Saturday, April 16, 2011

Segenggam Pasir di Tanah Letih…

ini aku (dok. mas arief tito)
Keep highly motivated to see the world

Rasanya, banyak sekali orang yang sukses di dunia ini. Nama mereka pun banyak tercatat dalam ingatan orang-orang. Salah satu yang mengingat itu tentu aku sendiri. Aku ingat nama Aristoteles, Yesus, Muhammad, Ibnu Sina, Isaac Newton, Alexander Graham Bell, Soekarno, hingga tokoh-tokoh kontemporer saat ini: Mark Zuckerberg, hingga Sandiaga Uno.

Mereka, dan masih banyak lagi, adalah orang-orang yang umumnya selalu meleka padanya satu frasa: orang sukses. Dengan capaiannya masing-masing, mereka memukau publik dengan gilang-gemilang usaha mereka yang berbuah manis. Bukan hanya itu, dari hasil itu semua, mereka menginspirasi dunia! Orang-orang menjadikan mereka kiblat jejak langkah setiap upaya-upaya. Namun, satu hal yang menjadi penting untuk dipelajari adalah: mereka sukses di bidangnya masing-masing. Sukses itu sesuai passion!

Lalu aku? Dari banyak tokoh yang ku-sajikan di depan, rasanya diri seperti debu di tengah angkasa raya. Bukan hanya tak berarti, tapi juga tak laku untuk jadi bahan pembicaraan. Tapi apakah sejatinya itu kesuksesan? Sebuah hasil pembandingan apa yang ku-capai dengan yang mereka capai?

Bumi Bung Karno
Baiklah, di depan, aku mengutip sebuah ungkapan yang hingga kini masih menempel kuat di benakku. Kira-kira itu artinya: tetaplah punya motivasi tinggi, kamu akan melihat dunia! Itu diucapkan oleh dosenku beberapa waktu lalu.

Dari ungkapan itulah, sebenarnya, aku ingin berbagi di sini. Apa yang ingin aku bagikan? Setidaknya, aku punya cerita menarik tentang kehidupanku sendiri. Aku pun punya motivasi dalam hidup ini yang dapat ku-bagikan. Sesungguh-sungguhnya, di tengah derasnya arus berita-berita bernada pesimisme, semoga ada sedikit berita baik dalam apa yang ku-sampaikan.

Sebuah kota kecil berjuluk Bumi Bung Karno menjadi tempat aku mulai menatap dunia. Ibu melahirkanku sebagai seorang anak laki-laki 20 tahun lalu. Tak ada yang istimewa dari keluargaku. Ayahku adalah seorang wirausahawan. Ia seorang tukang servis mesin jahit. Rendahan kedengarannya, memang. Tapi dengan itu, kami mandiri. Itu yang membuatku bangga padanya hingga kini. Ibuku sendiri adalah ibu rumah tangga. Seseorang yang menjadi manajer dalam keluarga kami. Dan saya sendiri lahir di kota kecil itu, Blitar namanya, sebagai seorang anak yang bernama Muhamad Rosyid Jazuli.

Sedikit perkenalan masa kecil itu semoga memberi gambaran bahwa bisa-jadi tak ada yang bisa aku sombongkan dari duniaku. Aku dibesarkan di suasana kesederhanaan keluarga. Bahkan, di kemudian hari, keluarga kami dikaruniai empat anak, dan aku-lah yang pertamanya. Aku akhirnya memiliki tiga adik. Inilah kehidupan keluargaku, enam orang yang selalu penuh semangat kemandirian mengarungi samudera kehidupan, menyongsongi setiap tantangan yang boleh-jadi tiap waktu datang.

Tabir masa
Tentunya setiap orang punya jalan hidup pendidikannya masing-masing. Aku pun demikian. Aku jalani waktu pendidikan sebagian besar di kotaku. Ketika aku lulus dari TK al-Hidayah, ku-lanjutkan proses belajar di SD Islam Sukorejo. Kemudian aku memilih SMP Negeri 2 Blitar untuk menempuh masa pendidikan menengah yang pertama. Cukup baik hasil yang aku capai saat itu: aku menjadi peraih NEM tertinggi se-SMP.

Pendidikan menengah aku lanjutkan dengan duduk di bangku SMA Negeri 1 Blitar. Lokasinya cukup jauh, hampir dua kali lipat jarak rumahku ke SMP. Aku hanya memiliki sepeda butut bekas yang dibelikan ayah ketika aku kelas 4 SD. Dan sepeda itulah yang terus membantuku sampai di tempatku belajar, tempatku menyemai benih masa depan.

Semangatku bersekolah sebenarnya tak bisa dikatakan terlalu tinggi. Makna pendidikan di daerahku bukanlah hal yang menarik untuk jadi pembahasan, kalah dari hiruk pikuk pemilukada atau juga bola dengan perebutan kelasemennya. Tapi kemudian seorang guru menyadarkanku: “Pendidikan itu adalah pembuka tabir kehidupan, tabir tentang masa depan juga masa ke belakang. Tanpa itu, kamu hanya akan jalan di tempat sambil tidak menyadari kalau zaman telah jauh berjalan, atau mungkin berlari…”

Ketika SMA, aku mulai bersentuhan dengan dunia organisasi. Ku-putuskan untuk bergabung dengan IPNU (Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama). Ku-mulai karyaku di organisasi itu mulai dari ranting di kelurahan-ku, PR (Pengurus Ranting) IPNU Pakunden. Saat itu aku mejadi wakil ketua. Beberapa kali aku ikut serta dalam acara rutinan. Bagiku acara itu sederhana sekali: berkumpul, melingkar, duduk-duduk, bicara satu tema lalu entah arah selanjutnya ke mana. Akan tetapi, itulah basis persaudaraan yang nyata dan tentunya benar-benar menyatukan rasa kebersamaan antar-anggota.

Kalau boleh sedikit berbagi, IPNU ini merupakan organisasi yang bergerak untuk membangun benih-benih muda generasi bangsa yang punya akar di masyakarat. Kami di IPNU juga terus mengembangkan jangkauan sebaran moderasi dalam paham keagamaan, Islam, di kalangan anak muda. Kami tanamkan pada mereka untuk punya kebanggaan pada agama dan bangsa pada satu garis, satu visi dan satu mimpi: perdamaian dan kemanusiaan.

Satu periode berjalan, aku pindah ke pengurusan yang lebih tinggi tingkatannya, tingkat cabang (kota). Usai konfercab (Konferensi Cabang), aku ditempatkan di posisi bendahara. Aku sungguh menikmati masa-masaku saat itu. Sayang, belum lengkap satu periode berjalan, aku harus meninggalkan organisasi itu karena sesuatu. Aku, kebetulan, dapat beasiswa untuk melanjutkan studi sarjanaku di Jakarta.

Persimpangan
Di dalam SMA sendiri, aku pernah merasakan bagaimana menjadi pemimpin organisasi kesiswaan tertingggi. Aku pernah menjadi ketua OSIS. Banyak hal tentunya aku dapat ketika itu: pengalaman memimpin, mengelola, dan berdinamika di dalam organisasi. Sungguh pengalaman yang tidak akan pernah aku lupakan. Sebuah pengalaman yang menjadi titik balik kehidupanku saat itu.

Aku yang dahulunya kepalaku penuh sesak dengan rasa minder, berubah hampir seratus delapan puluh derajat menjadi pribadi yang cukup punya rasa percaya diri menghadapi kehidupan. Belajar untuk bernegosiasi dengan orang lain adalah momen yang bagiku paling membekas hingga kini. Dealing with others merupakan pelajaran paling berharga dalam organisasi. Dinamikanya seperti memasak matang-matang mental orang-orang yang terlibat di dalamnya, sejauh tidak menjadi free ride. Lagipula, secara historis, dari organisasi pula putra-putra bangsa negeri ini memulai perjuangannya menempuh jalan terjal menuju kemerdekaan.

