Wednesday, December 28, 2011

Negeri yang Terstandardisasi

US light switch (click on it for the source)
FARGO-JAZZMUHAMMAD - Dulu, yang muncul dipikiranku tentang negara adidaya Amerika adalah sebuah negara maju. Teknologi dan pendidikannya seperti beberapa ratus langkah di depan dari Negara-negara lain. Tapi apa yang membuat negara ini begitu punya pengaruh di dunia?

Jared Diamond, seorang ilmuan mencoba mencari jawaban mengapa “orang-orang kulit putih” saat ini menguasai dunia dengan kemampuan teknologi. Ia berargumen bahwa gun, germ dan steel telah membawa orang-orang ini dapat menaklukkan dunia. Okelah, itu masa lalu. Saiki-saiki, biyen-biyen. Mari lihat apa yang terjadi sekarang pada negara-negara maju ini, dan secara khusus di US. Anyway, kalau mau lihat videonya, klik di sini.

Nah, sebagai negara maju, ternyata satu hal yang bagiku cukup sederhana tapi mengherankan adalah hampir semua hal di sini terstandadisasi. Negara ini menerapkan sistem standar pada setiap apapun yang ada di dalamnya.

Aku akan mulai dengan light switch atau yang di Indo biasa disebut dengan sakelar. Setahuku (Ini setahuku, jadi mau percaya atau tidak tak apa-apa) di Negara ini, semua sakelar punya bentuk yang sama. Mulai di tempat umum sampai rumah-rumah sakelarnya akan punya bentuk yang sama.

Lalu bentuk pintu atau sistem ke-pintu-an yang hampir sama di tiap tempat. Untuk tempat-tempat umum, seperti toilet, terminal, atau juga student center, model pintunya sangat tebal, berat untuk membukanya. Bagi yang di indo, kawan-kawan bisa lihat model pintu US di At America yang ada di Pacific Place atau di kedutaan atau konjen Amerika.

Umumnya sistem pintu ini adalah untuk masuk, maka kita akan memerlukan kunci, tetapi untuk keluar tidak. Penguncian dari dalam umumnya hanya menggunakan switch yang diputar atau digeser, atau memang pntu hanya bisa dibuka tanpa kunci dari dalam. Dari luar? Harus pakai kunci. Karena itu, banyak orang US yang kemana-mana bawa kunci se-“paket”!

Sistem penamaan jalan pun juga demikian. Di US tak seperti di Indo, penamaan jalan bisa bermacam beribu-ribu nama. Di sini, hanya ada dua: avenue (ave) atau street (st). Yang melintang ke barat-timur adalah avenue, yang membujur utara-selatan adalah street. Tinggal nanti penamaannya diberi nomor yang diurutkan.

Namun ada beberapa jalan yang diberi nama khusus seperti Broadway yang biasanya di downtown dan, kalau di NDSU, ada juga University Drive karena jalan ini melewati kampus. Untuk detail penamaan jalan akan aku ceritakan di lain tulisan.

Karena sistem yang standar ini, pelayanan fasilitas umum pun juga standar di mana-mana. Mau di tempat yang cukup terpencil, akan ada layanan toilet yang memadai dan umumnya bersih. Juga ada vending machine yang bekerja dengan baik.

Di US, barang-barang di sini umunya apunya kualitas yang baik karena memang telah ada standar yang ditentukan untuk setia barang yang dilempar ke konsumen. Di sini makanan sangat berkualitas dan memang mahal. Orang tak bisa asal buka warung. Akan ada standar khusus untuk membukanya.

Selain itu, baju-baju dan alat-alat rumah tangga umumnya punya kualitas yang sangat baik. Di US jarang ada sepati yang lepas sol-nya, tas yang pitus cantolan-nya. Tapi ya pasti ada kadang satu dua masalah. Namanya juga dunia, tak ada yang sempurna (Halah…).

Terakhir, yang aku temui dan sebenarnya masih banyak lagi, adalah sistem keamanan di bandara. Dari bandara yang kecil sampai yang besar sekali, US memiliki standar keamanan yang sama. Jaket, sepatu, ikat pinggang serta apapun yang ada di kantong harus dikeluarkan. Tak boleh bawa cairan dalam wadah lebih dari 100 ml, dan masih banyak lagi.

Di sini yang perlu diperhatikan adalah sebenarnya mereka, para petugas yang melakukan cek keamaan tak punya urusan dengan pelanggan. Tetapi mereka punya standar kerja yang kalau tak dilakukan akan berimbas pada karier kerja mereka.

Contohnya, katakanlah di bandara, seorang petugas punya teman baik ata keluarga yang akan naik pesawat. Maka ia harus memperlakukannya sama dengan siapapun. Si teman yang di cek tak boleh marah karena ini adalah prosedur. Bagaimana kalau si petugas meloloskannya?

Kalau memang temannya punya niat baik tak apa-apa, tetapi kalau ternyata ia dipakai pemerintah untuk mengecek kinerja para petugas keamanan, maka di petugas akan dapat masalah besar. Begitu pula dengan kepolisian di sini.

Setiap pengendara sangat “takut” dengan polisi meski polisinya adalah wanita. Sebab kalau terjadi sesuatu, maka imbas ke depannya akan sangat panjang: asuransi yang naik preminya (di sini asuransi wajib bagi mobil) juga mungkin izin berkendara yang akan bermasalah. Polisi pun juga tak akan berani menerima suap karena kalau ternyata orang yang menyuap adalah agen pemerintah yang melakukan cek kinerja polisi.

Namun Amerika bukanlah negara yang sempurna. Standardisasi tak menjamin negara ini tanpa masalah. Masih banyak saja orang yang melanggar lalu lintas, melakukan tindakan kriminalitas. Lalu, di US ternyata banyak juga gelandangan atau di sini sering disebut homeless atau hobo.

Mereka hidup di jalan-jalan, malas kerja dan minta-minta pada orang lain. Kau tahu kawan, hal inilah yang pada awalnya membuatku heran: ternyata di negeri yang semaju ini ada gelandangan! Memang dunia tak ada yang sempurna.

Tapi di US banyak homeless center yang memberi makan mereka. Sebagian diberdayakan untuk bekerja dan kemudian dapat mandiri. FYI, aku di semester kemarin jadi volunteer di salah satu homeless center namanya New Life Center.

Bagaimana ya dengan Indonesia?





Thursday, December 22, 2011

The Thanksgiving of Mine

with Dennis
To be honest I did not have any idea a couple weeks before Thanksgiving Day. I thought that I would be staying in my room and chilling with my roommate who is also international student. But eventually I got email from office of international program at NDSU that they have like host family program for international students.

I applied for that. “Hopefully something changes,” I said, “because I don’t want to be stuck in this room while everybody is leaving.”

Then right a week before Thanksgiving, I got a call from Karen. She would be my host family. Thank God! She said that I had to get to her house around noon. On the Thanksgiving Day, I went there with an Indonesian family, Susilo’s family, that I know them really well.

The house is in Hawley, Minnesota. And what made quite surprised was it was by lake. Because of the cold, the lake was frozen! That was my first time looking at frozen lake. I wanted to get there as soon as possible, but the meal was ready at the same time. I put it off, but, “Happy Thanksgiving day! Let’s pray before we eat!” Dennis, Karen’s husband, said.

on the frozen lake
I got turkey, stuffing, gravy, apple pie and ice cream. It was awesome having lunch with host family and many kinds of “brand new” foods. But to be honest, I didn’t like stuffing. Other than that, I liked a lot! Afterward, I ran to the lake.

I walked on the frozen lake. I could not imagine it happened. I took some picture with Joel, Karen’s son. He also invited “Buddy”, a big lab dog. I played a bit with Joel and Buddy on the lake, took some pictures and had a lot of fun. It was impossible to do that in Indonesia, which is “every day is summer.”

When the day was getting dark, we had dinner together. Afterward, we leave, then Goodbye Dennis’ family, and Goodbye Thanksgiving day.



Mozaik dari Fargo (4): Menjadi Manusia Sejati

with pak susilo at the home-coming parade
Sebenarnya menjadi orang baik syaratnya cuma satu: berperilakulah yang baik. Tapi apa semua orang akan setuju dengan apa yang kita anggap baik? Atau malah menganggapnya buruk setengah mati? Masalahnya adalah setiap orang punya standar nilai dan pengetahuan yang berbeda untuk menilai sesuatu: baik atau buruh, benar atau salah.

