Yuk, ke sekolah naek sepeda
Ke kantor naek sepeda
Ke Mall naek sepeda
Ke rumah temen naek sepeda
Pokok jangan ke toilet naek sepeda ya……
Di dalam tubuh yang sehat, terdapat jiwa yang kuat. Begitu kata orang. Hidup perlu sehat donk. Siapa sih yang mau sakit? Tentu tidak ada. Hidup itu yang di harapkan ya yang enak-enaklah. Hidup yang bersih, hidup yang sehat.
Saat tulisan ini dibuat, ayah saya sedang menderita sakit katarak. Beliau juga kadang gejala stroke-nya “kumat”. Kalau lihat pas beliau sakit, sepertinya sedih. Ya saya sedih, tentu bapak juga sedih. Apalagi bapak saya adalah “tulang punggung” keluarga……
Kadang saya berpikir, mungkin saja ada toko spare part organ tubuh manusia. Pagi buta saya akan antri duluan untuk membeli spare part itu, meski toko belum buka. Saya akan beli mata dan pembuluh darah buat ayah saya. Berapa pun uang yang harus saya bayar akan saya sanggupi. Ya sayangnya, tentu ini tidak mungkin ada. Itu hanya angan-angan anak bodoh.
Yang saya mau adalah menggambarkan bahwa kesehatan adalah hal yang paling mahal harganya di dunia ini. Mau mata kamu yang cantik itu saya ganti duit 3 millyar? Kalau kamu mau ya mungkin ada yang ngga berez di kepalamu.
Menjaga kesehatan akhirnya menjadi sangat penting bagi pemuda. Siapa lagi yang akan dititpin masa depan bangsa kalau bukan pemuda. Yang tua mah udah tinggal nunggu (nunggu apa ya…?). Sangat penting bagi pemuda untuk terus siap berkarya demi bangsa dan negara. Ya, pemuda tak hanya butuh pintar, tapi juga sehat. Sepinter-pinter kamu, kalau sakit ya sudah…..ngga bisa apa-apa.
To the point aja, salah satu cara yang bisa dipakai untuk menjaga kesehatan adalah bersepeda. Ke kantor bersepeda, ke warung bersepeda, ke sekolah pakai sepeda, sampai-sampai ke kamar naek sepeda (uups..). Selain badan kamu juga sehat, polusi udara juga bisa berkurang. Terus di jalan bisa menyapa orang lain dengan hangat. Aduh, enak deh kalau bisa dilakuin..
Tentu ada maksudnya donk saya memberi judul tulisan ini “Falsafah Sepeda”. Jadi, bersepeda itu ternyata mengambarkan semangat muda generasi pemuda. Sepeda memberikan simbol-simbol kemandirian, kerja keras dan pantang mundur. Menurut Anies Baswedan, sepeda punya tiga simbol dalam meggambarkan kehidupan pemuda.
Pertama, ingat, sepeda adalah kendaraan non bahan bakar. Eh.. ngga dink. Kan kamu makan nasi dulu kalau mau kuat bersepeda..hehe. Ya maksudnya ngga ada polusi yang ditimbulkan sepeda. Ini menunjukkan bahwa sepeda adalah kendaraan ramah lingkungan. Pemuda pun juga harus demikian. Lingkungan menjadi tempat pemuda bertumbuh. Maka, menjaga kelestarian dan kebersihannya tentu menjadi keharusan. Mau sehat ya lingkungan juga harus bersih. Bersih dari sampah, dari polusi, sampai bebas dari niat jahat. Pokoknya bersih luar dalam.
Kedua, agar bisa jalan, sepeda butuh dikayuh, bukan hanya memutar “stir” ke depan belakang. Jadi, jadi pemuda itu harus bekerja keras bak mengayuh sepeda. Pemuda adalah tempat penitipan masa depan. Kalau yang dititpi “keok” yang gimana lagi. Pemuda harus siap menjadi insan yang penuh harapan. Jadi, Pemuda harus menjadi generasi yang inovatif, kreatif dan kompetitif. Pemuda harus penuh dengan karya demi masa depan bangsa.
Sebagai contoh, di era 66, terdapat pemuda bernama Soe Hok-gie yang dengan keras menolak kekuasaan yang semena-mena dari penguasa. Tanpa pandang bulu dan bahkan acuh dengan keselamatannya sendiri, ia kritik segala bentuk ketidakadilan. Yang ia inginkan hanya satu, Indonesia yang bersih dari tindakan-tidakan korup.
Terakhir, sepeda tidak bisa mundur. Jadi pemuda jangan sekali-kali mundur dari perjuangan membangun masa depan bangsa ini. Karena, apa yang bisa ditawarkan pemuda adalah masa depan. Kalau mau cerita masa lalu, apa yang mau diceritakan. Pemuda sudah harus bisa menawarkan masa depan bagi bangsa. Mimp-mimpi pemuda menjadi penting untuk menentukan nasib negeri. Toh mereka juga yang akan menggantikan generasi pemimpin negeri kelak. Oleh karena itu tentu masa depan harus ditata dengan baik dan pemuda punya peran penting di dalamnya.
Masa depan tidak ada yang tahu, tetapi tentu bukan berarti tidak bisa dipersiapkan. Nah, peran-peran semacam inilah yang harus menjadi teladan bagi kita semua.
Berati, kalau bersepeda, selain kita sehat. Kita juga telah mendukung terciptanya masa depan bangsa yang cemerlang. Ya mungkin masih bersifat simbolik, tapi 'kan daripada ngga peduli sama sekali.
Ini memang teresan remeh, sekedar hal kecil. Namun, apa yang bisa dilakukan sekarang ya sekarang dilakukan. Tentu mulai dari diri kita dulu bukan orang lain.
*sumber gambar bisa diklik langsung pada gambarnya.
Tuesday, June 29, 2010
Wednesday, June 23, 2010
Start Small for Our Environment
In 1960s, manufacturing with DDT (Dichloro diphenyl trichloro ethane), a kind of pesticide, became a huge industry. But this condition had broken the wonderful sounds of nature. DDT had killed many kinds of birds, harmless insects. DDT also polluted the environment and be able to increase human cancer.
It was Rachel Carson who woke up the US government’s attention to this condition by publishing a book entitled “Silent Spring”. She showed how dangerous the effect of DDT by posing many studies and many expert opinions. Eventually, in 1966, US government started stopping the use of DDT in two years (www.voaspecialenglish.com).
Another story comes from Japan. It was Yasuyo Tabete, who was the climate champion of British Council, who created a simple action, but this had a great and futuristic objection. This action is called “mug action”. He began not to use a paper cup to drink coffee. He thinks that drinking coffee just spends not more than 5 minute, but then he throw the cup out.
Yasuyo has an honorable objection that this action can decrease the number of deforestation. Wherever he goes, he brings his own mug and starts invite others to follow him. A great changes and positive effect, according to him, can be started from individual actions (www.kompas.com).
A Little Lesson
The story of Rachel Carson and Yasuyo Tabete is a little example that we can get many lessons from both of them. They never give up in struggling keeping their environment being safe. Both of them of course are from abroad. From the home, it is Victor Emanuel Rayun (Baba Akang) who struggles to keep the mangrove forest in Ndete coast, Flores. He has been doing his valuable action since 1992. In a program called Kick Andi Heroes 2009, he got an honor “Pahlawan Bangsa” together with six other heroes (Media Indonesia, 2009).
A little lesson that we can get from the stories is like what Yoris Sebastian said, “starts small”. In term of Indonesia, we can explore so many environmental problems. This problem, severely, damage the balance of our nature. We will find that the number of deforestation of Indonesia is the biggest number in the world, which Brazil is just the same. We will find that we have a big problem of garbage management.
The data from Kementrian Negara Lingkungan Hidup shows us, each person in this country produces 800/gr/day/person in average. This number looks a little bit common, but let’s times it to the number of Indonesian population which is more than 200 million. The number will be so fantastic. Indonesia has 160 thousand ton garbage per day.
If that number is managed well, there will not be a problem, but the condition looks so different. That big number seems haphazard managed. The garbage which has some types is not separated well. This makes the after-use process becoming difficult to exercise. Besides, there is a problem with this nation people behavior. They do not have such “do not litter” behavior. To be honest, it is so difficult to find a really green area, where every body will get their best pleasure to be in.
There is no willingness to be aware to the environment condition. The willingness to clean their public area seems very seldom. In the end of the show, the garbage will meet the drainages then plug them up. Tragically, it is common to be occurred in many big cities, like Jakarta and Surabaya.
Of course, simply, we can say that this is why Indonesia is likely a subscriber of flood. Despite, the number of budget in order to handle this one is so much expensive. For example, Jakarta has 762 billion rupiahs for it (Kompas, 2009).
Start Small
To solve such problem is not just a simple way. Many complicated studies must be taken to get the best solution. But, as a simple, to solve this problem, it is not necessary to get a structural approach. Make such legal binding through some bills will not get any effect. This is just going to make somebody become stressful. And sometimes, the effect will be in the opposite position of our expectation.
It is interesting to remember Gandhi statement that “reconciliation will takes times without any violence, but violence will never get any reconciliation” (Kompas, 2010). This statement shows us that any pressure will not get any success. In term of environment, there must be such soft approach. This of course takes time, but it really works. This kind of approach sometimes called cultural approach. We will not doubt about it because this kind of approach had been done by Rachel Carson, Yasuyo Tabete, Baba Akang, and other environmental activists.
In the day of earth, this is a very good opportunity to pose and discuss that issue. Many youngsters, who have so many fresh ideas, from many countries, have to gather together and ready to give a creative solution to the world. To me, it is the right time to tell the world that to be environmentalist is an urgent, in current context. Many youngsters from many countries can share some information.
This information will become so important because of the different context. By collecting many facts from the attending countries, there will be a kind of common platform to create common understanding. Because, we realize, that environmental issue is not only in a developing country, but also in a developed one.
This is important to create something like a community to pose and campaign ‘Save this earth!’ This is the cultural approach that I mean. In term of Indonesia, to ‘save the earth’ of course is not the same with what Rachel Carson or Yasuyo Tabete had done.
Discussing this phenomenon in a community is really interesting to take. Facing the fact that garbage is a problem, realized or not, an action must be taken as soon as possible. It is even the problem of developing country like India, Brazil, and many more.
Some action can be a very simple but important like campaigning “do not litter” by us ourselves to some people around us. If necessary, this will be continued to the bigger society or government, but it is not the priority.
The youngster has to take this rule very well. Youngsters have much more power to initiate and accomplish change than what others may believe. Then, youngsters often achieve much more than they ever expect they will.
Through community, there will be some important general point for action, but the implementation is certainly different from each country (www.greenkampong.com). Like Yoris Sebastian said, we create an out of the box idea, but the execution is inside the box. Certainly, different pond, different fish.
Youngster’s Action
Shortly, by gathering in community, posing this kind fo issue in a global forum, we can create such way against earth destruction that called community-based cultural approach. Back to the home, the youngster, including me, have to campaign how to be a green citizen, to be a citizen who has awareness for their environment.
In term of Indonesia, this will be focused on garbage management issue. The campaign is not such big event like a concert or such Clean and Green Week, but this is an individual campaign. The target is not a mass people, but the people around us, start from our family and friends.
In home, it is necessary to create such community to get more power but the action still individually. Saving the environment means more than just holding large public events targeted at adults. Just as a simple like “do not litter” campaign, in my opinion, it has a big impact to start being aware to the garbage management and saving the environment.
Youngsters can make a certain difference, through smaller actions at home or larger campaigns. By influencing families, corporations and government, youngster can have a significant positive impact.
So working with community can be the start to making big changes. This change is a cultural-and-communal-based. Taking times but really working. This small action of course can have a big impact. With these small and symbolic yet highly impactful changes, youngsters have an effect beyond just their own actions.(*)
*sumber gambar bisa diklik langsung pada gambarnya.
It was Rachel Carson who woke up the US government’s attention to this condition by publishing a book entitled “Silent Spring”. She showed how dangerous the effect of DDT by posing many studies and many expert opinions. Eventually, in 1966, US government started stopping the use of DDT in two years (www.voaspecialenglish.com).