Selepas SMA, kelanjutan studiku berada pada titik yang cukup gamang. Semangat untuk terus belajar rasa-rasanya tak ada surutnya. Lagipula, kalau aku berhasil kuliah, aku-lah anggota pertama keluargaku yang dapat mencicipi atmosfer perkuliahan. Harapanku tentu cukup besar, tapi nyatanya itu berbenturan dengan kenyataan bahwa kami tak punya kecukupan biaya untuk sekedar biaya masuknya saja. Mulailah aku berada pada persimpangan.

‘Kantong’ keluarga kami pun cukup perlu banyak pertimbangan untuk dirogoh koceknya hanya untuk sekedar ikut seleksi masuk. Sudahlah diketahui kalau sekarang, baik kampus negeri maupun tak negeri, sama saja mahalnya, bukan hanya saat kuliah, tetapi juga ketika calon mahasiswa akan mengikuti tes. Betapa ‘gila’-nya sebuah universitas negeri (tepatnya institusi teknik) saat itu sudah mematok harga formulir masuknya saja mencapai 400 ribu (bagi beberapa orang, angka ini mungkin ‘lumrah’, tapi bagi kebanyakan sudahlah tentu ini memberatkan; rasanya aku berani bersumpah demi apapun!).

Aku terus memutar otak. Tak mungkin momen bahwa keluargaku akan punya satu anggotanya yang dapat kuliah terlepas, empas begitu saja. Akhirnya aku dapat jawaban: beasiswa. Sekiranya hanya itu jalur yang mungkin (kemungkinannya pun masih dipertanyakan) untuk aku ikuti.

Aku mengorek informasi lewat dunia maya. Aku sering keluar-masuk warnet hanya untuk menjelajah, mengais kesempatan yang mungkin bisa aku coba raih. Ketika tak mendapatkan apa yang kucari, rasanya jalan-jalan yang menyimpang makin banyak dan makin membingungkan: mau apa sebenarnya aku ini?

Di tengah kegamangan itu, aku terus ingat kata-kata guruku: tanpa itu (pendidikan), kamu hanya akan jalan di tempat sambil tidak menyadari kalau zaman telah jauh berjalan, atau mungkin berlari… God! Aku tak mau tertinggal!

Jadilah kutemui beberapa kesempatan program beasiswa di beberapa kampus. Kutemukan sebuah nama yang boleh-jadi aneh waktu itu: Paramadina Fellowship. Itu adalah sebuah program beasiswa penuh untuk anak-anak negeri ini, untuk melanjutkan studinya di jenjang perkuliahan, di Universitas Paramadina (jujur saja, waktu itu nampaknya semua masih bergelayut keraguan, perihal diriku sendiri, juga pandanganku pada program tersebut).

Kupaksa diriku sendiri untuk lengkapi segala persyaratannya. Formulirnya yang belasan lembar rasanya memang memusingkan. Namun mau apalagi? Ku-minta dua guru paling visioner ku untuk memberikan surat rekomendasi. Salah satunya Tatik Sensei (Jepang: (Bu) guru Tatik), yang terus memberiku motivasi sebagaimana kusampaikan sebelumnya. Essai kubuat sesungguh-sungguhnya, sehati-hatinya (aku membuatnya memakai pensil dulu, lalu kutebali, setidaknya agar tak ada coretan).

Kawan, kini, aku telah berada di Jakarta, pusat atmosfer negeri ini. Aku berhasil dapatkan beasiswa Paramadina Fellowship seketika aku lulus dari SMA 2008 lalu. Sekarang aku kuliah di Universitas pemberi beasiswa itu, aku belajar di jurusan Manajemen. Hanya syukur kepada Tuhan yang bisa aku sampaikan. Beasiswa itu telah membiayai seluruh kebutuhan kuliahku. Biaya kuliah selama empat tahun, biaya buku pun, alhamdulillah, sudah menjadi tak menjadi beban pikiranku. Bahkan uang saku aku juga dapatkan. Yang paling penting tentu: janjiku akan adanya anggota keluargaku yang dapat kuliah terbayar!

Aku dapat kejutan lain di Jakarta. Karir organisasiku di IPNU ternyata juga masih berlanjut. Aku mendapat kesempatan untuk bergabung dengan kepengurusan Pimpinan Pusat (PP IPNU) untuk periode tiga tahun mendatang (2009-2012). Dengan ini pula, kesempatan untuk menebarkan ‘jalan-jalan moderasi keumatan’ pun menjadi lebih luas.

Sementara, aku juga berkesempatan menjadi duta bagi universitasku pada 2010 lalu. Layaknya duta pada umumnya, adalah tugasku menyampaian berita baik dari dan ke dalam universitas. Tapi tentunya, secara kultural, aku juga duta bagi organisasi tempatku bernaung, PP IPNU.

Segenggam pasir
Kukira apa yang kuraih selama ini bisa aku anggap sebuah prestasi. Tapi, tentulah tak perlu dibanggakan, sebab sudalahlah disadari masih banyak orang yang jauh memiliki prestasi di luar sana. Aku yakin kebanggaan diri dan kesombongan hanya menutup hati yang berujung pada ketinggian hati. Sebuah sikap yang sangat di benci masyarakat, hati nurani pun sebenarnya juga tak menyukainya sama sekali.

Just keep highly motivated, you will see the world, kata-kata ini masih kuat menempel di benakku. Tapi dari itu semua, sepertinya menarik untuk menilik pernyataan seorang bijak: Kesuksesan bukanlah hasil pembandingan antara capaian kita dengan capaian orang lain, tapi perbandingan antara capaian itu dengan apa yang menjadi rencana kita…

Capaianku ini hanya sekedar pasir barang segenggam untuk membangun peradaban. Membaginya, kukira akan lebih banyak cerita kesuksesan lain yang lebih menarik, berbobot, dan penuh motivasi. Genggaman pasirnya tentu akan makin banyak dan makin melimpah untuk modal membangun sebuah peradaban hidup yang gilang-gemilang.

Jakarta, kota yang letih, ini kini menjadi rumah sementaraku. Entah setelah ini mau kemana? Tapi semoga Tuhan tetap memberkahi jalanku, jalan kita semua yang tetap menggenggam mimpi untuk berbuat yang terbaik, bukan buat diri sendiri, tetapi untuk semuanya: keluarga, kawan, bangsa dan negara… (*)


Muhamad Rosyid Jazuli (Jazz Muhammad)
Selesai 29 Maret 201, di Perpustakaan kampus Paramadina

Monday, March 7, 2011

Yang Syariah, yang Gaul Juga…

Eko dan ATM bank syariah-nya
Penampilannya nyentrik, dengan hanya berkaos oblong putih polos. Kadang juga pakai polo-shirt yang sedikit body-fit. Tatanan rambut sudah pasti ala masa kini dan kadang di-kerukup dengan topi gaul ala Mao Zedong. Celananya? Celana jeans tiga perempat sepertinya rutin ia pakai untuk hang-out, kecuali pas kuliah. Ia adalah Eko saputra.

Beberapa hari lalu saya sedikit terlibat diskusi dengannya. Mahasiswa Jurusan informasi dan teknologi (IT) di Universitas Paramadina ini secara umum, dari kenampakannya, sudahlah jelas kalau bisa dibilang: anak gaul masa kini. Ia akui bahwa berbusana yang up-date itu wajib. “Biar ngga ketinggalan jaman-lah gua ni,” ungkapnya lengkap dengan logat Jakarta yang kental dengan elo-gua-nya.

Ia juga teman saya sendiri di kampus yang sama. Namun, kami berbeda jurusan. Tentu anda bertanya-tanya, sebenanrnya saya ini mau nulis apa sih? Baiklah, yang jelas apa yang ingin saya sampaikan saya yakini ada manfaatnya.

Nabung kemana?
Dari diskusi yang serampangan itu, sampailah kami pada satu topik: menabung. Kami sadar bahwa menabung adalah aksi penting dalam hidup ini, apalagi di masa kami yang muda ini. Pertanyaan pun bergeser: kemana menabungnya? Itu pertanyaan saya pada Eko.

