Saturday, December 17, 2011

Secuplik tentang Kampus dan Rumah

North Arch
FARGO-JAZZ MUHAMMAD - Di Indonesia, rasanya hampir tiap rumah punya pagar. Tak semua juga, tapi ya kebanyakan punya. Kalau di Jakarta, pagar rumah orang dibuat sekuat-kuatnya, setinggi-tingginya, serapat-rapatnya, kalau perlu dibuat pertahanan khusus untuk melawan musuh.

Yang unya uang, langsung bangun pos satpam, terus dipasanglah anjing penjaga. Satu lagi, tak lupa cctv dipasang tiap sudut agar tak aka nada siapapun yang luput dari penglihatan. Yang kayak begini di Blitar juga ada lho. Oh, tambah satu lagi, jangan lupa pasang kawat berduri.

Hal ini bisa dimaklumi karena dua alasan. Pertama, kejomplangan ekonomi yang ujungnya kriminalitas. Kalau dilihat, mungkin jarak seratus meter dari rumah “gedongan” itu masih banyak orang yang masih kekurangan. Kedua, memang dasarnya orang suka menunjukkan apa yang mereka punya alias kekayaan. Bangun rumah segedhe-gedhenya, sementara yang lain cari kontrakan saja susah.

Ya sah-sah saja sih, tapi ya moso’ begitulah hidup yang harmonis itu? (Sumpah, ini pertanyaan sok yes banget, hehe)

Sebelum akhirnya aku mendarat di Fargo, semua itu rasanya ya biasa saja. Tapi pemandangan yang kulihat di sini sungguh membuatku harus kembali memutar pikiran. Apa memang seharusnya demikian?

Monday, December 12, 2011

Mozaik dari Fargo (3): Masa Bodoh!

di NDSU, lompat ngga jelas!
Masa bodoh. Bagaimana pendapatmu dengan frase ini? konotasinya, setahuku, selama ini adalah buruk. Ini berarti sebuah pengingkaran terhadap kondisi sekitar, tak mau tahu, dan ujungnya: Masa bodoh!

Tapi bagiku, ada masa bodoh yang penting. Masa bodoh ini berarti tak usah peduli dengan apa yang terjadi di masa depan. Maksudku bukan sekarang ini kita bisa bermalas-malasan. Kita harus berusaha meraih segala yang kita bisa raih. Semboyannya “Kalau dia bisa, kenapa aku tidak?” Nah, setelah semboyan itu kita tanam dalam-dalam di kepada, maka kita harus berusaha sekuat-kuatnya.

Nah, setelah itu? Berdoa? Yes, lalu? Masa bodoh! Di sinilah masa bodoh itu penting. Tak usah perlu memerhatikan apa hasilnya nanti. Kalau memang kita sudah melakukan yang terbaik, hasil terbaik pasti akan tercapai. Tapi seperti diceritaku sebelumnya, yang terbaik belum tentu berarti menang.

Bagi yang percaya pada Yang Maha Kuasa, ya sudah, masa bodoh saja. Serahkan semuanya pada-Nya. Yang atheis dan agnostik? (Weleh apalagi ini?) Ya sudah, yakin saja sama apapun yang kau yakini. Yang penting masa bodoh.

Pertengahan Desember 2010
Setelah aku serahkan form aplikasiku pada aminef untuk program Global Ugrad, aku ya sudah masa bodoh. Lalu aku jalani kehidupanku sehari-harinya sebiasa-biasanya di asrama 33b dan kampus Paramadina.

Namun semuanya akhirnya menemukan titik terang ketika pada awal minggu Desember 2010, malam hari, aku dapati email dari aminef ber-subject: 2011 Global UGRAD Program Interview Schedule – JAKARTA. Saat itu aku sedang duduk-duduk di ruang tamu asrama malam-malam. Biasa, sejak menjadi mahasiswa, aku sering tidur malam-malam. Kerjaanya cuma ada dua: facebook-an, atau SKS. Yang kedua itu adalah singkatan dari kebiasaan terburuk mahasiswa di manapun: sistem kebut semalaman!

Wednesday, December 7, 2011

Amerika Itu Kering

first winter! brrr!
FARGO-JAZZ MUHAMMAD - Namanya juga anak kampung, kalau bisa pergi ke luar daerah, bawaannya cuma kaget dan kaget. Soalnya bertahun-tahun hidup di kota kecil yang sifat kedaerahaannya masih kental, dan seharusnya demikian, tapi tiap hari tontonanya TV yang isinya apa yang ada di tempat jauh di sana.

Kalau di Indonesia, tayangan TV itu hampir seratus persen tentang Jakarta: kehidupannya, gaya pakaiannya, politiknya, ekonominya, macetnya, krisisnya, pokoknya semua maslahnya tumplek blek di layar kaca TV. Asem Jakarta!

Daerah yang lain yang aman pun bisa ketularan. Yang hidup di desa, seperti aku ini, jadi ikut-ikutan gayanya anak Jakarta. Yang jadi politisi, ikut-ikutan gaya korupsinya orang-orang di Jakarta. Yang gak ada kerjaan, ya jadinya berangkat ke Jakarta.

Solusinya? Jangan terlalu terpancing dengan media. Dari seratus persen kepercayaan kita, sisakan, kira-kira, empat puluh persen buat tidak percaya. Jadi sama tulisanku ini, jangan selalu percaya. Soalnya kenapa?

Saya sebenarnya mau share tentang humidity atau kelembaban di Amerika, tapi karena bingung mau membukanya bagaimana, ya sudah ngomong ngalor ngidul dulu. Refleksi dulu.

