Sunday, February 14, 2010

Aku dan Kehidupanku (2)

Ini adalah sekuen kehidupan yang paling membuatku tak pernah bisa melupakannya. Kau pasti juga punya. Sebuah scene hidup yang membuka matamu lebar-lebar bahwa kenyatan hidup itu tak mudah. Tak mudah untuk dihadapi tapi juga tak perlu takut untuk mengatasinya.

Aku tak pernah menyangka akan pernah memimpin organisasi tertinggi di SMA. Aku pernah terpilih menjadi ketua OSIS. itulah saat aku mulai berkenalan dengan dunia yang komunal. Dunia di mana aku belajar untuk menegosiasikan apapun meski hanya sebuah keputusan. Pasti kau tahu, menyamakan pendapat itu hal yang sulit.

Mindset Murahan
Menjadi ketua OSIS merupakan turning point kehidupanku. Aku yang dulunya begitu minder, mulai terlatih untuk mengatasi diri, meski perlahan. Aku dihadapkan oleh situasi di mana aku harus menjadi penentu keputusan.

Perlahan tapi pasti aku menyadari bahwa selama ini mindset-ku-lah yang tak beres. Aku punya mindset murahan. Sebuah pola pikir yang selalu mengangap diri inferior. Aku selalu menganggap diri sendiri tak mampu. Aku selalu medahului nasibku. Tapi suasana ternyata berhasil memaksaku untuk memendam dalam-dalam mindset murahan itu.

Aku tak mungkin terus memlihara mindset seperti itu. oraganisasi yang aku pimpin ini rusak karenaku. Lalu mulailah aku berbenah. Pelan-pelan. Aku sadar kalau berada pada garis kepemimpinan yang punya reputasi baik sebelum-sebelumnya. Aku tak mau dan tak akan merusaknya.

Alasan Menyedihkan
Aku masih ingat bagaimana aku bisa “nyangkut” di organisasi itu. sebenarnya bukanlah aku ini yang dipiloh ketua kelasku untuk mewakili kelas ikut LDKS. LDKS atau Latihan Dasar Kepemimpinan Siswa merupakan pelatihan sebelum pencalonan ketua. Ketua kelasku memilih dua orang untuk ikut acara itu. Tapi, Salah seoarang dari mereka berdua menolaknya. Aku lupa alasannya.

Yang jelas undangan itu diberikan padaku. Aku semangat mengikuti LDKS. Kau tahu kenapa? Pesertanya akn mendapatkan makan siang gratis. Ya, makan siang gratis. Just that. Sungguh alasan yang sangat naïf. Menyedihkan sekaligus ta masuk akal. Sungguh alasan yang bila aku konfirmasi dengan pikiranku sekarang, itulah alasan yang paling bodoh di dunia ini. Dan aku sendiri yang melakukannya. Mengikuti sebuah pelatihan yang ditujukan untuk memilih pemimpin siswa, tapi alasannya hanya untuk cari makan siang.

Aku memang tak bisa memungkiri. Makan siang di sana pasti pakai daging atau ayam. Sesuatu hal yang jarang aku temui di rumah. Penghasilan ayahku sebagi tukang servis mesin jahit tak memungkinkan diriku ntuk menikmati ayam atau daging setiap harinya. Mungkin hanya sekali seminggu. Dan inilah yang membuat akal pikiranku jungkir balik.

Satu hal yang sedikit aku ingat, saat itulah namaku mulai dikenal oleh masyarakat SMA. Aku sedikit dikenal. Maklum, posisi sebagai ketua OSIS adalah kedudukan paling prestigious di mata mereka, terutama siswa. Jadilah aku anak yang terkenal di SMA.

Aku juga mulai menjadi anak yang berani berbicara. Bagaimana tidak? Hampir tiap minggu ada rapat dan aku harus memimpinnya. Kau pasti tahu, kalau kau dipaksa melakukannya, aku jamin kau juga akan seperti diriku.

Klise


Aku dilantik pada September 2006 lalu. Aku tak ingat tanggalnya. Tapi aku masih ingat bagaiamana prosesnya. Aku dan teman-teman kepengurusan baru di bariskan pada tempat sendiri saat upacara. Lalu kami dipandu oleh seorang komandan kompi untuk masuk lapangan saat upacara berlangsung.

Bagiku, itulah adegan hidupku yang mendebarkan. Aku tak bilang paling mendebarkan. Tapi pastinya itu sangat mendebarkan. Pagi itu, di upacara bendera, aku akan dinobatkan menjadi seorang pemimpin Organisasi kesiswaan tertinggi. Aku dambil sumpah untuk setia menjalankan tugas. Selama acara jantungku terus berdebar. Mata-mata peserta upacara menambah kencang saja debarannya. Mereka adalah saksinya. Kalau aku gagal nanti, maka habislah aku.

Saat itu aku diharuskan untuk menyampaikan pidato pelantikan. Asal tahu saja, pidato itu aku siapkan satu minggu lamanya. Hanya untuk berbicara tak lebih dari sepuluh menit. Bergaya sedikit politis, tapi juga tak substantif. Tapi aku tak bicara tipu daya. Aku bicara apa adanya, kalau nanti terjadi kesalahan itu memang wajar. Tapi kalau ada kebenaran dan kesuskesan, itulah nikmat Tuhan. Memang klise nampaknya, tapi memang itu yang aku anggap penting.

Akhir
Aku sudahi perjalananku di organisasi itu pada akhir agusus 2007. Lagi-lagi aku lupa tanggalnya. Aku mengucap syukur pada Tuhan karena semua kegiatan dapat aku laksanakan dengan lancar. Tentu dengan bantuan dan dukungan teman-teman sesama pengurus juga guru-guru pembimbing. Tapi jangan dikira perjalanan itu mulus. Aku sempat sakit karena harus tidur di sekolah selama tiga malam. Yang aku pelajari semua itu perlu pengorbanan.

Menjadi pemimpin itu memang tak mudah. Harus banyak batuan terjal yang dilalui. Tapi kalau dilalui dengan penuh keyakinan dan mau bekerja sama , semaunya psti bisa terlewati. Pasti ada saja cerita yang menyedihkan, kekonyolan, juga keusksesan yang tak akan pernah terlupakan. Kau tahu kenapa? Karena itulah yang membuatku sekarang jadi seperti ini.


baca juga tulisan ini di kompasianaku

Tulisan ini, selain sebagai tulisan lepas, juga diikutsertakan Djarum Black Blog competition Vol. 2. Event ini diadakan oleh PT Djarum yang familiar komunitas-komunitas inovatif-nya seperti Black Car Community, Black Motor Community, dan Black Community.






Saturday, February 13, 2010

Paradigma dan Perguruan Tinggi

Dalam dunia pendidikan, adalah kesempatan yang sangat baik bila bisa melanjutkan jenjang pendidikan ke tingkat perguruan tinggi atau universitas. Perguruan tinggi menawarkan sebuah proses pendidikan yang mematangkan cara berpikir mahasiswanya. Perguruan tinggi  memberi gambaran masa depan bagi mereka.

Yang menarik dari sebuah perguruan tinggi adalah pluraritas. Jumlah perguruan tinggi yang jauh lebih sedikit daripada SMA, membuat kapasitas jumlah mahasiswanya yang cukup besar. Tak jarang perguruan tinggi memiliki mahasiswa yang lengkap mulai dari orang Sumatra, jawa, Kalimantan, Sulawesi hingga Papua. Pluralitas ini selanjutnya menjadi sebuah warna tersendiri yang membedakan perguruan tinggi dengan jenjang-jenjang pendidikan lainya.

Perguruan tinggi terbaik adalah yang bisa mengajarkan model berpikir sistematis dan analitis pada mahasiswanya. Dalam konteks berpikir sistematis, mahasiswa diajarkan cara berpikir yang runtut. Tak melompat-lompat. Mahasiswa seharusnya mampu untuk menjelaskan runtutan masalah yang dipikirkan lalu disampaikan. Baik lisan maupun tulisan.

Mahasiswa juga diarahkan untuk berpikir analitis. Mahasiswa harus memiliki dasar atas apapun yang diutarakan. Penguasaan atas konsep sebab-akibat menjadi sebuah keniscayaan. Ini yang menjadikan mahasiswa punya bobot kontribusi untuk masyarakat. Mahasiswa disiapkan untuk mengamati lalu mencari solusi masalah-maslah yang ada di masyarakat. Kemampuan menganalisis yang baik, akan mengekstrasi sebuah solusi yang tentunya tepat.