Another story comes from Japan. It was Yasuyo Tabete, who was the climate champion of British Council, who created a simple action, but this had a great and futuristic objection. This action is called “mug action”. He began not to use a paper cup to drink coffee. He thinks that drinking coffee just spends not more than 5 minute, but then he throw the cup out.
Yasuyo has an honorable objection that this action can decrease the number of deforestation. Wherever he goes, he brings his own mug and starts invite others to follow him. A great changes and positive effect, according to him, can be started from individual actions (www.kompas.com).
A Little Lesson
The story of Rachel Carson and Yasuyo Tabete is a little example that we can get many lessons from both of them. They never give up in struggling keeping their environment being safe. Both of them of course are from abroad. From the home, it is Victor Emanuel Rayun (Baba Akang) who struggles to keep the mangrove forest in Ndete coast, Flores. He has been doing his valuable action since 1992. In a program called Kick Andi Heroes 2009, he got an honor “Pahlawan Bangsa” together with six other heroes (Media Indonesia, 2009).
A little lesson that we can get from the stories is like what Yoris Sebastian said, “starts small”. In term of Indonesia, we can explore so many environmental problems. This problem, severely, damage the balance of our nature. We will find that the number of deforestation of Indonesia is the biggest number in the world, which Brazil is just the same. We will find that we have a big problem of garbage management.
The data from Kementrian Negara Lingkungan Hidup shows us, each person in this country produces 800/gr/day/person in average. This number looks a little bit common, but let’s times it to the number of Indonesian population which is more than 200 million. The number will be so fantastic. Indonesia has 160 thousand ton garbage per day.
If that number is managed well, there will not be a problem, but the condition looks so different. That big number seems haphazard managed. The garbage which has some types is not separated well. This makes the after-use process becoming difficult to exercise. Besides, there is a problem with this nation people behavior. They do not have such “do not litter” behavior. To be honest, it is so difficult to find a really green area, where every body will get their best pleasure to be in.
There is no willingness to be aware to the environment condition. The willingness to clean their public area seems very seldom. In the end of the show, the garbage will meet the drainages then plug them up. Tragically, it is common to be occurred in many big cities, like Jakarta and Surabaya.
Of course, simply, we can say that this is why Indonesia is likely a subscriber of flood. Despite, the number of budget in order to handle this one is so much expensive. For example, Jakarta has 762 billion rupiahs for it (Kompas, 2009).
Start Small
To solve such problem is not just a simple way. Many complicated studies must be taken to get the best solution. But, as a simple, to solve this problem, it is not necessary to get a structural approach. Make such legal binding through some bills will not get any effect. This is just going to make somebody become stressful. And sometimes, the effect will be in the opposite position of our expectation.
It is interesting to remember Gandhi statement that “reconciliation will takes times without any violence, but violence will never get any reconciliation” (Kompas, 2010). This statement shows us that any pressure will not get any success. In term of environment, there must be such soft approach. This of course takes time, but it really works. This kind of approach sometimes called cultural approach. We will not doubt about it because this kind of approach had been done by Rachel Carson, Yasuyo Tabete, Baba Akang, and other environmental activists.
In the day of earth, this is a very good opportunity to pose and discuss that issue. Many youngsters, who have so many fresh ideas, from many countries, have to gather together and ready to give a creative solution to the world. To me, it is the right time to tell the world that to be environmentalist is an urgent, in current context. Many youngsters from many countries can share some information.
This information will become so important because of the different context. By collecting many facts from the attending countries, there will be a kind of common platform to create common understanding. Because, we realize, that environmental issue is not only in a developing country, but also in a developed one.
This is important to create something like a community to pose and campaign ‘Save this earth!’ This is the cultural approach that I mean. In term of Indonesia, to ‘save the earth’ of course is not the same with what Rachel Carson or Yasuyo Tabete had done.
Discussing this phenomenon in a community is really interesting to take. Facing the fact that garbage is a problem, realized or not, an action must be taken as soon as possible. It is even the problem of developing country like India, Brazil, and many more.
Some action can be a very simple but important like campaigning “do not litter” by us ourselves to some people around us. If necessary, this will be continued to the bigger society or government, but it is not the priority.
The youngster has to take this rule very well. Youngsters have much more power to initiate and accomplish change than what others may believe. Then, youngsters often achieve much more than they ever expect they will.
Through community, there will be some important general point for action, but the implementation is certainly different from each country (www.greenkampong.com). Like Yoris Sebastian said, we create an out of the box idea, but the execution is inside the box. Certainly, different pond, different fish.
Youngster’s Action
Shortly, by gathering in community, posing this kind fo issue in a global forum, we can create such way against earth destruction that called community-based cultural approach. Back to the home, the youngster, including me, have to campaign how to be a green citizen, to be a citizen who has awareness for their environment.
In term of Indonesia, this will be focused on garbage management issue. The campaign is not such big event like a concert or such Clean and Green Week, but this is an individual campaign. The target is not a mass people, but the people around us, start from our family and friends.
In home, it is necessary to create such community to get more power but the action still individually. Saving the environment means more than just holding large public events targeted at adults. Just as a simple like “do not litter” campaign, in my opinion, it has a big impact to start being aware to the garbage management and saving the environment.
Youngsters can make a certain difference, through smaller actions at home or larger campaigns. By influencing families, corporations and government, youngster can have a significant positive impact.
So working with community can be the start to making big changes. This change is a cultural-and-communal-based. Taking times but really working. This small action of course can have a big impact. With these small and symbolic yet highly impactful changes, youngsters have an effect beyond just their own actions.(*)
*sumber gambar bisa diklik langsung pada gambarnya.
Friday, June 18, 2010
Filosofi Berbagi ala B.A.B
tulisan ini aku re-post, buat inget-inget aja.......
Mau nymbang ngga?
Ah, ntar aja….
Ayo berbagi!
Ah ntar jadi kurang dunk duitku…..
Menysihkan harta untuk diberikan pada yang lain memang mulia. Yang kaya membantu yang miskin sehingga yang miskin pun terangkat derajatnya. Pada akhirnya tercipta keseimbangan dalam kehidupan. Tak ada ketimpangan. Tak ada diskriminasi antara di kaya dan si miskin.
Saya memberi judul tulisan ini mungkin agak jorok. Tapi saya yakin kebaikan itu berasal dari mana saja. Jadi jangan underestimate dulu ya..
BAB itu buang air besar (sudah tahu, Mas). Semua tentu tahu kalau kepanjangan dari buang air besar. BAB merupakan ritual yang bersifat natural buat manusia. Maksudnya baik ko’, yakni membuang kotoran yang ada di dalam tubuh. Ketika kotoran itu keluar maka tubuh pun semakin sehat. Mau?
Saya masih ingat apa yang diajarkan guru agama saya dulu. Saat masih di SMA, guru saya itu mengatakan bahwa berbagilah seperti kamu ingin buang air besar. BAB itu kegiatan yang paling ikhlas di dunia ini. Bahkan kalau tak dikeluarkan malah jadi penyakit.
Sang guru menjelaskan bahwa berbagi itu laksana BAB itu, adalah berbagi yang diladasi oleh rasa perlu. Perlu itu, bagi saya berbeda dengan harus. Perlu berarti berdasarkan rasa butuh, dan bila tidak dipenuhi kebutuhan itu, maka akan aada yang kurang. Kalau orang merasa perlu melakukan sesuatu, maka ketika ia telah memenuhinya, tak akan ada tasa dongkol atau kecewa. Kalau harus itu kan dasarnya desakan. Jadi sedikit tak ikhas. Terpaksa.
Itulah yang harus kita lakukan. Berbagi dengan landasan filosofi BAB. Kita perlu berbagi. Dalam agama, bahkan diajarkan bahwa harta kita itu ada bagian milik orang lain. Jadi kalau tak bagikan, berarti kita telah mencuri, bahasa kerennya korupsi. Bener ngga ya….
Kalau tidak berbagi, bahkan malah jadi sarang musibah. Tapi kalu dilaksanakan dengan baik akan menjadi lading kesuksesan, baik lahir dan batin.
Dalam buku Setengah Isi Setengah Kosong, saya membaca sebuah kisah sesorang yang memberikan susu pada seorang anak terlantar.
Anak tersebut datang ke sebuah rumah dengan keadaan kelaparan. Ia meminta minuman pada pemilik rumah. Pemilik rumah iu agak sedikit ragu. Tapi ia memberanikan diri untuk membagikan apa yang ia punya. Ketika diminta sekedar air minum, pemilik rumah memberinya susu segelas. Betapa girang anak tadi.
Lima belas tahun kemudian, sang pemilik rumah berada dalam kejatuhan. Ekonomi keluarganya menurun. Sang pemilik rumah sakit-sakitan. Bahkan, kondisi ekonominya tak mendukung ia untuk berobat ke rumah sakit. Tapi mau bagaimana lagi, penyakitnya sudah parah.
Akhinya pemilik rumah tadi memberanikan diri untuk ke rumah sakit. Masalah bayar nanti saja. Bisa ngutang. Ia lalu ke rumah sakit. Kemudian ia dirawat. Ketika ia sembuh, ia terkejut ternyat tagihan pembayarannya sudah dibayar. Yang membayar tak lain dan tak bukan adalah dokter yang merawat dia sendiri.
Ketika bertemu dengan sang dokter ia terkejut. Ternyata dokter itu adalah anak terlantar yang ia beri susu lima belas tahun yang lalu. Oh, segala puji bagi Tuhan, Subhanallah.
Betapa besar manfaat berbagi. Kalau kamu tahu sebuah pohon maka pohon itu akan tumbuh baik bila semak-semak di sampingnya dibuang. Semak-semak itulah harta kita yang harus di bagikan.
Berbagi bukan membuat makin tetapi malah berkecukupan. Tentu saja asal ikhlas melakuannya. (*)
*sumber gambar bisa diklik langsung pada gambarnya.
Mau nymbang ngga?
Ah, ntar aja….
Ayo berbagi!
Ah ntar jadi kurang dunk duitku…..
Menysihkan harta untuk diberikan pada yang lain memang mulia. Yang kaya membantu yang miskin sehingga yang miskin pun terangkat derajatnya. Pada akhirnya tercipta keseimbangan dalam kehidupan. Tak ada ketimpangan. Tak ada diskriminasi antara di kaya dan si miskin.
Saya memberi judul tulisan ini mungkin agak jorok. Tapi saya yakin kebaikan itu berasal dari mana saja. Jadi jangan underestimate dulu ya..
BAB itu buang air besar (sudah tahu, Mas). Semua tentu tahu kalau kepanjangan dari buang air besar. BAB merupakan ritual yang bersifat natural buat manusia. Maksudnya baik ko’, yakni membuang kotoran yang ada di dalam tubuh. Ketika kotoran itu keluar maka tubuh pun semakin sehat. Mau?
Saya masih ingat apa yang diajarkan guru agama saya dulu. Saat masih di SMA, guru saya itu mengatakan bahwa berbagilah seperti kamu ingin buang air besar. BAB itu kegiatan yang paling ikhlas di dunia ini. Bahkan kalau tak dikeluarkan malah jadi penyakit.
Sang guru menjelaskan bahwa berbagi itu laksana BAB itu, adalah berbagi yang diladasi oleh rasa perlu. Perlu itu, bagi saya berbeda dengan harus. Perlu berarti berdasarkan rasa butuh, dan bila tidak dipenuhi kebutuhan itu, maka akan aada yang kurang. Kalau orang merasa perlu melakukan sesuatu, maka ketika ia telah memenuhinya, tak akan ada tasa dongkol atau kecewa. Kalau harus itu kan dasarnya desakan. Jadi sedikit tak ikhas. Terpaksa.
Itulah yang harus kita lakukan. Berbagi dengan landasan filosofi BAB. Kita perlu berbagi. Dalam agama, bahkan diajarkan bahwa harta kita itu ada bagian milik orang lain. Jadi kalau tak bagikan, berarti kita telah mencuri, bahasa kerennya korupsi. Bener ngga ya….
Kalau tidak berbagi, bahkan malah jadi sarang musibah. Tapi kalu dilaksanakan dengan baik akan menjadi lading kesuksesan, baik lahir dan batin.
Dalam buku Setengah Isi Setengah Kosong, saya membaca sebuah kisah sesorang yang memberikan susu pada seorang anak terlantar.