Perbedaan atau keragaman dalam kehidupan adalah anugerah Tuhan. Percaya atau tak percaya, tak akan ada orang yang punya pikiran sama persis. Tak ada pula orang paling pintar sebab terlampau banyak pengetahuan yang di dunia ini yang harus diketahui. Maka dari itu, jadi orang terbuka saja. Nikmati saja hidup, dan tak perlu membesar-besarkan perbedaan. Bahasa Inggrisnya, just walk it off, enjoy our life.

Perbedaan biarlah jadi sumber pengetahuan, persamaan biarlah jadi penyambung persaudaraan.

Januari – April 2011
Setelah aku selesai wawancara untuk Global Ugrad, kuliah berjalan seperti biasa. Tapi, karena ini semester terakhirku, maka aku tak punya banyak mata kuliah. Hanya tiga mata kuliah. Aku hanya masuk Senin dan Selasa, selebihnya, aku fokus untuk berorganisasi. Lagipula, aku sudah tak terlalu memikirkan apa yang harus aku lakukan setelah seleksi wawancara Program Global Ugrad usai.

Namun seminggu setelahnya, aku dapati telponku berdering ketika aku masih bertugas menjaga stand Paramadina di sebuah SMA. Kala itu aku bersama Nyonyah Liz dan kawanku, Eci. Kira-kia akhir Desember.

“Ya, ini Muhamad, ada yang bisa kubantu?” ini caraku biasa menjawab dari no telpon yang tak ada dalam phone book-ku. Kalau teman yang telpon jawabnya, “Apaan?!”

“Ohya, Muhamad kamu nominasi untuk masuk program Global Ugrad 2011-2012. Nah, yang perlu kamu lakukan adalah merevisi surat rekomendasi karena kamu pakai form yang salah. Lalu terjemahan ijasah. Lalu kamu akan test TOEFL lagi, yang iBT, pada akhir Januari,” kata Mbak Mita, yang menelponku waktu itu.

Kawan, just FYI, TOEFL iBT adalah TOEFL internet based test yang merupakan versi terbaru dari test ini.

Aku langsung memutar otak. Aku cuma punya waktu satu bulan untuk menyiapkan itu semua. Akhirnya aku rencanakan semuanya secara matang dan yang pertama aku lakukan adalah dapatkan terjemahan ijasah.

Kala itu aku bayar 55 ribu untuk ini. Penerjemahnya biasa disebut penerjemah tersumpah atau sworn translator. Kalau kau penasaran dengan ini, kau bisa google.

Sebenarnya aku kontak adikku, Faqih al Adyan yang kebetulan ada di Blitar untuk memintakan legalisasi terjemahan yang aku buat, sesuai contoh yang kudapatkan dari Eko, kawanku. Namun karena SMA-ku, SMA 1 Blitar, ini yang aku sayangkan, mempersulit proses ini, aku tak jadi dapatkan itu.

Aku minta adikku untuk temui Tatik Sensei untuk menandatangani perbaikan surat rekomendasi. Akhirnya aku dapatkan juga. Lalu perbaikan dari Bu Iin dan Bu Prima datang kemudian. Yang dari Bu Prima aku dapatkan dari beliau saat liburan. Beliau menyempatkan mampir ke kampus untuk memberikan itu padaku. Aku sangat berterima kasih pada keduanya.

Aku tes TOEFL saat liburan kampus. Sebelum aku masuk tempat tes, yang ada di daerah Mangga Dua square, aku latihan tes bersama kawanku, Sendi Maulana Saleh. Ia biasa dipanggil Sendi atau juga “Ibu” karena pada dasarnya ia adalah manajer asrama.

“Sen, kau bacakan pertanyaannya, aku nanti jawab dalam semenit, okay?” pintaku.
“Okay, no problem!” jawabnya dengan akses bahasa Inggris yang selalu terdengar unik.

Aku berlatih untuk speaking karena di tes TOEFL iBT terdapat tes semacam itu. Aku harus jawab satu pertanyaan dalam 50-60 detik. Hah, ini benar-benar menyulitkan! Tapi aku sampaikan terima kasih banyak untuk Sendi karena mau meluangkan waktunya untuk melatih anak bodoh yang bermimpi ke luar negeri ini.

Aku ambil test. Cukup menegangkan. Hampir empat jam aku di dalam ruang test memandangi layar komputer. Aku tak berharap banyak dengan ini. Setelah selesai, ya sudah pulang.

Pada 9 Februari 2011, aku dapat sebuah email bahwa nilaiku telah keluar. Aku dapatkan 81 out of 120. Ya lumayan bagiku tak buruk juga tak terlalu baik. Aku kirimkan email ke Mbak Mita tentang ini.

“Terima kasih sudah menginformasikan skor anda. Kami akan mencatatnya,” begitu jawab Mbak Mita di email.

Setelah itu, aku sadar bahwa itu email terakhir yang aku terima dari dia. Karena sebulan lebih setelah itu, tak ada tanda-tanda. Sepertinya berakhir. Aku buka email setiap hari, berharap akan ada pemberitahuan. Tapi nihil. Ya sudah. Mungkin takdirnya sampai di sini.

Oh, Kawan, di akhir tahun 2010, aku terpilih menjadi ketua Dewan Keluarga Masjid atau yang lebih keren di sebut DKM. Organisasi ini merupakan organisasi yang bergerak dibidang religiusitas khususnya bagi mahasiswa. Aku akan mengemban tugas ini selama satu tahun ke depan.

Tugasku? Aku tak pernah bisa mendefinisikannya dengan baik. Tetapi pada dasarnya kami, semua anggota DKM, bertugas adalah menjaga warna religiusitas kampus Paramadina. Banyak kegiatan yang kami lakukan untuk menunaikan tugas ini. Aku tak akan banyak bicara detail tentang satu-satu kegiatan yang telah kami lakukan.

Yang ingin aku bagi adalah apa yang ingin aku lihat DKM, sebagai organisasi religius, nanti satu tahun ke depan, aku mungkin juga sepuluh tahun ke depan. Mengapa hal ini? Aku tak tahu, tetapi bagiku, inilah yang “meresahkan” diriku.

Apa yang kau pikir tentang organisasi religius atau kerohanian di kampus? Anak-anak muda yang jarang pakai jeans—celana di atas mata kaki kalau perlu? pelihara jenggot—mencukur kumis? sering pakai istilah-istilah Arab (ana, akhi, ukhti, dll)? tak pernah salaman antargender? Pengajian? Orang-orang yang suka “kutap-kutip” ayat? Atau ada yang lain?

Itu semua adalah pandanganku sendiri. Bisa salah satu, salah dua, juga salah semuanya. Jadi jangan terlalu ambil pikir. Tapi bagiku, aku ambil pikir sekali. Kesan-kesan itu semua membuat organisasi religius yang ada di kampus jadi semacam camp konsentrasi yang tugasnya mengarahkan mahasiswa untuk menjadi “Muslim sejati” yang taat akan “Qur’an dan Hadits”. Tapi apa Muslim sejati?

Apa yang kau pikirkan tentang menjadi manusia sejati? Akan banyak jawaban yang muncul. Mulai dari bapak yang sayang suami, anak yang taat orang tua, sampai presiden yang mengayomi rakyatnya, dan masih banyak lagi. Pertanyaannya, bisakah kita melakukan itu semua? Bisa, tapi apa jamin semua orang akan suka dengan segala tindakan yang kau anggap sejati?

Begitu juga dengan Muslim sejati, atau juga Kristen sejati, atau juga Hindu sejati, atau apapun yang sejati-sejati. Akan banyak kriteria yang harus dipenuhi. Orang akan juga banyak pendapat dengan ini. Aku punya kriteria, kau punya kriteria, orang lain punya kriteria.

Di dalam Islam, agamaku, sering dikatakan apabila kita tak menemukan penyelesaian sebuah masalah, maka harus dikembalikan pada sumber yang paling otentik, yakni Quran dan Hadits. Nah, ini yang sering dikumandang-kumandangkan oleh kebanyakan organisasi religius di kampus.

Yang aku sering temui, mereka sering membacakan ayat Quran atau juga cuplikan Hadits dalam pembicaraan. Lalu dengan itu men-judge sesuatu, baik sesuai atau tak sesuai dengan dua sumber itu. Kalau sesuai, baik kau temanku; kalau tak sesuai, maaf sepertinya Islam kau kurang, dan atau sepertinya kau bukan temanku.