Bebas yang Dewasa
Sebagai mahasiswa, saya merasakan hal tersebut. Atmosfir ruang perguruan tinggi mengajarkan saya meraih kedewasaan. Kedewasaan ini saya artikan sebagai proses menuju kebebasan individu. Ketika orang telah dewasa cara berpikirnya, maka ia telah mampu untuk menentukan pilihan-pilihan hidupnya.

Inilah yang membuat saya mengartikan kedewasaan itu adalah sebuah proses menuju kebebasan. Kebebasan untuk menentukan pilihannya. Meski demikian, jangan diartikan bahwa kebebasan berarti bebas melakukan segala hal. Kebebasan yang diekstraksi dari proses kedewasaan adalah kebebasan yang dilandasi pengetahuan yang kuat atas konsekuensi yang dihadapi.

Ketika seseorang menyatakan dirinya bebas melakukan sesuatu, lalu ketika diminta pertanggungjawaban ia malah bersembunyi atau meminta perlindungan, maka itu tak bisa disebut kebebasan. Kebebasan yang sesungguhnya adalah kebbebasan yang sadar akan keberagaman atau pluralitas sehingga kebebasan itu masih harus dinegosiasikan. Tak membabibuta.

Selanjutnya, kebebasan haruslah berdasar pada nalar analitis sistematis. Kebebasan yang sebenarnya mengandung kesadaran akan akibat yang akan ditanggung. Kebebasan juga mengandung sebuah sistem keteraturan yang tentunya berdampak positif. Jadi kebebasan bukanlah sesuatu yang bisa dilakukan dengan mudah. Kebebasan memerlukan proses panjang dan perguruan tinggi menjadi salah satu jalan mencapainya. saya kira, inilah model perguruan tinggi idaman. Sebuah model perguruan tinggi yang bisa mengarahkan mahasiswanya untuk menjadi insan yang bebas nan dewasa.

Kesempatan yang baik tersebut tentu sangat diperlukan oleh insan muda Indonesia. Ini akan sangat membantu Indonesia menyiapkan lapisan masyarakat yang produktif sekaligus konstruktif. Indonesia akan memunyai sebuah generasi yang tanggung, yang dewasa yang tahu akan pilihan-pilihan terbaik bagi bangsanya.

Masalah Paradigma
Yang menjadi masalah saat ini adalah paradigma insan muda Indonesia itu sendiri. Agaknya mudah ditemui mereka yang menganggap bahwa perguruan tinggi itu menjadi tujuan hidupnya, bukan sebagai jalan untuk tujuan hidup sebenarnya yang meraih mimpi-mimpinya. Banyak yang menginginkan dirinya disebut sebagai lulusan perguruan tinggi tertentu, atau bangga ketika ia menyandang almamater perguruan tinggi atau universitas tertentu.


Di Indonesia, adalah umum bila sering dijumpai lulusan SMA yang sangat menginginkan masuk perguruan tinggi negeri (PTN). Mereka kira pendidikan di PTN selalu lebih baik dan murah. Itu sah-sah saja. Akan tetapi, sering kali mereka menganggap bahwa masuk PTN akan menjamin masa depannya lebih cerah.

Akan tetapi, yang seharusnya menjadi perhatian saat ini bukan perihal perguruan tinggi negeri atau swasta. Yang menjadi perhatian saat ini adalah apa yang menjadi cita-cita insan muda-insan muda Indonesia. Apa mimpi-mimpi luhur mereka. Nah, perguruan tinggi harus dipahami sebagai  institusi yang akan menghantarkan mereka meraih mimpi-mimpi luhur itu. Perguruan tinggi hanya memberikan salah satu alternatif jalan untuk mencapainya. Semuanya tetap tergantung individu masing-masing. Input yang baiklah yang tentunya akan membentuk output yang baik juga.

Sebuah Kenyataan
Sekarang ini, dunia pendidikan tinggi di Indonesia dihadapkan dengan sebuah kenyataan. Perubahan status PTN-PTN menjadi BHMN atau Badan Hukum Milik Negara, mengharusnya perguruan tinggi tersebut membiayai kebutuhan finansial operasinya sendiri. Masyarakat yang dulu menganggap bahwa kuliah di PTN itu murah, kini dihadapkan oleh realitas. Sebuah realitas yang menunjukkan bahwa pendidikan membutuhkan biaya yang tak sekedarnya. Pendidikan membutuhkan pengorbanan. Jer basuki mawa bea.


Kenyataan ini menunjukkan bahwa tak ada perbedaan antara yang negeri dan swasta. Kalaupun yang negeri saat ini terlihat lebih baik, itu karena memang input mereka yang baik. Memang tak akan ada yang menyangkal kalau UI dan ITB itu perguruan tinggi favorit Indonesia, mungkin juga yang terbaik. Tapi yang perlu diketahui, keadaan itu diraih karena memang input mahaiswa yang baik. Seleksi masuk yang memiliki standar tertinggi ada di sana. Kalau UI atau ITB baik itu biasa, tak ada yang hebat. Tak ada yang perlu dibanggakan.

Alternatif Solusi
Insan muda Indonesia perlu memahami bahwa tujuan hidup adalah mimpi-mimpi yang luhur demi bangsa. Dan perguruan tinggi adalah alat untuk mencapainya. Maka jangan salah menganggap perguruan tinggi menjadi tujuan itu. 


Namun, ketika masalah disajikan, maka alternatif solusi tentu dibutuhkan. Saya sendiri adalah orang yang mencari solusi alternatif itu. Dilahirkan dikeluarga yang sederhana tentu saya tahu kalau keuangan kelarga tak akan bisa menunjang kebutuhan saya nanti kuliah. Akhirnya saya memilih mencari beasiswa.

Ada beberapa beasiswa yang cukup dikenal di Indonesia ini. Pertama adalah Paramadina Fellowship. Sebuah program beasiswa yang saat ini saya dapatkan. Beasiswa ini digagas oleh Universitas Paramadina untuk menyiapkan lapisan pemuda terbaik bangsa ini. Rektor Universitas Paramadina, Anies Baswedan, mengatakan bahwa lapisan pemuda yang terbaik perlu disiapkan. Karena 10-15 tahun kedepan, merekalah yang akan menjadi pemimpin negeri ini. Kalau tak disiapkan dengan baik, mau jadi apa bangsa ini. Beasiswa ini memberikan kesempatan penerimanya untuk menunut ilmu di Universitas tersebut selama empat tahun tanpa biaya sama sekali, bahkan tiap penerima mnerima uang saku bulanan selama masa studi. Beasiswa yang bukan basa-basi.

Kedua, beasiswa Sampoerna Foundation. Saya sangat mengagumi pembuat program ini. Bagaiama tidak? Beasiswa ini dimaksudkan untuk menyiapkan generasi guru terbaik Indonesia. Program yang ber-tagline "Creating New Generation of Teachers" ini dipersiapkan untuk membiayai insan muda-insan muda yang ingin menjadi guru. Di saat Indonesia kekuarangan guru yang berkualitas, Sampoerna Foundation, yang nota bene lembaga swasta, menyajikan sebuah program yang solutif. Beasiswa ini memberi penerimanya pendidikan berkualitas di Sampoerna School of Education yang sebagian pengajarnya adalah native speker atau ekspatriat. 


Bangsa Indonesia jelas memerlukan regenerasi kepemimpinan. Urgensi kebutuhan regenerasi itu sudah tentu menjadi keniscayaan. Maka insan muda-insan muda terbaik perlu disiapkan. Mempermaslahkan almamater, saat ini adalah hal yang naïf. Negeri atau tidak, bukanlah masalah. Sebab bukanlah almamater yang mengantarkan insan muda pada mimpi-mimpi mereka, tapi kemampuan mereka berpikir, kedewasaan, kepemimpinan dan juga kemampuan berkomunikasi-lah yang akan menemukan mereka dengan mimpi-mimpi luhur demi bangsa.


Selain sebagai tulisan lepas, tulisan ini juga didedikasikan untuk mengikuti lomba blog UII yang diselenggarakan Universitas Islam Indonesia

Tulisan ini merupakan tulisan pertama. tulisan kedua bisa dilihat di sini.

Thursday, February 11, 2010

Aku dan Kehidupanku

Aku adalah anak laki-laki kelahiran kota yang selama ini dikenal sebagai Bumi Bung Karno. Kota yang masih jauh dari aroma metropolis. Seingatku aku lahir pada Senin, 10 September 1990. Hampir tidak ada gedung-gedung menjulang. Masih banyak taman-taman dan juga pepohonan meski di tengah kota. Ini yang membuatku selalu rindu untuk pulang ke sana.

