Sunday, April 11, 2010
Aku Liberal?
Kacang goreng malam itu memang pas. Semakin malam sepertinya semakin merayu. Tapi aku sadar, rayuannya itu bila ditandingkan dengan waktu maka akan membuat grafik downward slope. Semakin malam, semakin menipis, akhirnya lenyap juga rayuannya. Tapi kopi sepertinya yang masih setia menemaniku bergayung sambut dengan temanku, Ikhwan.
Kami bercerita soal kampungku yang habis terkena bencana banjir. Tapi untungnya tak ada yang jadi korban jiwa. Ikhwan sendiri sore tadi baru pulang dari demonstrasi anti kekerasan di Palestina. Sebenarnya awalnya kami hanya bercanda, tapi entah apa, kami jadi berbicara soal yang dalam-dalam.
"Mad, aku lihat Indonesia ini tu udah banyak bencana. Kayaknya Allah itu marah! Buktinya, kampungmu saja dikasih bencana.." Ikhwan agak berkobar. Dalam hatiku, ah ada malaikat apa yang lewat ini? Tapi aku diam saja. Tapi dia masih berkobar.
"Sepertinya, Allah melaknat negeri ini!"
Suaranya memekik, menyengat. Tapi aku paham maksudnya, tapi tak terlalu. Aku bisa mengerti. Lagipula memang bencana selalu menyisakan sedih yang berperi.
"Ah, tahu dari mana, Akhi?"
"Eh, bukan gitu. Dalam agama itu jelas mana yang benar dan salah. Jadi tak ada kompromi. Hukum Allah harus ditegakkan."
Sepertinya aku salah langkah. Pertanyaanku yang tak genap sepuluh kata membuatnya makin semangat. Aku masih berusaha merendah. Aku hanya diam tak menanggapi. Aku sadar, kalau di teruskan, Ikhwan bisa menjadi-jadi. Bisa tak tidur malam ini aku. Sementara kopi di depanku menebar aroma harum. Aku seruput barang sedikit. Ah.. Nikmatnya, alhamdulillah.
"Mad, kau ‘kan muslim. Kau harus tegakkan agama Allah di bumi ini. Hukum Allah harus ditegakkan. Dedengkot-dedengkot kafir itu harus dimusnahkan! Orang-orang non-muslim itu, lakantullah alaih!!!"
Sekali lagi ia berkobar. Kali ini kupingku mulai panas. Suara itu menyengat kenyamananku. Aku berusaha tak peduli. Aku redakan panas hatiku dengan seruputan kopi lagi. Sruut...
"Eh, katanya kau itu muslim. Kenapa kau tak ikut demo tadi. Palestina itu saudara kita, Akhi Ahmad."
"Tadi di kampung ada selamatan dan doa bersama. Jadi aku ingin ikut juga meski di sini. Lagipula, tadi ibu menelpon. Katanya semua masih sehat." jawabku. Lagi pula, aku memang tak suka dengan demo-demo. Mending aku baca buku. Tambah pengetahuan. Bukan maksudku mengangap demo itu buruk. Tapi bagiku ada yang jauh lebih penting.
Sementara, Ikhwan masih berkoar, "Katanya ahlussunah wal-jamaah. Itu tak pernah dilakukan Rasul. Pakaianmu juga. Ini bukan sunnah. Bisa bid’ah, Akhi. Dan bid’ah itu sesat. Bisa jadi Akh Ahmad malah ahlul bid'ah, ngga jama'ah..."
Kali ini aku sudah tak tahan. Kuping dan kepalaku sudah panas. Aku sungguh tak suka dengan pernyataan itu. Tapi, aku masih coba redam diri. Sruuut..aku seruput kopi yang tinggal setengah.
"Akh, Ahmad, saudara kita di Palestina itu harus ditolong. Kalau bukan kita ini, siapa lagi. Sesama muslim itu saudara. Ini sunnah dan pesan Nabi..!"
Berkali-kali ia bilang sunnah Nabi. Seakan sudah tahu dan melihat Nabi dengan mata sendiri saja. Tapi panasnya kepalaku sudah tak tahan untuk membuncah. Kembang-kembang api seakan meletup-letup berkecamuk di kepalaku.
"Terus gimana ya, Akh?" aku masih merendah, tapi sungguh menahan-nahan.
"Akhi Ahmad harus kembali ke Al-Quran dan Sunnah. Yang dilakukan Akhi itu bid’ah!!!"
Nada tinggi darinya membuat letupan panas dikepalaku makin besar. Buncah kepeningan akhirnya pecah. Tapi aku upayakan suaraku tetap rendah.
"Akhi, kalau masalah demo, tak usahlah di besar-besarkan. Lagi pula, aku yakin bahwa konflik di sana bukan soal agama. Kan rebutan tanah. Jadi tak usah dihubung-hubungkan dengan agama kalau mau bantu mereka…" Suaraku rendah.
"Eh, Akhi ngga baca sirahnya? Jelas-jelas itu saudara kita seiman. Gimana Akhi ini!!!" jawab Ikhwan bernada tinggi. Tapi aku sadar tanggapan nada tinggi juga tak akan meredakan suasana yang mulai tak terkendali itu.
"Aku sudah baca ko', dan memang bukan soal agama. Oya, kalau masalah menolong agama Allah, aku kira tak masuk akal kalau Allah butuh manusia untuk menyelamatkan agamanya kan? Masa yang namanya Tuhan minta tolong. Dan jangan sekali-kali bilang kalau Allah laknat sana laknat sini. Itu biar jadi urusan-Nya. Ko' Akhi yang nentukan, maaf, yang Tuhan itu Allah atau, Akhi?"
Pernyataan terkahirku sepertinya blunder. Dan benar, memang fatal akibatnya. Ikhwan tak segan minta aku bertobat. Ia pikir aku sudah sesat pikirannya. Dan ia menutup jawabannya dengan, "Akhi sudah liberal ya?" tapi aku terus berusaha merendah. Tapi dalam pikirku, darimana lagi muncul istilah asing itu? Ah, apalagi itu.
" Ikhwan, terserah Akhi, bilang aku seperti apa. Tapi yang jelas, bagiku pengetahuan akan jauh lebih kuat daripada demo-demo yang akh lakukan itu."
"Maksud , Akhi Ahmad apa?!!"
"Peradaban Islam telah berjaya di bumi ini selama 8 abad lebih, Akh. Mulai abad 9 sampai 17, Islam menjadi rujukan pengetahuan dunia. Itu karena pengetahuan. Tentu Akhi kenal yang namanya Ibnu Sina, Al-Khawarizmy, Ibnu Rusd. Mereka membuat buku-buku pengetahuan yang menjadi rujukan dunia. Sementara, bangsa eropa berjaya masih 1 abad. Itupun karena kolonialisme.
Seharusnya abad 21 ini kita raih kembali. Aku tak menganggap demo itu salah. Tapi bagiku, lebih baik menambah pengetahuanku sebanyak mungkin. Bagiku, kalau mau melawan musuh, ya pakai pengetahuan. Tapi sekali lagi, aku juga tak menyalahkan demo yang akhi ikuti tadi. Toh itu juga wujud solidaritas."
Penjelasanku itu rupanya tak membuatnya lebih tenang. Aku juga tak paham mengapa. Ia malah berseloroh, "Tapi, Akhi lakukan bid’ah...sesat!!"
Sekali lagi, aku terus berusaha rendahkan suara. Tapi sebenarnya badai tropis berkecamuk di kepala.
"Gini, Akhi, yang harus dibedakan adalah budaya dan agama Nabi. Di Arab memang tak ada tahlilan tak ada selamatan. Ya Nabi tak lakukan itu lah. Yang penting dari agama itu adalah bisa mendekatkan diri dengan Tuhan, Allah. Ya dengan sholat, dengan puasa, amal jariah.
Kan itu yang sama antara saya dengan Akhi Ikhwan. Ya sudah itu jadi semanagt kita untuk bersatu, bukan malah cari perbedaan terus diperbesar-besarkan. Meski berbeda, kan intinya sama, mendekat pada Tuhan. Kalaupun berbeda ya sudah lah, ngga usah dipermasalahkan. Bikin perpecahan saja, Akh... Kalau umpamanya nih, nabi turun di Indonesia ini, kolak pisang itu jadi sunnah lho...."
Penjelasanku memang tak memuaskan. Aku lihat ia masih geram.
Kopi sepertinya mau habis. Aku izin padanya untuk menyeduh dua lagi. Buatku dan buat dia. Kebetulan masih ada, dan memang tinggal dua.
Tapi sungguh terngiang di kepalaku pertanyaannya, 'Akhi liberal ya?'
Bisa ya, bisa tidak. Tapi yang jelas aku Muslim.
****
cerpen ini saya dedikasikan untuk fenomena perpecahan yang terjadi pada umat agama aku anut sekarang.
*sumber gambar bisa diklik langsung pada gambanrnya (wikipedia.org)
Friday, April 9, 2010
Do the Best!
Essay gue bagus nih, pasti dapat juara! Punya lo mana?
Ni punyaku….., ya masih segini yang bisa aku buat.
Halah gini doank!
…………….
aduh…asem..asem
kenapa bilang gitu bro? dapat juara ngga?
Tadi itu jurinya tidak fair, ada kecurangan!
Hey, dapat juara ngga?
Hehe.. ng…ngga…
Semua orang pasti ingin menjadi yang terbaik. Mau sukses. Menjadi yang terbaik tentunya menjadi sebuah prestise tersendiri bagi yang meraihnya. Entah itu dalam hal ujian, lomba atau apapun. Pokoknya yang positif. Apapun kalau sukses, mau ngga mau, ya bangga donk. Akan tetapi, kalau yang negatif ya jangan jadi yang terbaik. Bahaya itu. Yang terburuk itu udah maksimal. Masa jadi orang yang bisa nyopet terbanyak dalam satu jam kamu bangga? Ya kalau kamu masih di ‘jalan yang benar’ ya jangan lah!
Meraih sesuatu yang terbaik memang tidak gampang. Butuh waktu dan kerja keras (hard work). Belakngan orang bijak menambahkan agar juga kerja cerdas (smart work). Sesuatu yang terbaik ‘kan hanya satu. jadi, untuk mendapatkannya tentu kita harus ‘mengalahkan’ yang lain. Akan tetapi, yang saya maksud di sini tentu bukan dengan cara yang buruk. Tentunya kitta harus tetap menjaga rasa persaudaraan dan kekeluargaan yang memang menjadi nilai-nilai mulia bangsa ini.
Orang bijak pernah berkata, don’t think to be the best, but think to do the best in order to be the best! Jangan memikirkan bagaimana menjadi yang terbaik, tetapi pikirkan bagaimana cara terbaik untuk menjadi yang terbaik. Ungkapan ini mengandung arti bahwa dalam mengusahakan sesuatu, kita lebih baik untuk fokus terhadap upayanya, bukan hasilnya. Kita harus selalu mencari cara terbaik untu meraih kesuksesan. Nah, lalu bedanya dengan fokus pada kesuksesannya?
Kadang karena kita terlalu fokus pada kesuksesannya, kita lupa bahwa ini butuh proses. Kita hanya membayangkan bagaimana enaknya dipuncak tangga kesuksesan sementara ogah mikir susahnya sampai disana. Pada akhirnya, bisa muncul niat-niat atau cara-cara buruk yang ditempuh. Mari lihat beberapa kasus yang terjadi pada caleg (calon legislator, calon DPR) negeri ini.
Setelah dinyatakan tidak terpilih, sebagian ada yang langsung ngga waras alias gila. Ada juga yang marah-marah ke TPS karena ia sudah yakin menang tapi ternyata tidak terpilih. Coba perhatikan juga percakapan yang saya tulis diatas. Karena dinyatakan ngga menang lomba, langsung saja ngata-ngatain juri yang ngga-ngga. Ini akibat buruk kalau hanya fokus pada hasil kesuksesan saja. Sementara, caranya ngga dipikirin secara matang. Emang tingkah seperti itu nyelesaiin masalah? Wasteful banget ngga sih..
Kadang orang menginginkan kesuksesan karena pastinya ia akan kelihatan berbeda dari yang lain. apalagi kalau ia yang sukses sendirian. Wuh, rasanya jadi yang paling top deh. Saya pun mengakui hal itu. Ya lumrah lah, sah-sah saja. Yang penting jangan lama-lama. Bikin dosa. Namanya tuh sombong diam-diam alias ujub.
Tapi sekali lagi lagi kita sebaiknya tetep memerhatikan cara meraihnya. Jangan sampai hanya arena memburu kesuksesan, kita lupa dengan teman-teman maupun orang sekitar kita. Main sikut sana sikut sini. Wah gawat alau begitu, nambah musuh aja.