Sekarang yang menjadi pertanyaan adalah, katakanlah, Kitab Suci menurut siapa? Seorang temanku seringkali bilang, “Maaf, ini tak sesuai dengan Hadits, maaf ini tak sesuai dengan Quran!” Dengan dihiasai nadanya yang sok tahu, lalu ditambah dengan “akhi-akhi-nya”, ini tak membuatku “tercerahkan”, tapi malah jengkel!

Baiklah, aku terima saja perkataan itu, tapi bagaimana dengan orang lain yang juga bilang bahwa pemikiran mereka sesuai dengan Quran dan Hadits? Orang konservatif bilang kalau mereka sesuai dengan Quran dan Hadits, orang moderat bilang kalau mereka sesuai dengan Quran dan Hadits, orang tradisionalis berkata kalau mereka sesuai dengan Quran dan Hadits, orang liberal juga bilang bahwa mereka sesuai dengan Quran dan Hadits. Lalu siapa yang benar sesuai dengan Quran dan Hadits? Adalah kau bertanya itu di kepalamu?

Jawabanku, menurut apa yang sejauh ini aku pelajari, dan setelah aku bertanya pada hati nuraniku, maka yang paling sesuai dengan Quran dan Hadits adalah Quran dan Hadits itu sendiri! Yang paling Islam ya Islam itu sendiri.

Nah, ketika kita telah bilang sesuatu tentang keduanya, maka yang adalah adalah gabungan kapasitas pengetahuan kita dengan apa yang tertulis pada keduanya. Mau tak mau, itu pasti terjadi. Sebab segala apa yang kita katakan adalah sebuah tafsiran atas sesuatu yang kita reka ulang dalam pikiran yang prosesnya melibatkan kapasitas ilmu pengetahun, pengalaman, dan tingkat kecerdasan seseorang dalam bidangnya masing-masing.

Oleh karena itu, menjadi manusia dengan berkewajiban menuntut ilmu hingga mati, seperti yang dikatakan Nabi Muhammad Saw, adalah peryataan paling logis, bagiku. Sebab pada dasarnya tak ada sesuatu di dunia ini yang paling benar. Yang ada adalah hampir benar, dan dengan ilmu pengetahuan, orang akan berproses untuk menuju kebenaran sejati yakni Allah, Tuhan semesta.

Tapi semua itu, tak sedikitpun mengurangi kebanggaanku terhadap apa yang aku yakini saat ini. Menjadi seorang Muslim bagiku adalah terbaik bagiku. Dibesarkan dalam keluarga Muslim, tentu akan muncul sebuah pernyataan bahwa aku hanya mewarisi agama ini dari nenek moyang. Tak salah.

Namun, dalam prosesnya, aku temukan bahwa ini pilihan terbaik yang ditunjukkan oleh Tuhan padaku karena dengan ini semua, kenyamanan dalam hidup aku dapatkan. Karena pada dasarnya, beragama adalah berlatih untuk membangun komitmen dengan diri sendiri, yakni komitmen terhadap hati nurani yang merupakan satu-satunya sumber kebaikan di dunia ini yang diletakkan oleh Allah dalam hati setiap manusia.

Tentang orang yang punya pendapat lain? Punya agama lain? Masa bodoh! Asal tak bikin masalah, atau malah mendukung ketentraman dan kedamaian dalam masyarakat, ya sudah. Buat apa sih hidup sekali cuma buat ribut soal perbedaan?

Atau pada orang yang menganggapku aneh dengan apa yang ada di pikiranku? Itu bukan masalahku, itu masalah mereka.

Nah, Kawan, dengan berbekal itu semua, aku ingin membawa DKM menjadi sebuah organisasi yang dapat membangun setiap anggotanya memiliki kebanggaan terhadap kehidupan keagamaan (religousity) juga tentu kebanggaan sebagai bagian dari DKM. Mereka tak akan malu menjadi anggota sebuah organisasi religius sambil terus bergeliat dan berkarya di tengah-tengah masyarakat khususnya lingkungan mahasiswa. Mengapa?

Kebanggaan ini tentunya akan disertai dengan sikap terbuka atas semua perbedaan yang ada, khususnya di kalangan mahasiswa. Sikap keterbukaan ini akan membawa setiap anggota DKM seperti keranjang besar yang dapat menerima informasi apapun baik yang positif maupun negatif.

Keterbukaan ini juga akan mengakomodasi segala perbedaan dan memunculkan penyikapan yang santun dan cerdas, tak terburu-buru, santai, penuh penghargaan, dan kalau perlu disikapi dengan humor.

Selain itu, kebanggaan terhadap DKM akan menjadi penyaring mana pengetahuan yang kelak akan dapat dimanfaatkan dan dikembangkan lebih lanjut, dan mana yang perlu disikapi dengan hati-hati.

Dengan ini semua, menjadi seorang yang beragama bukan berarti harus mengisolasi diri pada sebuah kelompok kecil, atau membentuk masyarakat sendiri, yang homogen, dan sayangnya ini tak mungkin, yang pada akhirnya hanya menambah parah stereotype buruk yang ada.

Menjadi seseorang yang beragama berarti menjadi insan yang terbuka di tengah masyarakat, penuh penghargaan terhadap kenyataan dan perbedaan, namun teguh dan bangga terhadap keyakinannya, tanpa perlu memandang rendah, dan memang sangat tak perlu, pada yang lain.

Beberapa kegiatan akhirnya dapat terlaksana dengan baik berkat kerjasama seluruh anggota DKM. Di antaranya adalah pengajian bulanan yang kemudian di kemas menjadi MONDY atau Monthly Study. Pengajian ini dibuka untuk semua mahasiswa. Mereka bisa datang dengan bagaimanapun, dan dari background apapun.

DKM juga menyelenggarakan seminar tentang indigo dalam perspektif Islam. Kawanku, Suharyanto, menjadi inisiator kegiatan ini. Ada juga wakaf buku 2011 dan Betis Barab atau Belajar Gratis Bahasa Arab. Betis barab ini di laksanakan karena termotivasi oleh pernyataan Cak Nur bahwa sebagai Muslim, setengahnya adalah bahasa Arab.

Pada 2011, DKM juga menunjukkan konsen-nya dalam ilmu pengetahuan praktis melalui acara Wijayanto on Negotiation. Dalam acara ini Pak Wijayanto, Deputi Rektor Pramadina, memberikan wawasan baru dan “langka” bagi mahasiswa tentang bagaimana membangun ketrampilan bernegosiasi dengan orang lain dan kemudian membangun network.

Kemudian DKM menggagas The Home of Science, yakni sebuah seminar kecil untuk mahasiswa tentang bagaimana menjadi peneliti. Kegiatan ini dilatarbelakangi semangat membangun kembali budaya penelitian yang beberapa abad lalu sukses dinahkodai oleh Bait al-Hikmah milik daulah Bani Abbasyiyah.

DKM juga akhirnya dapat membangun kerjasama dengan pihak eksternal yakni dengan Global Peace Festival Foundation, sebuah LSM internasional yang bergerak dibidang perdamaian. DKM kemudian meluncurkan sebuah acara bertajuk “Young Leader toward Building Global Peace”.

Aku menikmati kebersamaanku dengan semua anggota DKM dan semua kawan-kawanku di Paramadina. Organisasi ini memberikanku keluarga baru di tengah-tengah hiruk pikuk kehidupan kampus.

Kami berasal dari berbagai jurusan, dari berbagai pandangan, tapi karena kami telah punya komtmen pada penghargaan pada pilihan masing-masing, kami tak melihat perbedaan yang berarti. Meskipun tetap saja ada beberapa anak yang memang punya kecenderungan atau tendensi yang terlalu sedikit fanatik, kami semua adalah satu keluarga dalam DKM.

Aku tak membenci mereka yang terlalu fanatik pada keyakinan mereka. Hanya sedikit tak suka, dan bagiku wajar saja. Tapi bukan berarti ada pengecualian di sini. Sebab ketika seseorang telah membuat pengecualian atas sesuatu, lalu menganggap pemikirannya paling benar, maka jadilah ia orang ekstrem.

Tinggal ekstrem-nya yang mana: ekstrem kanan, ekstrem kiri, atau ekstrem tengah? Dan menjadi orang ekstrem itu selalu menjengkelkan. Aku menjengkelkan? Mungkin, sangat mungkin. Ya aku mohon maaf.

Kawan, dalam menjalani kegiatanku bersama DKM, suatu sore aku sedang jalan-jalan di gedung A, gedung paling depan kampus Paramadina.

Waktu itu 5 April 2011, waktu Maghrib telah masuk. Aku berjalan menuju mushalla kampus untuk segera tunaikan kewajiban shalat Maghrib. Aku lihat-lihat mading di sepanjang lorong kampus. Aku iseng-iseng buka internet di HP-ku. Mungkin saja ada notifikasi di facebook yang bisa aku tanggapi sejenak.

