Friday, August 27, 2010

Report Medio Agustus: Dari Bulan Spesial sampai Antikorupsi

(KOMPAS/PRIYOMBODO)
Seperti biasa, dasar anak malas, membuat report selalu telat. Ya Allah, semoga Engkau ampuni diriku ini! Memang ini kesalahan, tetapi kalau terulang, ini menyedihkan, dan aku sudah pasti bagian dari orang-orang yang menyedihakn itu. Oh, Tuhan, ampuni aku ini!

Baiklah, sekarang aku ingin bicara yang lain. Biarpun telat, report harus dilanjutkan. Oke?!

Bulan spesial
Minggu-minggu awal Agustus tentu menjadi sedikit spesial daripada bulan-bulan yang ain. Ini bulan kemerdekaan. Bulan dimana negeri ini merengkuh kejayaannya di muka bumi ini. Di bulan ini, 65 tahun yang lalu, atmosfer masyarakat berubah dari ketergantungan, mendadak menjadi sebuah kemandirian untuk terus berbenah. Tujuh belas Agustus 1945 lalu benar-benar menjadi pintu gerbang kemerdekaan hakiki negeri ini, yang sayangnya belum tercapai.

Di bulan ini juga dimulai awal bulan puasa, bulan Ramadhan. Bagiku, yang muslim ini, bulan ini akan menjadi bulan paling spesial sepanjang tahun. Di bulan ini, ibadah akan dihargai lebih oleh Tuhan. Maka orang akan ramai bersembahyang di masjid-masjid, di surau-surau dan di rumah-rumah. Gempita Ramadhan benar-benar menjadi momen pembersihan bagi manusia yang memang dasanya bersalah dan berlupa.

Soal kampus
Di awal-awal bulan ini kegiatan Duta Paramadina lebih difokuskan pada kegiatan seleksi mahasiswa baru. Kampusku, Universitas Paramadina kini mengalami masa-masa regenerasi, seperti halnya kampus lain. Kami menerima mahasiswa baru melalui seleksi tulis dan wawancara.

Yang unik dari seleksi ini, wali yang mengantar putra-putri calon mahasiswa kemudian dikumpulkan di taman kampus, “Taman Peradaban” namanya. Kami berbincang banyak soal harapan, soal suasana kampus, pengajaran kuliah, hingga alasan mengapa ujian harus disertai wawancara.

Aku dan Duta Paramadina lainnya disilakan untuk menyampaikan realitas kampus kami kepada mereka, para wali. Tentu kami harus netral. Kami sampaikan bahwakelemahan kampus ini adalah kampus ini kecil, kampus ini mahasiswanya sedikit, kampus ini masih baru, kampus ini tentu tak sebanding dengan kampus-kampus tua lainnya, dan kampus ini swasta. Pernyataan terakhir, bahwa kampus ini swasta, dalam konteks Indonesia memang harus terpaksa dimasukkan dalam kategori "kelemahan" karena paradigma negeri-centered terlalu kuat menimbun-nimbun objektivitas berpikir orang-orang negeri ini.

Tetapi aku dan teman-teman tetap sampaikan bahwa kami berada di kampus yang tepat. Kami memiliki mimpi dan kami yakin kampus ini bisa mengantarkan kami ke sana. Meski kecil, kampus ini memberikan kami network yang luas kepada mahasiswa. Tenaga pengajar yang muda-muda akan menjamin transfer ilmu menjadi seimbang. Ruang kelas menjadi ajang diskusi. Dosen bukan sumber ilmu satu-satunya. Mahasiswa pun punya hak bicara, hak setuju, dan hak bantah. Bukankah memang seharusnya kuliah itu demikian?

Salah seorang wali sempat bertanya, bagaiamana jika ada mahasiswa yang nonmuslim masuk Paramadina. Pak Wija, Deputi Rektor III yang selalu mendampingi kami menjelaskan bahwa kampus ini membawa nilai-nilai agama sebagai dasar penyelenggaraan perkuliahan, bukan simbol-simbol keagamaan. Kami percaya bahwa nilai-nilai Islam itu universal dan bisa direguk oleh siapapun. Karena, pada dasarnya nilai Islam ini akan menyatu pada keserasian dunia yang sejalan dengan nilai-nilai dasar universal agama-agama lain: kesantunan, keramahan, disiplin, semangat berkebaikan, semangat sosial dan tentunya semangat berketuhanan.

Oya, mungkin di kampus kami yang unik adalah adanya matakuliah aneh. Mata kuliah antikorupsi namanya. Katanya, ini yang pertama kali di dunia. Dimana-mana, matakuliah ini tergabung dengan matakuliah etika.

Matakuliah bikin boke’
Matakuliah ini mengajarkan kami bermacam-macam serba-serbi korupsi, dari dalam negeri maupun luar negeri. Ada yang namanya petty corruption, yakni korupsi kecil. Juga ada grand corruption, korupsi yang besar. Kami dikenalkan dengan beberapa konsep mengenai antikorupsi beserta badan-badan pemerintah maupun yang nonpemerintah yang terlibat dalam pemberantasan korupsi. Mulai dari KPK, YLBHI, Tiri, TII, sampai ICW.

Aku baru tahu kalau dampak korupsi begitu massif: lesunya perekonomian, meningkatnya kemiskinan, tingginya kriminalitas, demoralisasi, kehancuran birokrasi, terganggunya sistim politik dan pemerintah, dan buyarnya masa depan demokrasi, serta runtuhnya penegakan hukum.

Di akhir kuliah, kami disilakan untuk melakukan investigasi kecil-kecilan. Kami dikelompokkan dan setiap kelompok harus melakukan sejumlah penelitian soal korupsi yang “di sekitar kita”. Kami mengambil korupsi yang berjenis kecil atau yang tadi kami sebut petty corruption, tadi. Korupsi ini memang benar-benar kecil dan sering terlewat. Keterlewatan ini bukan hanya karena tidak tahu, tapi juga karena terlalu sering dilakukan. Ora krasa jalaran kulina!

Yang termasuk tindakan yang baru aku tahu dan sering terlewat seperti pemalsuan bukti bayar kuliah. Jadi di suatu tempat, jasa pemalsuan ini laris manis oleh mahasiswa-mahasiswa yang mau “neken” orang tuanya. Parah! Kalau yang kategori sering kelewatan itu seperi kasus tilang. Ya, tilang yang sering dilakukan sama polisi. Kebanyakan kita ‘kan maunya cepet, bayar, abis itu beres.