John Sifonis pernah mengatakan different is not always better, but the best is always different (berbeda tidak selalu lebih baik, tapi yang terbaik pasti selalu berbeda).
Akan tetapi, kadang ketika kita telah berupaya semaksimal mungkin untuk meraih kesuksesan, eh hasilnya tidak seperti harapan. Apalagi kita juga telah berlaku sebaik mungkin.
Pembaca yang terhormat, ingat kita punya Sang Khalik yang Masasegala-galanya. Dia tahu mana yang baik dan buruk buat kita. Dia yang tahu mana saat tepat kita mendapat kesuksesan ataupun kegagalan. mungkin saja bila kita diberi kesuksesan kita akan sombong atau kita akan merendahkan yang lain. Inilah wujud kasih saying-Nya. Mungkin Dia masih mau menyelamatkan kita dari dosa. Maka ya bersykurlah, bukan malah ngoceh yang tidak-tidak.
Akhirnya, mari terus berusaha!
*sumber gambar bisa diklik langsung pada gambanrnya
Ni punyaku….., ya masih segini yang bisa aku buat.
Halah gini doank!
…………….
aduh…asem..asem
kenapa bilang gitu bro? dapat juara ngga?
Tadi itu jurinya tidak fair, ada kecurangan!
Hey, dapat juara ngga?
Hehe.. ng…ngga…
Semua orang pasti ingin menjadi yang terbaik. Mau sukses. Menjadi yang terbaik tentunya menjadi sebuah prestise tersendiri bagi yang meraihnya. Entah itu dalam hal ujian, lomba atau apapun. Pokoknya yang positif. Apapun kalau sukses, mau ngga mau, ya bangga donk. Akan tetapi, kalau yang negatif ya jangan jadi yang terbaik. Bahaya itu. Yang terburuk itu udah maksimal. Masa jadi orang yang bisa nyopet terbanyak dalam satu jam kamu bangga? Ya kalau kamu masih di ‘jalan yang benar’ ya jangan lah!
Meraih sesuatu yang terbaik memang tidak gampang. Butuh waktu dan kerja keras (hard work). Belakngan orang bijak menambahkan agar juga kerja cerdas (smart work). Sesuatu yang terbaik ‘kan hanya satu. jadi, untuk mendapatkannya tentu kita harus ‘mengalahkan’ yang lain. Akan tetapi, yang saya maksud di sini tentu bukan dengan cara yang buruk. Tentunya kitta harus tetap menjaga rasa persaudaraan dan kekeluargaan yang memang menjadi nilai-nilai mulia bangsa ini.
Orang bijak pernah berkata, don’t think to be the best, but think to do the best in order to be the best! Jangan memikirkan bagaimana menjadi yang terbaik, tetapi pikirkan bagaimana cara terbaik untuk menjadi yang terbaik. Ungkapan ini mengandung arti bahwa dalam mengusahakan sesuatu, kita lebih baik untuk fokus terhadap upayanya, bukan hasilnya. Kita harus selalu mencari cara terbaik untu meraih kesuksesan. Nah, lalu bedanya dengan fokus pada kesuksesannya?
Kadang karena kita terlalu fokus pada kesuksesannya, kita lupa bahwa ini butuh proses. Kita hanya membayangkan bagaimana enaknya dipuncak tangga kesuksesan sementara ogah mikir susahnya sampai disana. Pada akhirnya, bisa muncul niat-niat atau cara-cara buruk yang ditempuh. Mari lihat beberapa kasus yang terjadi pada caleg (calon legislator, calon DPR) negeri ini.
Setelah dinyatakan tidak terpilih, sebagian ada yang langsung ngga waras alias gila. Ada juga yang marah-marah ke TPS karena ia sudah yakin menang tapi ternyata tidak terpilih. Coba perhatikan juga percakapan yang saya tulis diatas. Karena dinyatakan ngga menang lomba, langsung saja ngata-ngatain juri yang ngga-ngga. Ini akibat buruk kalau hanya fokus pada hasil kesuksesan saja. Sementara, caranya ngga dipikirin secara matang. Emang tingkah seperti itu nyelesaiin masalah? Wasteful banget ngga sih..
Kadang orang menginginkan kesuksesan karena pastinya ia akan kelihatan berbeda dari yang lain. apalagi kalau ia yang sukses sendirian. Wuh, rasanya jadi yang paling top deh. Saya pun mengakui hal itu. Ya lumrah lah, sah-sah saja. Yang penting jangan lama-lama. Bikin dosa. Namanya tuh sombong diam-diam alias ujub.
Tapi sekali lagi lagi kita sebaiknya tetep memerhatikan cara meraihnya. Jangan sampai hanya arena memburu kesuksesan, kita lupa dengan teman-teman maupun orang sekitar kita. Main sikut sana sikut sini. Wah gawat alau begitu, nambah musuh aja.
John Sifonis pernah mengatakan different is not always better, but the best is always different (berbeda tidak selalu lebih baik, tapi yang terbaik pasti selalu berbeda).
Akan tetapi, kadang ketika kita telah berupaya semaksimal mungkin untuk meraih kesuksesan, eh hasilnya tidak seperti harapan. Apalagi kita juga telah berlaku sebaik mungkin.
Pembaca yang terhormat, ingat kita punya Sang Khalik yang Masasegala-galanya. Dia tahu mana yang baik dan buruk buat kita. Dia yang tahu mana saat tepat kita mendapat kesuksesan ataupun kegagalan. mungkin saja bila kita diberi kesuksesan kita akan sombong atau kita akan merendahkan yang lain. Inilah wujud kasih saying-Nya. Mungkin Dia masih mau menyelamatkan kita dari dosa. Maka ya bersykurlah, bukan malah ngoceh yang tidak-tidak.
Akhirnya, mari terus berusaha!
*sumber gambar bisa diklik langsung pada gambanrnya
Monday, April 5, 2010
Ibu dalam Bajaj itu
Hampir setengah harian aku keluar. Matahari siang ini sepertinya sungguh menyebalkan. Tersenyum sinis pada dunia sambil menebar sinarnya yang terang. Tapi sayang, sinar itu tak terhalang oleh awan dan langsung menghujam ke kepala plontosku ini. Clekit..clekit..
Sinar itu bagai jutaan, oh tidak, milyaran jarum mikro yang tak akan pandang bulu menghantam. Sayang, aku tak ada tameng, hujaman jarum itu mengenai kulitku. Sakit. Tapi, tak makan aku kalau kalah dengan senyuman matahari yang sinis menipu itu.
Aku berjalan menuju tempat kerja dengan pelan. Maklum belum makan. Dari kemarin aku susah dapat uang.
Hari ini sepertinya banyak sekali yang lewat. Mobil-mobil itu mengkilat. Catnya yang masih bersih itu bagai cermin. Sepertinya baru. Kadang aku sempat mengaca di kilauan cat mobil-mobil baru itu. Tapi aku selalu heran, sebuah wajah aneh bulat menyeringai. Oh, setan kecil berkepala botak nan mengerikan di hadapanku. Pasti, tak salah lagi, itu aku sendiri.
Di pinggir perempatan ini aku bekerja. Perempatan ini juga yang jadi sumber hidupku sejak ibu meninggal dua tahun lalu. Memang rendahan sekali kerjaku. Aku hanya menengadahkan tangan dan berharap semoga dapat penghasilan. Bodoh sekali, tapi mau apa lagi.
"Bang, buat makan, Bang..." rengekku kali ini. Tapi sayang, mobil BMW itu belagak tak tahu. Si tukang kemudinya melengos begitu saja melihat aku mengiba. Sayang, lampu di perempatan ini telah berganti hijau. Pertanda aku harus segera menepi, cepat.
Mobil itu semakin jauh dan jauh. Aku duduk termangu menunggu merahnya si traffic light. sekitar dua menit lagi. Waktu yang tak lama. Aku menunggu dengan menggaruk-garuk badan. Pakaianku belum kucuci seminggu ini. Pantas saja buat badanku gatal. Tapi aku tak ada pilihan.
Buat sekedar makan saja aku tersengal-sengal mencukupinya. Nafasku hampir Senin-Kamis. Alih-alih mencuci, keluar seharian juga belum tentu bisa makan.
Tapi yang aku suka, aku masih bisa tertawa. Bukan menertawakan bajuku yang compang-camping ini. Aku menertawakan orang-orang yang lewat pakai mobil itu. Mereka berbaju rapi, lengkap dengan parfum semerbak menyengat. “Bisa ya hidup bermewah-mewah ditengah ironi hidup yang super paradoksial ini…”, selorohku dalam hati. Kadang aku merasa dilecehkan. Tapi tak peduli.
Kadang aku dengar kalau mereka makan bersisa. Seenaknya membuang sisa itu sementara aku belum tentu dapat makan sebanyak sisa itu. Apalagi kalau dengar mendengar istilah sophaholic. Ha..ha..bisa-bisanya ya...
Ah, sebentar lagi hijau. Sebenarnya Aku tak menyesalkan lengosan orang di dalam mobil keren itu. Sudah biasa. Tapi apa memang ia tak punya uang untuk sekedar berbagi denganku? Mengapa tak membuka kaca pintu barang sejenak lalu melempar beberapa receh?
Sayang, hampir semua orang bermobil keren juga bersikap sama. Ada juga yang menanggapi, tapi sekedar mengarahkan telapak tangannya padaku, tanda kalau aku tak akan diberi. Ya sudahlah. Tapi mereka sudah memberi. mereka memberiku tumpangan mengaca. Bukan semakin senang, tapi melihat bayangannya begitu menyesakkan.
Yang paling menyesakkan adalah mereka yang belagak bertanya-tanya. Pernah ada yang membuka kaca pintu mobilnya. Aku kegirangan. Pasti aku dapat banyak.
“Kau umur berapa sudah di jalanan ini?” itu katanya.
Aku jawab masih umur 10 tahun. “Oo…” itu jawabnya. Tapi, oh, ternyata ia tutup kembali dan pergi. Sial!
Ah, dasar nasib. Sepertinya memang tak perlu dipermasalahkan. Kalau ada yang miskin pasti ada yang kaya. Ah, aku semakin bingung saja. Sementara kebodohanku bercampur rasa lapar yang sudah sejak tadi menyerang, membuatku kesakitan sebenarnya.
Satu, sekarang Mercy berhenti. Aku mengiba merengek. Tapi sudah kuduga, angin kosong dan senyuman tipu daya dipadu anggukan sialan yang kudapat. Sinis sekali senyumnya. Dua, tiga dan seterusnya. Semua mobil mewah pergi begitu saja.
Aku kadang juga bingung, mau apa sih orang banyak beli mobil. Apa mereka tak tahu kalau polusi di udara makin padat saja. Knalpot menyebalkan mobil mereka itu biang keladi penebar polutan. Tak mobil mewah atau mobil rendahan, sama saja.
Tapi sial! Perutku sudah tak bisa dikompromi lagi. Tak ada kompensasi lagi. Sungguh sakit.
Sekarang bajaj yang di depanku. Peduli sakit berarti aku tak makan. “Oh, Tuhan, tolong sejenak kau tahan perih ini….” Ibaku pada Tuhan. Sementara jarum mikro matahari semakin banyak saja. Semakin siang, semakain padat hujamannya. Hujamannya semakin massive saja. Clekit..clekit..clekit….
Aku lihat ada ibu-ibu di dalam bajaj itu. Kelihatan kalau ia juga tak terlalu berada. Tak jauh dari keadaanku. Tak terlihat kaya, ya tapi sedikit beruntung daripada aku. Sudah jam satu siang sepertinya. Belum dapat apa-apa aku.
Terpaksa, aku ibakan diriku pada ibu itu. Tapi sekonyong-konyong ia berujar,
"Nak, sudah makan? Ini ada uang jajan buatmu…"
Lemparan senyum sang ibu mengawali kontakku dengannya. Di luar dugaan. Ibu itu menyodorkan selembar uang sepuluh ribu. Ini banyak bagiku. Sambil mengucap terima kasih aku salami tangan ibu itu. Lalu ia pergi sejejap karena si terrific light telah hijau kembali.
Aku menepi dan bajaj menjauh, “Ha..ha.. tak perlu kaya untuk memberi…,” kataku dalam hati.
****
*sumber gambar bisa diklik langsung pada gambanrnya
Sinar itu bagai jutaan, oh tidak, milyaran jarum mikro yang tak akan pandang bulu menghantam. Sayang, aku tak ada tameng, hujaman jarum itu mengenai kulitku. Sakit. Tapi, tak makan aku kalau kalah dengan senyuman matahari yang sinis menipu itu.
