Friday, February 19, 2010

Berbagi Manfaat Meraih Beasiswa

Aku memang tak punya pengalaman berharga yang bisa dibagi-bagi. Tapi aku usahakan untuk membagikan apa yang aku alami, meski klise tapi aku harap bermanfaat.

Saat itu aku tak menyangka ada seorang teman yang meng-add Fb-ku. Tak ada mutual friend, artinya ia meng-add aku tanpa referensi. Bagiku ini agak aneh. Maka, aku tanya ia, setelah aku confirm, perihal asal usulnya.

Ternyata ia adalah anak dari pulau yang berbeda. Ia katakan kalau ia ingin sekali mendapatkan beasiswa. Ia meminta tips-tips dariku. Akupun berbesar hati memberinya tips. Kebetulan aku berhasil mendapatkan Paramadina Fellowship. Ini dia email yang aku kirim kepadanya. semoga juga memberi manfaat bagi yang lain.

ini suratku padanya.....

"it's my pleasure to recognize u guys, u'r welcome


oya kalau masalah beasiswa, memang masalah klasiknya adalah informasi. ya, informasi yang kita dapatkan minim. jadi tak punya referensi buat langkah kita. (hehe, serius mode: ON)

tapi ini aku share pengalamanku, moga ngga buat kamu kira aku sombong.

aku dulu ya cari2 info beasiswa gt, karena PMDK aku di UI ditolak. kecewa berat dunk. TT

lalu akhirnya alternatif harus kuambil. ya cari beasiswa. lalu aku dapat dua info, paramadina fellowship n sampoerna foundation.

nah, ya aku download form-nya. terus aku isi sesuai apa yang diperintahkan.

nah, alhamdulilah aku diterima di kedua beasiswa itu, dan seharusnya kl aku dulu ngambil yang sampoerna, aku sekarang kul di Unpad. hehe, tapi kata hatiku ngga usah ke sana, ke paramadina aja.

nah, kal masalah tipsnya, aku dapat dari guruku.
beliau sealu bilang, untuk surat rekomendasi, minta dari guru atau tokoh masyarakat yang memang dekat dan kenal baik dengan kita. penilaiannyakan ananti tentu jauh lebih obyektif daripada yang lain.

jangan kita minta ke kepala sekolah, tapi kita ketemu ama beliau aja cuma sekali dalam satu semester.

terus untuk esainya, kita buat sesuai tema. tapi, apa yang kita tulis itu bukan pengalaman semata, lalu dibumbui dengan keluh kesah. tapi kita harus sajikan juga data, fakta, dan mimpi2 kita.

kita harus yakinkan pemberi beasiswa kalo kita punya mimpi dan dengan kita akan sampai ke mimpi2 kita itu, salah satunya lewat program beasiswa itu.

yang paling penting di awal itu, buat dokumen aplikasi yang akan kita kirim meyakinkan tim panel. isi dengan sebaik-baiknya. tentunya tetap obyektif. ini akan menjamin kelulusan kita untuk tahap pertama.

tahap kedua adalah wawancara. ketangkasan dalam menjawab adalah kuncinya. itu saja. not more or less. tapi yang perlu diperhatikan, pertanyaan pertama itu kiranya, sesuai pengalamnku, adalah "ceritakan tentang dirimu?". itu kunci awal gerbang kesusesa. gagal menjawab pertanyaan itu, aku kira, kemungkinan lolos juga lebih kecil.

siapa sih yang tahu tentang diri kita kalau bukan diri kita sendiri? kita sebenarnya tahu, tapi karena tak terbiasa mengungkapkannya,jadinya ya "kagok". kayak ada kayu yang nyangkut ditenggorokan.

bebas saja mengungkapkannya. ceritakan apa adanya. punya prestasi ya diceritakan, pernah gagal ya diceritakan. feel free saja.

mungkin itu saja Win. oya aku hanya punya dua informasi beasiswa, Paramadina fellowship (http://www.paramadina.ac.id/) dan sampoerna foundation (www.sampoernaeducation.ac.id). coba saya apply di dua program itu. Sistem pendaftaran hampir sama.

semoga sukses win. maaf, hehe, ngmengnya kayak sok pinter. semoga bermanfaat tulisan ini. salam"




Thursday, February 18, 2010

Tugas Lagi......

Enak... ni hari gue ga ada tugas! ….Lo ada kan? Rasain! Ye…yeyeye..ye

Wah gue besok ujian bla bla bla ni! Aduh! … Enak ya lo ngga ujian…..

Kita semua pasti sering mendengar percakapan semacam itu. Pernyataan bahwa tidak ada tugas itu menguntungkan mungkin disetuji banyak orang. Ketika sekolah, kuliah, atau bekerja tidak ada tugas yang harus diselesaikan, rasanya hidup itu nyaman sekali. Sepertinya semuanya akan berjalan baik. It seems that the show will go on well. Akan tetapi, apa kenyataannya seperti itu?

