Thursday, May 13, 2010

Kai, Si Tempat Sampah

Pagi begitu cerah. Mentari tersenyum merekah seraya mengabarkan bahwa cuaca dunia sedang bersahabat. Awan-awan selalu ada nan setia menemani perjalanan matahari. Di bumi, beberapa hari lagi akan ada sebuah acara besar berskala internasional. Inilah Pertemuan Tempat Sampah Se-Dunia. Acaranya sendiri diselenggarakan di Singapura.

Setiap negara mengirimkan satu wakilnya pada pertemuan itu. Setiap negara disilakan untuk memilih satu utusan terbaiknya untuk datang dan berembug di pertemuan itu. Tak ketinggalan, Indonesia juga mengirirm.

Kai adalah tempat sampah yang beruntung. Ia terpilih sebagai wakil Indonesia. Ia berasal dari Jakarta. Ini adalah pertama kalinya ia bepergian jauh. Dan, sebelum berangkat, ia berpamitan pada teman-temannya sesama tempat sampah.

"Kai, jangan lupa nanti bawa informasi yang banyak. Sekalian oleh-oleh..," pinta seorang teman.

"Ok, sip lah..minta doanya ya!"

Awan masih berhamburan di langit yang cerah. Sepertinya ikut senang mendengar keberangkatan Kai ke Singapura.

****

Menggunakan pesawat terbang, Kai menuju Singapura lewat Bandara Soekarno Hatta. Beberapa saat kemudian ia sudah sampai karena memang jarak Jakarta-Singapura dekat. Akai senang sekali. Ini adalah pengalaman pertamanya naik pesawat.

Kai dan utusan-utusan dari negara lain kini tiba di Bandara Changi. Setelah tiba di Singapura, mereka tak langsung menuju tempat pertemuan. Oleh panitia, seluruh utusan diinapkan di sebuah penginapan. Satu kamar akan di isi dua orang. Sementara, di perjalanan, Kai terheran-heran.

Ia temukan semua tempat sampah di Singapura begitu sehat. Mereka terawat dan ada beberapa yang gemuk. Menandakan kalau mereka selalu diperhatikan. Jalanan terlihat sangat bersih. Sepertinya sampah-sampah telah di buang ke tempatnya. Mungkin karena sering diberi makanan berupa sampah, tempat sampah-tempat sampah di Singapura jadi sehat dan agak gemuk. Lalu ia melihat dirinya sendiri. Kurus kerempeng dan agak lusuh. Ada bagian tubuh yang lecet, sana-sini. Dalam hati, Kai bertanya-tanya, "Mengapa ini bisa terjadi? Mengapa berbeda?"

Tanpa diduga, di penginapan Kai mendapat teman sekamar bernama Lay, ia asli Singapura. Dan, seperti yang Kai lihat tadi, sebagai tempat sampah Singapura, Lay begitu sehat, bersih, dan agak gemuk. Badannya juga bersih.

"Hi, salam kenal. Aku Lay. Kamu?" tanya Lay.

"Aku, Kai."

"Dari mana kau, Kai?"

"Dari Indonesia."

Sebentar saja, Kai dan Lay sudah akrab. Mereka saling bercanda ke sana-sini. Maklum, bagi Kai, ini adalah hal yang tak akan pernah ia lupakan. Mendapat teman baru. Apalagi dari negara maju seperti Singapura.

Lay dari tadi memerhatikan betul badan Kai. Ia manggut-manggut. Tampak jelas kalau ia tahu sesuatu. Lalu, Kai memberanikan untuk bertanya, "Hmm..Lay, ada apa ya? Ada yang salah?"

"Kau kurus sekali. Tak pernah dimasuki sampah ya? Kau juga lusuh nan telihat tak dirawat."
Kai jadi malu sendiri. Penampilannya memang seperti Itu. Tapi lantas ia balik bertanya, "Memang bagaimana orang Singapura memperlakukanmu?"

Saat itulah Lay menceritakan sesuatu.

"Kai, teman-temanku banyak. Hampir di setiap sudut di Singapura punya tempat sampah. Orang-orang di sini juga peduli dengan sampah. Kalau di negaramu?"

Kai hanya geleng-geleng. Pertanda ia menjawab tidak. Apa yang ia temukan di Indonesia, apalagi di Jakarta adalah sebaliknya. Hanya terdapat sedikit tempat sampah di tempat umum. Tapi yang sedikit itu pun dicampakkan dan tak terurus. Bahkan juga tak pernah diisi sampah, karena memang orang Indonesia kebanyakan tak buang sampah pada tempatnya alias sembarangan. Sementara Lay masih bersemangat bercerita.

"Kai, orang Singapura itu tahu kebersihan. Sampah sekecil apapun mereka buang ke tempat sampah. Mungkin ini yang membuat aku agak gemuk. He..he..Kalau di negaramu?"

Kai kembali mengulang geleng-gelengannya. Kai sendiri bingung. Apa yang ia lihat di Jakarta jauh berbeda. Orang orang tak peduli dengan tempat sampah. Tempat sampah cuma jadi pajangan di jalan-jalan. Keadaannya pun tak terawat. Pantas saja kalau badan Kai kurus. Orang di Indonesia itu tak peduli dengan sampah. Main buang seenaknya. Kai terbuai dalam lamunannya.

"Heh, kai, jangan melamun!" ujar Lay.

****

Esok harinya, pertemuan berlangsung ramai sekali. Kai bersemangat sekali. Ia bertemu dengan teapt sampah-tempat sampah dari seluruh dunia. Kesempatan ini ia manfaatkan utnk berbagi pengalaman. Ia ingin mencari pengetahuan sebanyak-banyaknya tentang sampah. Pengetahuan ini yang akan jadi oleh-oleh buat temannya. Ia ingin sampaikan pada orang-orang agar peduli sampah.

Dan di pertemuan itu disimpulkan sebuah kesepakatan internasional. Yang unik, kesepakatan itu hanya berisi 5 kata denga tiga tanda pentung di belakangnya.

"AYO, BUANG SAMPAH PADA TEMPATNYA!!!"

“Lumayan buat oleh-oleh..”, kata Kai dalam hati.

****


Jakarta, 23 Maret 2010
Jazz Muhammad
Cerpen ini diikutkan lomba, tapi ngga menang (hehe.. bodo amat..)



*sumber gambar bisa diklik langsung pada gambanrnya (http://idemerdekaku.blogdetik.com/files/2008/09/sampahidup576.jpg)

Sunday, May 9, 2010

Pragmatisme

Pas temennya punya duit
“Bray, gue bakal jadi temen sejati lo!” (ceilee…)

Pas temennya ngga punya duit
“Heh, lo siapa, ngga kenal bro!” (wah, amnesia bos?)

Seperti biasa, tak henti-hentinya guru IPS bilang kalau manusia adalah makhluk sosial. Ya, makhluk yang ngga bisa hidup sendirian. Manusia butuh seorang partner dalam hidup. Ya tentulah, bayangkan kalau kita hidup sendirian, mau makan? Tanam dulu padinya, bikin penggilingan padi, terus bikin dulu “dandang” buat masak, terus tanam dulu pohon pisang (daunnya buat alas makan). Itu cuma tahapannya. Masalahnya, berapa bulan kita harus nunggu padinya siap panen, berapa lama harus nunggu si pohon pisang jadi gedhe. Wa…bisa gila, bo…

Pasti kamu bilang, wah Rosyid ini super mendramatisir. Ya biarin.

Memang itu kenyataannya. Maksud saya itu, saya hanya menekankan bahwa hidup sendiri itu tak mungkin. Akan tetapi masalah kembali muncul. Kita pastinya harus bisa mencari partner atau teman yang baik. Bagaimana mencari partner hidup yang memang bisa memberi kita kebaikan? Sebelum kita membahasnya, mari simak cerita berikut ini.

Ada seorang gadis buta yang membenci dirinya sendiri karena dia buta. Dia membenci semua orang, kecuali pria kekasih tercintanya. Dia selalu ada untuknya. Gadis itu mengatakan kalau seandainya dia bisa melihat, maka dia akan menikahi pria kekasihnya itu.

Suatu hari, seseorang mendonasikan sepasang matanya untuknya agar dia bisa melihat segalanya, termasuk kekasihya itu. Kekasih prianya itu bertanya padanya, "Karena sekarang kau sudah bisa melihat, apakah sekarang engkau mau menikahiku?" Gadis itu shock bin kaget karena kekasihnya itu ternyata juga buta, dan dia menolak untuk menikahinya.

Pria itu pun pergi dengan berderai air mata, dan beberapa waktu kemudian dia menuliskan surat untuk gadis itu.

"TOLONG JAGA MATA SAYA BAIK-BAIK....."

