Hehe..mumpung masih muda
Santai mas……santai…..
……
Mumpung masih muda
Harus semangat, masa depan menunggu!
Sehabis kecil, manusia memasuki usia remaja. mereka memasuki masa mudanya masing-masing. Bahasa kerennya puber. Ya , kata orang-orang inilah masa-masa terindah dalam hidup. Masa-masa indah di SMA atau juga saat kuliah. Setiap orang sangat mengagumi masa-masa ini. Mungkin memang tidak semua. Tapi pokoknya masa muda adalah yang paling T.O.P. B.G.T .(baca: te o pe be ge te).
Begitu bermaknanya masa muda, setiap orang pun punya apresiasi sendiri-sendiri tentang hal yang satu ini. Coba simak percakapan diatas. Sebagian orang mungkin mengira ini adalah masa santai-santai. Masa muda dianggap masa terbaik untuk me-malas-kan diri dari berbagai aktivitas yang intinya juga bermalas-malasan. Intinya sih ngga mau kerja keras. Hehe..nyantai mas..mumpung kita masih muda!
Mungkin kamu langsung berpikiran bahwa pikiran seperti ini hanya melanda muda-mudi yang, ya, agak beruntung (kaya maksudnya, tapi sebenanya yang kaya sih bokap nyokapnya). Mereka bisa menghabiskan banyak uang untuk senang-senang. Akan tetapi, "virus nyantai" sebenarnya menyerang semua pemuda, ngga pandang bulu.
Coba lihat aja, mau kaya mau miskin, semua pada sibuk SMS yang ngga penting, lalu nge-gosip yang ngga ada mutu sama sekali, lalu asyik tidur-tiduran sambil nonton TV semaleman. Wah, enak banget tuh! Ya mumpung masih muda! Kalau kamu setuju sama yang ini ya terserah. Ini yang namanya aji mumpung negatif.
Akan tetapi tentunya hal di atas tidaklah melanda semua muda-mudi. Masih ada yang baik ko’. Ada juga aji mumpung yang positif.
Sebagian pemuda yang lain punya apresiasi lain pula terhadap masa muda mereka. Muda-mudi yang ini mengaggap kalau masa muda adalah masa emas untuk menabung pengalaman, menabung ilmu, membangun relasi untuk mencapai masa depan yang baik.
Mereka ini sangat menghargai waktu yang ada dengan bekeja keras dan belajar sungguh-sungguh demi masa depan mereka. Tiap hari hanya sibuk memperkaya diri dengan pengalaman-pegalaman berharga. Ayo semangat, mumpung masih muda, masa depan kita ada di tangan kita sendiri!
Hayu, kamu termasuk aji mumpung yang mana? Memang kita tidak bisa sama persis sama mumpung yag positif tadi. Saya pun mengakui, sulit banget. Rayuan "virus nyantai" itu luar biasa menggoda. Akan tetapi, kita haus tetap memantapkan hati unuk sadar bahwa sukses di masa depan adalah apa yang kita usahakan hari ini.
Ya boleh lah kita aliran aji mumpung negatif, tapi ya kadang-kadang aja. Maka dari itu aliran aji mumpung positif harus menjadi prioritas dalam hidup kita. Do you agree?
Oleh karena itu, hari kemarin sudah terlambat untuk di ingat-ingat lagi, tetapi kita juga tidak bisa mengandalkan hari esok. Hari ini adalah yang terpenting. Memanfaatkan masa muda dengan sebaik-baiknya adalah hal yang paling bijak. Masa muda yang dipenuhi usaha will make our dreams come true, really true.
Dua golongan pemuda yang menganut aliran aji mumpung masing-masing tadi sama-sama punya 24 jam sehari. Yang satu 24 jam-nya penuh dengan kemalasan, yang satunya penuh usaha dan prestasi. Kamu pilih yang mana?
Tulisan ini, selain sebagai tulisan lepas, juga diikutsertakan Djarum Black Blog competition Vol. 2. Event ini diadakan oleh PT Djarum yang familiar dengan program inovasinya Blackinovationawards dan Black Community.
*sumber gambar bisa diklik langsung pada gambanrnya.
Friday, February 26, 2010
Wednesday, February 24, 2010
Pemilik Sawit dan Contekan
Gw pinjem tugas lo dunk
buat apa?
Hehe..pinjem ah
ngga mau, usaha donk
Sebagai orang Indonesia, pasti kamu pernah tahu tentang contek menyontek. Ngga SD, SMP, SMA, bahkan perguruan tinggi, ada aja yang nyontek. Sebuah cara jitu bin instan untuk mendapatkan penghargaan. Ya minimal nilai bagus lah.
Memang rasanya itu solusi terbaik agar muka masih bisa ditaruh ditempatnya. Maksudnya? Ya biar ngga malu lah. Kan semalem ngga belajar.
Kalau saya lihat fenomenanya, contek menyontek juga bikin pelakunya kecanduan. Sekali nyontek lalu tak ketahuan, ya nyontek lagi. Rasanya tak perlu usaha untuk mendapatkan nilai yang baik. Tinggal keluarkan rayuan maut bernada mengiba pada yang sudah belajar, dan aba kadabra! Contekan sudah didapatkan, lalu copy paste deh.
Tapi apa memang menyontek itu baik? Kalau mau tanya hati nurani, pastilah jawabannya ngga baik. Kalau udah ngga punya nurani, Mas? Ya jawabannya baik-baik aja. Tapi bagi saya, jawabannya, ngga baik. Syukur mas, masih punya nurani...
Suatu ketika dosen saya bercerita tentang pohon kelapa sawit. Beliau menerangkan kalau sebelum berbuah, pemilik harus menunggu waktu yang tak sebentar. Hampir 4 tahun lamanya tumbuh, baru berbuah. Jadi 4 tahun pemiliknya tak dapat apa-apa. Tapi...(ko' ada tapinya, Mas?) sawit itu akan berbuah selama 20 tahun. Terus...hubungannya dengan contekan?
Kalau kita sadar, maka ada pelajaran dari sawit itu. Ia butuh mengumpulkan energi selama beberapa tahun, baru berbuah. Selama 4 tahun pemiliknya tak punya hasil apa-apa. Tapi kamu tahu, kalau sudah berbuah, berbuahnya sampai 20 tahun. Selam itu juga pemiliknya mendapatkan keuntungan.
Begitu juga dengan belajar. Mungkin untuk beberapa saat kita akan mengalami kejenuhan, tapi jangan salah, keuntungannya jangka panjang. Menyediakan waktu beberapa saat untuk belajar akan memberikan kita bekal masa depan yang gemilang.
Kembali ke masalah contek, sebenarnya hanya memberi kesuksesan semu yang meyuramkan masa depan itu. Mungkin kamu akan dapat nilai baik setelah menyontek, tapi jangan kira nilai yang baik itu akan jamin masa depanmu. Karena sebenarnya memang kamu tak tahu apa-apa. Tak ada yang kita kuasai dengan jalan nyontek. Untuk jangka panjang sungguh tak akan berarti.
Kini sudah saatnya kita sadar bahwa kesuksesan itu tak instan, butuh proses perjuangan yang panjang laksana sawit. Mungkin diawal terasa berat, tapi kesuksesan yang nyata menanti kita. Contekan tak akan menyelesaikan masalah. Bahkan kadang malah jadi musibah, terutama pas ujian. Kalau ketahuan kan susah juga.
Saya kira menyempatkan diri untuk belajar sejenak tak akan merugikan. Buat apa nilai yang baik tapi menipu. Saya teringat pepatah jawa becik ketitik ala ketara. Artinya baik atau buruk itu pasti ketahuan meski sedikit. Kalau memang mampu pasti kelihatan, juga kalau memang tak mampu pun nanti juga ketahuan.
Tulisan ini, selain sebagai tulisan lepas, juga diikutsertakan Djarum Black Blog competition Vol. 2. Event ini diadakan oleh PT Djarum yang familiar dengan program inovasinya Blackinovationawards dan Black Community.
*sumber gambar bisa diklik langsung pada gambanrnya (antarsumut.com).
buat apa?
Hehe..pinjem ah
ngga mau, usaha donk
Sebagai orang Indonesia, pasti kamu pernah tahu tentang contek menyontek. Ngga SD, SMP, SMA, bahkan perguruan tinggi, ada aja yang nyontek. Sebuah cara jitu bin instan untuk mendapatkan penghargaan. Ya minimal nilai bagus lah.
Memang rasanya itu solusi terbaik agar muka masih bisa ditaruh ditempatnya. Maksudnya? Ya biar ngga malu lah. Kan semalem ngga belajar.
Kalau saya lihat fenomenanya, contek menyontek juga bikin pelakunya kecanduan. Sekali nyontek lalu tak ketahuan, ya nyontek lagi. Rasanya tak perlu usaha untuk mendapatkan nilai yang baik. Tinggal keluarkan rayuan maut bernada mengiba pada yang sudah belajar, dan aba kadabra! Contekan sudah didapatkan, lalu copy paste deh.
Tapi apa memang menyontek itu baik? Kalau mau tanya hati nurani, pastilah jawabannya ngga baik. Kalau udah ngga punya nurani, Mas? Ya jawabannya baik-baik aja. Tapi bagi saya, jawabannya, ngga baik. Syukur mas, masih punya nurani...
Suatu ketika dosen saya bercerita tentang pohon kelapa sawit. Beliau menerangkan kalau sebelum berbuah, pemilik harus menunggu waktu yang tak sebentar. Hampir 4 tahun lamanya tumbuh, baru berbuah. Jadi 4 tahun pemiliknya tak dapat apa-apa. Tapi...(ko' ada tapinya, Mas?) sawit itu akan berbuah selama 20 tahun. Terus...hubungannya dengan contekan?
Kalau kita sadar, maka ada pelajaran dari sawit itu. Ia butuh mengumpulkan energi selama beberapa tahun, baru berbuah. Selama 4 tahun pemiliknya tak punya hasil apa-apa. Tapi kamu tahu, kalau sudah berbuah, berbuahnya sampai 20 tahun. Selam itu juga pemiliknya mendapatkan keuntungan.
Begitu juga dengan belajar. Mungkin untuk beberapa saat kita akan mengalami kejenuhan, tapi jangan salah, keuntungannya jangka panjang. Menyediakan waktu beberapa saat untuk belajar akan memberikan kita bekal masa depan yang gemilang.
Kembali ke masalah contek, sebenarnya hanya memberi kesuksesan semu yang meyuramkan masa depan itu. Mungkin kamu akan dapat nilai baik setelah menyontek, tapi jangan kira nilai yang baik itu akan jamin masa depanmu. Karena sebenarnya memang kamu tak tahu apa-apa. Tak ada yang kita kuasai dengan jalan nyontek. Untuk jangka panjang sungguh tak akan berarti.
Kini sudah saatnya kita sadar bahwa kesuksesan itu tak instan, butuh proses perjuangan yang panjang laksana sawit. Mungkin diawal terasa berat, tapi kesuksesan yang nyata menanti kita. Contekan tak akan menyelesaikan masalah. Bahkan kadang malah jadi musibah, terutama pas ujian. Kalau ketahuan kan susah juga.
Saya kira menyempatkan diri untuk belajar sejenak tak akan merugikan. Buat apa nilai yang baik tapi menipu. Saya teringat pepatah jawa becik ketitik ala ketara. Artinya baik atau buruk itu pasti ketahuan meski sedikit. Kalau memang mampu pasti kelihatan, juga kalau memang tak mampu pun nanti juga ketahuan.
Tulisan ini, selain sebagai tulisan lepas, juga diikutsertakan Djarum Black Blog competition Vol. 2. Event ini diadakan oleh PT Djarum yang familiar dengan program inovasinya Blackinovationawards dan Black Community.
*sumber gambar bisa diklik langsung pada gambanrnya (antarsumut.com).
Tuesday, February 23, 2010
Pemuda, Serigala dan Narkoba
Pemuda, penerus bangsa
Pemuda, asset bangsa
Tapi..