Kalau kita mau berpikir lebih dalam, adanya sebuh tugas, quiz, atau ujian adalah sebuah alat ukur apakah kita telah menguasai bidang atau hal tertentu mengenai tugas atau ujian tersebut. Misal kamu dapat tugas menulis makalah tentang politik, maka sebenarnya hasil makalah itu yang menunjukkan apakah kamu benar-benar mengerti prihal politik itu sendiri. Selain itu, apabila tugas itu berhasil kita kerjakan, berarti kita berhak meninggalkan (maksudnya tidak mempelajari lagi) materi tersebut untuk selanjutnya mempelajari hal lain.

Melihat fakta tersebut, bila kita memperluas pandangan kita, tugas ini bisa diilustrasikan sebagai ujian akhir kenaikan kelas di sekolah . Kalau mau masuk kelas yang lebih tinggi, maka ujian akhir, mau tak mau harus diikuti. Kalau lolos ya naik kelas, kalau tidak ya maaf, kamu harus tinggal kelas. Semua sekolah pasti melakukan hal tersebut.

Nah, sekarang apabila kamu menghindar dari tugas ataupun semacamnya, apa kamu mau tinggal kelas? Tidak apa-apa kalau ada yang ngga setuju dengan ilustrasi saya ini, tetapi saya tekankan lagi, saya tidak tahu sekolah macam apa yang membiarkan muridnya naik kelas tanpa ikut ujian. Ya kalau ada mah, itu humor yang sangat tidak lucu. Bayangkan saja kita itu jadi kepala sekolah tersebut, kamu mau?
Ini berarti, apa kita mau membiarkan diri kita terus mengelak terus dari tugas? Mau lebih baik, ya kerjain tugas dengan baik.

Untuk membuat kita sedikit, atau sepenuhnya senang ada tugas, kita harus menganggap tugas sebagai tantangan. Kita juga harus sadar bahwa tugas ini akan membawa diri kita lebih baik dari sebelumnya, yup seperti kita naik kelas tadi. Sementara itu, tugas yang kita anggap sebagai tantangan akan membuat kita untuk bersemangat untuk men-tackel-nya. Parlindungan Marpaung menyatakan kalau adanya tantangan dalam hidup itu menunjukkan kalau kita itu ada (baca: hidup).

Seperti yang saya sampaikan dalam tulisan sebelumnya, seorang direktur termuda BUMN menyatakan bahwa kunci kesuksesannya adalah kita harus terus menghadapi tantangan dan jangan sampai terbuai oleh kenyamanan. Ilustrasi yang bagus disampaikan oleh Komarudin Hidayat mengenai hal ini.

Air mengalir walaupun keruh itu sehat
Akan tetapi air yang jernih yang diam itu sumber penyakit


Jadi, walaupun hidup kita itu penuh tugas, quiz atau ujian yang seakan-akan membuat kita itu tidak tenang, sesungguhnya kita itu sedang memaksimalkan potensi diri kita. Namun, bila kita puas begitu saja oleh keadaan dan diam, maka sesungguhnya kita sedang mengubur potensi diri ini sedikit demi sedikit.

Kalau begitu, Ayo, semangat dan sungguh-sungguh mengerjakan tugas apapun yang kita dapatkan. Biarkan orang lain mencibir kita, lha wong dia ngga tahu apa-apa


Tulisan ini, selain sebagai tulisan lepas, juga diikutsertakan Djarum Black Blog competition Vol. 2. Event ini diadakan oleh PT Djarum yang memproduksi Djarum Black Menthol dan Djarum Black Slimz.



*sumber gambar bisa diklik langsung pada gambanrnya




Wednesday, February 17, 2010

Berani Ngga?

Gak mau ah, banyak resiko! Ah gak jadi, ntar salah! Gak mau nyoba ah, ntar dimarahi! Pokoknya biar yang lain dulu!

Sebagian besar dari kita sering merasa takut untuk memulai melakukan sesuatu. Ada rasa berat hati yang tertancap kuat dalam diri kita. Ketakutan akan apa yang akan terjadi membayangi diri kita sendiri. Padahal sebenarnya kita sendiri belum tahu apa yang akan terjadi. Hanya menerka-nerka. Hayu, benar ngga?

Ada sebuah cerita mengenai dua pegawai yang kedua-duanya akan dimutasi ke Papua. Anda pasti tahu seperti apa Papua itu (agak underestimate, tapi mohon khusnu dzan aja..). Nah, setelah kedua pegawai itu diberi wewenang untuk jadi kepala cabang di dua kota terpisah, munculah reaksi masing-masing. Pegawai pertama langsung mengajukan keberatan. Dia langsung nyerocos menentang keputusan si bos. Dia memandang kalau ia tak akan berhasil di sana kelak. Papua kan ..bal…bla…bla…

Pegawai kedua menanggapi dengan sikap berbeda. Awalnya, memang harus diakui ada perasaan kaget. Namun ia memandang lain keputusan si bos. Seketika itu juga ia langsung menyusun strategi pemasaran yang diestimasi akan membuahkan keuntungan. Dia terlihat begitu semangat untuk segera melaksanakan tugas baru tersebut.