Ya seperti inilah realita hidup ini. Banyak orang yang memiliki sikap berbeda di keadaan berbeda. Orang seperti ini adalah yang tidak punya prinsip alias pragmatis. Murtadha Muthahari menyatakan bahwa ini adalah gejala marxisme. Wow apaan tuh…(Halah..pokoknya agak g bagus deh..)

Jadi, pragmatis itu orang akan mengubah sikapnya saat keadaan berubah. Hal ini disebabkan sikap awal dianggap tidak memberi keuntungan di kondisi kedua. Orang seperti ini tidak punya komitmen dan hanya mencari kesenangan sendiri. Yo Sakenake udele dewe, ora gelem mikir liyane. Ya contohnya seperti cerita itu.

Pragmatisme harus menjadi perhatian penting bagi kita terutama kaum muda. Nah, ini bisa jadi referensi kita dalam mencari teman. Ketika dalam pertemanan butuh pengorbanan, jangan sampai itu sia-sia karena kita pilih-pilih teman. Sayang kan kalau udah capek-capek trus ngga dihargai…

Sekarang kita pindah perspektif ke dalam diri kita sendiri. Maksud saya ya kita yang harus introspeksi dan jangan jadi pragmatis. Jangan kita menjadi orang yang hanya mencari enaknya sendiri. Ada enak dateng, ngga ada pergi aja. Ya memang ini boleh-boleh saja, tetapi masalahnya adalah apakah kita akan terus hidup seperti itu. Ketidakadaan komitmen dalam diri akan menimbulkan pencitraan yang buruk dihadapan yang lain.

Sebagai contoh adalah sebagian politisi negeri ini. Sekali lagi sebagian bukan seluruh. Karena ada iming-iming gaji yang besar, mereka berbondong-bondong mendafar jadi caleg. Coba presiden bilang kalau jadi DPR itu lillahi ta’ala, ya maksudnya buat beribadah saja, ngga ada gajinya. Mana ada yang mau. Kalau ada pun ya sedikit.

Dosen saya pernah bilang orang pragmatis itu mendekat kalau kita punya uang dan bilang “good boy”, dan pas kita ngga ada duit yang mereka bilang “good bye”.

Ya, sekarang kamu sekalian bisa menilai apakah kita membiarkan pragmatisme tetap menjangkiti diri kita ini. Saya pikir menghindarinya adalah sangat bijak. Seorang dosen pernah bilang bahwa manusia itu hewan yang rasional. Nah, unsur hewan itulah yang menjadi dasar pragmatisme dalam diri manusia. Jadi pragmatisme itu lumrah? Saya jawab YA.

Akan tetapi ingat, manusia punya unsur rasionalitas yang menjadi penyeimbang insting kehewanan yang hanya berorientasi kesenangan dan keuntungan. Hmm.. tulisan yang kayaknya ko’ agak serius yah…, tetapi semoga tetap bisa jadi salah satu acuan dalam menjalani hidup yang setingkat lebih baik. Mumpung masih muda….



*sumber gambar bisa diklik langsung pada gambanrnya (http://www.koran-jakarta.com)

Wednesday, May 5, 2010

Kepercayaan

Heh, gue tuh udah ngga percaya lagi ama elo!
Elo tuh ternyata pembohong!
Elo ngerusak kepercayaan gue selama ini!

Ketika membangun sebuah hubungan pertemanan, maka rasa saling percaya adalah landasan utamanya. Bagaiman tidak? Mana mungkin seseorang mau berteman dan bergaul dengan kamu kalau kamunya ngga jelas.

Memang menjadi sesorang yang bisa dipercayai itu kelihatannya mudah. Akan tetapi, sulit untuk dilakukan. Rasa curiga adalah masalah utamanya. Memang tidak ada orang sempurna di dunia ini, jadi sebenarnya curiga pun juga sah-sah saja. Tetapi, tidaklah patut terus-terusan curiga seperti itu. Lama kelamaan rasa saling percaya akan luntur ditelan kecurigaan.

Rasa curiga sebenarnya muncul ketika suatu ketika kita melakukan sebuah hal yang merusak perjanjian pertemanan. Ya entah ngga nepatin janji lah, acuh tak acuh atau mungkin lost contact. Menurut saya ini sangat disayangkan.

Emane cah! Susah-susah cari teman eeh… malah disia-siain gitu aja. Masalahnya utamanya itu bukan hilangnya teman, tapi kalau orang itu udah ngga percaya itu susah balikin kepercayaannya.

Ada sebuah cerita umum tenang anak yang suka berbohong. Suatu ketika ia bermain di hutan dan berteriak-teriak minta tolong. Ia bilang kalau ada harimau yang ingin menerkamnya. Sontak warga pun datang beramai-ramai ingin menolong anak itu. Namun, ketika didatangi, anak itu malah tertawa terbahak-bahak. Ia aman-aman saja.

Ternyata ia hanya ngibulin warga. Ngga ada yang namanya harimau. Besoknya ia kembali mengulang aksinya. Kembali warga pun berduyun-duyun bermaksud menolongnya. Sekali lagi, warga kena kibul tuh anak. Sekarang yang ada hanya rasa jengkel warga terhadap anak ingusan itu.

Hari ketiga, anak itu kembali mengulang aksi. Namun, yang ini benar-benar terjadi. Ia berhadapan dengan harimau yang lapar dan siap menelannya. Ia berteriak-teriak minta tolong. Namun, yang terjadi justeru warga yang acuh. Warga sudah tidak percaya lagi dengan omongan anak itu. “Bodoh banget gue mo dikibulin tuh bocah lagi”. Akhirnya bisa kamu tebak. Harimaunya dapat makan gratis.

Cerita di atas memang tak ada hubungannya dengan pertemanan, tapi cukup menggambarkan kalau kepercayaan itu mudah untuk dirusak. Sementara, membangun sebuah kepercayaan itu butuh waktu. Bukan hanya satu atau dua hari. Ini bisa bertahun-tahun. Warren Buffet pernah menyampaikan kalau membangun reputasi itu butuh waktu 20 tahun, sedangkan hanya butuh waktu 5 menit untuk menghancurkannya.

Sayang sekali bila kepercayaan yang telah kita bangun begitu susahnya, rusak begitu saja oleh tingkah laku kita yang tidak-tidak. Makanya, seperti di tulisan sebelumnya saya sampaikan kalau sebelum melakukan tindakan itu kita sebaiknya melakukan proses berpikir dulu. Dampak yang ditimbulkan pasti berbeda antara yang mikir dulu sama yang grusa-grusu.

Dalam berteman rasa saling percaya sangat perlu untuk dibangun. Dan ketika itu sudah terjalin dengan baik, maka jangan disia-siakan. Memang manusia itu banyak. Semua orang bisa kita jadikan teman. Kan tetapi, bila kita bisa menjaga hubungan baik mengapa ngga? Orang-orang China sering bilang akeh hopeng ya akeh rejekine (lho kok bahasa jawa?). Maksudnya banyak teman ya banyak rejekinya.

Sandi Uno dan Billy Boen adalah pengusaha sukses. Mereka mengatakan bahwa membangun bisnisnya hingga bisa berhasil karena network. Mereka memiliki jalinan pertemanan yang baik dengan orang lain. Nah teman-teman inilah yang memberikan informasi-informasi yang mungkin kita belum tahu.

So, mari kita punya banyak teman. Mari membangun rasa saling percaya demi menjalin hubungan pertemanan. Punya banyak teman ngga ada salahnya kok. Manfaatnya malah sangat banyak. Para pengusaha sukses yang aku sebutkan tadi, menyampaikan bahwa satu hal penting yang membuat mereka sukses adalah network mereka yang luas, maksudnya ya teman ataupun kenalan mereka banyak.

Sekali lagi, jaga pertemanan dengan rasa saling percaya yang terus terjaga. Akeh hopeng ya akeh rejekine!



*sumber gambar bisa diklik langsung pada gambanrnya

Saturday, May 1, 2010

Keperluan Perubahan Paradigma Pendidikan Tinggi di Indonesia

Saat ini, dunia pendidikan tinggi Indonesia diramaikan oleh 4,3 juta mahasiswa dengan 155.000 dosen, yang tersebar pada 82 universitas negeri dan 2800 perguruan tinggi swasta. Melihat angka tersebut, sepertinya terbuka lebar kesempatan bagi siapapun untuk menikmati akses pedidikan tinggi di negeri ini.

Namun, dalam konteks kekinian, perihal melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi agaknya sedikit dilematis. Betapa tidak? Dalam benak pihak yang berkepentingan, dalam hal ini siswa, guru, dan orang tua, keinginan mendapatkan tempat belajar yang terbaik tentu menjadi prioritas. Akan tetapi, keinginan itu kini dihadapkan dengan berbagai realitas yang kompleks.

