Sunday, February 27, 2011

Soal Aliran Keyakinan yang Berbeda

ilustrasi kekerasan terhadap fasilitas Ahmadiyah
(img.ibtimes.com)
Wooy, sesat… sesat!!!
Hajar… hajar…!!!

Isu terakhir yang berkembang adalah tentang Ahmadiyah. Ini tentang salah satu alur pemahaman dalam agama Islam. Jargon-jargon sesat menyembur kuat-kuat dari mulut-mulut mereka yang tak setuju. Yang selanjutnya membumbuinya dengan bacaan takbir. Ahmadiyah dianggap sesat dan diminta untuk tobat!

Siapa yang salah? Siapa yang sesat? Itu tentu pertanyaannya. (beeuuuh, serius nih kali ini tulisannya). Ini sudah menyentuh soal keyakinan. Oleh karena itu, dalam tulisan yang biasanya hanya 'kerjaan anak kurang kerjaan ini' (he-he), soal ayat-ayat tak mungkin dibahas.

Soal keyakinan, saya kesampingkan dulu. Yang mau dibahas adalah soal kekerasan dan main hakim sendiri-nya.

Baiklah, kalau mau dipikir lebih dalam, buat apa sebenarnya orang lakukan kekerasan? Terlepas dari setuju atau tidak setuju, ada saja yang akan dikecewakan: keluarga, orang-orang yang dicintai, dan juga teman-temannya.

Manusia adalah hewan yang berakal, itu kata seorang filusuf. Akal sejatinya harus membimbing manusia untuk melakukan proses berpikir lanjut untuk setiap tindakannya. Asasnya sederhana: perbuatan yang mau dilakukan bermanfaat tidak? Memberi perubahan tidak? Atau malah menambah masalah?

Dimana pun, kekerasan tak akan menyelesaikan masalah. Nampaknya memang akan segera selesai masalahnya. Misal dengan main keroyokan, seorang maling bisa saja jera, atau mungkin mati sekalian. Tapi apa selesai masalahnya? Lalu puas? Saya kira, yang dapat puas melihat sesama makhluk mati hanyalah binatang!

Kita juga dianugerah hati oleh Tuhan untk membimbing kita berpikir jernih. Bahwa, seperti diungkapkan oleh Cak Nur, hati nurani adalah bekal sifat ketuhanan yang dititipkan oleh-Nya pada kita semua. Oleh karena itu, semua manusia punya potensi baik. Namun, tempat ia bertumbuh kembang, itu masalahnya.

Tapi mari sejenak berpikir? Siapa memilih lahir di keluarga Muslim, atau dikeluarga Katholik, atau dikeluarga Ahmadiyah, atau juga lahir di China, lahir di Eropa, pun lahir di kubangan lumpur atau tempat sampah?

Kalau lahir dan besar dengan didikan Ahmadiyah dari ibu yang Ahmadiyah, apa itu salah? Kalau kita bisa tentukan siapa lahir dari rahim siapa, dan lahir dimana, maka tentulah namanya ini bukan dunia. Ini hanya khayalan belaka dengan tingkat kebodohan paling tinggi. Kebodohan manusia yang bermimpi menjadi Tuhan!

Dalilnya? Kan mereka salah menurut keyakinan yang umum? Kemooon, apakah pembunuhan orang lain dijustifikasi oleh ajaran agama? Pakai dalil lagi! Agama macam apa kalau begitu itu? Itu kan pemikiran kamu.

Baik, mari sejenak kita memanfaatkan logika. Tuhan adalah realitas yang tak mungkin berbatas, tak terjangkau, dan Mahasegala-galanya. Sementara dunia ini, adalah realitas yang batasannya di sana-sini. Maka apakah mungkin ketidak-terbatasan Tuhan diterjemahkan dalam keterbatasan dunia ini?

Begini, kita pahami bahwa ayat-ayat Tuhan yang dikemas dalam Kitab Suci. Nah, untuk membacanya, kita perlu penfsiran. Ya, itu adalah penafsiran manusia yang hidup dalam keterbatasan. Maka, apakah dengan demikian penafsiran itu dapat menjadi representasi pesan Tuhan yang sebenarnya? Memangnya, yang menjadi Tuhan itu siapa?

Penafsiran tetaplah penafsiran dan ia adalah produk manusia. Bukan maksud Tuhan yang sebenarnya! Banyak orang punya penafsiran berbeda-beda. Banyak ahli atau pun ulama yang telah melakukannya. Kita semua mencoba untuk menafsirkan kehendak Allah di dunia ini, tetapi kita punya keterbatasan. Maka penafsiran itu bukanlah nilai absolut yang bisa menjustifikasi sebuah masalah secara keseluruhan.

Memang agak serius tulisan ini. (Hadeeh, ngga usah elo jelasin juga, dari tadi udah serius ini..) Okelah, jalan yang terbaik adalah jalan tengah, jalan moderasi yang mengedepankan apresiasi antar sesam. Perbedaan sudahlah menjadi realitas takdir Allah di bumi ini. Dan untuk mengakomodasinya, bersikap apresiatif adalah solusi terbaik.

Sebab, memang harus diakui bahwa salah satu penyebab kerusuhan juga ada oknum Ahmadiyah yang mengacau, bikin provokasi, atau juga sikapnya yang eksklusif!

Jadi, Ahmadiyah benar atau salah? Itu tak perlu dijawab. Bagi saya yang ikut ajaran Sunni, maka saya katakan bahwa ia berbeda dengan saya. Lalu? Ya sudah biarkan. Toh, yang tanggung jawab juga mereka sendiri kelak di Hari Kemudian. Allah dan Rasulullah pun tak akan kurang kehormatannya hanya gara-gara ada mereka.(Ha-ha, serius bener Bos…)

Ya sudah, yang penting mari kita semua refleksikan diri sejauh mana kita lakukan kebaikan untuk orang lain. Banyak hal yang harus diselesaikan. Kemiskinan, pengangguran, pendidikan dan lain-lain. Dari pada gontok-gontokan, mendingan pergi ke panti asuhan dan ajak mereka bernyanyi lagu-lagu yang membangkitkan semangat mereka, bukan? (tidak terlalu nyambung sih… tapi saya kira itu lebih baik)


Friday, February 25, 2011

Disiplin ala Si Jiran

twin tower (mbah google)
Nak, kenapa sih Indonesia ga maju-maju?
Ya iyalah, Pak, kalau maju jadi masalah nanti
Kok gitu sih?
Kalau maju nanti nabrakin negara tetangga
O... murid sialan!

Suatu saat, saya bertemu seorang general manajer (GM) di sebuah perusahaan telekomunikasi. Orangnya enerjik. Pembawaannya ceria. Saat itu ia bercerita tentang pengalamannya ketika tahun 1998 mengunjungi Malaysia. Ia menjadi wakil Indonesia pada sebuah acara konferensi pemuda.

