Friday, August 13, 2010

Gengsi, Mahal Coy…

ilustrasi (wikipedia.org)
Kau makan siang dimana?
Gue di Plangi
Gue di Sensi, elo?
Di warteg……..
Ha…ha….ha

Kalau Kamu makan siang, di mana? Tak usah di jawab. Karena bagi saya tak penting jawabannya. Tapi, bagi beberapa orang, adalah penting jawaban itu, sangat penting. Di mana Kamu makan, di situlah harga kamu. Itulah harga diri Kamu. Maksudnya?!

Sebelumnya saya jelaskan maksudnya percakapan yang membuka tulisan saya kali ini. Kalau Kamu di kota yang metropolis, macam Jakarta, saat seusai makan siang, sering ada diskusi kecil-kecilan di tempat kerja. Ada yang bertanya mengenai tempat kamu makan. Kedengarannya aneh buat orang di daerah. Makan ya makan, just that. Not more not less.

Oya, Plangi singkatan dari Plaza Semanggi, dan Sensi itu Senayan City. Kedua-duanya mall terkenal di Jakarta, Bro….. tahu ngga apa mall itu? Hehe..Pis2

Bagi orang yang hidup di metropolitan adalah penting orang itu menentukan di mana tempat untuk makan. Kamu akan dihargai ketika bisa makan di tempat yang elite. Kamu akan disanjung ketika bisa makan di resto terkenal. Wow, keren! Tapi ko’ gitu ya…

Ini tentu akan jauh berbeda bila kamu makan di warung punya strata paling rendah dalam hal tempat makan, yakni tak lain dan tak bukan adalah "warteg", alias warung tegal. Ketika kamu bersama dengan teman-temanmu yang habis makan di mall, lalu kamu sendiri habis makan di warteg, maka kamu tak punya kedudukan yang sama dengan yang lain. Kamu akan terlihat lebih rendah.

Sebenarnya apa yang di cari orang-orang itu? Saya jawab gengsi. Ya, G.E.N.G.S.I. Makan di tempat mahal adalah prestigious. Adalah yang bisa ke sana tentu orang-orang yang berduit, berkantong tebal. Karena memang harga makanannya selangit. Oleh karena itu, kadang juga muncul keinginan untuk disamakan atau minmal dianggap sebagai orang yang berkantong tebal itu.

Sekarang saya alihkan pembahasan ke masalah yang lebih substantif. Hah, apaan tuh?

Hakikat makan 'kan ya buat kenyang. Tak lebih. Kalau ada, itu relatif. Tergantung apa yang sedang dihadapi oleh orang yang ingin makan.

Tapi, meskipun inti makan itu ya cuma biar kenyang, mengapa orang itu rela mengeluarkan uang yang jauh lebih banyak untuk just makan. Apa yang di cari? Gengsi lagi. Gengsi itu mahal, Coy! Adalah sangat menyenangkan bila kau ditanya, “Makan dimana?” lalu kamu menjawab,”Di sana lho, ditempat mall yang punya resto terbaik itu.” Tapi, tentu kocek yang dikeluarkan juga lebih banyak.

Lalu kemudian saya tanya, apa sama kenyangnya orang tak punya dengan orang punya? Jawabannya absolutely much the same. Ya, sama. Tak kurang tak lebih.

Tapi kemudian gengsi menjadikannya berbeda. Gengsi menjadikan orang menjadi tak bisa melihat hakikat kebutuhannya. Semua diukur oleh materi. Demi gengsi, sebuah konsekuensi harga yang lebih tinggi pun diambil. Ya kalau boleh dibilang, ini sudah ngga rasional.

Saya sendiri juga bingung. Irrasionalitas itu seakan sudah tertanam. Siapa sih yang tak senang punya gengsi tinggi lalu dipuji. Oh, rasanya sudah kayak jadi yan terbaik aja……

Tapi jangan sampai irrasionalias itu mengubur rasionalitas kita. Hakikat hidup harus kita gali lebih dalam. Kita harusnya sadar bahwa gengsi tak akan memberi solusi. Yang ada hanya basa-basi yang berujung pada diri yang merugi.

Boleh saja gengsi, tapi ya sekali-kali. Karena pada kenyataannya kadang gengsi juga sebuah fakta yang tak bisa ditolak. Umpama kamu diundang makan di Plangi, ya mau ngga mau diusahakan datang.