Keinginan yang kuat untuk memeroleh tingkat kemampuan akademis yang lebih tinggi dihadapkan oleh kemendesakan (urgency) untuk lekas berbenah dari social disaster yakni kemiskinan, sebuah kenyataan sosial yang menjadi musuh baru pembangunan bangsa. Jumlah pengangguran di Indonesia yang masih tinggi yakni sekitar 8%, menimbulkan keperluan untuk bergerak semakin cepat.

Selain itu, wacana otonomisasi perguruan tinggi, utamanya yang negeri, semakin mengusik. Perguruan tinggi yang dulu di subsidi penuh, kini harus menjalankan operasinya dengan mandiri. Artinya pendanaan harus dipenuhi dari “kantong pribadi” perguruan tinggi tersebut. Bagi yang swasta, hal ini tak berpengaruh. Tetapi bagi yang negeri, hal ini tentu agak menyesakkan, baik bagi perguruan tinggi maupun mahasiswanya.

Meski demikian, perguruan tinggi tak boleh terjebak dalam pola perdagangan jasa pendidikan. Perguruan tinggi jangan sampai memosisikan dirinya sebagai penjual jasa pendidikan dan mahasiswa adalah pembelinya. Maka hubungan transaksional berbasis material memang dirasa perlu ditolak. Di awal, tentu perguruan tinggi akan terbebani, tetapi pada proses selanjutnya, kemandirian dalam hal pendanaan menjadi sebuah keniscayan. Ini menjadi tantangan bagi pihak terkait untuk mencari sistem pendanaan yang alternatif, tentu bukan membebankan pada mahasiswa.

Masih Buah Mentah
Hal semacam ini  menjadi semacam pilihan yang sulit, semacam dilema sosial. Di satu sisi, Indonesia butuh memperbaiki taraf pendidikan masyarakatnya, tetapi di sisi lain infrastruktur sosialnya tidak mendukung.

Sementara perguruan tinggi di Indonesia belum terlihat mampu memberi solusi akan masalah itu. Perguruan tinggi masih memberikan buah mentah pada bauran masalah (problem mix) di masyarakat. Mahasiswa jarang yang memiliki kemampuan tepat guna serta cepat guna untuk terjun dalam masyarakat. Sementara masyarakat butuh sekali solusi-solusi kreatif-praksis nan cepat dalam menangani masalah-masalah terkini.

Kini, tentunya, harus ada perubahan. Perubahan atas kondisi pendidikan tinggi di Indonesia. Menurut penulis, perlu perubahan cara pandang mengenai peran perguruan tinggi. Ada sebuah urgensi perubahan paradigma atas pendidikan tinggi di Indonesia ini.

Kebanyakan orang kalau diberitahu apa itu perguruan tinggi terbaik, maka jawaban yang muncul adalah perguruan tinggi favorit Indonesia seperti UI atau mungkin juga ITB. Apa salah? Tidak. Tapi pandangan itu pada konteks hari ini perlu dicermati kembali.

Masa depan bangsa ini tentunya akan dititipkan pada kaum muda. Merekalah lapisan sosial paling berpeluang untuk ikut andil dalam menentukan nasib bangsa di masa depan. Maka, membekali mereka dengan informasi dan pengalaman terbaik adalah keniscayaan. Salah satu jalan yang bisa ditempuh adalah pengoptimalisasian peran perguruan tinggi.

Tiga Syarat
Perguruan tinggi yang bisa menyiapkan kaum muda terbaik Indonesia tentulah, bisa disebut, perguruan tinggi yang terbaik. Tetapi, memandang istilah perguruan tinggi terbaik harus secara komprehensif. Bagi penulis, tiap perguruan tinggi memiliki potensi untuk menjadi terbaik, asal bisa mencetak kaum muda terbaik untuk bangsa.

Mengacu pada pandangan Anies Baswedan, Rektor Universitas Paramadina, perguruan tingggi terbaik selayaknya memberi mahasiwanya tiga syarat. Pertama, akses informasi-informasi akdemis (academic) yang penuh. Artinya, mahasiswa sebagai kaum muda, harus mendapatkan pengetahuan akademis yang komprehensif. Tidak berat sebelah, tapi multidimensi, multiperspektif. Mahasiwa harus mendapatkan akses keilmuan yang menyeluruh.

Kedua, mahasiwa selayaknya mendapatkan akses jaringan (network) yang seluas-luasnya. Mahasiswa harus dikenalkan oleh dunia luar yang riil. Hal ini tentu sangat penting karena dengan network, mudahlah terbentuknya peluang-peluang baru dalam mengembangkan potensi.

Ketiga, mahasiswa harus disilakan untuk mencicipi masa depan (taste the future). Kaum muda itu, yang ditawarkan kepada bangsa ini adalah masa depan. Maka, gambaran-gambaran masa depan harus bisa didapatkan di perguruan tinggi. Perguruan tinggi terbaik seharusnya menanamkan mindset optimisme pada mahsiwanya. Optimisme inilah yang akan membangun kesadaran kolektif kaum muda untuk terus membangun bangsa.

Dengan begitu, jelas sudah, bagaimana perguruan tinggi terbaik itu, sebuah perguruan tinggi idaman para kaum muda negeri ini. Semua perguruan tinggi bisa melakukannya, baik negeri maupun swasta. Maka, masalah saat ini bukan lagi mana yang harus dipilih antara negeri dan swasta, tetapi apa mimpi masa depan yang ingin diraih oleh kaum muda bangsa ini. Perguruan tinggi harus dipahami sebagai jalan menuju ke mimpi itu. Tujuan hidup itu masa depan. Perguruan tinggi adalah jalan mencapai ke sana.

Emerging University
Di Indonesia telah banyak universitas swasta yang telah memiliki kualitas baik. Apabila di Jakarta, terdapat Universitas Pelita Harapan, Universitas Paramadina dan Universitas Bina Nusantara. Di Jogja terdapat Universitas Islam Indonesia. Dan juga di Malang terdapat Universitas Mauhammadiyah Malang. Masih banyak lagi universitas swasta yang menunjukkan kualitasnya di negeri ini.

Universitas inilah yang bisa disebut sebagai emerging university di Indonesia. Universitas in berupaya menyeruak muncul dipermukaan persaingan kualitatif dalam dunia pendidikan tinggi di Indonesia. Namun, jangan sampai paradigama yang negeri-centered memendam potensi mereka.

Perguruan tinggi harus dipahami sebagai jalan bagi mimpi mahasiswanya. Perguruan tinggi adalah tempat permainan akademis-kulaitatif dan pemain utamanya adalah mahasiswanya. Perguruan tinggi adalah jalan mencapai ke mimpi tersebut. Dalam konteks hari ini, apapun statusnya, semua memiliki peluang untuk menjadi universitas terbaik di negeri nusantara ini.

Kalau mau jujur, di masa depan, sebenarnya kompetisi bukanlah terjadi antarsesama mahasiswa Indonesia. Tapi kompetitor sebenarnya adalah mahasiswa yang datang dari luar negeri. Mereka membawa kecerdasan intelektual yang berkualitas serta didukung jejaring internasional yang luas. Kalau mahasiswa di dalam negeri masih memasalakan antara negeri atau swasta, maka yang terjadi adalah misleading atas tujuan yang ingin tercapai.

Nilai-Nilai
Di tengah pertarungan di segala bidang yang semakin kompetitif, maka kemampuan untuk mandiri tentu sangat dibutuhkan kaum muda bangsa ini. Di sinlah urgensi penanaman nilai-nilai kewirausahaan (entrepreneurship) pada mahasiswa harus dicermati. Mahasiswa harus bisa menjadikan dirinya berada dalam tahap kemandirian. Karena, kemandirian ini nantinya yang akan menjamin bangsa ini menjadi bangsa yang besar di masa depan.

Selain itu, mahasiswa juga harus memiliki nilai kepemimpinan (leadership) dan etika (ethic). Mahasiwa harus berani menjadi pemuka masyarakat yang setiap waktu siap dimintai keputusan. Kaum muda harus bisa tegas dalam bertindak menghadapi masalah yang menghadang. Meski demikian, mahasiswa tetap harus punya nilai. Inilah peran nilai ethic.

Mahasiswa tetap bebas berpendapat dan beraksi, tapi etika memberikan koridor dengan arah terbaik. Tentunya bukan bermaksud membatasi, tetapi menjadikan setiap aksi menjadi fokus pada tujuan bersama bagi bangsa.

Akhirnya, perguruan tinggi seharusnya menciptakan mahasiswa yang siap dan kompetitif. Perguruan tinggi sudah seharusnya bisa mencetak generasi penerus bangsa yang penuh optimisme. Generasi muda yang punya visi jauh ke depan akan nasib bangsa, sebuah generasi yang siap menjadi agent of change.