Baiklah, di banyak Negara yang berada di belahan bumi utara, kita sepertinya sudah tahu kalau mereka punya empat musim. Dan yang paling mengesankan adalah winter, ketika salju turun. Kelihatannya wah! Salju! Wuuu!

Tapi meskipun musim-musimnya kelihatan menarik, negara-negara itu ternyata menyimpan “penderitaan” bagi orang-orang dari daerah tropis yang datang ke sini. Kalau di Indo, mau cewek mau cowok tak butuh pakai lip balm atau lip gloss untuk bibirnya. Ya meskipun banyak wanita yang memakainya, sebenarya tetap saja kurang perlu, maksudnya secara teknis tak ada manfaatnya. Tapi di sini, di US, mau cewek mau cowok harus pakai lip balm.

The F-Word: My Poor English

Do you think it's a friendship? Haha I'll bite you!
Before I came to NDSU, I had no clue about this campus. What I was thinking about education in the US was all about Harvard University, Georgetown University, or UC Berkeley. Even Fargo, the city where North Dakota State University or NDSU is located, I had no idea at all. When I got the placement to get to NDSU, I thought: What am I supposed to do there?

But as the time goes on, I figured that I can do many things here: study, watching movies, shopping, hanging out with friends and many more. However, I can’t enjoy those things as well because one thing: My poor English!

Before I got here, I thought that my English would be enough to help me understand what’s going on in my classes, what my friends are speaking about, or the conversation in movies I am watching. But in fact, it is nothing! That is now going on as my biggest challenge here, at NDSU, Fargo.

I felt that I started from zero. I have to study English much more intensively. The first week I came here, I did not understand at all what my teachers talked about, and I was afraid of hanging out with some friends because I could not speak English well.

Thursday, November 24, 2011

Semua Ilegal kecuali Bayar

Ini dia 72 bucks hoody
(Habis beli, broke!) 
FARGO-JAZZ MUHAMMAD - Tanggal 6 Mei 2011, aku dapati satu email masuk. Tertulis: Gobal UGrad: Unofficial Notice of Your Placement. Setelah sebelumnya aku dinyatakan lolos untuk seleksi program ini, Global Ugrad, aku dapatkan penempatan. Aku akan sekolah di kampus yang namanya tak pernah kudengar waktu itu: North Dakota State University. Dalam hati: kampus apaan itu?

Setelah aku sampai di sini, aku baru tahu, kampus macam apa ini. Aku, sebelumnya, mendarat di Hector International Airport, dekat kampus, pada 17 Agustus 2011.

North Dakota State University adalah kampus yang tempatnya di Fargo, North Dakota. Kampus ini adalah kampus negeri di state ini. Nama populer dari kampus ini adalah NDSU. Kampus ini juga terkenal dengan sebutan “Bison”. Tapi aku akan ceritakan dengan Bison dan NDSU nanti.

Kembali ke NDSU. Kedengarannya hanya rangkaian empat huruf kapital biasa, tapi karena ini menjadi singkatan dari nama kampus, maka ini jadi “super duper luar biasa!”

NDSU sudah jadi trademark. Nama itu terdaftar sebagai nama paten dan terdaftar sebagai nama dagang. Artinya? Artinya tak siapapun bisa memakainya kecuali membayar pada NDSU untuk ini.

Implikasinya adalah apapun yang memakai nama NDSU, beserta lambing Bison-nya, tercatat sebagai barang ilegal kecuali membayar NDSU untuk ini.

Saturday, November 19, 2011

Mozaik dari Fargo (2): Belum Tentu Kemenangan!

masih summer,
pakai "shorts" ke kampus
Berada di “teritori” orang lain tentu akan menyenangkan. Tetapi proses adaptasinya tentu akan memakan waktu.

Memiliki perkiraaan tentang tempat baru tentu wajar-wajar saja. Aku akan lakukan ini, lakukan itu, pergi ke sana, pergi ke sini. Tapi pesan dari seorang penulis mengatakan: Hal yang paling perlu dipercayai adalah kenyataan itu sendiri. Karena tak ada yang nyata selain kenyataan itu sendiri.

Tapi bukan berarti memiliki harapan adalah kesalahan. Karena, dengan harapan sesorang dapat memetakan kemana ia akan pergi, atau setidaknya apa yang akan ia lakukan sejam ke depan.

Kalau bicara soal kompetisi, semuanya pasti ingin menang. Tapi menang semua adalah humor paling gila sedunia. Kalau ada lomba yang menjanjikan kemenangan buat semuanya, juara satu semua, maka lebih baik lupakan saja.

Yang dicari sebenanrya adalah kebaikan. Dan, kebaikan bukan selalu kemenangan. Sebab, mungkin kekalahan jauh lebih memberi pelajaran daripada yang lain. Tapi, tetap, kemenangan akan membawa kebahagiaan. Maka dari itu, menang dan kalah, ya sudah, suck it up saja, jalani saja.

Akhir Oktober, awal November 2010
Minggu terakhir Oktober 2010, tahun lalu, aku telan bulat-bulat segala kegamangan. Kubeli tiket pulang ke Blitar. Lima-lima ribu perak. Pulang pergi jadinya 110 ribu rupiah. Kau tahu kenapa orang kadang bilang rupiah dengan perak? Aku juga tak tahu dan tak akan bicara itu.

Aku harus segera dapatkan surat rekomendasi dari Tatik Sensei (Bu Tatik). Kenapa beliau? Baiklah, karena beliau adalah, bagiku, guru paling visioner yang pernah aku punya. Beliau tak pernah mengajarku, sebenarnya. Tapi aku akhirnya bertemu dengannya ketika aku harus berlatih shodo, kaligrafi Jepang, untuk perlombaan semasa SMA.