Akhir cerita, ternyata si bos hanya menguji kedua pegawai tersebut. Ternyata si bos mencari pegawai yang akan ia posisikan sebgai manajer umum yang baru. Tanpa meneruskan cerita, Nah, sekarang siapa yang untung?

Dari cerita diatas, dapat diambil pelajaran bahwa opitmis dalam hidup ini adalah penting, sangat penting. Hidup dengan optimisme akan membimbing hati kita untuk selalu yakin akan masa depan. Anies Baswedan mengatakan bahwa Kamu saat ini adalah akumulasi keputusan-keputusanmu di masa lalu, dan masa depan adalah hasil akumulasi keputusan-keputusanmu di masa sekarang ini. Jadi jangan ragu sama yang namanya masa depan.

Berani mencoba adalah kunci pembuka optimisme dalam diri manusia. Menghilangkan perasangka-perasangka buruk mengenai masa depan adalah penting. Seringkali kita masih terlena dengan kenangan masa lalu. kita sering dibuat hanyut oleh kejadian masa lalu. sibuk aja ngurusin masa lalu, sementara meragukan masa depan. Ujung-ujungnya ya menghayal doang! Kasarannya ngasal aja kalau mikir…....

Dalam buku ‘Setengah Isi Setengah Kosong’ Parlindungan Marpaung menjelaskan bahwa nostalgia masa lalu yang demikian indah dan tidak terkontrolakan menggiring kearah ketenangan batin yang berlebihan dan membuat sulit untuk berubah. Nah, apa Kamu mau berubah?

Sekarang sudah saatnya kita mencoba. Mencoba hal-hal baru. Jangan biarkan kenangan masa lalu merayu kita untuk kembali mengurungkan niat. Jack Hoyford pernah mengatakan “masa lalu adalah persoalan yang sudah mati dan kita tidak mungkin meraih momentum untuk menuju hari esok kalau kita menyeret-nyeret masa lalu di belakang kita.”

Selamat mencoba, dan silahkan membuat keputusan untuk masa depanmu, juga masa depanku!

Tulisan ini, selain sebagai tulisan lepas, juga diikutsertakan Djarum Black Blog competition Vol. 2. Event ini diadakan oleh PT Djarum yang memproduksi Djarum Black Menthol dan Djarum Black Slimz.



*sumber gambar bisa diklik langsung pada gambanrnya

Memandang Positif Pernyataan Presiden

”Keadilan tidak selalu sejalan dengan hukum meskipun penegakan hukum itu sendiri harus sedekat mungkin dengan keadilan. Manakala ada jarak antara hukum dan keadilan, mari kita tata kembali agar keadilan itu betul-betul tegak,”

Pernyataan itu aku dapatkan dari Kompas (17/2). Pertama kali aku tak tertarik membaca artikel berjudul “Presiden: Jangan Sama Ratakan Perbuatan Kriminal”. Di tengah pesismisme publik atas kinerja pemerintah, pernyataan itu sungguh terdengar hampa. Preseden buruk terhadap pemerintah, sepertinya membuatku engggan untuk membacanya. Paling juga “omdo” alias omong doank.

Persepsi Optimis
Tapi aku berusaha untuk objektif. Aku paksa mataku untuk mengarah pada artikel itu. Akhirnya kata demi kata aku lahap. Sampai aku temukan pernyataan presiden tersebut. Sebenarnya aku juga tak yakin, apa benar seperti itu kalimatnya? Tapi lupakan saja.

Namun, aku terus berupaya melihat sejenak hal itu dengan pandangan positif. Pandangan yang menempatkan persepsiku pada sisi optimisme.

Aku lihat presidenku ini memang manusia. Ya, manusia seutuhnya. Manusia yang tentunya tak lepas dari kesalahan. Namun, tentunya tetap punya sisi kebenaran. Cak nur, pendiri Paramadina, pernah mengungkapkan bahwa falsafah dasar manusia itu adalah sifat hanif. Artinya manusia itu memiliki kecenderungan untuk berbuat baik. Maka aku simpulkan, presidenku ini tentu juga berkecenderungan baik.

Aku sangat tersentak ketika membaca kalimat pertama pernyataan orang nomer satu di negeri itu. Beliau melihat secara jelas kenyataan hidup itu memang tak mudah dihadapi. Banyak hal ideal yang sampaikan orang, tapi pelaksaanananya memang tak mungkin seideal celotehannya. mungkin malah berkebalikan.

Perihal Bualan
Beliau menyampaikan perihal keadilan dengan begitu elegan. Aku akui, kalimat itu tak akan bisa di ucapkan politisi-politisi macam hari ini yang suka membual. Lihat saja saat acara debat di salah satu TV swasta. Mereka begitu gethol bin ngeyel atas pendapat mereka, yang tentu disesuaikan kesepakatan kolektif partainya. Padahal masalah di depan mereka begitu banyak dan jelas mana yang salah dan benar. Mana yang harus diprioritaskan mana yang tidak.