Anak tersebut datang ke sebuah rumah dengan keadaan kelaparan. Ia meminta minuman pada pemilik rumah. Pemilik rumah iu agak sedikit ragu. Tapi ia memberanikan diri untuk membagikan apa yang ia punya. Ketika diminta sekedar air minum, pemilik rumah memberinya susu segelas. Betapa girang anak tadi.
Lima belas tahun kemudian, sang pemilik rumah berada dalam kejatuhan. Ekonomi keluarganya menurun. Sang pemilik rumah sakit-sakitan. Bahkan, kondisi ekonominya tak mendukung ia untuk berobat ke rumah sakit. Tapi mau bagaimana lagi, penyakitnya sudah parah.
Akhinya pemilik rumah tadi memberanikan diri untuk ke rumah sakit. Masalah bayar nanti saja. Bisa ngutang. Ia lalu ke rumah sakit. Kemudian ia dirawat. Ketika ia sembuh, ia terkejut ternyat tagihan pembayarannya sudah dibayar. Yang membayar tak lain dan tak bukan adalah dokter yang merawat dia sendiri.
Ketika bertemu dengan sang dokter ia terkejut. Ternyata dokter itu adalah anak terlantar yang ia beri susu lima belas tahun yang lalu. Oh, segala puji bagi Tuhan, Subhanallah.
Betapa besar manfaat berbagi. Kalau kamu tahu sebuah pohon maka pohon itu akan tumbuh baik bila semak-semak di sampingnya dibuang. Semak-semak itulah harta kita yang harus di bagikan.
Berbagi bukan membuat makin tetapi malah berkecukupan. Tentu saja asal ikhlas melakuannya. (*)
*sumber gambar bisa diklik langsung pada gambarnya.
Tuesday, June 1, 2010
Si Mbah Dawuh dan Negeri Antah Brantah
"Di Negeri Antah Brantah ini, Le, sebenarnya sudah enak. Tanahnya subur, terus cuaca juga ngga macem-macem. Wis poko'e joss lah!!!" tandas Mbah No.
"Nggih, Mbah..." jawabku.
Aku tak menyangka bertemu si Mbah ini saat aku baru pulang. Tiba-tiba dia nongol dan ajak aku ngobrol. Seingatku aku tadi lelah sekali seharian kuliah. Namanya Suseno. Tapi lebih dikenal dengan Mbah No. Aku sendiri tak tau kenapa bisa kenal orang tua ini.
"Le, kowe sekarang masih sekolah 'kan? Sing tenanan, Le. Negara Antah Brantah ini butuh orang yang jujur. Jadi kamu sekolah yang sungguh-sungguh biar bisa jujur...ya, sekolah yang penting itu biar bisa jujur..."
Hah? Aku geleng-geleng saja. Aku sekarang ini kuliah di ibukota. Kampusku juga, ya bisa dikatakan kampus terbaik. Aku juga kuliah di jurusan yang aku impikan agar aku bisa jadi, jujur saja, orang kaya. Kok bisa-bisanya si Mbah bilang sekolah hanya untuk jujur.
"Lah, Mbah, kalau cuma jujur kenapa harus sekolah ya Mbah? Terus harus sungguh-sunggung lagi..."
"Le, ati-ati lek ngomong. Kowe ngerti, jangan kau kira jujur itu mudah. Apalagi ngga perlu sekolah. Susah banget itu...ngerti kowe?!!!" tandas si Mbah. Beliau terlihat agak gemas dengan pertanyaanku tadi.
"Nggih, Mbah, nggih Mbah...."
Aku merasa tak punya otoritas. Aku tak tahu kenapa. Kebebasanku agak terbelenggu oleh situasi. Umur juga. Si Mbah sudah tua memang. Tapi, Si Mbah agaknya menyimpan sesuatu.
"Sori kalau aku agak naik nadanya. Lha wong kamu itu lho, masih bau kencur. Mau ngapain? Aku ngerti kalau kau sekolah, kau mau mengejar mimpi tho? Mengejar cita-cita?" tegas si Mbah. Kini nadanya sudah agak menurun.
"Nggih Mbah..."
"Ngene Le, kamu jangan kira jujur itu mudah. Kau tahu kan keadaan Negeri Antah Brantah saat ini? Sumber daya alam di eksploitasi Le.. Duite wong-wong dikorupsi... Yang susah lagi, yang terjadi bukan penghilangan kemiskinan, tapi penghilangan orang miskin...beh-beh-beh.."
Si Mbah terlihat geleng-geleng sambil diam sejenak. Seperti berpikir. Tapi sepertinya memang berpikir. Aku agak bingung. Apa maksud Mbah ini? Tiba-tiba saja beliau melontarkan pertanyaan konfirmasi yang tak diduga-duga.
"Kowe ngerti le ngono kuwi?"
Aku terbelalak ternganga. Dari tadi aku manggut, tapi jujur, aku tak paham. Si Mbah bilang soal jujur, tapi kok bilang eksploitasi lah, korupsi lah, kemiskinan lah. Aku bingung. Pastinya, ekspresiku yang muncul sudah bisa ditebak, geleng-geleng lagi dan lagi.
Si Mbah ternyata juga geleng-geleng. Tapi,
"Hmm... Bagus..bagus.."
Aku makin bingung. Sementara mulutku masih terbuka, menegaskan bahwa aku sungguh tak paham dengan orang tua ini.
"Kau sudah berani jujur.. Kau tak tahu dan mengaku tak tahu. Kan lebih baik daripada mengaku tahu tapi sebenarnya tak paham sama sekali. Ya kayak pejabat-pejabatnya Negeri Antah Brantah sekarang itu.... Nah, mereka itu pintar lho..sekolahnya ke luar negeri, ada juga yang sekolah kedinasan. Weleh-weleh, apa itu ngga berkualitas sekolahnya. Apalagi dibanding sekolahmu yang swasta itu..."
"Ya ngga gitu Mbah.. Meski swasta, belum tentu juga kalah.. "
Si Mbah mulai kemana-mana omongannya. Dasar orang tua! Tapi yang jelas aku tahu, kenapa beliau minta aku untuk belajar jujur. Meski sekolah dan pintar, tapi kalau tak pintar, kata si Mbah, malah buat minterin orang lain. Huh..
Si Mbah sempat bilang, kalau sekolah di Negeri Antah Brantah itu, meski bagus, tapi tidak seimbang. Katanya ada yang salah kaprah.
"Sing bener kuwi, sekolah ora mung ngurusi ini thok, tapi juga ini..."
Pada "ini" pertama, si Mbah menunjuk kepala. Bukan kepalanya yang ditunjuki, tapi kepalaku. Sial! Apalagi beliau sambil sedikit mendorong-dorong telunjuknya. Lengkap sudah aku kelihatan orang bodoh. Tapi, aku paham, yang dimaksudnya adalah pikiran, otak, atau intelejensi.
Dan pada "ini" kedua, si Mbah menunjuki dada. Kali ini dadanya sendiri. Maksudnya hati. Jadi maksudnya sekolahku tak bisa mengasah hati. Sementara kejujuran itu asalnya adalah hati. Tapi ada yang aku sayangkan. Seenaknya si Mbah menunjukku untuk barang jelek sementara yang bagus buat beliau sendiri. Huh...
"Lah, kalau gitu harus ada yang ditakuti donk, Mbah... Ya biar ngga korup lagi." aku spontan bertanya.
"Halah, di negeri antah brantah itu, ngga ada yang bisa ditakuti lagi, Le.. Sopo maneh? Polisi? Hakim? Jaksa? Lha wong kabeh yo podo korupsi ko'. Coba kamu tampar saja muka mereka pakai uang. Pasti diam..."
"Kalau gitu, Mbah, terus gimana?"
Si Mbah tiba-tiba diam. Tapi sejenak. Lalu berkoar kembali.
"Tapi, koyoke masih ada yang bisa ditakuti."
"Nopo Mbah?"
"Mati. Ya, mati. Le, kowe kudu ngerti, wong mati itu meninggalkan reputasi. Kalau mati pas korupsi, nah, dunia akan mengingat orang itu sebagai koruptor. Ya sudah, ya kau tahu kan reputasi macam apa yang pantas buat koruptor? Ya kalau dibandingin sama reputasinya tikus, ya sebelas duabelas-lah..."
"Nggih Mbah" aku manggut-manggut takdzim.
"Dan, Kau harus ingat, Le, reputasi itu umurnya sepanjang masa. Kata nenek moyang, reputasi itu ya gambaran apa yang diterima si empunya reputasi kelak di akherat... Hayu! Makanya, orang harus takut mati. Bukan matinya yang ditakuti, tapi reputasi setelah mati itu yang harus direnungkan. Nah, reputasi itu tentu dibangun saat masih hidup.. Gitu, Le."
Aku terus manggut-manggut. Menandai kalau aku berada pada sisi orang bodoh dan si Mbah adalah orang pintarnya. Tapi jujur, aku masih penasaran dengan negeri antah brantah itu. Dimana ya negeri itu?
Sayang si Mbah sudah pergi. Tak ada lagi. Si Mbah lenyap seraya aku membuka mata. Aku baru ingat. Ya, tadi setelah kelelahan kuliah seharian aku tertidur. Sekarang sudah bangun dan si Mbah sudah pergi.
****
Jazz Muhammad
Jakarta, 11 April 2010
*sumber gambar bisa diklik langsung pada gambarnya.
"Nggih, Mbah..." jawabku.
Aku tak menyangka bertemu si Mbah ini saat aku baru pulang. Tiba-tiba dia nongol dan ajak aku ngobrol. Seingatku aku tadi lelah sekali seharian kuliah. Namanya Suseno. Tapi lebih dikenal dengan Mbah No. Aku sendiri tak tau kenapa bisa kenal orang tua ini.
"Le, kowe sekarang masih sekolah 'kan? Sing tenanan, Le. Negara Antah Brantah ini butuh orang yang jujur. Jadi kamu sekolah yang sungguh-sungguh biar bisa jujur...ya, sekolah yang penting itu biar bisa jujur..."
Hah? Aku geleng-geleng saja. Aku sekarang ini kuliah di ibukota. Kampusku juga, ya bisa dikatakan kampus terbaik. Aku juga kuliah di jurusan yang aku impikan agar aku bisa jadi, jujur saja, orang kaya. Kok bisa-bisanya si Mbah bilang sekolah hanya untuk jujur.
"Lah, Mbah, kalau cuma jujur kenapa harus sekolah ya Mbah? Terus harus sungguh-sunggung lagi..."
"Le, ati-ati lek ngomong. Kowe ngerti, jangan kau kira jujur itu mudah. Apalagi ngga perlu sekolah. Susah banget itu...ngerti kowe?!!!" tandas si Mbah. Beliau terlihat agak gemas dengan pertanyaanku tadi.
"Nggih, Mbah, nggih Mbah...."
Aku merasa tak punya otoritas. Aku tak tahu kenapa. Kebebasanku agak terbelenggu oleh situasi. Umur juga. Si Mbah sudah tua memang. Tapi, Si Mbah agaknya menyimpan sesuatu.
"Sori kalau aku agak naik nadanya. Lha wong kamu itu lho, masih bau kencur. Mau ngapain? Aku ngerti kalau kau sekolah, kau mau mengejar mimpi tho? Mengejar cita-cita?" tegas si Mbah. Kini nadanya sudah agak menurun.
"Nggih Mbah..."
"Ngene Le, kamu jangan kira jujur itu mudah. Kau tahu kan keadaan Negeri Antah Brantah saat ini? Sumber daya alam di eksploitasi Le.. Duite wong-wong dikorupsi... Yang susah lagi, yang terjadi bukan penghilangan kemiskinan, tapi penghilangan orang miskin...beh-beh-beh.."
Si Mbah terlihat geleng-geleng sambil diam sejenak. Seperti berpikir. Tapi sepertinya memang berpikir. Aku agak bingung. Apa maksud Mbah ini? Tiba-tiba saja beliau melontarkan pertanyaan konfirmasi yang tak diduga-duga.
"Kowe ngerti le ngono kuwi?"
Aku terbelalak ternganga. Dari tadi aku manggut, tapi jujur, aku tak paham. Si Mbah bilang soal jujur, tapi kok bilang eksploitasi lah, korupsi lah, kemiskinan lah. Aku bingung. Pastinya, ekspresiku yang muncul sudah bisa ditebak, geleng-geleng lagi dan lagi.