Yang unik, temen-temen yang investigasi bener-bener merelakan diri di-tilang. Sekali tilang seratus ribu dibayarkan, uang pun terbang “melayang”. Lalu ketika presentasi, mereka ditanya seorang dosen, “’Kan ini investigasi, hasilnya ‘kan harus valid, nah, berapa kali kalian lakukan ini?”

“Lah, ya sekali aja lah, Bu! Bisa boke’ kalau terus-terusan…”


Friday, August 20, 2010

Masa Bodoh itu Penting, Lho…

 (http://photography.nationalgeographic.com/)
Heh, elo menang ngga?
Ya, Alhamdulillah juara tiga
Ah, apaan itu? Gue nih juara satu!!!

Baca judulnya, pasti kamu langsung bilang, konteksnya apa dulu? Masalahnya apa dulu donk? Ya maklum kalau tanya seperti itu. Masa bodoh memang identik dengan sikap acuk tak acuh. Sikap tak peduli terhadap orang lain. Sebuah respon negatif terhadap stimulus yang muncul dalam kehidupan. Simple-nya sikap ini identik dengan sikap negatif.

Umumnya, sikap acuh selalu diidentikkan dengan keengganan untuk melihat kesusahan orang lain. Jadi, sikap ini akan memiliki nilai relasi negatif bila dihadapkan dengan keburukan, penderitaan, lalu penindasan dan sebagainya. Masa bodoh ini bikin dosa. Tapi bagaimana kalau dibalik? (Maksudnya, Mas?)

Oke, bagaimana kalau yang dihadapi dengan sikap masa bodoh adalah prestasi orang, atau juga kesuksesan orang lain. Loh, emang ada? Ya iyalah. Inilah saat dimana masa bodoh itu jadi positif, bahkan bisa dibilang penting. Oke, Gue jelasin dulu ya…

Ketika kamu memenangkan sebuah kompetisi, atau mungkin mendapatkan nilai yang bagus, mungkin sebagian teman akan merasa senang. Tapi, kenyataannya, ada saja yang sinis dan dengan ketus mencoba mencari-cari bin mengorek-korek kesalahannya. Tujuannya satu, mencari titik lemah dari kesuksesan tersebut untuk selanjutnya dijadikan senjata untuk bilang, “Aa..h terang aja elo kan bla..bla..” atau, “Ah, gitu aja gue juga bisa, lebih bagus malah!” Dalam hatinya bisa ditebak kalau dia ngga rela orang lain sukses.

Kalap kalau denger orang lain sukses!

Saya sendiri punya teman. Dia begitu gethol untuk mengikuti lomba. Ya saya akui ia berhasil memenangkan beberapa kompetisi. Tapi ada sedikit yang saya kurang suka. Ketika ada teman lain juga memenangkan lomba, wow, responnya begitu ekspresif. Tapi ekspresif yang tak rela. Kemudian ia menceritakan kesuksesannya untuk menandingi wacana sukses teman lain yang juga menang lomba.

“Elo juara itu ya? Ah, aku lho juara ini.. ini.. ini”

Kadang saya sebel, tapi seringkali sebel banget. Tapi saya masa bodoh saja. Peduli amat dengan hal itu. Toh, apa yang terjadi telah terjadi. Bahasa Sundanya bodho teuing!

Inilah yang saya mau sampaikan. Seharusnya kita masa bodoh dengan kesuksesan orang lain. Inilah masa bodoh yang positif. Artinya, ya sudah, terima kesuksesan orang lain dan kemudian ikut merasakan senang. Bagi saya hal itu akan lebih memberi manfaat. Teman kita senang. Kita juga senang. Jadinya win-win solution.

Kita tak perlu membanding-bandingkan pencapaian kita dengan orang lain. Biarlah orang lain sukses dengan bidangnya, dan kita dengan bidang kita sendiri. Biarkan mereka senang dan kita dengan kesenangan kita sendiri. Ujung-ujungnya masa bodoh 'kan? Tapi masa bodoh yang positif bukan berarti acuh saja, tetapi memiliki tambahan apresiasi pada orang lain. Kita tidak mengorek dan membanding-bandingkan prestasi orang lain, tapi malah kita memberi apresiasi setinggi-tingginya.

Kita punya tujuan sendiri yang sudah tentu berbeda dengan orang lain. Maka kesuksesan pun tak bisa dibanding-bandingkan. Apalagi mengorek-koreknya.

Saya pernah membaca koran nasional yang menuliskan quote-quote para ahli. Sang ahli bilang, “Kesuksesan orang itu adalah ketika ia membandingkan kesuksesannya dengan apa yang direncanakan, bukan dengan kesuksesan orang lain”. Hmm…(*)


Friday, August 13, 2010

Gengsi, Mahal Coy…

ilustrasi (wikipedia.org)
Kau makan siang dimana?
Gue di Plangi
Gue di Sensi, elo?
Di warteg……..
Ha…ha….ha

Kalau Kamu makan siang, di mana? Tak usah di jawab. Karena bagi saya tak penting jawabannya. Tapi, bagi beberapa orang, adalah penting jawaban itu, sangat penting. Di mana Kamu makan, di situlah harga kamu. Itulah harga diri Kamu. Maksudnya?!

Sebelumnya saya jelaskan maksudnya percakapan yang membuka tulisan saya kali ini. Kalau Kamu di kota yang metropolis, macam Jakarta, saat seusai makan siang, sering ada diskusi kecil-kecilan di tempat kerja. Ada yang bertanya mengenai tempat kamu makan. Kedengarannya aneh buat orang di daerah. Makan ya makan, just that. Not more not less.

Oya, Plangi singkatan dari Plaza Semanggi, dan Sensi itu Senayan City. Kedua-duanya mall terkenal di Jakarta, Bro….. tahu ngga apa mall itu? Hehe..Pis2

Bagi orang yang hidup di metropolitan adalah penting orang itu menentukan di mana tempat untuk makan. Kamu akan dihargai ketika bisa makan di tempat yang elite. Kamu akan disanjung ketika bisa makan di resto terkenal. Wow, keren! Tapi ko’ gitu ya…

Ini tentu akan jauh berbeda bila kamu makan di warung punya strata paling rendah dalam hal tempat makan, yakni tak lain dan tak bukan adalah "warteg", alias warung tegal. Ketika kamu bersama dengan teman-temanmu yang habis makan di mall, lalu kamu sendiri habis makan di warteg, maka kamu tak punya kedudukan yang sama dengan yang lain. Kamu akan terlihat lebih rendah.

