Monday, October 11, 2010

Di Kotak Sialan Ini, Beragam

ilustrasi (http://zakiakhmad.files.wordpress.com/)
Tak perlu dikatakan lagi. Kenyataan adalah sebuah hal yang bukan rekayasa. Kepahitan, kebahagaiaan, kealpaan, kehampaan, hingga ketidakjelasan akan sebuah eksistensi menjadi penghias lintasan waktu dunia yang tak mau tahu, tak peduli, omongan siapapun; maju terus!

Pikiranmu kenapa?! Ngelantur kau ini. Bicara realitas, lihatlah, kau ada dimana sekarang. Di kotak berjalan yang bau besi dan karatan ini, masih saja sempat berpikir macam itu. Sudahlah, apapun katamu, kenyataan akan selalu lebih nyata daripada omongan siapapun akan kenyataan.

Dan benar katamu, hai pikiran, yang sok kritis! Oke, kali ini aku tak mau macam-macam. Aku sudah benar-benar pening. Panas sekali di sini. Hidungku sejak tadi sudah harus kurelakan tersengat udara yang sudah terkontaminasi beragam materi entah apa ini. Busuk! Oh…

Orang-orang di sampingku ribut saja. Bokongku juga tak sempurna dapatkan dudukan. Ibu disampingku terlalu merampas. Badannya yang jumbo merampas hak dudukku. Padahal kan bayarnya sama?

Inilah kotak besi tua tak layak jalan yang harus dipaksa terus berjalan. Si pengemudi yang harus sedikit memiringkan badannya, karena kursi yang tak lurus dengan batang kemudi, sedari tadi merokok tak ada habisnya.

“Bu, bisa geser sedikit…” tawarku, lirih. Aku sudah tak tahan dari tadi. Ah, akhirnya ia paham juga, geser sedikit juga.

Inilah Kopaja. Angkutan tak layak yang masih saja beroperasi di Ibukota. Aku harus naiki ini, mau tak mau, karena ini yang cuma bisa kujangkau dengan isi kantongku. Aku akan ke kota sebelah. Ada pertemuan pemuda se-Asia Pacific dua hari lagi. Rencananya aku akan menginap di rumah teman dulu.

Aku tak mau kehilangan kesempatan ini. Kesempatanku bertemu ‘orang lain’. Beragam orang akan kutemui. Perbedaan yang nampak macam warna kulit, tingkah laku, dan bahasa, hingga yang tak nampak macam pola pikir akan kutemui. Kata orang, semakin banyak ita bertemu orang, makin kita tahu, dan makin kita terbuka.

Keterbukaan adalah awal dari perkembangan pengetahuan. Siapa juga yang tak mau pintar? Soal kenyataan hidup, inilah kenyataan: keberagaman.

Ah, mulai lagi kau pikiran! Itu nanti saja. Sekarang aku sudah mulai tak tahan. Macet pula jalan ini! Jalanan ibukota ini sudah terlalu sempit. Kota ini telah letih.

Tak usah jauh-jauh bicara soal keberagaman. Tak usah ndakik-ndakik. Di kotak berjalan nan sialan ini, yang namanya Kopaja, pun kau bisa lihat. Mari, mari kuberi tahu.

****

Barisan penumpang belakang diisi sebaris orang paruh baya yang kilau kemilau. Bukan apa-apa, tapi kulit merekalah yang kemilau oleh peluh yang rata merubung. Entah apa yang mereka bawa, karung-karung berukuran sedang berjejer kacau di hadapan mereka.

Sementara sang kenek teriak-teriak tak jelas, seorang perawan muda seperti tak tahu situasi duduk tepat dibarisan depanku. Pasalnya, telepon genggam dari sejak aku naik tak mau lepas dari kupingnya. Entah bicara dengan apa atau siapa, ia selalu menjawab dengan suara keras yang menambah silang-sengkarut kebisingan Kopaja ini makin lengkap. Ya, suara mesin tua yang menyebalkan dipadu dengan raungan perawan yang tahu tahu situasi itu. Hah!