Bisa jadi juga perusak bangsa
Tentu kamu semua sudah akrab dengan yang namanya narkoba. Siapa sih yang ngga kenal barang satu ini. Lihat saja acara kiminal di TV, ya yang PATROLI, SERGAP atau BUSER, pasti ada saja kasus narkoba.
Kalau yang melakukan sudah tua sih ngga apa-apa, sekalian biar mati saja (eh…). Maksudnya ya dia kan udah tua, jadi sisa hidup pun juga udah tinggal dikit. Tapi kalau yang melakukannya itu pemuda, hmm.. ini yang perlu dibahas.
Dalam buku Setengah Kosong Setengah Isi, Parlindungan Marpaung membuat tulisan yang cukup menarik berjudul “Kenikmatan yang Mematikan”. Tulisan itu berkisah tentang cara seorang Eskimo berburu serigala.
Mereka (orang Eskimo) melumuri sebuah belati tajam dengan darah hewan buruan (rusa atau semacamnya).Kemudian darah itu dibekukan. Belati itu lalu ditanam di dataran tinggi tempat serigala bermain. Posisi penanaman belati adalah bagian bagian tajam mencuat keatas. Dengan cara itu, seringkali srigala mengendus bau darah yang ada pada belati. Sesuai dengan kebiasaanya, serigala mulai menjilati belati berlumur darah tersebut. Karena udara yang dingin, serigala tidak sadar telah menyayat lidahnya sendiri serta menelan darahnya sendiri.
Akhirnya bisa kamu tebak. Serigala pun mati lemas dan orang Eskimo dengan mudah membawa mereka untuk jadi santapan.
Cerita ini tentu bisa menjadi perumpamaan orang yang jadi penyalahguna narkoba. Jadi, narkoba itu bak belati yang berlumur darah beku dan serigala yang mati lemas adalah pelau penyalah gunanya.
Dari cerita diatas tentu kamu mengerti bahwa ya begitulah narkoba. Kelihatannya enak, eehh…ternyata obat kematian. Parahnya, yang minum obat ngga nyadar kalau itu obat bikin mati. Hal ini tentu tidak lepas dari kenyataan bahwa sifat labil yang dimiliki oleh jiwa pemuda. Psikolog menyampaikan bahwa indikator yang mudah dari sifat labil adalah besarnya rasa ingin mencoba. Ya mencoba segala hal.
Kalau yang dicoba adalah sebuah aktivitas penelitian ya OK-OK aja, tapi kalau yang dicoba itu narkoba, ya janganlah. Kan udah dikasih tahu tadi.. Lalu, mengapa hal ini menjadi penting bagi pemuda?
Dalam sebuah seminar, Anies Baswedan menyampaikan bahwa bedanya orang tua dan pemuda adalah apa yang ditawarkannya. Orang tua menawarkan apa-apa yang telah ia lakukan di masa lalu. Ia menyajikan bagaimana track record-nya selama hidup. Namun, pemuda menawarkan masa depan. Pemuda memberika gambaran visi ke depan. Pemuda akan menawarkan sebuah impian di masa depan.
Melihat fakta ini, tentu sebagai pemuda kita harus sadar bahwa nasib bangsa ini ke depan ditentukan oleh apa yang kita perbuat saat ini. Masa depan adalah milik pemuda (hehe..ngomongnya kayak anggota DPR aja, antara yang diomongin dengan yang dilakuin “beda dikit”). Bersinggungan dengan narkoba tentu bukan jalan baik untuk dipilih.
Hidup dengan narkoba laksana bunuh diri perlahan-lahan. Ya kalau memang mau mati sih terserah, tapi tentu bagi yang masih punya akal sehat dan tahu kalau 1+1=2, ya pasti ngga mau donk terjerumus ke dalam dunia narkoba.
Yang penting sekarang semua sudah tahu kalau narkoba itu sama dengan obat kematian, ya jangan ikut-ikutan sama narkoba. Kalau sudah sadar tapi tetep ngeyel ya terserah, pokoknya jangan ngajak temen. Mau mati kok cari jamaah. Ya kalau mati syahid, kalau matinya sangit?
Tulisan ini, selain sebagai tulisan lepas, juga diikutsertakan Djarum Black Blog competition Vol. 2. Event ini diadakan oleh PT Djarum yang familiar dengan program inovasinya Blackinovationawards dan Black Community.
*sumber gambar bisa diklik langsung pada gambanrnya.
Pemuda, asset bangsa
Tapi..
Bisa jadi juga perusak bangsa
Tentu kamu semua sudah akrab dengan yang namanya narkoba. Siapa sih yang ngga kenal barang satu ini. Lihat saja acara kiminal di TV, ya yang PATROLI, SERGAP atau BUSER, pasti ada saja kasus narkoba.
Kalau yang melakukan sudah tua sih ngga apa-apa, sekalian biar mati saja (eh…). Maksudnya ya dia kan udah tua, jadi sisa hidup pun juga udah tinggal dikit. Tapi kalau yang melakukannya itu pemuda, hmm.. ini yang perlu dibahas.
Dalam buku Setengah Kosong Setengah Isi, Parlindungan Marpaung membuat tulisan yang cukup menarik berjudul “Kenikmatan yang Mematikan”. Tulisan itu berkisah tentang cara seorang Eskimo berburu serigala.
Mereka (orang Eskimo) melumuri sebuah belati tajam dengan darah hewan buruan (rusa atau semacamnya).Kemudian darah itu dibekukan. Belati itu lalu ditanam di dataran tinggi tempat serigala bermain. Posisi penanaman belati adalah bagian bagian tajam mencuat keatas. Dengan cara itu, seringkali srigala mengendus bau darah yang ada pada belati. Sesuai dengan kebiasaanya, serigala mulai menjilati belati berlumur darah tersebut. Karena udara yang dingin, serigala tidak sadar telah menyayat lidahnya sendiri serta menelan darahnya sendiri.
Akhirnya bisa kamu tebak. Serigala pun mati lemas dan orang Eskimo dengan mudah membawa mereka untuk jadi santapan.
Cerita ini tentu bisa menjadi perumpamaan orang yang jadi penyalahguna narkoba. Jadi, narkoba itu bak belati yang berlumur darah beku dan serigala yang mati lemas adalah pelau penyalah gunanya.
Dari cerita diatas tentu kamu mengerti bahwa ya begitulah narkoba. Kelihatannya enak, eehh…ternyata obat kematian. Parahnya, yang minum obat ngga nyadar kalau itu obat bikin mati. Hal ini tentu tidak lepas dari kenyataan bahwa sifat labil yang dimiliki oleh jiwa pemuda. Psikolog menyampaikan bahwa indikator yang mudah dari sifat labil adalah besarnya rasa ingin mencoba. Ya mencoba segala hal.
Kalau yang dicoba adalah sebuah aktivitas penelitian ya OK-OK aja, tapi kalau yang dicoba itu narkoba, ya janganlah. Kan udah dikasih tahu tadi.. Lalu, mengapa hal ini menjadi penting bagi pemuda?
Dalam sebuah seminar, Anies Baswedan menyampaikan bahwa bedanya orang tua dan pemuda adalah apa yang ditawarkannya. Orang tua menawarkan apa-apa yang telah ia lakukan di masa lalu. Ia menyajikan bagaimana track record-nya selama hidup. Namun, pemuda menawarkan masa depan. Pemuda memberika gambaran visi ke depan. Pemuda akan menawarkan sebuah impian di masa depan.
Melihat fakta ini, tentu sebagai pemuda kita harus sadar bahwa nasib bangsa ini ke depan ditentukan oleh apa yang kita perbuat saat ini. Masa depan adalah milik pemuda (hehe..ngomongnya kayak anggota DPR aja, antara yang diomongin dengan yang dilakuin “beda dikit”). Bersinggungan dengan narkoba tentu bukan jalan baik untuk dipilih.
Hidup dengan narkoba laksana bunuh diri perlahan-lahan. Ya kalau memang mau mati sih terserah, tapi tentu bagi yang masih punya akal sehat dan tahu kalau 1+1=2, ya pasti ngga mau donk terjerumus ke dalam dunia narkoba.
Yang penting sekarang semua sudah tahu kalau narkoba itu sama dengan obat kematian, ya jangan ikut-ikutan sama narkoba. Kalau sudah sadar tapi tetep ngeyel ya terserah, pokoknya jangan ngajak temen. Mau mati kok cari jamaah. Ya kalau mati syahid, kalau matinya sangit?
Tulisan ini, selain sebagai tulisan lepas, juga diikutsertakan Djarum Black Blog competition Vol. 2. Event ini diadakan oleh PT Djarum yang familiar dengan program inovasinya Blackinovationawards dan Black Community.
*sumber gambar bisa diklik langsung pada gambanrnya.
Monday, February 22, 2010
Tarekat Fesbukiyah
Bentar-bentar, ganti satus dulu
Ganti photo profile ah…
Tunggu, aku kasih comment dulu
Wah, siapa aja ya yang online?
Yang suka jejaring di dunia maya, pasti tahu apa yang namanya fesbuk, eh facebook. Yang tua yang muda, yang kaya yang miskin, yang sekolah yang ngga sekolah, atau yang sadar atau yang masih ngantuk, semuanya suka sama makhluk satu ini. Facebook namanya.
Hari ini, dunia maya seakan menjadi dunia nyata kedua. Media ini menjadi media penyalur ekspresi yang mungkin susah diungkapkan dalam kehidupan nyata. Tak terkecuali facebook. Dengan fasilitas updating status, sesorang bisa mengekspresikan mood-nya dalam rangkaian kata-kata. Seketika ia mengalami seuatu kejadian, langsung online dan update status. Hmm..ini memang menyenangkan.
Dengan meng-update status, para facebook-ers merasa telah berbagi rasa dengan teman-teman maya-nya. Update status-nya pun aneh-aneh dan kadang penting (berarti sering ngga penting dunk?). Statusnya jelas macam-macam. Ada yang nulis doa “ALLAHUMMA INNAKA 'AFUWWUN KARIMUN TUHIBBU AL-'AFWA FA' FU 'ANNI”. Ada juga yang curhat “sayang ayah, sayang ibuk, sayang Bima, sayang Laras, sayang rumah, sayang Akid, sayang kamar, sayang semuwanya..” entah apa yang dimaui mereka.
Sepertinya facebook telah menjadi ladang empuk untuk menyampaikan uneg-uneg. Ada juga yang nulis sekedar “sedang mengerjakan tugas.,.,.” aduh, ngga penting banget sih. Ya bagi saya ngga penting, bagi kamu ngga tahu….
Mau doa, mau curhat, mau marah, mau sedih, pokokna semua diungkapin.
Kadang beberapa orang beralasan bahwa status itu adalah ungkapan pribadi dan yang ngerti juga diri mereka sendiri. Ya sah-sah aja sih. Kan presiden ngga ngelarang? He..he..
Sebagaian menganggap update status itu penting. Katanya sih untuk membuktikan eksistensi mereka di dunia kedua, maksudnya dunia maya. Ya entahlah itu urusan mereka. Akan tetapi bagi saya ya itu semua kadang penting, tapi sering saya anggap itu ngga penting. Ngga setuju? Ya ini terserah saya donk!
Ngomong-ngomong masalah facebook, meminjam istilah Gunawan Muhamad, jejaring ini telah berhasil menciptakan aliran baru dalam dunia peradaban manusia saat ini. Yup, inilah Tarekat Fesbukiyah. Sebuah aliran yang berada di dunia maya dan telah memiliki pengikut ratusan juta umat.
Menurut saya, ajaran utama tarekat ini adalah update status tadi. Namanya juga ajaran utama, pengikutnya akan merasa gelisah bila tuntunan ini belum dilaksanakan. Bahkan jumlah waktu ibadahnya melebihi umat Islam yang punya 5 waktu dalam sehari. Update status bisa dilakukan kapan saja dengan tingkat fleksibilitas supertinggi. Mau bangun tidur, atau mau ke kamar mandi, ketemu teman, habis dimarahin, dapet hadiah dan lain sebagainya, update status seakan menjadi sebuah hal yang dilakukan untuk sarana ekspresi.