Sebutan Bumi Bung Karno begitu melekat karena makam sang proklamator diletakkan di sana. Kotaku adalah Blitar. Sebuah kota administrasi yang umurnya tak genap satu abad. Sebuah kota yang walikotanya sempat menjadi tokoh Tempo 2008. blitar nama kota itu.

Keluarga Sederhana
Aku dilahirkan dari keluarga sederhana. Ayahku adalah seorang tukang servis mesin jahit. Tapi ia pernah berjaya ketika dulu masih berada di Kalimantan. Ia sempat menjadi tenaga eksplorasi perusahaan minyak negra yakni pertamina. Beliau telah berkeluarga sebelumnya. Tapi keadaan tak berpihak padanya. Ia harus mengalami pertengkaran dengan keluarganya di sana dan akhirnya ia memutuskan untuk kembali ke Jawa.

Kemudian beliau menikah dengan seorang wanita dari pesantren. Wanita inilah yang menjadi ibuku. Seorang ibu yang lalu memberi anak pertamanya ini sebuah nama Muhammad Rosyid Jazuli. Beliau, ibuku, sangat rajin beribadah. Tak pernah aku lihat ia absen untuk sholat tahajud dan dhuha. Tak seperti ayahku yang asal yang wajib terpenuhi, ya sudah. Ibuku begitu ketat mengajarkan agama dan etika pada anak-anaknya.

Bagaimanapun keadaan orang tuaku, aku tetap bangga pada mereka. Meski ayah tak begitu paham agama, ia adalah ayah yang begitu semangat memperjuangkan keluarganya. Tak pernah kulihat beliau mengeluh ketika harus memutar balik kehidupan masa lalunya dengan kehidupan sekarang yang jauh berubah. Tapi kami mandiri. Kami tak pernah mengemis pada orang lain untuk hidup ini.

Kini aku punya saudara lain. Tiga jumlahnya. Adikku pertama hanya berselisih satu tahun denganku. Yang ketiga terpaut cukup jauh denganku, hampir 10 tahun. Dan yangterakhir adalah adik yang berjenis kelamin paling beda. Ia perempuan. Sementara yang lain laki-laki. Ia, adiku ketiga, terpaut 15 tahun denganku.

Sedikit perkenalanku itu semoga memberi gambaran bahwa tak ada yang bisa aku sombongkan dari duniaku juga keluargaku. Aku dibesarkan di suasana kesederhanaan keluarga. Inilah kehidupan keluargaku, lima orang yang selalu penuh semangat kemandirian megarungi samudera kehidupan.

Jalan Hidupku
Tentunya setiap orang punya jalan hidupnya masing-masing. Aku pun demikian. Aku menjalani waktu pendidikanku sebagian besar di kotaku. Ketika aku lulus dair TK al-hidayah, aku melanjutkan proses belajaru di SD Islam Sukorejo. Kemudian aku memilih SMP Negeri dua Blitar untuk menempuh masa pendidikan menengahku yang pertama. Cukup baik hasil yang aku capai saat itu. Aku menjadi peraih NEM tertinggi se SMP.

Pendidikan menengah atasku aku tempuh di SMA Negeri 1 Blitar. Tempatnya cukup jauh, hampir dua kali lipat jarak rumahku ke SMP. Aku hanya memiliki sepeda butut bekas yang dibelikan ayahku ketika aku kelas 4 SD. Dan itulah yang terus membantuku sampai di tempatku belajar, tempatku menyemai benih masa depanku.

Ketika aku SMA, aku mulai bersentuhan dengan dunia organisasi. Aku memutuskan untuk bergabung dengan IPNU. Kala itu, aku sempat ikut kepengurusan tingkat cabang kota. Di dalam SMA sendiri, aku pernah merasakan bagaimana menjadi pemimpin organisasi kesiswaan tertingggi. Aku sempat menduduki posisi sebagai ketua OSIS.

Banyak hal tentunya aku dapat ketika itu: pengalaman memimpin, mengelola, dan berdinamika di dalam organisasi. Sungguh pengalaman yang tidak akan pernah aku lupakan. Sebuah pengalaman yang menjadi titik balik kehidupanku saat itu. Aku yang dahulunya penuh dengan rasa minder, berubah hampir seratus delapnpuluh derajat menjadi pribadi yang penuh rasa percaya diri menghadapi kehidupan.

Kini, aku telah berada di Jakarta, pusat atmosfir negeri ini. Aku menerima beasiswa Paramadina Fellowship 2008 seketika aku lulus dari SMA. Sekarang aku kuliah di Universitas pemberi beasiswa itu, Universitas Paramadina. Hanya syukur kepada Tuhan yang bisa aku sampaikan. Beasiswa itu telah membiayai seluruh kebutuhan kuliahku. Biaya kuliah selama empat tahun, biaya buku sudah menjadi tak menjadi beban pikiranku. Bahkan uang saku aku juga dapatkan.

Sebuah Perjuangan
Aku masih ingat perjuangan ku dalam meraih beasiswa itu. Aku harus melewati seleksi dokumen dulu. Ada 14 lembar tebalnya formulir yangharus aku isi. Cukup meelahkan. Aku harus membuat esai tentang “apa yang akan aku lakukan setelah lulus kuliah” dan “apa yang menjadi pengalaman terbaikku. aku juga disibukkan dengan urusan lehgalisasi fotokopi dokumen-dokumen sepeti rapor, piagam organisasi, piagam prestasi dll.

Aku kirimkan dokumen pengajuauanku beberapa hari sebelum deadline. Lama menunggu, aku agak putus asa. Tak ada kabar apa-apa. Aku tak mungkin meneruskan kuliah yang biayanya selangit. Tapi Tuhan sepertinya mendengarkan doa ibuku yang tak henti ia panjatkan. Aku mendapati namaku masuk jajaran peserta yang lolos tahap wawancara.

Aku pun ke Surabaya untuk mengikuti tes wawancara tersebut. Sungguh menegangkan acara itu. Sedikit saya aku berbohong, akan terbuka kebohongan kebohongan lainnya. Bagaimana tidak? Di awal aku langsung dihajar dengan pertanyaan yang simple tapi sulit dijawab. Aku di tanya, “Ceritakan tentang dirimu?” inilah pertanyaan yang sepele tapi akan menjatuhkan bila jawabannya menipu. Karena, pertanyaan selanjutya disesuaikan apa jawabanku atas pertanyaan pertama tadi. Jadi tak mungkin pertanyaan tiap siswa sama. Sistem ini tak memungkinkan adanya contek-mennyontek.

Malam itu, sebulan setelah aku pulang dari Surabaya menjadi malam paling membahagiakan bagi orang tuaku. Aku ke warnet dan tak kusangka. Aku dapati namaku masuk daftar penerima beasiswa Paramadina fellowship 2008. Aku pulang dengan sejuta kesukacitaan. Ibuku tak bisa menutupi kegembiraannya. Kau tahu mengapa? Aku adalah anak pertama dari klan ibuku yang akan melanjutkan belajar ke perguruan tinggi. Bagi orang lain mungkin ini biasa, tapi bagiku ini luar biasa. Aku menjadi starting point perubahan di keluargaku.

Tak Perlu Sombong
Di Jakarta, Karir oragnisasiku di IPNU ternyata juga masih berlanjut. Aku bergabung dengan kepengurusan Pengurus Pusat untuk periode tiga tahun mendatang. Sementara, aku juga menjadi duta bagi universitasku. Layaknya duta pada umumnya, adalah tugasku menyampaian berita baik dari dan ke dalam universitas.

Kukira apa yang kuraih selama ini bisa aku anggap sebuah prestasi. Tapi, tak perlu dibanggakan, tak perlu disombongkan. Masih banyak orang yang jauh memiliki prestasi di luar sana. Aku yakin kebanggaan diri dan kesombongan hanya menutup hati yang berujung pada ketinggian hati. Sebuah sikap yang sangat dibenci masyarakat.

Terakhir, adalah sungguh menyenangkan bagiku untuk mengingat perkataan seorang dosenku, “Just keep highly motivated, you will see the world.”


nikmati juga tulisan ini di kompasianaku


Tulisan ini, selain sebagai tulisan lepas, juga diikutsertakan Djarum Black Blog competition Vol. 2. Event ini diadakan oleh PT Djarum yang familiar komunitas-komunitas inovatif-nya seperti Black Car Community, Black Motor Community, dan Black Community.