Aku dapati mereka berdebat begitu panjang soal reshuffle kabinet. Aku sendiri tak paham kenapa harus di reshuffle. Kalau alasannya gara-gara kinerja menteri yang tak beres, maka reshuffle itu masuk akal. Tapi kalau karena gerak geriknya pansus century yang dianggap membahayakan, inilah yang membuat reshuffle benar-benar tak masuk logikaku.

Partai pemenang pemilu merasa telah dikhianati. Tapi yang kalah pemilu bilang kalau mau objektif. Mereka, kedua-duanya, sibuk berwacana tapi miskin aksi. Hanya bualan-bualan berbumbu kata-kata akadmis yang mereka tawarkan. Sementara bulan mereka itu tentu dan sudah pasti tak akan membuat angka kemiskinan yang 14% segera beranjak.

Memandang Positif
Tapi jangan-jangan kata-kata presiden tadi juga hanya bualan? Sekali lagi, aku kali ini mau berpikir positif. Aku akui keadilan saat ini sudah tak karuan lagi. Hukum sebagai batas keadilan itu telah bersikap mendua. Hukum saat ini tegas pada yang kecil, tapi tak tegas pada yang gedhe. Kau pasti tahu maksudnya.

Presiden menutup pernyataannya dengan pernyataan bernada upaya. Beliau menunjukkan itikad baik untuk membenahi keadilan. “….mari kita tata kembali agar keadilan itu betul-betul tegak,…”
Sebuah penutup yang juga persuasif. Berisi ajakan untuk berbenah. Sebuah ajakan untuk beranjak dari ketidakseimbangan penyelenggaraan hukum di negeri ini. Apa kau masih menganggap presiden itu membual? Terserah. Tapi yang penting tetaplah berpandangan optimistis-positif.

*kunjungi juga kompasianaku untuk membaca tulisan ini



*sumber gambar bisa diklik langsung gambarnya


Tuesday, February 16, 2010

Jangan Ingin Doank

Rosyid, apa yang menjadi cita-cita Kamu?
Saya ingin jadi pengusaha Pak! Karena bla…bla…bla…

Pertam kali saya kuliah, saya ditanyai oleh dosen saya. Kira-kira percakapannya seperti diatas. Kala itu saya memang ingin sekali menjadi pegusaha. Saya pun utarakan alasan saya. Ya, itu yang bla…ba…bla…(oh, terlalu panjang untuk diungkapkan). Saat itu apa yang saya ungkapkan adalah sebuah keinginan. Apa saat itu saya sudah jadi pengusaha? Ya belum. Tapi apa saya kan jadi pengsaha? Tunggu dulu…

Suatu hari saya menerima SMS dari teman saya. “Keinginan manusia adalah seperti koin-koin yang dibawa dalam sebuah kantong kecil, semakin banyak yang dibawa, akan semakin memberatkannya”. Saya tidak tahu darimana sumbernya, tetapi yang penting itu maksud dari SMS itu. Kamu ngerti ngga..?

Sehabis membacanya, saya mikir-mikir. Bener juga ya omongan tu SMS. Semakin seseorang itu berkeinginan, maka semakin berat pula beban pikiran yang muncul. Rasanya itu ingin ini ingin itu. Inginnya kabeh keturutan (semua tercapai). Namun, pertanyaannya, apakah dengan hanya punya keinginan yang seabreg itu kita bakal bisa menjadi apa yang kita inginkan? Saya dan Kamu pasti setuju kalau jawabannya adalah tidak. Nah, jalan logis satu-satunya agar bisa tercapai adalah mengeksekusi keinginan kita. Jadi, biarkan koin-koin yang disimpan itu keluar dan menjadi barang nyata. Maksudnya dibelikan sesuatu….

Faktanya, mengeksekusi sebuah keinginan kadang juga bermasalah. Masalah yang muncul adalah keragu-raguan diri kita sendiri atas hasil yang dicapai. Saya nulis ini ya karena saya sendiri mengalaminya. Sering kali kita takut kalau-kalau gagal. Ntar begini, kalau begini ntar begitu. Ini yang namanya pandangan pesimis—bahasa umumnya ngga yakin. Kita meragukan sendiri akan keberhasilan yang bisa dan sangat mungkin kita raih.

Kalau mau berhasil itu pasti ada resikonya. High risk high return. Kalau mau sukses ya resikonya besar. Resiko sudah mutlak tidak bisa dihilangkan, tetapi ini bisa diminimaliasai. Jadi, perlu kita perlu sadari bahwa kalau mau keinginan kita tercapai dengan gemilang, harus paham kalau risiko pasti besar. Sekarang, tergantung bagaimana usaha kita mengurangi resiko tersebut.

Seorang Katherina, direktur termuda di BUMN negeri ini, menyampaikan bahwa untuk sukses itu seseorang harus menghadapi challenge (tantangan) dan jangan merasa nyaman dengan kenyamanan yang ada. Nah, risiko itulah yang harus kita jadikan challenge dan harus kita hadapi. Mau sukses? Tackle the challenge!
Bahkan, Mahatma Gandhi mengibaratkan begitu pentingnya sebuah eksekusi keinginan (praktik) dengan perumpamaan bahwa satu ons praktik nilainya sama dengan satu ton ilmu pengetahuan. Jadi, keinginan yang diwujudkan memang jauh lebih bernilai dari pada dibiarkan saja menjadi sebatas keinginan yang ujung-ujungnya membebani pikiran.