Aku berjalan menuju tempat kerja dengan pelan. Maklum belum makan. Dari kemarin aku susah dapat uang.
Hari ini sepertinya banyak sekali yang lewat. Mobil-mobil itu mengkilat. Catnya yang masih bersih itu bagai cermin. Sepertinya baru. Kadang aku sempat mengaca di kilauan cat mobil-mobil baru itu. Tapi aku selalu heran, sebuah wajah aneh bulat menyeringai. Oh, setan kecil berkepala botak nan mengerikan di hadapanku. Pasti, tak salah lagi, itu aku sendiri.
Di pinggir perempatan ini aku bekerja. Perempatan ini juga yang jadi sumber hidupku sejak ibu meninggal dua tahun lalu. Memang rendahan sekali kerjaku. Aku hanya menengadahkan tangan dan berharap semoga dapat penghasilan. Bodoh sekali, tapi mau apa lagi.
"Bang, buat makan, Bang..." rengekku kali ini. Tapi sayang, mobil BMW itu belagak tak tahu. Si tukang kemudinya melengos begitu saja melihat aku mengiba. Sayang, lampu di perempatan ini telah berganti hijau. Pertanda aku harus segera menepi, cepat.
Mobil itu semakin jauh dan jauh. Aku duduk termangu menunggu merahnya si traffic light. sekitar dua menit lagi. Waktu yang tak lama. Aku menunggu dengan menggaruk-garuk badan. Pakaianku belum kucuci seminggu ini. Pantas saja buat badanku gatal. Tapi aku tak ada pilihan.
Buat sekedar makan saja aku tersengal-sengal mencukupinya. Nafasku hampir Senin-Kamis. Alih-alih mencuci, keluar seharian juga belum tentu bisa makan.
Tapi yang aku suka, aku masih bisa tertawa. Bukan menertawakan bajuku yang compang-camping ini. Aku menertawakan orang-orang yang lewat pakai mobil itu. Mereka berbaju rapi, lengkap dengan parfum semerbak menyengat. “Bisa ya hidup bermewah-mewah ditengah ironi hidup yang super paradoksial ini…”, selorohku dalam hati. Kadang aku merasa dilecehkan. Tapi tak peduli.
Kadang aku dengar kalau mereka makan bersisa. Seenaknya membuang sisa itu sementara aku belum tentu dapat makan sebanyak sisa itu. Apalagi kalau dengar mendengar istilah sophaholic. Ha..ha..bisa-bisanya ya...
Ah, sebentar lagi hijau. Sebenarnya Aku tak menyesalkan lengosan orang di dalam mobil keren itu. Sudah biasa. Tapi apa memang ia tak punya uang untuk sekedar berbagi denganku? Mengapa tak membuka kaca pintu barang sejenak lalu melempar beberapa receh?
Sayang, hampir semua orang bermobil keren juga bersikap sama. Ada juga yang menanggapi, tapi sekedar mengarahkan telapak tangannya padaku, tanda kalau aku tak akan diberi. Ya sudahlah. Tapi mereka sudah memberi. mereka memberiku tumpangan mengaca. Bukan semakin senang, tapi melihat bayangannya begitu menyesakkan.
Yang paling menyesakkan adalah mereka yang belagak bertanya-tanya. Pernah ada yang membuka kaca pintu mobilnya. Aku kegirangan. Pasti aku dapat banyak.
“Kau umur berapa sudah di jalanan ini?” itu katanya.
Aku jawab masih umur 10 tahun. “Oo…” itu jawabnya. Tapi, oh, ternyata ia tutup kembali dan pergi. Sial!
Ah, dasar nasib. Sepertinya memang tak perlu dipermasalahkan. Kalau ada yang miskin pasti ada yang kaya. Ah, aku semakin bingung saja. Sementara kebodohanku bercampur rasa lapar yang sudah sejak tadi menyerang, membuatku kesakitan sebenarnya.
Satu, sekarang Mercy berhenti. Aku mengiba merengek. Tapi sudah kuduga, angin kosong dan senyuman tipu daya dipadu anggukan sialan yang kudapat. Sinis sekali senyumnya. Dua, tiga dan seterusnya. Semua mobil mewah pergi begitu saja.
Aku kadang juga bingung, mau apa sih orang banyak beli mobil. Apa mereka tak tahu kalau polusi di udara makin padat saja. Knalpot menyebalkan mobil mereka itu biang keladi penebar polutan. Tak mobil mewah atau mobil rendahan, sama saja.
Tapi sial! Perutku sudah tak bisa dikompromi lagi. Tak ada kompensasi lagi. Sungguh sakit.
Sekarang bajaj yang di depanku. Peduli sakit berarti aku tak makan. “Oh, Tuhan, tolong sejenak kau tahan perih ini….” Ibaku pada Tuhan. Sementara jarum mikro matahari semakin banyak saja. Semakin siang, semakain padat hujamannya. Hujamannya semakin massive saja. Clekit..clekit..clekit….
Aku lihat ada ibu-ibu di dalam bajaj itu. Kelihatan kalau ia juga tak terlalu berada. Tak jauh dari keadaanku. Tak terlihat kaya, ya tapi sedikit beruntung daripada aku. Sudah jam satu siang sepertinya. Belum dapat apa-apa aku.
Terpaksa, aku ibakan diriku pada ibu itu. Tapi sekonyong-konyong ia berujar,
"Nak, sudah makan? Ini ada uang jajan buatmu…"
Lemparan senyum sang ibu mengawali kontakku dengannya. Di luar dugaan. Ibu itu menyodorkan selembar uang sepuluh ribu. Ini banyak bagiku. Sambil mengucap terima kasih aku salami tangan ibu itu. Lalu ia pergi sejejap karena si terrific light telah hijau kembali.
Aku menepi dan bajaj menjauh, “Ha..ha.. tak perlu kaya untuk memberi…,” kataku dalam hati.
****
*sumber gambar bisa diklik langsung pada gambanrnya
Friday, April 2, 2010
Pikir Panjang
Elo tu emang orang ngga punya perasaan ya
Lo ngatain gue yang ngga-ngga di depan temen-temen
Lo tu punya pikiran ngga sih? Ngga punya otak lo? (maaf)
Apa gara-gara otak elo ada di dengkul?
Sebenarnya saya agak meriding mendengar pernyataan di atas yang saya tulis sendiri. Kalau saya seperti itu ya malu dan menyesal banget. Ya gimana ngga? Dikatain otak didengkul, ngga punya pikiran. Tapi ini memang salah sendiri berbuat yang ngga-ngga. Ups, tapi itu cuma ngebayangin. Saya hanya lihat itu di TV. Saya pun tidak mau sampai seperti itu.
Kasus diatas penyebabnya simple. Cuma ngata-ngatain, ngegunjing, atau ngegosipin orang lain yang tidak-tidak. Ya boleh-boleh saja bertindak seperti itu , tapi ya mbok mikir dulu akibatnya. Mungkin ngomong itu mudah, tapi lidah itu , kata para ahli, lebih tajam daripada pedang. Kalau udah ceplas-ceplos yang tertusuk itu bukan bagian tubuh manapun, tetapi hati orang lain. Sementara hati manusia kalau sudah sakit itu sembuhnya lama. Inilah awalnya permusuhan. Kalau udah punya musuh tuh, hidup ngga bakal tenang. Hayu percaya ngga?
Tadi saya sampaikan ‘ya mbok mikir dulu!’. Nah ini sebenarnya nti dari tuisan saya kali ini. Judul tulisan ini “Pikir Panjang”, maksudnya kalau kita mau melakukan segala sesuatu itu kita pikir dulu. Harus ada proses berpikir yang baik. Memang ini butuh waktu agak lama, tetapi dampak yang ditimbulkan atas tindakan yang melalui proses berkikir dengan yang tidak itu berbeda. Dengan proses berpikir, apapun tindakan yang kita lakukan akan membawa dampak positif daripada yang grusa-grusu.
Aa Gym menyatakan bahwa proses berpikir itu punya bebarapa tahapan. Pertama, keinginan muncul dari pikiran. Kedua, keinginan itu harus disampaikan pada hati nurani kita. Mengapa? Sebab hanya hati ini yang bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk dengan adil. Yang baik ya baik, yang buruk ya buruk. Titik.
Ketiga, bila hati nurani mengatakan buruk, maka yang harus dilakukan hanya diam. Ya, diam. Ngga usah nambah-nambahin. Kalau hati berkata baik, ei..its mau melakukannya? tunggu dulu! Kita masih harus menimbang apakah ada unsur yang merugikan orang lain, mungkin ada unsur yang menyinggung SARA, atau ghibah (gosipin orang lain) dan lain-lain. Kalau semua itu memang tidak ada, ya, Ayo keinginan tadi dilakukan!
Ini memang terasa butuh waktu lama. Ya saya sih berpendapat, kan juga namanya proses. Memang ini butuh waktu, tetapi sekali lagi dampak tindakan kita akan jauh lebih baik daripada yang tidak melalui proses ini. Bahkan, mungkin malah mendapatkan apresiasi.
Ada sebuah cerita yang mngisahkan seorang Ita yang ditinggal kerja orang tuanya. Keluarga tersebut memiliki dua mobil. Mobil yang lama dipakai untuk berangkat kerja dan yang baru ditinggal dirumah. Suatu ketika, Ita tersebut ditinggal kerja oleh orang tuanya.
Ia dirumah bersama seorang pembantu. Saat itu Ita bermain mencoret-coret tanah lama kelamaan ketika mendekat garasi mobil, tak pelak, dengan insting kreatifnya, anak tersebut mulai mencoret-coret mobil orang tuanya yang masih baru dan mulus. Walhasil, mobil baru itu penuh baret-baret karya Ita.
Ketika orang tuanya pulang dan mengetahui hal tersebut, langsung saja si pembantu kena semprot dan sang ayah langsung memarahi Ita habis-habisan. Belum puas dengan memarahi, si ayah kemudian memukuli tangan Ita ya ia angap sebagai biang kerok. Tak pelak, tanagn si Ita pun memar memerah. Si ibu hanya diam saja, seolah-olah menyilahkan si ayah menyiksa anaknya. Berhari-hari luka di tangan bayi pun belum juga sembuh. Setiap kali si pembantu menyamapaikan hal tersebut pada orang tuanya, jawab mereka hanya “Oleskan obat saja!”
Akhirnya bukan masalah yang beres, tetapi bencana menghampiri keluarga tersebut. Hari berganti hari, suhu badan Ita mulai naik. Orang tua pun kembali acuh. Tangannya mulai terinfeksi. Alih-alih lukanya sembuh, tangan Ita tersebut semakin parah. Pada suatu malam, Ita pun mulai mengigau. Malam itu juga, orang tuanya langsung membawa ita ke dokter.
Singkat cerita, hasil diagnosis dokter menyataan bahwa luka di tangan ita telah membusuk. Jalan terakhir satu-satunya adalah mengamputasi tangan ita. Bak disambar petir di siang bolong, air mata pun berurai dan mau tidak mau orang tua ita harus menandatangani surat persetujuan amputasi anak tercinta mereka. Kini yang ada hanya penyesalan yang mendalam. Hanya berawal respon yang spontan terhadap tindakan anak mereka, orang tua Ita harus rela selamanya melihat anak tercintanya hidup tanpa tangan. Astaghfirullah!
Cerita tersebut bisa menggambarkan bahwa dalam mengambil tindaan, sungguh sangat dianjurkan agar kita berpikir terlebih dahulu. Mengutamakan ego hanya membawa bencana. Grusa-grusu mengambil keputusan seringkali hanya membawa keburukan.
Ingat, kita sudah dianugerahi pikiran akal dan hati oleh-Nya. Ini bukan asesoris dalam hidup. Ini adalah anugerah yang paling agung dari-nya. Memanfaatkan semua itu sebaik-baiknya adalah tindakan paling bijaksana. Sayang kan kalau disia-siakan?
*sumber gambar bisa diklik langsung pada gambanrnya
Lo ngatain gue yang ngga-ngga di depan temen-temen
Lo tu punya pikiran ngga sih? Ngga punya otak lo? (maaf)
Apa gara-gara otak elo ada di dengkul?
Sebenarnya saya agak meriding mendengar pernyataan di atas yang saya tulis sendiri. Kalau saya seperti itu ya malu dan menyesal banget. Ya gimana ngga? Dikatain otak didengkul, ngga punya pikiran. Tapi ini memang salah sendiri berbuat yang ngga-ngga. Ups, tapi itu cuma ngebayangin. Saya hanya lihat itu di TV. Saya pun tidak mau sampai seperti itu.