Sebenarnya apa yang di cari orang-orang itu? Saya jawab gengsi. Ya, G.E.N.G.S.I. Makan di tempat mahal adalah prestigious. Adalah yang bisa ke sana tentu orang-orang yang berduit, berkantong tebal. Karena memang harga makanannya selangit. Oleh karena itu, kadang juga muncul keinginan untuk disamakan atau minmal dianggap sebagai orang yang berkantong tebal itu.

Sekarang saya alihkan pembahasan ke masalah yang lebih substantif. Hah, apaan tuh?

Hakikat makan 'kan ya buat kenyang. Tak lebih. Kalau ada, itu relatif. Tergantung apa yang sedang dihadapi oleh orang yang ingin makan.

Tapi, meskipun inti makan itu ya cuma biar kenyang, mengapa orang itu rela mengeluarkan uang yang jauh lebih banyak untuk just makan. Apa yang di cari? Gengsi lagi. Gengsi itu mahal, Coy! Adalah sangat menyenangkan bila kau ditanya, “Makan dimana?” lalu kamu menjawab,”Di sana lho, ditempat mall yang punya resto terbaik itu.” Tapi, tentu kocek yang dikeluarkan juga lebih banyak.

Lalu kemudian saya tanya, apa sama kenyangnya orang tak punya dengan orang punya? Jawabannya absolutely much the same. Ya, sama. Tak kurang tak lebih.

Tapi kemudian gengsi menjadikannya berbeda. Gengsi menjadikan orang menjadi tak bisa melihat hakikat kebutuhannya. Semua diukur oleh materi. Demi gengsi, sebuah konsekuensi harga yang lebih tinggi pun diambil. Ya kalau boleh dibilang, ini sudah ngga rasional.

Saya sendiri juga bingung. Irrasionalitas itu seakan sudah tertanam. Siapa sih yang tak senang punya gengsi tinggi lalu dipuji. Oh, rasanya sudah kayak jadi yan terbaik aja……

Tapi jangan sampai irrasionalias itu mengubur rasionalitas kita. Hakikat hidup harus kita gali lebih dalam. Kita harusnya sadar bahwa gengsi tak akan memberi solusi. Yang ada hanya basa-basi yang berujung pada diri yang merugi.

Boleh saja gengsi, tapi ya sekali-kali. Karena pada kenyataannya kadang gengsi juga sebuah fakta yang tak bisa ditolak. Umpama kamu diundang makan di Plangi, ya mau ngga mau diusahakan datang.

Jadi, memiliki gengsi itu tak apa. Tapi, membanggakan gengsi itu lalu merendahkan yang lain seraya bertinggi hati adalah hal yang harus dijauhi.(*)


Saturday, August 7, 2010

Report Akhir Juli: Dari Kuliah dan Kuliah.....

Tidak banyak yang aku lakukan di minggu-minggu terakhir Juli ini. Kegiatan kuliah semester pendek juga begitu-begitu saja. Bahkan, sekarang telah mendekati masa akhir kuliah dan sebentar lagi ujian. Ya, ujian, sebentar lagi.

Aku selalu berdebar ketika ujian. Dan, seringkali perasaan ingin escape dari momen itu sungguh kuat. Lebih baik tak ada ujian. Tapi apa demikian benar? Oke, mari berpikir sedikit jernih. Kalau mau menelisik lebih dalam, maka ujian ini sebenarnya adalah pintu gerbang. Sebuah pintu gerbang menuju jenjang dengan tingkat standar lebih tinggi. Jadi, simple saja, kalau mau lebih baik, maka ujian harus dilalui. Dan kalau tak mau ujian berarti tak bisa jadi lebih baik ‘kan? Mudah, tapi sulit.

Soal wirausaha
Kali ini, kuliah yang aku sukai adalah kewirausahaan. Aku beruntung mendapatkan pengajaran mata kuliah ini. Kewirausahaan ini memiliki dua pemaknaan: sempit dan luas. Dalam hal pemaknaan sempit, kami, mahasiswa Paramadina diajarkan untuk kelak menjadi wirausaha-wirausaha yang mampu menciptakan lapangan kerja untuk menghadapi kenaikan pertumbuhan penduduk yang tak seimbang dengan penyediaan lapangan pekerjaan dari pemerintah.

Namun, dalam pemaknaan luas, maka kewirausahaan ini, seperti dikatakan dosenku, adalah semangat untuk berinovasi dan kreatif apapun keadaaannya, baik menjadi karyawan atau tidak, menjadi ilmuan, menjadi pendidik, atau apapun. Kewirausahaan dimaknai sebagai sebuh pola pikir yang mendasarkan semangat memberi manfaat (giving benefit) bukan mengambil keuntungan (taking profit).

Coba kalau orang-orang itu semua memiliki semangat kewirausahaan baik dalam pemaknaan sempit maupun yng luas. Wah, dunia ini akan damai ‘kan?

Sibuknya kampus
Sementara, kampusku sedang sibuk mempersiapkan kedatangan mahasiswa baru baik yang regular maupun jalur fellowship, atau lebih dikenal dengan Paramadina Fellowship (PF). Mengenai jalur regular, sejauh ini perkembangannya cukup baik. Paramadina meyelenggarakan tes masuk tiap tiga minggu sekali. Sudah banyak mahasiswa yang bergabung. Kami, dan aku sendiri cukup senang dan bangga. Untuk itu, aku sampiakan selamat bergabung dengan insitusi yang akrab kami sebut small but giant ini!

Kalau soal PF, tanggal 31 kemarin adalah puncak dari tahapan seleksinya. Banyak aplikasi yang masuk dan ternyata hanya beberapa yang bisa bergabung. Beberapa kawan sempat kotak denganku lewat facebook. Ada yang lolos dan ada pula yang tidak. Untuk yang telah tersemat namanya sebagai penerima fellowship, silakan segera persiapkan diri, silakan datang dan berjumpa nanti di Jakarta, Ibukota negara ini!

Sementara, yang belum masuk, aku selalu sampikan kalau PF bukanlah ukuran kesuksesan. Sukses bisa dari mana saja dan Paramadina hanya satu dari jutaan kesuksesan yang Allah Swt sebarkan di muka bumi ini. Silakan kembarakan lagi upaya, Kawan-Kawan. Aku yakin, kesuksesan lain telah menunggu, mungkin bukan sekrang, tetapi sebentar lagi dan tentu butuh sedikit tambahan energi dan pikiran lagi.