Tentunya tarekat ini masih punya banyak tuntunan, seperti meng-add-confirm teman, chatting dan lain-lain. Akan tetapi, semua itu akan terasa kurang bila belum update status.
Namun, sekarang ini, Banyak pengikut tarekat yang telah memanfaatkan facebook dengan lebih variatif. Ada yang berbisnis lewat facebook, ada yang sebar-sebar undangan lewat facebook dan lain-lain. ya tergantung kreatifitas masing-masing umat.
Ada efek sampingnya ikut tarekat ini? Ya ada donk. Kamu-kamu yang sering fesbukan sering kali merasa bahwa ada yang kurang dalam hidup bila belum online minimal sekali dalam sehari. Kayaknya makan itu belum kenyang bila belum online dan update status. Sepertinya empat sehat lima sempurna harus ditambah porsinya menjadi “empat sehat lima kurang sempurna, enam makin sempurna”. Ya yang ke-enam facebook itu. Wah jadinya seperti orang autis.
Kiranya cukup di sini aja saya bahas yang namanya facebook. Panjang kalau diterusin. Kamu pasti juga bosen membacanya. Selamat mengikuti Tarekat Fesbukiyah dengan taat!
Tulisan ini, selain sebagai tulisan lepas, juga diikutsertakan Djarum Black Blog competition Vol. 2. Event ini diadakan oleh PT Djarum yang familiar dengan program inovasinya Blackinovationawards dan Black Community.
*sumber gambar bisa diklik langsung pada gambanrnya.
Ganti photo profile ah…
Tunggu, aku kasih comment dulu
Wah, siapa aja ya yang online?
Yang suka jejaring di dunia maya, pasti tahu apa yang namanya fesbuk, eh facebook. Yang tua yang muda, yang kaya yang miskin, yang sekolah yang ngga sekolah, atau yang sadar atau yang masih ngantuk, semuanya suka sama makhluk satu ini. Facebook namanya.
Hari ini, dunia maya seakan menjadi dunia nyata kedua. Media ini menjadi media penyalur ekspresi yang mungkin susah diungkapkan dalam kehidupan nyata. Tak terkecuali facebook. Dengan fasilitas updating status, sesorang bisa mengekspresikan mood-nya dalam rangkaian kata-kata. Seketika ia mengalami seuatu kejadian, langsung online dan update status. Hmm..ini memang menyenangkan.
Dengan meng-update status, para facebook-ers merasa telah berbagi rasa dengan teman-teman maya-nya. Update status-nya pun aneh-aneh dan kadang penting (berarti sering ngga penting dunk?). Statusnya jelas macam-macam. Ada yang nulis doa “ALLAHUMMA INNAKA 'AFUWWUN KARIMUN TUHIBBU AL-'AFWA FA' FU 'ANNI”. Ada juga yang curhat “sayang ayah, sayang ibuk, sayang Bima, sayang Laras, sayang rumah, sayang Akid, sayang kamar, sayang semuwanya..” entah apa yang dimaui mereka.
Sepertinya facebook telah menjadi ladang empuk untuk menyampaikan uneg-uneg. Ada juga yang nulis sekedar “sedang mengerjakan tugas.,.,.” aduh, ngga penting banget sih. Ya bagi saya ngga penting, bagi kamu ngga tahu….
Mau doa, mau curhat, mau marah, mau sedih, pokokna semua diungkapin.
Kadang beberapa orang beralasan bahwa status itu adalah ungkapan pribadi dan yang ngerti juga diri mereka sendiri. Ya sah-sah aja sih. Kan presiden ngga ngelarang? He..he..
Sebagaian menganggap update status itu penting. Katanya sih untuk membuktikan eksistensi mereka di dunia kedua, maksudnya dunia maya. Ya entahlah itu urusan mereka. Akan tetapi bagi saya ya itu semua kadang penting, tapi sering saya anggap itu ngga penting. Ngga setuju? Ya ini terserah saya donk!
Ngomong-ngomong masalah facebook, meminjam istilah Gunawan Muhamad, jejaring ini telah berhasil menciptakan aliran baru dalam dunia peradaban manusia saat ini. Yup, inilah Tarekat Fesbukiyah. Sebuah aliran yang berada di dunia maya dan telah memiliki pengikut ratusan juta umat.
Menurut saya, ajaran utama tarekat ini adalah update status tadi. Namanya juga ajaran utama, pengikutnya akan merasa gelisah bila tuntunan ini belum dilaksanakan. Bahkan jumlah waktu ibadahnya melebihi umat Islam yang punya 5 waktu dalam sehari. Update status bisa dilakukan kapan saja dengan tingkat fleksibilitas supertinggi. Mau bangun tidur, atau mau ke kamar mandi, ketemu teman, habis dimarahin, dapet hadiah dan lain sebagainya, update status seakan menjadi sebuah hal yang dilakukan untuk sarana ekspresi.
Tentunya tarekat ini masih punya banyak tuntunan, seperti meng-add-confirm teman, chatting dan lain-lain. Akan tetapi, semua itu akan terasa kurang bila belum update status.
Namun, sekarang ini, Banyak pengikut tarekat yang telah memanfaatkan facebook dengan lebih variatif. Ada yang berbisnis lewat facebook, ada yang sebar-sebar undangan lewat facebook dan lain-lain. ya tergantung kreatifitas masing-masing umat.
Ada efek sampingnya ikut tarekat ini? Ya ada donk. Kamu-kamu yang sering fesbukan sering kali merasa bahwa ada yang kurang dalam hidup bila belum online minimal sekali dalam sehari. Kayaknya makan itu belum kenyang bila belum online dan update status. Sepertinya empat sehat lima sempurna harus ditambah porsinya menjadi “empat sehat lima kurang sempurna, enam makin sempurna”. Ya yang ke-enam facebook itu. Wah jadinya seperti orang autis.
Kiranya cukup di sini aja saya bahas yang namanya facebook. Panjang kalau diterusin. Kamu pasti juga bosen membacanya. Selamat mengikuti Tarekat Fesbukiyah dengan taat!
Tulisan ini, selain sebagai tulisan lepas, juga diikutsertakan Djarum Black Blog competition Vol. 2. Event ini diadakan oleh PT Djarum yang familiar dengan program inovasinya Blackinovationawards dan Black Community.
*sumber gambar bisa diklik langsung pada gambanrnya.
Bersyukur
Ma, ade pengin punya mobil-mobilan baru
Trus, pistol mainan baru
Trus, sepatu baru
Trus…….trus….trus…..
Ade, kan mainan kamu yang kemarin masih ada…..
Dalam kehidupan ini memang banyak hal yang ingin dilakukan oleh seorang manusia, begitu juga Kamu dan saya. Terlalu banyak hal yang memukau keinginan kita untuk memilikinya. Uang, kekayaan, motor, mobil, bahkan kadang juga pacar. Jujur saja, diri ini serasa ingin memiliki segalanya. Itu mah sah-sah saja. Namun, apa memang demikian adanya? Apakah sepatutnya kita terus bersikap seperti itu di kondisi kedewasaan kita ini?
Kalau jawabnya “Ya”, maka kita tak ubahnya anak kecil yang tak tahu apa-apa kecuali hanya senang-senang. Minta ini itu tanpa ada proses berpikir yang tertata. Ya kalau kamu mau sih, juga ngga ada yang nglarang, tapi kan kalau ada opsi lain yang lebih baik mengapa tidak?
Inti dari yang ingin saya sampaikan kali ini adalah bersyukur. Seiring dengan bertambahnya kedewasaan seseorang, maka rasa syukur adalah suatu hal yang sudah tentu juga terus bertambah. Agaknya saya meragukan seseorang yang telah mengaku dewasa tetapi tidak bisa memilah mana hal yang menjadi keinginan (want) dengan yang menjadi kebutuhan (need).
Dalam hal ini, adalah rasa syukur yang membuat sesorang bisa mengesampingkan bahkan menghilangkan keinginan atas hal-hal yang hanya berdasar keinginan. Hal ini memang sangat sulit untuk dilsaksanakan. Bagaimana tidak? lha wong masa punya jam tangan baru ngga boleh, punya mobil mercy baru ngga boleh.
Masalahnya bukan boleh atau tidak boleh. Masalahnya apakah barang-barang itu memang memberi manfaat dan nilai tambah dalam hidup kita. Itu yang menjadi pertimbangan. Mungkin uang yang bisa dibelikan mobil bisa dimanfaatkan untuk membangun sekolah, menyantuni fakir miskin. Intinya pemberian dari Sang Khalik itu bisa dimanfaatkan. Namun, sekali lagi, setuju ngga setuju terserah.
Pembaca yang terhormat, itulah yang saya maksud dengan bersyukur, yakni memanfaatkan apa yang kita punya. Komarudin Hidayat menyebutnya sebagai ‘pendayagunaan pemberian’.
Dengan sibuk mendayagunakan atau memanfaatkan apa yang kita punyai, maka kita pun akan lupa dengan keinginan-keinginan tidak jelas tadi. Kita akan sibuk bagaimana membuat orang lain agar juga mendapatkan keahagiaan seperti kita daripada menghias diri dengan hal-hal yang tidak jelas nilai manfaatnya.
Bukankah hidup ini akan sangat indah bila semua orang bisa bahagia. Kehidupan akan terasa nyaman. Tidak akan ada kekhawatiran mengenai apapun.
Syukur, sekali lagi, memang bukan hal yang mudah dilakukan. Terlalu banyak hal yang bisa menutupi pandangan hati kita untuk mau membantu yang lain. Namun, ini bukan berarti tida bisa dilakukan. Ya ngga?
Baca juga tulisan ini di Kompasiana-ku
Tulisan ini, selain sebagai tulisan lepas, juga diikutsertakan Djarum Black Blog competition Vol. 2. Event ini diadakan oleh PT Djarum yang familiar dengan program inovasinya Blackinovationawards dan Black Community.
*sumber gambar bisa diklik langsung pada gambanrnya.
Trus, pistol mainan baru
Trus, sepatu baru
Trus…….trus….trus…..
Ade, kan mainan kamu yang kemarin masih ada…..
Dalam kehidupan ini memang banyak hal yang ingin dilakukan oleh seorang manusia, begitu juga Kamu dan saya. Terlalu banyak hal yang memukau keinginan kita untuk memilikinya. Uang, kekayaan, motor, mobil, bahkan kadang juga pacar. Jujur saja, diri ini serasa ingin memiliki segalanya. Itu mah sah-sah saja. Namun, apa memang demikian adanya? Apakah sepatutnya kita terus bersikap seperti itu di kondisi kedewasaan kita ini?
Kalau jawabnya “Ya”, maka kita tak ubahnya anak kecil yang tak tahu apa-apa kecuali hanya senang-senang. Minta ini itu tanpa ada proses berpikir yang tertata. Ya kalau kamu mau sih, juga ngga ada yang nglarang, tapi kan kalau ada opsi lain yang lebih baik mengapa tidak?
Inti dari yang ingin saya sampaikan kali ini adalah bersyukur. Seiring dengan bertambahnya kedewasaan seseorang, maka rasa syukur adalah suatu hal yang sudah tentu juga terus bertambah. Agaknya saya meragukan seseorang yang telah mengaku dewasa tetapi tidak bisa memilah mana hal yang menjadi keinginan (want) dengan yang menjadi kebutuhan (need).
Dalam hal ini, adalah rasa syukur yang membuat sesorang bisa mengesampingkan bahkan menghilangkan keinginan atas hal-hal yang hanya berdasar keinginan. Hal ini memang sangat sulit untuk dilsaksanakan. Bagaimana tidak? lha wong masa punya jam tangan baru ngga boleh, punya mobil mercy baru ngga boleh.