Beliau selalu mengajak murid-uridnya untuk selalu melangkah maju meskipun kami tumbuh di “daerah pinggiran”. Jangan pernah berhenti belajar dan jadilah orang baik, begitu pesannya.

“Sensei, saya perlu surat rekomendasi dari sensei. Apa Sensei ada waktu untuk bertemu?” kutelpon beliau dari Jakarta.

Alhamdulillah, beliua menyambut dengan baik permintaanku. Aku ceritakan hal perihal program pertukaran yang akan aku ikuti. Reaksi beliau cukup melegakan bagiku. Yang tinggal kulakukan sekarang adalah pulang.

Di waktu lain, aku dapatkan dua surat rekomendasi lainnya dari bu Prima Naomi, pembimbing akademikku dan bu Iin Mayasari, saat itu kepala jurusan manajemen;. Keduanya “ngantor” di Paramadina.

“Bu, saya ingin ikut program ini. Apa Ibu dapat memberi saya rekomendasi?” kataku waktu itu.

“Baik… baik Rosyid. Saya doakan kamu bisa dapatkan apa yang kamu cita-citakan!” sahut Bu Iin.

“Terima kasih bu!”

Tapi, ngomong-ngomong, jangan langsung percaya dengan percakapan yang aku tulis. Nampaknya memang serius, tapi nyatanya aku ini orangnya gampang tertawa, jadi waktu juga sedikit ketawa-ketiwi. Ya sedikit tidak sopan, tapi yang penting tidak keterlaluan.

Kembali ke permasalahan. Sebelum pulang, aku upayakan untuk dapatkan rekomendasi dari kedua dosenku. Dan, akhirnya kudapatkan juga dengan mudah. Aku sangat berteima kasih pada mereka berdua. Oya, sebenarnya aku bisa dapatkan rekom dari Pak Wija, deputi rector; atau juga Pak Anies, Pak Rektor.

Tapi aku berpikiran lain. Rekom, begitu aku sebut surat rekomendasi, ini harus benar-benar merepresentasikan diriku, maka aku kira akan lebih baik kalau rekom itu dari orang yang memang aku dan dia saling mengenal dengan baik. Akan ada penilaian yang detail dan objektif. Aku mengenal dengan baik Pak Wija dan Pak Anies, tapi aku jarang ada kontak dengan mereka.

Yang kumaksud detail di sini adalah seperti yang ditulis Bu Iin: Rosyid suka beli buku teks untuk kuliah. Ini pun aku tak bayangkan akan ditulis oleh beliau.

Aku pun pulang ke Blitar. Aku hanya punya waktu 3 hari di Blitar. Aku tak sia-siakan waktu yang kupunya. Aku langsung ke rumah sensei untuk dapatkan rekom. Beliau tulis dalam Indonesia, aku terjemahkan ke Inggris.

Di rumah aku selalu meminta doa pada orang tua agar aku sukses melewati setiap seleksi, pendeknya aku ingin lolos. Tapi jawaban ibuku cuma satu: Semoga kau dapatkan yang terbaik! Bagaimanapun, ibuku adalah manusia paling T.O.P.B.G.T! Bukan berarti aku kecewa, aku selalu bangga dengan ibuku sebab nyatanya memang yang terbaik belum tentu selalu kemenangan!

Aku kembali ke Jakarta. Dang! 17 jam di kereta ekonomi. Tapi apapun, aku jalani dengan ikhlas. Ikhlas… ikhlas… ikhlas… memang susah, tapi yang penting sudah niat.

Hari Senin, 1 november 2011, dedlen Global Ugrad. Aku sempatkan main-main ke DKPM. Aku bertemu Fajar Anandi, kawanku asal Padang. Aku sampaikan padanya,

“Jar, aku mau ke Senen, mau ngumpulin form aplikasi.” Waktu itu kantor aminef masih di dekat Pasar Senen, Jakarta. Sekarang sudah di Jl. Sudirman.

“Eh, aku boleh lihat aplikasimu?” tanyanya.

“Oke. Kenapa tidak.”

Aku berikan aplikasiku padanya. Ia mulai lihat-lihat satu persatu. Dan akhirnya dia katakan sesuatu.

“Syid, kau ada yang kurang?”

“Hah!!! Apa, Jar?”

“Lihat ini. Bagian terakhir,” katanya sambil tunjukkan bagian yang seharusnya aku tanda tangani dan ternyat masih kosong. Oh, Ya Allah!

“Wah, makasih banyak Jar, makasih!” aku benar-benar merasa tertolong. Rasanya memang hal kecil, tapi kalau terlewat, rasanya semua yang kutulis di lembar-lembar sebelumnya jadi muspro karena seperti tak punya otoritas. Siapa yang nulis? Mbahmu? Tukang Bakso?

Akhirnya kutanda tangani juga.

Aku menuju ke Senen dengan bus paling sialan di Jakarta: kopaja atau metro mini! Tapi tak sialan-sialan juga, soalnya angkutan itu adalah yang paling murah di dunia, mungkin. Sekali jalan, sejauh-jauhnya cuma dua ribu perak. Paradoks? Entahlah.

Aku sampai ke Senen dan langsung menyambangi ruangan yang mengurusi Global Ugrad. Aku katakan pada mereka kalau aku akan kumpulkan form aplikasiku. Aku berharap akan ada sambutan seperti ini: Ohya, mana aplikasimu? Baiklah saya terima dengan baik. Ya, tapi itu hanya harapan, dan nyatanya adalah seperti ini:

“Oh, begitu. Di luar ada kardus, nah ada tulisannya Global Ugrad. Taruh saja di situ,” hanya itu. Oke.