Di sampingku seorang terlihat perlente. Dasi rapih menggantung di leher yang mulai diserbu peluh juga. Panas sekali, Mas? Sepertinya ia akan pulang kerja. Tak ada yang menarik baginya. Ia pancangkan muka ke depan dan sesekali, menarik napas panjang.

Ini yang paling kacau. Longlongan balita menambah kacau yang makin kompleks. Orang tuanya seakan tak bisa apa-apa. Ibunya menyorongkan susu dot yang selalu dimuntahkan. Sementara bapaknya menangani anak satunya, sang ibu masih berjuang keras ‘menaklukkan’ si kecil.

Tentu yang muncul adalah jengkel, awalnya. Tetapi hatiku sepertinya meronta. Betapa beruntungnya aku tak harus bersusah-susah demikian. Mereka yang harus kemana-mana naik angkutan umum sekeluarga, sepertinya, apa tak bahayakan si kecil? Tak ada pilihan lain, Nak. Ini mampu kami, kata mereka, maaf kalau si kecil ini merepotkan kalian… Kami terlalu menyayanginya.

Aku mendengus, menarik napas sedalam-dalamnya. Dan aku sadar, kalau keringatku telah sejak tadi mengular, menyungai di jidat. Kuseka barang sejenak.

Setengah jalan sebelum akau sampai tempat dimana akau akan bertemu macam-macam orang.

Kini naik pengamen. Masih muda, tapi terlalu kumuh. Gitar kecil, atau kecruk, ia genjreng, dan keluarlah nada-nada nyanyian—sumbang tak sumbang—dari mulutnya yang nampak lelah.

Aku cuma ingat, kalau ia dua kali menyanyikan lag Iwan Fals, dan bagian ini ia tekan-tekan nadanya: “Waaakil rakyat bukan paduan suara, jaaangan tidur kalau sidang soal rakyat!”. Andai saja ada wakil rakyat naik kotak ajaib sialan ini. Andai saja, dan akan tetap andai, karena itu tak mungkin. Radikalnya: Demi Allah, tak akan mau mereka itu.

Lelaki tak jauh di depanku masih terus asyik dengan headset yang sudah sejak tadi menutup pikirannya dari ruwetnya isi kotak ini. Berapa tingkat volume ia stel? Gila! Kacau begini masih bisa tenang. Habis mau apalagi, Bung?, katanya. Dinikmati saja, katanya lagi, ndak usah nesu, ndak usah mikir aneh-aneh. Mulutnya terus bergumam, menggeremang tak peduli.

Kusodorkan pada kenek duaribu perak. Hah?! Tak sopan sekali orang ini! Tangan kirinya ia sorongkan ditambah muka yang mengarah ke lain sisi. Oi, tak ada sopan santun di sini, Mas! Tak kan akan dihargai. Setidaknya itu kalau kau tak ikhlas. Bukanlah ikhlas tak butuh penghargaan?

Kacau. Kacau. Kacau! Ah, tapi sebentar lagi sampai. Tapi macet masih menggila!

Dan seorang berjenggot duduk tenang di belakangku, tepat. Celananya pendek di atas mata kaki dengan rompi mengurung kaosnya yang terlihat tua. Sebuah kopiah kecil menutupi kepalanya. Tangannya tak henti memutar selingkar tasbih. Bibirnya naik turun, dengan interval yang tak jauh. Sekiranya ia terus memohon pada Tuhan agar diberi keselamatan.

Betapa tidak, sopir Kopaja ini memang sedikit sinting. Mobil, atau gerobak, ini meliuk-liuk seenaknya di jalanan, sebelum akhirnya dihentikan paksa oleh kemacetan. Apa maunya sebenarnya? Gengsi?! Ah, gengsi macam apa ini. Tak jarang kami dibuat oleng ke kanan dan ke kiri. Dan sesekali aku hampir digeser habis oleh ibu jumbo sampingku. Untung kuda-kudaku sudah kusiapkan. Hap!

Beragam orang masuk ke kendaraan gila ini. Kepedulian dan ketidakpedulian tercampur aduk. Kekacauan berpadu impian ketenangan berintegrasi. Tapi semua satu, ingin sampai tujuan. Dan, kuharap bapak berjenggot tadi juga mendoakan kami semua, setidaknya sampai saja tak cukup, kami juga butuh selamat. Memang kau tak bisa doa sendiri? Doa orang banyak lebih mustajab.