Kampus kami juga akan melepas keberangkatan kontingen tari tradisional (T-ta Paramadina) ke Polandia kelak tanggal 7 Agustus. Kemarin, juga pada 31 Juli, acara seremonial pelepasan dilangsungkan. Meski aku tak sempat mengikutinya, aku yakin itu pasti absolutely incredible. Aku tetap menyimpan sejuta harapan untuk kesuksesan dan keselamatan kawan-kawan, sungguh-sungguh. Kepulangan kalian tak hanya berarti nama baik Kampus ini, tetapi juga Bumi Pertiwi tercinta ini.(*)



*sumber gambar bisa di-klik langsung pada gambarnya.

Report Medio Juli: Dari SP sampai Tarekat Fesbukiyah

Kali ini telah sampai medio Juli. Tak terasa 2010 ini sudah setengah lebih berlangsung. Banyak hal yang sudah kulalui hingga kali ini. Beberapa waktu lalu semester IV dan kini adalah semester pendek (SP) kedua. Maat kuliah yang “umum-umum” jadi bahan belajar : Kewirausahaan, Pancasila, dan Antikorupsi.

Alhamdulillah, hasil semester genap (IV) itu cukup memuaskan. Masih dalam koridor harapan awal. Minimal beasiswaku masih dalam posisi aman. Maklum, sebagai seorang yang seolah gratisan, ada konsekuensi yang harus kulaksanakan.

Kegiatan sehari-hari akhir-akhir ini sering dipenuhi oleh “fesbukan”. Maklum, di kampus ada wifi, pun di asrama. Di dua tempat itu aku leluasa akses internet untuk email, blog, fesbuk atau sekedar surfing cari-cari berita dan bahan bacaan lainnya. Tapi yang jelas fesbuk menempati urutan teratas soal intensitasku dalam memakainya.

Aku jadi ingat soal tulisanku di blog beberapa waktu lalu soal fesbuk. Aku tulis soal sebuah aliran kebatinan baru yang menjadikan layar monitor menjadi alat ritusnya, sebuah kebaktian berupa ngetem di depan fesbuk, tepatnya. Ya, inilah sebuah tarekat baru yang bernama, meminjam istilah G. Muhammad, Tarekat Fesbukiyah. Sebuah tarekat yang aneh.

Tapi aku akui, fesbuk sedikit banyak memberiku manfaat. Beberapa kali aku dapatkan quote menarik dari berbegai sumber. Aku tuliskan itu sebagai statusku. Ya, niatnya sih bagi-bagi semangat. Salah satunya dari Pak Rektor sendiri

“When you are thinking the future, so you are young, then when you are thinking the past, you are old… (Baswedan, 2010)”


“Aku melihat indahnya dunia, di kota-kota yang berbeda, nyata sekali... ini mimpiku...(Ini Mimpiku, Claudia Sinaga)”

Oya, ngomong-ngomong bagi semangat, kampusku kali ini dapat kesempatan baik untuk unjuk gigi di kancah internasional. Salah satu UKM bertitel T-ta Paramadina, sebuah UKM yang konsen pada tari tradisional, akan berangat ke Polandia 7-23 Agustus untuk ikut beberapa festival kebudayaan di sana.

Sebagai apresiasiku, aku tuliskan uneg-unegku pada event itu. Aku tuliskan sebuah prosa pendek dengan judul “Selamat Jalan, Pemahat-Pemahat Mozaik Negeri!”. Aku post tulisan itu ke fesbuk. Alamdulillah, tanggapan baik dari personil T-ta maupun yang lain cukup baik. Hingga akhirnya, tulisanku itu akan dicetak pada booklet T-ta saat gelar pamit nanti 32 Juli.

Dari fesbuk, aku juga dapatkan beberapa teman baru yang ingin tahu Paramadina. Ada bebrapa teman yang komen di wall Paramadina. Aku bantu untuk menjawab beberapa pertanyaan yang muncul.

Sesekali aku juga terlibat chat dengan orang yang ingin tahu soal Paramadina. Aku sendiri cukup antusias menjawabnya. Bukan karena apa-apa, karena aku cinta kampus kecil ini dan sejenak aku tumpukan masa depanku padanya, yang setidaknya masih tersisa 1,5 tahun lagi.



*sumber gambar bisa di-klik langsung pada gambarnya.

maaf ini telat karena kuliah menggila....

Saturday, July 17, 2010

Selamat Jalan, Pemahat-Pemahat Mozaik Negeri!

Adalah sebuah kebanggaan yang tiada tara ketika sesorang bisa menjadi wakil sebuah entitas yang amat dicintainya. Ini adalah momen terbaik ketika sesorang telah didapuk menjadi the front line troopers of the nation. Mereka benar-benar menjadi the first impression bagi seluruh kapasitas yang dimiliki.

Sebenarnya tanggung jawabnya bukanlah pada lapisan terdepan saja, tetapi pada seluruh lapisan hingga yang paling dalam. Namun, tanggung jawab the front liner menjadi lebih penting karena ketika mereka terjebak kegagalan, maka keindahan-keindahan pada lapisan-lapaisan selanjutnya akan menjadi barang usang yang tak pernah akan orang berkenan melihat, atau bahkan sekedar melirik. Maka, adalah pantas untuk menyematkan perhatian penuh pada the front liner ini.

Dalam konteks ini, T-ta Paramadina (T-ta) sejenak kiranya akan menjadi the front liner itu. Berdiri sejak April tahul lalu, T-ta telah mecatat beberapa keberhasilan. Sebagai oragnisasi kemahasiswaan yang berupaya melestarikan tarian tradisional, T-ta berhasil menebar pukau dan pesona pada mata-mata pengunjung seminar, workshop, dan kegiatan lainnya dalam skala nasional. Dan kini, sebentar lagi, mereka masih akan menyajikan tampilan gerak tari nusantara, tetapi dalam konteks yang lebih besar, konteks internasional, konteks dunia.

Bukan Pada 7-23 Agustus 2010, teman-teman dari T-ta yang berjumlah 23 orang akan mengikuti dua festival kebudayaan berskala dunia di Polandia. Adalah acara bertajuk World Folk Review Integration 2010 yang menjadi ajang pertama yang akan dilakoni. Festival besar yang digagas oleh seorang Dariusz Majchrowicz, seorang manajer artistik, direktur and koreografer grup Folk Dance "Poznan", ini akan berlangsung pada 8-16 Agustus 2010 di Kota Poznan. Semoga sukses T-ta!