“Bank Syariah Mandiri. Elo?” saya tidak segera jawab. Melihat tampilannya, saya kira tak ada potongannya anak ini menabung di bank syariah. Tebakan saya sebelumnya adalah Bank Mandiri, atau BCA, atau BNI dan mungkin bank konvensional lainnya.

Tapi memang demikian kenyataannya. Ia tunjukkan pula buku tabungan dan kartu ATM-nya. “Nih, kalau ngga percaya…” tegasnya. Rupa-rupanya ia menangkap keraguan saya.

Keraguan saya tentu bukan tidak punya pijakan. Bahasa ilmiahnya, saya tentu punya referensi untuk meragu. Bank syariah selama ini adalah bank “percil” yang muncul untuk golongan tertentu. Mereka yang masuk bank syariah adalah yang berjenggot tebal, pakai kopyah yang laki-laki, dan berjilbab panjang, atau perlu pakai cadar sekalian bagi yang wanita. Ini adalah bank eksklusif dan untuk orang-orang tertentu saja. Tak ada tempat untuk orang-orang kantoran, pejabat, pengusaha, sampai anak gaul untuk ikut-ikutan bank syariah.

“Gua juga pake e-banking ama mobile-banking-nya… gimana-gimana?” tambah Eko lagi.

Setelah berjumpa dengan Eko, setidaknya saya mulai sedikit menggeser pandangan saya pada bank syariah ini. Penelusuran saya pun saya lanjutkan dan memang kenyataan persepsi saya bukanlah salah, tetapi itu tidak representatif.

Tengok sejarah
Di dunia perekonomian, sepak terjang bank syariah, menurut Hartono Sudiro—dosen mata kuliah bank dan lembaga keuangan di Universitas Paramadina—bermula di Mesir yang digawangi oleh Ahmad El Najjar pada 1963. Sampai 1967 bank syariah di dunia telah ada 9 unit. Perkembangan bank syariah terus bergulir hingga berdiri bank-bank lain di tempat lain pula seperti Islamic Development Bank (1974) oleh OKI, Dubai Islamic Bank (1975), Faisal Islamic bank of Egypt (1977), dan Faisal Islamic Bank of Sudan (1977).

Di Indonesia, Bank Muamalat hadir sebagai pionir perbankan syariah pada 1991 dengan dukungan Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan Ikatan Cendekiawan Indonesia (ICMI). Sistem perbankan syariah pun segera dilegalisasi dengan dikeluarkannya UU no. 10 / 1998 yang menggantikan UU no. 7 / 1992. Undang-undang tersebut menjelaskan bahwa bentuk bank di Indonesia ada dua: bank umum dan bank perkreditan rakyat (BPR). Sistem yang digunakan ada dua pula: konvensional dan syariah. Jadi bank umum bisa syariah atau konvensial, pun demikian pada BPR.

Perkembangan perbankan syariah kian pesat hingga pada 2010 kemarin, jumlahnya cukup banyak. Harian Republika (25/11/2010) memberitakan bahwa bank umum syariah (BUS) di Indonesia telah mencapai 11 bank, di antaranya adalah Bank Muamalat Indonesia, Bank Mandiri Syariah, Bank Mega Syariah, BNI Syariah, Bank Jabar Banten Syariah, Maybank Syariah. Sementara, unit usaha syariah (UUS) mencapai 23 bank. Sebagai contoh UUS adalah BRI Syariah, Bank DKI Syariah, BII Syariah, Bank Danamon Syariah, dll. Dan, jumlah BPR Syariah telah mencapai 146 bank.

Pertambahan asetnya juga kian mengesankan sebuah perkembangan yang menjanjikan. Aset bank syariah berkisar 86 trilliun hingga Oktober 2010 sementara proyeksi Bank Indonesia (BI), aset ini akan mencapai 125 trilliun pada 2011 (tempointeraktif.com, 2011). Jumlah nasabahnya pun pada akhir 2010 telah menapai 6,5 juta jiwa (surabaya.detik.com, 2010)

Slogannya menarik: beyond banking (lebih dari sekedar bank). Bank syariah hadir memberi alternatif sistem perbankan yang ada, yakni konvensional. Dengan sistem bagi hasil-nya, memberi semacam jalan baru untuk perbankan negeri ini. Kecanggihan teknologi pun telah bersentuhan dengan perbankan syariah ini. Seperti diuangkap Eko, fasilitas e-banking, bahkan mobile-banking sudah menjadi layanan bank-bank syariah dewasa ini.

Dengan rata-rata perkembangan mencapai 33 persen selama lima tahun ke belakang, tentu potensi perkembangan sistem alternatif ini menjadi sangat menarik dijadikan bahan diskusi (Republika, 2010).

Rangkuman strategi bertajuk Grand Strategy Pengembangan Pasar Perbankan Syariah pun disiapkan oleh BI melalui Komite Perbankan Syariah Direktur Direktorat Perbankan Syariah pada 2009 lalu. Strategi ini meliputi beberapa strategi utama yakni pencitraan baru, pengembangan segmen, pengembangan produk, peningkatan pelayanan dan komunikasi yang terbuka dan universal.

Mendangkal
islamic banking (http://islamicbanking.info)
Namun, fakta-fakta perkembangan perbankan syariah yang fantastis tersebut belum bisa menghindarkan perbankan ini dari kesan eksklusif. Seperti yang saya ungkap sebelumnya, kesan eksklusif tersebut, sayangnya terjadi secara umum: bank syariah adalah bank-nya orang muslim, khususnya yang jenggotan, yang pakai jilbab panjang, dan bercelana cingkrang. Untuk Eko? Itu tentu kejutan bagi saya.

Hal ini tentu menjadi hambatan bagi perkembangan bank syariah sendiri. Unsur keterbukaan yang seharusnya menjadi semangat utamanya, tereduksi oleh mekanisme tersembunyi yang mengurungnya menjadi eksklusif.

“Bank Syariah memang menjadi sebuah ekspresi keagamaan terutama Islam, tetapi masyarakat muslim sendiri yang terlalu dangkal memaknai,” ujar Handi Risza, dosen Master Manajemen dan Bisnis Keuangan Islam di Paramadina Graduate School. Dia, yang saya temui sekitar sebulan lalu, menyatakan bahwa ekspresi keislaman pada bank syariah akhirnya mendangkal pada wacana halal-haram dan tertutup.

Perbankan syariah adalah sebuah tunas baru alternatif perbankan yang akan memberi manfaat yang sangat besar bagi siapapun, baik muslim maupun non-muslim, bila sukses dijalankan. Tentu itu semua butuh dukungan. Dan bank konvensional yang memiliki potensi bantuan yang kuat serta-merta ditinggalkan begitu saja eksistensinya. “Mereka bermimpi bangkit sendiri tanpa bantuan orang lain karena dianggap itu haram,” tambahnya kemudian, “masalahnya, ini mau berkembang atau tidak, mau sukses atau tidak”.

Menurutnya, penekanan bank syariah selama ini masih berkutat pada hal-hal fikih saja, sementara konsentrasi pada konsep pengembangannya sebagai jalur alternatif terkesan parsial dan akhirnya jalannya, meski menarik, tetap saja tertatih-tatih bila dibanding bank konvensional.

Pengenalan bank syariah pun terkesan hanya menyasar pasar orang muslim, sementara orang di luar muslim, yang seharusnya potensial sekali, diabaikan begitu saja. “Lihat saja iklannya, eksklusif kan? Konsepnya Islam itukan sebenarnya rahmatal lilalamin, seharusnya ya buat semua orang” kata Handi.

Menurut Handi, masyarakat muslim pengguna bank syariah ikut andil dalam peng-eksklusif-an bank yang potensial ini. Kebanyakan malas mengenalkan bank syariah kepada mereka yang dianggap ‘orang lain’. “Saya sebagai pengguna, tak akan segan-segan kenalkan ini ke semua orang.” tegasnya.

Namun akhir-akhir ini perkembangan bagus ditunjukkan, yakni masuknya bank-bank yang terkenal begitu konvensional dalam konstelasi perbankan syariah seperti bank BCA. Tentu ini pragmatis sekali pertimbangannya, tetap itulahyang dibutuhkan. Inklusivisme harus dibangun dengan tetap menegaskan posisinya sebagai perbankan yang ‘islami’ dan islami itu soal keterbukaan.