Jadi, masih maukah kita menumpuk keinginan tanpa ada satupun yang dieksekusi? Just do it right now guys!

Tulisan ini, selain sebagai tulisan lepas, juga diikutsertakan Djarum Black Blog competition Vol. 2. Event ini diadakan oleh PT Djarum yang memproduksi Djarum Black Menthol dan Djarum Black Slimz.



*sumber gambar bisa diklik langsung pada gambanrnya


Ha..ha..ha

Sebuah aktivitas ringan yang enak dilakukan adalah tertawa. Saat kita mengindera sesuatu yang lucu, gerak refleks kita yang normal adalah tertawa. Kamu normal..? Saya dan Kamu pasti pernah mendengar suatu guyonan atau humor . Mungkin Kamu cuma senyum atau bahkan terpingkal-pingkal. Tidak usah bingung, itu lumrah dan normal. Jadi ketika ada yang lucu silahkan tertawa, lha wong ngga mbayar.

Kehadiran humor dalam hidup ini memang sangat diperlukan. Ketika suasana jiwa manusia sedang susah, ya bahasa gaulnya ‘BT’, maka humor itu bak obat sakti yang sangat manjur. Saraf-saraf yang kencang dan hampir putus bisa normal kembali karena humor. Dalam hal ini, novelis jerman Wilhelm Roube menyampaikan bahwa rasa humor adalah sabuk pengaman mengarungi arus kehiduan. Apa kamu sudah pakai sabuk pengaman diatas? Kamu sudah siap tertawa? Eiits tunggu dulu, baca selanjutnya.

Saat tertawa, kita harus tulus. Tertawa harus diawali dengan hati yang gembira dan tulus. Tertawa ini tidak dibuat-buat. Tertawa yang tulus akan membuat hidup menjadi lebih ringan. Hal ini akan membuat seseorang lebih mudah dalam bergaul. Nah, ketika proses pergaulan terasa lancar, maka hidup pun terasa ringan tanpa beban. Orang lain akan merasa senang berkomunikasi dan berada di dekat kita.

Tertawa berbeda dengan menertawakan. Kalau menertawakan, berarti ada sesuatu yang tidak lucu dan sama sekali bukan humor, tetapi Kamu malah tertawa. Nah, yang ini itu, bahasa ekstrimnya pelecehan. Jadi, hindari perilaku suka menertawakan sesuatu, baik itu tingkah orang lain maupun hasil karya seseorang. Karena, dampak yang timbul adalah seratus persen berlawanan dengan tertawa yang tulus. Ngga percaya, silahkan coba sendiri….

Sebuah media menyebutkan bahwa humor adalah obat keseriusan yang brutal. Bahkan, sumber yang sama menyebutkan bahwa dalam masyarakat, humor adalah pupuk toleransi. Kalau begini faktanya, kehadiran humor yang direspon dengan tertawa adalah sesuatu yang penting dalam hidup ini.

Tertawa juga bisa mengurangi ketegangan pikiran. Biasanya orang yang pikirannya tegang, pikirannya diliputi rasa khawatir. Sementara, dalam buku The True Power of Water, Dr Masaru Emoto telah meneliti bahwa rasa cemas itu menimbulkan sakit perut. Ya saya sih antara percaya ngga percaya, tapi itu faktanya. Jadi kalau kamu percaya ya OK, ngga percaya no problem. Tapi mau Kamu sakit perut tanpa alasan yang jelas?

Kalau begitu, Yuk, tertawa yang tulus sambil bersykur kita masih diberi limpahan nikmat oleh Sang Khalik!

Tulisan ini, selain sebagai tulisan lepas, juga diikutsertakan Djarum Black Blog competition Vol. 2. Event ini diadakan oleh PT Djarum yang memproduksi Djarum Black Menthol dan Djarum Black Slimz.



*sumber gambar bisa diklik langsung pada gambanrnya



Teman atau Sahabat

Eh, aku kemaren aku diaudit anak buah kamu, gede banget pajaknya….
Tapi bisa diatur kan…? (kamu kan temanku..)sambil menyodorkan satu amplop yang tentunya berisi uang segebeg

Saya mendapati percakapan tersebut dalam iklan Dirjen Pajak dan semoga anda juga melihatnya. Dari percakapan tersebut tersirat pesan bahwa seorang meminta bantuan yang negatif (minta diringankan pajaknya) atas dasar pertemanan. Dia (yang mminta keringanan pajak) menganggap karena pertemanan, semua bisa diatur, bisa dikendalikan. Tapi untungnya si pegawai pajaknya tidak setuju dan akhir cerita, foto pertemanan mereka sewaktu kecil jatuh dari cantolannya dan pecah.