Wednesday, February 10, 2010

Spiritual Recharge

Bro, gue nyerah
Seprtinya gue udah ngga kuat
Gue udah ngga bisa mikir

Saya pernah mengalami musibah. Ya namanya musibah, datangnya ngga diduga-duga. Saya kena hipnotis dan harus rela kehilangan motor. Masalahnya adalah motor itu milik orang tua. Spontan, sesaat setelah sadar bahwa saya mengalami curanmor, perasaaan saya langsung tidak karuan. Gimana nih? Mau gimana ini? Ya bagi yang pernah mengalami kehilangan sesuatu yang nilainya besar apalagi bukan miliknya, pasti tahu rasanya. Bagi yang belum saya kasih tahu, spontan pasti kamu merasa tak berdaya. Badan lemas. Ya inilah saat dimana perasaan mulai diliputi rasa putus asa. Mau ini bingung, mau itu bingung. Serba salah.

Pasti setiap orang pernah dalam keadaan yang paling susah. Keadaan dimana kita dalam keadaan hampir putus asa. Kadang suatu saat kita mengalami kerugian yang besar, uang bulanan habis, utang disana-sini, tugas numpuk-numpuk, masalah sama teman dekat, terus pacar akhirnya minta putus. Apalagi saat kita sudah tidak berdaya untuk melaukan apapun. Pokoknya pikiran rasanya pingin pecah. mumet banget pokoknya!

Kondisi seperti ini tidak bisa sianggap remeh. Banyak kasus bunuh diri terjadi karena jiwa pelakunya sudah tidak kuat menghadapi kenyataan. Hidup dinyatakan gagal total. Saya pikir mereka mati sia-sia. Kasarannya mati konyol. Masa gara-gara hal yang sepele terus frustasi, terus pasang tali dan gantung diri. Ngga logis kan jalan pikiannya? Hayu kamu masih logis ngga? Kalau ngga, ya jangan ikut-ikutan.

Dalam hati ingin menjerit, aaarrgghhh….! Akan tetapi tentunya bukan pilihan bijak bila kamu hanya diam dan hanya menyerah kepada keadaan. kadang orang bilang the show must go on. Saya kurang setuju dengan pernyataan ini. Ini menunjukkan ungkapan untuk menyerah pada keadaan. Sepertinya hidup hanya ikut arus saja. Ngalor…ngalor, ngidul….ngidul. Jalan…jalan, diem…diem.

Pada kondisi seperti ini, kita tak boleh larut dalam keadaan. Kalau pikiran masih bisa mikir dengan baik ya cari solusinya sendiri. Akan tetapi bila sudah ngga bisa mikir, maka kita bisa mencari solusi dari teman dekat, kerabat, dosen, atau siapapun yang memang memiliki hubungan baik dengan kita. Mengutip pernyataan JW Junardy, inilah saatnya kita memerlukan spiritual recharge.

Spiritual recharge kita butuhkan untuk memperbaki kondisi spiritual atau jiwa kita. Karena, memang jiwa kita adalah pangkal masalahnya. Badan OK-OK saja, tetapi kalau jiwa ngga beres ya badan ikut-ikutan ngga beres. Ngga percaya?

Dukungan spiritual merupakan angin segar ditengah gurun kegelisahan spiritual. Ajuran-anjuran ataupun motivasi menjadikan spirit diri ini menjadi kembali pulih dari keterpurukan. Oleh karena itu, kita itu membutuhkan spiritual recharge dari waktu ke waktu.

Pepatah Cina mengatakan kalau failure is the father of all the success. Ini agaknya bisa menjadi salah satu spiritual recharge yang bisa diingat setiap waktu. Ya bagi saya ya bagi kamu, jadi sama-sama. Kegagalan adalah keniscayaan untuk meraih segala kesuksesan. Jadi kalau gagal ya jangan terus lemas dan putus asa, atau malah bunuh diri. Sekali lagi, saya bukan bermaksud menggurui, tetapi ini pengingat buat kamu dan juga saya.

Ini mungkin yang membedaan kita dengan para tokoh dunia. Sepertinya mereka punya baterai spirit yang ON terus. Mereka tidak butuh yang namanya spiritual recharge. Ngga kayak kita. Bukan saja mereka bisa mengobati diri sendiri, tetapi mereka mampu menginspirasi banyak orang di dunia ini. Mereka tidak pernah bilang “Sudah , menyerah saja….”, tetapi mereka terus menyerukan “Semangat! semangat! Hidup hanya sekali, hiduplah yang berarti!”

Ayo terus cari spiritual recharge untuk hidup yang lebih baik!

Tulisan ini, selain sebagai tulisan lepas, juga diikutsertakan Djarum Black Blog competition Vol. 2. Event ini diadakan oleh PT Djarum yang memproduksi Djarum Black Menthol dan Djarum Black Slimz.



*sumber gambar bisa diklik langsung pada gambanrnya



Monday, February 8, 2010

Berani Memimpin!

Siapa yang mau mimpin?
Dia, dia, dia Bu…
…..
Saya Bu!
Ha..ha..ha…

Pernahkah Kamu diminta untuk memimpin? Kalau jawabannya ya, maka baca lanjutan tulisan ini, tapi kalau tidak, ya juga lanjutkan. Loh? Tapi ngga maksa ko’..pis2

Tulisan saya kali ini dibuka dengan secuplik percakapan yang sering kita temui. Mungkin dulu saat SD. Seorang guru meminta salah seorang muridnya untuk memimpin doa atau salam atau membaca Pancasila. Tapi kemudian kelas bergemuruh oleh tindakan siswa-siswi yang saling tuding, menunjuki temannya. Dia bu..dia bu..!

Lalu ada salah seorang siswa yang berdiri lalu berkata, “Saya, Bu!” Dengan lantang ia mengucapkannya. Tapi bukan ungkapan bangga yang muncul dari teman-temannya kelas itu. Yang ada adalah tertawaan teman-teman. Tertawaan bernada meremehkan. Emang dia bisa?

Inilah masalah anak muda zaman ini. Ketika mereka diminta menjadi pimpinan, mereka bersembunyi di belakang dan menutupi ke-cemen-annya dengan saling tuding siapa yang pantas memimpin.
Tapi, ketika ada yang tampil menjadi pemimpin, semuanya geger. Mempermasalahkannya. Dilematis memang. Muda-mudi ini tak senang bila ada temannya yang tampil menjadi pemimpin mereka. Ko’ gitu ya? Ya gitu…

Memang ini yang perlu disadari oleh saya dan juga kamu. Sering kali kita malu dan takut untuk memimpin, tapi ketika kepemimpinan itu dibutuhkan, kita malah mencemooh teman kita yang tampil, seakan tak rela dia berada satu tingkat di atas kita.

Sekarang bahasannya adalah bagaimana menjadi pemimpin agar di cintai dan dihormati oleh yang dipimpin. Hal ini sangat penting karena realitanya, pemimpn dan yang dipimpin sama-sama manusia. Sama-sama makan nasi. Jadi lumrah kalau ada yang jealous kalau dipimpin sesamanya. Ya kayak anak SD tadi…

Setidaknya menarik untuk menilik pesan Bu Mega, Presden RI ke-5 yang memberi tips kepemimpinan (Media Indonesia, 8/2/10). Pertama, kejujuran. Menjadi pemimpin harus berani mengakui kekuarangan dan kelemahannya, bukan hanya kekuatannya. Kalau memang membutuhkan bantuan ya bilang. Jangan karena telah menjadi pemimpin, terus jaim bin gengsi. Ah emang gue siap, elo siapa?

Kedua, kerendahan hati. Pemimpin harus bisa merasa setara dengan yang dipimpin. Tak ada yang beda. Yang beda hanya posisi strukturalnya. Secara sosial, sama saja. Jadi kalau sudah jadi pemimpin, terus senaknya sendiri, wah ngga bener itu!

Ketiga, keteguhan. Pemimpin sudah seharusya memiliki sikap tegas terhadap keputusan yang diambil. Pemimpin juga harus seteguh dalam pendirian. Bahasa jawanya, Ojo mencla-mencle!


Keempat, kesabaran. Inilah yang membuat orang layak memimpin. Sabar dalam menghadapi masalah. Baik dari yang dipimpin ataupun dari lingkungan sekitarnya. Pasti ada saja masalah yang timbul dari hubungan kepemimpinan. Lebih-lebih terjadi salah paham atau perbedaan pendapat. Kalau berbeda itu wajar. Yang tak wajar kalau perbedaan itu disikapi dengan emosi dan lalu menimbulkan perpecahan.