Oleh karena itu, perguruan tinggi sudah harus bersiap menciptakan generasi muda yang memiliki daya intelektual yang berkualitas. Generasi muda yang mampu berpikir sistematis dan analitis. Kaum muda yang secara cerdas mampu menangkap fenomena di masyarakat lalu mengesktrasikan sebuah pandangan dan aksi yang solutif-kreatif.

Kaum muda didikan perguruan tinggi juga secara sosial harus memiliki pengaruh. Ilmu-ilmu yang didapat di perguruan tinggi harus bisa diimplementasikan secara praktis di masyarakat. Kaum muda ini sudah saatnya menanamkan pengarunya di masyarakat. Pengaruh soutif konstruktif tentunya. Dengan demikian, ilmu yang didapatkan tidak mandeg dalam wacana saja. Karena masyarakat butuh solusi yang cepat dan praktis. Bukan wacana-wacana yang malah mebuat masalah makin rumit.(*)

Sumber Bacaan
1. Pidato Anies baswedan pada Wisuda Paramadina, 3 Oktober 2009
2. Hartiningsih, Maria. “Kesantunan Anies R Baswedan”. Kompas, 21 Juni 2009
3. “Anies Baswedan: Isu Pentingnya Bukan Lagi BHP!”. Kompas.com, 18 Januari 2010
4. Irwandi. “Tantangan Pendidikan Tinggi di Indonesia”. http://www.dikti.go.id/index.php?option=com_content&task=view&id=224&Itemid=13

Tulisan ini ditulis dalam rangka memeringati Hari Pendidikan Nasional dan dikutsertakan dalam lomba blog UII.

Ini merupakan tulisan kedua. Tulisan pertama bisa dilihat di sini.



*sumber gambar bisa diklik langsung pada gambanrnya  




Wednesday, April 28, 2010

Letupan Semangat dari Negeri Tulip




Perasaanku sedikit meringsut karena sejak tadi Ibu itu tak kunjung datang juga. Aku telah janjian tadi pagi kalau aku akan wawancara beliau soal pendidikan di Indonesia ini. Sudah jam 10, tapi Ibu itu tak datang juga. Aku tadi mampir di kelas beliau, tapi beliau sedang mengajar.

Sepuluh lebih lima. Aku ke ruangan beliau saja. Kalau sampai tak dapat informasi, bisa jadi masalah. Deadline tulisan buat mading (majalah dinding) kampus tinggal esok. Aku harus menulis tentang pendidikan tinggi di negeri ini. Maklum, inilah kebiasaan mahasiswa Indonesia, kalau dapat tugas, sistem SKS-lah yang jadi primary choice untuk dieksekusi. Kau tahu apa sistem SKS? Bukan sistem kredit semester, tapi itu ‘Sistem Kebut Semalaman’. Tapi, syukur, Ibu itu ada di ruangan.

Shiskha Prabawaningtyas, itu nama sang Ibu. Ia adalah dosen Jurursan Hubungan Internasional universitas tempatku belajar. Setahuku ia lulusan luar negeri. Aku segera hampiri beliau dan wawancarai. Aku buka pertemuan dengan perkenalan dan setelahnya meminta data diri ibu itu.

Syukur, Mbak Icha, begitu ia minta aku memanggilnya, tak memarahi aku ketika aku sampaikan bahwa deadline tulisan adalah esok harinya. Meski sedikit menyindir, aku tahu bahwa ia menyayangkan kelakuanku itu. Tapi di luar itu semua, beliau sangat kooperatif dalam menjawab pertanyaanku. Dan ternyata aku baru tahu, beliau lulusan Belanda, tepatnya Universitas Leiden. Beliau adalah lulusan Master of International Relations and Diplomacy dari Faculty of Social Behavioural (Facultiet Social Wattenschappen), Universiteit Leiden.

Sebuah Persinggungan Sejarah
Kau tentu tahu Universitas Leiden ‘kan? Universitas yang memiliki persinggungan sejarah dengan negeri nusantara ini. Ia juga merupakan universitas tertua di negeri Oranye itu. Di awal, beliau, Mbak Icha, membawaku pada sejarah Bumi Pertiwi ini. Leiden menjadi tempat belajar raja-raja Jawa. Ketika menjajah, Belanda memang membatasai pendidikan orang pribumi. Tapi, ada yang bisa bersekolah hingga tingkat tinggi yakni raja-raja itu atau yang sering disebut priyayi.

Sebagai contoh, KI Hajar Dewantara yang berhasil menjadi mahasiswa di sana pada 1908. Kemudian sang founding father Mochamad Hatta, juga Sutan Syahrir. Tokoh-tokoh itu merupakan nama-nama yang tentu tak akan mungkin kau lupakan. Menurut sejarah, bahkan nama Indonesia lahir di sana yakni ketika sekelompok mahasiswa Indonesia termasuk Bung Hatta membentuk Indische Vereeniging (Perhimpunan Hindia)

Terlepas dari itu semua, Belanda memiliki sistem pendidikan yang self-studies oriented. Mahasiswa diberikan kebebasan untuk mengeksplorasi ide dan kemudian menyampaikannya. Porsi kontribusi dosen hanyalah sebagian kecil. Mahasiswa adalah pemain utama dalam permainan edukatif di kelas. Maka, membaca adalah kunci utama memenangkan permainan itu.

Ini baru namanya pendidikan yang inovatif. Artinya menempatkan mahasiswa menjadi benar-benar kreatif dan produktif. Inovasi itu tak harus yang muluk-muluk. Semua mulai dari hal kecil, yakni 'baca' dan 'baca'.

Sayang, di bagian ini, Mbak Icha menyelipkan sebuah sindiran. “Yang jelas pendidikan di Belanda tak ada budaya kebut semalaman. Semua well-prepared.” Kali ini aku kena pukulan telak. Aku hanya diam saja, sambil senyum-senyum sendiri.

Seorang intelektual bernama Nurcholish Madjid bahkan menyatakan bahwa sistem pendidikan Belanda inilah yang membuncahkan semangat nasionalisme kala itu. Orang-orang Indonesia seperti Bung Hatta dan Syahrir melakukan pemberontakan ideologi meski yang menjadi bekal semua itu adalah pendidikan Belanda sendiri. Kebebasan berpendapat yang diterapkan memupuk keinginan membentuk negara yang mandiri.


Keukenhof
Di luar pendidikannya yang bisa dibilang one step ahead, ternyata Belanda juga memiliki inovasi yang juga one step ahead. Mbak Icha membawaku masuk dalam imajinasinya pada masa ketika ia berkuliah. Adalah taman Keukenhof yang dikelola inovatif dan kreatif yang hingga kini masih menjadi magnet hidup penarik perhatian wisatwan dunia.

Keukenhof adalah taman bunga tulip yang ada di negeri kincir angin itu. Pengembangan ladang tulip begitu menjadi perhatian pemerintah. Setiap pemilik ladang diberi stimulus oleh pemerintah untuk berlomba. Kompetisi yang dibangun adalah kompetisi untuk terus berkreasi memunculkan varietas baru. Setiap petani diberikan kesempatan untuk menampilkan kemahirannya dalam memelihara bunga khas Belanda itu.

Meski asalnya bukan dari Belanda sendiri, yakni dari Turki, negeri dibawah permukaan air laut itu berhasil meyakinkan dunia bahwa itu adalah identitasnya. Penegasan itu dikonfirmasi dengan diadakannya Bloemencorso tiap April hingga Mei. Blomencorso adalah festival bunga tulip ketika bunga itu mengembang. Parade jalanan digelar. Berbagai bentuk rekaan dipamerkan bak karnaval. Yang menarik, tentu tulip-tulip indah yang menjadi penghias utamanya. Tak pelak, dalam periode itu, Belanda mendadak jadi gula wisata yang dikerumuni banyak semut-semut wisatawan.


Meski hanya bunga, tulip ternyata memang memiliki keunikan. Bukan dari strukturnya, tapi nilai yang ia berikan pada yang negara melambungkan namanya itu, yakni nilai pariwisata juga nilai eknomi. Datangnya wisatawan tak dipungkiri menambah pundi-pundi pendapatan negara tersebut. Dan yang paling membuat tulip ini unik adalah kreativitas petaninya juga perhatian pemerintah hingga orang-orang bilang, “Belanda itu tulip, tulip itu Belanda.”

Dalam analisis marketing, Belanda telah berhasil menjadikan dirinya top of mind publik dunia bahwa ia adalah Negeri Tulip. Bunga itu seakan menjadi lambang supremasi daya tarik negeri yang pernah bersentuhan dengan negeriku ini.

Sayang, Mbak Icha tak meneruskan kisahnya soal tulip. Ia berbalik arah kembali ke pendidikan. Kali ini ia tak beromantika pada masa lalu lagi. “Let bygones be bygones!” begitu katanya.