Dalam hidup ini memang seseorang perlu memiliki teman. Sesuai dengan konsep bahwa manusia adalah makhluk sosial, yang memerlukan manusia lain dalam mengarungi kehidupan, maka sudah lumrah kalau kehadiran teman memang sangat diperlukan.

Teman merupakan tempat kita berbagi. Berbagi ide, berbagi pendapat, berbagi informasi, sampai berbagi makanan. Dengan teman kita bisa bekerja sama dalam menghdapi ujian hidup ini. Dalam sebuah pelatihan, saya mendapat sebuah ilmu bahwa ketika dua orang bekerja sama dalam melakukan sesuatu, dan masing-masing menyumbangkan satu energi, maka energi yang muncul bukan dua tetapi tiga. Percaya atau ngga sih terserah…tetapi, karena begitu besarnya arti sebuah teman, yuk cari teman!

Kesetiaan atau loyalitas perlu hadir dalam sebuah pertemanan untuk menjaga keberlangsungan pertemanan itu sendiri. Dengan loyalitas, timbul rasa saling mempercayai sehingga apapun yang dihadapi, tidak ada rasa ragu atau curiga atas kemampuan seorang teman dalam membantu kita. Teman pun juga bersikap seperti itu terhadap kita. Namun, sebuah pertemanan belum tentu bisa menjamin arahnya ada hal yang positif. Karena, tukang copet dalam beraksi juga bekerja sama dengan teman, perampok pun tidak merampok sendirian.Nah, kalau begitu ..?

Pertemanan harus berlanjut ada sebuah persahabatan. Kegiatan-kegiatan positif adalah tujuan sebuah persahabatan. Seorang yang telah menjadi sahabat tidak akan membiarkan sahabatnya kelaparan sementara ia menikmati kekenyangan, tidak akan membiarkan sahabatnya terjun ke jurang kegagalan sementara ia merangkak naik tangga kesuksesan. Ketika sahabatnya tersakiti, ia pun merasa sakit, ketika sahabatnya sukses, ia pun ikut tertawa merayakannya.

Richard Exley pernah menyampaikan bahwa sahabat sejati itu merayakan keberhasilan sahabatnya seolah-olah keberhasilannya sendiri. Teman memag bisa banyak, tetapi masih sedikit yang bisa jadi sahabat.

Sekarang, sudah berapakah teman Anda? Berapapun jumlahnya, yang penting mari mulai sebuah pertemanan yang sehat dan positif untuk menuju sebuah persahabatan yang sejati.

Tulisan ini, selain sebagai tulisan lepas, juga diikutsertakan Djarum Black Blog competition Vol. 2. Event ini diadakan oleh PT Djarum yang memproduksi Djarum Black Menthol dan Djarum Black Slimz.



*sumber gambar bisa diklik langsung pada gambanrnya

Terangisme

Semua orang berhak untuk mendapat kesuksesan, tanpa terkcuali saya ataupun Kamu. Dimana ada kesempatan, bila itu diambil dan dijalani dengan sungguh-sungguh, Insyaallah, sang Khalik akan memberi kelonggaran jalan bagi kita untuk berhasil. Nah, ketika berhasil, seringkali kita pun ingin memberi tahu keberhasilan kita pada orang lain.

Alasannya umumnya ada dua. Pertama mau gembar-gembor menyombongkan diri . Sementara itu, kedua, dengan tulus berniat membagi pengalaman tanpa ada rasa sombong. Hayu, biasanya kamu yang mana? Saya jujur, seringkali alasan yang pertama yang saya lakukan. Namun, saya tetap terus berusaha untuk mengalihkannya ke alasan yang kedua. Dan, saya sangat menyarankan Kamu untuk melakukannya juga. Ngga ada untungnya sombong tu….

Nah, sekarang kita beralih pada bagaimana respon dari gembar-gembor keberhasilan tadi. Coba simak percakapan ini.

Eh dia kemaren dapat juara menulis lho….
Ya terang aja, lha wong dia bla…bla…bla (ngga usah disebut, terlalu banyak kata negatif, ngga bisa diungkapkan)

Eh, gue tadi masuk final abang-none Jakarta…..
Ah, terang aja elu kan bla…bla…bla…

Inilah gejala terangisme. Ketika seseorang mendapat keberhasilan, seringkali kita langsung nyerocos “terang aja…dia bla..bla, terang aja lha wong dia itu pake ilmu bla..bla..bla, dan terang-terang yang lain”. (BTW, saya ini mendapat kata terangisme ini dari Pak Mario Teguh, tepatnya saat ada iklan acara beliau di TV)

Memang sulit bagi kita untuk mengakui keunggulan teman atau siapapun. Jujur saja, dasar manusia, inginnya tu dia sendiri yang berhasil. Ya ngga..? ketika ada teman yang sukses, sering kita langsung mencari sisi negatif dari kesuksesan tersebut. Kadang kita malah meragukan akan kesuksesan tersebut. Inilah saat kita itu ‘dibutakan’ oleh pikiran negatif (negative thinking). Padahal, belum tetnu kita bisa melakukannya. Orang-orang seperti ini tu adalah orang yang sibuk mengoreksi orang lain sementara dirinya sendiri tak diurusi. Kuman diujung monas kelihatan, sementara dinosaurus di depan mata ngga tahu.