Hari berikutnya, 17 Agustus 2010, bertepatan dengan hari kemerdekaan negeri tercinta ini, T-ta akan melawat ke KBRI (Kedutaan Besar Republik Indonesia). Tentu ini akan menjadi sebuah kebanggaan tersendiri ketika orang-orang Indonesia yang berada di sana bisa kembali merasakan keindahan mozaik kebudayaan dari negeri mereka yang separated away. Ini ‘kan menjadi pelepas dahaga kerinduan akan suasana negeri yang terpisah jauh. Semoga berhasil T-ta!

Hingga pada 18-23 Agustus 2010, kawan-kawan T-ta akan melibatkan diri pada Internasional Folk Festival di kota bersejarah Warsawa. Sebuah perjuangan yang tak mudah. Selama dua minggu mereka akan menjadi “tameng muka” bangsa ini. Maka jangan anggap kalau ini adalah tugas mudah, jangan anggap ini tugas sepele yang bersikan jalan-jalan santai ke luar negeri, tetapi adalah tanggung jawab besar atas nama besar negeri Bumi Pertiwi ini, juga pada entitas pendidikan bernama Paramadina.

Embanan tanggung jawab itu menjadi sangat penting untuk dihargai karena dalam konteks finansial, aktivitas ini pun benar-benar didukung hasil jerih payah yang diperas langsung dari setiap ide-ide kawan-kawan T-ta dalam meluluhkan hati para sponsor soal urgensitas kegiatan ini.

Tecatat beberapa sponsor pun tak segan ikut bergabung seperti Bank OCBC NISP, Grand Indonesia, PT Djarum, Rajawali Group dan sponsor utamanya Global Media Group. Bergabungnya institusi-institusi tersebu juga tak terlepas dari dukungan pihak Kampus Paramadina lewat aksi tanggap seorang Wijayanto, salah seorang deputi rektor. Terima kasih, Pak!

Kesungguhan T-ta dalam menggalang pendanaan juga ditunjukkan melalui komitmen mereka dengan “merelakan diri” berjualan makanan kecil, baik dengan diam-diam (klandestin) atau juga terang-terangan, di beberapa tempat seperti Senayan, Monas, Ragunan, Museum juga mendirikan stan penjualannya di kampus. Acara manggung “tanpa bayar” pun mereka lakoni demi kesuksesan kegiatan ini.

Di sana, kawan-kawan T-ta ‘kan memberikan sajian terbaik mereka dalam tari-tari tradisional negeri seperti Tari Sedati dari Aceh, Tari Lenso dari Maluku, dan Tari Betwai juga Tari Saman, Tari Kalimantan, dan Tari Zapin. Beragam tarian itu akan mereka bawakan demi keluhuran citra negeri kaya Budaya ini, Indonesia, sebuah negeri yang terdiri dari 17.504 pulau, 10.068 suku bangsa, 615 bahasa, 3.025 spesies binatang, 47.000 jenis tumbuh-tumbuhan, 300 gaya seni tari, dan 485 lagu daerah, yang Segala sesuatunya teriikat dalam satu ikatan Bhinneka Tunggal Ika dan rasa cinta Tanah Air, bangsa, dan negara (Kompas, 2010).


Pemahat
Maka, bila dibayangkan, T-ta ini pemahat sekaligus penjual mozaik berjalan yang siap sampaikan pada dunia akan eksistensi keunikan dan keagungan budaya Nusantara ini. Dengan penuh semangat saya sampaikan, Selama jalan, Kawan! Perjuangan ini bukan sebuah hal yang mudah, yang bisa dianggap sekedar jalan-jalan, tetapi ini adalah misi mulia, sebuah perjalanan penuh tanggung jawab atas sebuah entitas yang bukan main-main.

Sudah barang tentu tak semua orang bisa mendapatkan kesempatan emas seperti ini. Kini, nama baik mozaik nusantara ada di tangan mereka. Apapun tidakannya, akan menjadi preseden yang signifikan efeknya.

Tanggal 31 Juli 2010 kelak, adalah acara Gelar Pamit yang akan diselenggarakan. Saya harap momen ini benar-benar menjadi titik tumpu lecutan semangat kawan-kawan T-ta. Mereka ini pemahat-pemahat mozaik negeri yang dengan susah payah akan berjualan di negeri lain. Yang diharapkan bukanlah hasil penjualan, tetapi kepuasan serta optimisme bahwa mozaik itu kan dapat penghargaan oleh dunia.

Terakhir, saya tak mungkin terlibat langsung dalam kegiatan mulia ini. Namun setidaknya tulisan ini bisa mewakili kegembiraanku yang tak diduga ikut menyeruak ke permukaan perasaan atas perjuangan ini. Selamat jalan selamat berjuang, Kawan-kawan!

Kalian akan terbang dengan banyak beban, tapi semoga pulang dengan banyak gegap gempita kegembiraan yang kan langsung menyebar laksana awan yang menyelimuti gunung. Sebuah selimut kepuasan akan capaian terbaik saya, dan mungkin oleh teman-teman lain, tunggu-tunggu. Karena mungkin selama kalian pergi, kami kedinginan dalam ketidaktahuan yang berpadu dalam sebuah penantian yang mendebarkan. Semoga sukses, Kawan-kawan!


****

Tulisan ini saya khusus persembahkan untuk Keberangkatan T-ta Paramadina ke Polandia 7-23 Agustus 2010. Semoga sukses, Kawan!

Jazz Muhammad
Jakarta, 8 Juli 2010

Selesai di pojokan kamar sehabis bercerita ria dengan salah satu personil T-ta Paramadina..


Kalau berkenan, sila berkunjung juga pada Gelar Pamit T-ta Paramadina


Tuesday, July 13, 2010

Berani Memimpin

Siapa yang mau mimpin?
Dia, dia, dia Bu…
…..
Saya Bu!
Ha..ha..ha…

Pernahkah Kamu diminta untuk memimpin? Kalau jawabannya ya, maka baca lanjutan tulisan ini, tapi kalau tidak, ya juga lanjutkan. Loh? Tapi ngga maksa ko’..pis2

Tulisan saya kali ini dibuka dengan secuplik percakapan yang sering kita temui. Mungkin dulu saat SD. Seorang guru meminta salah seorang muridnya untuk memimpin doa atau salam atau membaca Pancasila. Tapi kemudian kelas bergemuruh oleh tindakan siswa-siswi yang saling tuding, menunjuki temannya. Dia bu..dia bu..!