Oya, satu hal yang terlewat, kotak ini, di sampaing kacau, juga jorok. Orang-orang tak tahu buang sampah di tempatnya. Tisu, bungkus permen, bekas wadah minuman tercecer merusak pandangan. Setidaknya buatku, tapi buat mereka yang tak tahu kebersihan, itu biasa, dan tak perlu dipikirkan. Buang-buang waktu saja!

****

Kawan, yang kau baca ini tak main-main. Kutulis sedetil-detilnya, sesungguh-sungguhnya. Biar kau tahu. Untung aku tak di Kopaja sialan itu lagi. Jadi tulisan ini bisa selesai. Ini sudah di kamar penginapan, yang setidaknya membuatku bisa cukup lancar menumpahkannya.

Sehari kemarin aku sudah menginap di kosan teman. Esok aku akan ikuti pertemuan pemuda se-Asia Pacific. Esok akan kutemui keberagaman lain dari beragamnya keberagaman di dunia ini. Keberagaman atas keberagaman, tak perlu didebat dan dirayakan. Ini kenyataan. Ada keberagaman di Kopaja, tak perlu cari jauh-jauh, atau ndakik-ndakik, dan ada keberagaman di esok juga. Dan waktu masih acuh saja; maju terus!

****

Jazz Muhammad

Selesai di Syahida Inn
UIN Ciputat, 10 Oktober 2010
Sehari sebelum Asia Pacific Interfaith Youth Summit 2010, 11-14 Oktober 2010



Wednesday, October 6, 2010

Jangan Sampai Sisa!

ilustrasi (arisrusman.web.id)
Mbok dihabisin sisanya!
Ah, males, udah kenyang

Kata Abraham Maslow, sebagai manusia, kebutuhan dasarnya adalah makan dan sebangsanya. Saya dan kamu adalah manusia ‘kan? Maka makan adalah kebutuhan dasar kita. Kalau kata ahli biologi, makan itu sumber energi untuk beraktivitas. Lalu kata pak ustadz, makan itu ibadah. Jangan bilang kalau kamu tak butuh makan! Bukan manusia berarti.

Maka kita harus makan! Memang itu kebutuhan dasar. Kalau tidak, bisa lemes. Tak bisa beraktivitas. Terus? Ke laut aja mas....hehe

Makan disebabkan oleh rasa lapar. Lalu kalau habis makan, maka kenyang. Udah tahu, Mas!

Tapi makan itu secukupnya. Jangan berlebih atau kurang. Artinya jangan sampai ada sisa atu juga sampai kekurangan. Saya teringat kata-kata Aa Gym. Beliau menyampaikan kalau, "Makan itu lebih baik nambah daripada sisa." Artinya? Ya kalau makan jangan kemaruk alias puo-puo alias rakus. Kalau makan itu secukupnya. Menyisakan makanan berarti menyia-siakannya.

Menyia-siakan berarti mubadzir. Kalau mubadzir berarti dosa. Lagi pula, masih banyak orang yang serba kekurangan, makan sekali sehari saja belum tentu. Terus kita malah buang-buang makanan. Hu...h!


sugiharto (detikfinance.com)
Suatu saat saya berkesempatan menonton langsung sebuah talk show bersama Pak Sugiharto. Ia adalah pengusaha sekaligus mantan menteri BUMN. Dia mengatakan kalau makan tak pernah sisa meski satu upo nasi. Kamu tahu kenapa? Ia adalah orang sukses yang mulai dari nol.

Ia tahu bagaimana rasanya hidup susah. Kerja serabutan, jadi tukang parkir, jadi penjaga bioskop. Ia tak mau ada sisa nasi dipiringnya. Ia tahu kalau mencari sesuap nasi itu susah.

Sementara kita yang kebetulan mendapat kemudahan malah saenake udele dhewe. Makan so' nyisa-nyisa. Alasannya sudah kenyang. Ya salah sendiri ngambilnya kebanyakan. Atau ya coba-coba saja.