Jangan picik
Senada dengan Handi, Hartono menyatakan bahwa perkembangan perbankan syariah di Indonesia akan makin sulit berkembang bila eksklusivitas ini dipertahankan. Sebagai pengamat, dosen, dan mantan praktisi perbankan, ia menjelaskan bahwa salah satu kunci sukses bangunnya sebuah bank adalah memiliki afiliasi dan jejaring yang kuat dengan bank-bank lain.

“Pada dasarnya, anda harus tahu bahwa bank itu meletakkan idle money-nya, selain di SBI (sertifikat bank Indonesia), juga di bank-bank lain,” jelasnya.

Stereotyping eksklusif tidak bisa dihindarkan karena kebanyakan orang muslim masih memaknainya dalam kacamata halal-haram, riba – tidak riba. Bukannya itu tidak penting, tetapi ada sisi lain yang lebih perlu ditonjolkan yakni sifatnya yang alternatif dan tahan krisis.

Jarang terbentuk dialog terbuka tentang perbankan syariah dengan potensinya yang mengagumkan kepada orang yang non muslim, atau lebih ekstrem pada mereka yang tak berpenampilan islami, macam Eko tak masuk kategori islami ini tentunya. Alasannya klasik, bahwa mereka tidak islami sehingga tidak perlu bank syariah.

“Wooo, salah besar (kalau bank syariah hanya tertutup untuk yang ‘islami’)! Kalau mau yang benar-benar halal, nunggu saja duit dari langit, yang nyetak biar Tuhan sendiri. Kita jangan picik donk. Ekonomi itu sudah terintegrasi dan sistemnya saling silang sengkarut kemana-mana…” tegas Hartono dalam satu sesi kuliah yang saya ikuti.

Perbankan syariah memang telah terbuka di mata para pemangku kebijakan, misal BI sendiri, tetapi belum di kalangan grass-root.

Buat yang gaul dan tak gaul
Kembali ke Eko. Setelah saya tanya lebih dalam, ternyata alasannya juga menarik.

“Ya ini kan fair, dengan bagi hasil, ngga ada yang dirugikan. Makanya gua pake yang syariah,“ ungkapnya, “ya itung-itung ‘kan gua juga muslim, so ngga ada masalah-lah. Toh juga ini salah satu tuntunan agama kan?”

Saya tidak mengira dalam penampilannya yang nyentrik, ia punya sisi keagamaan yang ia jaga kuat-kuat. Dan ketika saya tanya soal mengapa ia tidak memakai yang konvensional saja, ia menjawab kalau sebenarnya sama saja, cuma karena ia ingin yang alternatif.

“Gua tuh bukan ngga suka sama yang konvensional. Ya mumpung masih muda, ini jadi investasi. Kali aja ini bank nanti gedhe dan gua pas udah jadi orang. ‘Kan lumayan itu. Jadinya win-win solution…” tandasnya kemudian.

Keterlibatan Eko yang gaul dalam perbankan syariah tentu akan mengejutkan kita semua, saya sendiri dan para pembaca yang budiman. Dan saya pribadi mendapat pandangan baru: Islami itu setidaknya bukan hanya mereka yang seperti kita persepsikan: berjenggot, berjilbab, dan semacamnya. Islami itu soal tindakan dan sikap. Islami itu soal substansi kehidupan yakni perilaku. Ini sebuah pelajaran sederhana yang sering kita lupakan. Kita cenderung memaknai sesuatu pada atributnya, bukan substansinya. Mana tahu preman pakaiannya jubah? Dan mana tahu ada ulama yang pakaiannya seperti Eko?

Kembali ke perbankan syariah. Memang sisi-sisi bank syariah yang bisa dibahas: mulai dari angka kemajuan yang pesat, namun tersisipi masalah pelik yang klasik, sampai giat perkembanganya yang telah memikat pemuda gaul untuk menjatuhkan pilihan padanya.

Kelihatannya jelas sudah bahwa napas dari perbankan syariah adalah keterbukaan dan kebutuhan akan bantuan untuk mengembangkan potensinya yang begitu besar. Selubung-selubung masalah memang masih mengganjal, tetapi semoga ini semua menjadi bahan bahasan dan renungan bersama, dan mungkin akan ada diskusi yang lebih serius untuk bagaimana meng-gaul-kan bank syariah agar Eko-Eko yang lain, yang gaul-gaul, juga bisa ikut bergabung dengan perbankan islami ini. Dan bukan hanya Eko, tapi semua orang, yang gaul dan tidak gaul, yang muslim dan non-muslim. (*)

tulisan ini dimuat juga di kompasianaku...
alhamdulillah dapat menang di ib blogger competition kompasiana...



Monday, February 28, 2011

Tentang (Perbedaan) Kita Semua…

(ksupointer.com)
Perbedaan bikin masalah: "NOL!!!"
Perbedaan adalah gudang ilmu pengetahuan: "SERATUS!!!"

Rasis, Golonganis: "NOL!!!"
Apresiasi: "SERATUS!!!"

Eksklusif: "NOL!!!"
Inklusif: "SERATUS!!!"

Kekerasan atas nama apapun: "NOL!!!"
Kebebasan berpendapat dan apresiatif : "SERATUS!!!"

Main hakim sendiri: "NOL!!!"
Tegakkan hukum: "Sori, gua mikir dulu nih… (alaaah, elo jangan sok, deh!) Yaudah: SERATUS!!!"

Demo-demo ngga jelas: "NOL!!!"
Terus menuntut ilmu pengetahuan: "SERATUS!!!"

Bikin onar: "NOL!!!"
Bangun kasih sayang dan damai: "Eh buat siapa dulu nih? (Ya kita semua lah) Yaudah: SERATUS!!!"

Jazz Muhammad: "NOL !!!" (Apaaaa???!!!)
Yang baca semua: "DUA RATUSSSS!!! GOPEK DEH…BIAR PAS…" (Ah, sialan, Lo…!)


Sunday, February 27, 2011

Soal Aliran Keyakinan yang Berbeda

ilustrasi kekerasan terhadap fasilitas Ahmadiyah
(img.ibtimes.com)
Wooy, sesat… sesat!!!
Hajar… hajar…!!!

Isu terakhir yang berkembang adalah tentang Ahmadiyah. Ini tentang salah satu alur pemahaman dalam agama Islam. Jargon-jargon sesat menyembur kuat-kuat dari mulut-mulut mereka yang tak setuju. Yang selanjutnya membumbuinya dengan bacaan takbir. Ahmadiyah dianggap sesat dan diminta untuk tobat!

Siapa yang salah? Siapa yang sesat? Itu tentu pertanyaannya. (beeuuuh, serius nih kali ini tulisannya). Ini sudah menyentuh soal keyakinan. Oleh karena itu, dalam tulisan yang biasanya hanya 'kerjaan anak kurang kerjaan ini' (he-he), soal ayat-ayat tak mungkin dibahas.

Soal keyakinan, saya kesampingkan dulu. Yang mau dibahas adalah soal kekerasan dan main hakim sendiri-nya.

Baiklah, kalau mau dipikir lebih dalam, buat apa sebenarnya orang lakukan kekerasan? Terlepas dari setuju atau tidak setuju, ada saja yang akan dikecewakan: keluarga, orang-orang yang dicintai, dan juga teman-temannya.

Manusia adalah hewan yang berakal, itu kata seorang filusuf. Akal sejatinya harus membimbing manusia untuk melakukan proses berpikir lanjut untuk setiap tindakannya. Asasnya sederhana: perbuatan yang mau dilakukan bermanfaat tidak? Memberi perubahan tidak? Atau malah menambah masalah?

Dimana pun, kekerasan tak akan menyelesaikan masalah. Nampaknya memang akan segera selesai masalahnya. Misal dengan main keroyokan, seorang maling bisa saja jera, atau mungkin mati sekalian. Tapi apa selesai masalahnya? Lalu puas? Saya kira, yang dapat puas melihat sesama makhluk mati hanyalah binatang!