Belanda: homy
Ia mulai bercerita soal bagaimana belajar di Belanda itu. Negara asal VOC itu saat ini adalah negeri yang homy. Khusus bagi pelajar Indonesia, makanan bukan lagi masalah yang menakutkan. Banyak ditemukan tempat makan yang sesuai lidah orang Indonesia. Di sana ada nasi goreng, ada soto, ada rendang dan masih banyak lagi. Selain itu, sudah banyak pelajar Indonesia yang ada di sana dan bisa dimintai bantuan ketika ada kesulitan.

Saat ini, pelajar-pelajar Indonesia di Belanda diikat oleh sebuah organisasi bernama PPI atau Perhimpunan Pelajar Indonesia. Sebenarnya organisasi ini tidak baru. Ini adalah perkembangan dari Indische Vereeniging-nya Bung Hatta.

Dan yang unik, kadang ada orang-orang tua yang bisa berkomunikasi mengunakan bahwa Bumi Pertiwi ini. Kebanyakan mereka memiliki keluarga yang pernah di Indonesia semasa kemerdekaan atau juga bekas pegawai Shell, salah satu perusahaan migas Belanda, di Indonesia.

Tentu tak semua orang berbahasa Indonesia. Jadi masalah donk? Tenang saja. Meski Belanda punya bahasa sendiri, sebagain besar penduduknya bisa bahasa Inggris. Jadi tak ada maslah ‘kan?


Belajar di Belanda, bisa ngirit plus sehat. “Kok bisa?” aku sontak ingin mengonfirmasi pernyataan Mbak Icha itu. Ternyata di Belanda terdapat transportasi utama yang sangat digemari, yakni sepeda. Setiap jalan utama, di bagian pinggirnya disediakan space khusus buat sepeda. Harga sepeda pun juga cukup affordable. Alternatifnya bisa membeli yang bekas, berkisar antara 45 dan 140 euro. Dengan menggunakan sepeda sebagai alat transportasi, biaya yang dikeluarkan dari rumah atau kosan ke kampus tentu gratis. Plus, hidup pun jadi lebih sehat.

“Ini baru inovasi..!” begitu seru Mbak Icha. Bukan hanya ide, tapi eksekusinya juga ada dan nyata. Bukan hanya penduduknya tapi pemerintah juga mendukung. Kalau di Indonesia susah. Kampanye-kampanye bike to work, eh, pemerintahnya diam saja, “Kayak ngga denger aja..”

Sampai itu aku agak terkesima. Tapi tiba-tiba sebuah pertanyaan terbesit. Meski sebentar tapi mengganggu. “Bagaimana biayanya ya?” Ini masalah sensitif. Bukan bagiku saja. Bagi siapa saja, urusan uang itu bisa mengernyitkan dahi. Kadang mengecilkan nyali juga.

Tapi Mbak Icha meyakinkan bahwa biaya itu bukan masalah. Biaya kuliah di Belanda memiliki kisaran yang sangat beragam. Untuk tingkat S1 atau bachelor, besaran biaya kuliah antara 3.500 dan 7.000 euro per tahun atau Rp 50 juta sampai Rp 101 juta. Adapun untuk program S2 atau master, biaya yang diperlukan antara 4.000 dan 15.000 euro per tahun. Itu kalau biaya sendiri. Ada alternatif lain dan ini yang paling dicari. Ya, beasiswa. Mbak Icha sendiri adalah penerima beasiswa. “Wah, enaknya..” kataku dalam hati.

Mbak Icha adalah penerima beasiswa StuNed (Studeren in Nederland). Beasiswa ini untuk pegawai negeri, aktivis LSM dan juga wartawan. Tapi beasiswa bukan hanya StuNed saja. Banyak beasiswa yang bisa diraih untuk studi di Belanda.

Ada beragam beasiswa yang dapat diraih antara lain Huygens Scholarship Programme (HSP), Netherlands Fellowship Programme (NFP), The Indonesian Young Leaders Scholarship Programme, Amsterdam Merit Scholarships, Berlage Institute Scholarship, CHN-SGS Scholarship, Erasmus Mundus Scholarship programme.

Juga ada beasiswa dari pemerintah Indonesia sendiri melalui Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Dikti) dan Departemen Komunikasi dan Informatika. Dan masih banyak lagi beasiswa yang bisa ditembus.

Informasi selengkapnya bisa didapatkan siapapun di Netherlands Education Support Office (Neso) Indonesia. Kumpulan informasi tentang Belanda ada di organisasi itu. Kalau ingin online saja, maka website www.grantfinder.nl bisa jadi alternatif.

Tapi ada satu yang selalu jadi masalah pelajar Indonesia. Mereka bisa berkomunikasi pakai bahasa Inggris. Was wes wos malahan. Tapi ketika kemampuannya diuji lewat tes TOEFL, baru klepek-klepek. Standar beasiswa ke luar negeri biasanya 550. Nah, ini yang harus menjadi tantangan dan harus segera diselesaikan. Tapi, tiba-tiba Mbak Icha melontarkan pertanyaan padaku, “Kamu berapa TOEFL-nya?”

“Hehe, 500 aja masih belum, Mbak…”

Aku dapat pukulan telak kedua. Tapi, cerita Mbak Icha sedikit menciptakan letupan semangatku untuk meraih kesempatan belajar di luar negeri, ya salah satunya di Belanda. Aku diam-diam berharap, semoga saja letupan itu bisa membakar sekam kenyataan bahwa aku benar-benar bisa belajar di negeri orang nantinya. Semoga!
****


*sumber gambar bisa diklik langsung pada gambanrnya atau buka link-link berikut
* kompetiblog2010.studidibelanda.com
* majalah.ppibelanda.org
* wikimedia.org
* www.holland.com
* wikimedia.org

Sunday, April 25, 2010

Perbankan Syariah: Sebuah Produk Sekaligus Ekspresi Keimanan

Pada 2009 lalu, Komite Perbankan Syariah Direktur Direktorat Perbankan Syariah, Bank Indonesia (BI) mengeluarkan sebuah strategi baru pengembangan Perbankan Syariah di Indonesia. Strategi ini meliputi beberapa strategi utama yakni pencitraan baru, pengembangan segmen, pengembangan produk, peningkaan pelayana dan komunikasi yang terbuka dan universal. BI merangkum strategi itu dalam sebuah Grand Strategy Pengembangan Pasar Perbankan Syariah.

Bila diperhaikan lebih cermat, konsep pengembangan tersebut ingin menekankan perlunya sikap keterbukaan dari perbankan islami itu. Selama ini memang diakui bahwa perkembangan perbankan syariah masih jauh dibanding yang konvensional. Akan tetapi, bila dilihat dari rasio perkembangannya, perbankan syariah mencatat angka yang impresif yakni rata-rata 46,3 persen. Meski demikian, penyelenggaraan perankan syariah yang masih terkesan eksklusif.

Inklusivitas
Segmen yang tersentuh belum terlalu merata. Artinya, masih terjadi tendensi atas layanan yang disediakan. Selain itu, layanan perbankan ini belum terintegrasi dengan sistem keuangan global. Pembiayaan syariah di Indonesia masih terfokus pada pasar domestik. Selain itu, tingkat sofistikasinya masih tertinggal oleh bank-bank konvensional.

Pada satu sisi memang ini menguntungkan. Ketika terjadi krisi finansial global pada 2008 lalu, perbankan syariah hampir tidak terusik sama sekali. Akan tetapi, ketika ekspansi menjadi sebuah urgensi, maka perbankan syariah sepertinya harus lebih dikembangkan lagi, baik dari sisi teknologi, layanan maupun jaringan.

Inklusivitas perbankan syariah dapat dilakukan dengan keterbukaan layanan pada pasar yang ada menjadi sasaran. Fokus pada segmen tertentu memang harus dilakukan, akan tetapi ekspansi yang dilakukan tentunya membutuhkan jumlah pasar yang juga lebih besar. Meski bisa dikatakan bahwa pasar syariah telah luas, tetapi pada kenyataannya, pasar tersebut seperti masih menjadikan syariah sebagai alternatif.

Konsumen syariah umumnya masih menggunakan layanan konvensional sebagai produk utama. Hal ini bukan disebabkan oleh karakteristik produk yang diberikan, akan tetapi kemasan yang disajikan oleh perbankan syariah yang masih terkesan “tendensius”.

Dua Peran
Sebagai contoh penggunaan istilah dalam setiap produk yang bisa dikatakan hanya “terjangkau” oleh kaum Muslim. Sebagai contoh, terdapat sukuk, ijarah, mudarabah, dan lain-lain. Meski demikian, hal ini bukan berarti istilah tersebut harus diubah. Istilah tersebut memang ciri khas dari Islamic Banking dan memang sepertinya harus dipertahankan. Yang perlu dilakukan adalah penekanan bahwa perbankan syariah adalah benar-benar produk perbankan.