Si Mbah ternyata juga geleng-geleng. Tapi,
"Hmm... Bagus..bagus.."
Aku makin bingung. Sementara mulutku masih terbuka, menegaskan bahwa aku sungguh tak paham dengan orang tua ini.
"Kau sudah berani jujur.. Kau tak tahu dan mengaku tak tahu. Kan lebih baik daripada mengaku tahu tapi sebenarnya tak paham sama sekali. Ya kayak pejabat-pejabatnya Negeri Antah Brantah sekarang itu.... Nah, mereka itu pintar lho..sekolahnya ke luar negeri, ada juga yang sekolah kedinasan. Weleh-weleh, apa itu ngga berkualitas sekolahnya. Apalagi dibanding sekolahmu yang swasta itu..."
"Ya ngga gitu Mbah.. Meski swasta, belum tentu juga kalah.. "
Si Mbah mulai kemana-mana omongannya. Dasar orang tua! Tapi yang jelas aku tahu, kenapa beliau minta aku untuk belajar jujur. Meski sekolah dan pintar, tapi kalau tak pintar, kata si Mbah, malah buat minterin orang lain. Huh..
Si Mbah sempat bilang, kalau sekolah di Negeri Antah Brantah itu, meski bagus, tapi tidak seimbang. Katanya ada yang salah kaprah.
"Sing bener kuwi, sekolah ora mung ngurusi ini thok, tapi juga ini..."
Pada "ini" pertama, si Mbah menunjuk kepala. Bukan kepalanya yang ditunjuki, tapi kepalaku. Sial! Apalagi beliau sambil sedikit mendorong-dorong telunjuknya. Lengkap sudah aku kelihatan orang bodoh. Tapi, aku paham, yang dimaksudnya adalah pikiran, otak, atau intelejensi.
Dan pada "ini" kedua, si Mbah menunjuki dada. Kali ini dadanya sendiri. Maksudnya hati. Jadi maksudnya sekolahku tak bisa mengasah hati. Sementara kejujuran itu asalnya adalah hati. Tapi ada yang aku sayangkan. Seenaknya si Mbah menunjukku untuk barang jelek sementara yang bagus buat beliau sendiri. Huh...
"Lah, kalau gitu harus ada yang ditakuti donk, Mbah... Ya biar ngga korup lagi." aku spontan bertanya.
"Halah, di negeri antah brantah itu, ngga ada yang bisa ditakuti lagi, Le.. Sopo maneh? Polisi? Hakim? Jaksa? Lha wong kabeh yo podo korupsi ko'. Coba kamu tampar saja muka mereka pakai uang. Pasti diam..."
"Kalau gitu, Mbah, terus gimana?"
Si Mbah tiba-tiba diam. Tapi sejenak. Lalu berkoar kembali.
"Tapi, koyoke masih ada yang bisa ditakuti."
"Nopo Mbah?"
"Mati. Ya, mati. Le, kowe kudu ngerti, wong mati itu meninggalkan reputasi. Kalau mati pas korupsi, nah, dunia akan mengingat orang itu sebagai koruptor. Ya sudah, ya kau tahu kan reputasi macam apa yang pantas buat koruptor? Ya kalau dibandingin sama reputasinya tikus, ya sebelas duabelas-lah..."
"Nggih Mbah" aku manggut-manggut takdzim.
"Dan, Kau harus ingat, Le, reputasi itu umurnya sepanjang masa. Kata nenek moyang, reputasi itu ya gambaran apa yang diterima si empunya reputasi kelak di akherat... Hayu! Makanya, orang harus takut mati. Bukan matinya yang ditakuti, tapi reputasi setelah mati itu yang harus direnungkan. Nah, reputasi itu tentu dibangun saat masih hidup.. Gitu, Le."
Aku terus manggut-manggut. Menandai kalau aku berada pada sisi orang bodoh dan si Mbah adalah orang pintarnya. Tapi jujur, aku masih penasaran dengan negeri antah brantah itu. Dimana ya negeri itu?
Sayang si Mbah sudah pergi. Tak ada lagi. Si Mbah lenyap seraya aku membuka mata. Aku baru ingat. Ya, tadi setelah kelelahan kuliah seharian aku tertidur. Sekarang sudah bangun dan si Mbah sudah pergi.
****
Jazz Muhammad
Jakarta, 11 April 2010
*sumber gambar bisa diklik langsung pada gambarnya.
Friday, May 28, 2010
Berangkat dari Sebuah Kesederhanaan
Sebuah kota kecil berjuluk Bumi Bung Karno menjadi tempatku mulai menatap dunia. Di sana, ibuku melahirkanku sebagai seorang anak laki-laki. Tak ada yang istimewa dari keluargaku. Ayahku adalah seorang wirausahawan. Ia seorang tukang servis mesin jahit. Rendahan kedengarannya. Tapi kami mandiri. Itu yang membuatku bangga padanya hingga kini.
Ibuku adalah ibu rumah tangga. Seseorang yang menjadi manajer keluarga kami. Dan aku sendiri lahir di kota kecil ini, Blitar namanya, sebagai seorang anak yang bernama Muhamad Rosyid Jazuli.
Sedikit perkenalanku itu semoga memberi gambaran bahwa tak ada yang bisa aku sombongkan dari duniaku. Aku dibesarkan di suasana kesederhanaan keluarga. Bahkan, di kemudian hari, keluarga kami memiliki empat anak, dan akulah yang pertamanya. Aku akhirnya memiliki tiga adik. Inilah kehidupan keluargaku, enam orang yang selalu penuh semangat kemandirian megarungi samudera kehidupan.
Tentunya setiap orang punya jalan hidupnya masing-masing. Aku pun demikian. Aku menjalani waktu pendidikanku sebagian besar di kotaku. Ketika aku lulus dari TK al-Hidayah, aku melanjutkan proses belajarku di SD Islam Sukorejo. Kemudian aku memilih SMP Negeri dua Blitar untuk menempuh masa pendidikan menengahku yang pertama. Cukup baik hasil yang aku capai saat itu. Aku menjadi peraih NEM tertinggi se SMP.
Sentuh organisasi
Pendidikan menengah atasku aku tempuh di SMA Negeri 1 Blitar. Lokasinya cukup jauh, hampir dua kali lipat jarak rumahku ke SMP. Aku hanya memiliki sepeda butut bekas yang dibelikan ayah ketika aku kelas 4 SD. Dan itulah yang terus membantuku sampai di tempatku belajar, tempatku menyemai benih masa depanku.
Ketika aku SMA, aku mulai bersentuhan dengan dunia organisasi. Aku memutuskan untuk bergabung dengan IPNU (Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama). Aku mulai karyaku di organisasi itu mulai dari ranting di kelurahan-ku, PR (Pengurus Ranting) IPNU Pakunden. Saat itu aku mejadi wakil ketua. Beberapa kali aku ikut serta dalam acara rutinan. Bagiku acara itu sederhana sekali. Akan tetapi, itulah basis peraudaraan yang nyata dan tentunya benar-benar menyatukan rasa kebersamaan antaranggota.
Satu periode berjalan, aku pindah ke pengurusan yang lebih tinggi tingkatannya, tingkat cabang. Usai konfercab (Konferensi Cabang), aku ditempatkan di posisi bendahara. Aku sungguh menikmati masa-masaku saat itu. Sayang, belum lengkap satu periode berjalan, aku harus meninggalkan organisasi itu karena sesuatu. Aku, kebetulan, dapat beasiswa untuk melanjutkan studi sarjanaku di Jakarta.
Di dalam SMA sendiri, aku pernah merasakan bagaimana menjadi pemimpin organisasi kesiswaan tertingggi. Aku perah menjadi ketua OSIS. Banyak hal tentunya aku dapat ketika itu: pengalaman memimpin, mengelola, dan berdinamika di dalam organisasi. Sungguh pengalaman yang tidak akan pernah aku lupakan. Sebuah pengalaman yang menjadi titik balik kehidupanku saat itu. Aku yang dahulunya penuh dengan rasa minder, berubah hampir seratus delapnpuluh derajat menjadi pribadi yang penuh rasa percaya diri menghadapi kehidupan.
Duta
Kini, aku telah berada di Jakarta, pusat atmosfer negeri ini. Aku menerima beasiswa Paramadina Fellowship 2008 seketika aku lulus dari SMA. Sekarang aku kuliah di Universitas pemberi beasiswa itu, Universitas Paramadina. Hanya syukur kepada Tuhan yang bisa aku sampaikan. Beasiswa itu telah membiayai seluruh kebutuhan kuliahku. Biaya kuliah selama empat tahun, biaya buku sudah menjadi tak menjadi beban pikiranku. Bahkan uang saku aku juga dapatkan.
Aku dapat kejutan di Jakarta. Karir oragnisasiku di IPNU ternyata juga masih berlanjut. Aku mendapat kesempatan untuk bergabung dengan kepengurusan Pimpinan Pusat (PP IPNU) untuk periode tiga tahun mendatang (2009-2012). Sementara, aku juga menjadi duta bagi universitasku. Layaknya duta pada umumnya, adalah tugasku menyampaian berita baik dari dan ke dalam universitas. Tapi tentunya, secara kultural, aku juga duta bagi organisasi tempatku bernaung, PP IPNU.
Kukira apa yang kuraih selama ini bisa aku anggap sebuah prestasi. Tapi, tak perlu dibangakan, tak perlu disombongkan. Masih banyak orang yang jauh memiliki prestasi di luar sana. Aku yakin kebanggaan diri dan kesombongan hanya menutup hati yang berujung pada ketinggian hati. Sebuah sikap yang sangat di benci masyarakat.
Terakhir, adalah sungguh menyenangkan bagiku untuk mengingat perkataan seorang dosenku, “Just keep highly motivated, you will see the world.” (*)
*sumber gambar bisa diklik langsung pada gambarnya.
Thursday, May 20, 2010
Terangisme (2)
Yaudahlah kalah
Terang aja, emang gue ngga pintar
Emang ini takdir
Terang aja, gue pas ngga sehat tuh
Kamu pernah ngga kalah pas ikut sebuah kompetisi? Atau dapat nilai buruk saat ujian? Atau gagal ngurusin sebuah acara? Hmm..rasanya pasti pernah, tapi saya sih SERING bin BANGET pernahnya. Berbagai kompetisi saya ikuti, tapi yang nyantol cuma bebrapa saja. Saat mengerjakan tugas apalagi. Alih-alih mendapatkan nilai yang bagus, seringkali saya ikut ujian ulang. (to the point aja deh kalo nilainya jelek, he he). Fiuhh…..
Bagi kita, seringkali yang muncul saat keadaan seperti itu biasanya bukan terus nyari solusi, yang ada adalah sikap nyari persalahan. Kamu atau saya seringkali berusaha mencari-cari alasan apa yang bisa “menutupi muka” yang sudah bingung mau ditaruh dimana (emang muka bisa dipindahin yah?). Terus akhirnya bilang terang ini… terang itu…..
Ya, muncullah kembali paham terangisme. Sebenarnya bukan paham sih. Ini hanya bahasa Mario Teguh untuk orang-orang yang selalu mencari persalahan untuk setiap kegagalan. Dalam bab sebelumnya telah diterangkan masalah terangisme, tetapi dari sudut pandang diluar diri orang yang gagal. Kalau sekarang perspektifnya saya ubah ke dalam diri orang tersebut (termasuk saya sih). Simak baik-baik ya! (Sok banget ngga sih?..hehe)
Terangisme yang satu ini juga disebut, pinjam istilah Paulus Winarto, sebuah penyakit dalih. Dalam buku The Magic of Thinking Big, David J. Schwartz menyebut penyakit dalih sebagai penyakit pikiran yang mematikan (parah kan?). Dia menambahkan bahwa penyakit ini punya empat bentuk, yakni dalih kesehatan, dalih intelegensi, dalih usia, dan dalih nasib.
Ada aja alasan yang dibuat pas lagi gagal. Coba simak percakapan diawal tulisan ini. macem-macem kan alasannya. Yup nilai 100 buat pak Schwartz.