Kita juga dianugerah hati oleh Tuhan untk membimbing kita berpikir jernih. Bahwa, seperti diungkapkan oleh Cak Nur, hati nurani adalah bekal sifat ketuhanan yang dititipkan oleh-Nya pada kita semua. Oleh karena itu, semua manusia punya potensi baik. Namun, tempat ia bertumbuh kembang, itu masalahnya.

Tapi mari sejenak berpikir? Siapa memilih lahir di keluarga Muslim, atau dikeluarga Katholik, atau dikeluarga Ahmadiyah, atau juga lahir di China, lahir di Eropa, pun lahir di kubangan lumpur atau tempat sampah?

Kalau lahir dan besar dengan didikan Ahmadiyah dari ibu yang Ahmadiyah, apa itu salah? Kalau kita bisa tentukan siapa lahir dari rahim siapa, dan lahir dimana, maka tentulah namanya ini bukan dunia. Ini hanya khayalan belaka dengan tingkat kebodohan paling tinggi. Kebodohan manusia yang bermimpi menjadi Tuhan!

Dalilnya? Kan mereka salah menurut keyakinan yang umum? Kemooon, apakah pembunuhan orang lain dijustifikasi oleh ajaran agama? Pakai dalil lagi! Agama macam apa kalau begitu itu? Itu kan pemikiran kamu.

Baik, mari sejenak kita memanfaatkan logika. Tuhan adalah realitas yang tak mungkin berbatas, tak terjangkau, dan Mahasegala-galanya. Sementara dunia ini, adalah realitas yang batasannya di sana-sini. Maka apakah mungkin ketidak-terbatasan Tuhan diterjemahkan dalam keterbatasan dunia ini?

Begini, kita pahami bahwa ayat-ayat Tuhan yang dikemas dalam Kitab Suci. Nah, untuk membacanya, kita perlu penfsiran. Ya, itu adalah penafsiran manusia yang hidup dalam keterbatasan. Maka, apakah dengan demikian penafsiran itu dapat menjadi representasi pesan Tuhan yang sebenarnya? Memangnya, yang menjadi Tuhan itu siapa?

Penafsiran tetaplah penafsiran dan ia adalah produk manusia. Bukan maksud Tuhan yang sebenarnya! Banyak orang punya penafsiran berbeda-beda. Banyak ahli atau pun ulama yang telah melakukannya. Kita semua mencoba untuk menafsirkan kehendak Allah di dunia ini, tetapi kita punya keterbatasan. Maka penafsiran itu bukanlah nilai absolut yang bisa menjustifikasi sebuah masalah secara keseluruhan.

Memang agak serius tulisan ini. (Hadeeh, ngga usah elo jelasin juga, dari tadi udah serius ini..) Okelah, jalan yang terbaik adalah jalan tengah, jalan moderasi yang mengedepankan apresiasi antar sesam. Perbedaan sudahlah menjadi realitas takdir Allah di bumi ini. Dan untuk mengakomodasinya, bersikap apresiatif adalah solusi terbaik.

Sebab, memang harus diakui bahwa salah satu penyebab kerusuhan juga ada oknum Ahmadiyah yang mengacau, bikin provokasi, atau juga sikapnya yang eksklusif!

Jadi, Ahmadiyah benar atau salah? Itu tak perlu dijawab. Bagi saya yang ikut ajaran Sunni, maka saya katakan bahwa ia berbeda dengan saya. Lalu? Ya sudah biarkan. Toh, yang tanggung jawab juga mereka sendiri kelak di Hari Kemudian. Allah dan Rasulullah pun tak akan kurang kehormatannya hanya gara-gara ada mereka.(Ha-ha, serius bener Bos…)

Ya sudah, yang penting mari kita semua refleksikan diri sejauh mana kita lakukan kebaikan untuk orang lain. Banyak hal yang harus diselesaikan. Kemiskinan, pengangguran, pendidikan dan lain-lain. Dari pada gontok-gontokan, mendingan pergi ke panti asuhan dan ajak mereka bernyanyi lagu-lagu yang membangkitkan semangat mereka, bukan? (tidak terlalu nyambung sih… tapi saya kira itu lebih baik)


Friday, February 25, 2011

Disiplin ala Si Jiran

twin tower (mbah google)
Nak, kenapa sih Indonesia ga maju-maju?
Ya iyalah, Pak, kalau maju jadi masalah nanti
Kok gitu sih?
Kalau maju nanti nabrakin negara tetangga
O... murid sialan!

Suatu saat, saya bertemu seorang general manajer (GM) di sebuah perusahaan telekomunikasi. Orangnya enerjik. Pembawaannya ceria. Saat itu ia bercerita tentang pengalamannya ketika tahun 1998 mengunjungi Malaysia. Ia menjadi wakil Indonesia pada sebuah acara konferensi pemuda.

Ia kemudian berteman dengan seorang Malaysian. Ketika di Malaysia, mendadak, pagi buta ia harus menuju tempat konferensi. Benar-benar mendadak sekali dan penting. Mereka memakai mobil. He...he ganjil ya ceritanya...tapi aku dengarkan saja…

Ketika telah hampir sampai, laju mobil itu dihentikan paksa oleh traffic light yang sedang merah. Saat itu masih jam 5 pagi. Sebagai seorang Indonesian, si manajer bilang pada si Malaysian,

"Bang, terus aja... ngga bakal ada yang tau.."

"Hei, tak bise...tak liat kau merah lampu itu.. Ini aturan di sini..!" tangkis si Malaysian.

Sebenarnya si manajer tadi agak geram, tapi sejenak sadar bahwa apa yang ia lakukan adalah salah.

Cerita itu menunjukkan bahwa kedisiplinan telah mendarah daging pada diri rakyat negeri tetangga itu. Meski telah pada posisi paling aman untuk melakukan pelanggaran, mereka berikukuh enggan lakukan itu. Mereka seakan sadar bahwa disiplin tak harus diawasi, dan melanggalr kedisplinan adalah hal yang naïf. Wah kok bise gitu yah..?

Secara sederhana, bisa disimpulkan bahwa ini soal mental. Kedisiplinan telah menjadi budaya di negeri jiran itu. Siapa pun yang melanggarnya berarti telah melanggar nilai-nilai luhur masyarakat di sana.

Saya sendiri bingung. Dulu tahun 80-an, negeri Malaya itu masih impor guru dari Indonesia. Tapi kenapa sekarang anak-anak Indonesia malah bangga bisa sekolah di sana? Tapi bagi saya memang Malaysia adalah wujud bangsa yang punya mental integritas yang cukup kuat. Inilah kunci pertumbuhannya yang pesat, terlepas dari kontroversinya selama ini.

Hehe kok jadi serius yah...

Pada era 97-98 ketika Indonesia sibuk menyiapkan demokrasi dan perpolitikan yang carut-marut, Malaysia telah sibuk dengan pertumbuhan ekonominya. Mereka telah punya monorel dan twin tower yang megah itu. Sementara, di Jakarta, sampai tulisan ini dibuat, itu pancang-pancang monorel ngga jadi-jadi.

(Heh, lo jangan banding-bandingin ya...) Eiittsss... pis2

Ya bukan maksud saya untuk membandingkan. Ini soal mau benchmarking atau tidak. Dulu Malaysia berkenan mengemis guru dari Nusantara. Mereka mengakui memang belum semampu Indonesia kala itu. Tapi mereka benar sungguh-sungguh mau berbenah. Dan kini sepertinya kesungguhan itu menjadi kenyataan.

Kadang yang menyedihkan itu ada saja bilang gini, "Ya iyalah, Malaysia kan dijajah Inggris, kita kan jajahan Belanda..."

Aduh, kemooon, ini bukan lagi soal romantika masa lalu, ini masalah mental bangsa yang tak kunjung usai. Kalau begitu kita mau mulai dari mana? Dengan apa?

Kata Cak Nur, mulailah dari mana saja. Bangsa ini bisa dibenahi dari sudut mana saja, asalkan ada kemauan kuat. Lalu kata Yoris Sebastian, starts small. Mulai saja dari yang kecil aja. Mulai dari diri sendiri. Memang butuh waktu, tapi yang jelas ini akan berdampak.