“Ah, sepi!” tak ada notifikasi. Punya facebook tak ada notifikasi adalah menjengkelkan. Sumpah, aku jujur saja. Menurutmu?

Aku alihkan perhatianku pada emailku. Klik. Aku dapati satu email masuk. Dan subjectnya adalah: Selected to participate in the 2011 Global Undergraduate Exchange Program.

Aku benar-benar kaget. Ya Allah! Alhamdulillah! Email ini adalah pemberitahuan bahwa aku terpilih dalam program Global Ugrad 2011-2012!

Aku menggila! Tertawa-tertawa sendiri. Aku ingin lompat-lompat, tapi tak kulakukan. Juga aku ingin teriak. Dalam hati kuucapkan segala puji bagi Allah, Alhamdulillah! Ketika itu Pak Very Aziz melintas. Beliau adalah Pembina DKM juga direktur Direktorat Kemahasiswaan dan Pengabdian Masyarakat (DKPM). Aku tunjukkan padanya email yang aku dapatkan.

“Rosyid, selamat-selamat!” katanya sambil menyalamiku. Beliau-lah yang tahu pertama kali kalau aku lolos program ini.

“Terima kasih Pak!”

Aku ambil air wudlu, lalu kutunaikan shalat Maghrib. Malamnya, aku telpon orang tuaku, Tatik Sensei, Bu Prima, dan Bu Iin. Orang Blitar mau ke US.

with lincoln on mac's photo booth
September 2011
Dengan berjalannya waktu, kemampuan bahasaku telah mulai membaik. Aku sudah mulai memiliki cukup teman. Meskipun kadang juga tak mengerti apa yang mereka bicarakan, aku nekad saja. Istilahnya, aku sudah mulai “get along” dengan mereka.

Di beberapa kelas, aku juga mulai mengerti apa yang dibicarakan oleh dosenku. Dari empat kelas yang aku ambil, kelas English Composition tetaplah yang paling sulit dimengerti. Di kelas ini, aku dapatkan teman baru, Lincoln dan Hannan.

Di Fargo ini, aku sering main ke rumah Pak Susilo Hambeg Poromarto*. Ia adalah PhD student di NDSU. Ia telah tinggal di Fargo sejak lima tahun yang lalu bersama dua anaknya, yakni Adlina “Deli” Paramarta** dan Dienul “Deni” Paramarta. Dua tahun lalu Tante Yuni datang ke Fargo. Ia adalah istri Pak Susilo dan ibu Deli dan Deni.

Aku sering main ke rumah mereka dulu ketika masih puasa. Aku sering sahur dan berbuka di sana. Terima kasih banyak Pak!

Kampus NDSU berjalan seperti biasa. Ini masih summer, jadi banyak mahasiswa yang ke kampus hanya memakai celana pendek. Kalau tak salah, aku cuma sekali menggunakan celana pendek ke kampus. Aku tak biasa. I am not used to it.

Aku mulai terbiasa dengan kehidupan kampus, asrama dan transportasi di sini.

Aku punya tiga roommates: Jong-hoon dari Korea, Justin dan Jeff, keduanya anak Amerika. Kami berteman cukup baik. Dari kedua anak amerika ini juga aku belajar banyak tentang bahasa Inggris juga kehidupan mereka di sini.

Masih summer, dan suhu di sini rata-rata 70 sampai 80 derajat Fahrenheit. Panas sekali. Namanya juga summer.

*) Pak Susilo pada Selasa, 13 Desember 2011 telah lulus sebagai doctor bidang pathology dari NDSU
**) Deli telah lulus sebagai bachelor of chemistry dan menjadi commencement speaker pada Sabtu, 17 Desember 2011

21 Desember 2011
Jazz Muhammad (Global Ugrad Indonesia)
Niskanen 78, Fargo, ND, USA


Monday, December 19, 2011

Belajar di Negeri Paman Sam (2-habis)

"sok cool" in front of the union
FARGO-JAZZ MUHAMMAD - Pendidikan di US ternyata tak senjelimet yang aku kira. Di sini semua dibuat simple tetapi punya pakem aturan yang harus ditaati. Waktu kumpulkan tugas ya kumpulkan, kalau sudah due atau deadline, ya sudah kalau terlambat tak akan akan ada belas kasihan. Oke, kali ini aku akan teruskan artikel sebelumnya tentang belajar di Negeri Paman Sam. Klik di sini untuk artikel pertamanya!

Keempat, tak seperti di Indo yang kalau satu kelas ada 3 SKS, semua digabung menjadi satu, dan jadinya kuliah 2,5 jam. Wah, ini yang berat buatku. Aku hampir selalu tidur di kelas. Di US berbeda.

Pembagian waktu kuliah biasanya menjadi dua atau tiga hari. Jadi, jadwal tiap mata kuliah selalu Senin-Rabu-Jumat (Mo We Fr) atau Selasa-Kamis (Tu Th). Tiga SKS dibagi menjadi tiga atau dua. Jadi di kelas, mahasiswa akan mendengar “ceramah” dosen selama 50 menit atau 1 jam 15 menit. Ya bagiku agak lumayan. Meskipun masih kadang tidur, at least tak separah ketika di Indo. Ini anak kerjaannya tidur kok berani-beraninya kuliah di US?! (Hehe no komen)

Kelima, silabus di US sangat penting untuk mengetahui apa yang akan diajarkan dosen di kelas. Apa di Indo tak penting? Ya pentinglah, cuma pengemasannya yang berbeda sehingga seringkali tidak penting. Atau sebenarnya penting tapi mahasiswanya tukang tidur seperti aku ini. lha itu yang buat itu tak penting. Entahlah.

Silabus di US dibuat tak lebih dari satu lembar. Bagi mahasiswa yang males seperti aku ini, hal ini sangat memudahkan untuk memonitor sejauh mana kuliah telah berjalan. Kalau di Indo, ketika silabus berlembar-lembar: sudah orangnya males, lihat lembaran silabus juga males, ya sudah tidur saja. Maaf, ini bukan contoh yang baik. Hanya saja yang menulis ini tak punya contoh lain kecuali dirinya sendiri.

the simple syllabi
Keenam, kampus-kampus di US memiliki semacam students center yang dinamai, umumnya, memorial union. Di NDSU juga ada memorial union yang berupa gedung besar bertingkat tiga. Di sana ada dinning center, coffee shap, bookstore, post office, bank, dan office of international program.

Selain itu, “union” di NDSU, begitu memorial union sering disebut, memiliki banyak couch atau sofa yang bisa digunakan oleh mahasiswa untuk just chilling atau hanging out. Juga banyak ruang-ruang pertemuan yang bisa dipakai organisasi-organiasasi kampus. Ohya, kantor-kantor organisasi kampus dijadikan satu di sini.

Ketujuh, di sini juga ada BEM tapi namanya, khususnya di NDSU, aku tak tahu di kampus lain, “Student Government” atau SG. Tugas mereka memang mirip seperti BEM. Tapi tak seperti di Indo, yang kadang kalau lihat kantor BEM-nya seperti sangkar burung, di sini kantor SG sangat rapi dan kesannya benar-benar ruang kerja para pegawai pemerintah mahasiswa. Pada hari-hari tertentu, mereka mengenakan pakaian formal lengkap dengan dasinya.

Kedelapan, di NDSU, juga umumnya pada kampus-kampus di US, terdapat bookstore yang menjual semua merchandise kampus dan buku-buku teks untuk mahasiswa. Ya disinilah jaket-jaket atau celana atau apapun yang ada tulisannya NDSU harganya bisa melangit! Untuk yang ini, kau bisa baca tulisanku yang lain di sini.

Buku-buku di bookstore sangat mahal. Tapi entahlah, tetap saja banyak mahasiswa yang membeli buku di sana. Yang membuat bookstore ini istimewa adalah semua buku sudah didata dalam komputer dan ketika mahasiswa memerlukan buku untuk sebuah mata kuliha, maka tak perlu tanya dosennya.

Tinggal cari di website bookstore, klik-klik, beres. Iya, beres klik-nya, mbayarnya itu lho, bikin garuk-garuk badan. (Eits, ini penyakit baru: kegatelan karena lihat buku-buku mahal). Klik di sini untuk melihat contoh dari NDSU Bookstore!