Memang diakui bahwa penamaan itu mengikuti kaidah fikih yang berada di kalangan Islam. Juga diakui, untuk umat Islam, perbankan syariah bia dikatakan sebagai salah satu bentuk ekspresi keimanan seseorang. Sebagai seorang muslim, tentunya memang perlu terlibat langsung dalam mengembangkan indutri ini. Karena pada dasarnya, industri perbankan syariah lahir sebagai sebuah aktualisasi ajaran keagamaan yang implementatif.

Akan tetapi, untuk keperluan ekspansi, pemikiran pragmatis positif sepertinya perlu diambil. Artinya, bukan berarti mereduksi kandungan keimanan yang ada, tetapi pada sisi lain, perbankan syariah harus diakui memang benar-benar produk yang memang perlu dikembangkan. Jadi, di satu sisi, perbankan syariah tetap menjadi sebuah manifestasi peribadatan umat Islam, dan di sisi lain ini adalah sebuah produk yang bisa diakses lintas kalangan.

Pada sisi kedua tersebut, perbankan syariah seharusnya dimaknai sebagai benar-benar produk perbankan yang benar-benar menjadi alternatif layanan perbankan yang menjanjikan. Perbankan syariah adalah sebuah layanan yang siap bersaing dan menjadi pionir di dunia keuangan yang benar-benar memberikan win-win solution baik bagi nasabah maupun bank penyelenggara.

Pemaknaan layanan perbankan syariah sebagai produk perbankan pada umumnya sebaiknya dilakukan. Sehingga, perbankan syariah Indonesia akan memiliki citra baru yang bisa menarik semua golongan masyarakat tanpa terkecuali. Karena, perbankan syariah memiliki sistem bagi hasil yang memberikan proprosi keuntungan yang seimbang bagi kedua belah pihak.

Prospek
Prospek ke depan perbankan syariah, menurut beberapa analis, memang menjanjikan. Perkembangan perbankan syariah bisa dikatakan pesat. Total aset pada pada 2009 mencapai 87 trilliun. Sementara, pada 2010, BI kembali menampabh proyeksinya menjadi 98 trilliun. Hal ini menunjukkan bahwa optimsme kemajuan layanan syariah terus berkembang.

Pada tahun ini, bahkan hadir lima bank syariah baru yakni BNI syariah, Bank Jabar Banten Syariah, Maybank Syariah dan dua bank lagi yang sedang menjalani uji tuntas (due diligence). Lima bank ini akan melengkapi delapan bank syariah yang telah ada yakni Bank Syariah Mandiri, BRI Syariah, bank Mualmalat, Bank Danamon Syariah, bank Permata Syariah, bank Victoria Syariah, bank Bukopin syariah dan BCA Syariah. Sementara tren ke depan, unit usaha syariah (UUS) pada bank-bank lain akan menjadi bank umum syariah (BUS) sendiri.

Akhirnya memang positioning khas Perbankan Syariah sebagai "lebih dari sekedar bank" (beyond banking) perlu kembali dikedepankan. Perbankan syariah merupakan sebuah alternatif perbankan yang menjanjikan. Layanannya yang bersifat win-win solution bisa diakses oleh semua golongan. Tak ada tendensi dalam perbankan syariah.

Secara khusus, Perbankan syariah memang sebuah ekspresi keimanan bagi kaum muslim. Namun, pada umumnya, dan ini yang sangat perlu ditekankan, produk syariah adalah untuk semua kalangan.

Meski demikian, demi sebuah perkembangan, masih banyak hal-hal yang bisa dilakukan oleh industri perbankan syariah apabila ingin meningkatkan jumlah nasabahnya yang jumlahnya saat ini masih berkisar 5 juta nasabah.



Tulisan ini diikutsertakan dalam iB Blogger Competition
nikmati juga tulisan ini bersama tulisan-tulisan lainnya di Kompasianaku



*sumber gambar bisa diklik langsung pada gambanrnya (islamicbanking.info)

Saturday, April 24, 2010

Gelas Kosong

A: Eh Bai, besok ada seminar tentang ini lho…
B: Ah, gue udah tahu, lho ngga usah ngasih tahu..
…….
A: Wah seminar tadi menarik bener, dapat uang transport lagi..
B: Eh lo tadi dimana, aku kok ngga dapet gituan?
A: Ya, lha wong tempat yang kamu maksud tadi itu beda, makanya jangan sok tahu


Mengerti segala hal sepertinya menyenangkan. Ketika orang baru mempelajari sesuatu, kita sudah tahu duluan. Kita akhirnya merasa paling tahu dan paling benar. Tapi, saya jamin, ini tu ngga mungkin. Informasi di muka bumi ini sangat banyak. Masih banyak informasi yang orang ketahui tapi kita tidak. Itu kenyataan. Percaya?

Rasanya enak sekali bisa lebih dulu tahu sesuatu dari pada orang lain. Ini sah-sah saja. Saya pun juga ingin seperti itu. Terus akhirnya belagak menggurui yang lain, wuih , rasanya sudah jadi orang paling pinter aja. Disanjung, wah kamu hebat ya!

Akan tetapi, perlu disadari, hal ini bila keterusan, sikap ini akan membuat kita mengada-ngada pas kita sebenarnya ngga tahu apa-apa. Istilahnya sok tahu ye (bahasa keren-nya “sotoy”). Ya kalau tahu ngga apa-apa, kalau ngga tahu itu lho. Ujung-ujungnya, yang muncul adalah sikap tidak mau mendengarkan orang lain. Menganggap orang lain salah dan ngga tahu apa-apa.Ya ngga sih? Hehe pis2

Kita sudah harus sadar bahwa kita itu sebenarnya masih sangat jauh untuk bisa disebut pintar. Ya kasarannya tahu segala hal. Terlalu banyak jenis informasi yang ada. Menutup diri dengan belagak sok tahu jelas bukan solusi yang baik. Malah bisa beraibat yang buruk. Contoh kecil akibatnya bisa seperti yang saya tuliskan pada percakapan di awal tulisan ini.

Dalam hal seperti ini kita harus bersikap terbuka. Istilahnya jadilah gelas kosong. Sebab dengan menjadi gelas kosong, kita akan terus siap untuk menerima apa yang datang. Dan begitu sudah mulai penuh, gelas kita harus lebih besar lagi untuk terus menampung (YW Junardy, 2008). Kita harus terus membuka diri untuk semua informasi yang datang. Dan kita terus membukanya lebar-lebar.

Cak Nur, pernah menyampaikan bahwa kebenaran bisa datang dari mana saja. Kita tidak bisa membatasi diri. Mingkin di awal ya bisalah kita menggurui yang lain karena memang kita lebih tahu. Akan tetapi, seiring berjalannya waktu, informasi terus berkembang. Kita akan tertinggal bila terus menjadi “gelas yang tertutup” yang membiarkan segala informasi tumpah begitu saja. Inilah yang disebut Cak Nur sebagai sifat inklusif.

Saya pribadi menganggap, tanpa perspektif inklusif dan gelas kosong, kita akan terus menelan ketertinggalan. Mau ketinggalan jaman?

Ngomong-ngomong soal menggurui, sebenarnya tulisan saya ini pun bisa dianggap menggurui. Tapi ya mohon kelapangan hati kamu. Yang baik aja diambil, yang buruk ngga usah. Yang penting, bila kita terus membuka diri seluas luasnya, kita pun akan memunculkan sikap saling menghormati yang lain, entah dari golongan, agama, atau etnis manapun.

Kita akan terus memupuk persaudaraan dengan yang lain, bukan bikin masalah mulu. Saya pikir ko’ ini mudah ya, tapi ngelakuinnya tergantung pribadi masing-masing. Yuk, jadi gelas kosong!




*sumber gambar bisa diklik langsung pada gambanrnya

Wednesday, April 21, 2010

Falsafah Jalan

Yang lumpuh : “Coba kakiku normal, ntar kan lebih enak..”

Yang berjalan :”Coba aku punya sepeda, ntar kan lebih enak..”

Yang bersepeda :”Coba aku punya motor, ntar kan lebih enak..”

Yang punya motor :”Coba aku punya mobil, ntar kan lebih enak..”

Yang punya mobil :”Kasian deh lo, ngga punya mobil”

Sungguh menyenangkan apabila kita bisa punya barang apapun yang kita inginkan. Inginnya semua kesampaian. Punya rumah mewah, mobil mewah, istri muda nan cantik, uang melimpah dan apa deh yang mewah-mewah. Meliki semuanya serasa hidup akan nyaman, dunia akhirat. Apalagi kalau hidup terus seperti itu sampai ntar mati. Wah enak banget tuh. Tapi, saya jamin, dua ribu persen, ngga mungkin! (Eh emang elo siapa, Syid? Ngatur-ngatur…)

Memang sah-sah saja punya keinginan, lha wong ngga ada yang ngelarang. Lalu mengapa saya membahasnya? Jawabannya adalah bukan karena keinginan itu harus dihapus, tetapi keinginan itu yang harus dikelola dengan baik. Keinginan jangan dibiarkan mengelabuhi pikiran kita sehingga akhirya menjadi beban pikiran.