Yang terkahir, pemimpin harus ikhlas. Pemimpin harsu dengan sukarela melaksakan tugas mulianya. Kesuksesan kerja tentu menjadi tujuannya. Ya-iyalah, mana ada yang mau gatot, alias gagal total.
Seorang pemimpin harus menjadi pribadi yang penuh rasa ikhlas dalam mengabdikan diri pada apa dan siap ayang ia pimpin. Ya namanya pemimpin itu kan sebenarnya pelayan. Karena, pemimpin itu adalah ssorang yang ditunjuk untuk megarahkan orang lain. Ya artinya melayani orang lain untuk bisa mencapai tujuan bersama.

Bagaimanapun orangnya, darimanapun asalnya, sudah seharusnya menyadari bahwa mereka adalah pemimpin. Lho ko’ bisa? At lease mereka ataupun kita jadi pemimpin diri sendiri. Ya ngga? Ayo berani memimpin!

tulisan ini juga dimuat di kompasiana-ku

Tulisan ini, selain sebagai tulisan lepas, juga diikutsertakan Djarum Black Blog competition Vol. 2. Event ini diadakan oleh PT Djarum yang memproduksi Djarum Black Menthol dan Djarum Black Slimz.



*sumber gambar bisa diklik langsung pada gambanrnya

Saturday, February 6, 2010

Perlu Ubah Paradigma

Beberapa hari yang lalu, aku berkunjung ke beberapa sekolah di daerah asal aku, di Blitar. Sebagian sekolah berada di kawasan Kota dan yang sebagian lainnya di kabupatennya. Kunjungan aku kali itu adalah untuk memberikan informasi beasiswa Paramadina Fellowship 2010, yang kebetulan untuk versi 2008-nya, aku adalah salah satu penerima.

Kunjungan tersebut merupakan inisiatifku pribadi. Sebelumnya, aku mengajukan beberapa nama SMA ke bagian Fellowship di Universitas tempat aku belajar, Paramadina. Kemudian pihak Fellowship memberku bekal brosur dan surat penganar beserta satu kopi formulir yang tebalnya 14 lembar. Saat itu aku mengajukan 16 sekolah.

Aku berinisiatif untuk mengajukan beberapa nama SMA adalah untuk mengabarkan kepada siswa-siswi di sekolah tersebu bahwa ada program yang sangat bermanfaat, Yakni program beasiswa. Tak semua orang bisa mendapatkannya. Maka, mendapatkan informasi saja, itu sudah awal yang bagus. Bagi aku sendiri, aku merasa sangat beruntung dahulu mendapatkan info beasiswa ini. Sebab, beberapa temanku yang jauh lebih pintar, ternyata tak mendapatkan kesempatan seperti yang kudapatkan. Bayangkan saja, dengan program beasiswa itu, aku bisa kuliah gratis sampai S1, dan biaya hidup pun diberi.

Beragam Tanggapan
Ketika aku mulai menyosialisasikan program beasiswa tersebut, ternyata tanggapannya macam-macam. Ternyata, hanya sebgaian kecil yang menerima program itu dengan terbuka. Ada yang sinis menerima program tersebut. Ini sungguh di luar dugaanku. Sekolah-sekolah memandang rendah program tersebut karena dikeluarkan oleh lembaga pendidikan yang nota bene swasta.

Paradigma mereka masih menganggap apapun lembaga pendidikan swasta, terutama universitas, tak bermutu. Mereka memandang sebelah mata program yang aku bawa itu. Aku tak ahu apa yang ada di pikiran mereka. Kadang yang menyedihkan, aku menemui pernyataan bahwa bagaimana caranya, yang penting masuk negeri.

Ada juga yang terbuka, tapi ketika melihat bahwa universitas Paramadina berada di Jakarta, mereka langsung ragu. Pertama, yang mereka ragukan adalah hidup di Jakarta itu sulit. Kedua, Jakarta adalah lambang kota yang keras. Ketiga, Jakarta mereka anggap bisa mencuci otak orang-orang yang datang kesana. Keempat, boro-boro mendaftar beasiswa, pikiran untuk melanjutkan studi saja mereka tak punya.

Ubah Paradigma
Tapi, bagiku, itu adalah kemunduran berpikir. Paradigma yang mereka gunakan tak beranjak, meski zaman telah berubah. Aku menangkap bahwa yang mereka jadkan tujuan belajar adalah universitas itu sendiri. Jadi ketika masuk universitas yang “kelihatannya” bagus, reputasinya baik, maka ya sudah. Masa depan juga dijamin baik. Kasarannya masa depan ngikut aja. Kadang yang menyedihkan, aku menemui pernyataan bahwa bagaimana caranya, yang penting masuk negeri. Aku akui memang universitas negeri masih mendominasi di Indonesia, tapi bukan berarti semua yang negeri adalah lebih baik dari yang swasta.

Cara pandang ini harus diubah. Diskusi dewasa ini, bukan lagi masalah negeri atau swasta, tapi apa yang ingin di capai oleh siswa-siswi itu. Apa mimpi-mimpi mereka. Nah, universitas adalah cara untuk mencapainya. Universitas itu bak gedung produksi. Maka, ketika inputnya bagus, maka outputnya juga bagus. Yang menentukan kesuksesan masa depan sesorang bukanlah dari mana ia lulus, dan berapa nilainya. Tapi si siwa itu sendiri yang bisa menentukannya. Adalah kemampuan mereka dalam kepemimpinan, kewirausahaan, komunikasi dan etika serta network yang menjamin mereka raih mimpi-mimpinya.

Taste the Future
Selanjutnya, kuliah di tempat yang metropolis, Jakarta contohnya, akan membuka wawasan seluas-luasnya. In term of Indonesia, Jakarta memberikan pada siapapun akses informasi seluas-luasnya baik dari segi akademis, non akademis, sosial, politik dan lain-lain. Di sana adalah pusat network. Siapapun bisa mendapatkan network seluas-luasnya. Dewasa ini, jaringan atau network adalah faktor penting penentu masa depan. Bayangkan kalau ada anak pintar tapi tak punya kenalan. Ya sudah, tak akan berkembang.

Selanjutnya, berada di tempat semacam itu, sesorang akan bisa mencicipi masa depan (taste the future), meski mungkin masa depan iu bisa lebih baik dari apa yang ada di Jakarta. Karena, di situlah pusat atmosfir sebuah negara ini. Kalau bisa bertahan dan beradaptasi di sana, maka adalah perihal mudah untuk berada di tempat-tempat lain.

Masa depan itu tiada yang tahu. Kadang memang lebih tepat di sebut mimpi. Tapi berupaya sebaik mungkin untuk merupakan kewajiban. Maka perlu dipahami bahwa tujuan hidup sebenarnya adalah mimpi-mimpi itu.



Monday, February 1, 2010

Ventilasi Kereta Ekonomi Multifungsi

Apa yang di cari manusia? Aku jawab, yang gratis-gratis. Kalau tak ada yang gratis? Ya yang murah. Aku ini manusia. Jadi aku juga suka yang gratis, kalau tak ada, ya minimal yang murah. Tapi harap tahu, kalau yang murah dan gratis itu konsekuensinya adalah komfortabilitas yang rendah.

Sebagai perantauan di Jakarta, pulang kampung adalah hal yang sangat menarik. Setelah berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun tak bertemu, maka moment pertemuan dengan keluarga menjadi sangat sakral lagi penting. Pulang kampung tentu membutuhkan transportasi dan tentunya, transportasi yang murah meriah.

Sebagai perantauan, aku tentu juga tak akan melewatkan kesempatan untuk pulang kampung. Transportasi yang aku pilih adalah tentu yang murah meriah. Kau tahu kenapa? Ya karena aku manusia dan manusa kan suka yang gratis atau minimal murah.

Economy Class
Aku memilih kereta. Economy class tentunya. Kelas ekonomi adalah standar paling rendah dalam tingkatan pelayanan in term of kereta api di Indonesia. Aku beri tahu, sesuai pernyataan di awal tulisan ini, harganya yang murah benar-benar terbukti berkonsekuensi logis pada komfortabilitas yang super rendah.

Kereta api economy class terkenal dengan keretanya yang superkotor. Aku bertaruh, kalau Anda menemukan kereta api ekonomi yang bersih di Indonesia, silahkan melangkahi mayatku, hehehe….

Yang bertanggung jawab atas kekotoran ini adalah dua pihak utama. Pertama adalah pihak PT KAI yang memang tak peduli kebersihan. Tak ada upaya unuk mebuat fasilitas itu terlihat bersih dan nyaman. Meski ini kelas ekonomi, yang bayarnya murah, tentunya pengelola tersebut tahu bahwa kebersihan adalah sesautu yang penting. Kalau kereta bersih, yang menggunakannya juga nyaman.