“Aku keluar dan dapati kardusnya. Memang ada tulisan Global Ugrad, tapi demi Allah ini rasanya tak sepadan dengan program yang katanya akan memberangkatkan mahasiswa ke negeri jauh sana. Kutaruh form aplikasiku. Sedikit melemparnya, karena kardus hanya tergeletak di lantai.
“Ini bener ngga sih?” batinku. Ya sudahlah. Bismillah!

Pertengahan Agustus 2011
Minggu-minguu pertama orientasi di NDSU, masih Ramadhan, masih juga seperti orang hilang. Aku coba bicara dengan beberapa yang sudah aku kenal. Tapi tetap, semua yang ada di kepala tersangkut ditenggorokan dan yang pasti rasanya sakit. Bahasa jawanya: gregeten! Goblok eram tho cah iki! Maksudnya ya saya sendiri.

pose "sok yes"

Sederhananya, aku bayangkan aku segera punya banyak teman. Cerita ini-itu. Cerita tentang banyak hal dari indonesia. Tapi kenyataan Aku tak terlalu punya banyak teman di orientasi. Ini menambah rasa sakit dalam hati. Aku ingin berkomunikasi dengan yang lain tapi apa daya mulut terkunci kebodohan bahasa.

Soal Ramadhan, ini yang sekiranya perlu aku sampaikan. Ketika aku masih di minggu-minggu pertama, Fargo masih summer. Shubuh ada di jam 5 pagi sementara maghrib jam setengah Sembilan malam. Aku belum temukan sama sekali sesama Muslim di sini. Setidaknya ada teman untuk berbuka. Jadinya yang lain makan, nyam… nyam… nyam… dan aku: mengelus dada. Oh, Gusti! Dosa nopo kulo niki?

Aku sekali ikut belanja dengan yang lain menggunakan sebuah bis. Ini pertama kalinya aku lihat Walmart, sebuah toko yang gedhenya minta ampun! Aku selesai belanja jam 7. Tapi ketika aku lihat sekitar, ini seperti masih jam 3 sore. Ini benar-benar terang benderang. Di Blitar, sekitar jam itu aku sudah siap-siap berangkat ke masjid untuk menunaikan shalat tarawih.

Di minggu-minggu pertama ini, NDSU masih sepi. Kelas belum dimulai. Yang berkeliaran hanyalah mahasiswa internasional yang bahasa Inggrisnya macam-macam aksesnya. Yang paling menyenangkan tentu mendengar bahasa Inggrisnya orang India. I wanth tho thalk about how tho geth tho Union…

Tapi ini tetaplah Amerika. Tak ada yang bicara bahasa Indonesia. Aku, waktu itu, tak tahu apa nasibku. Tapi beberapa teman yang aku kenal, meski aku tak terlalu banyak bicara dengannya karena kendala teknis, hanya bilang: you will get used to it.

19 November 2011
Jazz Muhammad (Global Ugrad Indonesia)
78 Niskanen Hall, NDSU
Fargo, ND, USA



Tuesday, November 8, 2011

Slang

hangin' out dengan kawan-kawan
FARGO-JAZZ MUHAMMAD - Minggu-minggu pertama aku datang ke Fargo, rasanya seperti orang hilang. Bahasa Inggris-ku yang super pas-pasan adalah penolong, itupun sebenarnya tak banyak membantu. Senjata terakhir: bahasa tubuh!

Semuanya serasa di luar dugaan. Orang bicara seperti tanpa koma tanpa titik. Super cepat. Wes-wes-wes. Aku berangkat ke sini dengan percaya diri. Aku membayangkan akan dapat segera bertemu kawan-kawan baru dan kemudian jalan-jalan bersama, juga sharing tentang negara masing-masing. Tapi kepercayaan diri dan imajinasi rontok sudah dihantam realitas.

Kalau ada yang bertanya padaku, aku harus bertanya dua kali atau lebih untuk dapat mengetahui apa maksudnya. Kalau beruntung, aku langsung mengerti. Tapi keberuntungan itu rupanya datang jarang sekali. Ini tentu jadi pelajaran bagiku.

Baiklah, dasar masalahnya adalah begini. Bahasa itu adalah sebuah ketrampilan. Ia punya tiga bagian: listening, writing, dan speaking. Kau tahu, ketiga-tiganya butuh latihan masing-masing. Kita tak bisa merasa sudah “joss” dalam memahami bahasa kalau tidak bisa menguasai ketiganya.

Lalu, dalam listening, ada dua bagian lagi: formal dan informal. Bahasa formal adalah bahasa yang selama ini aku pelajari di sekolah. Jujur saja, aku sudah belajar bahasa Inggris sejak aku kelas 3 SD. Jadi, aku berlatih bahasa Inggris secara formal, keseluruhannya.

Kemudian aku datang ke Fargo. Yang kuhadapi adalah percakapan sehari-hari orang sini yang penuh dengan slang alias informal. Inilah yang tak kupelajari di sekolah, sama sekali. Rasanya pas di sini seperti belajar dari nol lagi.

Orang sering bilang what’s up? Dan aku tak tahu harus menjawab apa. Kau tahu, jawabannya ada dua: not much kalau biasa-biasa saja, dan nothing kalau memang tak ada apa-apa.

Ada lagi, kawan-kawanku sering bilang, how are you doing? atau sekedar how is it going? Kedua-duanya kalau formalnya berarti how are you?

Karena bahasa adalah ketrampilan, maka kuncinya hanya satu: LATIHAN! Tak lain dan tak bukan. Maka dari itu, aku sering upayakan untuk membuka percakapan dan bercanda dengan kawan-kawan di sini, walaupun aku tahu nanti akan berhenti “di tengah jalan” karena kehabisan kosa kata.