Apa ini buruk? Jawabnya, buruk sekali. Banyak pakar motivasi yang menyatakan bahwa sekali kita ber-positive thinking, maka pikiran positif-pikiran positif lain akan mengikuti. Namun, buruknya, ini juga beraku kebalikannya. Sekali berpikir negatif, maka yang ada dalam otak kita itu negative thingking melulu. Kalau begitu, apapun yang ada dihadapan kita itu semua kita pandang negatif. Teman sukses dipikir curang, teman dapat nilai bagus dikira nyontek, ada teman ngelihat, dikira nantangin……

Gejala-gejala terangisme ini harus kita buang jauh-jauh. Jangan sampai dalam pikiran kita terbesit negative thinking. Kita harus memandang apa yang dicapai sesorang tu sebagai motivasi bagi diri kita untuk menyamai bahkan melebihinya, bukan malah meragukan dan berpikir yang tidak-tidak.

Oleh karena itu, Yuk, ngilangin negative thinking dari otak kita! Hilangkan gejala-gejala terangisme yang muncul. Biarkan pikiran ini dipenuhi oleh pikiran positif –pikiran positif yang akan membuat kita menjalani hidup dengan mudah.


Tulisan ini, selain sebagai tulisan lepas, juga diikutsertakan Djarum Black Blog competition Vol. 2. Event ini diadakan oleh PT Djarum yang memproduksi Djarum Black Menthol dan Djarum Black Slimz.



*sumber gambar bisa diklik langsung pada gambanrnya

Being Well-Prepared

Heh ngapain lo baca buku?
Ya mempersiapkan masa depan
Mau jadi apa lo dengan baca buku?
Aku mau jadi presiden
Ha..ha..ha.. sok yes lo….

Tujuan saya menulis tulisan ini tidak lain dan tidak bukan hanya berupaya untuk saling mengingatkan bahwa masa depan kita adalah ditentukan oleh kita sendiri. Kita dimasa depan adalah akumulasi keputusan-keputusan kita saat ini. Maka dari itu ngga ada salahnya kalau kita mulai be well-prepared for our bright future. Hal ini senada dengan hadits nabi yang menyataan bahwa nasib sebuah kaum tidak akan berubah kecuali kaum tersebut berusaha mengubahnya sendiri. Mau ngga berubah? Masa tetep mau gini-gini aja?

Masa depan adalah hal yang abstrak. Semua orang hanya bisa menerka-nerka bagaiman masa depan mereka masing-masing. Masa depan masih menjadi angan-angan bagi setiap orang. Ada yang berangan jadi pilot, jadi artis, menjadi presiden dan entah apa lagi. Hayu, kamu mau jadi apa di masa depan? Pikir aja. Sah-sah saja kok. Tapi…….baca selanjutnya.

Memang masa depan sesorang tiada yang tahu. Baik itu Mbah Dukun ataupun Mama Loren ngga jamin deh. Tapi itu bukan itu yang menjadi masalahnya. Masalahnya adalah bagaimana kita, yang tidak tahu mau jadi apa di masa depan ini, mempersiapkannya dengan baik. Bagaimana kita merancang masa depan dan mempersiapkan bekal untuk mencapai dalam kesuksesan adalah hal utama yang harus diutamakan.

Di awal tulisan ini saya menyajikan sebuah percapakan. Percakapan tersebut secara singkat menggambarkan dua orang yang berbeda pandangan dalam menghadapi masa depan. Satunya mempersiapkan diri (untuk jadi presiden) dengan membaca buku dan yang satunya acuh tak acuh. Malah ngatain ‘sok yes’. Malah kadang-kadang, ada saja yang sok tahu dan menasehati ini, itu. Samuel Mulia menyatakan kalau kamu mengetahui kalau sebenarnya ia hanya ingin kelihatan baik, diam saja, senyum saja, tak usah mencibir. Saya pikir ini cukup bijak.

Memang mempersiapkan masa depan tidak hanya dengan membaca buku. Masih banyak hal yang bisa dilakukan untuk hal tersebut. Kamu cari sendiri, ya! tergantung mau jadi apa Kamu di masa depan.

Mempersiapkan diri dalam menghadapi masa depan memang bukan hal yang mudah. Selain kita harus sadar bahwa kita punya masa depan itu sendiri, kita juga harus sadar bahwa tanpa ada usaha maka masa depan kita juga tanpa perubahan. Tiap orang punya keinginan sendiri tentang masa depan mereka, begitupun Kamu dan saya.

Persiapan-persiapan tersebut adalah langkah nyata kita bahwa kita ingin menjadi sebuah individu yang berhasil di masa depan. Dalam hal ini Parlindungan Marpaung menyebutnya sebagai One step Ahead atau menurut Anies Baswedan sebagai Be ahead of the Game. Biarkan saja orang berkata apapun. Toh, sebenarnya merekalah yang sebenarnya tidah tahu masalahnya. Ibaratnya ketika yang lain masih tidur, Kamu bangun, saat yang lain bangun, Kamu berjalan, saat yang lain berjalan Kamu berlari , saat yang lain berlari Kamu terbang dan seterusnya.