Ketika mengalami kekalahan dalam perlombaan atau kompetisi, yang diucapkan hanya “Ah, aq memang badoh”, atau “Aduh, saya sudah tua, sudah waktunya istirahat, lumrah la kalau kalah”, bahkan “Ah sudah nasib, ini takdir Tuhan”. Aduh mas, lebay banget sih.
Dalam agama ada sebuah ajaran bahwa Tuhan tidak akan mengubah nasib sebuah kaum sebelum kaum itu berusaha sendiri. Jadi takdir Tuhan itu bukan tempat persalahan atas kegagalan kita. Yang masalah sebenarnya kita sendiri yang selalu pesimis atau bahkan apatis terhadap masa depan. Hidup ini dianggap will go on well without any efforts. Biasanya orang-orang seperti ini selalu bilang the show must go on. Memang ini tidak salah, tetapi sebelum go on ya mbok disiapkan dulu.
Selain itu, sering juga saat gagal, kita langsung menghukum diri sendiri dengan pernyataan-pernataan yang mempersalahkan otak sendiri. Otak dianggap sebagi sumber masalah. Dikira otanya sudah tidak pintar lagi. Hmm…. Mari lihat cuapan Thomas Alpha Edison, si bapak bohlam. Dia berkata, kesuksesan itu 1% inspirasi, 99% eksekusi. Jadi sebuah ide akan sukses atau tidak itu tinggal tergantung bagaimana kita berusaha.
Setelah alasan takdir dan masalah otak (intelejensi), sepertinya kurang lengkap bila belum menyebutkan alasan kesehatan ataupun usia. Aduh, sepertinya bakal panjang nih.
Saya bukan ingin menyatakan bahwa kita harus menang dan sukses terus, bukan itu. Kalah atau gagal itu pasti dialami. Akan tetapi, membuat beribu alasan untuk menutupi kegagalan itu yang harus dihindari. Saya rasa menerima kekalahan adalah hal yang sangat bijak. Tidak perlu alasan apapun.
Sepertinya perlu sedikit dipertegas seuah ungkapan yang mungkin kamu hapal tapi jarang dilakukan yakni “kegagalan adalah kesuksesan yang tertunda”. Kemudian, yang penting adalah segera buat solusi, bukan dramatisasi keadaan.(*)
*sumber gambar bisa diklik langsung pada gambanrnya (http://www.siswonugroho.com)
Terang aja, emang gue ngga pintar
Emang ini takdir
Terang aja, gue pas ngga sehat tuh
Kamu pernah ngga kalah pas ikut sebuah kompetisi? Atau dapat nilai buruk saat ujian? Atau gagal ngurusin sebuah acara? Hmm..rasanya pasti pernah, tapi saya sih SERING bin BANGET pernahnya. Berbagai kompetisi saya ikuti, tapi yang nyantol cuma bebrapa saja. Saat mengerjakan tugas apalagi. Alih-alih mendapatkan nilai yang bagus, seringkali saya ikut ujian ulang. (to the point aja deh kalo nilainya jelek, he he). Fiuhh…..
Bagi kita, seringkali yang muncul saat keadaan seperti itu biasanya bukan terus nyari solusi, yang ada adalah sikap nyari persalahan. Kamu atau saya seringkali berusaha mencari-cari alasan apa yang bisa “menutupi muka” yang sudah bingung mau ditaruh dimana (emang muka bisa dipindahin yah?). Terus akhirnya bilang terang ini… terang itu…..
Ya, muncullah kembali paham terangisme. Sebenarnya bukan paham sih. Ini hanya bahasa Mario Teguh untuk orang-orang yang selalu mencari persalahan untuk setiap kegagalan. Dalam bab sebelumnya telah diterangkan masalah terangisme, tetapi dari sudut pandang diluar diri orang yang gagal. Kalau sekarang perspektifnya saya ubah ke dalam diri orang tersebut (termasuk saya sih). Simak baik-baik ya! (Sok banget ngga sih?..hehe)
Terangisme yang satu ini juga disebut, pinjam istilah Paulus Winarto, sebuah penyakit dalih. Dalam buku The Magic of Thinking Big, David J. Schwartz menyebut penyakit dalih sebagai penyakit pikiran yang mematikan (parah kan?). Dia menambahkan bahwa penyakit ini punya empat bentuk, yakni dalih kesehatan, dalih intelegensi, dalih usia, dan dalih nasib.
Ada aja alasan yang dibuat pas lagi gagal. Coba simak percakapan diawal tulisan ini. macem-macem kan alasannya. Yup nilai 100 buat pak Schwartz.
Ketika mengalami kekalahan dalam perlombaan atau kompetisi, yang diucapkan hanya “Ah, aq memang badoh”, atau “Aduh, saya sudah tua, sudah waktunya istirahat, lumrah la kalau kalah”, bahkan “Ah sudah nasib, ini takdir Tuhan”. Aduh mas, lebay banget sih.
Dalam agama ada sebuah ajaran bahwa Tuhan tidak akan mengubah nasib sebuah kaum sebelum kaum itu berusaha sendiri. Jadi takdir Tuhan itu bukan tempat persalahan atas kegagalan kita. Yang masalah sebenarnya kita sendiri yang selalu pesimis atau bahkan apatis terhadap masa depan. Hidup ini dianggap will go on well without any efforts. Biasanya orang-orang seperti ini selalu bilang the show must go on. Memang ini tidak salah, tetapi sebelum go on ya mbok disiapkan dulu.
Selain itu, sering juga saat gagal, kita langsung menghukum diri sendiri dengan pernyataan-pernataan yang mempersalahkan otak sendiri. Otak dianggap sebagi sumber masalah. Dikira otanya sudah tidak pintar lagi. Hmm…. Mari lihat cuapan Thomas Alpha Edison, si bapak bohlam. Dia berkata, kesuksesan itu 1% inspirasi, 99% eksekusi. Jadi sebuah ide akan sukses atau tidak itu tinggal tergantung bagaimana kita berusaha.
Setelah alasan takdir dan masalah otak (intelejensi), sepertinya kurang lengkap bila belum menyebutkan alasan kesehatan ataupun usia. Aduh, sepertinya bakal panjang nih.
Saya bukan ingin menyatakan bahwa kita harus menang dan sukses terus, bukan itu. Kalah atau gagal itu pasti dialami. Akan tetapi, membuat beribu alasan untuk menutupi kegagalan itu yang harus dihindari. Saya rasa menerima kekalahan adalah hal yang sangat bijak. Tidak perlu alasan apapun.
Sepertinya perlu sedikit dipertegas seuah ungkapan yang mungkin kamu hapal tapi jarang dilakukan yakni “kegagalan adalah kesuksesan yang tertunda”. Kemudian, yang penting adalah segera buat solusi, bukan dramatisasi keadaan.(*)
*sumber gambar bisa diklik langsung pada gambanrnya (http://www.siswonugroho.com)
Monday, May 17, 2010
Kritik dan Kripik
Kamu ini gimana sih…
Kerjaan Cuma gini-gini aja
Kamu itu bisa ngga sih
Ini tuh kurang bla.. bla.. bla..
Suatu saat saya mengikuti sebuah pelatihan jurnalistik. Saya dan teman lain diminta menulis sebuah artikel. Ya saya langsung saja mengerjakan artikel itu dengan sungguh-sungguh. Informasi saya kumpulkan, saya rasa, sudah cermat. Saya juga mewawancarai seorang ahli untuk menguatkan informasi yang saya dapat. Data yang sudah terkumpul saya susun dengan hati-hati. Saya yakin artikel yang saya tulis ini sudah “sangat baik” (he…he…) dan saya bayangkan dapat pujian dari si trainer.
Singkat cerita, bukan pujian yang saya dapat. Artikel saya ternyata “diberondong” dengan beberapa kalimat kritik yang “kurang sedap”. Spontan saya merasa marah. Ya iyalah, udah kerja keras, bukan pujian tapi malah cercaan yang kudapat.
Ya, itu cerita masa lalu. Bisa dikatakan saat itu saya belum dapat “pencerahan”. Pada akhirnya, saya baru sadar bahwa apa yang sampakan trainer itu ya memang kekurangan dari tulisan saya. Saya terlalu bangga oleh karya sendiri. Dan ketika rasa bangga itu disanggah mentah-mentah oleh orang lain, ya lumrah lah kalau marah, tapi saya pikir itu sia-sia saja.
Dalam mengerjakan sesuatu, ada satu hal yang saya takuti. Tapi kamu paling juga sama saja. Yup, saya (dan Kamu) takut untuk dikritik. Takut untuk mendapat koreksi dari orang lain. Tapi apa benar kalau takut sama kritik itu baik? Hmm…..
Jujur saja, saat mengerjakan sesuatu, entah itu tugas, karya ilmiah, makalah atau apapun, yang ada dibenak kita pasti nilai yang memuaskan. Kita ingin mendapatkan sesuatu itu pokoknya yang baik. Wajar saja, sifat dasar manusia itu kan ingin yang baik-baik saja. Mana ada orang di dunia yang mau dibilang jelek? Kayak gini, Elu ngga becus banget sih, kamu itu kurang ini, kuang itu…
Akan tetapi, kalu dipikir agak dalam (jangan dalem-dalem, ntar stress lho) sebenarnya kritik adalah sebuah wujud kekurangan yang ada pada diri kita. Memang cara penyampaiannya bermacam-macam. Ada yang super kasar dan sepertinya ngga punya perasaan. Tunjuk sana-tnjuk sini. Bicaranya thas-thes. Pokoknya kalau denger, langsung sakit hati gue…
Namun, ada juga yang moderat, ya biasa-biasa saja, sambil nyindir-nyindir gitu, tapi ada juga yang super halus, menggunakan perumpamaan dan sangat memerhatikan perasaan lawan bicara.
Dalam hal ini, Nabi Muhamad pernah meyampaikan kalau kita jangan melihat siapa yang berbicara, tapi apa yang dibicarakan. Ya, jadi ngga usah lihat orangnya, yang penting apa yang dia omongin. Walaupun kritik itu dari orang yang kita benci atau bahkan musuh bebuyutan (kayak perang aja), ya pikirin aja yang diomongin. Bahasa ilmiahnya itu objektif.
Meski demikian, tidak semua kritik harus kita pikirkan. Kita juga harus selektif dalam memilih kritik yang memang jadi kekurangan kita. Meski kritik itu menunjukkan apa yang menjadi kekurangan sesorang, ada juga orang yang menyampaikan kritik untuk menjatuhkan orang yang tidak disukainya. Kritik-kritik ini adalah kritik destruktif yang menjatuhkan. Ada orang sukses dibilang curang, ada orang dapat nulis dikira kurang kerjaan, ada yang baca dikatain ngga gaul.
Kritik-kritik yang itu ngga usah dipikirin. Buang-buang memori otak. Sayang banget kan kalau beberapa byte memori di otak kita hanya diisi omongan-omongan ngga jelas orang lain. Otak itu bak CD-R yang kalau sudah diisi, ngga bisa dihapus. Jadi jaga baik-baik memori kita.
Kata Aa Gym, kritik itu bagaikan kripik. Kripik itu renyah, demikian juga kritik. Kritik akan membuka kekurangan-kekurangan yang ada dalam diri. Orang yang alergi kritik akan terus menganggap dirinya paling baik. Terus menganggap orang lain lebih buruk dari pada dia. Kalau dipikir, orang yang seperti ini bikin jengkel kan? Jadi ya jangan saperti itu.
Oleh karena itu, biarkan orang lain mengkritik diri ini. Biarkan kekuarangan-kekurangan diri kita terkuak satu persatu. Terus ya diperbaiki, bukan diam dan malah mutung.
Untuk hidup yang lebih baik, ya kekurangan itu harus diperbaiki kan?(*)
*sumber gambar bisa diklik langsung pada gambanrnya
Kerjaan Cuma gini-gini aja
Kamu itu bisa ngga sih
Ini tuh kurang bla.. bla.. bla..
Suatu saat saya mengikuti sebuah pelatihan jurnalistik. Saya dan teman lain diminta menulis sebuah artikel. Ya saya langsung saja mengerjakan artikel itu dengan sungguh-sungguh. Informasi saya kumpulkan, saya rasa, sudah cermat. Saya juga mewawancarai seorang ahli untuk menguatkan informasi yang saya dapat. Data yang sudah terkumpul saya susun dengan hati-hati. Saya yakin artikel yang saya tulis ini sudah “sangat baik” (he…he…) dan saya bayangkan dapat pujian dari si trainer.