Terakhir, ini yang menurutku paling yahut. Untuk undergraduate, mahasiswa di US tak perlu menulis skripsi! Tak ada skripsi, Pak Dhe! Mantab bukan! Pokoknya ini super sekali. Apalagi kalau yang baca dan yang nulis ini sama-sama males, beuh, ya ini yang jadi dambaan setiap mahasiswa Indonesia. Ya ngga tahu juga sih, soalnya ada saja mahasiswa yang obsesi menulisnya tinggi, terus skripsi pun menjadi penting buat dia. Ya tinggal pilih yang mana. Dipilih-dipilih!

Tapi bukan berarti tak ada skripsi, tak ada tugas tulis menulis. Mahasiswa di Amerika wajib mengambil mata kuliah English Composition I dan II. Lha di sini ini, kerjaannya paper terus!
Jadi, pilih yang mana: tak ada skripsi tapi paper terus, atau ada skripsi tapi tak pernah paper, atau ada paper dan ada skripsi, atau juga yang ini, tak ada skripsi dan tak ada pula paper? Jawabannya, kalau kau milih yang terakhir itu, MEMANG KAMPUSNYA MBAH-MU APA?

Sebenarnya masih banyak hal-hal yang dapat kuceritakan tentang bagaimana belajar di US ini. Tapi kali ini itu cukup dulu. Semoga bermanfaat. Jangan lupa tetap bersedekah biar hidup barokah. Amergo, sa’ bejo-bejone wong kang lali, isih luwh bejo wong kang eling lan waspodo. Ihdinash-shirothol mustaqim, wassalamualaikum warahmatullahiwabarakatuh. (Iki opo to?)


Sunday, December 18, 2011

Belajar di Negeri Paman Sam (1)

just wearing shorts to campus
FARGO-JAZZ MUHAMMAD - Tak semua kampus di US sama persis. North Dakota State University, tempatku belajar saat ini juga tak sama dengan kampus-kampus lain. Tapi namanya dalam satu negara, akan pasti ada beberapa hal yang akan sama. Kau tahu mengapa, karena Amerika adalah negara yang telah punya standar bagi apapun yang ia miliki. Untuk soal standardisasi ini, nanti akan aku ceritakan di kesempatan lain.

Pendidikan di US pada dasarnya relative tak menyulitkan. Menurutku materinya tak terlalu sulit, bahkan bisa dikatakan mirip dengan apa yang di Indonesia. Tapi apa yang membedakan kalau begitu?

Pertama, pada umumnya kampus di US tak memiliki jurursan. Kebanyakan hanya memiliki major dan minor bagi mahasiswanya. Major berarti bidang apa yang akan didalami dengan proporsi yang lebih besar dari pada bidang minor. Jadi, contoh, walaupun punya major bisnis, minornya bisa psikologi.

Kedua, dari segi materi pembelajaran, materi yang diberikan memiliki tahap-tahap. Tahap pertama adalah general courses yang berisi segala course atau mata kuliah yang sifatnya umum dan mahasiswa yang mengambil itu akan dapat bertemu dengan mahasiswa dari major lain.

Tahap kedua adalah pre-professional courses yakni untuk course yang sifatnya mulai spesifik. Terakhir, professional courses yang berisi course yang sudah spesifik dengan major yang diambil. Sebagai contohnya bisa lihat majorku di NDSU di sini.

Ketiga, kultur belajar anak di sini sangat membuatku heran. Di kelas, mahasiswa diberi kebebasan untuk melakukan apapun. Juga, mereka dapat berpakaian apapun.

Yang aku lihat di NDSU, saat summer, hampir semua mahasiswa, pria wanita, memakai shorts atau celana pendek, atau juga celana basket. Untuk atasan, kebanyakan memakai t-shirt biasa. Ada juga yang memakai sleeveless t-shirt, atau buat yang wanita biasa disebut tang top. Di kelas juga kebanyakan pakai sandal jepit.

Meskipun nampak seperti orang yang tak mau kuliah, hal yang mengherankan adalah hanya ada dua pilihan bagi mereka: masuk kelas tepat waktu atau tidak datang! Sekitar sepuluh menit sebelum kelas dimulai, dosen pasti sudah hadir dengan berbagai persiapannya. Di kursi mahasiswa? Rata-rata sudah penuh.

Di fall semester ini, aku punya dua kelas besar yang rata-rata berisi 100-200 mahasiswa. Dan setiap lima menit sebelum kelas dimulai, semua mahasiswa telah siap. Nah, ketika waktu hampir habis, maka lima menit sebelumnya mahasiswa sudah ribut. Bukan ribut bicara, tetapi mereka membereskan perlengkapan kuliah mereka dan lalu siap-siap “cabut”. Dosennya? Mereka juga akan selalu selesai tepat waktu.

Di luar kelas, mereka umunya mereka sungguh-sungguh belajar. Buku-buku yang harganya selangit selalu mereka beli. Bayangkan, aku untuk fall ini harus beli buku yang menghabiskan uang 350 dolar, atau sekitar tiga jutaan. Buku itu mereka baca sebelum kelas dimulai, baik paham atau tak paham. Jadi ketika di kelas, mereka punya bekal pengertian yang setidaknya cukup.

Selama di NDSU ini, aku tinggal di asrama. Aku sekamar dengan dua anak amerika. Mereka cukup rajin membuka buku mereka. Tiap malam pasti belajar. Aku yang datang ke sini membawa sikap males-malesan, akhirnya jadi agak rajin juga.

Soal pakaian tadi, semua itu akan berbeda ketika winter mulai datang. Tentu pakaian mereka menyesuaikan. Dingin-dingin, dengan suhu tiap harinya minus, pakai sandal jepit membahayakan. Jadi, walaupun para mahasiswa kuliah pakai pakaian seperti mau main, tetapi semua punya buku dan di kelas benar-benar belajar. (bersambung)


Saturday, December 17, 2011

Secuplik tentang Kampus dan Rumah

North Arch
FARGO-JAZZ MUHAMMAD - Di Indonesia, rasanya hampir tiap rumah punya pagar. Tak semua juga, tapi ya kebanyakan punya. Kalau di Jakarta, pagar rumah orang dibuat sekuat-kuatnya, setinggi-tingginya, serapat-rapatnya, kalau perlu dibuat pertahanan khusus untuk melawan musuh.

Yang unya uang, langsung bangun pos satpam, terus dipasanglah anjing penjaga. Satu lagi, tak lupa cctv dipasang tiap sudut agar tak aka nada siapapun yang luput dari penglihatan. Yang kayak begini di Blitar juga ada lho. Oh, tambah satu lagi, jangan lupa pasang kawat berduri.

Hal ini bisa dimaklumi karena dua alasan. Pertama, kejomplangan ekonomi yang ujungnya kriminalitas. Kalau dilihat, mungkin jarak seratus meter dari rumah “gedongan” itu masih banyak orang yang masih kekurangan. Kedua, memang dasarnya orang suka menunjukkan apa yang mereka punya alias kekayaan. Bangun rumah segedhe-gedhenya, sementara yang lain cari kontrakan saja susah.

Ya sah-sah saja sih, tapi ya moso’ begitulah hidup yang harmonis itu? (Sumpah, ini pertanyaan sok yes banget, hehe)

Sebelum akhirnya aku mendarat di Fargo, semua itu rasanya ya biasa saja. Tapi pemandangan yang kulihat di sini sungguh membuatku harus kembali memutar pikiran. Apa memang seharusnya demikian?

Di US, atau setidaknya di Fargo, penataan kota benar-benar di atur. Orang tak bisa asal bangun rumah, atau main nempel rumah orang tua seperti yang ada di Indo. Meskipun sesorang punya tanah, sebelum membangun apapun, mereka harus mendapatkan izin untuk membangun dan bangunan macam apa yang bisa dibangun di sana harus sesuai dengan masterplan tata kota.

Di Fargo, rumah-rumah, hampir semuanya, tak berpagar. Kalaupun ada itu hanya untuk menjaga agar anjing mereka tak main keluar. Selain itu, jarak tiap rumah dan jarak rumah dengan jalan juga diatur rapi.

Rata-rata, rumah berukuran kecil dan dibangun dari kayu (semua itu sudah diatur dalam masterplan tata kota). Lalu mereka punya basement atau ruang bawah tanah. Penggunaan ruang juga sangat efektif, maksudku hampir setiap ruang terpakai.