Kasus diatas penyebabnya simple. Cuma ngata-ngatain, ngegunjing, atau ngegosipin orang lain yang tidak-tidak. Ya boleh-boleh saja bertindak seperti itu , tapi ya mbok mikir dulu akibatnya. Mungkin ngomong itu mudah, tapi lidah itu , kata para ahli, lebih tajam daripada pedang. Kalau udah ceplas-ceplos yang tertusuk itu bukan bagian tubuh manapun, tetapi hati orang lain. Sementara hati manusia kalau sudah sakit itu sembuhnya lama. Inilah awalnya permusuhan. Kalau udah punya musuh tuh, hidup ngga bakal tenang. Hayu percaya ngga?
Tadi saya sampaikan ‘ya mbok mikir dulu!’. Nah ini sebenarnya nti dari tuisan saya kali ini. Judul tulisan ini “Pikir Panjang”, maksudnya kalau kita mau melakukan segala sesuatu itu kita pikir dulu. Harus ada proses berpikir yang baik. Memang ini butuh waktu agak lama, tetapi dampak yang ditimbulkan atas tindakan yang melalui proses berkikir dengan yang tidak itu berbeda. Dengan proses berpikir, apapun tindakan yang kita lakukan akan membawa dampak positif daripada yang grusa-grusu.
Aa Gym menyatakan bahwa proses berpikir itu punya bebarapa tahapan. Pertama, keinginan muncul dari pikiran. Kedua, keinginan itu harus disampaikan pada hati nurani kita. Mengapa? Sebab hanya hati ini yang bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk dengan adil. Yang baik ya baik, yang buruk ya buruk. Titik.
Ketiga, bila hati nurani mengatakan buruk, maka yang harus dilakukan hanya diam. Ya, diam. Ngga usah nambah-nambahin. Kalau hati berkata baik, ei..its mau melakukannya? tunggu dulu! Kita masih harus menimbang apakah ada unsur yang merugikan orang lain, mungkin ada unsur yang menyinggung SARA, atau ghibah (gosipin orang lain) dan lain-lain. Kalau semua itu memang tidak ada, ya, Ayo keinginan tadi dilakukan!
Ini memang terasa butuh waktu lama. Ya saya sih berpendapat, kan juga namanya proses. Memang ini butuh waktu, tetapi sekali lagi dampak tindakan kita akan jauh lebih baik daripada yang tidak melalui proses ini. Bahkan, mungkin malah mendapatkan apresiasi.
Ada sebuah cerita yang mngisahkan seorang Ita yang ditinggal kerja orang tuanya. Keluarga tersebut memiliki dua mobil. Mobil yang lama dipakai untuk berangkat kerja dan yang baru ditinggal dirumah. Suatu ketika, Ita tersebut ditinggal kerja oleh orang tuanya.
Ia dirumah bersama seorang pembantu. Saat itu Ita bermain mencoret-coret tanah lama kelamaan ketika mendekat garasi mobil, tak pelak, dengan insting kreatifnya, anak tersebut mulai mencoret-coret mobil orang tuanya yang masih baru dan mulus. Walhasil, mobil baru itu penuh baret-baret karya Ita.
Ketika orang tuanya pulang dan mengetahui hal tersebut, langsung saja si pembantu kena semprot dan sang ayah langsung memarahi Ita habis-habisan. Belum puas dengan memarahi, si ayah kemudian memukuli tangan Ita ya ia angap sebagai biang kerok. Tak pelak, tanagn si Ita pun memar memerah. Si ibu hanya diam saja, seolah-olah menyilahkan si ayah menyiksa anaknya. Berhari-hari luka di tangan bayi pun belum juga sembuh. Setiap kali si pembantu menyamapaikan hal tersebut pada orang tuanya, jawab mereka hanya “Oleskan obat saja!”
Akhirnya bukan masalah yang beres, tetapi bencana menghampiri keluarga tersebut. Hari berganti hari, suhu badan Ita mulai naik. Orang tua pun kembali acuh. Tangannya mulai terinfeksi. Alih-alih lukanya sembuh, tangan Ita tersebut semakin parah. Pada suatu malam, Ita pun mulai mengigau. Malam itu juga, orang tuanya langsung membawa ita ke dokter.
Singkat cerita, hasil diagnosis dokter menyataan bahwa luka di tangan ita telah membusuk. Jalan terakhir satu-satunya adalah mengamputasi tangan ita. Bak disambar petir di siang bolong, air mata pun berurai dan mau tidak mau orang tua ita harus menandatangani surat persetujuan amputasi anak tercinta mereka. Kini yang ada hanya penyesalan yang mendalam. Hanya berawal respon yang spontan terhadap tindakan anak mereka, orang tua Ita harus rela selamanya melihat anak tercintanya hidup tanpa tangan. Astaghfirullah!
Cerita tersebut bisa menggambarkan bahwa dalam mengambil tindaan, sungguh sangat dianjurkan agar kita berpikir terlebih dahulu. Mengutamakan ego hanya membawa bencana. Grusa-grusu mengambil keputusan seringkali hanya membawa keburukan.
Ingat, kita sudah dianugerahi pikiran akal dan hati oleh-Nya. Ini bukan asesoris dalam hidup. Ini adalah anugerah yang paling agung dari-nya. Memanfaatkan semua itu sebaik-baiknya adalah tindakan paling bijaksana. Sayang kan kalau disia-siakan?
*sumber gambar bisa diklik langsung pada gambanrnya
Tuesday, March 30, 2010
Sejarah yang Menggugah
Dahulu Bangsa Tartar dari asia timur sempat menguasai tanah Blitar, yang kala itu belum bernama Blitar. Majapahit sebagai penguasa nusantara merasa perlu untuk merebutnya. Kerajaan adidaya itu mengutus Niluswara untuk memukul mundul Bangsa Tartar.
Sejarah Bergulir
Keberuntungan berpihak pada Niluswara. ia dapat memaksa mundur pendudukan bangsa dari mongolia itu. Atas, jasanya, ia akhirnya dianugerahi gelar Adipati Aryo Blitar I dan memimpin Blitar. Ia menamakan tanah yang berhasil ia bebaskan dengan nama Balitar yang berarti kembalinya bangsa Tartar. Namun pada perkembangannya, terjadi konflik antara Aryo Blitar I dengan Ki Sengguruh Kinareja seorang patih Kadipaten Blitar.
Namun keberuntungan kini beralih. Aryo Blitar I lengser dan senguruh meraih tahta dengan gelar Adipati Aryo Blitar II. Pemberontakan kembali terjadi. Aryo Blitar II dipaksa turun oleh Djoko Kandung yang merupakan anak dari Aryo Blitar I. Djoko Kandung adalah anak hasil perkawinan antara Aryo Blitar I dengan Dewi Rayung Wulan.
Kepemimpinan Djoko Kandung dihentikan oleh kedatangan bangsa Belanda di bumi pertiwi. Sebenarnya rakyat Blitar yang multi etnies saat itu telah melakukan perlawanan. Tapi, perlawanan itu diredam oleh Belanda dengan membuat peraturan baru.
Belanda menetapkan Blitar sebagai Gemeente Blitar pada 1 April 1906 berdasarkan peraturan Staatsblad van Nederlandche Indie Tahun 1906 Nomor 150. Momen inilah yang sampai sekarang diakui sebagai hari kelahiran Bumi Bung Karno itu. Pada tahun itu juga dibentuk beberapa kota lain di Indonesia yang berdasarkan catatan sejarah sebanyak 18 Kota yang meliputi kota Batavia, Buitenzorg, Bandoeng, Cheribon, Magelang Semarang, Salatiga, Madioen, Blitar, Malang, Surabaja dan Pasoeroean di PulauJawa serta lainnya di luar Jawa.
Sampai pada kedatangan Jepang, Gameente Blitar berubah menjadi Blitar Shi yang penyelenggaraannya dikendalikan oleh peraturan baru bernama Osamu Seerai. Namun Jepang sepertinya salah langkah menginjakkan kakinya dikota kecil itu.
Keniscayaan Merdeka
Anak didiknya, PETA memberontak pada 14 Februari 1945 yang dipimpin seorang terhormat Sudanco Supriyadi. Meski hanya berlangsung beberapa jam dan gagal, pemberontakan itu tercatat sebagai satu-satunya pemberontakan yang dilakukan oleh anak didik kepada pelatihnya di Asia Tenggara dan Asia Timur yang merupakan jajahan negeri sakura itu. Pemberontakan itu membuka mata dunia bahwa peluang meraih kemerdekaan dan memukul mundur penjajah masih terbuka lebar.
Pemberontakan itu, diakui atau tidak, telah menginspirasi pemuda-pemuda bangsa ini untuk terus berjuang merampas kembali hak-hak kemerdekaan ang diambil penjajah. Hingga akhirnya Indonesia merdeka yang ditandai pembacaan proklamasi oleh putra terbaik bangsa, Bung Karno, didampingi Bung Hatta.
Tanah yang Terkucilkan
Perihal penempatan makam Bung Karno, yang juga menjadi awal Blitar disebut sebagai Bumi Bung Karno, memang berawal dari niat buruk pemerintah. Konflik antara Soekarno dengan Soeharto adalah biangnya. Pemerintah orde baru menetapkan Blitar sebagai Kotamadaya berdasar pada Undang-undang Nomor 18 Tahun 1965. Namun, ternyata Pemerintah orde baru berniat mengucilkan nama Sorkarno beserta Blitar secara politik. Namun kenginan itu ternyata ditolak oleh arus kuat yang terus melawan.
Alih-alih terkucilkan, masyarakat nusantara mengenal baik Blitar sebagi kota sejarah yang tak akan terlupakan. Blitar semakin ramai dikunjungi hingga kini. Keganasan Bung Karno dalam melawan penjajah mesih terpatri dalam ingatan rakyat Indonesia. Blitar yang dikucilkan menyeruak mekar ke permukaan dan menunjukan bahwa di sinilah momen sejarah kemerdekaan terbaik pernah berlangsung. Hadirnya makam Bung Karno yang berpadu dengan momen pemberontakan PETA, menegaskan aura sejarah yang kental di kota kecil itu.
Akhirnya kekangan orde baru lepas benar ketika drama panas 1998 memaksanya bubar. Pemerintahan reformasi menggantikan otokrasi orde baru. Pemerintah baru itu mengeluarkan Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang pemerintahan daerah. Melalui Undang-undang tersebut, sebutan Kotamadya Blitar disesuaikan menjadi Kota Blitar. Hingga menjelang satu abad usia kota ini, Kota Blitar dihuni oleh sekitar 125 ribu jiwa.
Sebenarnya era orde baru telah memberika banyak sumbangan pembangunan pada bangsa ini. GBHN dan Repelita tercatat sejarah sebagai garis visi bangsa yang cemerlang. Kegemilangan ini didukung oleh realita pembangunan yang terus berjalan maju. Angka pertumbuhan ekonomi berjalan membaik. Era ini juga berhasil meyakinkan rakyat bahwa negara tak akan kekurangan pangan. Terbukti swasebada pangan tecatat beberapa kali diraih.
Tapi sistem sentralistik yang mengendalikannya begitu mengusik dan mengganggu. Sistem itu seperti menyimpan nyala api yang siap membakar sekam reputasi. Kerobohan banguan orde baru pada 1998 membakar betul reputasi baiknya. Kisah-kisah sukses dan gemilang orde baru seakan terlupa nan terabai.
Kini era reformasi juga belum berjalan baik. Orientasi politik malah semakin menjadi-jadi. Sistem desentralisasi yang didengung-dengungkan berjalan tertatih-tatih yang makin pincang saja. Pemerataan tak kunjung selesai. Dan sayang, imbas itu merayap hingga menjalar ke Bumi Bung Karno.
Dulu ia sejajar dengan kota-kota lain seperti Batavia (Jakarta), Surabaya dan Bandung. Sebagai pusat administrasi daerah di jaman Belanda, Kota Blitar memiliki posisi yang strategis. Tapi sekarang Blitar telah ketinggalan jauh. Kota-kota itu menjelma menjadi raksasa nusantara, sementara Blitar masih jalan ditempat.
Demi Bumi Bung Karno
Menyedihkan lagi, bila melihat generasi muda Bumi Bung Karno yang semakin tak punya visi. Aku sering melihat mereka tak fokus dalam berpartisipasi membangun tanah kelahirannya. Kongkow-kongkow tak jelas menjadi ajang harian. Memajang diri dengan berbagai kemalasan malah menjadi kebanggaan. Aku juga tak paham mengapa hal ini bisa terjadi. Pendidikan yang menjadi senjata utama pemuda dalam konteks kekinian sekan diacuhkan.