Singkat cerita, bukan pujian yang saya dapat. Artikel saya ternyata “diberondong” dengan beberapa kalimat kritik yang “kurang sedap”. Spontan saya merasa marah. Ya iyalah, udah kerja keras, bukan pujian tapi malah cercaan yang kudapat.
Ya, itu cerita masa lalu. Bisa dikatakan saat itu saya belum dapat “pencerahan”. Pada akhirnya, saya baru sadar bahwa apa yang sampakan trainer itu ya memang kekurangan dari tulisan saya. Saya terlalu bangga oleh karya sendiri. Dan ketika rasa bangga itu disanggah mentah-mentah oleh orang lain, ya lumrah lah kalau marah, tapi saya pikir itu sia-sia saja.
Dalam mengerjakan sesuatu, ada satu hal yang saya takuti. Tapi kamu paling juga sama saja. Yup, saya (dan Kamu) takut untuk dikritik. Takut untuk mendapat koreksi dari orang lain. Tapi apa benar kalau takut sama kritik itu baik? Hmm…..
Jujur saja, saat mengerjakan sesuatu, entah itu tugas, karya ilmiah, makalah atau apapun, yang ada dibenak kita pasti nilai yang memuaskan. Kita ingin mendapatkan sesuatu itu pokoknya yang baik. Wajar saja, sifat dasar manusia itu kan ingin yang baik-baik saja. Mana ada orang di dunia yang mau dibilang jelek? Kayak gini, Elu ngga becus banget sih, kamu itu kurang ini, kuang itu…
Akan tetapi, kalu dipikir agak dalam (jangan dalem-dalem, ntar stress lho) sebenarnya kritik adalah sebuah wujud kekurangan yang ada pada diri kita. Memang cara penyampaiannya bermacam-macam. Ada yang super kasar dan sepertinya ngga punya perasaan. Tunjuk sana-tnjuk sini. Bicaranya thas-thes. Pokoknya kalau denger, langsung sakit hati gue…
Namun, ada juga yang moderat, ya biasa-biasa saja, sambil nyindir-nyindir gitu, tapi ada juga yang super halus, menggunakan perumpamaan dan sangat memerhatikan perasaan lawan bicara.
Dalam hal ini, Nabi Muhamad pernah meyampaikan kalau kita jangan melihat siapa yang berbicara, tapi apa yang dibicarakan. Ya, jadi ngga usah lihat orangnya, yang penting apa yang dia omongin. Walaupun kritik itu dari orang yang kita benci atau bahkan musuh bebuyutan (kayak perang aja), ya pikirin aja yang diomongin. Bahasa ilmiahnya itu objektif.
Meski demikian, tidak semua kritik harus kita pikirkan. Kita juga harus selektif dalam memilih kritik yang memang jadi kekurangan kita. Meski kritik itu menunjukkan apa yang menjadi kekurangan sesorang, ada juga orang yang menyampaikan kritik untuk menjatuhkan orang yang tidak disukainya. Kritik-kritik ini adalah kritik destruktif yang menjatuhkan. Ada orang sukses dibilang curang, ada orang dapat nulis dikira kurang kerjaan, ada yang baca dikatain ngga gaul.
Kritik-kritik yang itu ngga usah dipikirin. Buang-buang memori otak. Sayang banget kan kalau beberapa byte memori di otak kita hanya diisi omongan-omongan ngga jelas orang lain. Otak itu bak CD-R yang kalau sudah diisi, ngga bisa dihapus. Jadi jaga baik-baik memori kita.
Kata Aa Gym, kritik itu bagaikan kripik. Kripik itu renyah, demikian juga kritik. Kritik akan membuka kekurangan-kekurangan yang ada dalam diri. Orang yang alergi kritik akan terus menganggap dirinya paling baik. Terus menganggap orang lain lebih buruk dari pada dia. Kalau dipikir, orang yang seperti ini bikin jengkel kan? Jadi ya jangan saperti itu.
Oleh karena itu, biarkan orang lain mengkritik diri ini. Biarkan kekuarangan-kekurangan diri kita terkuak satu persatu. Terus ya diperbaiki, bukan diam dan malah mutung.
Untuk hidup yang lebih baik, ya kekurangan itu harus diperbaiki kan?(*)
*sumber gambar bisa diklik langsung pada gambanrnya
Thursday, May 13, 2010
Kai, Si Tempat Sampah
Pagi begitu cerah. Mentari tersenyum merekah seraya mengabarkan bahwa cuaca dunia sedang bersahabat. Awan-awan selalu ada nan setia menemani perjalanan matahari. Di bumi, beberapa hari lagi akan ada sebuah acara besar berskala internasional. Inilah Pertemuan Tempat Sampah Se-Dunia. Acaranya sendiri diselenggarakan di Singapura.
Setiap negara mengirimkan satu wakilnya pada pertemuan itu. Setiap negara disilakan untuk memilih satu utusan terbaiknya untuk datang dan berembug di pertemuan itu. Tak ketinggalan, Indonesia juga mengirirm.
Kai adalah tempat sampah yang beruntung. Ia terpilih sebagai wakil Indonesia. Ia berasal dari Jakarta. Ini adalah pertama kalinya ia bepergian jauh. Dan, sebelum berangkat, ia berpamitan pada teman-temannya sesama tempat sampah.
"Kai, jangan lupa nanti bawa informasi yang banyak. Sekalian oleh-oleh..," pinta seorang teman.
"Ok, sip lah..minta doanya ya!"
Awan masih berhamburan di langit yang cerah. Sepertinya ikut senang mendengar keberangkatan Kai ke Singapura.
****
Menggunakan pesawat terbang, Kai menuju Singapura lewat Bandara Soekarno Hatta. Beberapa saat kemudian ia sudah sampai karena memang jarak Jakarta-Singapura dekat. Akai senang sekali. Ini adalah pengalaman pertamanya naik pesawat.
Kai dan utusan-utusan dari negara lain kini tiba di Bandara Changi. Setelah tiba di Singapura, mereka tak langsung menuju tempat pertemuan. Oleh panitia, seluruh utusan diinapkan di sebuah penginapan. Satu kamar akan di isi dua orang. Sementara, di perjalanan, Kai terheran-heran.
Ia temukan semua tempat sampah di Singapura begitu sehat. Mereka terawat dan ada beberapa yang gemuk. Menandakan kalau mereka selalu diperhatikan. Jalanan terlihat sangat bersih. Sepertinya sampah-sampah telah di buang ke tempatnya. Mungkin karena sering diberi makanan berupa sampah, tempat sampah-tempat sampah di Singapura jadi sehat dan agak gemuk. Lalu ia melihat dirinya sendiri. Kurus kerempeng dan agak lusuh. Ada bagian tubuh yang lecet, sana-sini. Dalam hati, Kai bertanya-tanya, "Mengapa ini bisa terjadi? Mengapa berbeda?"
Tanpa diduga, di penginapan Kai mendapat teman sekamar bernama Lay, ia asli Singapura. Dan, seperti yang Kai lihat tadi, sebagai tempat sampah Singapura, Lay begitu sehat, bersih, dan agak gemuk. Badannya juga bersih.
"Hi, salam kenal. Aku Lay. Kamu?" tanya Lay.
"Aku, Kai."
"Dari mana kau, Kai?"
"Dari Indonesia."
Sebentar saja, Kai dan Lay sudah akrab. Mereka saling bercanda ke sana-sini. Maklum, bagi Kai, ini adalah hal yang tak akan pernah ia lupakan. Mendapat teman baru. Apalagi dari negara maju seperti Singapura.
Lay dari tadi memerhatikan betul badan Kai. Ia manggut-manggut. Tampak jelas kalau ia tahu sesuatu. Lalu, Kai memberanikan untuk bertanya, "Hmm..Lay, ada apa ya? Ada yang salah?"
"Kau kurus sekali. Tak pernah dimasuki sampah ya? Kau juga lusuh nan telihat tak dirawat."
Kai jadi malu sendiri. Penampilannya memang seperti Itu. Tapi lantas ia balik bertanya, "Memang bagaimana orang Singapura memperlakukanmu?"
Saat itulah Lay menceritakan sesuatu.
"Kai, teman-temanku banyak. Hampir di setiap sudut di Singapura punya tempat sampah. Orang-orang di sini juga peduli dengan sampah. Kalau di negaramu?"
Kai hanya geleng-geleng. Pertanda ia menjawab tidak. Apa yang ia temukan di Indonesia, apalagi di Jakarta adalah sebaliknya. Hanya terdapat sedikit tempat sampah di tempat umum. Tapi yang sedikit itu pun dicampakkan dan tak terurus. Bahkan juga tak pernah diisi sampah, karena memang orang Indonesia kebanyakan tak buang sampah pada tempatnya alias sembarangan. Sementara Lay masih bersemangat bercerita.
"Kai, orang Singapura itu tahu kebersihan. Sampah sekecil apapun mereka buang ke tempat sampah. Mungkin ini yang membuat aku agak gemuk. He..he..Kalau di negaramu?"
Kai kembali mengulang geleng-gelengannya. Kai sendiri bingung. Apa yang ia lihat di Jakarta jauh berbeda. Orang orang tak peduli dengan tempat sampah. Tempat sampah cuma jadi pajangan di jalan-jalan. Keadaannya pun tak terawat. Pantas saja kalau badan Kai kurus. Orang di Indonesia itu tak peduli dengan sampah. Main buang seenaknya. Kai terbuai dalam lamunannya.
"Heh, kai, jangan melamun!" ujar Lay.
****
Esok harinya, pertemuan berlangsung ramai sekali. Kai bersemangat sekali. Ia bertemu dengan teapt sampah-tempat sampah dari seluruh dunia. Kesempatan ini ia manfaatkan utnk berbagi pengalaman. Ia ingin mencari pengetahuan sebanyak-banyaknya tentang sampah. Pengetahuan ini yang akan jadi oleh-oleh buat temannya. Ia ingin sampaikan pada orang-orang agar peduli sampah.
Dan di pertemuan itu disimpulkan sebuah kesepakatan internasional. Yang unik, kesepakatan itu hanya berisi 5 kata denga tiga tanda pentung di belakangnya.
"AYO, BUANG SAMPAH PADA TEMPATNYA!!!"
“Lumayan buat oleh-oleh..”, kata Kai dalam hati.
****
*sumber gambar bisa diklik langsung pada gambanrnya (http://idemerdekaku.blogdetik.com/files/2008/09/sampahidup576.jpg)
Setiap negara mengirimkan satu wakilnya pada pertemuan itu. Setiap negara disilakan untuk memilih satu utusan terbaiknya untuk datang dan berembug di pertemuan itu. Tak ketinggalan, Indonesia juga mengirirm.
Kai adalah tempat sampah yang beruntung. Ia terpilih sebagai wakil Indonesia. Ia berasal dari Jakarta. Ini adalah pertama kalinya ia bepergian jauh. Dan, sebelum berangkat, ia berpamitan pada teman-temannya sesama tempat sampah.
"Kai, jangan lupa nanti bawa informasi yang banyak. Sekalian oleh-oleh..," pinta seorang teman.
"Ok, sip lah..minta doanya ya!"
Awan masih berhamburan di langit yang cerah. Sepertinya ikut senang mendengar keberangkatan Kai ke Singapura.
****
Menggunakan pesawat terbang, Kai menuju Singapura lewat Bandara Soekarno Hatta. Beberapa saat kemudian ia sudah sampai karena memang jarak Jakarta-Singapura dekat. Akai senang sekali. Ini adalah pengalaman pertamanya naik pesawat.
Kai dan utusan-utusan dari negara lain kini tiba di Bandara Changi. Setelah tiba di Singapura, mereka tak langsung menuju tempat pertemuan. Oleh panitia, seluruh utusan diinapkan di sebuah penginapan. Satu kamar akan di isi dua orang. Sementara, di perjalanan, Kai terheran-heran.