Anyway, saya, sampai saat ini masih gaguk. Tapi bagaimanapun juga ini sudah lebih baik dari pertama kali aku datang ke sini. Alhamdulillah!

But, as time goes on, everything is going better and better. If you wanna improve your English, just practice it. It definitely works.

How is it goin’ man?


Sunday, October 30, 2011

Sepotong Cerita Fargo

Orang aneh di depan Fargodome
FARGO-JAZZ MUHAMMAD - Sebelum ke sini, aku tak pernah dengar nama kota ini seumur hidup. Di Indonesia, yang kudengar tentang US adalah New York, Washington, San Fransisco, Miami, Patung Liberty, dan tentunya Bahasa Inggris. Kau tahu apa tentang US? Sejadinya, sejujurnya pula, aku tak pernah tahu persis negara ini. Oh, paling-paling kalau “FPI-like organization” dan “extremist-like community” teriak-teriak anti-amerika, nah waktu itu aku dengar amerika. Bercanda.

Dan, ketika aku dapatkan placement dari aminef, aku mulai mencari apa itu Fargo, kota yang sekarang aku akan tinggal di dalamnya untuk beberapa waktu ke depan.

Baiklah, kota ini adalah yang tak terlalu besar. Kalau dibandingkan dengan Jakarta, kota ini tentu tak sebanding dan memang tak mungkin membandingkannya.

Fargo berada di perbatasan antara state North Dakota (ND) dan Minnesota. Tepat di perbatasan, tak kurang tak lebih. Di sampingnya ke arah timur, terdapat kota bernama Moorhead yang tata kotanya kembar. Karena itu, orang di sini sering menyebut nama Fargo-Moorhead. Tapi Moorhead sudah bukan bagian ND, ia Minnesota. FYI, di state sebelah, Minnesota, ada juga kota kembar: Twin City, yakni Minneapolis dan St. Paul. Twin City yang kedua ini jauh lebih populer. Tentunya.

Salah satu sisi downtown Fargo
Kembali ke Fargo. Downtown atau pusat kota Fargo seperti kota tua. Bangunannya sederhna dan tak punya skyscraper meski satupun. Jalan-jalannya bersih dan tata lalu lintasnya, bagiku, mengagumkan. Jalan-jalannya tak terlalu besar, tetapi orang tertib mematuhi aturan (meski tak semuanya, soalnya aku pernah hampir ditabrak driver “o-on” yang tak lihat tanda lalu lintas).

Store-store di sini rapi terbangun. Di sini suasananya quiet, calm. Pokoknya jauh lebih nyaman hidup dari pada di Jakarta. Sepertinya. Kau terserah percaya atau tidak.

Angkutan umum di sini cuma satu jenis: Bus. Namanya MATBUS. Mereka sediakan jadwal kedatangan dan keberngkatan bus di tiap shelter. Dan yang mengagumkan adalah, dibandig dengan yang di Indo, mereka hampir selalu tepat waktu.
Let's Go BISON!!!

Ya, mungkin hal ini, soal tepat waktu, akan selalu mengagumkan bagi orang indo sepertiku ini. Tapi, ini sekaligus menyebalkan karena rupaya budaya "ngaret" sudah mengakar-bumi dalam di dalam diriku. Jadinya: ketinggalan bus berkali-kali. Ingin bertobat dari ngaret? Ya, tak ada pilihan.

Shelter MATBUS
Meskipun Fargo bukan ibu kota North Dakota, tapi kota ini adalah kota terbesar. Bismarck, yang notabene ibukota, tak ada apa-apanya. Di Fargo ini juga, berdiri universitas tua: North Dakota State University (NDSU). Itu tempat aku belajar saat ini.

NDSU, begitu kami menyebutnya, memiliki spesialisasi dalam dunia agriculture. Dari logonya saja sudah bisa dilihat. Dengar-dengar, kampus ini adalah kampus terbaik untuk urusan agriculture di US.

Omong-omong soal football, karena orang amerika gila football, NDSU punya tim berjuluk Bison. Jujur saja, sejak di sini, aku tak pernah lewatkan nonton Football. I love it.

Dari permaian, sebenarnya soccer tetap lebih menarik bagiku. Tetapi karena Fragodome, tempat “home” Bison, selalu penuh dengan penonton baik dari students atau orang-orang sekitar, aku merasakan sense belongness yang begitu super.

I like it here. Well, see you then.


Sunday, October 23, 2011

Mozaik dari Fargo (1): Apapun Hasilnya!

Di depan Union, NDSU
Kalau ada orang bilang: di dunia ini semuanya dapat terjadi, maka siapapun boleh jadi percaya atau juga tidak. Terserah. Monggo.Tapi aku akan memilih untuk percaya. Kenapa? Karena percaya itu gratis.

Apa kita percaya kalau batu bisa jadi uang? Percaya kalau manusia bisa terbang tanpa bantuan apa-apa? Atau tangan kita dapat menyentuh langit? Atau ketika kita bangun pagi lalu rupanya semua orang menunggu anda di luar jendela, karena kita jadi presiden?

Kalaupun itu semua terjadi maka kepercayaan kita dapat pembuktian yang akan membuat kita senang sejadi-jadinya. Kalau tidak terbukti? Buat saja kepercayaan yang lain. Mudah bukan?

Tetapi masalahnya akan timbul kalau kita terlalu banyak kepercayaan. Akan menjadi sampah dalam kepala kalau setiap hari kita membuat kepercayaan-kepercayaan baru. Sebab hidup ini hanya sebentar. Saya memilih-milih mana yang akan ku-percayai, dan aku akan buktikan kepercayaan itu.