Ia kemudian berteman dengan seorang Malaysian. Ketika di Malaysia, mendadak, pagi buta ia harus menuju tempat konferensi. Benar-benar mendadak sekali dan penting. Mereka memakai mobil. He...he ganjil ya ceritanya...tapi aku dengarkan saja…

Ketika telah hampir sampai, laju mobil itu dihentikan paksa oleh traffic light yang sedang merah. Saat itu masih jam 5 pagi. Sebagai seorang Indonesian, si manajer bilang pada si Malaysian,

"Bang, terus aja... ngga bakal ada yang tau.."

"Hei, tak bise...tak liat kau merah lampu itu.. Ini aturan di sini..!" tangkis si Malaysian.

Sebenarnya si manajer tadi agak geram, tapi sejenak sadar bahwa apa yang ia lakukan adalah salah.

Cerita itu menunjukkan bahwa kedisiplinan telah mendarah daging pada diri rakyat negeri tetangga itu. Meski telah pada posisi paling aman untuk melakukan pelanggaran, mereka berikukuh enggan lakukan itu. Mereka seakan sadar bahwa disiplin tak harus diawasi, dan melanggalr kedisplinan adalah hal yang naïf. Wah kok bise gitu yah..?

Secara sederhana, bisa disimpulkan bahwa ini soal mental. Kedisiplinan telah menjadi budaya di negeri jiran itu. Siapa pun yang melanggarnya berarti telah melanggar nilai-nilai luhur masyarakat di sana.

Saya sendiri bingung. Dulu tahun 80-an, negeri Malaya itu masih impor guru dari Indonesia. Tapi kenapa sekarang anak-anak Indonesia malah bangga bisa sekolah di sana? Tapi bagi saya memang Malaysia adalah wujud bangsa yang punya mental integritas yang cukup kuat. Inilah kunci pertumbuhannya yang pesat, terlepas dari kontroversinya selama ini.

Hehe kok jadi serius yah...

Pada era 97-98 ketika Indonesia sibuk menyiapkan demokrasi dan perpolitikan yang carut-marut, Malaysia telah sibuk dengan pertumbuhan ekonominya. Mereka telah punya monorel dan twin tower yang megah itu. Sementara, di Jakarta, sampai tulisan ini dibuat, itu pancang-pancang monorel ngga jadi-jadi.

(Heh, lo jangan banding-bandingin ya...) Eiittsss... pis2

Ya bukan maksud saya untuk membandingkan. Ini soal mau benchmarking atau tidak. Dulu Malaysia berkenan mengemis guru dari Nusantara. Mereka mengakui memang belum semampu Indonesia kala itu. Tapi mereka benar sungguh-sungguh mau berbenah. Dan kini sepertinya kesungguhan itu menjadi kenyataan.

Kadang yang menyedihkan itu ada saja bilang gini, "Ya iyalah, Malaysia kan dijajah Inggris, kita kan jajahan Belanda..."

Aduh, kemooon, ini bukan lagi soal romantika masa lalu, ini masalah mental bangsa yang tak kunjung usai. Kalau begitu kita mau mulai dari mana? Dengan apa?

Kata Cak Nur, mulailah dari mana saja. Bangsa ini bisa dibenahi dari sudut mana saja, asalkan ada kemauan kuat. Lalu kata Yoris Sebastian, starts small. Mulai saja dari yang kecil aja. Mulai dari diri sendiri. Memang butuh waktu, tapi yang jelas ini akan berdampak.

Contohnya? Hadehhh cari sendiri ah.....baca buku kek, buang sampah pada tenpatnya kek, nulis kek, nanem pohon kek..... tapi yang penting disiplin…….

Tuesday, February 1, 2011

Kebutuhan Primer Baru

www.pasarkreasi.com
Aduh gue ketinggalan hp
aduh gmana nih
wah, ga bisa ngapa-ngapain nih...
hah? Ke laut aja deh...

Globalisasi kini memang jadi makhluk yang menjelma menjadi buah bibir di mana-mana. Globalisasi, ditunjukkan oleh terhubungnya orang-perorang di mana pun, kapan pun. Pertukaran informasi juga kini tak mengenal batas wilayah lagi. Yang dari Amerika bisa ketemu orang di Indonesia langsung dalam satu waktu. Yang dari Indonesia bisa langsung ketemu nyokap-nya yang lagi haji di Arab sana.

Salah satu wujudnya adalah adanya hp alias handphone. Sejak telepon ditemukan oleh Alexander Graham Bell (1871-1922), pada 1876, perkembangannya begitu pesat. Hingga kini, berbagai teknologi telah membuat telpon berevolusi menjadi hp. Bahkan, dengan teknologi yang ada, hp kini bukan hanya untuk berbicara, tapi juga dilengkapi kamera lalu internet, dan lain-lain .

Semua orang jadi bisa ngemeng sepuasnya di mana saja dengan hp. Hp seakan menghubungkan kita dengan orang lain meski di lain tempat. Hp juga mempermudah sesorang untuk mencari keberadaannya. Ya kali aja ada urusan penting kan? Nah, inilah yang membuat hp menjadi barang penting. Kadang kalau pas hp ketinggalan, wow, bingungnya setengah mati. Ah, yang bener, Mas?

Ya, ini karena kebutuhan untuk berkomunikasi menjadi sangat penting. Hp seperti jadi nyawa kedua di dunia kedua. Kalau dunia yang kita tempati ini tuh dunia pertama, nah dunia kedua adalah dunia maya dimana tak ada batasnya.

Jadi maklum kalau pas hp ngga dibawa bisa kayak kebakaran jenggot (Ngga segitunya kaleee…). Ya apalah terserah. Tapi yang jelas seperti kayak lagunya Anang Hermansyah, 'Separuh jiwaku pergi.... ' memang agak mendramatisasi, tapi kalau mau merenungkan, ya memang kayak gitu.

Terus, jadilah sekarang kebutuhan primer itu bukan hanya sandang pangan papan, tapi tambah satu, jadi "sandang pangan papan dan .... handphone". (Kok aneh ya...memang, kok jayus ya, ....biarin)

Tak ada sebuah pelajaran yang saya sampaikan kai ini. Ya FYI aja, alias for your information, alias asal elo tahu aja... Hehe

Ya, inilah faktanya. Hp sudah jadi konsumsi publik. Siapa yang tak punya hp ya sedikit merasa terkucilkan. Tapi bukan maksudku untuk bilang kalau kamu harus punya hp. Ya kalau enjoy tak tanpa hp yang sudah. Toh juga ini hanya alat bantu untuk berkomunikasi. Perasaan dulu jaman nenek moyang elo juga biasa-biasa aja...