Kedua, penumpangnya sendiri. Inilah masalah klasik di bumi Indonesia. Orang tak tahu kebersihan dan buang sampah sembarangan. Aku sendiri tak paham, apa yang menjadi mereka itu tak tahu kebersihan. Sampah plastik akan berserakan dan mengganggu pandangan, bagiku. Kecil besar, tua muda, sama saja. Mereka seakan tak peduli atas apa yang mereka lakukan itu, tak sadar bahwa kebersihan itu akan memberi manfaat jangka panjang.

Yang mereka pikir adalah ego mereka masing-masing. Bagaimana tidak? Pokoknya urusan mereka selesai ya sudah. Selesai makan, lalu perut mereka kenyang ya sudah. Selesai minum, botolnya ke mana, tak dipikirkan. Sampahnya sudah tak ada dalam perhuitungan lagi. Kalaupun ada itu nomer tigaratus sekian. Lalu dibuang begitu saja.

Mungkin memang budayanya seperti itu. Dan masalahnya, ketika budaya itu kuat maka regulasi macam apapun tak akan mempan membendungnya. Inilah keajaiban budaya, punya invisible power yang mengendalikan orang secara massa. Namun keajaiban itu akan menjadi musibah kalau budaya yang tercipta adalah budaya yang penuh sia-sia.

Pasar Jalan
Anda akan menemukan pasar berjalan di dalam kereta kelas ekonomi. Dengan duduk di satu tempat saja, Anda akan bisa menemui beberapa penjual makanan, souvenir, oleh-oleh sampai baju batik pun ada. Ketika anda haus, maka tunggu saja sebentar, maka akan muncul suara, “Akua-akua, mizon-mizon!”. Lamat-lamat, tapi pasti datang. Yang lebih unik lagi, pasar berjalan ini akan berganti genre ketika berganti daerah yang dilalui kereta. Anda tahu maksudnya? Anda tak akan menemui penjual baju batik, kecuali anda lewat Pekalongan dan sekitarnya. Anda tidak akan menemui nasi pecel dan juga brem, kecuali Anda melewati daerah Madiun dan sekitarnya.
Satu fenomena menarik dalam kereta api ekonomi yang kulihat adalah kehadiran vetilasi multifungsi. Memang banyak fungsinya ventilasi kerea api itu.

Anda pasti tahu kalau kereta api ekonomi tak punya AC (air conditioner). Yang ada AC alam alias angin cendela. Maka, ventilasi itulah yang jadi penyegar ruangan. Angin yang masuk jadi alternatif kesegaran yang tak mungkin di jangkau oleh kelas ekonomi. Ventilasi adalah sarana untuk ngisis.

Tempat Sampah Jalan
Kalau tak mau buang sampah di dalam kereta, maka ventilasi itu jadi tempat sampah berjalan. Mulutnya tak beranjak dan kecil, tapi kantong adalah dunia sepanjang rel kereta api itu. Inilah tempat sampah yang hanya Anda jumpai di Indonesia, lebih tepatnya kalau Anda naik kereta kelas ekonomi. Ini berarti buang sampahnya kemana-mana. Jadi penumpang kereta ekonomi tak mau area sekitar tempat duduknya kotor, tapi menciptakan kekotoran di tempat lain. Sungguh lihai orang-orang kelas ekonomi ini.

Anda yang suka meludah, bersuka rialah karena dengan naik kereta ekonomi, anda bisa meludah sepuasnya. Dimana mas meludahnya? Ventilasi, ya ventilasi. Aku lihat seringkali penumpang kereta ekonomi memuntahkan ludahnya melalui ventilasi. Sungguh multi fungsi ventilasi yang satu ini.

Kalau anda mau naik kereta ekonomi, temukan saja fungsi-fungsi lain dari ventilasi nya. Akan ada macam-macam yang bisa Anda temui dan eksplorasi.

Kalau mau naik kereta ekonomi class, itulah gambarannya. Bagi Anda yang tetap ingin menaikinya, silakan, bagi yang tidak silakan. Tapi yang jelas, meski murah, pelayanannya tetap harus dan perlu diperbaiki.


nikmati juga tulisan ini di kompasianaku
jangan lupa ninggal komen ya....

Saturday, January 30, 2010

Bangsa Ini Butuh Pemuda yang Tuntas

Siapa lagi yang bisa dititipi masa depan bangsa ini kalau bukan generasi muda? Pertanyaan ini membuka ulasanku kali ini. Pertanyaan itu tentu tak perlu dijawab. Generasi muda sudah seharusnya memahami bahwa tangan dan pundak mereka telah tertulis akan seperti apa bangsa Indonesia ini di masa datang.

Aku berusaha membuka tulisan ini dengan apa yang disebut kalimat pertanyaan berpola negasi-afirmasi. Artinya, pemahaman-pemahaman yang sebelumnya diberangus dulu, lalu dimunculkan sebuah pemahaman baru yang memang itulah yang dibutuhkan.

Pertanyaan tersebut bila dipositifkan setidaknya akan menjadi ‘Tidak ada yang bisa dititipi masa depan bangsa kecuali generasi pemuda’. Kupahami bahwa pemuda adalah satu-satunya generasi yang punya harapan. Pemuda merupakan lapisan sosial yang memang diperuntukkan mengelola bangsanya di masa depan.


Maka, pemahaman bahwa ada lapisan atau kelompok lain, sebagai yang bisa dititipi masa depan, harus dinegasikan, artinya harus di hilangkan dahulu, bahkan sama sekali. Maka kemudian penegasian ini di-counter dengan sebuah afirmasi dengan penegasan adanya keharusan tampilnya pemuda sebagai generasi yang bisa dititipi masa depan bangsa.

Maka munculah paradigma bahwa memang yang benar-benar akan menentukan mau seperti apa bangsa ini adalah pemuda. Pemuda adalah yang bisa menawarkan bangsa ini mimpi-mimpi untuk menjadi bangsa yang besar. Inilah perbedaan pemuda dengan generasi yang lain. Kalau kaum tua menawarkan pengalaman-pengalamannya di masa lalu, maka pemuda menawarkan masa depan.

Paradigma Pemuda Tuntas
Hal ini, tentu, kemudian berkonsekuensi pada keharusan pembekalan generasi muda dengan sungguh-sungguh. Pemuda sudah saatnya memahami paradigma bahwa ‘Ini bangsa kami, maka baik buruknya, kami bertanggung jawab’. Sebagai pemuda, adalah penting untuk memiliki rasa kebanggaan terhadap bangsanya. 'This is Indonesia that we are really proud of!' Pemuda sudah harus paham bahwa dedikasi mereka dibutuhkan oleh masyarakat.

Bila menilik sejarah sumpah pemuda, maka akan kita jumpai pemuda-pemuda perumusnya yang sudah tidak membicarakan urusan pribadinya. Mereka adalah, meminjam istilah Anies Baswedan, manusia-manusia yang tuntas dengan dirinya. Tidak ada dalam pikiran mereka uruasan-urusan yang bersifat pribadi dan kesukuan. Tidak ada kepentingan-kepentingan sektoral yang mereka bawa saat itu. Mereka telah tuntas dengan urusan dirinya.

Pribadi-pribadi pemuda yang tuntas inilah yang nanti akan menjadi figur panutan bagi generasi selanjutnya. Sebagai contoh figur yang telah sukses menjadi panutan adalah plokamator negeri ini, Bung Karno dan Bung Hatta. Mereka berdua tak pernah membicarakan kepentingan-kepentingan pribadinya dalam upaya perjuangan mereka. Yang mereka sampaikan hanya bagaimana negara ini bisa merdeka dan berdaulat, dan tak lagi mengiba atau dipaksa mengiba ke sana-sini. Rasa bangga tokoh-tokoh tersebut hanya pada kemerdekaan. Bukan kepopuleran atau nama baik yang menjadikan mereka bangga, tetapi hanya satu kata yang mereka cari yakni ‘Merdeka!’. Bangsa ini harus merdeka.

Sebuah Kisah
Suatu ketika Bung Karno menerima kedatangan BJ Habibie remaja dan beberapa temannya yang akan berangkat ke Jerman untuk melanjutkan sekolah. Saat itu, Bung Karno hanya berpesan bahwa negeri ini perlu dijaga persatuannya. Maka dari itu, teknologi di bidang penerbangan dan maritim harus diutamakan. Yang terjadi adalah semua pemuda yang ketika itu menghadap Bung Karno tersebut hanya mengambil jurusan yang berhubungan dengan teknologi di bidang penerbangan dan maritim.