Contohnya? Hadehhh cari sendiri ah.....baca buku kek, buang sampah pada tenpatnya kek, nulis kek, nanem pohon kek..... tapi yang penting disiplin…….

Tuesday, February 1, 2011

Kebutuhan Primer Baru

www.pasarkreasi.com
Aduh gue ketinggalan hp
aduh gmana nih
wah, ga bisa ngapa-ngapain nih...
hah? Ke laut aja deh...

Globalisasi kini memang jadi makhluk yang menjelma menjadi buah bibir di mana-mana. Globalisasi, ditunjukkan oleh terhubungnya orang-perorang di mana pun, kapan pun. Pertukaran informasi juga kini tak mengenal batas wilayah lagi. Yang dari Amerika bisa ketemu orang di Indonesia langsung dalam satu waktu. Yang dari Indonesia bisa langsung ketemu nyokap-nya yang lagi haji di Arab sana.

Salah satu wujudnya adalah adanya hp alias handphone. Sejak telepon ditemukan oleh Alexander Graham Bell (1871-1922), pada 1876, perkembangannya begitu pesat. Hingga kini, berbagai teknologi telah membuat telpon berevolusi menjadi hp. Bahkan, dengan teknologi yang ada, hp kini bukan hanya untuk berbicara, tapi juga dilengkapi kamera lalu internet, dan lain-lain .

Semua orang jadi bisa ngemeng sepuasnya di mana saja dengan hp. Hp seakan menghubungkan kita dengan orang lain meski di lain tempat. Hp juga mempermudah sesorang untuk mencari keberadaannya. Ya kali aja ada urusan penting kan? Nah, inilah yang membuat hp menjadi barang penting. Kadang kalau pas hp ketinggalan, wow, bingungnya setengah mati. Ah, yang bener, Mas?

Ya, ini karena kebutuhan untuk berkomunikasi menjadi sangat penting. Hp seperti jadi nyawa kedua di dunia kedua. Kalau dunia yang kita tempati ini tuh dunia pertama, nah dunia kedua adalah dunia maya dimana tak ada batasnya.

Jadi maklum kalau pas hp ngga dibawa bisa kayak kebakaran jenggot (Ngga segitunya kaleee…). Ya apalah terserah. Tapi yang jelas seperti kayak lagunya Anang Hermansyah, 'Separuh jiwaku pergi.... ' memang agak mendramatisasi, tapi kalau mau merenungkan, ya memang kayak gitu.

Terus, jadilah sekarang kebutuhan primer itu bukan hanya sandang pangan papan, tapi tambah satu, jadi "sandang pangan papan dan .... handphone". (Kok aneh ya...memang, kok jayus ya, ....biarin)

Tak ada sebuah pelajaran yang saya sampaikan kai ini. Ya FYI aja, alias for your information, alias asal elo tahu aja... Hehe

Ya, inilah faktanya. Hp sudah jadi konsumsi publik. Siapa yang tak punya hp ya sedikit merasa terkucilkan. Tapi bukan maksudku untuk bilang kalau kamu harus punya hp. Ya kalau enjoy tak tanpa hp yang sudah. Toh juga ini hanya alat bantu untuk berkomunikasi. Perasaan dulu jaman nenek moyang elo juga biasa-biasa aja...

Apalagi, hp kini sudah dilengkapi berbagai fasilitas termasuk internet. Ya jadinya bisa pesbukan atau juga ym-an lewat hp. Ya buat eksis-eksisan aja. Haree genee gitu lho…

Tapi, sayang, sekarang hp jadi bahan gengsi. Katanya yang ngga punya hp adalah yang ngga gaul. Apalagi sekarang ada yang namanya BB (Ngerti ngga lo? He-he). Semakin kompleks saja. Tapi mari kita luruskan. Yang tidak bisa beradaptasi dengan globalisasi itulah yang ngga gaul. Memang hp jadi salah satu indikator, tapi yang jelas itu bukan satu-satunya.




Friday, December 31, 2010

Seleksi Bicara

Saringan - ilustrasi saja, jangan dipasang
di kuping
(http://sumberlogam.indonetwork.co.id)
Eh, tuh anak suka sewot ya…
Ama elu sewotnya?
Kagak, ama yang lain… gue sebel aja
Aduh, sebel elo tuh ngga penting tau…

Dari zaman baheula, muncul peribahasa yang ampe saat ini terus dingat-ingat: “Kuman di seberang lautan nampak, gajak di kelopak mata tak nampak” . Peribahasa itu, ya pastilah sudah mafhum semuanya. Seringkali kesalahan orang begitu terlihat jelas, dan kesalahan sendiri, yang amit-amit dampaknya, ngga keliatan sama sekali. Tetapi, arti ini jangan kamu ubah menjadi, “Kebaikan orang lain nampak, kebaikan sendiri tak nampak”. Arti kedua ini sungguh melenceng dari maksud perbahasa itu. Jadi pribahasa itu hanya untuk konteks keburukan saja, bukan kebaikan.

Oke, setelah ngomongin peribahasa, saya menebak kamu membatin, “Ni anak mau ngemeng apa sih? Ngga jelas..” (Hehehe.. tenang, Bu..)

Baiklah, seringkali kita detail menangkap kesalahan orang sampe ke akar-akarnya. Kita suka kritik sana – kritik sini. Tanpa ampun menghajar pendapat seseorang, tanpa basa-basi jeplak kesalahan orang lain. Ya kalau mengucapkannya itu langsung ke orangnya sih ngga apa-apa. Jadi konfirmasi atas kritikan itu akan langsung datang. Tetapi yang merugikan adalah ketika sesuatu yang kita anggap kelemahan orang lain itu kita ceritakan ‘di belakang’ alias ngemeng-nya sama orang lain.

Menceritakan sesuatu hal tentang orang lain memang mengasyikkan (Hah?!). Harus diakui kalau banyak tayangan infotainment yang laris manis ditonton orang. Kerjaannya ‘kan cuma nebar desas-desus. Entah bener ato ngga itu urusan nanti, yang penting rame dulu dan bagaimana perasaan yang ditayangin itu mah urusan belakangan.

Kalau yang disampaikan itu hal-hal baik, solutif, motivatif sih tentu tidak apa-apa. Cerita-cerita semacam kepahlawanan tentu sangat penting untuk disampaikan untuk menumbuhkan rasa bangga terhadap jasa-jasa pahlawan.

Tapi cerita buruk soal aib tentu sebuah hal yang harus dihindari. Buat yang diceritain, ini tentu menyesakkan. Buat yang mendengar cerita, di samping memang ngga penting sekali, bagi kita ini bisa membuat pikiran keruh. Ketika pikiran sudah tak jernih, maka susah untuk punya positive thinking. Bawaannya negatiiif mulu.

Soal ini, saya dapat sebuah pelajaran ketika membaca tulisan Samuel Mulia soal “A good life”. Jadi dalam proses membicarakan orang itu ada seleksinya, ya sederhananya ada proses yang harus dilalui sebelum penceritaan benar-benar menjadi keputusan final.

Seleksi pertama adalah soal kebenaran. Maka, ketika seorang teman ngasih berita tentang orang lain, maka tanyakan pada orang tersebut, “Apakah kabar itu benar adanya?” Kalau tidak benar, atau sekedar kabar angin lalu, maka silakan sudahi pembicaraan. Ngga ada untungnya kalau diterusin. Tetapi, kalau memang benar, mari kita teruskan seleksi selanjutnya.

Seleksi kedua adalah soal kebaikan. Maka, “Apakah kabar itu baik?” Kalau ternyata itu berita itu buruk, soal aib orang, soal kekurangan orang, maka sebaiknya segera berhenti saja. Tetapi, kalau memang baik dan berguna, maka silakan melaju pada seleksi selanjutnya, seleksi terakhir.