Apalagi, hp kini sudah dilengkapi berbagai fasilitas termasuk internet. Ya jadinya bisa pesbukan atau juga ym-an lewat hp. Ya buat eksis-eksisan aja. Haree genee gitu lho…

Tapi, sayang, sekarang hp jadi bahan gengsi. Katanya yang ngga punya hp adalah yang ngga gaul. Apalagi sekarang ada yang namanya BB (Ngerti ngga lo? He-he). Semakin kompleks saja. Tapi mari kita luruskan. Yang tidak bisa beradaptasi dengan globalisasi itulah yang ngga gaul. Memang hp jadi salah satu indikator, tapi yang jelas itu bukan satu-satunya.




Friday, December 31, 2010

Seleksi Bicara

Saringan - ilustrasi saja, jangan dipasang
di kuping
(http://sumberlogam.indonetwork.co.id)
Eh, tuh anak suka sewot ya…
Ama elu sewotnya?
Kagak, ama yang lain… gue sebel aja
Aduh, sebel elo tuh ngga penting tau…

Dari zaman baheula, muncul peribahasa yang ampe saat ini terus dingat-ingat: “Kuman di seberang lautan nampak, gajak di kelopak mata tak nampak” . Peribahasa itu, ya pastilah sudah mafhum semuanya. Seringkali kesalahan orang begitu terlihat jelas, dan kesalahan sendiri, yang amit-amit dampaknya, ngga keliatan sama sekali. Tetapi, arti ini jangan kamu ubah menjadi, “Kebaikan orang lain nampak, kebaikan sendiri tak nampak”. Arti kedua ini sungguh melenceng dari maksud perbahasa itu. Jadi pribahasa itu hanya untuk konteks keburukan saja, bukan kebaikan.

Oke, setelah ngomongin peribahasa, saya menebak kamu membatin, “Ni anak mau ngemeng apa sih? Ngga jelas..” (Hehehe.. tenang, Bu..)

Baiklah, seringkali kita detail menangkap kesalahan orang sampe ke akar-akarnya. Kita suka kritik sana – kritik sini. Tanpa ampun menghajar pendapat seseorang, tanpa basa-basi jeplak kesalahan orang lain. Ya kalau mengucapkannya itu langsung ke orangnya sih ngga apa-apa. Jadi konfirmasi atas kritikan itu akan langsung datang. Tetapi yang merugikan adalah ketika sesuatu yang kita anggap kelemahan orang lain itu kita ceritakan ‘di belakang’ alias ngemeng-nya sama orang lain.

Menceritakan sesuatu hal tentang orang lain memang mengasyikkan (Hah?!). Harus diakui kalau banyak tayangan infotainment yang laris manis ditonton orang. Kerjaannya ‘kan cuma nebar desas-desus. Entah bener ato ngga itu urusan nanti, yang penting rame dulu dan bagaimana perasaan yang ditayangin itu mah urusan belakangan.

Kalau yang disampaikan itu hal-hal baik, solutif, motivatif sih tentu tidak apa-apa. Cerita-cerita semacam kepahlawanan tentu sangat penting untuk disampaikan untuk menumbuhkan rasa bangga terhadap jasa-jasa pahlawan.

Tapi cerita buruk soal aib tentu sebuah hal yang harus dihindari. Buat yang diceritain, ini tentu menyesakkan. Buat yang mendengar cerita, di samping memang ngga penting sekali, bagi kita ini bisa membuat pikiran keruh. Ketika pikiran sudah tak jernih, maka susah untuk punya positive thinking. Bawaannya negatiiif mulu.

Soal ini, saya dapat sebuah pelajaran ketika membaca tulisan Samuel Mulia soal “A good life”. Jadi dalam proses membicarakan orang itu ada seleksinya, ya sederhananya ada proses yang harus dilalui sebelum penceritaan benar-benar menjadi keputusan final.

Seleksi pertama adalah soal kebenaran. Maka, ketika seorang teman ngasih berita tentang orang lain, maka tanyakan pada orang tersebut, “Apakah kabar itu benar adanya?” Kalau tidak benar, atau sekedar kabar angin lalu, maka silakan sudahi pembicaraan. Ngga ada untungnya kalau diterusin. Tetapi, kalau memang benar, mari kita teruskan seleksi selanjutnya.

Seleksi kedua adalah soal kebaikan. Maka, “Apakah kabar itu baik?” Kalau ternyata itu berita itu buruk, soal aib orang, soal kekurangan orang, maka sebaiknya segera berhenti saja. Tetapi, kalau memang baik dan berguna, maka silakan melaju pada seleksi selanjutnya, seleksi terakhir.

Seleksi ini akan usai dengan tanya, “Apakah kabar itu berguna bagi saya juga bagi kamu?” Kalau ternyata memang berguna, silakan lakukan diskusi lebih lanjut, tetapi kalau tidak, maka berhenti adalah pilihan terbaik.

Jangan sampai perbincangan yang kita lakukan meleset dari tiga seleksi tadi: benar, baik dan berguna. Jadi, kalau sesuatu kabar sudah tidak benar, tidak baik, bahkan tidak ada guna sama sekali, buat apa diperbincangakan. Yang ada nanti malah buang-buang waktu, buang-buang air ludah, dan ujung-ujungnya muspro.

Namun, bagaimanapun juga membicarakan orang lain sebaiknya dihindari saja, kecuali memang mendesak. Jangan sampai buat masalah gara-gara sesuatu yang tidak penting seperti ini. Oya, tenang saja, ini peringatan bagi saya sendiri ko’. Tenang saja.

Tetapi kalau merasa kesindir, ya sudah ayo sama-sama sibuk memperbaiki diri, bukan sibuk ngemengin orang lain!


Monday, December 13, 2010

Merajut Persaudaraan

ilustrasi (http://fitrisusanti.wordpress.com)
Heh, itu tuh salah
Ini yang bener
Kalu ngga ikut saya, awas ya!
Ah, kamu itu apa? Salah kaprah pahammu itu

Saya sebenarnya bingung juga mendengar isu-isu terorime. Apalagi kejadian itu ada di negeri kita sendiri ini. Padahal, dalam sejarah, tak ada ceritanya teror-meneror itu jadi budaya kita. Negeri kita adalah negeri yang gemah ripah loh jinawi. Negeri yang aman untuk siapa saja singgah.

Ehh ada orang iseng ngebom di Bali 2002 lalu.

Kalau ngomong secara global, Peristiwa 11 September tentunya bisa dikatakan menjadi starting point isu-isu terorisme sialan itu. Setelah itu mengalir anggapan-anggpan bahwa agama tertentu mengajarkan terorisme. Ajarannya dianggap memberikan anjuran untuk membunuh orang lain yang tak sekeyakinan. Oh.

Karena negeri saya dan kamu ini berpenduduk mayoritas agama itu, yakni Islam, ya jadilah kita di-stereotyping-kan sarang teroris. Yang ini sungguh membuat saya pening sendiri. Lha wong saya ngga ikutan ngebom, (ikutan sesalkan si tukang bom iya), eh jadi ikutan dikira teroris.Enak aja!

Setahu saya, semua agama mengajarkan kedamaian. Ya ngga? Mengapa harus ada perpecahan?