Yuk, meraih masa depan yang gemilang dengan mempersiapkannya matang-matang!

Tulisan ini, selain sebagai tulisan lepas, juga diikutsertakan Djarum Black Blog competition Vol. 2. Event ini diadakan oleh PT Djarum yang memproduksi Djarum Black Menthol dan Djarum Black Slimz.



*sumber gambar bisa diklik langsung pada gambanrnya

Kalau Bisa Sekarang Kenapa Besok?

Kalau bisa nanti kenapa sekarang,
kalau bisa lima menit lagi kenapa sekarang,
pokoknya, ntar dulu deh!

Ungkapan diatas kiranya sudah menjadi ungkapan sehari-hari yang sering teman-teman saya ucapkan. Saya sendiri pun juga sesekali pernah. Ketika menghadapi tugas dari dosen atau dari guru, sering kali muncul ungkapan ”aaaagh tugas lagi-tugas lagi, besok aja deh” sehabis tugas diumumkan. Bahkan, ketika orang tua kita meminta tolong (biar sopan, daripada menyuruh) Kamu, sering juga muncul perasaan, tugas lagi…..betar lagi, Bu! Kadang kita melakukan hal-hal tersebut merasa benar. Mungkin karena memang kita terus yang disuruh-suruh. Namun, apa memang benar tugas itu mempersulit kita?Apakah ada dampak negatif dari tugas tersebut? Apa hanya kita saja yang malas?

Menunda-nunda pekerjaan memang rasanya enak. Sepertinya tugas—yang kita anggap beban—bisa menyingkir, walau sejenak. Pokoknya jauh-jauh de lo tugas, besok kan masih ada hari (ya kalau lo masih idup besok, kalau ngga). Akan tetapi apakah kita sadar bahwa hakikatnya kita sedang menumpuk tanggung jawab yang sebenarnya akan menjadi perusak rencana-rencana kita dimasa depan.

Suatu waktu, salah seorang teman saya mendapat tugas untuk mata kuliah Dasar-dasar Manajemen. Saya mengingatkannya dia agar tugas tersebut segera dikerjakan, ntar nyesel lho! Tiga hari berselang tugas tidak segera ia kerjakan. Pada hari keempat, malam hari, saya melihatnya berdandan necis.

“Lo mau kemana?” Tanya saya.
“Mau tau aja sih lo!” jawabnya ketus.
“ya, sorry, tapi gue mo nanya doang, tugas udah lo kerjain belon? Besok dikumpulin lho”
“oh God, ada tugas ya… aduuuuh gue lupa! Kenapa lo ngga ngasih tahu sih!”

Nah, kemana aja, Mas? Kataku dalam hati. Ngga mau ngungkapin, ntar dia tambah marah.

Memang sih, enak rasanaya diawal, tapi 'you will regret in the end'. Kalau sudah menyesal mau bagaimana lagi. Nasi sudah menjadi bubur. Contoh tadi mungkin skalanya kecil, hanya tingkat individu. Kalau mau mendramatisasi, kalau saja orang-orang sudah menjadikan budaya tunda-menunda sejak remaja, terus kelak mereka menjadi pemimpin-pemimpin negeri ini...Apa kata dunia? Ya kalau yang diurusi hanya diri sendiri tak apa, urusannya kan menyangkut hajat hidup orang banyak. Masa' rakyat kelaperan mau nunda ngasih bantuan, rakyat kena tsunami, ntar dulu bantuannya. Nah, kalau begitu apa layak orang-orang tersebut jadi pemimpin?

Time is money, begitu seorang filusuf berkata. Memang kalau direnungkan, waktu itu adalah salah satu faktor yang membuat orang bisa berpenghasilan. Tuhan telah menganugerahkan waktu pada makhluknya 24 jam sehari. Anda punya 24 jam sehari, pemulung punya 24 sehari, pengusaha punya 24 jam sehari, dan presiden pun punya 24 sehari. Akan tetapi mengapa ada yang sukses ada yang tidak? Ya, akar masalahnya ada pada pemanfaatan waktu itu sendiri.

Mereka yang sukses, tidak mau waktu mereka sia-sia sedikitpun. Tidak ada waktu untuk hal-hal yang muspro. Kiranya memang perlu diingat bahwa dalam dunia fana ini ada satu makhluk Tuhan yang tidak akan berjalan mundur sedikitpun, bahkan menoleh pun tidak, Yup, Kamu benar, makhluk yang satu ini adalah waktu.

Jadi mulailah hidupmu dengan menghargai waktu.

Tulisan ini, selain sebagai tulisan lepas, juga diikutsertakan Djarum Black Blog competition Vol. 2. Event ini diadakan oleh PT Djarum yang memproduksi Djarum Black Menthol dan Djarum Black Slimz.



*sumber gambar bisa diklik langsung pada gambanrnya