu sebenarnya menunjukkan kalau dia sebenarnya terlibat dalam kasus itu, bukan begitu?

Jadi, kalau Si SBY sibuk menciptakan lagu, berprihatin, menginstruksi dan menghimbau, siapa yang menentukan arah negeri ini sebenarnya?

Tuesday, October 15, 2013

Agama Orang Amerika?

Seorang bayi dibawa menonton pertandingan Football
Kali ini aku tak akan bicara banyak soal keyakinan. Meski judul tulisan ini berbau agama, sebisanya akan kubuat ini menarik, tak memusingkan, tak ada urusannya dengan liberalism dan konservatisme.

Baiklah, ini akan aku mulai dengan apa sebenarnya kegiatan rutin yang dilakukan oleh orang amerika secara umum. Tanpa melihat latar belakang ras, agama, dan suku, orang amerika rata-rata adalah penggila olahraga. Dan, yang aku maksud dengan penggila adalah mereka benar-benar gila dengan olahraga.

Tiap minggu, keluarga-keluarga amerika secara umum meluangkan waktunya untuk menonton pertandingan olahraga. Baik menonton di rumah maupun di stadion, mereka tak jarang akan bersama-sama anggota keluarganya.

Tak jarang kau akan lihat bayi-bayi, anak kecil, orang tua, laki-laki perempuan menyaksikan pertandingan olahraga. Mereka dengan bangga mengenakan jersey tim kesayangan masing-masing.

Sunday, October 13, 2013

Ayo Lihat Nutrition Facts-nya

Kita bahkan bisa cek gizi cherry di internet
Beberapa waktu lalu aku membeli kopi sachet (Jawa: rentengan) di sebuah mini market. Maklum, aku adalah seorang yang merasa bahwa hidup kurang berasa tanpa secangkir kopi.

Singkat cerita setelah mencari kopi yang disukai, akhirnya aku mulai melihat kandungan apa saja yang ada di dalamnya. Yang pertama kulihat adalah komposisi dari minuman ini. Kedua aku akan mencari yang namanya informasi gizi. Yang bentuknya kotak, yang bahasa Inggrisnya nutrition facts.

Rupanya kopi siap seduh yang kuminati ini tak punya kotak itu. Sedikit banyak ini membuatku agak ragu membeli produk ini sebenarnya, meski akhirnya tetap membeli.

Nah, dalam membeli makanan, terutama makanan dalam kemasan, langkah-langkah itulah yang kira-kira kulakukan. Jadi kalau aku membeli sesuatu, ada semacam prosedurnya, ya meski sederhana begitu.

Bagiku, memeriksa kandungan gizi produk makanan dan minuman adalah penting. Sebab, kau akan tahu bahan apa saja yang akan memasuki tubuhmu.

Yang paling menjadi perhatianku adalah ketika membeli produk kemasan semisal soda dan mie instan.

Tuesday, August 13, 2013

Tips Terbaik dan Alami Menghilangkan Jerawat

ilustrasi
Banyak orang yang punya masalah dengan ini. Umumnya ia muncul mengganggu kecantikan atau ketampanan seseorang. Ia muncul tanpa diundang di pemukaan wajah manusia. Tak lain tak bukan, masalah ini adalah JERAWAT.

Jadi, seorang kawan datang menghampiriku yang Alhamdulillah tak punya jerawat. Ia kemudian menanyakan kenapa aku tak berjerawat. Maka aku katakan bahwa sebelumnya aku pernah berjerawat yang sedikit akut. Namun aku menempuh beberapa cara dan upaya yang akhirnya dapat menghilangkan jerawat-jerawat itu.

Baiklah, treng... teng... teng... inilah jawabanku padanya yakni tips terbaik dariku untuk menghilangkan jerawat.

Pertama, jangan dipikir. Jerawat itu biasanya muncul karena kita banyak pikiran, baik terlalu senang maupun terlalu stress. Jadi, cara pertama untuk menghilangkannya adalah kalau ada jerawat, biarkan dia keluar. Tidak usah dipikir.

Monday, July 1, 2013

Diversity is a blessing

Diversity in Indonesia
One day a friend asked me why we are different. Why God made us live in diversity even though it can highly lead us into big, big problems such as conflicts, war and so on.

Well, I guess difference is a fate that we have to either stand against or embrace. We people are different from each other because simply we grow up in different places.

As time goes on, we learn different things that make us choose which one we should lean on. We have different people, friends and family who we perceive as role model. This is why people have always lived in diversity.