Seleksi ini akan usai dengan tanya, “Apakah kabar itu berguna bagi saya juga bagi kamu?” Kalau ternyata memang berguna, silakan lakukan diskusi lebih lanjut, tetapi kalau tidak, maka berhenti adalah pilihan terbaik.

Jangan sampai perbincangan yang kita lakukan meleset dari tiga seleksi tadi: benar, baik dan berguna. Jadi, kalau sesuatu kabar sudah tidak benar, tidak baik, bahkan tidak ada guna sama sekali, buat apa diperbincangakan. Yang ada nanti malah buang-buang waktu, buang-buang air ludah, dan ujung-ujungnya muspro.

Namun, bagaimanapun juga membicarakan orang lain sebaiknya dihindari saja, kecuali memang mendesak. Jangan sampai buat masalah gara-gara sesuatu yang tidak penting seperti ini. Oya, tenang saja, ini peringatan bagi saya sendiri ko’. Tenang saja.

Tetapi kalau merasa kesindir, ya sudah ayo sama-sama sibuk memperbaiki diri, bukan sibuk ngemengin orang lain!


Monday, December 13, 2010

Merajut Persaudaraan

ilustrasi (http://fitrisusanti.wordpress.com)
Heh, itu tuh salah
Ini yang bener
Kalu ngga ikut saya, awas ya!
Ah, kamu itu apa? Salah kaprah pahammu itu

Saya sebenarnya bingung juga mendengar isu-isu terorime. Apalagi kejadian itu ada di negeri kita sendiri ini. Padahal, dalam sejarah, tak ada ceritanya teror-meneror itu jadi budaya kita. Negeri kita adalah negeri yang gemah ripah loh jinawi. Negeri yang aman untuk siapa saja singgah.

Ehh ada orang iseng ngebom di Bali 2002 lalu.

Kalau ngomong secara global, Peristiwa 11 September tentunya bisa dikatakan menjadi starting point isu-isu terorisme sialan itu. Setelah itu mengalir anggapan-anggpan bahwa agama tertentu mengajarkan terorisme. Ajarannya dianggap memberikan anjuran untuk membunuh orang lain yang tak sekeyakinan. Oh.

Karena negeri saya dan kamu ini berpenduduk mayoritas agama itu, yakni Islam, ya jadilah kita di-stereotyping-kan sarang teroris. Yang ini sungguh membuat saya pening sendiri. Lha wong saya ngga ikutan ngebom, (ikutan sesalkan si tukang bom iya), eh jadi ikutan dikira teroris.Enak aja!

Setahu saya, semua agama mengajarkan kedamaian. Ya ngga? Mengapa harus ada perpecahan?

Tapi ternyata tak hanya di negeri kita ini, konflik berbau agama juga terjadi di berbagai daerah. Korban berjatuhan, bahkan yang ngga tau apa-apa, ehh DOOR! tiba-tiba mati kena tembak, eh BUARRRR! Tiba-tiba bom bunuh diri. Miris kan dengernya. Bagi saya, adalah orang yang otaknya sudah miring lebih dari 45 derajat yang suka keributan itu. Ngga kurang tuh miringnya?

Kalau mau ditelusuri, konflik-konflik tersebut sebenarnya hanya masalah pemahaman. Seringkali terjadi perbedaan penafsiran atas ajaran. Yang bikin runyam lagi adalah tiap perbedaan itu dikelompokkan dan setiap kelompok bilang kalau mereka ‘paling benar’.

Kalau saya jawab, emang kamu Tuhan?! Kok berani bilang ‘paling benar’. Sudah hukum Tuhan kalau manusia itu dikelilingi oleh salah dan lupa. Jadi kalau mikir paling benar, ya berarti sudah mengingkari Tuhan. Kalau kita merasa rang lain salah, ya diingatkan. Kalau tetap ngeyel ya silahkan, toh mereka punya dasar pijakan sendiri. Taaapi, (a-nya sengaja saya banyakin biar lebih mantab) kalau bikin rusuh dan neror sana-sini, baru itu masalah dan kita harus bertindak.

Bagi saya, perbedaan itu adalah lumrah, itu sudah pasti terjadi. Seribu orang bisa punya seribu persepsi bahkan lebih. Sebuah masalah bisa dipandang dari berbagai sudut pandang. Berbeda situasi, berbeda interpretasi. Berbeda kondisi, berbeda edukasi, berbeda cara memahami. Bukannya begitu?

Saya kira menyamakan itu pastinya sulit, tapi menghargai sekiranya bisa menengahi perbedaan itu. Lagipula, memang Allah menciptakan manusia bersuku-suku nan berbeda-beda. Jadi pengakuan diri sebagai yang terbaik tentu adalah hal naïf.

Sekarang sudah saatnya kita merajut persatuan. Bukan berarti menyamakan pemahaman, tetapi saling memahami adalah yang terbaik. Biarkan orang lain menjalankan pemahamannya. Bukankah sambung persaudaraan adalah hal terbaik?


Sunday, December 5, 2010

Keranjang Lipat: Pengabdian untuk Negeri

(REFLEKSI HARI/JAZZ MUHAMMAD)
Keranjang Lipat - Enur yang giat memasarkan produk
kerajinan tangan dari Tasikmalaya
Tampilannya tidak macam-macam dan memang demikian yang ia lalui setiap hari. Kesehariannya dipenuhi kegiatan berkuliah dan berbisnis. Ketika saya mencoba menemuinya, tidaklah sesulit menemui pejabat-pejabat. Mudah, tinggal SMS (short message service) dan tentukan kapan bertemu dan bertemulah saya dengannya. Tidak seperti pejabat yang selalu birokratis, saya temui seorang Enur Nursyamsi begitu mudah.

Ada yang menarik dari anak muda satu ini: kuliah sambil berbisnis. Ini adalah kegiatan yang masih langka di dunia perkuliahan. Umumnya mahasiswa akan menghabiskan waktunya dengn mengerjakan tugas-tugas makalah dan ngetem di depan komputer. Tapi Enur mencoba hal lain. Meski nilai kuliahnya tak bagus-bagus amat, ia mampu menciptakan prestasi di sisi lain kehidupannya: berbisnis untuk kemandirian hidupnya.

Waktu luang ia gunakan untuk berkeliling mencari pelanggan dagangan-nya. Ia berjualan kerajinan tangan yang berasal dari kampung halamannya: Tasikmalaya. Barang-barang kerajinan yang ia dagangkan antara lain keranjang lipat, tas, sandal, tikar, dan bebebrapa macam barang-barang rumah tangga lainnya.

Barang-barang kreatif itu dibuat oleh tangan-tangan pengrajin dari ‘kota anyaman’ itu. Bahan-bahan yang digunakan dari alam, kata Enur. Ada yang terbuat dari pandan, rotan, ataupun mendong. Produsennya adalah keluarganya sendiri. Akan tetapi, ketika pemesanan terlampau banyak, maka ia tak segan untuk melibatkan produsen lain untuk bergabung.

Di samping kegiatan bisnis yang sedikit menyibukkan, Enur tetaplah mahasiswa Universitas Paramadina dengan segala kawajiban akademis yang melingkupinya. Ia mengaku memang sedikit sulit untuk mengatur waktu. Kuliah dan bisnis bila sekilas akan berseberangan, tetapi bila dijalani dengan hati-hati dan sungguh-sungguh akan membuahkan hasil yang memuaskan di kedua pihak.

“Ya bisnis mah di waktu luang, kuliah tetep jalan, bisnis jalan. Tugas-tugas tetep ngumpulin, ya meski pas-pasan nilainya. He-he.” Ujarnya dengan logat khas sunda yang kental.

Bantuan teknologi
Enur mengakui, memang jarak yang cukup jauh antara pasar yang ia kelola dengan asal produk membuat sedikit kendala. Namun, menurutnya, itu semua teratasi dengan kemajuan teknologi yang sekarang ini berkembang. Teknologi seluler yang ini marak dan maju membuatnya mudah untuk menjalankan bisnis kerajian ini.