Ia temukan semua tempat sampah di Singapura begitu sehat. Mereka terawat dan ada beberapa yang gemuk. Menandakan kalau mereka selalu diperhatikan. Jalanan terlihat sangat bersih. Sepertinya sampah-sampah telah di buang ke tempatnya. Mungkin karena sering diberi makanan berupa sampah, tempat sampah-tempat sampah di Singapura jadi sehat dan agak gemuk. Lalu ia melihat dirinya sendiri. Kurus kerempeng dan agak lusuh. Ada bagian tubuh yang lecet, sana-sini. Dalam hati, Kai bertanya-tanya, "Mengapa ini bisa terjadi? Mengapa berbeda?"
Tanpa diduga, di penginapan Kai mendapat teman sekamar bernama Lay, ia asli Singapura. Dan, seperti yang Kai lihat tadi, sebagai tempat sampah Singapura, Lay begitu sehat, bersih, dan agak gemuk. Badannya juga bersih.
"Hi, salam kenal. Aku Lay. Kamu?" tanya Lay.
"Aku, Kai."
"Dari mana kau, Kai?"
"Dari Indonesia."
Sebentar saja, Kai dan Lay sudah akrab. Mereka saling bercanda ke sana-sini. Maklum, bagi Kai, ini adalah hal yang tak akan pernah ia lupakan. Mendapat teman baru. Apalagi dari negara maju seperti Singapura.
Lay dari tadi memerhatikan betul badan Kai. Ia manggut-manggut. Tampak jelas kalau ia tahu sesuatu. Lalu, Kai memberanikan untuk bertanya, "Hmm..Lay, ada apa ya? Ada yang salah?"
"Kau kurus sekali. Tak pernah dimasuki sampah ya? Kau juga lusuh nan telihat tak dirawat."
Kai jadi malu sendiri. Penampilannya memang seperti Itu. Tapi lantas ia balik bertanya, "Memang bagaimana orang Singapura memperlakukanmu?"
Saat itulah Lay menceritakan sesuatu.
"Kai, teman-temanku banyak. Hampir di setiap sudut di Singapura punya tempat sampah. Orang-orang di sini juga peduli dengan sampah. Kalau di negaramu?"
Kai hanya geleng-geleng. Pertanda ia menjawab tidak. Apa yang ia temukan di Indonesia, apalagi di Jakarta adalah sebaliknya. Hanya terdapat sedikit tempat sampah di tempat umum. Tapi yang sedikit itu pun dicampakkan dan tak terurus. Bahkan juga tak pernah diisi sampah, karena memang orang Indonesia kebanyakan tak buang sampah pada tempatnya alias sembarangan. Sementara Lay masih bersemangat bercerita.
"Kai, orang Singapura itu tahu kebersihan. Sampah sekecil apapun mereka buang ke tempat sampah. Mungkin ini yang membuat aku agak gemuk. He..he..Kalau di negaramu?"
Kai kembali mengulang geleng-gelengannya. Kai sendiri bingung. Apa yang ia lihat di Jakarta jauh berbeda. Orang orang tak peduli dengan tempat sampah. Tempat sampah cuma jadi pajangan di jalan-jalan. Keadaannya pun tak terawat. Pantas saja kalau badan Kai kurus. Orang di Indonesia itu tak peduli dengan sampah. Main buang seenaknya. Kai terbuai dalam lamunannya.
"Heh, kai, jangan melamun!" ujar Lay.
****
Esok harinya, pertemuan berlangsung ramai sekali. Kai bersemangat sekali. Ia bertemu dengan teapt sampah-tempat sampah dari seluruh dunia. Kesempatan ini ia manfaatkan utnk berbagi pengalaman. Ia ingin mencari pengetahuan sebanyak-banyaknya tentang sampah. Pengetahuan ini yang akan jadi oleh-oleh buat temannya. Ia ingin sampaikan pada orang-orang agar peduli sampah.
Dan di pertemuan itu disimpulkan sebuah kesepakatan internasional. Yang unik, kesepakatan itu hanya berisi 5 kata denga tiga tanda pentung di belakangnya.
"AYO, BUANG SAMPAH PADA TEMPATNYA!!!"
“Lumayan buat oleh-oleh..”, kata Kai dalam hati.
****
Jakarta, 23 Maret 2010
Jazz Muhammad
Cerpen ini diikutkan lomba, tapi ngga menang (hehe.. bodo amat..)
*sumber gambar bisa diklik langsung pada gambanrnya (http://idemerdekaku.blogdetik.com/files/2008/09/sampahidup576.jpg)
Sunday, May 9, 2010
Pragmatisme
Pas temennya punya duit
“Bray, gue bakal jadi temen sejati lo!” (ceilee…)
Pas temennya ngga punya duit
“Heh, lo siapa, ngga kenal bro!” (wah, amnesia bos?)
Seperti biasa, tak henti-hentinya guru IPS bilang kalau manusia adalah makhluk sosial. Ya, makhluk yang ngga bisa hidup sendirian. Manusia butuh seorang partner dalam hidup. Ya tentulah, bayangkan kalau kita hidup sendirian, mau makan? Tanam dulu padinya, bikin penggilingan padi, terus bikin dulu “dandang” buat masak, terus tanam dulu pohon pisang (daunnya buat alas makan). Itu cuma tahapannya. Masalahnya, berapa bulan kita harus nunggu padinya siap panen, berapa lama harus nunggu si pohon pisang jadi gedhe. Wa…bisa gila, bo…
Pasti kamu bilang, wah Rosyid ini super mendramatisir. Ya biarin.
Memang itu kenyataannya. Maksud saya itu, saya hanya menekankan bahwa hidup sendiri itu tak mungkin. Akan tetapi masalah kembali muncul. Kita pastinya harus bisa mencari partner atau teman yang baik. Bagaimana mencari partner hidup yang memang bisa memberi kita kebaikan? Sebelum kita membahasnya, mari simak cerita berikut ini.
Ada seorang gadis buta yang membenci dirinya sendiri karena dia buta. Dia membenci semua orang, kecuali pria kekasih tercintanya. Dia selalu ada untuknya. Gadis itu mengatakan kalau seandainya dia bisa melihat, maka dia akan menikahi pria kekasihnya itu.
Suatu hari, seseorang mendonasikan sepasang matanya untuknya agar dia bisa melihat segalanya, termasuk kekasihya itu. Kekasih prianya itu bertanya padanya, "Karena sekarang kau sudah bisa melihat, apakah sekarang engkau mau menikahiku?" Gadis itu shock bin kaget karena kekasihnya itu ternyata juga buta, dan dia menolak untuk menikahinya.
Pria itu pun pergi dengan berderai air mata, dan beberapa waktu kemudian dia menuliskan surat untuk gadis itu.
"TOLONG JAGA MATA SAYA BAIK-BAIK....."
Ya seperti inilah realita hidup ini. Banyak orang yang memiliki sikap berbeda di keadaan berbeda. Orang seperti ini adalah yang tidak punya prinsip alias pragmatis. Murtadha Muthahari menyatakan bahwa ini adalah gejala marxisme. Wow apaan tuh…(Halah..pokoknya agak g bagus deh..)
Jadi, pragmatis itu orang akan mengubah sikapnya saat keadaan berubah. Hal ini disebabkan sikap awal dianggap tidak memberi keuntungan di kondisi kedua. Orang seperti ini tidak punya komitmen dan hanya mencari kesenangan sendiri. Yo Sakenake udele dewe, ora gelem mikir liyane. Ya contohnya seperti cerita itu.
Pragmatisme harus menjadi perhatian penting bagi kita terutama kaum muda. Nah, ini bisa jadi referensi kita dalam mencari teman. Ketika dalam pertemanan butuh pengorbanan, jangan sampai itu sia-sia karena kita pilih-pilih teman. Sayang kan kalau udah capek-capek trus ngga dihargai…
Sekarang kita pindah perspektif ke dalam diri kita sendiri. Maksud saya ya kita yang harus introspeksi dan jangan jadi pragmatis. Jangan kita menjadi orang yang hanya mencari enaknya sendiri. Ada enak dateng, ngga ada pergi aja. Ya memang ini boleh-boleh saja, tetapi masalahnya adalah apakah kita akan terus hidup seperti itu. Ketidakadaan komitmen dalam diri akan menimbulkan pencitraan yang buruk dihadapan yang lain.
Sebagai contoh adalah sebagian politisi negeri ini. Sekali lagi sebagian bukan seluruh. Karena ada iming-iming gaji yang besar, mereka berbondong-bondong mendafar jadi caleg. Coba presiden bilang kalau jadi DPR itu lillahi ta’ala, ya maksudnya buat beribadah saja, ngga ada gajinya. Mana ada yang mau. Kalau ada pun ya sedikit.
Dosen saya pernah bilang orang pragmatis itu mendekat kalau kita punya uang dan bilang “good boy”, dan pas kita ngga ada duit yang mereka bilang “good bye”.
Ya, sekarang kamu sekalian bisa menilai apakah kita membiarkan pragmatisme tetap menjangkiti diri kita ini. Saya pikir menghindarinya adalah sangat bijak. Seorang dosen pernah bilang bahwa manusia itu hewan yang rasional. Nah, unsur hewan itulah yang menjadi dasar pragmatisme dalam diri manusia. Jadi pragmatisme itu lumrah? Saya jawab YA.
Akan tetapi ingat, manusia punya unsur rasionalitas yang menjadi penyeimbang insting kehewanan yang hanya berorientasi kesenangan dan keuntungan. Hmm.. tulisan yang kayaknya ko’ agak serius yah…, tetapi semoga tetap bisa jadi salah satu acuan dalam menjalani hidup yang setingkat lebih baik. Mumpung masih muda….
*sumber gambar bisa diklik langsung pada gambanrnya (http://www.koran-jakarta.com)
“Bray, gue bakal jadi temen sejati lo!” (ceilee…)
Pas temennya ngga punya duit
“Heh, lo siapa, ngga kenal bro!” (wah, amnesia bos?)
Seperti biasa, tak henti-hentinya guru IPS bilang kalau manusia adalah makhluk sosial. Ya, makhluk yang ngga bisa hidup sendirian. Manusia butuh seorang partner dalam hidup. Ya tentulah, bayangkan kalau kita hidup sendirian, mau makan? Tanam dulu padinya, bikin penggilingan padi, terus bikin dulu “dandang” buat masak, terus tanam dulu pohon pisang (daunnya buat alas makan). Itu cuma tahapannya. Masalahnya, berapa bulan kita harus nunggu padinya siap panen, berapa lama harus nunggu si pohon pisang jadi gedhe. Wa…bisa gila, bo…
Pasti kamu bilang, wah Rosyid ini super mendramatisir. Ya biarin.
Memang itu kenyataannya. Maksud saya itu, saya hanya menekankan bahwa hidup sendiri itu tak mungkin. Akan tetapi masalah kembali muncul. Kita pastinya harus bisa mencari partner atau teman yang baik. Bagaimana mencari partner hidup yang memang bisa memberi kita kebaikan? Sebelum kita membahasnya, mari simak cerita berikut ini.
Ada seorang gadis buta yang membenci dirinya sendiri karena dia buta. Dia membenci semua orang, kecuali pria kekasih tercintanya. Dia selalu ada untuknya. Gadis itu mengatakan kalau seandainya dia bisa melihat, maka dia akan menikahi pria kekasihnya itu.
Suatu hari, seseorang mendonasikan sepasang matanya untuknya agar dia bisa melihat segalanya, termasuk kekasihya itu. Kekasih prianya itu bertanya padanya, "Karena sekarang kau sudah bisa melihat, apakah sekarang engkau mau menikahiku?" Gadis itu shock bin kaget karena kekasihnya itu ternyata juga buta, dan dia menolak untuk menikahinya.
Pria itu pun pergi dengan berderai air mata, dan beberapa waktu kemudian dia menuliskan surat untuk gadis itu.
"TOLONG JAGA MATA SAYA BAIK-BAIK....."
Ya seperti inilah realita hidup ini. Banyak orang yang memiliki sikap berbeda di keadaan berbeda. Orang seperti ini adalah yang tidak punya prinsip alias pragmatis. Murtadha Muthahari menyatakan bahwa ini adalah gejala marxisme. Wow apaan tuh…(Halah..pokoknya agak g bagus deh..)