Rumah-rumah kayu itu kebanyakan tak dibangun di tempatnya. Rumah itu sudah dibagun di tempat lain, lalu dibawa ke lokasi sepotong-sepotong. Nanti disusun seperti mainan anak bongkar pasang.

housing, near NDSU
Kembali ke soal pagar. Kampus NDSU juga tak berpagar. Pertama kali aku sampai, aku agak tak percaya dengan apa yang kusaksikan. Kampus ini hanya nampak sebuah kompleks bangunan khusus yang super luas, yang “immersed” di dalam masyarakat.

Oleh karena itu, masyarakat di sini juga merasa memiliki kampus ini. Meskipun mereka tak punya anggota keluarga yang sekolah di NDSU, ketika Bison—sebutan NDSU—punya pertandiangan olahraga, mereka datang dengan satu semboyan: LET'S GO BISON!

Tak adanya pagar membuat Bison tak hanya terkenal bagi kalangan mahasiswa, tetapi juga bagi masyarakat sekitar. Bison pride and spirit have been the part of the people’s life since long-long time ago. Aku rasa tak adanya pagar juga bangunan yang standar membuat setiap orang merasa setara.

Kalau di Indo, kampus-kampus memang banyak yang besar, tapi ya begitu, pagarnya tinggi-tinggi. Orang sekitar kampus juga rasanya kurang peduli dengan pride of the campus.

Aku tak bermaksud untuk berargumen mana yang lebih baik. Aku cuma menyampaikan perbandingan yang terjadi di Indo dan di US. Bukan berarti salah satu adalah yang lebih baik, yang lain buruk. Tetapi karena memang punya keadaan sendiri-sendiri, maka untuk sekedar tahu rasanya cukup.

Apa itu kehidupan harmonis? Um, I don’t know.


Monday, December 12, 2011

Mozaik dari Fargo (3): Masa Bodoh!

di NDSU, lompat ngga jelas!
Masa bodoh. Bagaimana pendapatmu dengan frase ini? konotasinya, setahuku, selama ini adalah buruk. Ini berarti sebuah pengingkaran terhadap kondisi sekitar, tak mau tahu, dan ujungnya: Masa bodoh!

Tapi bagiku, ada masa bodoh yang penting. Masa bodoh ini berarti tak usah peduli dengan apa yang terjadi di masa depan. Maksudku bukan sekarang ini kita bisa bermalas-malasan. Kita harus berusaha meraih segala yang kita bisa raih. Semboyannya “Kalau dia bisa, kenapa aku tidak?” Nah, setelah semboyan itu kita tanam dalam-dalam di kepada, maka kita harus berusaha sekuat-kuatnya.

Nah, setelah itu? Berdoa? Yes, lalu? Masa bodoh! Di sinilah masa bodoh itu penting. Tak usah perlu memerhatikan apa hasilnya nanti. Kalau memang kita sudah melakukan yang terbaik, hasil terbaik pasti akan tercapai. Tapi seperti diceritaku sebelumnya, yang terbaik belum tentu berarti menang.

Bagi yang percaya pada Yang Maha Kuasa, ya sudah, masa bodoh saja. Serahkan semuanya pada-Nya. Yang atheis dan agnostik? (Weleh apalagi ini?) Ya sudah, yakin saja sama apapun yang kau yakini. Yang penting masa bodoh.

Pertengahan Desember 2010
Setelah aku serahkan form aplikasiku pada aminef untuk program Global Ugrad, aku ya sudah masa bodoh. Lalu aku jalani kehidupanku sehari-harinya sebiasa-biasanya di asrama 33b dan kampus Paramadina.

Namun semuanya akhirnya menemukan titik terang ketika pada awal minggu Desember 2010, malam hari, aku dapati email dari aminef ber-subject: 2011 Global UGRAD Program Interview Schedule – JAKARTA. Saat itu aku sedang duduk-duduk di ruang tamu asrama malam-malam. Biasa, sejak menjadi mahasiswa, aku sering tidur malam-malam. Kerjaanya cuma ada dua: facebook-an, atau SKS. Yang kedua itu adalah singkatan dari kebiasaan terburuk mahasiswa di manapun: sistem kebut semalaman!

Setelah aku cek, aku akan dapatkan jadwal wawancara Kamis, 9 Desember 2010, pada 13.30. Aku kabarkan berita ini pada Eko, teman yang memberi tahuku soal program ini, sebelumnya. Dia sendiri ternyata juga dapatkan kesempatan wawancara untuk program lain, IELSP.

Aku segera telpon orang tuaku kalau aku masuk tahap wawancara. Ibuku begitu gembira mendengar ini. AKu tak lupa memohon doanya padanya untuk segala kelancaran di wawancara nanti. Aku juga kabarkan ini pada Bu Iin dan Bu Prima, dua orang yang memberiku rekomendasi. Tak lupa juga aku sampaikan ini pada Tatik sensei.

Untuk wawancara ini, aku tak mau main-main. Aku ingin sekali bisa lolos program ini. Untuk itu, aku lakukan segala cara agar Bahasa Inggrisku yang amburadul ini bisa sedikit lebih baik.

“Hadi, kau bisa bantu aku?” aku telpon Hadi soal apa yang sedang kuhadapi. Hadi adalah kawanku di Paramadina. Bagiku, dia adalah kawan yang bahasa Inggrisnya paling bagus.
“Aku bisa bantu apa nih?” Jawabnya. Ia sendiri sebenarya baru saja wawancara untuk program IELSP, seperti halnya Eko.
“Kalau ada waktu, bisa latihan wawancara ngga? Dalam Bahasa Inggris. Aku lolos wawancara program Ugrad.”
“Oke!”

Aku sambangi kos-kosannya satu waktu. Aku segera jelaskan padanya bagaimana keadaanku sekarang ini. Dengan bahasa Inggris yang pas-pasan, aku ingin adakan simulasi wawancara. Aku kira itu cara terbaik bagiku yang sangat miskin kemampuan bahasa asing.

Aku berlatih dengan Hadi tentang bagaimana menjawab pertanyaan wawancara dalam bahasa Inggris. Pertama kali mencoba, rasanya ingin ngomong banyak sekali, tetapi semuanya akhirnya tertahan di tenggorokan.

Aku terus mencoba berulang-ulang. Aku tahu sebenarnya ia capek meladeni anak bodoh ini. Tapi ya aku tak ada pilihan lagi. Aku harus sukses lalui tahap ini. Mau bahasa Inggrisku seprti apa, masa bodoh! Yang penting usaha yang terbaik, pasti Allah memberi jalan. Terima kasih banyak Hadi! Aku tak kan lupakan jasa besarmu!

Hari wawancara hadir, aku seperti orang kedinginan. Badan gemetar, keringat dingin keluar dari pori-pori telapak tangan.

Aku naik kopaja sialan ke Senen, ke kantor aminef (Sekarang sudah pindah ke Sudirman). Setelah sampai, ke toilet dulu. Kopaja membuat badan jadi gerah. Keringat yang keluar membuat badanku agak bau. Kopaja sendiri juga meninggalkan bau: Bau besi! Aku cuci muka dan sejenak istirahat.

Kantor aminef tak ramai rupanya. Hanya ada beberapa karyawan yang sedang mengutak-atik dokumen. Entahlah. Tapi sejenak kemudian aku disapa oleh Mbak Mita.

“Muhamad ya?” katanya. Dalam hati: Muhamad? Nama saya Rosyid, Mbak. Tapi ya sudahlah, memang nama pertamaku itu. Cuma di Indonesia, nama Muhamad jarang dipakai untuk panggilan.
“Iya, Mbak.”
“Oke, kamu tunggu dulu di sini, nanti akan dipanggil. Oke?”
“Sip!”

Aku menunggu hampir seperempat jam. Tak ada tanda-randa apapun. Kantor aminef waktu itu sepi sekali. Menunggu, ini sangat membuat diriku makin tak percaya diri. Tapi aku terus berdoa. Sebagai orang muslim, aku diajari oleh ibuku untuk terus membaca sholawat kepada Nabi Muhammad SAW. Aku lakukan itu dengan sungguh-sungguh. Ini adalah penghormatan bagi Nabi-ku sebagai orang yang ditunjuk Tuhan sebagai pemberi petunjuk.

Nah, sholawat ini, bagiku, tujuannya adalah mengingat kebesaran Nabi bagaimana ia lalui segala liku jalan kehidupannya yang, kalau kau mau baca biografinya, tak ada yang mulus. Kalau mau jujur, dari biografinya, maka kau akan temui banyak keadaan buruk yang menimpanya daripada kejadian baik. Tapi, karena beliau berhasil melalui segalanya, maka apapun keadaannya, nama beliau tetap dikenang sepanjang masa. Ya Naby salam ‘alaika…

Bagi yang punya kepercayaan pada figur-figur lain, seperti Buddha, Jesus, atau siapapun, aku ingin sampaikan kalau baca baik-baik sejarah kehidupan mereka. Pasti akan banyak pelajaran yang dipetik.