Kadang kita berpikir kalau sisa makanan itu tak seberapa. Tak akan ngefek pada hidup. Tapi, kalau kita mau berpikir sejenak, maka sebenarnya berusaha makan tak bersisa itu adalah wujud hidup penuh penghargaan. Kita menghargai sesuatu mulai dari yang kecil. Mulai dari hal yang sepele seperti sisa makanan.

Kita menghargai bagaimana petani “menghidupkan” padi lalu meramutnya hingga menguning. Tak tahu matahari terik, mereka kebaskan batang-batang jerami di persawahan. Digiling, dikemas di pabrik, lalu sampai ke dapur kita. Tetapi, yang paling penting adalah kita menghargai pemberian Tuhan. Kita mensyukurinya, sebaik-baiknya.

Solusinya? Persis apa yang dikatakan Aa Gym. “Lebih baik nambah daripada sisa!” Jadi ngga ada alasan kalau sudah kenyang. Saya kira Aa Gym mengajak kita untuk sejenak berpikir sebelum bertindak. Jangan sampai ada yang sia-sia.

Masih banyak orang yang belum beruntung seperti kamu juga aku. Bayangkan, kebutuhan dasar saja mereka tak tentu bisa memenuhinya. Untuk makan besok saja masih belum pasti. Masih tega nyisain makanan?


Thursday, September 30, 2010

Reputasi

gigi-kelinci.blogspot.com
Enaknya orang baik atau jahat?
Orang baik donk…
Eh, kan sama saja, mau baik, maua jahat, ‘kan mati juga?
Hmmm…?? (garuk-garuk kepala yang tak gatal)

Pertanyaan yang agak menngelitik untuk dijawab adalah lebih baik jadi orang baik atau jahat kalau toh sama-sama mati. Lagi pula, kalau memlih baik, tak ada jaminan kalau matinya juga baik. Banyak juga orang baik yang mati terbunuh. Lihat saja Umar bin Khattab yang merupakan pemimpin tangguh umat Islam, yang menjadi khalifah kedua, mati dibunuh. Apalagi kalau melihat kisah Jesus. Dilantik sebagai utusan Tuhan, dan telah bersusah payah menebarkan kasih sayang pada umantnya, eh…sama ‘oknum-oknum’ yang tak bertanggung jawab malah disalib.

Lalu bagaimana seharusnya? Masa harus jadi orang jahat?

Kalau saya tetap memilih jadi orang baik. Bagi saya menjadi orang baik tetap untung meskipun nanti dengan orang jahat juga sama-sama mati. Kata pepatah, gajah mati meninggakan gading, kalau harimau mati meninggalkan belang, dan manusia mati meninggakan nama. Hubungannya, Mas?

Okelah, kita akui bahwa orang baik dan jahat sama-sama mati, tapi kematian orang jahat dan orang baik jelas memiliki perbedaan efek yang signifikan. Kalau bahasa ilmiahnya, tingkat differensiasi antara yang baik dan jahat tetaplah tinggi. Orang jahat mati akan meninggalkan nama yang buruk. Bahkan, kadang kala nama buruk menimpa keturunannya, meski sebenarnya tak mewarisi sikap bejat pendahulunya. Kasihan kan?

Coba kamu ingat nama Fira'un. Pastinya yang berkecamuk di kepalamu adalah segala sikap buruknya. Kekejamannya menindas kaum marjinal begitu mudah ditemukan. Sebut juga Nero, seorang kaisar Roma yang tak pandang bulu ingin menghancuran kaum intelektual renaissance.

Tapi orang baik berbeda sekali. Kebaikan budinya akan dikenang dunia. Ia akan dicatat sejarah sebagai orang yang memiliki kontribusi meski sekecil apapun. Sebut saja nama Muhammad Saw, seorang nabi yang meninggal lima belas abad lalu itu hingga kini masih diingat terus perjuangannya memperjuangkan agama yang dibawanya. Sebut saja Sir Issac Newton yang dikenal karena sistem gravitasi yang ia temukan. Sebut saja Mahatma Gandhi yang terus diingat dunia karena perjuangannya melawan kekerasan di tanah Hindustan.