Tapi ternyata tak hanya di negeri kita ini, konflik berbau agama juga terjadi di berbagai daerah. Korban berjatuhan, bahkan yang ngga tau apa-apa, ehh DOOR! tiba-tiba mati kena tembak, eh BUARRRR! Tiba-tiba bom bunuh diri. Miris kan dengernya. Bagi saya, adalah orang yang otaknya sudah miring lebih dari 45 derajat yang suka keributan itu. Ngga kurang tuh miringnya?

Kalau mau ditelusuri, konflik-konflik tersebut sebenarnya hanya masalah pemahaman. Seringkali terjadi perbedaan penafsiran atas ajaran. Yang bikin runyam lagi adalah tiap perbedaan itu dikelompokkan dan setiap kelompok bilang kalau mereka ‘paling benar’.

Kalau saya jawab, emang kamu Tuhan?! Kok berani bilang ‘paling benar’. Sudah hukum Tuhan kalau manusia itu dikelilingi oleh salah dan lupa. Jadi kalau mikir paling benar, ya berarti sudah mengingkari Tuhan. Kalau kita merasa rang lain salah, ya diingatkan. Kalau tetap ngeyel ya silahkan, toh mereka punya dasar pijakan sendiri. Taaapi, (a-nya sengaja saya banyakin biar lebih mantab) kalau bikin rusuh dan neror sana-sini, baru itu masalah dan kita harus bertindak.

Bagi saya, perbedaan itu adalah lumrah, itu sudah pasti terjadi. Seribu orang bisa punya seribu persepsi bahkan lebih. Sebuah masalah bisa dipandang dari berbagai sudut pandang. Berbeda situasi, berbeda interpretasi. Berbeda kondisi, berbeda edukasi, berbeda cara memahami. Bukannya begitu?

Saya kira menyamakan itu pastinya sulit, tapi menghargai sekiranya bisa menengahi perbedaan itu. Lagipula, memang Allah menciptakan manusia bersuku-suku nan berbeda-beda. Jadi pengakuan diri sebagai yang terbaik tentu adalah hal naïf.

Sekarang sudah saatnya kita merajut persatuan. Bukan berarti menyamakan pemahaman, tetapi saling memahami adalah yang terbaik. Biarkan orang lain menjalankan pemahamannya. Bukankah sambung persaudaraan adalah hal terbaik?


Sunday, December 5, 2010

Keranjang Lipat: Pengabdian untuk Negeri

(REFLEKSI HARI/JAZZ MUHAMMAD)
Keranjang Lipat - Enur yang giat memasarkan produk
kerajinan tangan dari Tasikmalaya
Tampilannya tidak macam-macam dan memang demikian yang ia lalui setiap hari. Kesehariannya dipenuhi kegiatan berkuliah dan berbisnis. Ketika saya mencoba menemuinya, tidaklah sesulit menemui pejabat-pejabat. Mudah, tinggal SMS (short message service) dan tentukan kapan bertemu dan bertemulah saya dengannya. Tidak seperti pejabat yang selalu birokratis, saya temui seorang Enur Nursyamsi begitu mudah.

Ada yang menarik dari anak muda satu ini: kuliah sambil berbisnis. Ini adalah kegiatan yang masih langka di dunia perkuliahan. Umumnya mahasiswa akan menghabiskan waktunya dengn mengerjakan tugas-tugas makalah dan ngetem di depan komputer. Tapi Enur mencoba hal lain. Meski nilai kuliahnya tak bagus-bagus amat, ia mampu menciptakan prestasi di sisi lain kehidupannya: berbisnis untuk kemandirian hidupnya.

Waktu luang ia gunakan untuk berkeliling mencari pelanggan dagangan-nya. Ia berjualan kerajinan tangan yang berasal dari kampung halamannya: Tasikmalaya. Barang-barang kerajinan yang ia dagangkan antara lain keranjang lipat, tas, sandal, tikar, dan bebebrapa macam barang-barang rumah tangga lainnya.

Barang-barang kreatif itu dibuat oleh tangan-tangan pengrajin dari ‘kota anyaman’ itu. Bahan-bahan yang digunakan dari alam, kata Enur. Ada yang terbuat dari pandan, rotan, ataupun mendong. Produsennya adalah keluarganya sendiri. Akan tetapi, ketika pemesanan terlampau banyak, maka ia tak segan untuk melibatkan produsen lain untuk bergabung.

Di samping kegiatan bisnis yang sedikit menyibukkan, Enur tetaplah mahasiswa Universitas Paramadina dengan segala kawajiban akademis yang melingkupinya. Ia mengaku memang sedikit sulit untuk mengatur waktu. Kuliah dan bisnis bila sekilas akan berseberangan, tetapi bila dijalani dengan hati-hati dan sungguh-sungguh akan membuahkan hasil yang memuaskan di kedua pihak.

“Ya bisnis mah di waktu luang, kuliah tetep jalan, bisnis jalan. Tugas-tugas tetep ngumpulin, ya meski pas-pasan nilainya. He-he.” Ujarnya dengan logat khas sunda yang kental.

Bantuan teknologi
Enur mengakui, memang jarak yang cukup jauh antara pasar yang ia kelola dengan asal produk membuat sedikit kendala. Namun, menurutnya, itu semua teratasi dengan kemajuan teknologi yang sekarang ini berkembang. Teknologi seluler yang ini marak dan maju membuatnya mudah untuk menjalankan bisnis kerajian ini.

“Telepon geggam ini sangat membantu saya,” selanya sambil menunjukkan sebuah telepon genggam sederhananya, “saya merasa ini sangan efisien. Komunikasi lancar, apalagi untuk buat agreement (perjanjian) dengan pelangan. Dan apapun jadi cepat, saya merasa teknologi ini sangat membantu saya.”

Perihal teknologi ini, Enur yang menggunakan layanan produk XL ini mengatakan bahwa memang ada kelemahan dan kelebihan. Ada provider yang murah juga ada yang mahal. Yang murah kadang tak berlayanan bagus, pun sebaliknya, untuk mendapat layanan yang qualified, harga selangit harus ditelan.

Meski demikian, kemajuan teknologi seluler di Indonesia memang harus diakui cukup pesat. Kemampuan layanannya pun ikut berkembang pesat. Misal, produk XL telah mengaplikasikan teknologi GSM 900/DCS 1800 dan sistem IMT-2000/3G untuk meningkatkan kualitas layanannya. Jaringan GSM dengan tekonologi DCS (Digital Celluler System) 1800 ini dapat meng-cover pelanggan jauh lebih banyak. Sementara, IMT-2000 merupakan sistem komunikasi bergerak (Mobile Communication System) generasi ketiga (3G) yang diciptakan untuk layanan global. Teknologi ini mengintegrasikan telepon selular dengan sistem komunikasi bergerak dengan satelit (Mobile Satellite System).