Mari jadikan itu semua jadi semangat untuk selalu berbuat yang terbaik bagi sesama manusia. Tak perlu menyalah-nyalahkan. Karena, sepertinya orang-orang besar itu, Muhammad, Buddha, Jesus, dll, tak pernah main tunjuk hidung, “Heh, kamu masuk neraka, kamu masuk surga!”

Ya kita-nya saja yang kadang suka sok-sokan tahu segala macam, terus tunjuk-tunjukan. Kalau untuk ini, aku mau bilang, “Emang surga-nerakanya mbahmu, hehe…”

Kembali ke aminef. Aku lakukan apapun yang dapat menurunkan kadar ke-grogi-anku. Kawan, ini akan jadi pengalaman pertamaku wawancara dalam bahasa Inggris, bahasa yang aku miskin sekali penguasaannya. Doakan aku ya! (Halah, lebay!)

Seorang anak muda keluar dari sebuah pintu. Rupanya dia juga mengikuti wawancara sama denganku.

“Hai, dari mana?” aku sapa dia.
“Dari UI. Ah, aku tadi banyak diam. Pertanyaannya sulit-sulit!” katanya.

Apa? Oke-oke! Fokus-fokus! Bismillah, alhamdulillah, la haula wa la quwata illa billah!

“Muhamad,” panggilan seseorang mendadak ke arahku.
“Ya, saya,” jawabku.
“Mari masuk,” jawabnya sambil menyilahkan aku masuk ke ruangan interview.

Oh, kawan, pada waktu wawancara, aku memakai baju batik yang kubeli di Blok-M. Aku memakainya karena aku hanya ingin rapih dan menunjukkan keindonesiaanku. Selain itu, aku tak memakai celana bahan. Aku mengenakan jeans, juga dari Blok-M, agar meskipun kesannya resmi, karena pakai batik, tapi juga tetap jiwa mudanya tetap terlihat. Halah! Mbelgedhes! Tapi, ya bagaimanapun juga, itu kenyataan yang aku jalani.

Awalnya aku kira hanya akan satu atau dua orang yang mewawancaraiku. Tapi ketika aku saksikan sendiri, ada lima orang yang akan “menghakimi”-ku di sini. God!

Ada dua orang Indo dan tiga orang Amerika. Yang dua adalah alumni dari program Fulbright, satunya adalah direktur aminef, satu dari kedutaan US, dan satu lagi Fulbright student di Indonesia.

Pak McCoy, direktur aminef, mulai menanyaiku. Ia tanyakan tentang data diri pada umumnya: nama, kampus, usia, dan semester. Aku benar-benar bin sungguh-sungguh mendengarkan apa yang ia katakan. Jujur, waktu itu aku tak mengerti apa yang ia katakan, tapi aku menggunakan insting untuk mengetahui apa maksud pertanyaannya. Akhirnya dapat juga aku menjawabnya.

“Kalau kamu terpilih, kau ingin program yang setahun atau satu semester?” kira-kira begitu katanya.
“Dua semester, Pak. Kalau satu semester, saya kiranya akan menganggur sepulang dari US. Sebab di Paramadina sistemnya tak memungkinkan saya mengambil mata kuliah di semester gasal di semester ganjil,” kataku dengan bahasa yang, ya, cukup lah.
“Kalau nanti terpilih untuk satu semester, nanti kau tidak ambil?” tanyanya. Waduh!
“Ya diambil-lah Pak. Kapan lagi saya akan belajar ke US,” jawabku sambil tertawa. Untungnya pak McCoy ikut tertawa. Kalau tidak, bisa memalukan, aku tak bisa membayangkan.

“Muhamad, apa yang ingin kau raih sekitar 15 tahun ke depan?” tanya seorang pewawancara. Ia adalah mahasiswa Fulbright.

“Saya ingin jadi petani. Entahlah, saya sejauh ini cuma berpikiran itu. Saya lihat banyak sawah di kampung halaman saya. Sekarusnya menjadi petani itu membanggakan. Tapi kenyataannya, mereka jadi kelas paling rendah di dalam struktur sosial. Orang makan nasi dan apapun yang semuanya hasil pertanian. Tanpa petani, orang bisa mati. Tapi saya lihat niat anak muda untuk kembali menengok lahan pertanian—katakanlah milik bapaknya—sudah berkurang atau mungkin tak ada sama sekali. Padahal sejak dulu di SD, saya selalu diajari kalau indonesia adalah negara agraris. Mana agrarisnya?

Lalu saya mau jadi petani macam apa? Saya tak tahu. Saya lihat di US pertaniannya maju dan banyak menghasilkan produk unggulan. Kalau kesempatan ke US ini, katakanlah, saya dapatkan, saya akan sangat senang sekali. Setidaknya, saya akan melihat bagaimana kehidupan orang di sana yang katanya disebut-sebut negeri superpower. Saya ingin tahu bagaimana mereka mengelola kehidupannya, syukur-syukur bisa lihat pertaniaannya,” jawabku.

“Apa kegiatanmu selain kuliah?” tanya seorang dari Kedutaan US.

“Saya aktif di organisasi bernama IPNU atau Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama’. Yang saya lakukan di sana adalah melakukan kegiatan apapun yang dapat membudayaan pandangan keagamaan yang moderat. Di NU, organisasi induk IPNU, saya belajar untuk selalu yakin pada keyakinan saya sebagai Muslim. Tapi di sisi lain, saya belajar untuk terus menghargai pilihan orang lain.

“Sebab pada dasarnya, yang kita perlukan di dunia ini bukan klaim-klaim kebenaran. Siapa yang paling benar, sederhananya. Tapi bagaimana pewujudan keyakianan beragama, itu yang paling penting. Contohnya aktif membantu orang lain, menjaga keamanan, dan masih banyak lagi,” jawabku.

Kawan, aku akan katakan bahwa aku yakin-seyakin-yakinnya pada keislamanku. Bagaimana dengan orang beragama selain Islam? Masa bodoh! Asal dunia ini aman, lalu semua orang damai, saling membantu, menghargai setiap hasil usaha orang lain, saling berbagi, terus mau apa lagi? Buat apa juga kalau seluruh dunia Islam, atau Kristen, atau Hindu, atau Buddha, atau apapunlah, kalau semuanya hanya kekacauan, musuh-memusuhi.

“Kau suka baca ya?” tanya seorang Indo alumni Fulbright.
“Ya, Pak, tapi tak terlalu juga,” jawabku.
“Saya baca aplikasimu. Kau mengutip Pramudya Ananta Toer. Apa yang kau dapat dari tulisan dia?” tanyanya.

“Banyak, Pak. Tapi dari semua tulisannya, saya hanya ingin merangkum semua pesanya dalam satu kalimat: Kalau orang tak tahu sejarah bangsanya, ia tak akan pernah tahu arah masa depan bangsanya, pun dirinya sendiri! Oleh karena itu, saya suka sejarah. Banyak pelajaran yang di dapat darinya, minimal untuk tak mengulangi kesalahan-kesalahan masa lau di masa sekarang.”

Wawancara berjalan setengah jam tepat. Aku dapati para pewawancara memberikan senyumnya di akhir wawancara ini. Aku merasa lega. Meskipun aku tak tahu apa yang akan terjadi nanti, rasanya lega saja. Aku salami mereka satu per-satu. Aku pamit dan segera ke mushola. Waktu Dhuhur sudah masuk.

di samping Deni, pose sok yes saat shalat Id
Akhir Agustus, Awal September 2011
Aku megambil empat kelas di sini, di NDSU. Aku ambil makroekonomi, mikroekonomi, Dakota tribal history dan English composition. Semuanya berjumlah 12 kredit, atau di Indo sering disebut SKS.

Di awal-awal masuk kelas, aku kadang siapkan MP3 untuk merekam suara dosen. Aku, jujur, masih belum bisa menangkap maksudnya apa yang mereka katakan. Tapi dengan MP3, ini cukup membantu.
Yang paling parah adalah di kelas English composition. Kelas ini berkode ENGL 110. Aku mendaftar kelas itu ketika aku di Indonesia. Aku ingin masuk kelas ini karena ini bahasa inggrisku dapat membaik.