Human being’s diversity is like a two-edged sword. You don’t want to live with it unless you’re careful and resourceful. It has big potential to come up with conflicts and frustration. Without respects and understanding, it can be a huge problem hindering the progress of any kinds of positive development. In this point of view, people are different because they are meant to be full of conflict and dangerous.

Monday, May 20, 2013

Kita yang Malas Jalan Kaki

Ilustrasi (www.crowdrise.com)
Mau ke Indomaret yang berjarak hanya 100 meter, aku lihat banyak kawanku yang langsung menyaut motor, lalu wuuzzz sampai ke tujuan. Ke tempat beli pulsa yang beberapa ratus meter juga, pakai motor. Lalu apa masalahnya? Mengapa harus jadi topic tulisan ini?

Kalau soal buru-buru dan memang dikejar waktu, tentu tak ada masalah. Kau bisa tinggalkan tulisan ini. Tapi, kalau situasinya sedang santai dan taka da yang memang dikejar, menurutku ini baru masalah.

Jadi, di Indonesia ini, kita sudah lumrah untuk pergi ke mana-mana menggunakan sepeda motor atau mobil. Baik jarak pendek maupun panjang, kendaraan seperti tak bisa lepas, karena ini memang memudahkan. Pertanyaanya, mengapa tak mau jalan kaki?

Kalau dipikir-pikir, apa relevansinya pertanyaan ini?

Jalan kaki memang tak ada keren-kerennya dilingkungan kita. Kesannya ini adalah miskin. Mereka yang jalan kaki adalah mereka yang tak punya uang untuk membeli kendaraan bermotor dan bensin (bersubsidinya). Kalau naik motor, kesannya itu seperti cepat dan jagoan dan intinya keren seperti apa yang diiklankan. Tak ada salahnya berpendapat seperti ini.

Thursday, April 18, 2013

Tragedi Mencuci Baju di Amerika

Contoh ruang laundy (unc.edu)
Mencuci baju adalah kegiatan rutin setiap orang di belahan bumi manapun. Tak ada yang istimewa. Kecuali kalau kau ada yang jadi artis dan merasa jijik kalau harus memakai baju yang sama dalam hidup. Jadi sekali pakai buang. Baiklah, kali ini aku akan bahas soal cuci baju bagi orang biasa-biasa saja.

Tapi begini, mencuci baju memang tak ada istimewanya. Aku mencuci baju dengan mengisi ember dengan air lalu kumasukkan air dan sabun. Lalu baju aku rendam beberapa waktu dan kemudian aku kucek. Kalau aku sedang jorok-joroknya, maka akan ada yang perlu aku sikat. Lalu dijemur (sehari, dua hari, atau bisa lebih lama). Beres.

Namun pengalaman seperti ini akhirnya berhenti sejenak ketika aku belajar di Amerika. Ketika sampai di asrama, aku tak menemukan ember untuk mencuci. Aku ke Walmart, semacam pasarnya di sana, untuk membeli ember untuk mencuci. Dan, tak kutemukan juga ember seperti yang ada di Indonesia.

Monday, April 1, 2013

When McDonald’s and friends are exclusive

How’d you feel when you eat at any restaurants like McDonald’s, KFC, Burger King, Pizza Hut or Wendy’s? If you’re American I bet you’d say I feel nothing, just eating, that’s it. You may want to say, what’s the matter? Nothing, unless you've seen how other people perceive differently how eating at those kinds of restaurants feels like.

Perceiving the same thing differently can be an interesting topic to discuss since the actual thing perceived is the real, exact same thing. Regarding eating burgers, chicken and fries at those places, there are actually at least two different perceptions. First, the one that happens in developed countries, and second, the one happening in developing ones.

Let me start with the first. In America, which I consider as a developed one, those restaurants are nothing but common places to eat. There is nothing special eating there. You order the foods you want, pay them then you decide to dine-in or to-go.

Paying our foods at around 5 bucks per meal in average is normal. People can spend much more than that. Or, it might be considered as the cheapest food for eating out. Thus, eating at those restaurants is the cheapest way to get full which means there’s no reason to call them such exclusive places to eat. There are no reasons of being proud to eat there. Seriously, none!

However the second scenario might bring you to a surprise. In any developing countries, like Indonesia, eating is going to cost us just around 50 cents to 3 bucks. In average, people spent 1.5 bucks to eat. You can imagine that it is going to be very expensive if they have to spend 5 bucks for a meal. I as a developing country citizen think that 5 bucks for a meal just doesn't make any sense.