Thursday, February 11, 2010

Aku dan Kehidupanku

Aku adalah anak laki-laki kelahiran kota yang selama ini dikenal sebagai Bumi Bung Karno. Kota yang masih jauh dari aroma metropolis. Seingatku aku lahir pada Senin, 10 September 1990. Hampir tidak ada gedung-gedung menjulang. Masih banyak taman-taman dan juga pepohonan meski di tengah kota. Ini yang membuatku selalu rindu untuk pulang ke sana.

Sebutan Bumi Bung Karno begitu melekat karena makam sang proklamator diletakkan di sana. Kotaku adalah Blitar. Sebuah kota administrasi yang umurnya tak genap satu abad. Sebuah kota yang walikotanya sempat menjadi tokoh Tempo 2008. blitar nama kota itu.

Keluarga Sederhana
Aku dilahirkan dari keluarga sederhana. Ayahku adalah seorang tukang servis mesin jahit. Tapi ia pernah berjaya ketika dulu masih berada di Kalimantan. Ia sempat menjadi tenaga eksplorasi perusahaan minyak negra yakni pertamina. Beliau telah berkeluarga sebelumnya. Tapi keadaan tak berpihak padanya. Ia harus mengalami pertengkaran dengan keluarganya di sana dan akhirnya ia memutuskan untuk kembali ke Jawa.

Kemudian beliau menikah dengan seorang wanita dari pesantren. Wanita inilah yang menjadi ibuku. Seorang ibu yang lalu memberi anak pertamanya ini sebuah nama Muhammad Rosyid Jazuli. Beliau, ibuku, sangat rajin beribadah. Tak pernah aku lihat ia absen untuk sholat tahajud dan dhuha. Tak seperti ayahku yang asal yang wajib terpenuhi, ya sudah. Ibuku begitu ketat mengajarkan agama dan etika pada anak-anaknya.

Bagaimanapun keadaan orang tuaku, aku tetap bangga pada mereka. Meski ayah tak begitu paham agama, ia adalah ayah yang begitu semangat memperjuangkan keluarganya. Tak pernah kulihat beliau mengeluh ketika harus memutar balik kehidupan masa lalunya dengan kehidupan sekarang yang jauh berubah. Tapi kami mandiri. Kami tak pernah mengemis pada orang lain untuk hidup ini.

Kini aku punya saudara lain. Tiga jumlahnya. Adikku pertama hanya berselisih satu tahun denganku. Yang ketiga terpaut cukup jauh denganku, hampir 10 tahun. Dan yangterakhir adalah adik yang berjenis kelamin paling beda. Ia perempuan. Sementara yang lain laki-laki. Ia, adiku ketiga, terpaut 15 tahun denganku.

Sedikit perkenalanku itu semoga memberi gambaran bahwa tak ada yang bisa aku sombongkan dari duniaku juga keluargaku. Aku dibesarkan di suasana kesederhanaan keluarga. Inilah kehidupan keluargaku, lima orang yang selalu penuh semangat kemandirian megarungi samudera kehidupan.

Jalan Hidupku
Tentunya setiap orang punya jalan hidupnya masing-masing. Aku pun demikian. Aku menjalani waktu pendidikanku sebagian besar di kotaku. Ketika aku lulus dair TK al-hidayah, aku melanjutkan proses belajaru di SD Islam Sukorejo. Kemudian aku memilih SMP Negeri dua Blitar untuk menempuh masa pendidikan menengahku yang pertama. Cukup baik hasil yang aku capai saat itu. Aku menjadi peraih NEM tertinggi se SMP.

Pendidikan menengah atasku aku tempuh di SMA Negeri 1 Blitar. Tempatnya cukup jauh, hampir dua kali lipat jarak rumahku ke SMP. Aku hanya memiliki sepeda butut bekas yang dibelikan ayahku ketika aku kelas 4 SD. Dan itulah yang terus membantuku sampai di tempatku belajar, tempatku menyemai benih masa depanku.

Ketika aku SMA, aku mulai bersentuhan dengan dunia organisasi. Aku memutuskan untuk bergabung dengan IPNU. Kala itu, aku sempat ikut kepengurusan tingkat cabang kota. Di dalam SMA sendiri, aku pernah merasakan bagaimana menjadi pemimpin organisasi kesiswaan tertingggi. Aku sempat menduduki posisi sebagai ketua OSIS.

Banyak hal tentunya aku dapat ketika itu: pengalaman memimpin, mengelola, dan berdinamika di dalam organisasi. Sungguh pengalaman yang tidak akan pernah aku lupakan. Sebuah pengalaman yang menjadi titik balik kehidupanku saat itu. Aku yang dahulunya penuh dengan rasa minder, berubah hampir seratus delapnpuluh derajat menjadi pribadi yang penuh rasa percaya diri menghadapi kehidupan.

Kini, aku telah berada di Jakarta, pusat atmosfir negeri ini. Aku menerima beasiswa Paramadina Fellowship 2008 seketika aku lulus dari SMA. Sekarang aku kuliah di Universitas pemberi beasiswa itu, Universitas Paramadina. Hanya syukur kepada Tuhan yang bisa aku sampaikan. Beasiswa itu telah membiayai seluruh kebutuhan kuliahku. Biaya kuliah selama empat tahun, biaya buku sudah menjadi tak menjadi beban pikiranku. Bahkan uang saku aku juga dapatkan.