Kalau kamu cermati percakapan di awal tulisan ini, maka dengan mudah kamu pasti tahu orang macam apa yang saya gambarkan itu. Mereka adalah orang-orang yang selalu menginginkan hal yang lebih. Sekali lagi sah saja punya keinginan, tetapi apa yang sering muncul adalah keinginan yang tinggi itu hanya angan-angan yang ngga realistis.

Inilah gejala orang-orang yang tidak bersyukur. Kita seringkali melihat kondisi orang lain yang (kelihatannya) setingkat lebih beruntung. Namun apakah sebenarnya seperti itu?

Jawabnya tidak. Mari sejenak menyimak sebuah falsafah orang yang berjalan.

Berjalan itu dengan merunduk bukan menengadah ke atas. Dengan merunduk, kita bisa tahu apa yang ada dihadapan kita. Berjalan pun akan selamat hingga tujuan.

Kalau menengadah ke atas, kita bisa tersandung apapun karena tidak tahu jalan. Bahkan, mungkin kita tidak akan tahu kalau didepan kita adalah jurang, sementara kita terus berjalan.


Kamu mau masuk jurang? Aku sih ogah.

Begitu juga kehidupan kita ini. Ketika dihadapkan pada sebuah kenyataan tidak sepatutnya kita terus melihat kondisi orang lain yang lebih baik lalu mengeluh pada kondisi sendiri. Seyogyanya kita senantiasa merunduk memandang kondisi orang lain yang kebetulan kurang beruntung daripada kita. Masih banyak orang yang belum menikmati kebahagiaan seperti kita. Ketika kita berjalan, selayaknya kita sampaikan terima kasih pada sang Khalik yang telah memberi kita kenormalan.

Bukan malah mencaci kondisi sendiri yang ujung-ujungnya menyalahkan sang Khalik . Kita akhirnya lupa bahwa dengan kondisi apapun kita tetap punya kesempatan untuk berkarya. Mari mengingat cerita Rabiah, suster apung yang mendedikasikan setengah umurnya unuk kesehatan penduduk di laut flores, atau Sugeng, seorang yang kakinya buntung.

Karena kegigihan dan kreativitasnya, ia bisa menciptakan kaki palsunya sendiri. Bahkan, belakangan ia menginspirasi sebuah event G 1000 KP, sebuah acara pendonasian seribu buah kaki palsu untuk orang yang senasib dengan Sugeng.

Kamu perlu tahu, mereka tidak punya mobil ataupun rumah mewah. Yang mereka punyai adalah tekad dan semangat untuk terus hidup dan dalam keterbatasan yang mereka miliki. Mereka tidak pernah mengeluh ataupun berharap yang tidak-tidak.

Mereka menjalani hidup dengan optimis, realistis dan penuh perjuangan. Mereka menciptakan cahaya harapan hidup mereka sendiri. Bahkan, mereka membagikan cahaya itu pada orang lain. Dalam keterbatasan seperti itu, bahkan menurut saya, mereka layak disebut pahlawan, sangat layak.

Sekarang, coba kita refleksikan hal itu pada diri kita. Apakah diri kita telah berjalan di muka bumi ini dengan merunduk? Semua itu tergantung persepsi masing-masing dalam memaknainya. Kalau kita optimis dan relistis, maka apapun bisa kita lakukan. Keterbatasan bukan berarti penghambat kita untuk beprestasi. Apakah sebenarnya keterbatasan itu adalah anugerah terindah dari-Nya?




*sumber gambar bisa diklik langsung pada gambanrnya


Thursday, April 15, 2010

Aji Mumpung Muda (Revised)

Hehe..mumpung masih muda
Santai mas……santai…..
……
Mumpung masih muda
Harus semangat, masa depan menunggu!

Sehabis kecil, manusia memasuki usia remaja. mereka memasuki masa mudanya masing-masing. Bahasa kerennya puber. Ya , kata orang-orang inilah masa-masa terindah dalam hidup. Masa-masa indah di SMA, saat kuliah. Setiap orang sangat mengagumi masa-masa ini. Mungkin memang tidak semua. Tapi pokoknya masa muda adalah yang paling T.O.P. B.G.T .(baca: te o pe be ge te).

Begitu bermaknanya masa muda, setiap orang pun punya apresiasi sendiri-sendiri tentang hal yang satu ini. Coba simak percakapan diatas. Sebagian orang mungkin mengira ini adalah masa santai-santai. Masa muda dianggap masa terbaik untuk me-malas-kan diri dari berbagai aktivitas yang intinya juga bermalas-malasan. Intinya sih ngga mau kerja keras. Hehe..nyantai mas..mumpung kita masih muda!

Mungkin kamu langsung berpikiran bahwa pikiran seperti ini hanya melanda muda-mudi yang, ya, agak beruntung (kaya maksudnya, tapi sebenanya yang kaya sih bokap nyokapnya). Mereka bisa menghabiskan banyak uang untuk senang-senang. Akan tetapi, virus nyantai sebenarnya menyerang semua pemuda, ngga pandang bulu.

Coba lihat aja, mau kaya mau miskin, semua pada sibuk SMS yang ngga penting, lalu nge-gosip yang ngga ada mutu sama sekali, lalu asyik tidur-tiduran sambil nonton TV semaleman. Wah, enak banget tuh! Ya mumpung masih muda! Kalau kamu setuju sama yang ini ya terserah. Ini yang namanya aji mumpung negatif.

Akan tetapi tentunya hal di atas tidaklah melanda semua muda-mudi. Masih ada yang baik ko’. Ada juga aji mumpung yang positif.

Sebagian pemuda yang lain punya apresiasi lain pula terhadap masa muda mereka. Muda-mudi yang ini mengaggap kalau masa muda adalah masa emas untuk menabung pengalaman, menabung ilmu, membangun relasi untuk mencapai masa depan yang baik. Mereka ini sangat menghargai waktu yang ada dengan bekeja keras dan belajar sungguh-sungguh demi masa depan mereka. Tiap hari hanya sibuk memperkaya diri dengan pengalaman-pegalaman berharga. Ayo semangat, mumpung masih muda, masa depan kita ada di tangan kita sendiri!

Di umur 26 seorang Yoris Sebastian telah menjadi General Manajer termuda se-Asia di Hard Rock Café. Pada umur 26, seorang Billy Boen, telah menjadi GM termuda perusahaan ternama Oakley. Sementara, Anies Baswedan telah menjadi Rektor di Universitas Paramadina di usia 38 tahun. Dan, mari tengok Firmanzah yang menjadi dekan di Fakultas Ekonomi UI pada umur 33 tahun.

Wow! Mereka adalah contoh kecil beberapa pemuda yang begitu bersemangat untuk mewarnai masa mudanya dengan pensil-pensil prestasi. Masih banyak pemuda lain yang memiliki kehidupan prestatif. Masa ngga iri sih lu?(Hehe sok nyuruh ya?)

Hayu, kamu termasuk aji mumpung yang mana? Memang kita tidak bisa sama persis sama mumpung yang positif tadi, apalgi sama tokoh-tokoh yang saya ceritakan itu. Saya pun mengakui, sulit banget. Rayuan virus nyantai itu luar biasa menggoda. Akan tetapi, kita haus tetap memantapkan hati unuk sadar bahwa sukses di masa depan adalah apa yang kita usahakan hari ini. Ya boleh lah kita aliran aji mumpung negatif, tapi ya kadang-kadang aja. Maka dari itu aliran aji mumpung positif harus menjadi prioritas dalam hidup kita. Do you agree?

Oleh karena itu, hari kemarin sudah terlambat untuk di ingat-ingat lagi, tetapi kita juga tidak bisa mengandalkan hari esok. Hari ini adalah yang terpenting. Memanfaatkan masa muda dengan sebaik-baiknya adalah hal yang paling bijak. Masa muda yang dipenuhi usaha will make our dreams come true, really true.

Dua golongan pemuda yang menganut aliran aji mumpung masing-masing tadi sama-sama punya 24 jam sehari. Yang satu 24 jam-nya penuh dengan kemalasan, yang satunya penuh usaha dan prestasi. Kamu pilih yang mana?




*sumber gambar bisa diklik langsung pada gambanrnya


Sunday, April 11, 2010

Aku Liberal?