Pengabdian kecil
Untuk bisnis kecil-kecilan, kadang ini jadi pilihan sulit. Tapi baginya, dengan layanan seluler yang ia gunakan sekarang, ia sudah cukup puas, setidaknya dalam hal harga. “Maklum, masih kecil-kecilan, kalo yang mahal belum terjangkau, Mas.” katanya.

Namun, ia masih mengharap bahwa layanan provider-provider seluler di Indonesia harus ditingkatkan. Soalnya, kemajuan industri kreatif di Indonesia akan menjadi tren menarik di masa depan. Teknologi seluler ia buktikan bahwa punya peranan penting dalam menopang kemajuannya. Buat bisnis yang masih baru, teknologi ini sangat memantu untuk ekspansi, tegasnya kemudian. “Ya kalau bisa mah murah dan layanannya bagus. Tapi ya kayaknya sulit itu, Ha-ha-ha!”

Bisnis ini akan terus ia jalankan meski kuliah makin terasa memadat di akhir-akhirnya. Enur berkomitmen bahwa ia yakin ini adalah wujud upayanya untuk mandiri secara pribadi. Minimal, ia tak mem-‘benalu ‘pada orang lain maupun orang tuanya sendiri. Dari usaha ini, ia cukuplah terbantu biaya hidupnya sehari-hari. Untuk biaya kuliah, ia telah mendapat pembiayaan penuh dari program beasiswa Paramadina Fellowhip yang ia terima sejak semester pertama kuliah.

Sejauh ini, pasar yang ia kelola masih terbatas mahasiswa di kampus. Dosen-dosen juga ia tawari dan responnya positif. Layanan transaksi on-line pun mulai ia jajaki. Lewat situs dagang on-line, ia jajakan dagangannya. Tapi, yang jelas untuk sekarang ini, ia masih memanfaatkan layanan seluler yang ia gunakan sekarang. “Layanan on-line masih agak susah, Mas. Mungkin belum terbangun kepercayaan di sana,” tukasnya.

Ia terlihat giat mengembangkan bisnisnya. Memang ini tidak terlalu besar, omzetnya juga masih jauh dari gaji bersih seorang Gayus Tambunan. Tapi mimpinya untuk menjadi wirausahawan patut kita apresiasi. Ia yakin bahwa dengan berwirausaha ia bisa berkontribusi bagi negerinya, mengabdi barang sedikit. “Saya ingin melihat penduduk negeri ini bisa bekerja semuanya, Mas, itu saja…”

Biodata
Nama : Enur Nursyamsi
Tempat dan tanggal lahir : Tasikmalaya, 1 Oktober 1989
Pendidikan : Universitas Paramadina / Manajemen
Prestasi : Penerima beasiswa penuh Paramadina Fellowship 2008

Thursday, November 4, 2010

Pemuda demi Bangsa

ilustrasi (images.plurk.com)
Woy, nantang lo
Mau apa lo
Hyaaaa…
Hyaa….ciatt, ciatttt

Kadang saya melihat acara berita itu miris. Ada berita tentang anak muda ya masih SMA, tawuran. Saling lempar batu, saling pukul, saling ejek, aduh apalagi…

Yang sangat membuat saya gelisah itu ketika mereka berkelahi menggunakan seragam sekolah. Dalam pikiran saya, apa anak ini tidak diajarkan etika? Tentu sudah diajari. Inilah yang membuat pendidikan di negeri ini menjadi ironis. Kamu tahu maksudnya?

Setahu saya pendidikan mengajarkan cara hidup yang bersahaja, bermartabat dan yang penting damai. Damai tentu mengandung makna ketentraman dalam menjalin hubungan dengan yang lain. Ya dasar manusia kan makhluk sosial, jadi have a relationship dengan orang lain itu wajar, bahkan mungkin wajib, wajib ain. Kayak ibadah aja mas…

Tapi di lapangan, nyatanya banyak terjadi perbedaan. Apa yang diajarkan dalam pendidikan ternyata tak dipraktikkan. Inilah yang saya sebut ironis. Berbeda antara konsep dan implementasi. Yang lebih membuat ironis lagi adalah tawuran pemuda itu terjadi antar sesama warga Indonesia. Aduh, masalah Indonesia itu banyak, Mas, jangan nambah masalah lagi donk….Huh…

Sebenarnya apa yang tawuan itu sadar akan hal ini? Aku yakin mereka tahu. Tapi keinginan untuk melaksanakan apa yang telah mereka ketahui itu belum dilakukan. Tentu banyak faktor yang menyebabkannya. Kejiwaan yang labil pada pemuda mugkin menjadi penyebab utamanya. Mereka mudah tersinggung. Tapi juga suka menyinggung. Irons lagi kan?

Saya ingat pesan Aa Gym, kalau kita mau hidup damai dan tentra serta aman jaya, jangan mudah tersinggung, juga jangan mudah menyinggung. Mudah kan? Ya bagi saya hidup itu sedikit masa bodohlah. Tentunya masa bodoh yang positif.

Selain itu, bagi saya, mungkin mereka tak pernah tahu perjuangan para pahlawan dalam merebut kemerdekaan. Boro-boro tawuran, penjajah sadis masih berkerkeliaran. Mereka tak pernah bersibuk diri saling singgung sesama warga Indonesia. Yang ada di pikiran mereka hanya bagamana bangsa merdeka. Ingat, kemerdekaan bangsa ini juga berkat sumbangsih pemuda.

Mereka itulah,meminjam istilah Anies Baswedan, adalah pemuda yang tutas. Pemuda yang tuntas dengan urusan pribadinya. Tak ada dipikiran mereka, urusan-urusan diri yang individual. Semangat mereka adalah bagaimana bangsa ini bersatu. Saharusnya itu yang kita contoh saat ini.

Bahkan Bung Karno pernah berseloroh bahwa ia bisa mengguncang dunia kali bersama pemuda. Ini berarti beliau mengerti betul bahwa pemuda ini adalah asset bangsa yang berharga. Eh..kitanya malah memble…

Pendidikan telah member kita bekal etika. Etika yang penuh nilai-nilai yang berbudaya. Kalau terus membuat keonaran, bagi saya, kasihan sama pejuang zaman kemerdekaan itu. Kalau saja mereka masih hidup, tentu mereka menangis dihadapan kita. Menangisi ke-bodoh-bin-bego-an kita karena tak punya etika dan penghargaan atas jasa pahlawan.

Mari mengisi masa muda dengan hal-hal yang bermanfaat buat bangsa dan negara. Sepuluh sampai lima belas tahu ke depan adalah milik kita. Kalau tak ada bekal, mau jadi apa? Bangsa Indonesia telah menitipkan maa depan ini pada yang muda.

Maka dari itu, mulai dari sekarang, mari kita bekali diri dengan ilmu dan sikap yang beretika demi bangsa.