Sementara, suatu ketika Bung Hatta meresmikan jembatan Asahan di Sumatera. Adalah seorang bernama Imaduddin, yang saat itu masih berusia belia, sangat berkeinginan untuk melihat wajah dan pidato seorang Hatta secara langsung. Ia dan teman-temannya rela berjalan beberapa hari hanya untuk hal tersebut. Ketika hari peresmian tiba, Bung Hatta berpesan bahwa Indonesia ke depan akan membutuhkan banyak insinyur listrik. Akhirnya, karena mendengar pidato tersebut, hampir semua anak yang saat itu meanyaksikan Bung Hatta berpidato, menjadi insinyur listrik, termasuk si Imaduddin yang sekarang telah menjadi seorang profesor.

Inilah bukti bahwa negeri ini butuh pemuda yang tuntas dengan dirinya dan menjadi figur bagi generasi sesudahnya. Apa yang disampaikan orang-orang seperti ini adalah demi sebuah kebaikan kolektif, bukan pribadi.

Negeri tidak butuh orang-orang yang penuh retorik tetapi bermuka dua. Negeri ini butuh sebuah pengabdian pemuda yang penuh rasa kebanggaan terhadap bangsanya, tanpa embel-embel urusan pribadi. Bangsa ini hanya butuh pengabdian pemuda yang murni dari dalam jiwa yang penuh rasa cinta terhadap negeri.


Jazz Muhammad
Jakarta, 29 Januari 2009


nikmati juga tulisan ini di kompasianaku


Ayo Pemuda!

Tentu kita masih ingat betul kapan nama negara ini mulai menggelegar di angkasa nusantara untuk pertama kali. Hari itu adalah 28 Oktober 1928. Hari yang kita kenal sebagai hari sumpah pemuda. Saat itu, pemuda-pemuda terbaik bangsa ini berkumpul untuk mengikuti kongres pemuda kedua. Mereka berkumpul untuk menentukan sikap mereka terhadap masa depan bangsa ini.

Dalam torehan sejarah sumpah pemuda, pernyataan sikap yang dicetuskan telah menjadi starting point perubahan bangsa ini. Mereka merumuskan tiga kesepakatan utama tentang bangsa ini. Mereka tetapkan bahwa bangsa Indonesia, tanah air Indonesia dan bahasa Indonesia adalah harga mati. Sumpah pemuda saat itu telah membuka pintu awal kemerdekaan yang selama ratusan dibelenggu oleh penjajah. Yang menjadi lebih spesial adalah tentu yang melakukan itu adalah pemuda.

Pemuda memang memiliki sejarah panjang atas terciptanya negara ini. Tentu kita ingat, yang mendobrak Soekarno dan Hatta untuk memproklamasikan kemerdekaan negara ini adalah desakan kaum muda saat itu. Kemudian, pada zaman reformasi, pemuda telah berhasil menggulingkan rezim otoriter yang menyegel dan membungkam  kebebasan di negara ini selama puluhan tahun.

Seloroh Bung Karno
Perihal pemuda, layaknya kita kembali mengingat ucapan Bung Karno. Bapak bangsa itu pernah sekali berseloroh, “Beri aku sepuluh pemuda yang memiliki rasa cinta terhadap tanah airnya, aku akan mengguncang dunia!” Pesan Bung Karno ini sedikit banyak bisa dipahami bahwa beliau yakin dan berani menentukan bahwa pemuda adalah lapisan masyarakat di mana masa depan bangsa ada di pundaknya.

Kalimat itu terdengar begitu berwibawa dan penuh optimisme. Artinya, bapak bangsa kita telah menanamkan sejak awal pada generasi muda bahwa rasa optimis itu adalah suatu yang penting dalam hidup untuk dimiliki. Optimisme itu dibutuhkan untuk berani menentukan masa depannya sendiri. Kemudian optimisme pemuda itu di padu dengan tingginya rasa bangga memiliki Indonesia. Optimisme yang dikobarkan oleh kebanggaan memiliki bangsanya, kemudian telah termanifestasi dalam sebuah kata, “Merdeka!”

Kembali ke sumpah pemuda, mengutip pernyataan Anies Baswedan, yang paling penting dari kesepakatan yang tertuang di pertemuan itu adalah yang ketiga, “Kami putra putri Indonesia menjunjung tinggi bahasa persatuan bahasa Indonesia”. Itulah bagian paling sulit dalam salah sekuen sejarah bangsa yang sangat terkenal itu.

Lompatan Jauh
Pemuda saat itu telah membuat sebuah lompatan yang jauh melampaui zamannya. Pemuda-pemuda saat itu mampu bermimpi tentang masa depan bangsa ini. Dengan mimpi itu, mereka telah bisa merumuskan sebuah alat pemersatu bangsa, yakni Bahasa Indonesia. Akan tetapi, apa mereka dianggap pahlawan ketika pulang ke daerahnya? Tidak. Mereka dianggap sebagai penghianat leluhur yang tak punya penghargaan pada budaya lokal. Mereka dituduh menganggap rendah budaya suku masing-masing. Mereka tidak mendapatkan apresiasi yang sepatutnya, bahkan kebalikannya.

Akan tetapi, optimisme mereka membuahkan hasil. Lompatan yang mereka buat ternyata sampai juga pada relaitas yang diimpikan. Proklamasi kemerdekaan menggema pada 17 Agustus 1945 dengan menggunakan Bahasa Indonesia. Kemudian, Ketika UUD 45 disahkan, di dalamnya memuat pernyataan bahwa bahasa resmi Indonesia adalah bahasa Indonesia. Bagi yang menolak menggunakan bahasa Indonesia, they were nobody, karena saat itu ide-ide untuk bangsa ini harus bisa diekspresikan dengan bahasa Indonesia.

Pengalaman optimisme pemuda-pemuda itu sudah seharusnya kita renungkan. Mereka telah bisa membaca masa depan dan meletakkan pondasi persatuan bangsa ini. Bahasa Indonesia, di masa itu, telah bisa mereka baca sebagai alat pemersatu bangsa.

Ketika pemuda itu membaca bahwa perlu hadirnya alat pemersatu, maka dalam waktu yang sama mereka memahami apa itu pluralisme atau keberagaman, atau kebhinekaan. Bangsa Indonesia diciptakan dalam keadaan, bukan saja beragam, tetapi sangat beragam. Indonesia dihuni lebih dari 500 suku dan etnis yang berbeda. Mereka pun punya bahasa dan budaya masing-masing. Inilah kekayaan bangsa ini. Akan tetapi, hyperpluralitas ini kalau tidak sikapi dengan cermat, bukan menjadi kekakayaan bangsa, tetapi akan menjadi batu sandungan bagi kejayaan bangsa ini.

Perihal Kebihinekaan
Melihat geografi Indonesia yang luas serta kebhinekaan yang begitu kuat, maka kompleksitas masalah yang dihadapi bangsa ini adalah keniscayaan. Sangat menyedihkan kalau melihat sesama orang Indonesia ribut memperdebatkan keunggulan masing-masing. Yang di bagian barat seakan mengucilkan yang di timur. Yang di timur pun tak mau kalah. Kalau terus diremehkan, mereka akan hengkang dari bumi pertiwi. Siapapun, yang memiliki perasaan terhadap bangsa ini, akan miris mendengarnya. Kebhinekaan yang selama ini diagungkan dan didengung-dengungkan oleh pendiri bangsa lewat ungkapan “Bhineka Tunggal Ika”, ternyata, tak hanya di sepelekan saja, tetapi juga dinodai dengan perilaku separatisme, premanisme, dan sebagainya.

Kebhinekaan telah menjadi jati diri bangsa ini. Biarlah yang berbeda memegang teguh karaker masing-masing, tetapi perlu diingat bahwa kita semua adalah sama-sama generasi penerus bangsa ini. Sebuah pepatah mengatakan bahwa untuk mengadu dua hal yang berbeda, maka cari perbedaannya dan dengungkan itu keras-keras. Maka perpecahan pun tinggal menunggu waktu. Namun, bila ingin meyatukannya, tonjolkan kesamaan yang dimiliki keduanya dan pupuk itu, maka tercipta keharmonisan yang berkelanjutan.

Saatnya Pemuda
Ini adalah waktunya pemuda unjuk diri. Pemuda adalah satu lapisan sosial yang punya masa depan panjang. Pemuda adalah generasi yang memiliki imajinansi yang kuat untuk memimpikan masa depannya. Maka, bagaimana mewujudkan mimpi itu adalah sebuah hal yang penting untuk digali. Pemuda hanya bisa menawarkan masa depan, dan ketika masa depan itu diuji, maka upaya untuk mewujudkannya harus semakin giat.