Sebuah Perjuangan
Aku masih ingat perjuangan ku dalam meraih beasiswa itu. Aku harus melewati seleksi dokumen dulu. Ada 14 lembar tebalnya formulir yangharus aku isi. Cukup meelahkan. Aku harus membuat esai tentang “apa yang akan aku lakukan setelah lulus kuliah” dan “apa yang menjadi pengalaman terbaikku. aku juga disibukkan dengan urusan lehgalisasi fotokopi dokumen-dokumen sepeti rapor, piagam organisasi, piagam prestasi dll.

Aku kirimkan dokumen pengajuauanku beberapa hari sebelum deadline. Lama menunggu, aku agak putus asa. Tak ada kabar apa-apa. Aku tak mungkin meneruskan kuliah yang biayanya selangit. Tapi Tuhan sepertinya mendengarkan doa ibuku yang tak henti ia panjatkan. Aku mendapati namaku masuk jajaran peserta yang lolos tahap wawancara.

Aku pun ke Surabaya untuk mengikuti tes wawancara tersebut. Sungguh menegangkan acara itu. Sedikit saya aku berbohong, akan terbuka kebohongan kebohongan lainnya. Bagaimana tidak? Di awal aku langsung dihajar dengan pertanyaan yang simple tapi sulit dijawab. Aku di tanya, “Ceritakan tentang dirimu?” inilah pertanyaan yang sepele tapi akan menjatuhkan bila jawabannya menipu. Karena, pertanyaan selanjutya disesuaikan apa jawabanku atas pertanyaan pertama tadi. Jadi tak mungkin pertanyaan tiap siswa sama. Sistem ini tak memungkinkan adanya contek-mennyontek.

Malam itu, sebulan setelah aku pulang dari Surabaya menjadi malam paling membahagiakan bagi orang tuaku. Aku ke warnet dan tak kusangka. Aku dapati namaku masuk daftar penerima beasiswa Paramadina fellowship 2008. Aku pulang dengan sejuta kesukacitaan. Ibuku tak bisa menutupi kegembiraannya. Kau tahu mengapa? Aku adalah anak pertama dari klan ibuku yang akan melanjutkan belajar ke perguruan tinggi. Bagi orang lain mungkin ini biasa, tapi bagiku ini luar biasa. Aku menjadi starting point perubahan di keluargaku.

Tak Perlu Sombong
Di Jakarta, Karir oragnisasiku di IPNU ternyata juga masih berlanjut. Aku bergabung dengan kepengurusan Pengurus Pusat untuk periode tiga tahun mendatang. Sementara, aku juga menjadi duta bagi universitasku. Layaknya duta pada umumnya, adalah tugasku menyampaian berita baik dari dan ke dalam universitas.

Kukira apa yang kuraih selama ini bisa aku anggap sebuah prestasi. Tapi, tak perlu dibanggakan, tak perlu disombongkan. Masih banyak orang yang jauh memiliki prestasi di luar sana. Aku yakin kebanggaan diri dan kesombongan hanya menutup hati yang berujung pada ketinggian hati. Sebuah sikap yang sangat dibenci masyarakat.

Terakhir, adalah sungguh menyenangkan bagiku untuk mengingat perkataan seorang dosenku, “Just keep highly motivated, you will see the world.”


nikmati juga tulisan ini di kompasianaku


Tulisan ini, selain sebagai tulisan lepas, juga diikutsertakan Djarum Black Blog competition Vol. 2. Event ini diadakan oleh PT Djarum yang familiar komunitas-komunitas inovatif-nya seperti Black Car Community, Black Motor Community, dan Black Community.






10 comments:

  1. Jazzuli,, sangat mengharukan,, cerita hidup yang sangat inspiratif,, anak yang bangga dengan kota kelahiran meskipun kini sudah berjuang di kota metropolitan. Teruskanlah perjuanganmu yaa,, hidup itu sebuah pilihan, janganlah kamu memilih sesuatu yang salah,, aku juga ingin berkata seperti dosenmu “Just keep highly motivated, you will see the world.”

    ReplyDelete
  2. yeeeeahh,, karena kita lah sang juaraaaa...

    ReplyDelete
  3. hihihih cerita nya keren, polos dan berisi,,,, aku senang loh kak baca tuklisan tulisan kaya bgtuan ckckckck,,,, bisa berbagi penglaman dengan ku.. dan memberi inspirasi juga

    ReplyDelete
  4. buat shindy

    ayo berbagi inspirasi

    bagiku inilah amal jariyah itu, amal yang selalu berjalan!!!

    ReplyDelete
  5. Rosyid....GOOD STORY Bro. Dengan bahasa yang sederhana loe membuat orang menjadi terkesima...wow..FUNTASTIC!!
    Terkadang cerita seperti ini adalah sebuah motivator bagi orang lain untuk terus berjuang & menggunakan segala kesempatan...
    I am so proud of u cied.....

    ReplyDelete
  6. wowowo...hehehe
    ya iseng2 dit. jadi ya gitu jadinya.

    Ayo saling berbagi cerita yang bermanfaat, semoga manfaat-manfaat lain bisa tumbuh darinya.

    ReplyDelete
  7. Nice story mas :) [jadi terharu]

    ReplyDelete