Masalahnya bukan boleh atau tidak boleh. Masalahnya apakah barang-barang itu memang memberi manfaat dan nilai tambah dalam hidup kita. Itu yang menjadi pertimbangan. Mungkin uang yang bisa dibelikan mobil bisa dimanfaatkan untuk membangun sekolah, menyantuni fakir miskin. Intinya pemberian dari Sang Khalik itu bisa dimanfaatkan. Namun, sekali lagi, setuju ngga setuju terserah.
Pembaca yang terhormat, itulah yang saya maksud dengan bersyukur, yakni memanfaatkan apa yang kita punya. Komarudin Hidayat menyebutnya sebagai ‘pendayagunaan pemberian’.
Dengan sibuk mendayagunakan atau memanfaatkan apa yang kita punyai, maka kita pun akan lupa dengan keinginan-keinginan tidak jelas tadi. Kita akan sibuk bagaimana membuat orang lain agar juga mendapatkan keahagiaan seperti kita daripada menghias diri dengan hal-hal yang tidak jelas nilai manfaatnya.
Bukankah hidup ini akan sangat indah bila semua orang bisa bahagia. Kehidupan akan terasa nyaman. Tidak akan ada kekhawatiran mengenai apapun.
Syukur, sekali lagi, memang bukan hal yang mudah dilakukan. Terlalu banyak hal yang bisa menutupi pandangan hati kita untuk mau membantu yang lain. Namun, ini bukan berarti tida bisa dilakukan. Ya ngga?
Baca juga tulisan ini di Kompasiana-ku
Tulisan ini, selain sebagai tulisan lepas, juga diikutsertakan Djarum Black Blog competition Vol. 2. Event ini diadakan oleh PT Djarum yang familiar dengan program inovasinya Blackinovationawards dan Black Community.
*sumber gambar bisa diklik langsung pada gambanrnya.
Aku dan Kehidupanku (3)
Sekedar Kisah SMA
Layaknya anak pada umumnya, tentunya aku juga ingin mendapatkan pendidikan yang layak. Bahkan, kalau bisa yang terbaik. Maka dari itu, aku memilih SMA 1 Blitar. Sebuah sekolah yang punya reputasi terbaik di kotaku, Blitar. Sebuah sekolah yang paling digemari oleh setiap anak SMP yang baru lulus. Kalau bisa masuk di sana, prestigious sekali. Syukur, aku bisa masuk.
Awalnya aku mengira bangunan SMA ini berkorelasi positif reputasinya. Tapi kenyataannya ironi yang kudapatkan. Sekolah ini dipenuhi bangunan tua. Atap kelas-kelasnya tinggi sekali, persis bangunan peninggalan penjajah. Tak ada kesan sebuah sekolah modern seperti yang aku bayangkan selama ini. Aku kira semua areanya dibalut oleh rumput dan paving untuk tempat berjalan atau taman-taman indah tertata rapi. Tapi bukan itu nyatanya.
Area Horor
Masih banyak area yang hampa tak berhias sama sekali. Tanahnya kusam. Berpasir. Kalau hujan maka bersiaplah melihat sepatumu basah kuyub plus lumpur gratis yang tanpa diperintah menyasar sepatumu. Dan bila kau masuk dengan sepatu habis disemir, maka jangan harap bisa keluar dengan selamat. Kau akan melihat sepatumu dikerumuni oleh debu sialan yang merusak nan menjengkelkan.
Bahkan, satu hal yang tak pernah masuk dalam rangkaian dugaan di otakku, sekolah ini dilengkapi dengan area paling horor. Sebuah lapangan basket tua dan kotor dan dikelilingi pohon-pohon tua nan tinggi. “Teksas” nama daerah itu. Katanya itu singkatan dari “tempat eksis anak smasa (SMA 1)”, tapi bagiku, "Eksis engga, menakutkan iya." Ada 3 kelas dan 1 laboratorium di sana. Horor juga ruang-ruang itu.
Sungguh di luar dugaan. Selama ini ternyata hanya reputasinya yang baik, gedungnya sedikit menyedihkan. masih bagus bagunannya SMA 3. Tapi ya sudahlah, terlanjur masuk.
Sequence Pertama: Karma
Aku mulai sequence hidup di sekolah ini dengan biasa saja. Tak ada yang spesial. Tapi yang sedikit aku sayangkan, ternyata aku memulainya dengan menjadi penghuni Teksas. Sungguh aku tak menyangka. Kalau aku sebut teksas itu sedikit menyedihkan, maka orang-orang yang “terjebak” didalamnya juga sdikit menyedihkan. Aku ini adalah bagian dari orang-orang sedikit menyedihkan itu. Kesannya sedikit termarjinalkan. Aku dimasukan di salah satu kelas di dalam teksas. Kelasnya X-7.
Sebuah pelajaran secara sederhana aku simpulkan. Jangan pernah mencibir atau mengumpat sesuatu hal, karena bisa saja kau nanti jadi bagian hal yang kau cibir itu. Inikah karma? Entahlah.
Aku lewati masaku pada tahun pertama dengan sungguh tak berima. Datar saja. bahkan sedikit menyebalkan. Aku tak bertaji. Tak ada kontribusi. Padahal usia muda itu kesempatannya banyak.
Meski demikian, bagaimanapun gedungnya, SMA-ku ini tetap yang terbaik. Aku berhutang budi pada SMA ini begitu banyak. Aku diberi kesempatan untuk mengenyam pendidikan menengah atas terbaik di kotaku. Aku dihadapkan dengan guru-guru berkualitas meski pembawaannya sedikit menjengkelkan, kadang malah bikin bosan. Dan tentunya, aku dapatkan teman-teman yang sungguh luar biasa. Teman-teman yang menjadi keluarga keduaku.
Sequence Kedua: Bunderan HI
Setelah menyelesaikan tahun pertamaku dengan begitu membosankan, aku akhirnya juga bisa melarikan diri dari cengkeraman teksas yang selalu membuatku tak nyaman. Akhirnya aku hengkang dari rumah hantu sialan itu. Aku akhirnya naik kelas dua.
Aku dapatkan kelas yang jauh lebih lumayan. Kelas XI-IA 6. Tempatnya terang. Di depannya ada taman tua yang dibatasi kolam melingkar. Tak ada airnya nan terkesan kotor. Itu adalah area yang sering disebut bunderan HI (Hotel Indonesia). Aku tak yakin setiap anak di SMA itu pernah melihat bunderan HI yang sebenarnya. Tapi mengapa mereka sebut bunderan HI? Misteri.
Berharap mendapatkan suasana kelas yang lebih baik, ternyata aku dimasukkan dalam kelas yang anak-anaknya super-individual. Tak mau tahu urusan orang lain. Ini bencana keduaku. Setelah lama aku menghuni “rumah hantu”, kini aku menghadapi anak-anak yang menyebalkan. Sampai-sampai beberapa guru bilang kalau kami ini meski sekelas, tapi punya gab. Kelas yang berlagak akur tapi menyimpan keretakan yang sangat potensial di dalam. Semu nan membahayakan.
Memang beberapa teman telah bisa menyatu, tapi tetap berkelompok-kelompok. Tak ada sinkronisasi dan harmonisasi. Aku sendiri tak paham apa yang jadi sebabnya. Terasa saja. Kau pasti pernah merasa di mana suatu suasana yang tak ada kosa kata untuk menjelaskannya. Kelas yang membosankan. Bagaimana tidak? Hampir satu tahun tak ada kesamaan visi dan persepsi.
Sequence Ketiga: Integrasi Rolasipasiji
Ketika naik kelas tiga, aku dikejutkan oleh keputusan dewan guru yang tak mengacak kelas layaknya tahun sebelumnya. Kau tahu kan maksudnya? Aku akan melanjutkan masa terakhirku, di kelas yang paling membosankan itu. memang namanya berubah. Menjadi XII-IA 1. Tapi tetap saja isinya. Aku tak bisa apa-apa. Ya sudahlah, jalani saja. Sambil aku berdoa agar kelas ini berubah.
Dan ternyata tuhan menjawab doaku. Aku tak paham kenapa Ia mengabulkannya. Maklum, aku ini bukan anak yang relijius-relijius amat. Perlahan ternyata keraguanku terkonfirmasi. Salah ternyata keraguanku. Dengan komposisi yang sama, ternyata kelas ini mulai berintegrasi. Mulai muncul keharmonisan antar anggota kelasnya. Mungkin juga karena kami mendapatkan wali kelas yang cukup tegas tapi sedikit membuat kami sekelas mencekam. Apa mungkin karena kesamaan rasa tercekam itu kelas kami jadi harmonis? Entahlah.
Kami mulai familiar dengan jalan-jalan bersama. Kami sekelas sempat bersepeda bersama ke candi terkenal di kotaku. Kami semakin akur saja. Semuanya jadi kompak. Ketika bulan ramadhan, kami sekelas mengadakan buka puasa bersma, meski tak semua muslim. Ketua kelas kami pun bukan muslim.
Kami kemudian mndeklarasikan diri menjadi sebuah kelompok massa yang sedikit konyol. Kami menyebut diri “Rolasipasiji”. Itu gabungan dari Rolas Ipa Siji. Bahasa jawa dari dua belas ipa satu (XII-IA 1).
Main Kartu
Tapi jangan dikira kekompakan itu selalu positif. Kekompakan kelasku juga punya sisi negatif. Inilah dunia, segalanya seimbang. Ada yang positif dan negatif. Yang baik dan yang buruk.
Kami sekelas sering berkomplot untuk menciptakan cara-cara jitu ngrepek alias menyontek. Jangan salah. Solidaritas kelas kami sangat kuat, tapi mungkin sedikit kebablasan. Puncak kegilaan kelas kami adalah saat UAN.
Saat pra UAN, kami sekelas malah menghabiskan waktu dengan main kartu. Kami main dua kartu. Poker dan UNO. Kami sering membuat forum kecil-kecilan. Bukan berdiskusi, tapi main kartu.
Dan puncak solidaritas gila ini adalah terciptanya sistem kerjasama bersama sukses UAN. Namanya bagus, tapi hakikatnya adalah sistem contekan masal. Anak yang pintar bertugas menyebarkan jawaban pada yang lain. Ketika satu siswa telah mendapat jawaban, maka ia bertugas menyebarkan ke yang lain. Apa medianya? SMS. Karena soalnya multiple choice, maka sangat mudah untuk eksekusi program underground ini. Hanya cukup satu sms buat seluruh jawaban tiap pelajaran.
Memang ini tak baik, tapi kami tak punya pilihan lain. UAN yang hanya 3 hari itu menentukan proses belajar kami selama 3 tahun. Pilihannya cuma dua saat itu. Lulus atau tidak. Tak ada kompromi macam-macam. Kalau lulus ya jalan terus, kalau tidak ya kalau tetep ingin lulus terhormat berarti mengulang satu tahun atau ambil paket C. Dilematis bukan?
Tuhan Bersabar
Kami dihadapkan oleh pilihan sulit. Maka, kami bertekad, kalau lulus, ya harus semuanya. Tak boleh ada yang tertinggal. Memang kami akui itu tak baik dan sungguh tak pantas dicontoh. Itu idealnya. Tapi kami terbentur keadaan. Kalau Kau bilang kami ini tak tahu aturan, maka kami akan jawab terima kasih mengingatkan.
Kali itu mungkin Tuhan masih bersabar. Dia menitipkan sedikit nikmatnnya pada kami. Dua tahun silam, 2008, kami sekelas lulus semua. Juga seluruh siswa SMA, sekolahku lulus 100%.
Aku kini telah hengkang dari SMA-ku itu. Aku juga tak lagi di kotaku itu. Aku merantau ke sebuah tempat di mana bunderan HI berada. Akhirnya aku melihat sendiri bunderan HI itu seperti apa. Tapi aku tak akan pernah lupa akan masaku yang kulalui di sana, di SMA itu. Karena masa itulah, aku jadi seperti saat ini.