Memang ada beberapa yang gemilang, tapi arus mayoritas menetang dan menenggelamkan arus minoritas itu. Paradigma kenikmatan jangka pendek seakan menggelayuti pikran-pikiran mereka. Budaya-budaya instan dari luar mereka telan mentah-mentah. Sejarah besar kota penting itu seakan pudar lekang ditelan zaman, karena tak dirawat oleh tuan rumahnya sendiri. Dan yang menyesakkan, yang menelan bukan orang lain, tapi putera-putera daerahnya sendiri.
Apa mungkin mereka tak tahu kalau para pahlawan di tanah kelahirannya itu rela mampertaruhkan nyawa demi kebebasan dan kemerdekaan. Dan sayang sekali, aku adalah bagian dari mereka. Ya, aku adalah salah satu yang tak tahu sejarah dan mungkin tak tahu balas budi.
Tapi, sejenak aku sadar, bahwa tanahku ini adalah kampung halamanku. Punya visi masa depan adalah kenicscayan bagiku. Siapa lagi yang akan mengharumkan kebesaran tanah Balitar ini kalau bukan putera daerahnya sendiri. Reputasi kota kecil itu juga reputasiku. Kalaupun aku dikenal baik oleh orang lain, tapi asalku adalah kubangan lumpur, siapa yang mau melirik?
Peradaban dunia telah terbukti terbangun dengan pondasi pengetahuan. Kesadaran akan perlunya pendidikan harus aku tanamkan pada diri. Harus. Sejarah besar kepahlawanan kotaku harus aku camkan dalam-dalam di relung-relung pikiran. Ini bukan demi siapa-siapa, tapi demi tanah kelahiranku, Bumi Bung Karno.
*sumber gambar bisa diklik langsung pada gambanrnya
Sejarah Bergulir
Keberuntungan berpihak pada Niluswara. ia dapat memaksa mundur pendudukan bangsa dari mongolia itu. Atas, jasanya, ia akhirnya dianugerahi gelar Adipati Aryo Blitar I dan memimpin Blitar. Ia menamakan tanah yang berhasil ia bebaskan dengan nama Balitar yang berarti kembalinya bangsa Tartar. Namun pada perkembangannya, terjadi konflik antara Aryo Blitar I dengan Ki Sengguruh Kinareja seorang patih Kadipaten Blitar.
Namun keberuntungan kini beralih. Aryo Blitar I lengser dan senguruh meraih tahta dengan gelar Adipati Aryo Blitar II. Pemberontakan kembali terjadi. Aryo Blitar II dipaksa turun oleh Djoko Kandung yang merupakan anak dari Aryo Blitar I. Djoko Kandung adalah anak hasil perkawinan antara Aryo Blitar I dengan Dewi Rayung Wulan.
Kepemimpinan Djoko Kandung dihentikan oleh kedatangan bangsa Belanda di bumi pertiwi. Sebenarnya rakyat Blitar yang multi etnies saat itu telah melakukan perlawanan. Tapi, perlawanan itu diredam oleh Belanda dengan membuat peraturan baru.
Belanda menetapkan Blitar sebagai Gemeente Blitar pada 1 April 1906 berdasarkan peraturan Staatsblad van Nederlandche Indie Tahun 1906 Nomor 150. Momen inilah yang sampai sekarang diakui sebagai hari kelahiran Bumi Bung Karno itu. Pada tahun itu juga dibentuk beberapa kota lain di Indonesia yang berdasarkan catatan sejarah sebanyak 18 Kota yang meliputi kota Batavia, Buitenzorg, Bandoeng, Cheribon, Magelang Semarang, Salatiga, Madioen, Blitar, Malang, Surabaja dan Pasoeroean di PulauJawa serta lainnya di luar Jawa.
Sampai pada kedatangan Jepang, Gameente Blitar berubah menjadi Blitar Shi yang penyelenggaraannya dikendalikan oleh peraturan baru bernama Osamu Seerai. Namun Jepang sepertinya salah langkah menginjakkan kakinya dikota kecil itu.
Keniscayaan Merdeka
Anak didiknya, PETA memberontak pada 14 Februari 1945 yang dipimpin seorang terhormat Sudanco Supriyadi. Meski hanya berlangsung beberapa jam dan gagal, pemberontakan itu tercatat sebagai satu-satunya pemberontakan yang dilakukan oleh anak didik kepada pelatihnya di Asia Tenggara dan Asia Timur yang merupakan jajahan negeri sakura itu. Pemberontakan itu membuka mata dunia bahwa peluang meraih kemerdekaan dan memukul mundur penjajah masih terbuka lebar.
Pemberontakan itu, diakui atau tidak, telah menginspirasi pemuda-pemuda bangsa ini untuk terus berjuang merampas kembali hak-hak kemerdekaan ang diambil penjajah. Hingga akhirnya Indonesia merdeka yang ditandai pembacaan proklamasi oleh putra terbaik bangsa, Bung Karno, didampingi Bung Hatta.
Tanah yang Terkucilkan
Perihal penempatan makam Bung Karno, yang juga menjadi awal Blitar disebut sebagai Bumi Bung Karno, memang berawal dari niat buruk pemerintah. Konflik antara Soekarno dengan Soeharto adalah biangnya. Pemerintah orde baru menetapkan Blitar sebagai Kotamadaya berdasar pada Undang-undang Nomor 18 Tahun 1965. Namun, ternyata Pemerintah orde baru berniat mengucilkan nama Sorkarno beserta Blitar secara politik. Namun kenginan itu ternyata ditolak oleh arus kuat yang terus melawan.
Alih-alih terkucilkan, masyarakat nusantara mengenal baik Blitar sebagi kota sejarah yang tak akan terlupakan. Blitar semakin ramai dikunjungi hingga kini. Keganasan Bung Karno dalam melawan penjajah mesih terpatri dalam ingatan rakyat Indonesia. Blitar yang dikucilkan menyeruak mekar ke permukaan dan menunjukan bahwa di sinilah momen sejarah kemerdekaan terbaik pernah berlangsung. Hadirnya makam Bung Karno yang berpadu dengan momen pemberontakan PETA, menegaskan aura sejarah yang kental di kota kecil itu.
Akhirnya kekangan orde baru lepas benar ketika drama panas 1998 memaksanya bubar. Pemerintahan reformasi menggantikan otokrasi orde baru. Pemerintah baru itu mengeluarkan Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang pemerintahan daerah. Melalui Undang-undang tersebut, sebutan Kotamadya Blitar disesuaikan menjadi Kota Blitar. Hingga menjelang satu abad usia kota ini, Kota Blitar dihuni oleh sekitar 125 ribu jiwa.
Sebenarnya era orde baru telah memberika banyak sumbangan pembangunan pada bangsa ini. GBHN dan Repelita tercatat sejarah sebagai garis visi bangsa yang cemerlang. Kegemilangan ini didukung oleh realita pembangunan yang terus berjalan maju. Angka pertumbuhan ekonomi berjalan membaik. Era ini juga berhasil meyakinkan rakyat bahwa negara tak akan kekurangan pangan. Terbukti swasebada pangan tecatat beberapa kali diraih.
Tapi sistem sentralistik yang mengendalikannya begitu mengusik dan mengganggu. Sistem itu seperti menyimpan nyala api yang siap membakar sekam reputasi. Kerobohan banguan orde baru pada 1998 membakar betul reputasi baiknya. Kisah-kisah sukses dan gemilang orde baru seakan terlupa nan terabai.
Kini era reformasi juga belum berjalan baik. Orientasi politik malah semakin menjadi-jadi. Sistem desentralisasi yang didengung-dengungkan berjalan tertatih-tatih yang makin pincang saja. Pemerataan tak kunjung selesai. Dan sayang, imbas itu merayap hingga menjalar ke Bumi Bung Karno.
Dulu ia sejajar dengan kota-kota lain seperti Batavia (Jakarta), Surabaya dan Bandung. Sebagai pusat administrasi daerah di jaman Belanda, Kota Blitar memiliki posisi yang strategis. Tapi sekarang Blitar telah ketinggalan jauh. Kota-kota itu menjelma menjadi raksasa nusantara, sementara Blitar masih jalan ditempat.
Demi Bumi Bung Karno
Menyedihkan lagi, bila melihat generasi muda Bumi Bung Karno yang semakin tak punya visi. Aku sering melihat mereka tak fokus dalam berpartisipasi membangun tanah kelahirannya. Kongkow-kongkow tak jelas menjadi ajang harian. Memajang diri dengan berbagai kemalasan malah menjadi kebanggaan. Aku juga tak paham mengapa hal ini bisa terjadi. Pendidikan yang menjadi senjata utama pemuda dalam konteks kekinian sekan diacuhkan.
Memang ada beberapa yang gemilang, tapi arus mayoritas menetang dan menenggelamkan arus minoritas itu. Paradigma kenikmatan jangka pendek seakan menggelayuti pikran-pikiran mereka. Budaya-budaya instan dari luar mereka telan mentah-mentah. Sejarah besar kota penting itu seakan pudar lekang ditelan zaman, karena tak dirawat oleh tuan rumahnya sendiri. Dan yang menyesakkan, yang menelan bukan orang lain, tapi putera-putera daerahnya sendiri.
Apa mungkin mereka tak tahu kalau para pahlawan di tanah kelahirannya itu rela mampertaruhkan nyawa demi kebebasan dan kemerdekaan. Dan sayang sekali, aku adalah bagian dari mereka. Ya, aku adalah salah satu yang tak tahu sejarah dan mungkin tak tahu balas budi.
Tapi, sejenak aku sadar, bahwa tanahku ini adalah kampung halamanku. Punya visi masa depan adalah kenicscayan bagiku. Siapa lagi yang akan mengharumkan kebesaran tanah Balitar ini kalau bukan putera daerahnya sendiri. Reputasi kota kecil itu juga reputasiku. Kalaupun aku dikenal baik oleh orang lain, tapi asalku adalah kubangan lumpur, siapa yang mau melirik?
Peradaban dunia telah terbukti terbangun dengan pondasi pengetahuan. Kesadaran akan perlunya pendidikan harus aku tanamkan pada diri. Harus. Sejarah besar kepahlawanan kotaku harus aku camkan dalam-dalam di relung-relung pikiran. Ini bukan demi siapa-siapa, tapi demi tanah kelahiranku, Bumi Bung Karno.
Jazz Muhammad
Alumni SMA 1 Blitar
Mahasiswa Universitas Paramadina Jakarta
*sumber gambar bisa diklik langsung pada gambanrnya
Sunday, March 28, 2010
Berteman ala Aa Gym
Bai, elo tu emang temen gue yang paling top!
Ah, kamu bisa aja!
Eh bener bro, masa lo ngga ngerasa sih?
Hmmm…terserah lo deh
Rasanya senang sekali bila saat hidup ini punya teman yang banyak dan careful semua. Ketika ada masalah, ada yang perhatian. Ketika ada musibah, ada yang menolong. Dengan banyak teman, hati terasa tentram. Kehidupan sepertinya akan berjalan lancar. Penuh dukungan.
Tentunya teman yang saya maksud adalah teman yang baik. Teman yang bisa dijadikan pegangan saat kita terombang-ambing oleh derasnya arus ombak dunia ini. Teman yang selalu ada solusi untuk setiap permasalahan kita. Sangat menyenangkan bukan?
Bagaimana tidak, lha wong ketika semua orang acuh, dia sendiri yang perhatian, saat yang lain mengejek, dia tidak henti-hentinya memberi dukungan. Dalam kondisi seperti ini, ya minimal hidup tuh ngga useless lah. Ada nilai tambahnya. Ya tentunya kamu ngga mau ‘kan kalau teman sekeliling kamu hanya bisa bilang “Eh, elo tu nyebelin tau, elo tu belagu! Males banget tau temenan ama elo!”
Tentu saja mencari teman yang baik itu susahnya minta ampun. Kalau orang bilang, sewu siji (seribu satu). Maksudnya, ya memang jarang. Baru ketemu teman yang kelihatan baik, eh eh eh, ternyata dianya cuma mau meres. Wah gawat kalau gini. Lalu apa yang harus kita lakukan?
Mudah saja, kalau tidak ada yang bisa jadi teman yang baik, mengapa tidak kita saja yang jadi seperti itu? Kitalah yang careful terhadap orang lain, bukan hanya kita saja yang terus minta dipeduliin sama orang lain. Dalam hal ini, kita adalah sebagai subyek dari pertemanan yang harmonis itu, bukan hanya objeknya. Di samping itu, itung-itung mengubah gaya berperilaku. Dari yang careless ke yang carefull. Mau ngga?