Hidup orang baik dan buruk itu mungkin tak genap satu abad, apa yang ia lakukan terus diingat hingga dalam jangka waktu yang melampaui umur aslinya, dan mungkin sepanjang masa.

Inilah konsep yang biasa disebut, oleh Nurcholish Madjid, bernama 'reputasi'. Jadi kalau orang mati itu meninggalkan reputasi. Dan, umur reputasi jauh lebih panjang dari umur yang punya.

Bahkan, bagi Cak Nur, reputasi itu bahkan menandakan balasan macam apa akan diterima seseorang ketika sudah mati. Saya sendiri adalah anak yang percaya akan kehidupan sesudah mati. Dan saya kira, bagi orang yang beriman, maka memercayai kehidupan setelah mati adalah keniscayaan. Dengan pendapat Cak Nur tadi, maka logislah kenapa di berbagai Kitab Suci diceritakan bahwa kehidupan di dunia ini akan berlanjut.

Bagi yang suka korupsi, yang suka nilep harta, yang suka ngerampok, mbok ya ingat mati. Nanti kalau reputasinya jelek, terus disiksa sama malaikat di alam kubur. Hayu….Mau-mau?

Maka, menjaga reputasi adalah keharusan bagi kita semua. Ya, saya sih ngga mau kalau nanti saya dikenang jadi koruptor gitu.. apalagi nanti anak cucu saya terkena imbasnya..ih, amit-amit.

Saya sih ngga mau kalau reputasi saya jelek, jadi kesimpulannya: Ngga usah jadi orang jahat!

Thursday, September 23, 2010

Report Medio September: Silaturahim

ilustrasi (mbah google)
Bulan September ini, atmosfer Negeri Nusantara ini berrubah mendadak menjadi religius. Maklum, di bulan ini, Bumi Pertiwi ini menghadapi bulan Ramadhan sekaligus Idul Fitrinya.

Untuk itu, aku, sebelum berceloteh lebih lanjut, dan lebih ngawur, aku sampaikan,

“Selamat Hari Raya Idul Fitri 1431 H. Mohon maaf lahir dan batin. Semoga Ramadhan dan Lebaran kali ini barakah (transformatif) dan manfaat (produktif)! Semoga bisa bertemu dengan Ramadhan dan Hari Raya kelak di tahun depan!”

Kampus ‘off’. Tak ada kegiatan, sama sekali. Aku pun sedang mudik ketika tulisan ini kugarap. Paramadina memang menggabung libur akhir semester pendek yang bikin penat itu, dengan libur hari raya. Jadi dua minggunya doubled. Horeee… !!!

Kukira, meski liburan, ada sesuatu hal yang perlu kusampaikan. Ini berhubungan dengan dunia tulis menulis. Kampus kami mengadakan lomba bertajuk “News Feature Writing Competition 2010”. Kegiatan ini terselenggara hasil kerjasama Paramadina dengan harian The Jakarta Post. Tema yang dipilih ada tiga: Mengapa sulit memberantas korupsi di lingkungan birokrasi?, Naik turunnya persepakbolaan Indonesia, dan Jaringan sosial media dan masalah kerahasiaan pribadi (privacy).

Ibu-Ibu, Bapak-Bapak, Nyai, Ndoro… Yang mau ikutan, silakan-silakan! Lha wong gratisan ko’! Kalau mau info lengkapnya, buka saja www.paramadina.ac.id

Sekarang pindah, atau kembali, ke masalah Idul Fitri. Adalah tradisi masyarakat Indonesia untuk berkunjung ke sanak saudara, teman-teman dekat, teman-teman jaman dulu, juga tetangga-tetangga ketika lebaran tiba. Tak ada niatan tertentu kecuali bersilaturahim dan bermaaf-maafan.

Dengan kecanggihan teknologi, silaturahim pun macamnya kini beragam. Yang paling aku soroti adalah munculnya cara paling simple untuk bersilaturahim dan mengucapkan maaf lahir batin dan selamat lebaran lewat facebook. Caranya mudah, upload sebuah gambar editan photoshop, lalu tag-tag ke teman-teman yang seabreg itu. Berezzz

Tetapi, bagiku silaturahim dengan bertatap langsung tetaplah is the best. Dengan pertemuan itu, silang pertukaran informasi jauh lebih ‘berasa’. Kedekatan emosional kemanusiaan jauh lebih terpelihara. Orang pun akan merasa dimanusiakan. Jadi, silaturahim sebenarnya membawa semangat humanisme yang kental.