Beberapa hari lalu aku menilik sekolahku itu. Mumpung lagi libur kuliah. Aku tak dapati lagi gedung itu seperti dulu. Ia sekarang lebih baik. Tanah-tanahnya mulai tertata. Beberapa bagian telah dipaving. Taman-taman juga tertata rapi. Sudah nampak modern.
Kelas-kelas tua yang dulu, kini sudah berubah. Sekolah itu membuka program enris (enrichment) dan aksel (acceleration) yang membatasi jumlah siswa perkelasnya. Jumlahnya lebih sedikit dari yang reguler. Kelas itu dilengkapi AC dan proyektor. Yang jelas mahal tentu biayanya. Aku dikasih tahu kalau biayanya lima kali lipat dari yang aku dulu bayar.
Bagiku program ini sedikit mendikotomi, antara reguler dan program khusus. Hanya anak orang mampu yang bisa masuk. Pada kenyataannya memang demikian. Prestasi anak-anak "kelas khusus" itu, aku dengar, juga tak bagus-bagus amat. Tapi entahlah, aku tak terlalu mempedulikannya. Toh itu juga yang membuat sekolahku itu jadi lebih baik.
Sementara bunderan HI tetap kering. Taman tuanya tetap tua. Bagaimana dengan teksas?
Sudah lebih baik. Tanah daerah itu sudah di-paving. Tak ada lagi debu-debu sialan itu lagi. Sepatuku yang bersemir terbukti selamat. Lapangan basket telah dicat kembali, begitu juga ruang-ruang kelasnya. Sudah agak terang sekarang. Tapi aku tak tahu, masih ada aroma horor. Tak mau aku berlama-lama di sana.
Ah, sekolahku, sudah lebih baik. Apa jadinya tahun-tahun selanjutnya ya?
Tulisan ini, selain sebagai tulisan lepas, juga diikutsertakan Djarum Black Blog competition Vol. 2. Event ini diadakan oleh PT Djarum yang familiar komunitas-komunitas inovatif-nya seperti Black Car Community, Black Motor Community, dan Black Community.
Layaknya anak pada umumnya, tentunya aku juga ingin mendapatkan pendidikan yang layak. Bahkan, kalau bisa yang terbaik. Maka dari itu, aku memilih SMA 1 Blitar. Sebuah sekolah yang punya reputasi terbaik di kotaku, Blitar. Sebuah sekolah yang paling digemari oleh setiap anak SMP yang baru lulus. Kalau bisa masuk di sana, prestigious sekali. Syukur, aku bisa masuk.
Awalnya aku mengira bangunan SMA ini berkorelasi positif reputasinya. Tapi kenyataannya ironi yang kudapatkan. Sekolah ini dipenuhi bangunan tua. Atap kelas-kelasnya tinggi sekali, persis bangunan peninggalan penjajah. Tak ada kesan sebuah sekolah modern seperti yang aku bayangkan selama ini. Aku kira semua areanya dibalut oleh rumput dan paving untuk tempat berjalan atau taman-taman indah tertata rapi. Tapi bukan itu nyatanya.
Area Horor
Masih banyak area yang hampa tak berhias sama sekali. Tanahnya kusam. Berpasir. Kalau hujan maka bersiaplah melihat sepatumu basah kuyub plus lumpur gratis yang tanpa diperintah menyasar sepatumu. Dan bila kau masuk dengan sepatu habis disemir, maka jangan harap bisa keluar dengan selamat. Kau akan melihat sepatumu dikerumuni oleh debu sialan yang merusak nan menjengkelkan.
Bahkan, satu hal yang tak pernah masuk dalam rangkaian dugaan di otakku, sekolah ini dilengkapi dengan area paling horor. Sebuah lapangan basket tua dan kotor dan dikelilingi pohon-pohon tua nan tinggi. “Teksas” nama daerah itu. Katanya itu singkatan dari “tempat eksis anak smasa (SMA 1)”, tapi bagiku, "Eksis engga, menakutkan iya." Ada 3 kelas dan 1 laboratorium di sana. Horor juga ruang-ruang itu.
Sungguh di luar dugaan. Selama ini ternyata hanya reputasinya yang baik, gedungnya sedikit menyedihkan. masih bagus bagunannya SMA 3. Tapi ya sudahlah, terlanjur masuk.
Sequence Pertama: Karma
Aku mulai sequence hidup di sekolah ini dengan biasa saja. Tak ada yang spesial. Tapi yang sedikit aku sayangkan, ternyata aku memulainya dengan menjadi penghuni Teksas. Sungguh aku tak menyangka. Kalau aku sebut teksas itu sedikit menyedihkan, maka orang-orang yang “terjebak” didalamnya juga sdikit menyedihkan. Aku ini adalah bagian dari orang-orang sedikit menyedihkan itu. Kesannya sedikit termarjinalkan. Aku dimasukan di salah satu kelas di dalam teksas. Kelasnya X-7.
Sebuah pelajaran secara sederhana aku simpulkan. Jangan pernah mencibir atau mengumpat sesuatu hal, karena bisa saja kau nanti jadi bagian hal yang kau cibir itu. Inikah karma? Entahlah.
Aku lewati masaku pada tahun pertama dengan sungguh tak berima. Datar saja. bahkan sedikit menyebalkan. Aku tak bertaji. Tak ada kontribusi. Padahal usia muda itu kesempatannya banyak.
Meski demikian, bagaimanapun gedungnya, SMA-ku ini tetap yang terbaik. Aku berhutang budi pada SMA ini begitu banyak. Aku diberi kesempatan untuk mengenyam pendidikan menengah atas terbaik di kotaku. Aku dihadapkan dengan guru-guru berkualitas meski pembawaannya sedikit menjengkelkan, kadang malah bikin bosan. Dan tentunya, aku dapatkan teman-teman yang sungguh luar biasa. Teman-teman yang menjadi keluarga keduaku.
Sequence Kedua: Bunderan HI
Setelah menyelesaikan tahun pertamaku dengan begitu membosankan, aku akhirnya juga bisa melarikan diri dari cengkeraman teksas yang selalu membuatku tak nyaman. Akhirnya aku hengkang dari rumah hantu sialan itu. Aku akhirnya naik kelas dua.
Aku dapatkan kelas yang jauh lebih lumayan. Kelas XI-IA 6. Tempatnya terang. Di depannya ada taman tua yang dibatasi kolam melingkar. Tak ada airnya nan terkesan kotor. Itu adalah area yang sering disebut bunderan HI (Hotel Indonesia). Aku tak yakin setiap anak di SMA itu pernah melihat bunderan HI yang sebenarnya. Tapi mengapa mereka sebut bunderan HI? Misteri.
Berharap mendapatkan suasana kelas yang lebih baik, ternyata aku dimasukkan dalam kelas yang anak-anaknya super-individual. Tak mau tahu urusan orang lain. Ini bencana keduaku. Setelah lama aku menghuni “rumah hantu”, kini aku menghadapi anak-anak yang menyebalkan. Sampai-sampai beberapa guru bilang kalau kami ini meski sekelas, tapi punya gab. Kelas yang berlagak akur tapi menyimpan keretakan yang sangat potensial di dalam. Semu nan membahayakan.
Memang beberapa teman telah bisa menyatu, tapi tetap berkelompok-kelompok. Tak ada sinkronisasi dan harmonisasi. Aku sendiri tak paham apa yang jadi sebabnya. Terasa saja. Kau pasti pernah merasa di mana suatu suasana yang tak ada kosa kata untuk menjelaskannya. Kelas yang membosankan. Bagaimana tidak? Hampir satu tahun tak ada kesamaan visi dan persepsi.
Sequence Ketiga: Integrasi Rolasipasiji
Ketika naik kelas tiga, aku dikejutkan oleh keputusan dewan guru yang tak mengacak kelas layaknya tahun sebelumnya. Kau tahu kan maksudnya? Aku akan melanjutkan masa terakhirku, di kelas yang paling membosankan itu. memang namanya berubah. Menjadi XII-IA 1. Tapi tetap saja isinya. Aku tak bisa apa-apa. Ya sudahlah, jalani saja. Sambil aku berdoa agar kelas ini berubah.
Dan ternyata tuhan menjawab doaku. Aku tak paham kenapa Ia mengabulkannya. Maklum, aku ini bukan anak yang relijius-relijius amat. Perlahan ternyata keraguanku terkonfirmasi. Salah ternyata keraguanku. Dengan komposisi yang sama, ternyata kelas ini mulai berintegrasi. Mulai muncul keharmonisan antar anggota kelasnya. Mungkin juga karena kami mendapatkan wali kelas yang cukup tegas tapi sedikit membuat kami sekelas mencekam. Apa mungkin karena kesamaan rasa tercekam itu kelas kami jadi harmonis? Entahlah.
Kami mulai familiar dengan jalan-jalan bersama. Kami sekelas sempat bersepeda bersama ke candi terkenal di kotaku. Kami semakin akur saja. Semuanya jadi kompak. Ketika bulan ramadhan, kami sekelas mengadakan buka puasa bersma, meski tak semua muslim. Ketua kelas kami pun bukan muslim.
Kami kemudian mndeklarasikan diri menjadi sebuah kelompok massa yang sedikit konyol. Kami menyebut diri “Rolasipasiji”. Itu gabungan dari Rolas Ipa Siji. Bahasa jawa dari dua belas ipa satu (XII-IA 1).
Main Kartu
Tapi jangan dikira kekompakan itu selalu positif. Kekompakan kelasku juga punya sisi negatif. Inilah dunia, segalanya seimbang. Ada yang positif dan negatif. Yang baik dan yang buruk.
Kami sekelas sering berkomplot untuk menciptakan cara-cara jitu ngrepek alias menyontek. Jangan salah. Solidaritas kelas kami sangat kuat, tapi mungkin sedikit kebablasan. Puncak kegilaan kelas kami adalah saat UAN.
Saat pra UAN, kami sekelas malah menghabiskan waktu dengan main kartu. Kami main dua kartu. Poker dan UNO. Kami sering membuat forum kecil-kecilan. Bukan berdiskusi, tapi main kartu.
Dan puncak solidaritas gila ini adalah terciptanya sistem kerjasama bersama sukses UAN. Namanya bagus, tapi hakikatnya adalah sistem contekan masal. Anak yang pintar bertugas menyebarkan jawaban pada yang lain. Ketika satu siswa telah mendapat jawaban, maka ia bertugas menyebarkan ke yang lain. Apa medianya? SMS. Karena soalnya multiple choice, maka sangat mudah untuk eksekusi program underground ini. Hanya cukup satu sms buat seluruh jawaban tiap pelajaran.
Memang ini tak baik, tapi kami tak punya pilihan lain. UAN yang hanya 3 hari itu menentukan proses belajar kami selama 3 tahun. Pilihannya cuma dua saat itu. Lulus atau tidak. Tak ada kompromi macam-macam. Kalau lulus ya jalan terus, kalau tidak ya kalau tetep ingin lulus terhormat berarti mengulang satu tahun atau ambil paket C. Dilematis bukan?
Tuhan Bersabar
Kami dihadapkan oleh pilihan sulit. Maka, kami bertekad, kalau lulus, ya harus semuanya. Tak boleh ada yang tertinggal. Memang kami akui itu tak baik dan sungguh tak pantas dicontoh. Itu idealnya. Tapi kami terbentur keadaan. Kalau Kau bilang kami ini tak tahu aturan, maka kami akan jawab terima kasih mengingatkan.
Kali itu mungkin Tuhan masih bersabar. Dia menitipkan sedikit nikmatnnya pada kami. Dua tahun silam, 2008, kami sekelas lulus semua. Juga seluruh siswa SMA, sekolahku lulus 100%.
Aku kini telah hengkang dari SMA-ku itu. Aku juga tak lagi di kotaku itu. Aku merantau ke sebuah tempat di mana bunderan HI berada. Akhirnya aku melihat sendiri bunderan HI itu seperti apa. Tapi aku tak akan pernah lupa akan masaku yang kulalui di sana, di SMA itu. Karena masa itulah, aku jadi seperti saat ini.