Salah satu konsep berteman yang cukup baik menurut saya adalah konsepnya Aa Gym. Syarat membangun pertemanan yang harmonis adalah dengan tiga hal.
Pertama, “Aku bukan ancaman bagimu”. Ini syarat dasarnya. Kalau mau jadi teman yang baik dan membangun hubungan pertemanan yang harmonis, maka sense-sense negative harus dihilangkan. Jangan sampai kita mengecewakan teman. Karena, manusia itu kalau sudah kecewa sama sesorang, sulit untuk mengembalikan kepercayaannya. Nah, first impression itu sangat penting.
Kedua, “Aku menyenangkan bagimu”. Nah, setelah ada kepastian bahwa kita adalah bukan threat (ancaman) bagi yang lain, maka langkah selanjutnya adalah memastikan kalau kita bisa jadi ladang penghibur bagi teman kita. Yang hanya bisa kita lakukan hanyalah membuat teman kita senang dan nyaman ketika berada disamping kita. “Bro, adem banget ati gue kalau disamping elo” (ceileee…)
Ketiga, “Aku bermanfaat bagimu”. Ini adalah jurus pamungkasnya. Dalam pertemanan harus ada nilai tambah yang dihasilkan. kita harus tanggap dengan keadaan teman kita. Intinya, kita adalah solusi bagi dia, bukan destruksi. Selain itu, dalam berteman kita pun selalu punya inspirasi untuk berbuat yang baik seperti berdiskusi, belajar bersama, saling bertukar hadiah, saling menyemangati dan masih banyak lagi. Pertemanan seperti ini akan membuat hidup itu penuh guna dan manfaat.
Cara-cara di atas saya pikir cukup efektif untuk menciptakan suasana pertemanan yang harmonis. Ngga ada salahnya hal ini jadi alternatif cara berteman yang baik. Namun, sebenarnya masih banyak cara-cara lain yang bisa dilakukan. Bukan hanya ala Aa Gym thok. Masih banyak berteman ala-ala yang lain. Saya juga ngga maksa kamu untuk mengikuti saya, tetapi ini lah sedikit usaha saya untuk sharing ilmu.
Siapa sih ngga mau hidup aman, tentram dan damai? Semuanya pasti maulah, tak terkecuali kamu dan saya. Oleh karena itu, mari mulai untuk membangun sebuah pertemanan yang sejati, yang bikin hidup lebih berguna dan penuh manfaat, baik bagi diri sendiri maupun orang lain. OK!
*sumber gambar bisa diklik langsung pada gambanrnya
Ah, kamu bisa aja!
Eh bener bro, masa lo ngga ngerasa sih?
Hmmm…terserah lo deh
Rasanya senang sekali bila saat hidup ini punya teman yang banyak dan careful semua. Ketika ada masalah, ada yang perhatian. Ketika ada musibah, ada yang menolong. Dengan banyak teman, hati terasa tentram. Kehidupan sepertinya akan berjalan lancar. Penuh dukungan.
Tentunya teman yang saya maksud adalah teman yang baik. Teman yang bisa dijadikan pegangan saat kita terombang-ambing oleh derasnya arus ombak dunia ini. Teman yang selalu ada solusi untuk setiap permasalahan kita. Sangat menyenangkan bukan?
Bagaimana tidak, lha wong ketika semua orang acuh, dia sendiri yang perhatian, saat yang lain mengejek, dia tidak henti-hentinya memberi dukungan. Dalam kondisi seperti ini, ya minimal hidup tuh ngga useless lah. Ada nilai tambahnya. Ya tentunya kamu ngga mau ‘kan kalau teman sekeliling kamu hanya bisa bilang “Eh, elo tu nyebelin tau, elo tu belagu! Males banget tau temenan ama elo!”
Tentu saja mencari teman yang baik itu susahnya minta ampun. Kalau orang bilang, sewu siji (seribu satu). Maksudnya, ya memang jarang. Baru ketemu teman yang kelihatan baik, eh eh eh, ternyata dianya cuma mau meres. Wah gawat kalau gini. Lalu apa yang harus kita lakukan?
Mudah saja, kalau tidak ada yang bisa jadi teman yang baik, mengapa tidak kita saja yang jadi seperti itu? Kitalah yang careful terhadap orang lain, bukan hanya kita saja yang terus minta dipeduliin sama orang lain. Dalam hal ini, kita adalah sebagai subyek dari pertemanan yang harmonis itu, bukan hanya objeknya. Di samping itu, itung-itung mengubah gaya berperilaku. Dari yang careless ke yang carefull. Mau ngga?
Salah satu konsep berteman yang cukup baik menurut saya adalah konsepnya Aa Gym. Syarat membangun pertemanan yang harmonis adalah dengan tiga hal.
Pertama, “Aku bukan ancaman bagimu”. Ini syarat dasarnya. Kalau mau jadi teman yang baik dan membangun hubungan pertemanan yang harmonis, maka sense-sense negative harus dihilangkan. Jangan sampai kita mengecewakan teman. Karena, manusia itu kalau sudah kecewa sama sesorang, sulit untuk mengembalikan kepercayaannya. Nah, first impression itu sangat penting.
Kedua, “Aku menyenangkan bagimu”. Nah, setelah ada kepastian bahwa kita adalah bukan threat (ancaman) bagi yang lain, maka langkah selanjutnya adalah memastikan kalau kita bisa jadi ladang penghibur bagi teman kita. Yang hanya bisa kita lakukan hanyalah membuat teman kita senang dan nyaman ketika berada disamping kita. “Bro, adem banget ati gue kalau disamping elo” (ceileee…)
Ketiga, “Aku bermanfaat bagimu”. Ini adalah jurus pamungkasnya. Dalam pertemanan harus ada nilai tambah yang dihasilkan. kita harus tanggap dengan keadaan teman kita. Intinya, kita adalah solusi bagi dia, bukan destruksi. Selain itu, dalam berteman kita pun selalu punya inspirasi untuk berbuat yang baik seperti berdiskusi, belajar bersama, saling bertukar hadiah, saling menyemangati dan masih banyak lagi. Pertemanan seperti ini akan membuat hidup itu penuh guna dan manfaat.
Cara-cara di atas saya pikir cukup efektif untuk menciptakan suasana pertemanan yang harmonis. Ngga ada salahnya hal ini jadi alternatif cara berteman yang baik. Namun, sebenarnya masih banyak cara-cara lain yang bisa dilakukan. Bukan hanya ala Aa Gym thok. Masih banyak berteman ala-ala yang lain. Saya juga ngga maksa kamu untuk mengikuti saya, tetapi ini lah sedikit usaha saya untuk sharing ilmu.
Siapa sih ngga mau hidup aman, tentram dan damai? Semuanya pasti maulah, tak terkecuali kamu dan saya. Oleh karena itu, mari mulai untuk membangun sebuah pertemanan yang sejati, yang bikin hidup lebih berguna dan penuh manfaat, baik bagi diri sendiri maupun orang lain. OK!
*sumber gambar bisa diklik langsung pada gambanrnya
Friday, March 26, 2010
Si Tukang Sol Sepatu
Sepatuku sudah robek. Kalau dipakai sepertinya menganga. Kalau orang jawa bilang sepatu mangap, luwe alias kelaparan. Kalau dipakai, tanpa perintah menebar aroma paling memuakkan dan akan membuatku tak kuat makan berjam-jam. Aku sendiri pusing kalau harus memakainya.
Sudah tiga hari ini aku masih bisa bertahan. Tapi sepertinya sudah tak bisa lagi. Tak kuat lagi aku. Harus dijahit ini. Saatnya aku cari tukang sol.
Kata temanku, biasanya ada tukang sol yang lewat depan kosan. "Sol patu! Sol patu!" Pada tu-nya nadanya agak naik dan tertahan di atas. Memang begitu kira-kira si tukang memanggili pelanggannya. Memang lucu kedengarannya, dan bahkan jadi iklan sebuah minuman. Tapi itu senjata si tukang sol. Senjata untuk berkonfrontasi dengan realitas hidup.
Kemarin Acong, temanku dari kamar sebelah, menjahitkan sepatunya. Hampir dua jam sepatunya dijahit. Sebenarnya bukan jahitnya yang lama, tapi bincang-bincang tetek bengek-nya yang buat lupa waktu. Dan karena aku sok bersahabat dengan Acong, aku terjebak dalam bincang ngalor ngidul nan tak bertema itu.
****
"Berapa bang jahit ginian?" Acong nyerocos. Sementara si tukang asih asyik dengan jahit menjahitnya.
"Sepuluh ribu, Mas?" si tukang menyahut cepat.
"Ngga kemurahan itu, Bang?"
Si tukang menggeleng. Tanda itu memang tak kemurahan. Tapi aku tahu, Acong itu belagak saja. Sok punya uang saja. Padahal aku tahu, ia hanya punya uang segitu. Aku juga. Maklum, anak kosan. Aku hanya diam, sejauh tak terjadi kekerasan.
"Ya, inikan di Jakarta, Bang, masa segitu cukup? Ya dua puluh ribu gitu..."
Sekarang aku yang geleng-geleng. Aku agak ketar-ketir. Acong telah melakukan blunder. Kesalahan fatal bisa terjadi. Yang aku takutkan, kalau uang dia tak cukup, bisa jadi korban aku. Jadi korban utang.
Tapi untung, si tukang menggeleng. Ia tak setuju tawaran Acong. Ah, selamat.
"Ya jaga langganan, Mas..."
"Emang berapa dapatnya biasanya sehari?"
"Ya ngga tentu, Mas, bisa dapat banyak, bisa ngga dapat sama sekali..."
"Ngga dapat sama sekali? Emang kalau paling banyak dapat berapa?"
"Sempat dapat seratus, tapi jaraaaang sekali. Seringnya sih dapat lima puluh..."
Tanpa komando, aku dan Acong memadu suara, "Ooo...."
"Ngga kurang, Bang, segitu? Punya keluarga?" ganti aku yang tanya.
"Ada, ada anak sama istri. Ya kalau rejeki udah ada yang ngatur, Mas. Ya kalau segitu sih, cukup buat sehari lah. Di Jakarta mahal, Mas."
Kami diam sejenak. Merasa lebih beruntung karena makan masih terjamin. Kiriman orang tua masih rutin, meski pas-pasan. Si tukang masih setengah kerja. Sepatu kiri Acong belum disentuh. Sejenak menjahit yang kiri, si tukang kini ganti yang menanya kami.
"Mas, sekolah, kuliah?"
"Kami kuliah, Bang.."
"Wah beruntung ya, Mas-mas ini. Ya kalau kuliah yang sungguh-sungguh saja, Mas. Nanti biar bisa jadi orang sukses. Kalau jadi orang kecil kayak saya tuh, susah," sambil terus menjahit, si tukang masih berujar, "Oya, mas, nanti kalau jadi orang, jangan korupsi mas. Kasian orang kecil. Cari duit itu susah lho, Mas. Ee..h..malah di korupsi... mendingan dikasih orang-orang kayak saya, Mas, kan ya?"
Kami berdua hanya manggut-manggut. Pertanda kalau dua orang mahasiswa mengiyakan petuah-petuah singkat bagai kultum si tukang sol.
"Jangan jadi pejabat, Mas! Saya dengar banyak yang korupsi. Kalau jadi pejabat terus korupsi, mendingan jadi tukang sol saja, Mas... Ha...ha..ha...!"
Kami berdua bingung mau ambil sikap apa. Perasaan tak ada yang lucu. Dengan rasa hormat dan penuh memaksa, kami ikut tertawa saja, Ha...ha...ha...
****
Ah, dari tadi si tukang sol ternyata tak lewat-lewat. Sudah satu jam aku menunggu. Sepatuku perlu di rawat ini.
Satu jam setengah. Tetap tak ada tanda-tanda. Sepertinya tak kan muncul.
Hingga dua jam berlalu. Benar, si tukang sol tak lewat juga. Aku harus relakan dulu sepatuku meradang menganga. Sedikit jengkel aku. Bukan karena sepatuku, tapi karena mengingat tukang sol, aku ingat kemarin ternyata Acong tak pegang uang, jadilah aku korban. Sial!
****
*sumber gambar bisa diklik langsung pada gambanrnya
Sudah tiga hari ini aku masih bisa bertahan. Tapi sepertinya sudah tak bisa lagi. Tak kuat lagi aku. Harus dijahit ini. Saatnya aku cari tukang sol.