Saturday, October 16, 2010

Hadir untuk Perdamaian

doc. idris wahid

Menghadapi perbedaan memang sesuatu hal yang seringkali menyebalkan. Sudah pasti kau tahu, dan kau baca di media-media negeri ini: Perbedaan keinginan akan menimbulkan kekecewaan, perbedaan pola pikir apalagi. Perbedaan yang kedua ini yang kemudian menimbulkan konflik di sana-sini, sejak zaman Adam dampai saat ini.

Namun, marilah kita sejenak menjenguk isi terdalam pikiran; bahwa perbedaan hadir bukan untuk dipermasalahkan. Ia hadir untuk meramaikan konstelasi ilmu pengetahuan di dunia ini. Ia menghasilkan khazanah dunia yang selalu cantik menghias lintasan sejarah.

Perbedaan, sesuai arahan Kitab Suci, merupakan ladang untuk saling mengenal (ta’aruf) satu sama lain. Perbedaan yang kemudian terbungkus dalam konsep keberagaman (diversity, plurality) menjadi modal manusia untuk saling-tahu dan kemudian berbagi.

Sering mengemuka adagium bahwa keragaman adalah rahmat. Entah kau percaya atau tidak, bahkan aku pun tak juga terlalu memercayai. Yang jelas seuatu yang baik selalu akan baik. Dan perbedaan adalah baik. Tetapi, maka keberagaman yang berlandas pada perbedaan adalah kenyataan dalam hidup yang harus dihadapi dengan senang hati dan yang pasti keterbukaan.

Lain lubuk lain ikan
Beberapa hari lalu, 11-14 Oktober, saat ikuti sebuah rangkaian kegiatan bertajuk Asia Pacific Interfaith Youth Summit 2010 dengan tema, ‘Unity in Diversity; Strengthening a Culture of Peace’. Sesuai namanya, beberapa delegasi dari negara-negara Asia Pacific datang meramaikannya.

Di acara ini, aku dan teman-teman peserta lainnya—selanjutnya akan kusebut ‘kami’—disibukkan dengan seminar dan diskusi mengenai keberagaman mulai dari adat, agama, hingga keberagaman pola pikir. Aku sedikit terkejut, karena ini baru pertama kalinya, sungguh, dan ku-langsung dihadapkan kenyataan yang selalu buat konflik ini: keberagaman.

Benar juga. Lain lubuk lain ikan, berbeda orang berbeda pemikiran, dan seribu orang seribu pemikiran. Aku temui bermacam-macam orang, dengan keunikannya masing-masing. Beberapa negara yang mengirimkan delegasinya antara lain Thailand, Singapura, Malaysia, Afrika Selatan, Somalia, Philipina, Timor Leste dan beberapa lainnya.

Di antara pesan yang kudapat dari kegiatan tersebut adalah bagaimana menciptakan perdamaian adalah bukan pekerjaan mudah. Terlalu banyak permasalahan yang menyumbang kompleksitas konflik di dunia ini. tapi, bukan berarti tak bisa diselesaikan. Di antara pembicara yang hadir antara lain: Emmanuel Bienvenindo Marquez (DonDon), Inayah Wulandari Wahid (Inai), Sir Prof. Azyumardi Azra, dan beberapa pembicara lain dari dalam dan luar negeri.

Untuk perdamaian
Beberapa hal yang kudapati dari kegiatan ini adalah pentingnya membangun perdamaian di muka bumi ini. Banyak hal yang sebenarnya bisa kita lakukan untuk mencapainya. Mulai dari pelayanan kepada komunitas, penghargaan terhadap perbedaan, dan membangun kepercayaan.

Seorang pembicara menjelaskan bahwa beraksi untuk membangun perdamaian di tengah-tengah keberagaman adalah bahwa kita harus keluar dari kenyamanan (comfort zone), kemudian memulainya dari diri sendiri, dan yang harus ditekankan adalah jangan sampai putus asa.

Tiga pillar yang harus diprioritaskan yakni membangun hubungan yang harmonis antar keyakinan, memberdayakan peran keluarga, dan meningkatkan intensitas pelayanan sosial yang bisa dilaukan (interfaith, family, and service).

Sebenarnya masih banyak materi yang bisa kusampaikan, tetapi ini akan jadi makalah ilmiah yang sedikit membosankan bagiku. Ini, kukira cukup.

Di samping aku terpenuhi oleh materi-materi, pertemuanku dengan orang lain dengan berbeda kultur adalah yang paling berharga. Ini tak akan dapat kutemukan di kampus atau juga di kampung halaman. Macam-macam orang kulihat. Apalagi, bahasa yang mereka gunakan juga berbeda. Ini memunculkan permasalahan tentunya: bahasa penyambung.

Tapi, dengan bahasa Inggrisku yang so-so, akhirnya aku pun punya kesempatan untuk practice di sana. Banyak hal yang kudapat tentang negara tetangga. Cerita tentang kemajuan Singapura, konflik agama di Pattani, kisah Islam di tanah Malaysia, juga kehidupan agama di Afrika.

Bertemu teman-teman baru adalah paling menyenangkan. Ini akan terus berkesan. Tidak mungkin tidak. Betapa ini membuka pikiranku bahwa kenyataannya di luar sana terlalu banyak dan memang sungguh sangat banyak yang aku tak ketahui. Maka kembali ke awal, keterbukaan adalah suatu hal yang tak boleh lepas. Dengan terbuka, aku dapatkan pelajaran menarik dari ‘orang-orang lain’ itu.

Tapi ketika mengenal, aku merasa kami ini adalah sama. Kami sama-sama manusia yang inginkan satu hal di dunia ini, harmoni dalam perdamaian. Inilah kemanusiaan.

Pertemuan ini , Asia Pacific Interfaith Youth Summit 2010, akhirnya menelurkan sebuah deklarasi yang bisa bisa kuberikan sebentar lagi.

Dialog-dialog antarkeberagaman harus terus dibangun. Keterbukaan harus terus dikedepankan. Menutup diri adalah hal paling bodoh dalam hidup, dan akan terus menjadi hal bodoh yang selau ditertawakan oleh waktu.

Keberagaman yang terbangun harus menciptakan sebuah masyarakat berperadaban (civil society), yang tahu harus berbuat apa atas perubahan, bukan berdiam diri lalu mengecam ketertinggalan. Membangun perdamaian bukanlah take and give, tetapi give, first ,and if there any, you can take it, but if not, just leave and give again to another. Dan perdamaian bukan hanya tugas pemerintah, ini tuga kita semua umat manusia. Karena menungu pemerintah selalu lama dan birokratis, bukan?

Yap, kita sampai pada saat aku harus sampaikan deklarasi yang telah kami susun dengan sebaik-baiknya niat, untuk beride dan berimplementasi.



****

doc. idris wahid






Asia Pacific Interfaith Youth Meeting DECLARATION

We, the active Youth participants of 2010 APYIM, Jakarta, Indonesia , firmly stand with our committent to strengthen respect,trust,tolerance, cooperation among the people of Asia Pacific and other countries with diverse culture and religions, strongly recommend to :
  1. Stop conflict in the name of religions
  2. Respect human right
  3. Uphold mutual Understanding and the dignity of nature
  4. Fight against corruption
  5. Strengthen Network with others.
By promoting peace building through Education and technology, accelerating the value of religions and cross-cultural understanding toward achieving global peace and human developement.