Bangsa ini membutuhkan pemuda-pemuda yang bangga terhadap tanah airnya. Tak bisa bangsa ini terus mengharap lagi pada yang tua. Masa kejayaan bangsa ada di pundak pemuda. Sumpah pemuda telah menunjukkan upaya terbaiknya demi bangsa ini dimasanya. Kini adalah masa kita, hai pemuda! Bangsa ini tak butuh rengek-kan pemuda yang terus menebar pesimisme. Bangsa ini butuh optimisme pemuda untuk terus berdinamika dan berdialektika dengan perubahan zaman. Ayo pemuda!


Jazz Muhammad Jakarta, 16 Januari 2010

tulisan ini juga bisa dinikmati di kompasianaku

Friday, January 29, 2010

Butuh Tak Sekedar Telekomunikasi

Perkembangan dunia telekomunikasi dewasa ini tak mungkin dilepaskan dari peran teknologi informasi (IT). Pengguna jasa telekomunikasi, kini membutuhkan layanan yang lebih dari sekedar sarana berkomunikasi yang menghubungkan antarlokasi.

Masyarakat saat ini menyadari bahwa akses informasi yang terbuka luas harus disikapi dengan serius. Artinya kebutuhan akan informasi itu saat ini menjadi sebuah keharusan di samping kebutuhan komunkasi itu sendiri. Adanya konvergensi antara kebutuhan komunikasi dan informasi tentunya kini menjadi perhatian serius para penyedia jasa telekomunikasi.


Peluang Usaha
Di era globalisasi ini, sektor telekomunikasi telah memberikan peluang usaha yang sangat besar. Masyarakat yang haus akan kebutuhan berkomunikasi merupakan faktor penyebabnya. Kebutuhan untuk terintegrasi dengan daerah lain adalah sebuah kenyataan. Hal ini memunculkan pemain-pemain di sektor ini yang kemudian lebih sering disebut operator.
Setiap operator jasa telekomunikasi yang bersaing berusaha untuk memberikan layanan yang terbaik bagi pelanggan dengan harga yang kompetitif. Persaingan ini, kemudian telah menciptakan suatu peluang baru yang besar bagi pembuat perangkat keras maupun Iunak untuk dalam menciptakan Iayanan-Iayanan dan teknologi-teknologi baru.

Pada perkembangan selanjutnya dunia telekomunikasi diserbu oleh gencarnya layanan berbasis IT. Era globalisasi telah menempatkan pula IT sebagai tulang punggung kegiatan ekonomi dunia karena merupakan satu-satunya media yang dapat menyediakan layanan yang borderless dan multidimensi (konvergen). Posisi IT yang strategis dalam percaturan ekonomi global ini telah menjadikan jasa telekomunikasi sebagai jasa yang diperdagangkan dan sarana vital bagi sebagian besar jasa Iainnya. Maka, konvergensi antara sektor telekomunikasi dengan IT pun tak terbendung lagi.

Voice centric yang terjadi pada awal perkembangan industri telekomunkasi kini terlihat jelas telah beralih pada data centric. Masyarakat sebagai konsumennya kini jauh lebih membutuhkan data-data ataupun informasi guna mendukung aktivitasnya.

Dukungan Internet
Sudah tentu, yang paling bertanggung jawab atas pesatnya dunia IT adalah perkembangan internet yang begitu cepat. Hadirnya internet membuat segalanya serba cepat. Masyarakat yang membutuhkan informasi-informasi mengenai bisnis, pendidikan, komersial hingga hiburan kini dimudahkan dengan internet.

Aktivitas-aktivitas manual yang dahulu di-cover oleh jasa telekomunikasi seperti transaksi bisnis, pembayaran uang pendidikan, pembelian jarak jauh serta pengajaran jarak jauh dan lainnya saat ini telah beralih menggunakan internet. Hal ini kemudian memunculkan berbagai istilah seperti e-commerce, tele-shopping, e-learning, e-banking, e-business, EDI, video conference, video on demand, multimedia dan e-govemment. Internet memang memberikan akselerasi yang luar biasa terhadap konvergensi antara jasa telekomunikasi dan jasa teknologi informasi atau IT services.

Pada akhirnya, konvergensi antara layanan telekomunikasi dan IT telah memunculkan beragam layanan yang tentunya dibutuhkan masyarakat. Bentuk layanan dan informasi tersebut terbukti telah mendorong berkembangnya teknologi jaringan telekomunikasi berdasarkan kriteria yang beragam pula, seperti masalah keamanan, keandalan, kecepatan, cakupan, personalitas, portabilitas, dan harga. Maka muncullah teknologi-teknologi seperti IN, ISDN, frame relay, ATM, SDH, HFC, GSM, CDMA, ADSL hingga pada teknologi satelit. Kemudian, teknologi terbaru yang muncul antara lain layanan 3G, Wimax, WIFI, xDSL dan lain-lain.

Perubahan Paradigma
Kenyataan-kenyataan di atas mengarah pada keharusan perubahan paradigma dunia telekomunikasi. Perubahan-perubahan itu meliputi berbagai hal. Pasar telekomunikasi kini telah beralih menjadi pasar dengan kompetisi penuh. Hal ini berimplikasi pada struktur industri yang tak lagi vertical, tetapi telah menjadi horizontal. Format penyampaian informasinya pun telah mengarah pada format multimedia atau konvergensi.

Perubahan paradigma lainnya adalah infrastruktur yang semuanya berbasis digital, menggantikan sistem analog sebelumnya. Selain itu, jaringan pendukungnya telah beralih pada jaringan broadband. Sistem pengenaan tarif juga berubah dari berbasis waktu menjadi berbasis volume (byte).

Perubahan-perubahan tersebut kemudian memunculkan sebuah kenyataan bahwa kini content menjadi sebuah bagian yang penting dalam layanan telekomunkasi. Penyedia jasa telekomunikasi yang masih berkutat pada layanan perangkat keras saja akan tertinggal. Masyarakat kini membutuhkan fasilitas-fasilitas dari aplikasi terbaru untuk menunjang aktivitasnya. Pada dasarnya fokus pada content berarti mengalihkan perhatian pada pengembangan layanan yang berbasis hardware beralih ke software.

Meski demikian, upaya di atas masih harus lebih dipersiapkan matang-matang. Untuk mengubah paradigma tersebut, diperlukan kesiapan dari sumber daya manusianya. Selanjutnya, kesiapan dari sumber daya manusia pada akhirnya juga harus disalurkan pada tampat yang tepat, yakni penelitian dan pengembangan (R&D) yang memadai. Salah satu kunci keberhasilan upaya tersebut tentu adalah tumbuh subumya inovasi dan kuatnya R&D telekomunikasi. Jasa-jasa telekomunikasi baru di negara-negara yang sudah lebih maju, seperti Jepang dan Singapura, lahir karena inovasi yang begitu subur serta kuatnya dukungan R&D telekomunikasi untuk mewujudkan inovasi-inovasi tersebut.

Bermanfaat
Sudah tentu, yang perlu menjadi perhatian kini adalah manfaat yang akan diraih bila konvergensi antara telekomunikasi dan IT tercapai. Pertama, tersedianya layanan telekomunikasi mulai dari voice hingga broadband. Masyarakat akan diperlihatkan dan disediakan layanan telekomunikasi yang terintegrasi, baik layaan suara, data, aplikasi dan juga informasi yang seluas-luasnya. Kedua, investasi telekomunikasi semakin efisien sehingga hal ini berimbas pada tarif layanan yang semakin murah. Fokus pada content berarti fokus pada layanan berbasis perangka lunak, industri yang membutuhkan investasi yang relatif kecil.

Ketiga, terjadinya percepatan pembangunan sektor telekomunikasi sehingga mendorong terciptanya varian layanan telekomunikasi beserta content-nya yang implementasinya akan menyentuh sampai ke pelosok. Tak hanya daerah kota, tapi pelosok-pelosok juga akan merasakan kemudahan-kemudahan yang diberikan oleh layanan e-commerce, tele-shopping, e-learning, e-banking, e-business, EDI, video conference, video on demand, multimedia dan e-govemment. Keempat, terciptanya percepatan pengembangan potensi daerah. Kemudahan berkomunikasi akan menciptakan akses informasi yang terbuka luas. Hal ini tentunya akan mendorong pertumbuhan ekonomi daerah yang didukung keluasan informasi yang diterima daerah tersebut.


tulisan ini juga bisa dinikmati di kompasianaku