Beberapa hari lalu aku menilik sekolahku itu. Mumpung lagi libur kuliah. Aku tak dapati lagi gedung itu seperti dulu. Ia sekarang lebih baik. Tanah-tanahnya mulai tertata. Beberapa bagian telah dipaving. Taman-taman juga tertata rapi. Sudah nampak modern.
Kelas-kelas tua yang dulu, kini sudah berubah. Sekolah itu membuka program enris (enrichment) dan aksel (acceleration) yang membatasi jumlah siswa perkelasnya. Jumlahnya lebih sedikit dari yang reguler. Kelas itu dilengkapi AC dan proyektor. Yang jelas mahal tentu biayanya. Aku dikasih tahu kalau biayanya lima kali lipat dari yang aku dulu bayar.
Bagiku program ini sedikit mendikotomi, antara reguler dan program khusus. Hanya anak orang mampu yang bisa masuk. Pada kenyataannya memang demikian. Prestasi anak-anak "kelas khusus" itu, aku dengar, juga tak bagus-bagus amat. Tapi entahlah, aku tak terlalu mempedulikannya. Toh itu juga yang membuat sekolahku itu jadi lebih baik.
Sementara bunderan HI tetap kering. Taman tuanya tetap tua. Bagaimana dengan teksas?
Sudah lebih baik. Tanah daerah itu sudah di-paving. Tak ada lagi debu-debu sialan itu lagi. Sepatuku yang bersemir terbukti selamat. Lapangan basket telah dicat kembali, begitu juga ruang-ruang kelasnya. Sudah agak terang sekarang. Tapi aku tak tahu, masih ada aroma horor. Tak mau aku berlama-lama di sana.
Ah, sekolahku, sudah lebih baik. Apa jadinya tahun-tahun selanjutnya ya?
Tulisan ini, selain sebagai tulisan lepas, juga diikutsertakan Djarum Black Blog competition Vol. 2. Event ini diadakan oleh PT Djarum yang familiar komunitas-komunitas inovatif-nya seperti Black Car Community, Black Motor Community, dan Black Community.
Sunday, February 21, 2010
Hidup Bermanfaat
Bikinin gue contekan donk!
Eh ntar lo duduk deket gue ya, biar gue bisa nyontek!
Ayo donk kerjain tugas gue?
Ntar gue traktir sepuas lo! Mau ngga?
Memiliki teman dalam hidup ini adalah keniscayaan. Karena, kamu semua pasti tahu bahwa manusia memang makhluk sosial, yang tak bisa hidup sendirian. Manusia tidak akan bisa bertahan hidup bila hanya hidup sebatang kara. Lagipula kenyataannya, hidup sendirian memang tidak nyaman. Sepi banget….
Muhammad pernah megatakan bahwa sebaik-baik manusia adalah yang bermanfat bagi yang lain. Tentu saja bermanfaat yang dimaksudnya adalah dalam hal positif. Kehadiran seorang teman memberikan kita tempat untuk saling bertukar pikiran.
Ketika kita menghadapi masalah, maka teman pun bisa menjadi tempat kita mencari solusi. Begitupun sebaliknya. Ketika teman kita dihadapkan pada sebuah masalah, maka alangkah bijak bila kita mau menolongnya dengan senang hati. Sungguh hidup akan nyaman untuk dijalani bila keadaan seperti ini. Tiap orang akan menghargai satu sama lain.
Ketika kita menghadapi kesulitan dalam belajar, maka teman pun bisa diandalkan. Saling berdiskusi mencari jawaban adalah hal yang sangat mulia. Harus kita sadari bahwa ilmu itu bukan kita saja yang punya. Maka, sharing ilmu pun bisa dilakukan dalam pertemanan. Ilmu kita nambah, ilmu teman kita juga nambah. Inilah hidup yang saling bermanfaat. Pertemanan pun menjadi ladang belajar bagi kita.
Namun, coba kamu lihat perckapan diatas. Percakapan itu menunjukkan bahwa itu adalah wujud kesalahpahaman pemuda dalam menghayati pertemanan mereka. Mereka menjadikan pertemanan menjadi ladang kecurangan. Sudah salah kaprah. Masa teman suruh buatin contekan?
Nah, sebenarnya di sini masalahnya. Kalau sudah menjadi teman, terus ada yang seperti itu, sebagian besar pasti bingung. Mau jawab iya, ntar dosa…Mau jawab ngga ntar dikirain ngga setia…ya ngga? ‘Kan sebaiknya kita bermanfaat bagi yang lain? Akan tetapi pertanyaannya apakah hal itu bisa disebut manfaat.
Menghadapi masalah seperti ini tentu saja bukan hal yang mudah. Kita akan merasa sungkan untuk meolaknya. Nah, di sinilah seharusnya kita bersikap asertif. Maksudnya, sungkan kita harus ada batasnya. Kita juga harus sadar bahwa kegiatan-kegiatan seperti ngebuatin contekan, ngerjain tugas temen itu sekali-kali bukan manfaat. Mungkin ya dia dapat nilai baik, tapi kan otak dia tetep ngga jalan.
Bersikap asertif itu, menurut Parlindungan Marpaung, pertama mempertahankan hak sendiri dengan tidak mengorbankan hak orang lain. Teman kita juga punya hak untuk pintar masa kita mau membiarkannya bodoh dengan membiarkan dia malas-malasan?
Kedua, mengekspresikan keinginan, pendapat, dan keyakinan secara langsung. Kalau setuju ya setuju kalau ngga ya ngga. Jadi orang itu punya prinsip dan bukannya jadi “yes men” yang tiap kali dimintai tolong apapun hanya bisa bilang “ya”dan “ya”. Ya kalau dimintai tolong untuk membantu penanganan bencana ya tidak apa-apa, tapi kalau dimintai tolong buatin tugas, atau ngerjain tugas orang, ya jangan lah.
Yang harus kita lakukan adalah membimbingya, ajak mereka belajar bareng. Kalaupun dia tetap mendapat hasil yang kurang baik, ya masa kesuksesan hanya dinilai dari situ? Kan ngga… Kita harus bisa memilah mana yang baik dan mana yang buruk, mana yang putih dan mana yang hitam.
Akhirnya kita hrus bisa menjadikan diri kita bermanfaat bagi yang lain. Siapapun akan nyaman berada di samping kita. Namun arti bermanfaat jangan disalah-artikan. Bermanfaat itu ya dalam hal positif. Saya pikir alangkah damaianya hidup ini bila kita menjadikan hidup hanya untuk menebar manfaat bagi yang lain.
Baca juga tulisan ini di Kompasiana-ku
Tulisan ini, selain sebagai tulisan lepas, juga diikutsertakan Djarum Black Blog competition Vol. 2. Event ini diadakan oleh PT Djarum yang familiar dengan program inovasinya Blackinovationawards dan Black Community.
*sumber gambar bisa diklik langsung pada gambanrnya (www.kapanlagi.com)
Eh ntar lo duduk deket gue ya, biar gue bisa nyontek!
Ayo donk kerjain tugas gue?
Ntar gue traktir sepuas lo! Mau ngga?
Memiliki teman dalam hidup ini adalah keniscayaan. Karena, kamu semua pasti tahu bahwa manusia memang makhluk sosial, yang tak bisa hidup sendirian. Manusia tidak akan bisa bertahan hidup bila hanya hidup sebatang kara. Lagipula kenyataannya, hidup sendirian memang tidak nyaman. Sepi banget….
Muhammad pernah megatakan bahwa sebaik-baik manusia adalah yang bermanfat bagi yang lain. Tentu saja bermanfaat yang dimaksudnya adalah dalam hal positif. Kehadiran seorang teman memberikan kita tempat untuk saling bertukar pikiran.
Ketika kita menghadapi masalah, maka teman pun bisa menjadi tempat kita mencari solusi. Begitupun sebaliknya. Ketika teman kita dihadapkan pada sebuah masalah, maka alangkah bijak bila kita mau menolongnya dengan senang hati. Sungguh hidup akan nyaman untuk dijalani bila keadaan seperti ini. Tiap orang akan menghargai satu sama lain.
Ketika kita menghadapi kesulitan dalam belajar, maka teman pun bisa diandalkan. Saling berdiskusi mencari jawaban adalah hal yang sangat mulia. Harus kita sadari bahwa ilmu itu bukan kita saja yang punya. Maka, sharing ilmu pun bisa dilakukan dalam pertemanan. Ilmu kita nambah, ilmu teman kita juga nambah. Inilah hidup yang saling bermanfaat. Pertemanan pun menjadi ladang belajar bagi kita.
Namun, coba kamu lihat perckapan diatas. Percakapan itu menunjukkan bahwa itu adalah wujud kesalahpahaman pemuda dalam menghayati pertemanan mereka. Mereka menjadikan pertemanan menjadi ladang kecurangan. Sudah salah kaprah. Masa teman suruh buatin contekan?
Nah, sebenarnya di sini masalahnya. Kalau sudah menjadi teman, terus ada yang seperti itu, sebagian besar pasti bingung. Mau jawab iya, ntar dosa…Mau jawab ngga ntar dikirain ngga setia…ya ngga? ‘Kan sebaiknya kita bermanfaat bagi yang lain? Akan tetapi pertanyaannya apakah hal itu bisa disebut manfaat.
Menghadapi masalah seperti ini tentu saja bukan hal yang mudah. Kita akan merasa sungkan untuk meolaknya. Nah, di sinilah seharusnya kita bersikap asertif. Maksudnya, sungkan kita harus ada batasnya. Kita juga harus sadar bahwa kegiatan-kegiatan seperti ngebuatin contekan, ngerjain tugas temen itu sekali-kali bukan manfaat. Mungkin ya dia dapat nilai baik, tapi kan otak dia tetep ngga jalan.
Bersikap asertif itu, menurut Parlindungan Marpaung, pertama mempertahankan hak sendiri dengan tidak mengorbankan hak orang lain. Teman kita juga punya hak untuk pintar masa kita mau membiarkannya bodoh dengan membiarkan dia malas-malasan?
Kedua, mengekspresikan keinginan, pendapat, dan keyakinan secara langsung. Kalau setuju ya setuju kalau ngga ya ngga. Jadi orang itu punya prinsip dan bukannya jadi “yes men” yang tiap kali dimintai tolong apapun hanya bisa bilang “ya”dan “ya”. Ya kalau dimintai tolong untuk membantu penanganan bencana ya tidak apa-apa, tapi kalau dimintai tolong buatin tugas, atau ngerjain tugas orang, ya jangan lah.
Yang harus kita lakukan adalah membimbingya, ajak mereka belajar bareng. Kalaupun dia tetap mendapat hasil yang kurang baik, ya masa kesuksesan hanya dinilai dari situ? Kan ngga… Kita harus bisa memilah mana yang baik dan mana yang buruk, mana yang putih dan mana yang hitam.
Akhirnya kita hrus bisa menjadikan diri kita bermanfaat bagi yang lain. Siapapun akan nyaman berada di samping kita. Namun arti bermanfaat jangan disalah-artikan. Bermanfaat itu ya dalam hal positif. Saya pikir alangkah damaianya hidup ini bila kita menjadikan hidup hanya untuk menebar manfaat bagi yang lain.
Baca juga tulisan ini di Kompasiana-ku
Tulisan ini, selain sebagai tulisan lepas, juga diikutsertakan Djarum Black Blog competition Vol. 2. Event ini diadakan oleh PT Djarum yang familiar dengan program inovasinya Blackinovationawards dan Black Community.
*sumber gambar bisa diklik langsung pada gambanrnya (www.kapanlagi.com)
Be a Good Listener! (2)
Dalam bab sebelumnya saya menulis tentang bagaimana menjadi pendengar yang baik. Nah, kali ini judulnya ngga beda. Jadi, apa lagi?
Eh gue tu seneng banget kalau ngomong sama kamu..