Dan, sedari kecil, dunia yang kulihat bukanlah macam istana dalam cerita. Dunia ini bukan dongeng dalam cerita anak-anak yang dapat memberikan segala-galanya. Dunia ini bukan dongeng yang dapat memberikan kita hujan uang, yang dengannya kita dapat menjadi orang kaya.

Tapi yang kulihat adalah kerja keras. Ya, dengan kerja keras, kepercayaan itu akan terwujud. Bagaimana kalau tak terwujud? Ya sudahlah. Memang mau apalagi? Biar Yang Disana yang mengatur.

Pertengahan Oktober 2010
Baiklah, dari kepercayaan saya pindah ke pengalaman. Berawal dari akhir tahun 2010 lalu, tepatnya pertengahan Oktober 2010.

Kampusku, Universitas Paramadina, dibuat heboh dengan selebaran berbahasa Inggris. IELSP atau Indonesia English Language Study Program: sebuah program yang akan memberangkatkan beberapa puluh mahasiswa ke negeri yang tepat berseberangan dengan Indonesia di bumi ini, sebuah negeri yang kini dikenal dengan negeri adidaya, Negeri Paman Sam, The United States of America.

Beberapa kawan sudah siap dengan aplikasinya, lengkap dengan surat rekomendasi yang “heboh”, rekomendasi dari pemuncak-pemuncak kampus, penghuni rekotorat. Beberapa dapatkan rekomendasi dari Pak Wija, beliau adalah, menurutku, orang orang dua di kampus setelah Pak Anies, Pak rektor. Adakah dari Pak Anies? Entah, aku kurang tahu. Mungkin saja.

Aku memutuskan untuk “ikut-ikutan” mengirimkan aplikasi. Aku berencana mengecek website organisasi yang mengelola beasiswa itu. Aku sedikit bertanya pada Fajar, kawan baikku yang waktu itu menjadi “warga negara” DKPM—Direktorat Kemahasiswaan dan Pengabdian Masyarakat.
“Jar, aku ingin ikutan donk! Gimana caranya?” tanyaku.

“Oh, dedlen-nya tiga hari lagi,” jawabnya. Mungkin baginya ini fakta dan memang demikian adanya. Tapi bagiku: Holy cow! Mana bisa aku ikutan?! Aku masih memegang nol besar untuk memulai. Tiga hari? Satu kata: mustahil!

“Memang syaratnya apa?” tanyaku, sekedar meredam kekecewaan.

“TOEFL. Minimal 450,” jawabnya.

“Memang kapan ada tes TOEFL?”

“Minggu depan.”

Oh, deadline hanya tiga hari lagi, dan salah satu syaratnya baru bisa kupenuhi minggu depan? Rupanya, bukan meredam, ini malah menggandakan kekecewaan. Ini rupanya benar-benar juga menutup pintu kepercayaanku untuk ikut serta.

Berkabung, tapi hanya dalam pikiran. Sepulang dari kampus, aku, seperti biasa saling sapa dengan kawan-kawan di asrama 33b. Istirahat sejenak di ruang tamu sambil menyaksikan siaran TV kabel yang kami pasang beberapa bulan lalu. Kami bisa menyaksikan banyak siaran TV dari dalam dan luar negeri. Yang paling laris adalah “Star World”. Beberapa kawan seperti dibuat ketagihan dengannya.

Baiklah, kembali topik semula. Menjelang malam, aku buka laptop-ku. Tujuan utama: facebook. Kau tahu apa nyawa dari facebook? Notification. Tanpa itu, facebook serasa barang mati yang tak sedap dipandang. Maka dari itu, mari meramaikan notification. Tapi, terserah juga, karena terlalu banyak akan membuat orang malas, dan: apapun yang berlebihan itu bukanlah hal yang baik, bukan?

“Eko, kau ikut IELSP?” tanyaku pada Eko yang kebetulan melintas. Ia salah satu kawan penggila “Star World”.

“Iya. Ikutan. Lha, elo ngga tahu?,” jawabnya mudah.

Aku mulai menanyai beberapa kawan. Ternyata beberapa dari mereka telah siap dengan form aplikasinya, lengkap dengan surat rekomendasi dan nilai TOEFL. Beberapa dari mereka sudah ada yang mendaftar. Dari asrama 33b, kukira ada sekitar tiga atau orang yang ikut seleksi. Fajar ada di asrama lain, asrama 25. Cuma dia yang mendaftar dari asrama itu.

Dang!

Ya Allah, kalau memang bukan kesempatanku, tolong redam rasa kecewaku ini! Kalau memang ada kesempatan, tunjukkan pada hambamu ini jalan yang terbaik. Begitu doaku kala itu.

“Rosyid, coba kau cek website aminef,” Eko tiba-tiba beri tahu. “Aku tahun kemarin daftar Global Ugrad di sana. Mungkin masih ada waktu.”

Aku buru-buru “bertanya” pada “Mbah Gugel”. Aku coba cari website aminef dan kukerahkan segenap kekuatan untuk mencari apa itu Global Ugrad. Setelah beberapa kali upaya, akhirnya kutemukan juga. Global Ugrad adalah kependekan dari Global Undergraduate Exchange Program, sebuah beasiswa bagi mahasiswa Indonesia untuk belajar tentang pendidikan dan segala aspek kehidupan di US. jenjang waktunya bisa satu semester atau satu tahun akademik.

Deadline-nya kapan? Itu pertanyaan yang jawabannya harus kutemukan.

Dua minggu lagi. Tepatnya 1 November 2010.

Apa syaratnya? Pertanyaan kedua.