Kacang goreng malam itu memang pas. Semakin malam sepertinya semakin merayu. Tapi aku sadar, rayuannya itu bila ditandingkan dengan waktu maka akan membuat grafik downward slope. Semakin malam, semakin menipis, akhirnya lenyap juga rayuannya. Tapi kopi sepertinya yang masih setia menemaniku bergayung sambut dengan temanku, Ikhwan.

Kami bercerita soal kampungku yang habis terkena bencana banjir. Tapi untungnya tak ada yang jadi korban jiwa. Ikhwan sendiri sore tadi baru pulang dari demonstrasi anti kekerasan di Palestina. Sebenarnya awalnya kami hanya bercanda, tapi entah apa, kami jadi berbicara soal yang dalam-dalam.

"Mad, aku lihat Indonesia ini tu udah banyak bencana. Kayaknya Allah itu marah! Buktinya, kampungmu saja dikasih bencana.." Ikhwan agak berkobar. Dalam hatiku, ah ada malaikat apa yang lewat ini? Tapi aku diam saja. Tapi dia masih berkobar.

"Sepertinya, Allah melaknat negeri ini!"

Suaranya memekik, menyengat. Tapi aku paham maksudnya, tapi tak terlalu. Aku bisa mengerti. Lagipula memang bencana selalu menyisakan sedih yang berperi.

"Ah, tahu dari mana, Akhi?"

"Eh, bukan gitu. Dalam agama itu jelas mana yang benar dan salah. Jadi tak ada kompromi. Hukum Allah harus ditegakkan."

Sepertinya aku salah langkah. Pertanyaanku yang tak genap sepuluh kata membuatnya makin semangat. Aku masih berusaha merendah. Aku hanya diam tak menanggapi. Aku sadar, kalau di teruskan, Ikhwan bisa menjadi-jadi. Bisa tak tidur malam ini aku. Sementara kopi di depanku menebar aroma harum. Aku seruput barang sedikit. Ah.. Nikmatnya, alhamdulillah.

"Mad, kau ‘kan muslim. Kau harus tegakkan agama Allah di bumi ini. Hukum Allah harus ditegakkan. Dedengkot-dedengkot kafir itu harus dimusnahkan! Orang-orang non-muslim itu, lakantullah alaih!!!"
Sekali lagi ia berkobar. Kali ini kupingku mulai panas. Suara itu menyengat kenyamananku. Aku berusaha tak peduli. Aku redakan panas hatiku dengan seruputan kopi lagi. Sruut...

"Eh, katanya kau itu muslim. Kenapa kau tak ikut demo tadi. Palestina itu saudara kita, Akhi Ahmad."

"Tadi di kampung ada selamatan dan doa bersama. Jadi aku ingin ikut juga meski di sini. Lagipula, tadi ibu menelpon. Katanya semua masih sehat." jawabku. Lagi pula, aku memang tak suka dengan demo-demo. Mending aku baca buku. Tambah pengetahuan. Bukan maksudku mengangap demo itu buruk. Tapi bagiku ada yang jauh lebih penting.

Sementara, Ikhwan masih berkoar, "Katanya ahlussunah wal-jamaah. Itu tak pernah dilakukan Rasul. Pakaianmu juga. Ini bukan sunnah. Bisa bid’ah, Akhi. Dan bid’ah itu sesat. Bisa jadi Akh Ahmad malah ahlul bid'ah, ngga jama'ah..."

Kali ini aku sudah tak tahan. Kuping dan kepalaku sudah panas. Aku sungguh tak suka dengan pernyataan itu. Tapi, aku masih coba redam diri. Sruuut..aku seruput kopi yang tinggal setengah.
"Akh, Ahmad, saudara kita di Palestina itu harus ditolong. Kalau bukan kita ini, siapa lagi. Sesama muslim itu saudara. Ini sunnah dan pesan Nabi..!"

Berkali-kali ia bilang sunnah Nabi. Seakan sudah tahu dan melihat Nabi dengan mata sendiri saja. Tapi panasnya kepalaku sudah tak tahan untuk membuncah. Kembang-kembang api seakan meletup-letup berkecamuk di kepalaku.

"Terus gimana ya, Akh?" aku masih merendah, tapi sungguh menahan-nahan.

"Akhi Ahmad harus kembali ke Al-Quran dan Sunnah. Yang dilakukan Akhi itu bid’ah!!!"
Nada tinggi darinya membuat letupan panas dikepalaku makin besar. Buncah kepeningan akhirnya pecah. Tapi aku upayakan suaraku tetap rendah.

"Akhi, kalau masalah demo, tak usahlah di besar-besarkan. Lagi pula, aku yakin bahwa konflik di sana bukan soal agama. Kan rebutan tanah. Jadi tak usah dihubung-hubungkan dengan agama kalau mau bantu mereka…" Suaraku rendah.

"Eh, Akhi ngga baca sirahnya? Jelas-jelas itu saudara kita seiman. Gimana Akhi ini!!!" jawab Ikhwan bernada tinggi. Tapi aku sadar tanggapan nada tinggi juga tak akan meredakan suasana yang mulai tak terkendali itu.

"Aku sudah baca ko', dan memang bukan soal agama. Oya, kalau masalah menolong agama Allah, aku kira tak masuk akal kalau Allah butuh manusia untuk menyelamatkan agamanya kan? Masa yang namanya Tuhan minta tolong. Dan jangan sekali-kali bilang kalau Allah laknat sana laknat sini. Itu biar jadi urusan-Nya. Ko' Akhi yang nentukan, maaf, yang Tuhan itu Allah atau, Akhi?"

Pernyataan terkahirku sepertinya blunder. Dan benar, memang fatal akibatnya. Ikhwan tak segan minta aku bertobat. Ia pikir aku sudah sesat pikirannya. Dan ia menutup jawabannya dengan, "Akhi sudah liberal ya?" tapi aku terus berusaha merendah. Tapi dalam pikirku, darimana lagi muncul istilah asing itu? Ah, apalagi itu.

" Ikhwan, terserah Akhi, bilang aku seperti apa. Tapi yang jelas, bagiku pengetahuan akan jauh lebih kuat daripada demo-demo yang akh lakukan itu."

"Maksud , Akhi Ahmad apa?!!"

"Peradaban Islam telah berjaya di bumi ini selama 8 abad lebih, Akh. Mulai abad 9 sampai 17, Islam menjadi rujukan pengetahuan dunia. Itu karena pengetahuan. Tentu Akhi kenal yang namanya Ibnu Sina, Al-Khawarizmy, Ibnu Rusd. Mereka membuat buku-buku pengetahuan yang menjadi rujukan dunia. Sementara, bangsa eropa berjaya masih 1 abad. Itupun karena kolonialisme.

Seharusnya abad 21 ini kita raih kembali. Aku tak menganggap demo itu salah. Tapi bagiku, lebih baik menambah pengetahuanku sebanyak mungkin. Bagiku, kalau mau melawan musuh, ya pakai pengetahuan. Tapi sekali lagi, aku juga tak menyalahkan demo yang akhi ikuti tadi. Toh itu juga wujud solidaritas."

Penjelasanku itu rupanya tak membuatnya lebih tenang. Aku juga tak paham mengapa. Ia malah berseloroh, "Tapi, Akhi lakukan bid’ah...sesat!!"

Sekali lagi, aku terus berusaha rendahkan suara. Tapi sebenarnya badai tropis berkecamuk di kepala.

"Gini, Akhi, yang harus dibedakan adalah budaya dan agama Nabi. Di Arab memang tak ada tahlilan tak ada selamatan. Ya Nabi tak lakukan itu lah. Yang penting dari agama itu adalah bisa mendekatkan diri dengan Tuhan, Allah. Ya dengan sholat, dengan puasa, amal jariah.

Kan itu yang sama antara saya dengan Akhi Ikhwan. Ya sudah itu jadi semanagt kita untuk bersatu, bukan malah cari perbedaan terus diperbesar-besarkan. Meski berbeda, kan intinya sama, mendekat pada Tuhan. Kalaupun berbeda ya sudah lah, ngga usah dipermasalahkan. Bikin perpecahan saja, Akh... Kalau umpamanya nih, nabi turun di Indonesia ini, kolak pisang itu jadi sunnah lho...."

Penjelasanku memang tak memuaskan. Aku lihat ia masih geram.

Kopi sepertinya mau habis. Aku izin padanya untuk menyeduh dua lagi. Buatku dan buat dia. Kebetulan masih ada, dan memang tinggal dua.

Tapi sungguh terngiang di kepalaku pertanyaannya, 'Akhi liberal ya?'
Bisa ya, bisa tidak. Tapi yang jelas aku Muslim.
****




cerpen ini saya dedikasikan untuk fenomena perpecahan yang terjadi pada umat agama aku anut sekarang.



*sumber gambar bisa diklik langsung pada gambanrnya (wikipedia.org)