Lalu ada salah seorang siswa yang berdiri lalu berkata, “Saya, Bu!” Dengan lantang ia mengucapkannya. Tapi bukan ungkapan bangga yang muncul dari teman-temannya kelas itu. Yang ada adalah tertawaan teman-teman. Tertawaan bernada meremehkan. Emang dia bisa?

Inilah masalah anak muda zaman ini. Ketika mereka diminta menjadi pimpinan, mereka bersembunyi di belakang dan menutupi ke-cemen-annya dengan saling tuding siapa yang pantas memimpin.

Tapi, ketika ada yang tampil menjadi pemimpin, semuanya geger. Mempermasalahkannya. Dilematis memang. Muda-mudi ini tak senang bila ada temannya yang tampil menjadi pemimpin mereka. Ko’ gitu ya? Ya gitu…

Memang ini yang perlu disadari oleh saya dan juga kamu. Sering kali kita malu dan takut untuk memimpin, tapi ketika kepemimpinan itu dibutuhkan, kita malah mencemooh teman kita yang tampil, seakan tak rela dia berada satu tingkat di atas kita.

Sekarang bahasannya adalah bagaimana menjadi pemimpin agar di cintai dan dihormati oleh yang dipimpin. Hal ini sangat penting karena realitanya, pemimpn dan yang dipimpin sama-sama manusia. Sama-sama makan nasi. Jadi lumrah kalau ada yang jealous kalau dipimpin sesamanya. Ya kayak anak SD tadi…

Setidaknya menarik untuk menilik pesan Bu Mega, Presden RI ke-5 yang memberi tips kepemimpinan (Media Indonesia, 8/2/10). Pertama, kejujuran. Menjadi pemimpin harus berani mengakui kekuarangan dan kelemahannya, bukan hanya kekuatannya. Kalau memang membutuhkan bantuan ya bilang. Jangan karena telah menjadi pemimpin, terus jaim bin gengsi. Ah emang gue siap, elo siapa?

Kedua, kerendahan hati. Pemimpin harus bisa merasa setara dengan yang dipimpin. Tak ada yang beda. Yang beda hanya posisi strukturalnya. Secara sosial, sama saja. Jadi kalau sudah jadi pemimpin, terus senaknya sendiri, wah ngga bener itu!

Ketiga, keteguhan. Pemimpin sudah seharusya memiliki sikap tegas terhadap keputusan yang diambil. Pemimpin juga harus seteguh dalam pendirian. Bahasa jawanya, Ojo mencla-mencle!


Keempat, kesabaran. Inilah yang membuat orang layak memimpin. Sabar dalam menghadapi masalah. Baik dari yang dipimpin ataupun dari lingkungan sekitarnya. Pasti ada saja masalah yang timbul dari hubungan kepemimpinan. Lebih-lebih terjadi salah paham atau perbedaan pendapat. Kalau berbeda itu wajar. Yang tak wajar kalau perbedaan itu disikapi dengan emosi dan lalu menimbulkan perpecahan.

Yang terkahir, pemimpin harus ikhlas. Pemimpin harsu dengan sukarela melaksakan tugas mulianya. Kesuksesan kerja tentu menjadi tujuannya. Ya-iyalah, mana ada yang mau gatot, alias gagal total.
Seorang pemimpin harus menjadi pribadi yang penuh rasa ikhlas dalam mengabdikan diri pada apa dan siap ayang ia pimpin. Ya namanya pemimpin itu kan sebenarnya pelayan. Karena, pemimpin itu adalah ssorang yang ditunjuk untuk megarahkan orang lain. Ya artinya melayani orang lain untuk bisa mencapai tujuan bersama.

Bagaimanapun orangnya, darimanapun asalnya, sudah seharusnya menyadari bahwa mereka adalah pemimpin. Lho ko’ bisa? At least mereka ataupun kita jadi pemimpin diri sendiri. Ya ngga? Ayo berani memimpin!(*)

(Tulisan ini di-post kembali untuk just remembering aja... buatku ya buatmu....)



*sumber gambar bisa diklik langsung pada gambarnya

Saturday, July 10, 2010

Report Akhir Juni

Minggu kedua Juni, masih sama seperti sebelumnya. Beberapa teman add dan dikonfirm. Ada yang ingin daftar masuk regular, atau juga teman-teman yang deg-degan menunggu penyematan nama-nama penyandang beasiswa PF 2010(Paramadina Fellowship 2010—sekarang adalah angkatan ketiga, dan semoga Allah Swt akan memberi jalan untuk terus lanjut).

Saya berinisiatif menuliskan semacam motivasi di wall Paramadina. Alhamdulillah dapat sambutan baik, baik yang komen atau sekedar like. Beberapa kali aku chat dengan teman bicara soal paramadina. aku juga masih aktif di blog meski hari-hari ini off karena kemarin PLC (Paramadina Leaders Camp—semacam camp pelatihan kepemimpinan untuk setiap mahasiswa baru Paramadina, kalau di UI, zaman Hok-gie, dulu ada semacam kegiatan naik gunung). Berikut kutipannya

“Untuk seluruh Kawan-Kawan Budiman, sekiranya satu bulan lagi PF 2010 akan menyematkan nama-nama terbaiknya.
Yang tersemat, ribuan kata Selamat aku sampaikan dan sila dengan semangat penuh mimpi bergabung dengan kami...
Yang belum, sekiranya bijak untuk selalu berpikir positif... Paramadina bukanlah ukuran kesuksesan, karena mungkin Tuhan telah siapkan jalan kesuksesan lain untukmu sekalian...”

Dan akhirnya report ini pun telat juga.

Aku sempat berdiskusi dengan teman soal masa depanku dengan predikat mahasiswa universitas swasta. Di tengah paradigma yang begitu negeri-centered, sepertinya menjadi seakan-akan a big fault. Ini adalah salah jalan. Yang negeri adalah yang terbaik, whatever ratingnya, dan yang swasta is the one (and the only) which is necessary to be left behind.

Bagiku ini aneh. Di tengah arus informasi yang begitu luas, premis-premis yang tersedia tentu salah besar kalau berkonklusi pada paradigma tersebut. Aku ingat sekali statement Pak Anies kalau tujuan teman-teman bukanlah universitas yang kalian anggap “baik” itu. Tetapi tujuan yang hakiki adalah mimpi-mimpi teman-teman sendiri yang tentu harus kontributif, baik bagi diri sendiri, ataupun orang lain.