Dari semua syarat seperti beberapa lembar form aplikasi yang harus aku isi, essay, surat rekomendasi dari dosen, dapatlah aku penuhi. Tapi rasanya seperti disambar badai ketidakpastian: sayaratnya adalah ijasah SMA dan surat rekomendasi dari guru SMA. Kau tahu kenapa ini mengejutkan? Aku butuh hampir sehari semalam untuk mencapai kampung halamanku, Blitar.

Aku biasa menggunakan kereta Matarmaja untuk pulang. Berangkat jam 2 siang dari Stasiun Pasar Senen, aku akan sampai esok pagi di Blitar dengan waktu yang tidak tentu, tapi kira-kira aku akan sampai jam 7 pagi. Kau tahulah bagaimana transportasi negeri ini. Bagus bukan? Siapa dulu donk yang mengurusi?!

Sesampai di rumah, aku akan butuh waktu berjam-jam untuk istirahat dan tidur karena perjalanan benar-benar melelahkan. Dalam kereta, hanya ada tempat duduk dengan sudut sempurna 90 derajat. Dan aku duduk begitu selama perjalanan. Menarik bukan?

Baik, aku hanya punya waktu dua minggu. Sempat tumbuh rasa ragu dalam benakku. Sebab, pulang pergi Jakarta-Blitar bukanlah hal yang mudah untuk dijalani. Selain itu, aku sadari: ini kesempatan ke USA.

Ini bukan kesempatan seharga permen yang setiap orang bisa dapatkan. Akan banyak mahasiswa yang mendaftar, ratusan mungkin, dan aku satu dari, katakan 500 orang yang mendaftar. Dalam benak: mustahil tak mustahil!

Tapi rupanya sisa waktu yang ada, dan sebenarnya juga tak lama, diam-diam menjadi harapan terakhir yang kumiliki. Ini adalah kesempatan ke negeri adidaya, USA. Kalau tidak di coba, mana tahu hasilnya. Aku bangun kepercayaan dalam diriku. Sedikit demi sedikit.

Kalau gagal? Setidaknya aku sudah mencoba. Akan ada pelajaran dari sana. Sedikit demi sedikit, kepercayaanku memadat. Bagaimana kalau menyesal? Itu takdir, tak aka nada penyesalan di awal. Lagipula, gagal setelah mencoba setidaknya lebih punya martabat daripada diam dan tak berbuat apa apa.

“Ibu, saya ingin daftar beasiswa ke USA?” aku telpon ibuku.

“Apapun yang jadi keputusanmu, ibu cuma bisa mendoakan yang terbaik buatmu,” jawab beliau. Pelan.

Kini aku percaya, benar-benar percaya. Apapun hasilnya! Allah tahu yang terbaik buat makhluk-nya.

Pertengahan Agustus 2011
Hari orientasi dimulai, 17 Agustus 2011. Aku bersama Jean Max, mahasiswa asal Haiti, berangkat bersama menuju Memorial Union. Tempat ini adalah semacam students center dari North Dakota State University (NDSU).

Sesampai di Union, begitu kami menyebut Memorial Union, aku bertemu dengan mahasiswa dari berbagai negara. Ya, itu hari pertama orientasi untuk mahasiswa internasional di NDSU. Aku bertemu dengan banyak orang dengan macam-macam bahasa.

Aku lihat banyak bahasa berbeda mereka gunakan, pula warna kulit berbeda-beda. Aku tak tahu mereka bicara apa. Jujur, ini pertama kali aku berada dalam situasi seperti ini.

Sesuai dugaan, kulihat ada banyak mahasiswa dari India dan China. Ini terlihat dari bagaimana mereka berbicara dan mengelompok. Natural saja kalau mereka akan mengelompok dengan yang mereka sudah kenali dan dapat berbicara satu dengan lain. Kukira, sebagai calon negara maju, sudah tentu mereka banyak mengirimkan mahasiswanya ke luar negeri, salah satunya ke USA. Aku juga banyak, ini di luar dugaan, melihat mahasiswa dari Korea. Apapun, aku sungguh tak mengerti apa yang mereka bicarakan.

Aku datang dengan kemampuan berkomunikasi dalam Bahasa Inggris yang super minim. Aku akan katakan: bahasa bukan hanya soal tulisan, tetapi tentang bagaimana menggunakannya dalam keseharian. Ini persoalan yang berbeda sekali.

Di Indonesia, aku sangat jarang menggunakan bahasa ini. Dan, ding-ding! Di hari pertama orientasi ini, aku seperti orang hilang yang tak tahu harus berbicara apa jika perlu sesuatu. Setiap orang berbicara dengan cepat, ini benar-benar di luar dugaan. Dan, “kelangkaan” kemampuan berbicara sungguh-sungguh berjung pada isolasi diri yang benar-benar membuat sakit kepala.

Minggu pertama di Fargo, di NDSU, aku adalah orang dari planet lain yang tak tahu bagaimana berkomunikasi. Bahkan, sebenarnya ini masih Ramadhan, seharusnya aku berpuasa. Tapi aku benar-benar frustasi. Jujur, aku ingin pulang kembali ke Indonesia. Aku tak puasa. Di hari pertama orientasi, aku: orang hilang di Fargo.

Jazz Muhammad (Global Ugrad Indonesia)
78 Niskanen Hall, NDSU
Fargo, ND, USA





Sunday, June 26, 2011

Bumiputera dan Balada Asuransi Kita

Bu Zaid (44) dengan polis asuransinya (dok. pribadi)
Bu Zaid (44) adalah ibu rumah tangga bersuami tukang servis mesin jahit. Sebagai pengurus rumah tangga, ia sekaligus manager bagi usaha suaminya. Meski begitu, “Saya asuransikan (pendidikan) anak saya di Bumiputera,” ucapnya. Untuk pendidikan puteranya, Ibnul (10), Bu Zaid berasuransi pendidikan lewat AJB Bumiputera cabang Kota Blitar.