****

Monday, October 11, 2010

Di Kotak Sialan Ini, Beragam

ilustrasi (http://zakiakhmad.files.wordpress.com/)
Tak perlu dikatakan lagi. Kenyataan adalah sebuah hal yang bukan rekayasa. Kepahitan, kebahagaiaan, kealpaan, kehampaan, hingga ketidakjelasan akan sebuah eksistensi menjadi penghias lintasan waktu dunia yang tak mau tahu, tak peduli, omongan siapapun; maju terus!

Pikiranmu kenapa?! Ngelantur kau ini. Bicara realitas, lihatlah, kau ada dimana sekarang. Di kotak berjalan yang bau besi dan karatan ini, masih saja sempat berpikir macam itu. Sudahlah, apapun katamu, kenyataan akan selalu lebih nyata daripada omongan siapapun akan kenyataan.

Dan benar katamu, hai pikiran, yang sok kritis! Oke, kali ini aku tak mau macam-macam. Aku sudah benar-benar pening. Panas sekali di sini. Hidungku sejak tadi sudah harus kurelakan tersengat udara yang sudah terkontaminasi beragam materi entah apa ini. Busuk! Oh…

Orang-orang di sampingku ribut saja. Bokongku juga tak sempurna dapatkan dudukan. Ibu disampingku terlalu merampas. Badannya yang jumbo merampas hak dudukku. Padahal kan bayarnya sama?

Inilah kotak besi tua tak layak jalan yang harus dipaksa terus berjalan. Si pengemudi yang harus sedikit memiringkan badannya, karena kursi yang tak lurus dengan batang kemudi, sedari tadi merokok tak ada habisnya.

“Bu, bisa geser sedikit…” tawarku, lirih. Aku sudah tak tahan dari tadi. Ah, akhirnya ia paham juga, geser sedikit juga.

Inilah Kopaja. Angkutan tak layak yang masih saja beroperasi di Ibukota. Aku harus naiki ini, mau tak mau, karena ini yang cuma bisa kujangkau dengan isi kantongku. Aku akan ke kota sebelah. Ada pertemuan pemuda se-Asia Pacific dua hari lagi. Rencananya aku akan menginap di rumah teman dulu.

Aku tak mau kehilangan kesempatan ini. Kesempatanku bertemu ‘orang lain’. Beragam orang akan kutemui. Perbedaan yang nampak macam warna kulit, tingkah laku, dan bahasa, hingga yang tak nampak macam pola pikir akan kutemui. Kata orang, semakin banyak ita bertemu orang, makin kita tahu, dan makin kita terbuka.

Keterbukaan adalah awal dari perkembangan pengetahuan. Siapa juga yang tak mau pintar? Soal kenyataan hidup, inilah kenyataan: keberagaman.

Ah, mulai lagi kau pikiran! Itu nanti saja. Sekarang aku sudah mulai tak tahan. Macet pula jalan ini! Jalanan ibukota ini sudah terlalu sempit. Kota ini telah letih.

Tak usah jauh-jauh bicara soal keberagaman. Tak usah ndakik-ndakik. Di kotak berjalan nan sialan ini, yang namanya Kopaja, pun kau bisa lihat. Mari, mari kuberi tahu.

****

Barisan penumpang belakang diisi sebaris orang paruh baya yang kilau kemilau. Bukan apa-apa, tapi kulit merekalah yang kemilau oleh peluh yang rata merubung. Entah apa yang mereka bawa, karung-karung berukuran sedang berjejer kacau di hadapan mereka.

Sementara sang kenek teriak-teriak tak jelas, seorang perawan muda seperti tak tahu situasi duduk tepat dibarisan depanku. Pasalnya, telepon genggam dari sejak aku naik tak mau lepas dari kupingnya. Entah bicara dengan apa atau siapa, ia selalu menjawab dengan suara keras yang menambah silang-sengkarut kebisingan Kopaja ini makin lengkap. Ya, suara mesin tua yang menyebalkan dipadu dengan raungan perawan yang tahu tahu situasi itu. Hah!

Di sampingku seorang terlihat perlente. Dasi rapih menggantung di leher yang mulai diserbu peluh juga. Panas sekali, Mas? Sepertinya ia akan pulang kerja. Tak ada yang menarik baginya. Ia pancangkan muka ke depan dan sesekali, menarik napas panjang.

Ini yang paling kacau. Longlongan balita menambah kacau yang makin kompleks. Orang tuanya seakan tak bisa apa-apa. Ibunya menyorongkan susu dot yang selalu dimuntahkan. Sementara bapaknya menangani anak satunya, sang ibu masih berjuang keras ‘menaklukkan’ si kecil.

Tentu yang muncul adalah jengkel, awalnya. Tetapi hatiku sepertinya meronta. Betapa beruntungnya aku tak harus bersusah-susah demikian. Mereka yang harus kemana-mana naik angkutan umum sekeluarga, sepertinya, apa tak bahayakan si kecil? Tak ada pilihan lain, Nak. Ini mampu kami, kata mereka, maaf kalau si kecil ini merepotkan kalian… Kami terlalu menyayanginya.

Aku mendengus, menarik napas sedalam-dalamnya. Dan aku sadar, kalau keringatku telah sejak tadi mengular, menyungai di jidat. Kuseka barang sejenak.

Setengah jalan sebelum akau sampai tempat dimana akau akan bertemu macam-macam orang.

Kini naik pengamen. Masih muda, tapi terlalu kumuh. Gitar kecil, atau kecruk, ia genjreng, dan keluarlah nada-nada nyanyian—sumbang tak sumbang—dari mulutnya yang nampak lelah.

Aku cuma ingat, kalau ia dua kali menyanyikan lag Iwan Fals, dan bagian ini ia tekan-tekan nadanya: “Waaakil rakyat bukan paduan suara, jaaangan tidur kalau sidang soal rakyat!”. Andai saja ada wakil rakyat naik kotak ajaib sialan ini. Andai saja, dan akan tetap andai, karena itu tak mungkin. Radikalnya: Demi Allah, tak akan mau mereka itu.

Lelaki tak jauh di depanku masih terus asyik dengan headset yang sudah sejak tadi menutup pikirannya dari ruwetnya isi kotak ini. Berapa tingkat volume ia stel? Gila! Kacau begini masih bisa tenang. Habis mau apalagi, Bung?, katanya. Dinikmati saja, katanya lagi, ndak usah nesu, ndak usah mikir aneh-aneh. Mulutnya terus bergumam, menggeremang tak peduli.