“Telepon geggam ini sangat membantu saya,” selanya sambil menunjukkan sebuah telepon genggam sederhananya, “saya merasa ini sangan efisien. Komunikasi lancar, apalagi untuk buat agreement (perjanjian) dengan pelangan. Dan apapun jadi cepat, saya merasa teknologi ini sangat membantu saya.”

Perihal teknologi ini, Enur yang menggunakan layanan produk XL ini mengatakan bahwa memang ada kelemahan dan kelebihan. Ada provider yang murah juga ada yang mahal. Yang murah kadang tak berlayanan bagus, pun sebaliknya, untuk mendapat layanan yang qualified, harga selangit harus ditelan.

Meski demikian, kemajuan teknologi seluler di Indonesia memang harus diakui cukup pesat. Kemampuan layanannya pun ikut berkembang pesat. Misal, produk XL telah mengaplikasikan teknologi GSM 900/DCS 1800 dan sistem IMT-2000/3G untuk meningkatkan kualitas layanannya. Jaringan GSM dengan tekonologi DCS (Digital Celluler System) 1800 ini dapat meng-cover pelanggan jauh lebih banyak. Sementara, IMT-2000 merupakan sistem komunikasi bergerak (Mobile Communication System) generasi ketiga (3G) yang diciptakan untuk layanan global. Teknologi ini mengintegrasikan telepon selular dengan sistem komunikasi bergerak dengan satelit (Mobile Satellite System).

Pengabdian kecil
Untuk bisnis kecil-kecilan, kadang ini jadi pilihan sulit. Tapi baginya, dengan layanan seluler yang ia gunakan sekarang, ia sudah cukup puas, setidaknya dalam hal harga. “Maklum, masih kecil-kecilan, kalo yang mahal belum terjangkau, Mas.” katanya.

Namun, ia masih mengharap bahwa layanan provider-provider seluler di Indonesia harus ditingkatkan. Soalnya, kemajuan industri kreatif di Indonesia akan menjadi tren menarik di masa depan. Teknologi seluler ia buktikan bahwa punya peranan penting dalam menopang kemajuannya. Buat bisnis yang masih baru, teknologi ini sangat memantu untuk ekspansi, tegasnya kemudian. “Ya kalau bisa mah murah dan layanannya bagus. Tapi ya kayaknya sulit itu, Ha-ha-ha!”

Bisnis ini akan terus ia jalankan meski kuliah makin terasa memadat di akhir-akhirnya. Enur berkomitmen bahwa ia yakin ini adalah wujud upayanya untuk mandiri secara pribadi. Minimal, ia tak mem-‘benalu ‘pada orang lain maupun orang tuanya sendiri. Dari usaha ini, ia cukuplah terbantu biaya hidupnya sehari-hari. Untuk biaya kuliah, ia telah mendapat pembiayaan penuh dari program beasiswa Paramadina Fellowhip yang ia terima sejak semester pertama kuliah.

Sejauh ini, pasar yang ia kelola masih terbatas mahasiswa di kampus. Dosen-dosen juga ia tawari dan responnya positif. Layanan transaksi on-line pun mulai ia jajaki. Lewat situs dagang on-line, ia jajakan dagangannya. Tapi, yang jelas untuk sekarang ini, ia masih memanfaatkan layanan seluler yang ia gunakan sekarang. “Layanan on-line masih agak susah, Mas. Mungkin belum terbangun kepercayaan di sana,” tukasnya.

Ia terlihat giat mengembangkan bisnisnya. Memang ini tidak terlalu besar, omzetnya juga masih jauh dari gaji bersih seorang Gayus Tambunan. Tapi mimpinya untuk menjadi wirausahawan patut kita apresiasi. Ia yakin bahwa dengan berwirausaha ia bisa berkontribusi bagi negerinya, mengabdi barang sedikit. “Saya ingin melihat penduduk negeri ini bisa bekerja semuanya, Mas, itu saja…”

Biodata
Nama : Enur Nursyamsi
Tempat dan tanggal lahir : Tasikmalaya, 1 Oktober 1989
Pendidikan : Universitas Paramadina / Manajemen
Prestasi : Penerima beasiswa penuh Paramadina Fellowship 2008

Thursday, November 4, 2010

Pemuda demi Bangsa

ilustrasi (images.plurk.com)
Woy, nantang lo
Mau apa lo
Hyaaaa…
Hyaa….ciatt, ciatttt

Kadang saya melihat acara berita itu miris. Ada berita tentang anak muda ya masih SMA, tawuran. Saling lempar batu, saling pukul, saling ejek, aduh apalagi…

Yang sangat membuat saya gelisah itu ketika mereka berkelahi menggunakan seragam sekolah. Dalam pikiran saya, apa anak ini tidak diajarkan etika? Tentu sudah diajari. Inilah yang membuat pendidikan di negeri ini menjadi ironis. Kamu tahu maksudnya?

Setahu saya pendidikan mengajarkan cara hidup yang bersahaja, bermartabat dan yang penting damai. Damai tentu mengandung makna ketentraman dalam menjalin hubungan dengan yang lain. Ya dasar manusia kan makhluk sosial, jadi have a relationship dengan orang lain itu wajar, bahkan mungkin wajib, wajib ain. Kayak ibadah aja mas…

Tapi di lapangan, nyatanya banyak terjadi perbedaan. Apa yang diajarkan dalam pendidikan ternyata tak dipraktikkan. Inilah yang saya sebut ironis. Berbeda antara konsep dan implementasi. Yang lebih membuat ironis lagi adalah tawuran pemuda itu terjadi antar sesama warga Indonesia. Aduh, masalah Indonesia itu banyak, Mas, jangan nambah masalah lagi donk.Huh…

Sebenarnya apa yang tawuan itu sadar akan hal ini? Aku yakin mereka tahu. Tapi keinginan untuk melaksanakan apa yang telah mereka ketahui itu belum dilakukan. Tentu banyak faktor yang menyebabkannya. Kejiwaan yang labil pada pemuda mugkin menjadi penyebab utamanya. Mereka mudah tersinggung. Tapi juga suka menyinggung. Irons lagi kan?

Saya ingat pesan Aa Gym, kalau kita mau hidup damai dan tentra serta aman jaya, jangan mudah tersinggung, juga jangan mudah menyinggung. Mudah kan? Ya bagi saya hidup itu sedikit masa bodohlah. Tentunya masa bodoh yang positif.

Selain itu, bagi saya, mungkin mereka tak pernah tahu perjuangan para pahlawan dalam merebut kemerdekaan. Boro-boro tawuran, penjajah sadis masih berkerkeliaran. Mereka tak pernah bersibuk diri saling singgung sesama warga Indonesia. Yang ada di pikiran mereka hanya bagamana bangsa merdeka. Ingat, kemerdekaan bangsa ini juga berkat sumbangsih pemuda.

Mereka itulah,meminjam istilah Anies Baswedan, adalah pemuda yang tutas. Pemuda yang tuntas dengan urusan pribadinya. Tak ada dipikiran mereka, urusan-urusan diri yang individual. Semangat mereka adalah bagaimana bangsa ini bersatu. Saharusnya itu yang kita contoh saat ini.

Bahkan Bung Karno pernah berseloroh bahwa ia bisa mengguncang dunia kali bersama pemuda. Ini berarti beliau mengerti betul bahwa pemuda ini adalah asset bangsa yang berharga. Eh..kitanya malah memble…

Pendidikan telah member kita bekal etika. Etika yang penuh nilai-nilai yang berbudaya. Kalau terus membuat keonaran, bagi saya, kasihan sama pejuang zaman kemerdekaan itu. Kalau saja mereka masih hidup, tentu mereka menangis dihadapan kita. Menangisi ke-bodoh-bin-bego-an kita karena tak punya etika dan penghargaan atas jasa pahlawan.

Mari mengisi masa muda dengan hal-hal yang bermanfaat buat bangsa dan negara. Sepuluh sampai lima belas tahu ke depan adalah milik kita. Kalau tak ada bekal, mau jadi apa? Bangsa Indonesia telah menitipkan maa depan ini pada yang muda.

Maka dari itu, mulai dari sekarang, mari kita bekali diri dengan ilmu dan sikap yang beretika demi bangsa.