Kata temanku, biasanya ada tukang sol yang lewat depan kosan. "Sol patu! Sol patu!" Pada tu-nya nadanya agak naik dan tertahan di atas. Memang begitu kira-kira si tukang memanggili pelanggannya. Memang lucu kedengarannya, dan bahkan jadi iklan sebuah minuman. Tapi itu senjata si tukang sol. Senjata untuk berkonfrontasi dengan realitas hidup.
Kemarin Acong, temanku dari kamar sebelah, menjahitkan sepatunya. Hampir dua jam sepatunya dijahit. Sebenarnya bukan jahitnya yang lama, tapi bincang-bincang tetek bengek-nya yang buat lupa waktu. Dan karena aku sok bersahabat dengan Acong, aku terjebak dalam bincang ngalor ngidul nan tak bertema itu.
****
"Berapa bang jahit ginian?" Acong nyerocos. Sementara si tukang asih asyik dengan jahit menjahitnya.
"Sepuluh ribu, Mas?" si tukang menyahut cepat.
"Ngga kemurahan itu, Bang?"
Si tukang menggeleng. Tanda itu memang tak kemurahan. Tapi aku tahu, Acong itu belagak saja. Sok punya uang saja. Padahal aku tahu, ia hanya punya uang segitu. Aku juga. Maklum, anak kosan. Aku hanya diam, sejauh tak terjadi kekerasan.
"Ya, inikan di Jakarta, Bang, masa segitu cukup? Ya dua puluh ribu gitu..."
Sekarang aku yang geleng-geleng. Aku agak ketar-ketir. Acong telah melakukan blunder. Kesalahan fatal bisa terjadi. Yang aku takutkan, kalau uang dia tak cukup, bisa jadi korban aku. Jadi korban utang.
Tapi untung, si tukang menggeleng. Ia tak setuju tawaran Acong. Ah, selamat.
"Ya jaga langganan, Mas..."
"Emang berapa dapatnya biasanya sehari?"
"Ya ngga tentu, Mas, bisa dapat banyak, bisa ngga dapat sama sekali..."
"Ngga dapat sama sekali? Emang kalau paling banyak dapat berapa?"
"Sempat dapat seratus, tapi jaraaaang sekali. Seringnya sih dapat lima puluh..."
Tanpa komando, aku dan Acong memadu suara, "Ooo...."
"Ngga kurang, Bang, segitu? Punya keluarga?" ganti aku yang tanya.
"Ada, ada anak sama istri. Ya kalau rejeki udah ada yang ngatur, Mas. Ya kalau segitu sih, cukup buat sehari lah. Di Jakarta mahal, Mas."
Kami diam sejenak. Merasa lebih beruntung karena makan masih terjamin. Kiriman orang tua masih rutin, meski pas-pasan. Si tukang masih setengah kerja. Sepatu kiri Acong belum disentuh. Sejenak menjahit yang kiri, si tukang kini ganti yang menanya kami.
"Mas, sekolah, kuliah?"
"Kami kuliah, Bang.."
"Wah beruntung ya, Mas-mas ini. Ya kalau kuliah yang sungguh-sungguh saja, Mas. Nanti biar bisa jadi orang sukses. Kalau jadi orang kecil kayak saya tuh, susah," sambil terus menjahit, si tukang masih berujar, "Oya, mas, nanti kalau jadi orang, jangan korupsi mas. Kasian orang kecil. Cari duit itu susah lho, Mas. Ee..h..malah di korupsi... mendingan dikasih orang-orang kayak saya, Mas, kan ya?"
Kami berdua hanya manggut-manggut. Pertanda kalau dua orang mahasiswa mengiyakan petuah-petuah singkat bagai kultum si tukang sol.
"Jangan jadi pejabat, Mas! Saya dengar banyak yang korupsi. Kalau jadi pejabat terus korupsi, mendingan jadi tukang sol saja, Mas... Ha...ha..ha...!"
Kami berdua bingung mau ambil sikap apa. Perasaan tak ada yang lucu. Dengan rasa hormat dan penuh memaksa, kami ikut tertawa saja, Ha...ha...ha...
****
Ah, dari tadi si tukang sol ternyata tak lewat-lewat. Sudah satu jam aku menunggu. Sepatuku perlu di rawat ini.
Satu jam setengah. Tetap tak ada tanda-tanda. Sepertinya tak kan muncul.
Hingga dua jam berlalu. Benar, si tukang sol tak lewat juga. Aku harus relakan dulu sepatuku meradang menganga. Sedikit jengkel aku. Bukan karena sepatuku, tapi karena mengingat tukang sol, aku ingat kemarin ternyata Acong tak pegang uang, jadilah aku korban. Sial!
****
*sumber gambar bisa diklik langsung pada gambanrnya
Wednesday, March 24, 2010
Bahasa untuk Ekspresi pada Dunia
Disadari atau tidak, globalisasi membuat hubungan antar manusia tak berbatas. Tiap individu kini telah terhubung satu sama lain dengan hadirnya kecanggihan teknologi informasi. Maka munculah sebuah komunitas superbesar di dunia ini. Sebuah komunitas masyarakat yang bisa saling berinteraksi tiap saat dan dimanapun tempatnya. Inilah masyarakat global.
Meski demikian, masalah yang muncul adalah dengan apa anggota society yang besar ini berkomunikasi? Tentu salah satunya kesamaan bahasa sebagai media ekspresi perlu diperhatikan. Saya selalu teringat statement Anies Baswedan, Rektor Universitas Paramadina tentang konsep masyarakat global ini.
Beliau sering menyampaikan bahwa dalam satu waktu, “Kita tak hanya menjadi warga negara Indonesia, tapi kita juga warga negara dunia. Oleh karena itu kita harus bisa mengekspresikan ide-ide kita dalam bahasa dunia.”
Pak Anies melanjutkan bahwa minimal kita mampu menguasai Bahasa Inggris. Hal ini tentu menjadi bahan pemikiran kita semua bahwa memiliki kemampuan berbahsa asing, utamanya Inggris adalah perlu.
Dalam sebuah bacaan, pendapat dari dua guru bahasa Inggris yang berpengalaman di bidang bahasa setidaknya bisa jadi acuan.
Alastair Banton adalah seorang guru di sekolah bahasa swasta di Inggris. Dia juga mengajar bahasa Inggris di Jepang.
Menurutnya hal yang terpenting adalah bahwa kita harus ingin belajar bahasa dengan sungguh-sungguh—tanpa itu kita tidak akan bisa jauh. Harus yakin bahwa kita akan melakukannya.
Lalu, hal penting lainnya tentu kita harus kerja keras, tetapi dalam waktu yang sama, kita harus menikmatinya dan jangan frustasi ketika merasa tidak ada perkembangan. Kita juga harus realistis bahwa belajar bahasa memerlukan waktu dan jangan berharap tahu dan paham segala hal dalam beberapa minggu.
Sementara, Teresa Pelc adalah seorang guru bahasa Inggris di Polandia. Dia mengajar bahasa Inggris di sekolah tingkat dua untuk beberapa tahun.
Baginya, motivasi adalah hal yang terpenting. Kita harus siap belajar grammar, banyak membaca, mendengarkan lagu dalam bahasa Inggris, radio dan TV, dan yang lebih penting harus melakukannya secara sistematis.
Masih menurut Pelc, sangat mudah untuk lupa dari apa yang baru dipelajari. Itulah mengapa guru memiliki peran penting. Bahkan,kadang-kadang, seorang murid yang sangat termotivasi butuh paksaan tersebut. Ia yakin bahwa hanya beberapa orang yang belajar bahasa atas kemauan sendiri.
Belajar sebuah bahasa bisa membuat sangat stres, khususnya bagi banyak orang terutama yang dewasa. Kadang kita merasa harus berbicara seperti anak-anak dan membodohi diri sendiri.
Akan tetapi, bila punya motivasi, kita akan belajar menangkal hal ini. Semua ini seperti hal yang sulit, dan memang seperti itu. tapi yakinlah ini juga sangat menyenangkan. (*)
*sumber gambar bisa diklik langsung pada gambanrnya (deplu.go.id dan matanews.com).
Meski demikian, masalah yang muncul adalah dengan apa anggota society yang besar ini berkomunikasi? Tentu salah satunya kesamaan bahasa sebagai media ekspresi perlu diperhatikan. Saya selalu teringat statement Anies Baswedan, Rektor Universitas Paramadina tentang konsep masyarakat global ini.
Beliau sering menyampaikan bahwa dalam satu waktu, “Kita tak hanya menjadi warga negara Indonesia, tapi kita juga warga negara dunia. Oleh karena itu kita harus bisa mengekspresikan ide-ide kita dalam bahasa dunia.”
Pak Anies melanjutkan bahwa minimal kita mampu menguasai Bahasa Inggris. Hal ini tentu menjadi bahan pemikiran kita semua bahwa memiliki kemampuan berbahsa asing, utamanya Inggris adalah perlu.
Dalam sebuah bacaan, pendapat dari dua guru bahasa Inggris yang berpengalaman di bidang bahasa setidaknya bisa jadi acuan.
Alastair Banton adalah seorang guru di sekolah bahasa swasta di Inggris. Dia juga mengajar bahasa Inggris di Jepang.
Menurutnya hal yang terpenting adalah bahwa kita harus ingin belajar bahasa dengan sungguh-sungguh—tanpa itu kita tidak akan bisa jauh. Harus yakin bahwa kita akan melakukannya.
Lalu, hal penting lainnya tentu kita harus kerja keras, tetapi dalam waktu yang sama, kita harus menikmatinya dan jangan frustasi ketika merasa tidak ada perkembangan. Kita juga harus realistis bahwa belajar bahasa memerlukan waktu dan jangan berharap tahu dan paham segala hal dalam beberapa minggu.
Sementara, Teresa Pelc adalah seorang guru bahasa Inggris di Polandia. Dia mengajar bahasa Inggris di sekolah tingkat dua untuk beberapa tahun.
Baginya, motivasi adalah hal yang terpenting. Kita harus siap belajar grammar, banyak membaca, mendengarkan lagu dalam bahasa Inggris, radio dan TV, dan yang lebih penting harus melakukannya secara sistematis.
Masih menurut Pelc, sangat mudah untuk lupa dari apa yang baru dipelajari. Itulah mengapa guru memiliki peran penting. Bahkan,kadang-kadang, seorang murid yang sangat termotivasi butuh paksaan tersebut. Ia yakin bahwa hanya beberapa orang yang belajar bahasa atas kemauan sendiri.
Belajar sebuah bahasa bisa membuat sangat stres, khususnya bagi banyak orang terutama yang dewasa. Kadang kita merasa harus berbicara seperti anak-anak dan membodohi diri sendiri.
Akan tetapi, bila punya motivasi, kita akan belajar menangkal hal ini. Semua ini seperti hal yang sulit, dan memang seperti itu. tapi yakinlah ini juga sangat menyenangkan. (*)
*sumber gambar bisa diklik langsung pada gambanrnya (deplu.go.id dan matanews.com).
Monday, March 22, 2010
Pencuri Waktu
Bro, belajar yuk….
Maen dulu ya...
Belajar yuk….
Ntar, acaranya asyik ni
Saat melakukan sebuah kegiatan, kita pasti memiliki sebuah tujuan tertentu. Ya iyalah, ngapain kerja kalau ngga ada hasilnya. Nah, untuk mencapai hasil tersebut tentunya kita harus berusaha keras dan cerdas. Artinya? Kerja keras itu ya pake otot. Kalau kerja cerdas ya pake otak. Jadi imbang, otot dipake, otak juga ngga ketinggalan . Oleh karena itu, apapun yang kita kerjakan itu penuh pertimbangan. Ngga buang-buang energi.
Namun, dalam mengerjakan sesuatu apapun, kita tidak boleh lupa bahwa kita harus fokus. Fokus ini adalah yang mengarahkan kamu untuk selalu konsentrasi pada apa yang kam kerjakan. Kalau lagi ngerjain PR ya ngerjain PR aja, ngga usah yang macem-macem. Kalau sedang bikin makanan, ya bikin makanan aja, ngga usah mkirin acara TV.
Integrasi antara kerja keras, kerja cerdas dan fokus akan membuat hasil yang kita kerjakan bisa maksimal. Kalau kita tidak fokus dalam mengerjakan sesuatu, maka yang ada adalah lama selesainya, parah-parahnya kerjaan ngga selesai alias gagal.
Mari menyimak sebuah cerita berikut. Alkisah ada seorang anak bernama Andi. Suatu malam ia berencana belajar karena besok ada ujian semester. Buku telah ia siapkan diatas meja belajarnya dan mulailah ia belajar dengan sungguh-sungguh.
Namun, baru beberapa saat ia belajar, ia melihat sebuah majalah makanan. Karena gambarnya bagus, sontak ia mengambilnya dan mulai membacanya. Lembar demi lembar ia baca. Wuih.. makanannya enak-enak men! Coba ah!