Seorang teman bilang kalau sekolah, dalam konteks keilmuan, sebenarnya “ngga penting”. Tapi karena itu adalah tempat orang bersosialisasi, berasimilasi, berjejaring, dan berinterasi, maka sekolah menjadi penting, namun tetap pada batasan itu, tak lebih. Dan kalau mau pintar, maka silakan “ngetem” di depan layar computer, dan sila berjelajah ria.

Aku kira itu paradigma yang harus direkonstruksi. Pondasi-pondasi pemikirannya perlu ditata ulang. Universitas hanya sebagai wadah pengelola diri, pemahat intelektual, dan penyunting tata-krama. Dan yang paling penting adalah yang menjadi aktor adala mahasiswa itu sendiri, dan sekali-kali bukan universitas itu sendiri.(*)

Jazz Muhammad

Tuesday, June 29, 2010

Falsafah Sepeda

Yuk, ke sekolah naek sepeda
Ke kantor naek sepeda
Ke Mall naek sepeda
Ke rumah temen naek sepeda
Pokok jangan ke toilet naek sepeda ya……

Di dalam tubuh yang sehat, terdapat jiwa yang kuat. Begitu kata orang. Hidup perlu sehat donk. Siapa sih yang mau sakit? Tentu tidak ada. Hidup itu yang di harapkan ya yang enak-enaklah. Hidup yang bersih, hidup yang sehat.

Saat tulisan ini dibuat, ayah saya sedang menderita sakit katarak. Beliau juga kadang gejala stroke-nya “kumat”. Kalau lihat pas beliau sakit, sepertinya sedih. Ya saya sedih, tentu bapak juga sedih. Apalagi bapak saya adalah “tulang punggung” keluarga……

Kadang saya berpikir, mungkin saja ada toko spare part organ tubuh manusia. Pagi buta saya akan antri duluan untuk membeli spare part itu, meski toko belum buka. Saya akan beli mata dan pembuluh darah buat ayah saya. Berapa pun uang yang harus saya bayar akan saya sanggupi. Ya sayangnya, tentu ini tidak mungkin ada. Itu hanya angan-angan anak bodoh.

Yang saya mau adalah menggambarkan bahwa kesehatan adalah hal yang paling mahal harganya di dunia ini. Mau mata kamu yang cantik itu saya ganti duit 3 millyar? Kalau kamu mau ya mungkin ada yang ngga berez di kepalamu.

Menjaga kesehatan akhirnya menjadi sangat penting bagi pemuda. Siapa lagi yang akan dititpin masa depan bangsa kalau bukan pemuda. Yang tua mah udah tinggal nunggu (nunggu apa ya…?). Sangat penting bagi pemuda untuk terus siap berkarya demi bangsa dan negara. Ya, pemuda tak hanya butuh pintar, tapi juga sehat. Sepinter-pinter kamu, kalau sakit ya sudah…..ngga bisa apa-apa.

To the point aja, salah satu cara yang bisa dipakai untuk menjaga kesehatan adalah bersepeda. Ke kantor bersepeda, ke warung bersepeda, ke sekolah pakai sepeda, sampai-sampai ke kamar naek sepeda (uups..). Selain badan kamu juga sehat, polusi udara juga bisa berkurang. Terus di jalan bisa menyapa orang lain dengan hangat. Aduh, enak deh kalau bisa dilakuin..


Tentu ada maksudnya donk saya memberi judul tulisan ini “Falsafah Sepeda”. Jadi, bersepeda itu ternyata mengambarkan semangat muda generasi pemuda. Sepeda memberikan simbol-simbol kemandirian, kerja keras dan pantang mundur. Menurut Anies Baswedan, sepeda punya tiga simbol dalam meggambarkan kehidupan pemuda.

Pertama, ingat, sepeda adalah kendaraan non bahan bakar. Eh.. ngga dink. Kan kamu makan nasi dulu kalau mau kuat bersepeda..hehe. Ya maksudnya ngga ada polusi yang ditimbulkan sepeda. Ini menunjukkan bahwa sepeda adalah kendaraan ramah lingkungan. Pemuda pun juga harus demikian. Lingkungan menjadi tempat pemuda bertumbuh. Maka, menjaga kelestarian dan kebersihannya tentu menjadi keharusan. Mau sehat ya lingkungan juga harus bersih. Bersih dari sampah, dari polusi, sampai bebas dari niat jahat. Pokoknya bersih luar dalam.

Kedua, agar bisa jalan, sepeda butuh dikayuh, bukan hanya memutar “stir” ke depan belakang. Jadi, jadi pemuda itu harus bekerja keras bak mengayuh sepeda. Pemuda adalah tempat penitipan masa depan. Kalau yang dititpi “keok” yang gimana lagi. Pemuda harus siap menjadi insan yang penuh harapan. Jadi, Pemuda harus menjadi generasi yang inovatif, kreatif dan kompetitif. Pemuda harus penuh dengan karya demi masa depan bangsa.

Sebagai contoh, di era 66, terdapat pemuda bernama Soe Hok-gie yang dengan keras menolak kekuasaan yang semena-mena dari penguasa. Tanpa pandang bulu dan bahkan acuh dengan keselamatannya sendiri, ia kritik segala bentuk ketidakadilan. Yang ia inginkan hanya satu, Indonesia yang bersih dari tindakan-tidakan korup.

Terakhir, sepeda tidak bisa mundur. Jadi pemuda jangan sekali-kali mundur dari perjuangan membangun masa depan bangsa ini. Karena, apa yang bisa ditawarkan pemuda adalah masa depan. Kalau mau cerita masa lalu, apa yang mau diceritakan. Pemuda sudah harus bisa menawarkan masa depan bagi bangsa. Mimp-mimpi pemuda menjadi penting untuk menentukan nasib negeri. Toh mereka juga yang akan menggantikan generasi pemimpin negeri kelak. Oleh karena itu tentu masa depan harus ditata dengan baik dan pemuda punya peran penting di dalamnya.

Masa depan tidak ada yang tahu, tetapi tentu bukan berarti tidak bisa dipersiapkan. Nah, peran-peran semacam inilah yang harus menjadi teladan bagi kita semua.

Berati, kalau bersepeda, selain kita sehat. Kita juga telah mendukung terciptanya masa depan bangsa yang cemerlang. Ya mungkin masih bersifat simbolik, tapi 'kan daripada ngga peduli sama sekali.