Jadi, pragmatis itu orang akan mengubah sikapnya saat keadaan berubah. Hal ini disebabkan sikap awal dianggap tidak memberi keuntungan di kondisi kedua. Orang seperti ini tidak punya komitmen dan hanya mencari kesenangan sendiri. Yo Sakenake udele dewe, ora gelem mikir liyane. Ya contohnya seperti cerita itu.
Pragmatisme harus menjadi perhatian penting bagi kita terutama kaum muda. Nah, ini bisa jadi referensi kita dalam mencari teman. Ketika dalam pertemanan butuh pengorbanan, jangan sampai itu sia-sia karena kita pilih-pilih teman. Sayang kan kalau udah capek-capek trus ngga dihargai…
Sekarang kita pindah perspektif ke dalam diri kita sendiri. Maksud saya ya kita yang harus introspeksi dan jangan jadi pragmatis. Jangan kita menjadi orang yang hanya mencari enaknya sendiri. Ada enak dateng, ngga ada pergi aja. Ya memang ini boleh-boleh saja, tetapi masalahnya adalah apakah kita akan terus hidup seperti itu. Ketidakadaan komitmen dalam diri akan menimbulkan pencitraan yang buruk dihadapan yang lain.
Sebagai contoh adalah sebagian politisi negeri ini. Sekali lagi sebagian bukan seluruh. Karena ada iming-iming gaji yang besar, mereka berbondong-bondong mendafar jadi caleg. Coba presiden bilang kalau jadi DPR itu lillahi ta’ala, ya maksudnya buat beribadah saja, ngga ada gajinya. Mana ada yang mau. Kalau ada pun ya sedikit.
Dosen saya pernah bilang orang pragmatis itu mendekat kalau kita punya uang dan bilang “good boy”, dan pas kita ngga ada duit yang mereka bilang “good bye”.
Ya, sekarang kamu sekalian bisa menilai apakah kita membiarkan pragmatisme tetap menjangkiti diri kita ini. Saya pikir menghindarinya adalah sangat bijak. Seorang dosen pernah bilang bahwa manusia itu hewan yang rasional. Nah, unsur hewan itulah yang menjadi dasar pragmatisme dalam diri manusia. Jadi pragmatisme itu lumrah? Saya jawab YA.
Akan tetapi ingat, manusia punya unsur rasionalitas yang menjadi penyeimbang insting kehewanan yang hanya berorientasi kesenangan dan keuntungan. Hmm.. tulisan yang kayaknya ko’ agak serius yah…, tetapi semoga tetap bisa jadi salah satu acuan dalam menjalani hidup yang setingkat lebih baik. Mumpung masih muda….
*sumber gambar bisa diklik langsung pada gambanrnya (http://www.koran-jakarta.com)
Wednesday, May 5, 2010
Kepercayaan
Heh, gue tuh udah ngga percaya lagi ama elo!
Elo tuh ternyata pembohong!
Elo ngerusak kepercayaan gue selama ini!
Ketika membangun sebuah hubungan pertemanan, maka rasa saling percaya adalah landasan utamanya. Bagaiman tidak? Mana mungkin seseorang mau berteman dan bergaul dengan kamu kalau kamunya ngga jelas.
Memang menjadi sesorang yang bisa dipercayai itu kelihatannya mudah. Akan tetapi, sulit untuk dilakukan. Rasa curiga adalah masalah utamanya. Memang tidak ada orang sempurna di dunia ini, jadi sebenarnya curiga pun juga sah-sah saja. Tetapi, tidaklah patut terus-terusan curiga seperti itu. Lama kelamaan rasa saling percaya akan luntur ditelan kecurigaan.
Rasa curiga sebenarnya muncul ketika suatu ketika kita melakukan sebuah hal yang merusak perjanjian pertemanan. Ya entah ngga nepatin janji lah, acuh tak acuh atau mungkin lost contact. Menurut saya ini sangat disayangkan.
Emane cah! Susah-susah cari teman eeh… malah disia-siain gitu aja. Masalahnya utamanya itu bukan hilangnya teman, tapi kalau orang itu udah ngga percaya itu susah balikin kepercayaannya.
Ada sebuah cerita umum tenang anak yang suka berbohong. Suatu ketika ia bermain di hutan dan berteriak-teriak minta tolong. Ia bilang kalau ada harimau yang ingin menerkamnya. Sontak warga pun datang beramai-ramai ingin menolong anak itu. Namun, ketika didatangi, anak itu malah tertawa terbahak-bahak. Ia aman-aman saja.
Ternyata ia hanya ngibulin warga. Ngga ada yang namanya harimau. Besoknya ia kembali mengulang aksinya. Kembali warga pun berduyun-duyun bermaksud menolongnya. Sekali lagi, warga kena kibul tuh anak. Sekarang yang ada hanya rasa jengkel warga terhadap anak ingusan itu.
Hari ketiga, anak itu kembali mengulang aksi. Namun, yang ini benar-benar terjadi. Ia berhadapan dengan harimau yang lapar dan siap menelannya. Ia berteriak-teriak minta tolong. Namun, yang terjadi justeru warga yang acuh. Warga sudah tidak percaya lagi dengan omongan anak itu. “Bodoh banget gue mo dikibulin tuh bocah lagi”. Akhirnya bisa kamu tebak. Harimaunya dapat makan gratis.
Cerita di atas memang tak ada hubungannya dengan pertemanan, tapi cukup menggambarkan kalau kepercayaan itu mudah untuk dirusak. Sementara, membangun sebuah kepercayaan itu butuh waktu. Bukan hanya satu atau dua hari. Ini bisa bertahun-tahun. Warren Buffet pernah menyampaikan kalau membangun reputasi itu butuh waktu 20 tahun, sedangkan hanya butuh waktu 5 menit untuk menghancurkannya.
Sayang sekali bila kepercayaan yang telah kita bangun begitu susahnya, rusak begitu saja oleh tingkah laku kita yang tidak-tidak. Makanya, seperti di tulisan sebelumnya saya sampaikan kalau sebelum melakukan tindakan itu kita sebaiknya melakukan proses berpikir dulu. Dampak yang ditimbulkan pasti berbeda antara yang mikir dulu sama yang grusa-grusu.
Dalam berteman rasa saling percaya sangat perlu untuk dibangun. Dan ketika itu sudah terjalin dengan baik, maka jangan disia-siakan. Memang manusia itu banyak. Semua orang bisa kita jadikan teman. Kan tetapi, bila kita bisa menjaga hubungan baik mengapa ngga? Orang-orang China sering bilang akeh hopeng ya akeh rejekine (lho kok bahasa jawa?). Maksudnya banyak teman ya banyak rejekinya.
Sandi Uno dan Billy Boen adalah pengusaha sukses. Mereka mengatakan bahwa membangun bisnisnya hingga bisa berhasil karena network. Mereka memiliki jalinan pertemanan yang baik dengan orang lain. Nah teman-teman inilah yang memberikan informasi-informasi yang mungkin kita belum tahu.
So, mari kita punya banyak teman. Mari membangun rasa saling percaya demi menjalin hubungan pertemanan. Punya banyak teman ngga ada salahnya kok. Manfaatnya malah sangat banyak. Para pengusaha sukses yang aku sebutkan tadi, menyampaikan bahwa satu hal penting yang membuat mereka sukses adalah network mereka yang luas, maksudnya ya teman ataupun kenalan mereka banyak.
Sekali lagi, jaga pertemanan dengan rasa saling percaya yang terus terjaga. Akeh hopeng ya akeh rejekine!
*sumber gambar bisa diklik langsung pada gambanrnya
Elo tuh ternyata pembohong!
Elo ngerusak kepercayaan gue selama ini!
Ketika membangun sebuah hubungan pertemanan, maka rasa saling percaya adalah landasan utamanya. Bagaiman tidak? Mana mungkin seseorang mau berteman dan bergaul dengan kamu kalau kamunya ngga jelas.
Memang menjadi sesorang yang bisa dipercayai itu kelihatannya mudah. Akan tetapi, sulit untuk dilakukan. Rasa curiga adalah masalah utamanya. Memang tidak ada orang sempurna di dunia ini, jadi sebenarnya curiga pun juga sah-sah saja. Tetapi, tidaklah patut terus-terusan curiga seperti itu. Lama kelamaan rasa saling percaya akan luntur ditelan kecurigaan.
Rasa curiga sebenarnya muncul ketika suatu ketika kita melakukan sebuah hal yang merusak perjanjian pertemanan. Ya entah ngga nepatin janji lah, acuh tak acuh atau mungkin lost contact. Menurut saya ini sangat disayangkan.
Emane cah! Susah-susah cari teman eeh… malah disia-siain gitu aja. Masalahnya utamanya itu bukan hilangnya teman, tapi kalau orang itu udah ngga percaya itu susah balikin kepercayaannya.
Ada sebuah cerita umum tenang anak yang suka berbohong. Suatu ketika ia bermain di hutan dan berteriak-teriak minta tolong. Ia bilang kalau ada harimau yang ingin menerkamnya. Sontak warga pun datang beramai-ramai ingin menolong anak itu. Namun, ketika didatangi, anak itu malah tertawa terbahak-bahak. Ia aman-aman saja.
Ternyata ia hanya ngibulin warga. Ngga ada yang namanya harimau. Besoknya ia kembali mengulang aksinya. Kembali warga pun berduyun-duyun bermaksud menolongnya. Sekali lagi, warga kena kibul tuh anak. Sekarang yang ada hanya rasa jengkel warga terhadap anak ingusan itu.
Hari ketiga, anak itu kembali mengulang aksi. Namun, yang ini benar-benar terjadi. Ia berhadapan dengan harimau yang lapar dan siap menelannya. Ia berteriak-teriak minta tolong. Namun, yang terjadi justeru warga yang acuh. Warga sudah tidak percaya lagi dengan omongan anak itu. “Bodoh banget gue mo dikibulin tuh bocah lagi”. Akhirnya bisa kamu tebak. Harimaunya dapat makan gratis.
Cerita di atas memang tak ada hubungannya dengan pertemanan, tapi cukup menggambarkan kalau kepercayaan itu mudah untuk dirusak. Sementara, membangun sebuah kepercayaan itu butuh waktu. Bukan hanya satu atau dua hari. Ini bisa bertahun-tahun. Warren Buffet pernah menyampaikan kalau membangun reputasi itu butuh waktu 20 tahun, sedangkan hanya butuh waktu 5 menit untuk menghancurkannya.
Sayang sekali bila kepercayaan yang telah kita bangun begitu susahnya, rusak begitu saja oleh tingkah laku kita yang tidak-tidak. Makanya, seperti di tulisan sebelumnya saya sampaikan kalau sebelum melakukan tindakan itu kita sebaiknya melakukan proses berpikir dulu. Dampak yang ditimbulkan pasti berbeda antara yang mikir dulu sama yang grusa-grusu.
Dalam berteman rasa saling percaya sangat perlu untuk dibangun. Dan ketika itu sudah terjalin dengan baik, maka jangan disia-siakan. Memang manusia itu banyak. Semua orang bisa kita jadikan teman. Kan tetapi, bila kita bisa menjaga hubungan baik mengapa ngga? Orang-orang China sering bilang akeh hopeng ya akeh rejekine (lho kok bahasa jawa?). Maksudnya banyak teman ya banyak rejekinya.
Sandi Uno dan Billy Boen adalah pengusaha sukses. Mereka mengatakan bahwa membangun bisnisnya hingga bisa berhasil karena network. Mereka memiliki jalinan pertemanan yang baik dengan orang lain. Nah teman-teman inilah yang memberikan informasi-informasi yang mungkin kita belum tahu.
So, mari kita punya banyak teman. Mari membangun rasa saling percaya demi menjalin hubungan pertemanan. Punya banyak teman ngga ada salahnya kok. Manfaatnya malah sangat banyak. Para pengusaha sukses yang aku sebutkan tadi, menyampaikan bahwa satu hal penting yang membuat mereka sukses adalah network mereka yang luas, maksudnya ya teman ataupun kenalan mereka banyak.
Sekali lagi, jaga pertemanan dengan rasa saling percaya yang terus terjaga. Akeh hopeng ya akeh rejekine!
*sumber gambar bisa diklik langsung pada gambanrnya
Subscribe to:
Posts (Atom)