Gue tu ngerasa apapun yang gue ceritain tu solusinya ada di elu….
Percakapan semacam tentu pernah kita temui, meski kadang-kadang. Percakapan tersebut muncul ketika kita telah memandang sesorang adalah teman bicara yang memang produktif. Artinya ketika masalah yang kita ceritakan, maka feedback yang muncul darinya adalah solusi. Ketika prestasi yang kita sampaikan, maka ucapan selamat yang tulus adalah responnya.
Nah, menjadi lawan bicara seperti ini memang sulit. Sulit banget! Saya dan Kamu pun belum tentu masuk kategori seperti itu. Kalau begitu mari belajar bersama-sama mengenai hal ini.
Membuat orang lain merasa nyaman adalah hal yang sangat mulia. Setuju ngga? Salah satu caranya adalah denagn bersikap sangat respect ketika mendengaran orang lain berbicara. ini saya sayai sulit untuk dilakukan. Talking is very easy but listening is really hard. Susahnya bukan bagaimana kita memberi feedback atas apa yang diucapkan lawan bicara, tetapi bagaimana menjaga agar feedback itu punya nilai apresiasi (penghargaan) ataupn solusi (pemecahan).
Masalah utama adalah sifat dasar manusia yang egois. Maunya menang sendiri, pokonya ‘dunia ini harus jadi milik gue’. Diakui atau tidak, mengakui keberhasilan orang lain itu susahnya minta ampun. Seringkali yang muncul adalah terangisme seperti yang saya utarakan pada bab sebelumnya. Intinya egois itu susah lihat orang senang senang lihat orang susah.
Begitu juga saat kita menjadi pendengar. Kalau kita mengikuti sifat egois tadi maka feedback yang muncul hanyalah menambah masalah baik diri kita sendiri maupun lawan biara. Teman menyampaikan keberhasilannya menjuari lomba, boro-boro, ngasih apresiai, yang muncul dari kita malah terangisme. “Terang aja elu kan main belakng, terang aja elu kan anak kesayangan dosen…” Terus, teman bersedih karena kehilangan uang, kita malah ngakak ngga jelas, “Ha..ha..ha tau rasa lo….!” Sekan merasa puas atas kesusahan teman.
Inilah yang disebut YW Junardy bahwa "talk is the activity of the mouth, listening is the activity of the heart". Mendengarkan bukanlah hanya pekerjaan telinga. Akan tetapi, hati kitalah yang seharusnya bekerja. Ini berarti kalau feedback yang kita berikan buruk, ya berarti hati kita yang ngga jelas, alias ada yang ngga beres. Akan tetapi bila feedback yang kita berikan apresiatif dan solutif, maka inilah wujud dari hati kita yang bersih. Tak ada rasa iri dengki yang menyelimutinya.
Aa Gym sering megilustrasikan manusia sebagai teko. Kalau teko isinya kopi ya yang keluar kopi, kalau dalamnya es jus ya keluar es jus. Manusia dan hatinya bak teko dengan isinya. Apa yang keluar dari mulutnya, itulah yang ada dalam hatinya. Hati cerah, kata-kata pun cerah, hati lembut, kata-kata pun ikut lembut.
Maka dari itu, menjaga hati adalah hal yang patut untuk kita prioritaskan. Hati bersih, kata-kata pun bersih. Lawan bicara tak akan risih.
Kita akan nyaman dengan kehidupan kita sendiri , orang lain pun akan senang ketika kita berada disampingnya. Bahkan, mungkin akan mencari kita ketika kita telah tidak ada disampingnya lagi.
Baca juga tulisan ini di Kompasiana-ku
Tulisan ini, selain sebagai tulisan lepas, juga diikutsertakan Djarum Black Blog competition Vol. 2. Event ini diadakan oleh PT Djarum yang familiar dengan program inovasinya Blackinovationawards dan Black Community.
*sumber gambar bisa diklik langsung pada gambanrnya (www.getentrepreneurial.com)
Eh gue tu seneng banget kalau ngomong sama kamu..
Gue tu ngerasa apapun yang gue ceritain tu solusinya ada di elu….
Percakapan semacam tentu pernah kita temui, meski kadang-kadang. Percakapan tersebut muncul ketika kita telah memandang sesorang adalah teman bicara yang memang produktif. Artinya ketika masalah yang kita ceritakan, maka feedback yang muncul darinya adalah solusi. Ketika prestasi yang kita sampaikan, maka ucapan selamat yang tulus adalah responnya.
Nah, menjadi lawan bicara seperti ini memang sulit. Sulit banget! Saya dan Kamu pun belum tentu masuk kategori seperti itu. Kalau begitu mari belajar bersama-sama mengenai hal ini.
Membuat orang lain merasa nyaman adalah hal yang sangat mulia. Setuju ngga? Salah satu caranya adalah denagn bersikap sangat respect ketika mendengaran orang lain berbicara. ini saya sayai sulit untuk dilakukan. Talking is very easy but listening is really hard. Susahnya bukan bagaimana kita memberi feedback atas apa yang diucapkan lawan bicara, tetapi bagaimana menjaga agar feedback itu punya nilai apresiasi (penghargaan) ataupn solusi (pemecahan).
Masalah utama adalah sifat dasar manusia yang egois. Maunya menang sendiri, pokonya ‘dunia ini harus jadi milik gue’. Diakui atau tidak, mengakui keberhasilan orang lain itu susahnya minta ampun. Seringkali yang muncul adalah terangisme seperti yang saya utarakan pada bab sebelumnya. Intinya egois itu susah lihat orang senang senang lihat orang susah.
Begitu juga saat kita menjadi pendengar. Kalau kita mengikuti sifat egois tadi maka feedback yang muncul hanyalah menambah masalah baik diri kita sendiri maupun lawan biara. Teman menyampaikan keberhasilannya menjuari lomba, boro-boro, ngasih apresiai, yang muncul dari kita malah terangisme. “Terang aja elu kan main belakng, terang aja elu kan anak kesayangan dosen…” Terus, teman bersedih karena kehilangan uang, kita malah ngakak ngga jelas, “Ha..ha..ha tau rasa lo….!” Sekan merasa puas atas kesusahan teman.
Inilah yang disebut YW Junardy bahwa "talk is the activity of the mouth, listening is the activity of the heart". Mendengarkan bukanlah hanya pekerjaan telinga. Akan tetapi, hati kitalah yang seharusnya bekerja. Ini berarti kalau feedback yang kita berikan buruk, ya berarti hati kita yang ngga jelas, alias ada yang ngga beres. Akan tetapi bila feedback yang kita berikan apresiatif dan solutif, maka inilah wujud dari hati kita yang bersih. Tak ada rasa iri dengki yang menyelimutinya.
Aa Gym sering megilustrasikan manusia sebagai teko. Kalau teko isinya kopi ya yang keluar kopi, kalau dalamnya es jus ya keluar es jus. Manusia dan hatinya bak teko dengan isinya. Apa yang keluar dari mulutnya, itulah yang ada dalam hatinya. Hati cerah, kata-kata pun cerah, hati lembut, kata-kata pun ikut lembut.
Maka dari itu, menjaga hati adalah hal yang patut untuk kita prioritaskan. Hati bersih, kata-kata pun bersih. Lawan bicara tak akan risih.
Kita akan nyaman dengan kehidupan kita sendiri , orang lain pun akan senang ketika kita berada disampingnya. Bahkan, mungkin akan mencari kita ketika kita telah tidak ada disampingnya lagi.
Baca juga tulisan ini di Kompasiana-ku
Tulisan ini, selain sebagai tulisan lepas, juga diikutsertakan Djarum Black Blog competition Vol. 2. Event ini diadakan oleh PT Djarum yang familiar dengan program inovasinya Blackinovationawards dan Black Community.
*sumber gambar bisa diklik langsung pada gambanrnya (www.getentrepreneurial.com)
Saturday, February 20, 2010
Be a Good Listener!
Eh kamu tu denger ngga sih yang aku omongin?
Kamu ngerti ngga sih? Aku ini bla..bla..bla….
Ucapan di atas sering saya alami. Bentuknya sih ngga persis-persis amat, tapi ya genre-nya seperti itu. Kadang saya sendiri yang mengucapkan, tetapi sering kali teman saya yang mengucapkannya kepada saya. Kamu sudah mengerti kan maksudnya……saya bukan pendengar yang baik. Yup, kali ini saya ingin sharing masalah bagaimana menjadi ‘Pendengar yang Baik’. Ini umumnya untuk para pembaca tetapi khususon bin specially untuk saya sendiri.
Saat berkomunikasi, baik itu sedang ngobrol, bercengkrama, atau berdiskusi (perasaan semua sama aja deh) terjadi interaksi interpersonal antara dua pihak. Interaksi ini jelas membutuhkan stimulus maupun feedback cepat dari masing-masing pihak. Kasarannya itu nyambung. Stimulus adalah pembuka interaksi tersebut.
Sebelum feedback muncul, ada proses yang dinamakan listening atau mendengarkan, bahasa jawanya ngerungokke. Menjadi pendengar yang baik akan mejaga kelangsungan interaksi yang terjadi. Nah, biar ungkapan diujung awal tulisan ini ngga ujug-ujug keluar, maka menjadi pendengar yang baik itu sangat sangat diperlukan, bukan hanya dari satu pihak, tetapi kedua-duanya.
Seperti yang saya sampaikan sebelumnya, saya itu bukan pendengar yang baik. Saya tidak tahu Kamu bagaimana. Apapun saya maupun Kamu, menjadi pendengar yang baik dalam berkomunikasi adalah harga mati.
Menjadi pendengar memang susah. Pinginnya kita itu talk talk talk doang. Tapi memang harus disadari, talk alias ngomong doang tidak akan memberi solusi. Kita butuh saran dan kritik dari lawan bicara kita. Nah, satu-satunya cara terbaik adalah menjadi good listener (pendengar yang baik).
Menjadi good listener itu ada ilmunya. Pertama, menunjukkan empati. Pembaca yang terhormat, empati itu berbeda dengan simpati. Kalau simpati itu hanya sebatas mengerti (ikut serta merasakan) perasaan orang lain, tetapi empati itu lebih. Di samping mengerti, empati juga berisi respon verbal yang riil. Jadi kalau pas ngobrol, teman Kamu itu sedih, selain Kamu bisa mengerti perasaannya, Kamu juga harus bisa menunjukkan mimik yang sedih, bukan malah tertawa dan ikut-ikutan slogan di sebuah iklan rokok, Susah liat orang senang, senang liat orang susah.
Kedua, menunjukkan ketertarikan. Lawan bicara akan BT kalau Kamu tidak tertarik. Jadi, sambutlah apa yang lawan bicara sampaikan dengan antusias. Tetapi, kalau memang omongannya udah ngalor ngidul,ya mohon undur diri saja.
Terakhir, menunjukkan pengertian. Feedback yang Kamu berikan itu haruslah sesuai dengan topik pembicaraan. Sekali lagi, kasarannya nyambung. Dengan begitu, si lawan bicara akan merasa dihargai. Kalau memang tidak mengerti, ya bilang saja kalau belum mengerti , toh pasti lawan bicara mau mengulangi. Kan ini bukan radio.
Sepertinya dari tadi tulisan ini seperti memojokkan kita ya…? Seakan-akan kita saja yang harus mengerti. Namun, menurut hemat saya, menunjukkan pengertian lebih dahulu itu lebih mulia dan lebih bijak. Mengertilah diri sendiri sebelum mengerti orang lain.
Baca juga tulisan ini di Kompasiana-ku
Tulisan ini, selain sebagai tulisan lepas, juga diikutsertakan Djarum Black Blog competition Vol. 2. Event ini diadakan oleh PT Djarum yang familiar dengan program inovasinya Blackinovationawards dan Black Community.
*sumber gambar bisa diklik langsung pada gambanrnya (freespirit.com)
Kamu ngerti ngga sih? Aku ini bla..bla..bla….