Ini memang teresan remeh, sekedar hal kecil. Namun, apa yang bisa dilakukan sekarang ya sekarang dilakukan. Tentu mulai dari diri kita dulu bukan orang lain.



*sumber gambar bisa diklik langsung pada gambarnya.

Wednesday, June 23, 2010

Start Small for Our Environment

In 1960s, manufacturing with DDT (Dichloro diphenyl trichloro ethane), a kind of pesticide, became a huge industry. But this condition had broken the wonderful sounds of nature. DDT had killed many kinds of birds, harmless insects. DDT also polluted the environment and be able to increase human cancer.

It was Rachel Carson who woke up the US government’s attention to this condition by publishing a book entitled “Silent Spring”. She showed how dangerous the effect of DDT by posing many studies and many expert opinions. Eventually, in 1966, US government started stopping the use of DDT in two years (www.voaspecialenglish.com).

Another story comes from Japan. It was Yasuyo Tabete, who was the climate champion of British Council, who created a simple action, but this had a great and futuristic objection. This action is called “mug action”. He began not to use a paper cup to drink coffee. He thinks that drinking coffee just spends not more than 5 minute, but then he throw the cup out.

Yasuyo has an honorable objection that this action can decrease the number of deforestation. Wherever he goes, he brings his own mug and starts invite others to follow him. A great changes and positive effect, according to him, can be started from individual actions (www.kompas.com).

A Little Lesson
The story of Rachel Carson and Yasuyo Tabete is a little example that we can get many lessons from both of them. They never give up in struggling keeping their environment being safe. Both of them of course are from abroad. From the home, it is Victor Emanuel Rayun (Baba Akang) who struggles to keep the mangrove forest in Ndete coast, Flores. He has been doing his valuable action since 1992. In a program called Kick Andi Heroes 2009, he got an honor “Pahlawan Bangsa” together with six other heroes (Media Indonesia, 2009).

A little lesson that we can get from the stories is like what Yoris Sebastian said, “starts small”. In term of Indonesia, we can explore so many environmental problems. This problem, severely, damage the balance of our nature. We will find that the number of deforestation of Indonesia is the biggest number in the world, which Brazil is just the same. We will find that we have a big problem of garbage management.

The data from Kementrian Negara Lingkungan Hidup shows us, each person in this country produces 800/gr/day/person in average. This number looks a little bit common, but let’s times it to the number of Indonesian population which is more than 200 million. The number will be so fantastic. Indonesia has 160 thousand ton garbage per day.

If that number is managed well, there will not be a problem, but the condition looks so different. That big number seems haphazard managed. The garbage which has some types is not separated well. This makes the after-use process becoming difficult to exercise. Besides, there is a problem with this nation people behavior. They do not have such “do not litter” behavior. To be honest, it is so difficult to find a really green area, where every body will get their best pleasure to be in.

There is no willingness to be aware to the environment condition. The willingness to clean their public area seems very seldom. In the end of the show, the garbage will meet the drainages then plug them up. Tragically, it is common to be occurred in many big cities, like Jakarta and Surabaya.

Of course, simply, we can say that this is why Indonesia is likely a subscriber of flood. Despite, the number of budget in order to handle this one is so much expensive. For example, Jakarta has 762 billion rupiahs for it (Kompas, 2009).

Start Small
To solve such problem is not just a simple way. Many complicated studies must be taken to get the best solution. But, as a simple, to solve this problem, it is not necessary to get a structural approach. Make such legal binding through some bills will not get any effect. This is just going to make somebody become stressful. And sometimes, the effect will be in the opposite position of our expectation.

It is interesting to remember Gandhi statement that “reconciliation will takes times without any violence, but violence will never get any reconciliation” (Kompas, 2010). This statement shows us that any pressure will not get any success. In term of environment, there must be such soft approach. This of course takes time, but it really works. This kind of approach sometimes called cultural approach. We will not doubt about it because this kind of approach had been done by Rachel Carson, Yasuyo Tabete, Baba Akang, and other environmental activists.

In the day of earth, this is a very good opportunity to pose and discuss that issue. Many youngsters, who have so many fresh ideas, from many countries, have to gather together and ready to give a creative solution to the world. To me, it is the right time to tell the world that to be environmentalist is an urgent, in current context. Many youngsters from many countries can share some information.

This information will become so important because of the different context. By collecting many facts from the attending countries, there will be a kind of common platform to create common understanding. Because, we realize, that environmental issue is not only in a developing country, but also in a developed one.

This is important to create something like a community to pose and campaign ‘Save this earth!’ This is the cultural approach that I mean. In term of Indonesia, to ‘save the earth’ of course is not the same with what Rachel Carson or Yasuyo Tabete had done.

Discussing this phenomenon in a community is really interesting to take. Facing the fact that garbage is a problem, realized or not, an action must be taken as soon as possible. It is even the problem of developing country like India, Brazil, and many more.

Some action can be a very simple but important like campaigning “do not litter” by us ourselves to some people around us. If necessary, this will be continued to the bigger society or government, but it is not the priority.

The youngster has to take this rule very well. Youngsters have much more power to initiate and accomplish change than what others may believe. Then, youngsters often achieve much more than they ever expect they will.

Through community, there will be some important general point for action, but the implementation is certainly different from each country (www.greenkampong.com). Like Yoris Sebastian said, we create an out of the box idea, but the execution is inside the box. Certainly, different pond, different fish.

Youngster’s Action
Shortly, by gathering in community, posing this kind fo issue in a global forum, we can create such way against earth destruction that called community-based cultural approach. Back to the home, the youngster, including me, have to campaign how to be a green citizen, to be a citizen who has awareness for their environment.

In term of Indonesia, this will be focused on garbage management issue. The campaign is not such big event like a concert or such Clean and Green Week, but this is an individual campaign. The target is not a mass people, but the people around us, start from our family and friends.

In home, it is necessary to create such community to get more power but the action still individually. Saving the environment means more than just holding large public events targeted at adults. Just as a simple like “do not litter” campaign, in my opinion, it has a big impact to start being aware to the garbage management and saving the environment.

Youngsters can make a certain difference, through smaller actions at home or larger campaigns. By influencing families, corporations and government, youngster can have a significant positive impact.

So working with community can be the start to making big changes. This change is a cultural-and-communal-based. Taking times but really working. This small action of course can have a big impact. With these small and symbolic yet highly impactful changes, youngsters have an effect beyond just their own actions.(*)



*sumber gambar bisa diklik langsung pada gambarnya.