Monday, February 8, 2010

Berani Memimpin!

Siapa yang mau mimpin?
Dia, dia, dia Bu…
…..
Saya Bu!
Ha..ha..ha…

Pernahkah Kamu diminta untuk memimpin? Kalau jawabannya ya, maka baca lanjutan tulisan ini, tapi kalau tidak, ya juga lanjutkan. Loh? Tapi ngga maksa ko’..pis2

Tulisan saya kali ini dibuka dengan secuplik percakapan yang sering kita temui. Mungkin dulu saat SD. Seorang guru meminta salah seorang muridnya untuk memimpin doa atau salam atau membaca Pancasila. Tapi kemudian kelas bergemuruh oleh tindakan siswa-siswi yang saling tuding, menunjuki temannya. Dia bu..dia bu..!

Lalu ada salah seorang siswa yang berdiri lalu berkata, “Saya, Bu!” Dengan lantang ia mengucapkannya. Tapi bukan ungkapan bangga yang muncul dari teman-temannya kelas itu. Yang ada adalah tertawaan teman-teman. Tertawaan bernada meremehkan. Emang dia bisa?

Inilah masalah anak muda zaman ini. Ketika mereka diminta menjadi pimpinan, mereka bersembunyi di belakang dan menutupi ke-cemen-annya dengan saling tuding siapa yang pantas memimpin.
Tapi, ketika ada yang tampil menjadi pemimpin, semuanya geger. Mempermasalahkannya. Dilematis memang. Muda-mudi ini tak senang bila ada temannya yang tampil menjadi pemimpin mereka. Ko’ gitu ya? Ya gitu…

Memang ini yang perlu disadari oleh saya dan juga kamu. Sering kali kita malu dan takut untuk memimpin, tapi ketika kepemimpinan itu dibutuhkan, kita malah mencemooh teman kita yang tampil, seakan tak rela dia berada satu tingkat di atas kita.

Sekarang bahasannya adalah bagaimana menjadi pemimpin agar di cintai dan dihormati oleh yang dipimpin. Hal ini sangat penting karena realitanya, pemimpn dan yang dipimpin sama-sama manusia. Sama-sama makan nasi. Jadi lumrah kalau ada yang jealous kalau dipimpin sesamanya. Ya kayak anak SD tadi…

Setidaknya menarik untuk menilik pesan Bu Mega, Presden RI ke-5 yang memberi tips kepemimpinan (Media Indonesia, 8/2/10). Pertama, kejujuran. Menjadi pemimpin harus berani mengakui kekuarangan dan kelemahannya, bukan hanya kekuatannya. Kalau memang membutuhkan bantuan ya bilang. Jangan karena telah menjadi pemimpin, terus jaim bin gengsi. Ah emang gue siap, elo siapa?

Kedua, kerendahan hati. Pemimpin harus bisa merasa setara dengan yang dipimpin. Tak ada yang beda. Yang beda hanya posisi strukturalnya. Secara sosial, sama saja. Jadi kalau sudah jadi pemimpin, terus senaknya sendiri, wah ngga bener itu!

Ketiga, keteguhan. Pemimpin sudah seharusya memiliki sikap tegas terhadap keputusan yang diambil. Pemimpin juga harus seteguh dalam pendirian. Bahasa jawanya, Ojo mencla-mencle!


Keempat, kesabaran. Inilah yang membuat orang layak memimpin. Sabar dalam menghadapi masalah. Baik dari yang dipimpin ataupun dari lingkungan sekitarnya. Pasti ada saja masalah yang timbul dari hubungan kepemimpinan. Lebih-lebih terjadi salah paham atau perbedaan pendapat. Kalau berbeda itu wajar. Yang tak wajar kalau perbedaan itu disikapi dengan emosi dan lalu menimbulkan perpecahan.

Yang terkahir, pemimpin harus ikhlas. Pemimpin harsu dengan sukarela melaksakan tugas mulianya. Kesuksesan kerja tentu menjadi tujuannya. Ya-iyalah, mana ada yang mau gatot, alias gagal total.
Seorang pemimpin harus menjadi pribadi yang penuh rasa ikhlas dalam mengabdikan diri pada apa dan siap ayang ia pimpin. Ya namanya pemimpin itu kan sebenarnya pelayan. Karena, pemimpin itu adalah ssorang yang ditunjuk untuk megarahkan orang lain. Ya artinya melayani orang lain untuk bisa mencapai tujuan bersama.

Bagaimanapun orangnya, darimanapun asalnya, sudah seharusnya menyadari bahwa mereka adalah pemimpin. Lho ko’ bisa? At lease mereka ataupun kita jadi pemimpin diri sendiri. Ya ngga? Ayo berani memimpin!

tulisan ini juga dimuat di kompasiana-ku

Tulisan ini, selain sebagai tulisan lepas, juga diikutsertakan Djarum Black Blog competition Vol. 2. Event ini diadakan oleh PT Djarum yang memproduksi Djarum Black Menthol dan Djarum Black Slimz.



*sumber gambar bisa diklik langsung pada gambanrnya

12 comments:

  1. Bagus banget cid,,,
    Terkadang untuk menjadi pemimpin harus sadar akan kemampuannya yang dimilkinya...

    Aku pernah melihat beberapa orang diluar sana yang terobsesi menjadi pemimpin tapi dia tidak mampu melaksanakan kewajibannya setelah ia menjadi pemimpin. Bisa saja itu menjadi alasan kenapa sebagian orang takut,,,,

    Ok lah kalo begitu,,,
    Semoga Indonesia ini memilki pemimpin yang terobsesi dan mampu melaksanakan tenggungjawabnya...

    :)

    ReplyDelete
  2. OK thur, semoga kita bisa berani menjadi pimpinan

    ya minimal buat diri sendiri kan...

    ReplyDelete
  3. yapss, aku setuju
    semoga tulisan kamu menjadi sebuah interpretasi kritis
    dalam implementasi pemikiran kepemimpinan.
    makanya, karena pemimpin harus menjadi "pelayan"
    yang dipimpin makanya aku salah satu yang tidak memiliki keinginan
    hanya mendapat status atau gelar "ketua" atau "leader" sebagai posisi hirarki.
    aku enggak mau "melayani" maunya "dilayani", hehehehe
    tapi sepertinya konsep kepemimpinan yang "melayani" memiliki arti "bukan melayani" sesungguhnya.
    because "ambisi nggak pernah mengenal dimensi"
    but "pemimpin ideal" harus tetap ada
    dengan syarat adanya kontrol yang seimbang.
    Yah, saling berlomba-lomba dalam kebaikan dan saling mengingatkan.

    ReplyDelete
  4. rosyid kaya orang tua deh pake kata muda mudi hahaha....nice post syid...ak belum dpt inspirasi nih buat nulis....hehehe tar komen ya klw udah keluar tulisannya

    ReplyDelete
  5. buat hatiku tentang hatimu..

    setuju mas, harus teru sberlomba2 dalam kebaikan dan ikhlas melayani

    ReplyDelete
  6. buat riki,

    ya...bisanya itu sih rik...hehe, tapi semoga bermanfaat ya
    aku udah komen ki...gud post

    ReplyDelete
  7. mantab kang!! semoga semua anak muda siap jadi pemimpin

    ReplyDelete
  8. buat kang ferdi

    ayo kang semangat, n jadi pemimpin

    ReplyDelete
  9. Saya maz, saya siap :p
    kwakakak...

    Mari kita junjung tinggi LEADERSHIP, semangat untuk menjadi leader terutama untuk diri sendiri terlebih dahulu :)

    ReplyDelete