Ucapan di atas sering saya alami. Bentuknya sih ngga persis-persis amat, tapi ya genre-nya seperti itu. Kadang saya sendiri yang mengucapkan, tetapi sering kali teman saya yang mengucapkannya kepada saya. Kamu sudah mengerti kan maksudnya……saya bukan pendengar yang baik. Yup, kali ini saya ingin sharing masalah bagaimana menjadi ‘Pendengar yang Baik’. Ini umumnya untuk para pembaca tetapi khususon bin specially untuk saya sendiri.
Saat berkomunikasi, baik itu sedang ngobrol, bercengkrama, atau berdiskusi (perasaan semua sama aja deh) terjadi interaksi interpersonal antara dua pihak. Interaksi ini jelas membutuhkan stimulus maupun feedback cepat dari masing-masing pihak. Kasarannya itu nyambung. Stimulus adalah pembuka interaksi tersebut.
Sebelum feedback muncul, ada proses yang dinamakan listening atau mendengarkan, bahasa jawanya ngerungokke. Menjadi pendengar yang baik akan mejaga kelangsungan interaksi yang terjadi. Nah, biar ungkapan diujung awal tulisan ini ngga ujug-ujug keluar, maka menjadi pendengar yang baik itu sangat sangat diperlukan, bukan hanya dari satu pihak, tetapi kedua-duanya.
Seperti yang saya sampaikan sebelumnya, saya itu bukan pendengar yang baik. Saya tidak tahu Kamu bagaimana. Apapun saya maupun Kamu, menjadi pendengar yang baik dalam berkomunikasi adalah harga mati.
Menjadi pendengar memang susah. Pinginnya kita itu talk talk talk doang. Tapi memang harus disadari, talk alias ngomong doang tidak akan memberi solusi. Kita butuh saran dan kritik dari lawan bicara kita. Nah, satu-satunya cara terbaik adalah menjadi good listener (pendengar yang baik).
Menjadi good listener itu ada ilmunya. Pertama, menunjukkan empati. Pembaca yang terhormat, empati itu berbeda dengan simpati. Kalau simpati itu hanya sebatas mengerti (ikut serta merasakan) perasaan orang lain, tetapi empati itu lebih. Di samping mengerti, empati juga berisi respon verbal yang riil. Jadi kalau pas ngobrol, teman Kamu itu sedih, selain Kamu bisa mengerti perasaannya, Kamu juga harus bisa menunjukkan mimik yang sedih, bukan malah tertawa dan ikut-ikutan slogan di sebuah iklan rokok, Susah liat orang senang, senang liat orang susah.
Kedua, menunjukkan ketertarikan. Lawan bicara akan BT kalau Kamu tidak tertarik. Jadi, sambutlah apa yang lawan bicara sampaikan dengan antusias. Tetapi, kalau memang omongannya udah ngalor ngidul,ya mohon undur diri saja.
Terakhir, menunjukkan pengertian. Feedback yang Kamu berikan itu haruslah sesuai dengan topik pembicaraan. Sekali lagi, kasarannya nyambung. Dengan begitu, si lawan bicara akan merasa dihargai. Kalau memang tidak mengerti, ya bilang saja kalau belum mengerti , toh pasti lawan bicara mau mengulangi. Kan ini bukan radio.
Sepertinya dari tadi tulisan ini seperti memojokkan kita ya…? Seakan-akan kita saja yang harus mengerti. Namun, menurut hemat saya, menunjukkan pengertian lebih dahulu itu lebih mulia dan lebih bijak. Mengertilah diri sendiri sebelum mengerti orang lain.
Baca juga tulisan ini di Kompasiana-ku
Tulisan ini, selain sebagai tulisan lepas, juga diikutsertakan Djarum Black Blog competition Vol. 2. Event ini diadakan oleh PT Djarum yang familiar dengan program inovasinya Blackinovationawards dan Black Community.
*sumber gambar bisa diklik langsung pada gambanrnya (freespirit.com)
Friday, February 19, 2010
Berbagi Manfaat Meraih Beasiswa
Aku memang tak punya pengalaman berharga yang bisa dibagi-bagi. Tapi aku usahakan untuk membagikan apa yang aku alami, meski klise tapi aku harap bermanfaat.
Saat itu aku tak menyangka ada seorang teman yang meng-add Fb-ku. Tak ada mutual friend, artinya ia meng-add aku tanpa referensi. Bagiku ini agak aneh. Maka, aku tanya ia, setelah aku confirm, perihal asal usulnya.
Ternyata ia adalah anak dari pulau yang berbeda. Ia katakan kalau ia ingin sekali mendapatkan beasiswa. Ia meminta tips-tips dariku. Akupun berbesar hati memberinya tips. Kebetulan aku berhasil mendapatkan Paramadina Fellowship. Ini dia email yang aku kirim kepadanya. semoga juga memberi manfaat bagi yang lain.
ini suratku padanya.....
"it's my pleasure to recognize u guys, u'r welcome
oya kalau masalah beasiswa, memang masalah klasiknya adalah informasi. ya, informasi yang kita dapatkan minim. jadi tak punya referensi buat langkah kita. (hehe, serius mode: ON)
tapi ini aku share pengalamanku, moga ngga buat kamu kira aku sombong.
aku dulu ya cari2 info beasiswa gt, karena PMDK aku di UI ditolak. kecewa berat dunk. TT
lalu akhirnya alternatif harus kuambil. ya cari beasiswa. lalu aku dapat dua info, paramadina fellowship n sampoerna foundation.
nah, ya aku download form-nya. terus aku isi sesuai apa yang diperintahkan.
nah, alhamdulilah aku diterima di kedua beasiswa itu, dan seharusnya kl aku dulu ngambil yang sampoerna, aku sekarang kul di Unpad. hehe, tapi kata hatiku ngga usah ke sana, ke paramadina aja.
nah, kal masalah tipsnya, aku dapat dari guruku.
beliau sealu bilang, untuk surat rekomendasi, minta dari guru atau tokoh masyarakat yang memang dekat dan kenal baik dengan kita. penilaiannyakan ananti tentu jauh lebih obyektif daripada yang lain.
jangan kita minta ke kepala sekolah, tapi kita ketemu ama beliau aja cuma sekali dalam satu semester.
terus untuk esainya, kita buat sesuai tema. tapi, apa yang kita tulis itu bukan pengalaman semata, lalu dibumbui dengan keluh kesah. tapi kita harus sajikan juga data, fakta, dan mimpi2 kita.
kita harus yakinkan pemberi beasiswa kalo kita punya mimpi dan dengan kita akan sampai ke mimpi2 kita itu, salah satunya lewat program beasiswa itu.
yang paling penting di awal itu, buat dokumen aplikasi yang akan kita kirim meyakinkan tim panel. isi dengan sebaik-baiknya. tentunya tetap obyektif. ini akan menjamin kelulusan kita untuk tahap pertama.
tahap kedua adalah wawancara. ketangkasan dalam menjawab adalah kuncinya. itu saja. not more or less. tapi yang perlu diperhatikan, pertanyaan pertama itu kiranya, sesuai pengalamnku, adalah "ceritakan tentang dirimu?". itu kunci awal gerbang kesusesa. gagal menjawab pertanyaan itu, aku kira, kemungkinan lolos juga lebih kecil.
siapa sih yang tahu tentang diri kita kalau bukan diri kita sendiri? kita sebenarnya tahu, tapi karena tak terbiasa mengungkapkannya,jadinya ya "kagok". kayak ada kayu yang nyangkut ditenggorokan.
bebas saja mengungkapkannya. ceritakan apa adanya. punya prestasi ya diceritakan, pernah gagal ya diceritakan. feel free saja.
mungkin itu saja Win. oya aku hanya punya dua informasi beasiswa, Paramadina fellowship (http://www.paramadina.ac.id/) dan sampoerna foundation (www.sampoernaeducation.ac.id). coba saya apply di dua program itu. Sistem pendaftaran hampir sama.
semoga sukses win. maaf, hehe, ngmengnya kayak sok pinter. semoga bermanfaat tulisan ini. salam"
Saat itu aku tak menyangka ada seorang teman yang meng-add Fb-ku. Tak ada mutual friend, artinya ia meng-add aku tanpa referensi. Bagiku ini agak aneh. Maka, aku tanya ia, setelah aku confirm, perihal asal usulnya.
Ternyata ia adalah anak dari pulau yang berbeda. Ia katakan kalau ia ingin sekali mendapatkan beasiswa. Ia meminta tips-tips dariku. Akupun berbesar hati memberinya tips. Kebetulan aku berhasil mendapatkan Paramadina Fellowship. Ini dia email yang aku kirim kepadanya. semoga juga memberi manfaat bagi yang lain.
ini suratku padanya.....
"it's my pleasure to recognize u guys, u'r welcome
oya kalau masalah beasiswa, memang masalah klasiknya adalah informasi. ya, informasi yang kita dapatkan minim. jadi tak punya referensi buat langkah kita. (hehe, serius mode: ON)
tapi ini aku share pengalamanku, moga ngga buat kamu kira aku sombong.
aku dulu ya cari2 info beasiswa gt, karena PMDK aku di UI ditolak. kecewa berat dunk. TT
lalu akhirnya alternatif harus kuambil. ya cari beasiswa. lalu aku dapat dua info, paramadina fellowship n sampoerna foundation.
nah, ya aku download form-nya. terus aku isi sesuai apa yang diperintahkan.
nah, alhamdulilah aku diterima di kedua beasiswa itu, dan seharusnya kl aku dulu ngambil yang sampoerna, aku sekarang kul di Unpad. hehe, tapi kata hatiku ngga usah ke sana, ke paramadina aja.
nah, kal masalah tipsnya, aku dapat dari guruku.
beliau sealu bilang, untuk surat rekomendasi, minta dari guru atau tokoh masyarakat yang memang dekat dan kenal baik dengan kita. penilaiannyakan ananti tentu jauh lebih obyektif daripada yang lain.
jangan kita minta ke kepala sekolah, tapi kita ketemu ama beliau aja cuma sekali dalam satu semester.
terus untuk esainya, kita buat sesuai tema. tapi, apa yang kita tulis itu bukan pengalaman semata, lalu dibumbui dengan keluh kesah. tapi kita harus sajikan juga data, fakta, dan mimpi2 kita.
kita harus yakinkan pemberi beasiswa kalo kita punya mimpi dan dengan kita akan sampai ke mimpi2 kita itu, salah satunya lewat program beasiswa itu.
yang paling penting di awal itu, buat dokumen aplikasi yang akan kita kirim meyakinkan tim panel. isi dengan sebaik-baiknya. tentunya tetap obyektif. ini akan menjamin kelulusan kita untuk tahap pertama.
tahap kedua adalah wawancara. ketangkasan dalam menjawab adalah kuncinya. itu saja. not more or less. tapi yang perlu diperhatikan, pertanyaan pertama itu kiranya, sesuai pengalamnku, adalah "ceritakan tentang dirimu?". itu kunci awal gerbang kesusesa. gagal menjawab pertanyaan itu, aku kira, kemungkinan lolos juga lebih kecil.
siapa sih yang tahu tentang diri kita kalau bukan diri kita sendiri? kita sebenarnya tahu, tapi karena tak terbiasa mengungkapkannya,jadinya ya "kagok". kayak ada kayu yang nyangkut ditenggorokan.
bebas saja mengungkapkannya. ceritakan apa adanya. punya prestasi ya diceritakan, pernah gagal ya diceritakan. feel free saja.
mungkin itu saja Win. oya aku hanya punya dua informasi beasiswa, Paramadina fellowship (http://www.paramadina.ac.id/) dan sampoerna foundation (www.sampoernaeducation.ac.id). coba saya apply di dua program itu. Sistem pendaftaran hampir sama.
semoga sukses win. maaf, hehe, ngmengnya kayak sok pinter. semoga bermanfaat tulisan ini. salam"
Subscribe to:
Posts (Atom)