Tapi kenyataan berkata lain. Ternyata ini adalah kelas untuk bagaimana menulis makalah, tentunya dalam bahasa Inggris. Dosennya menerangkan segalanya dengan supercepat. Bahasa Inggris dia benar-benar sulit di-deteksi. Sebenarnya masalahnya bukan bagaimana ia berbicara, tapi karena diriku sendiri yang masih dungu bahasa Inggris.

Aku juga mulai berkenalan dengan teman yang duduk di sampingku. Aku sadari kalau aku adalah satu-satunya orang “internasional” di sini. Semuanya American!

Beberapa waktu kemudian, aku baru menyadari kalau sebenarnya aku masuk kelas yang salah. Kelas ini adalah untuk mereka yang memang menggunakan bahasa Inggris sehari-hari. Atau mudahnya native speaker.

Ya sudahlah. Aku baru menyadarinya minggu kedua. Aku sebenarnya bisa me-drop kelas itu. Tapi aku memutuskan untu masa bodoh saja. Jalani saja. Nanti juga terbiasa. Lagipula, beberapa pertemuan sebelumnya akan sia-sia saja kalau aku drop kelas ini.

Kawan, setelah bulan puasa selesai, tepat pada akhir Agustus Idul Fitri pun datang. Di sini aku merayakan dengan shalat Id di convention hall sebuah hotel. Idul Fitri kali ini: tak ada ngelencer atau kunjung mengunjungi tetangga atau saudara, tak ada ketupat, bahkan sehabis shalat Id, sorenya aku kuliah. Ya sudahlah.

11 Desember 2011
Jazz Muhammad (Global Ugrad Indonesia)
Niskanen 78, Fargo, ND, USA


Wednesday, December 7, 2011

Amerika Itu Kering

first winter! brrr!
FARGO-JAZZ MUHAMMAD - Namanya juga anak kampung, kalau bisa pergi ke luar daerah, bawaannya cuma kaget dan kaget. Soalnya bertahun-tahun hidup di kota kecil yang sifat kedaerahaannya masih kental, dan seharusnya demikian, tapi tiap hari tontonanya TV yang isinya apa yang ada di tempat jauh di sana.

Kalau di Indonesia, tayangan TV itu hampir seratus persen tentang Jakarta: kehidupannya, gaya pakaiannya, politiknya, ekonominya, macetnya, krisisnya, pokoknya semua maslahnya tumplek blek di layar kaca TV. Asem Jakarta!

Daerah yang lain yang aman pun bisa ketularan. Yang hidup di desa, seperti aku ini, jadi ikut-ikutan gayanya anak Jakarta. Yang jadi politisi, ikut-ikutan gaya korupsinya orang-orang di Jakarta. Yang gak ada kerjaan, ya jadinya berangkat ke Jakarta.

Solusinya? Jangan terlalu terpancing dengan media. Dari seratus persen kepercayaan kita, sisakan, kira-kira, empat puluh persen buat tidak percaya. Jadi sama tulisanku ini, jangan selalu percaya. Soalnya kenapa?

Saya sebenarnya mau share tentang humidity atau kelembaban di Amerika, tapi karena bingung mau membukanya bagaimana, ya sudah ngomong ngalor ngidul dulu. Refleksi dulu.

Baiklah, di banyak Negara yang berada di belahan bumi utara, kita sepertinya sudah tahu kalau mereka punya empat musim. Dan yang paling mengesankan adalah winter, ketika salju turun. Kelihatannya wah! Salju! Wuuu!

Tapi meskipun musim-musimnya kelihatan menarik, negara-negara itu ternyata menyimpan “penderitaan” bagi orang-orang dari daerah tropis yang datang ke sini. Kalau di Indo, mau cewek mau cowok tak butuh pakai lip balm atau lip gloss untuk bibirnya. Ya meskipun banyak wanita yang memakainya, sebenarya tetap saja kurang perlu, maksudnya secara teknis tak ada manfaatnya. Tapi di sini, di US, mau cewek mau cowok harus pakai lip balm.

here it is: lip balm!
(www.drugstore.com)
Penyebabnya adalah humidity atau kelembaban di sini jauh berbeda dengan yang ada di negara tropis seperti Indonesia. Di US itu sangat kering. Kelembabannya bisa cuma seperempat dari di indonesia. Nah, lip balm itu digunakan untuk melindungi bibir agak tak pecah-pecah. Aku dulu karena tak tahu, bibirku seperti habis disileti. Perih sekali.

Jadi di sini, meskipun di tengah keramaian, kalau ada cowok pakai lip balm, ya biasa saja. Kalau di Indo, ada cowok pakai lip balm, langsung ada anak kecil mendekat terus bilang, “Mas banci ya?” (Heh, anak kuntilanak, ngomong apa kamu?!)

Selain itu, mamakai lotion juga sangat-sangat penting. Kalau lip balm itu untuk bibir, maka lotion itu untuk badan. Untuk menjaga kelembaban badan, maka lotion berperan untuk moisturizing agar badan tidak kering. Kalau tidak pakai? Ya ngga apa-apa sih, tapi nanti lihat saja, kulitmu bisa kayak badak!

Ngomong-ngomong, di jari-jari tanganku sudah banyak bekas-bekas luka. Ohya, memakai lotion di jari-jari sangat penting di sini. Karena kita sering menggunakan tangan untuk kegiatan apapun, lotion di jari-jari seringkali luntur. Maka dari itu, kebanyakan orang di sini punya sewadah kecil lotion yang dibawa kemana-mana.

Selain itu, kalau di sini ada potato chips terus ditaruh ditempat terbuka, akan tahan sampai seharian atau dua harian. Tidak melempem. Begitu juga nasi, kalau ditaruh diluar, maka taka kan basi, tapi kalau kelamaan ya kering juga.

Nah, sekarang aku bingung mau menutup pakai apa. Ya sudah, kalau kita ketemu sama politisi yang korupsi, kita tawari saja lip balm (Jujur saja, ini bagian yang paling tak nyambung. Mau di-skip boleh, mau dilanjutkan boleh). Nah, nanti kalau dia nolak, “Ah apaan ini kamu? Sudah-sudah, saya mau ngantor!” Ngantor apa mau molor, Pak? Tapi kita jangan menyerah,

“Pak, ini baik untuk kesehatan, biar tak kering bibir Bapak.”
“Bibir saya kan ngga pernah kering, licin malahan. Makanya saya bisa bersilat lidah,” kata dia.
“Oh gitu ya, Pak (Dalam hati: Oh, samber gledek lu Pak!). Tapi Bapak kayaknya masih perlu deh.”
“Buat apa sih?!”
“Bapak ‘kan kayak banci! Hahahaha!” Puas!

Ya sudah demikian. Atas perhatian dan keluangan waktu anda duduk dan membaca tulisan ini, saya sampaikan terima kasih. Wassalam, hehehe…




The F-Word: My Poor English

Do you think it's a friendship? Haha I'll bite you!
Before I came to NDSU, I had no clue about this campus. What I was thinking about education in the US was all about Harvard University, Georgetown University, or UC Berkeley. Even Fargo, the city where North Dakota State University or NDSU is located, I had no idea at all. When I got the placement to get to NDSU, I thought: What am I supposed to do there?

But as the time goes on, I figured that I can do many things here: study, watching movies, shopping, hanging out with friends and many more. However, I can’t enjoy those things as well because one thing: My poor English!

Before I got here, I thought that my English would be enough to help me understand what’s going on in my classes, what my friends are speaking about, or the conversation in movies I am watching. But in fact, it is nothing! That is now going on as my biggest challenge here, at NDSU, Fargo.

I felt that I started from zero. I have to study English much more intensively. The first week I came here, I did not understand at all what my teachers talked about, and I was afraid of hanging out with some friends because I could not speak English well.

Now I figured what is going on: the English that I learnt in Indonesia is so different from what I have now. I learnt English formally and mostly in written format. Even I practiced in very seldom. This obviously brought me end up with “My poor English.”

Now, I am still learning and learning. Thanks to my openness, I found many new friends here. They are from different background. Some of them are crazy, some of them are nice, some of them are, yeah, in between. From them, I’ve been learning English a lot, from many kinds of expression to many kinds of swearing words (what?!); yet it’s not that good enough now. Besides, I figured that in fact there are some different ascents among English speakers: British, American, Black, and Asian.

So far, I really like it here. I believe that my English is getting better and better. “I hope my English can be like yours,” I said to my friend. “Don’t worry, you’ll be pro in next several months,” replied her.
“Are you sure? How come!” I said.
“Believe me, you will get there.”
Yeah, i don't know! But I really hope so!