Tak lama berselang ia mulai melihat kulkas. Ia mencari bahan-bahan untuk membuat makanan tadi. Ya….akhirnya bisa kamu tebak. Yup, si Andi ngga jadi belajar. Gimana ya ujian semsternya?
Dalam mengerjakan suatu pekerjaan, kita harus konsentrasi dengan apa yang kita kerjakan. Kalau tidak, maka pekrjaan-pekerjaan lain akan menggoda kita. Dan bila kita tergoda, pekerjaan utama yang seharusnya terlantar. Hasil yang ingin dicapai pun terbang entah kemana.
Inilah gejala kehadiran pencuri waktu. Waktu yang seharusnya bisa dimanfaatkan untuk sebuah hal yang penting malah digunakan untuk hal sepele plus tidak penting. Kadang kita menyepelekan sebuah pekerjaan hingga menunda-nundanya dengan nyantai-nyantai. Memang diawal sepertinya OK-OK saja. Nah, pas akhir-akhirnya kita dikejar deadline yang numpuk. Kalau kamu kuat ya tidak apa-apa, tapi kasian otaknya, Mas!
Sekarang kita perluas pandangan kita pada hasil kehidupan kita. Kalau mau hidup sukses, maka kerja keras kerja cerdas dan fokus pelu dilakukan. Hidup nyantai-nyantai boleh-boleh saja tetapi jangan keterlaluan nyantainya. Bersantai ya harus dilakukan saat harus santai. Masih muda itu pekerjaanya banyak.
Fokus pada apa yang menjadi tujuan hidup kita adalah hal yang penting. Kita mau jadi apa ya tergantung apa yang kita kerjakan saat ini. Sayang sekali kalau waktu yang dianugerahkan kepada kita, kita lepas begitu saja dengan membiarkan para pencuri waktu mengambilnya. Ingat, waktu adalah satu-satunya makhluk yang tak akan berjalan mundur bahkan menolehpun tidak. Sekali dicuri ya sudah ngga ada gantinya.
Sudah saatnya kita berhati-hati dengan pencuri waktu. Awas, ia ada dimana-mana dan kapan saja. Oleh karena itu, saya kira memanfaatkan waktu sebaik-baiknya adalah hal yang paling bijak. Mari manfaatkan waktu dengan kerja keras, kerja cerdas dan fokus demi hasil hidup yang maksimal.
*sumber gambar bisa diklik langsung pada gambanrnya.
Maen dulu ya...
Belajar yuk….
Ntar, acaranya asyik ni
Saat melakukan sebuah kegiatan, kita pasti memiliki sebuah tujuan tertentu. Ya iyalah, ngapain kerja kalau ngga ada hasilnya. Nah, untuk mencapai hasil tersebut tentunya kita harus berusaha keras dan cerdas. Artinya? Kerja keras itu ya pake otot. Kalau kerja cerdas ya pake otak. Jadi imbang, otot dipake, otak juga ngga ketinggalan . Oleh karena itu, apapun yang kita kerjakan itu penuh pertimbangan. Ngga buang-buang energi.
Namun, dalam mengerjakan sesuatu apapun, kita tidak boleh lupa bahwa kita harus fokus. Fokus ini adalah yang mengarahkan kamu untuk selalu konsentrasi pada apa yang kam kerjakan. Kalau lagi ngerjain PR ya ngerjain PR aja, ngga usah yang macem-macem. Kalau sedang bikin makanan, ya bikin makanan aja, ngga usah mkirin acara TV.
Integrasi antara kerja keras, kerja cerdas dan fokus akan membuat hasil yang kita kerjakan bisa maksimal. Kalau kita tidak fokus dalam mengerjakan sesuatu, maka yang ada adalah lama selesainya, parah-parahnya kerjaan ngga selesai alias gagal.
Mari menyimak sebuah cerita berikut. Alkisah ada seorang anak bernama Andi. Suatu malam ia berencana belajar karena besok ada ujian semester. Buku telah ia siapkan diatas meja belajarnya dan mulailah ia belajar dengan sungguh-sungguh.
Namun, baru beberapa saat ia belajar, ia melihat sebuah majalah makanan. Karena gambarnya bagus, sontak ia mengambilnya dan mulai membacanya. Lembar demi lembar ia baca. Wuih.. makanannya enak-enak men! Coba ah!
Tak lama berselang ia mulai melihat kulkas. Ia mencari bahan-bahan untuk membuat makanan tadi. Ya….akhirnya bisa kamu tebak. Yup, si Andi ngga jadi belajar. Gimana ya ujian semsternya?
Dalam mengerjakan suatu pekerjaan, kita harus konsentrasi dengan apa yang kita kerjakan. Kalau tidak, maka pekrjaan-pekerjaan lain akan menggoda kita. Dan bila kita tergoda, pekerjaan utama yang seharusnya terlantar. Hasil yang ingin dicapai pun terbang entah kemana.
Inilah gejala kehadiran pencuri waktu. Waktu yang seharusnya bisa dimanfaatkan untuk sebuah hal yang penting malah digunakan untuk hal sepele plus tidak penting. Kadang kita menyepelekan sebuah pekerjaan hingga menunda-nundanya dengan nyantai-nyantai. Memang diawal sepertinya OK-OK saja. Nah, pas akhir-akhirnya kita dikejar deadline yang numpuk. Kalau kamu kuat ya tidak apa-apa, tapi kasian otaknya, Mas!
Sekarang kita perluas pandangan kita pada hasil kehidupan kita. Kalau mau hidup sukses, maka kerja keras kerja cerdas dan fokus pelu dilakukan. Hidup nyantai-nyantai boleh-boleh saja tetapi jangan keterlaluan nyantainya. Bersantai ya harus dilakukan saat harus santai. Masih muda itu pekerjaanya banyak.
Fokus pada apa yang menjadi tujuan hidup kita adalah hal yang penting. Kita mau jadi apa ya tergantung apa yang kita kerjakan saat ini. Sayang sekali kalau waktu yang dianugerahkan kepada kita, kita lepas begitu saja dengan membiarkan para pencuri waktu mengambilnya. Ingat, waktu adalah satu-satunya makhluk yang tak akan berjalan mundur bahkan menolehpun tidak. Sekali dicuri ya sudah ngga ada gantinya.
Sudah saatnya kita berhati-hati dengan pencuri waktu. Awas, ia ada dimana-mana dan kapan saja. Oleh karena itu, saya kira memanfaatkan waktu sebaik-baiknya adalah hal yang paling bijak. Mari manfaatkan waktu dengan kerja keras, kerja cerdas dan fokus demi hasil hidup yang maksimal.
*sumber gambar bisa diklik langsung pada gambanrnya.
Saturday, March 20, 2010
Merajut Perdamaian dengan Nir-Kekerasan ala Gandhi
Siapa yang tak kenal Mahatma Gandhi? Wikpedia menyebutkan bahwa tokoh dunia satu ini memang begitu berpengaruh pada dunia perdamain. Nilai-nilai ajarannya yang berpegang pada ajaran tradisional hindu, yakni Satya (keberanran) dan Ahimsa (nir-kekerasan) menjadi inspirasi bagi tokoh-tokoh dunia setelahnya seperti Martin Luther King dan Nelson Mandela.
Kehebatan Gandhi telah dicatat sejarah dengan berhasil, mengutip istilah M. Hart, memaksa Inggris "angkat kaki" dari negeri Hindustan itu. Gandhi tak menggunakan kekerasan dalam aktivisme-nya melawan penjajahan. Tapi karena itu juga, penajah melunak dan pergi.
Kini pemikiran-pemikiran Gandhi telah menjadi mutiara dunia yang perlu dijaga. Salah satu penerusnya kini telah menjelajah dunia untuk mengabarkan nilai-nilai Gandhi. Adalah Rajmoan Gandhi, cucu Mahatma, yang kini gethol melakukan hal tersebut.
Mengutip Kompas (19/4), dalam artikel berjudul “Rajmohan Gandhi, Penerus Ahimsa”, Rajmohan Gandhi menyatakan bahwa memang penyelesaian masalah tanpa kekerasan butuh waktu tak sebentar, tapi yang jelas, kekerasan tak akan pernah menuai keberhasilan. Ia selaku menyampaikan bahwa kakeknya telah membuktikan bahwa kekerasan tak pernah menang. Sebagai seorang pemuda, dulu mahatma sangat membenci pendudukan Inggris yang penuh kekerasan.
Rajmohan sendiri telah menulis biografi kakeknya, Mohandas: A True Story of Man, His People and His Empire (2007). Selain itu, pemikirannya tentang perdamain ia tuangkan dalam buku Eight Lives: A Study of Hindu-Muslim Encounter dan buku berjudul Reconciliation & Revenge: Understanding South Asian History.
Rajmohan kini terus aktif mendukng rekonsislisasi India-Pakistan yang sampai sekarang masih bergejolak. Rajmohan bersama kawan-kawannya baik dari India atau Pakistan, terus mempromosikan hubungan yang lebih baik antara kedua negara tersebut.
Kompas mengugkapkan, Rajmohan selalu menekankan bahwa perang bukan pilihan. Persaudaran adalah cara terbaik merajui kedamaian. Rajmohan memang begitu terknal. Karena ia cucu mahatma? Ya. Tapi perlu diingat, jasanya dalam mengobarkan semangat perdamain telah terbukti dari kerja kerasnya sebagai wartawan, reformis social, dan akademisi. Perannya tersebut juga telah mendapat sederet penghargaan.
Pada 1963, rajmohan telah mengadakan “March on Wheel” yang telah menginpirasi ribuan orang untuk bekerja keras untuk India yang bersih, kuat dan bersatu. Selain itu, ia juga membentuk sebuah pusat pelatihan dan konferensi Initiative of change bernama Asia Plateau di Panchgani pada 1968.
*sumber gambar bisa diklik langsung pada gambanrnya.
Kehebatan Gandhi telah dicatat sejarah dengan berhasil, mengutip istilah M. Hart, memaksa Inggris "angkat kaki" dari negeri Hindustan itu. Gandhi tak menggunakan kekerasan dalam aktivisme-nya melawan penjajahan. Tapi karena itu juga, penajah melunak dan pergi.
Kini pemikiran-pemikiran Gandhi telah menjadi mutiara dunia yang perlu dijaga. Salah satu penerusnya kini telah menjelajah dunia untuk mengabarkan nilai-nilai Gandhi. Adalah Rajmoan Gandhi, cucu Mahatma, yang kini gethol melakukan hal tersebut.
Mengutip Kompas (19/4), dalam artikel berjudul “Rajmohan Gandhi, Penerus Ahimsa”, Rajmohan Gandhi menyatakan bahwa memang penyelesaian masalah tanpa kekerasan butuh waktu tak sebentar, tapi yang jelas, kekerasan tak akan pernah menuai keberhasilan. Ia selaku menyampaikan bahwa kakeknya telah membuktikan bahwa kekerasan tak pernah menang. Sebagai seorang pemuda, dulu mahatma sangat membenci pendudukan Inggris yang penuh kekerasan.
Rajmohan sendiri telah menulis biografi kakeknya, Mohandas: A True Story of Man, His People and His Empire (2007). Selain itu, pemikirannya tentang perdamain ia tuangkan dalam buku Eight Lives: A Study of Hindu-Muslim Encounter dan buku berjudul Reconciliation & Revenge: Understanding South Asian History.
Rajmohan kini terus aktif mendukng rekonsislisasi India-Pakistan yang sampai sekarang masih bergejolak. Rajmohan bersama kawan-kawannya baik dari India atau Pakistan, terus mempromosikan hubungan yang lebih baik antara kedua negara tersebut.
Kompas mengugkapkan, Rajmohan selalu menekankan bahwa perang bukan pilihan. Persaudaran adalah cara terbaik merajui kedamaian. Rajmohan memang begitu terknal. Karena ia cucu mahatma? Ya. Tapi perlu diingat, jasanya dalam mengobarkan semangat perdamain telah terbukti dari kerja kerasnya sebagai wartawan, reformis social, dan akademisi. Perannya tersebut juga telah mendapat sederet penghargaan.
Pada 1963, rajmohan telah mengadakan “March on Wheel” yang telah menginpirasi ribuan orang untuk bekerja keras untuk India yang bersih, kuat dan bersatu. Selain itu, ia juga membentuk sebuah pusat pelatihan dan konferensi Initiative of change bernama Asia Plateau di Panchgani pada 1968.
*sumber gambar bisa diklik langsung pada gambanrnya.
Subscribe to:
Posts (Atom)