Fakta itu boleh-jadi biasa saja terdengarnya. Tetapi adanya perkaitan dengan asuransi, membuat siapapun akan bertanya: Apa dan mengapa asuransi? Bagaimana bisa istri tukang servis mesin jahit di kota kecil itu bisa berasuransi?

Bermula, berkembang, dan bertumbuh
Pada masa Hindia Belanda, 1912, M Ng Dwidjosewojo—seorang guru Bahasa Jawa di Kweekschool Yogyakarta—mendirikan Persatuan Guru-guru Hindia Belanda (PGHB). Ia menggagas dibuatnya asuransi karena prihatin akan nasib guru-guru bumiputera. Majalah Tempo (2008) menulis, pada kongres I PGHB, 12 Februari 1912 di Magelang, terbentuk sebuah badan usaha bernama Onderlinge Levensverzekering Maatschappij PGHB “Boemi Poetera” (O.L. Mij. PGHB) yang merupakan cikal bakal AJB Bumiputera dan peletak batu pertama perasuransian di bumi Nusantara ini.

Kini, hampir seabad sudah industri asuransi bermula, bertumbuh, dan berkembang di Bumi Pertiwi ini. Dari Hindia Belanda hingga menjadi Indonesia, industri ini alami pasang surut ketika badai krisis menghantam-hantam. Namun pada 2010, pendapatan premi industri ini telah capai Rp115 triliun (Kompas, 2011), naik dari tahun sebelumnya, yakni Rp 91 triliun.

Namun demikian, pada kenyataannya kontribusi asuransi pada PDB negara ini, menurut Bapapem LK, hanya sebesar 2,29 % (2009), angka yang minim mengingat vital-nya peran asuransi pada masyarakat.

Kompas (2011) mencatat bahwa sebenarnya asuransi memiliki tiga peran penting. Pertama, asuransi sumber pembiayaan pertumbuhan. Pendapatan dari asuransi tentu akan mendorong hidupnya perekonomian. Pendeknya, makin banyak orang berasuransi, makin baik iklim ekonomi kita.

Kedua, asuransi mendorong budaya perencanaan keuangan. Asuransi dapat membantu perencanaan pembiayaan kejadian-kejadian yang memang perlu pendanaan mendadak. Terakhir, asuransi sudah pasti menjadi tempat berkarier tenaga kerja. Sebab, nyatanya pada industri ini bernaung ratusan ribu agen asuransi. Namun perlu diingat bahwa asuransi adalah produk absurd; yang dibeli konsumen adalah ketenangan hidup. Maka dari itu, kepercayaan dan integritas menjadi tumpuan utama perkembangannya.

Hingga 2011, Asosial Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) mencatat bahwa pemilik polis asuransi di Indonesia adalah 14 % dari total penduduk. Jumlah agennya mencapai 350.000. Namun, AAJI memunyai target bahwa hingga 2015, pemegang polis akan capai 50%. Selain itu, pada 2012, jumlah agen menjadi 500.000.

Perkembangan ini tentu harus ditanggapi opotimistis oleh segenap elemen bangsa. Kontribusi potensial asuransi sudah harus ditangkap momentumnya, jangan sampai empas, digulung waktu begitu saja.

Bila dibanding negara lain, Indonesia belum bisa berbangga. Malaysia telah mencatatkan 41 % penduduknya sebagai pemegang polis. Sementara Singapura lebih tinggi dan fantastis: 250 % (Kompas, 2011)! Memang ini tak bisa-jadi perbandingan begitu saja, tapi melihat perbandingan sebagai pemacu bukanlah kesalahan, bukan?

Siapa berasuransi?
Perkembangan industri asuransi di negeri ini tentu tak bisa dilepaskan dari pemulanya: AJB Bumiputera. Pada tahun ini, perusahaan ini sudah hampir seabad perkembangannya. Pada pengujung abad 20, ketika krisis menghantam, perusahaan ini sempat goyah. Kompas.com menulis, pada 2008 pendapatannya sekitar Rp 276 miliar turun dari tahun sebelumnya: Rp 403 miliar.

Namun demikian, konsistensinya menjaga layanan terbaik menjadikan perusahaan sebagai real survivor di industrinya. Hingga pada 2011, AJB Bumiputera mendapatkan gelar The Greatest Brand of The Decade 2010 dan predikat Top Brand 2011 (Marketing, 2011).

Peran penting hingga potensi-potensi asuransi tentu menyadarkan kita: Asuransi memiliki peran mulia yang perlu dimaksimalkan. Kalau begitu, siapa yang dapat berasuransi? Siapapun! Dari tukang ojek hingga presiden, dari istri tukang servis mesin jahit hingga istri anggota dewan pun dapat berasuransi.

Kini, perkembangan AJB Bumiputera dan industri asuransi yang dirintisnya akan menghadapi masa-masa se-abadnya. Kembali, apa dan mengapa asuransi? Pembaca budiman sendiri yang dapat menentukan.

Akhirnya, “Soal pendidikan putera saya, berasuransi setidaknya menjamin dan menenangkan, meski tak bisa sepenuhnya. Sebab ya tetap Tuhan yang tahu masa depan, Mas,” ujar Bu Zaid pada saya.

(Tulisan ini sekaligus diikut-sertakan dalam Lomba Menulis Artikel Asuransi dalam rangka memperingati se-abad AJB Bumiputera 2011)