Jadi, memiliki gengsi itu tak apa. Tapi, membanggakan gengsi itu lalu merendahkan yang lain seraya bertinggi hati adalah hal yang harus dijauhi.(*)


21 comments:

  1. i really like this!
    a great inspiring posting :)

    hmm...td aku makan siang dimana ya? eh, puasa ding hahahha

    ReplyDelete
  2. tergantung orangnya juga deh. makan dimana aja sama kok. Asal makanannya enak dan gak jorok masaknya.

    ReplyDelete
  3. kalo soal makan mah ngak perlu gengsi..

    ReplyDelete
  4. kalo makanannya selalu minta ya itu yang perlu gengsi.. hehe clamitan

    ReplyDelete
  5. ah saya sih makan dimana makanan itu berasa enak aja, kalo bosen dengan yg murah cari yg mahal, kalo bosen dengan yg mahal ya cari yg murah
    ga ada gengsi

    ReplyDelete
  6. somehow true. esensi makan jadi tidak substansial karena ada atribut2 laen yang mempengaruhi..
    tapi kadang not only because of gengsi, tapi mungkin juga karena efek konsumerisme, dan juga termakan ajakan teman (kurang kuat berpendirian). haha.. nice posting! buat introspeksi diri juga!

    ReplyDelete
  7. saya ada cara jitunya neh biar makan ditempat yang bergengsi tapi tetep murah,namun efek sampingnya anda harus bertampang tebal


    bawa aja nasi bungkus yang dibeli diwarung ke mall,kan kalo entar ditanya temen makan dimana? kita kan bisa bilang makan di mall. heee heee peace

    intinya jangan terlalu berambisi sama gengsi

    ReplyDelete
  8. Sori dori ni, sid..
    I wanna ask u, what's the meaning of: "absolutely much the same"??
    OOT tapi pengen bgt tw artinya, biar bisa nambah daftar istilah slang di otak ane. ^^
    TQ.

    ReplyDelete
  9. haha
    up to you, up to me lah
    yang mau makan di resto ya makan di resto
    yang mau makan di warteg ya makan di warteg
    gak perlu gengsi lah
    kenyangnya sama, biayanya beda
    terlalu gengsi bakal merugikan diri sendiri
    ***hallaahhsoktau***
    aku sih lebih doyan makan di rumah aja, masakan nenek the best

    ReplyDelete
  10. buat teh Fanny:
    hehe asalah ngga jorok..? bagus juga idenya

    buat jabon:
    hehe mas mau minta terus sih kang... sip2

    ReplyDelete
  11. buat teh Clara:
    jadi ganti2 ya... ya bolehlah, pokoknya affordable dan ngga gengsi

    buat Mbak Kiki:
    Oyeah, dapat informasi baru... sip2 makasih2 Mbak

    ReplyDelete
  12. Buat Agung:
    caramu menarik juga hehehehe tapi bagi yang malunya amit2 ya susah itu

    buat Huda:
    itu artinya "sangat sama".. gitu aja

    buat kang Aby:
    Yaudah, aku doakan biar nenek terus sehat dan bisa masakin kang Aby... ya ngga? sip2

    ReplyDelete
  13. aduh-duh, saya biasa makan di angkringan malah..hehe
    tekor euy makan di foodcourt2 di mall..
    anyway
    masalah gengsi, emang selalu ada,
    tuntutan zaman i think, di zaman serba modern ini,
    kok kyaknya gak gaul kalo gak makan di tempat yang juga gaul..
    :p

    ReplyDelete
  14. Saya jadi ingat saudara-saudara di jakarta. Kami sering bercanda " Makan tuh gengsi!". Setiap kali kami bertemu keluarga yang suka makan di restoran mahal sementara kami lebih enjoy di warteg. Biasa selera "orang udik". Ha ha ha ..... Namun tidak ada salahnya sekali waktu kita mencobanya. Bukan untuk gengsi melainkan untuk menambah ilmu pengetahuan saja.

    Selamat berbuka puasa.

    ReplyDelete
  15. buat restry:
    yeyeye, makan di angkringan is the best... aku suka ini

    buat puspita:
    "warteg" yes yes yes... kalau nambah IP siplah

    ReplyDelete
  16. q tanya sid...

    Loe tadi siang makan di mana????

    ReplyDelete
  17. Gw mah makan yang penting tempatnya asyik, enak masakannya, dan mrah meriah. Paling males makan di tempat yang mahal, males bayar soalnya hehehe

    ReplyDelete