Kusodorkan pada kenek duaribu perak. Hah?! Tak sopan sekali orang ini! Tangan kirinya ia sorongkan ditambah muka yang mengarah ke lain sisi. Oi, tak ada sopan santun di sini, Mas! Tak kan akan dihargai. Setidaknya itu kalau kau tak ikhlas. Bukanlah ikhlas tak butuh penghargaan?

Kacau. Kacau. Kacau! Ah, tapi sebentar lagi sampai. Tapi macet masih menggila!

Dan seorang berjenggot duduk tenang di belakangku, tepat. Celananya pendek di atas mata kaki dengan rompi mengurung kaosnya yang terlihat tua. Sebuah kopiah kecil menutupi kepalanya. Tangannya tak henti memutar selingkar tasbih. Bibirnya naik turun, dengan interval yang tak jauh. Sekiranya ia terus memohon pada Tuhan agar diberi keselamatan.

Betapa tidak, sopir Kopaja ini memang sedikit sinting. Mobil, atau gerobak, ini meliuk-liuk seenaknya di jalanan, sebelum akhirnya dihentikan paksa oleh kemacetan. Apa maunya sebenarnya? Gengsi?! Ah, gengsi macam apa ini. Tak jarang kami dibuat oleng ke kanan dan ke kiri. Dan sesekali aku hampir digeser habis oleh ibu jumbo sampingku. Untung kuda-kudaku sudah kusiapkan. Hap!

Beragam orang masuk ke kendaraan gila ini. Kepedulian dan ketidakpedulian tercampur aduk. Kekacauan berpadu impian ketenangan berintegrasi. Tapi semua satu, ingin sampai tujuan. Dan, kuharap bapak berjenggot tadi juga mendoakan kami semua, setidaknya sampai saja tak cukup, kami juga butuh selamat. Memang kau tak bisa doa sendiri? Doa orang banyak lebih mustajab.

Oya, satu hal yang terlewat, kotak ini, di sampaing kacau, juga jorok. Orang-orang tak tahu buang sampah di tempatnya. Tisu, bungkus permen, bekas wadah minuman tercecer merusak pandangan. Setidaknya buatku, tapi buat mereka yang tak tahu kebersihan, itu biasa, dan tak perlu dipikirkan. Buang-buang waktu saja!

****

Kawan, yang kau baca ini tak main-main. Kutulis sedetil-detilnya, sesungguh-sungguhnya. Biar kau tahu. Untung aku tak di Kopaja sialan itu lagi. Jadi tulisan ini bisa selesai. Ini sudah di kamar penginapan, yang setidaknya membuatku bisa cukup lancar menumpahkannya.

Sehari kemarin aku sudah menginap di kosan teman. Esok aku akan ikuti pertemuan pemuda se-Asia Pacific. Esok akan kutemui keberagaman lain dari beragamnya keberagaman di dunia ini. Keberagaman atas keberagaman, tak perlu didebat dan dirayakan. Ini kenyataan. Ada keberagaman di Kopaja, tak perlu cari jauh-jauh, atau ndakik-ndakik, dan ada keberagaman di esok juga. Dan waktu masih acuh saja; maju terus!

****

Jazz Muhammad

Selesai di Syahida Inn
UIN Ciputat, 10 Oktober 2010
Sehari sebelum Asia Pacific Interfaith Youth Summit 2010, 11-14 Oktober 2010



Wednesday, October 6, 2010

Jangan Sampai Sisa!

ilustrasi (arisrusman.web.id)
Mbok dihabisin sisanya!
Ah, males, udah kenyang

Kata Abraham Maslow, sebagai manusia, kebutuhan dasarnya adalah makan dan sebangsanya. Saya dan kamu adalah manusia ‘kan? Maka makan adalah kebutuhan dasar kita. Kalau kata ahli biologi, makan itu sumber energi untuk beraktivitas. Lalu kata pak ustadz, makan itu ibadah. Jangan bilang kalau kamu tak butuh makan! Bukan manusia berarti.

Maka kita harus makan! Memang itu kebutuhan dasar. Kalau tidak, bisa lemes. Tak bisa beraktivitas. Terus? Ke laut aja mas....hehe

Makan disebabkan oleh rasa lapar. Lalu kalau habis makan, maka kenyang. Udah tahu, Mas!

Tapi makan itu secukupnya. Jangan berlebih atau kurang. Artinya jangan sampai ada sisa atu juga sampai kekurangan. Saya teringat kata-kata Aa Gym. Beliau menyampaikan kalau, "Makan itu lebih baik nambah daripada sisa." Artinya? Ya kalau makan jangan kemaruk alias puo-puo alias rakus. Kalau makan itu secukupnya. Menyisakan makanan berarti menyia-siakannya.

Menyia-siakan berarti mubadzir. Kalau mubadzir berarti dosa. Lagi pula, masih banyak orang yang serba kekurangan, makan sekali sehari saja belum tentu. Terus kita malah buang-buang makanan. Hu...h!


sugiharto (detikfinance.com)
Suatu saat saya berkesempatan menonton langsung sebuah talk show bersama Pak Sugiharto. Ia adalah pengusaha sekaligus mantan menteri BUMN. Dia mengatakan kalau makan tak pernah sisa meski satu upo nasi. Kamu tahu kenapa? Ia adalah orang sukses yang mulai dari nol.

Ia tahu bagaimana rasanya hidup susah. Kerja serabutan, jadi tukang parkir, jadi penjaga bioskop. Ia tak mau ada sisa nasi dipiringnya. Ia tahu kalau mencari sesuap nasi itu susah.

Sementara kita yang kebetulan mendapat kemudahan malah saenake udele dhewe. Makan so' nyisa-nyisa. Alasannya sudah kenyang. Ya salah sendiri ngambilnya kebanyakan. Atau ya coba-coba saja.

Kadang kita berpikir kalau sisa makanan itu tak seberapa. Tak akan ngefek pada hidup. Tapi, kalau kita mau berpikir sejenak, maka sebenarnya berusaha makan tak bersisa itu adalah wujud hidup penuh penghargaan. Kita menghargai sesuatu mulai dari yang kecil. Mulai dari hal yang sepele seperti sisa makanan.

Kita menghargai bagaimana petani “menghidupkan” padi lalu meramutnya hingga menguning. Tak tahu matahari terik, mereka kebaskan batang-batang jerami di persawahan. Digiling, dikemas di pabrik, lalu sampai ke dapur kita. Tetapi, yang paling penting adalah kita menghargai pemberian Tuhan. Kita mensyukurinya, sebaik-baiknya.

Solusinya? Persis apa yang dikatakan Aa Gym. “Lebih baik nambah daripada sisa!” Jadi ngga ada alasan kalau sudah kenyang. Saya kira Aa Gym mengajak kita untuk sejenak berpikir sebelum bertindak. Jangan sampai ada yang sia-sia.

Masih banyak orang yang belum beruntung seperti kamu juga aku. Bayangkan, kebutuhan dasar saja mereka tak tentu bisa memenuhinya. Untuk makan besok saja masih belum pasti. Masih tega nyisain makanan?