Silaturahim, juga wujud dari networking. Betapa tidak, ketika perjumpaan antar manusia terjadi, maka relasi pun terbentuk. Bagi yang sudah saling kenal, maka kedekatan relasional pun bisa lebih terekatkan. Yang baru berjumpa, sekedar kenal pun tak apa, toh kelak akan diulangi tahun depan.

Jejaring pertemanan pun meluas dan kata seorang penulis, jejaring akan membuat impian seseorang setidaknya memiliki 'pijakan kuat'. Orang sepintar model apapun kalau tak punya teman mau apa? Teman akan meluaskan cakupan upaya kita. Yang sedang belajar, maka teman akan datang melengkapi pengetahuan itu. Yang berdagang, maka teman akan datang meramaikan pembelian. Yang butuh tempat tumpangan, maka teman bisa diandalkan. Yang belum dapat jodoh, maka teman bisa membantu carikan, atau bahkan jadi jodoh itu. Hehe.

“Your high GPA will only get you to the job interview, but your leadership and network will get you to the real job” kata Pak Rektor.

Silaturahim memang top markotop surotop. Nabi Saw pun telah mengatakan bahwa silaturahim melancarkan rezeki. Benar bukan? Ah, ya sudahlah, jangan sampai memutus silaturahim, karena itu dibenci orang, dan tak disukai Tuhan.

Terakhir, aku ingin sampaikan kalau tulisanku ini ada manfaatnya, silakan sampaikan pada yang lain. Tetapi bila menyebalkan, atau membosankan, silakan sampaikan padaku. Biar segera dipertimbangkan perbaikannya. Kata temanku, pesan terakhir ini mirip dengan motto warung nasi di dekat rumahnya. Apa?! Ah, apa iya?

Thursday, September 16, 2010

Surga-Neraka Bukan Milikku


Pandangan atas dunia ini dengan segala aspeknya tentu memiliki perbedaan antara satu orang dengan yang lain. Hal ini disebabkan kapasitas keilmuan yang berbeda-beda, juga bidang ilmu yang didalami. Pun perihal keagamaan, banyak tafsiran yang mengemuka. Ilmu-ilmu keagamaan pun harus diakui bukan hanya terbatas pada soal syariat-fiqihiyah, tetapi juga meliputi ilmu-ilmu lain: filsafat, tasawuf, dan ilmu-ilmu lainnya. Hal ini menunjukkan bahwa keberagaman itu adalah keniscayaan. Pluralitas adalah hukum Tuhan.

Mengenai keberagaman ini, suatu saat saya ditanyai oleh seorang teman mengenai opini pribadi menyoal konsep pluralisme di Indonesia? Apakah itu tidak bertentangan dengan ajaran Islam? dan bagaimana seharusnya sikap kita dalam menghadapi kehidupan beragama.

Report Akhir Agustus: SP oh SP…

(http://lakso.files.wordpress.com/)
Seperti dimensi ruang, dimensi watu pun bisa dipilah-pilah. Pilahan itu memunculkan terminologi "periode" yang berjenjang. Dimensi waktu dalam hal apapun, seperti sekolah, kuliah, bekerja, hingga yang paling luas yakni kehidupan, bisa dibagi-bagi. Namun, aku tak ingin membicarakan semuanya, cuma bidang kuliah saja yang mau aku omongkan.

Kali ini aku berada pada pilahan yang kesekian kali dan itu pun baru saja usai. Pilahan ini sedikit lebih pendek, atau tepatnya setengah dari yang biasanya. Kalau umumnya pilahan itu berjeda enam bulan, ia hanya tiga bulan. Ya, inilah semester pendek. Semester yang setengah-setengah ini bisa kami sebut SP (semester pendek) dan ia baru usai.

SP ini bukanlah bisa dianggap main-main. Bukan maksudku menganggap semester gasal dan genap itu cuma main-main, tetapi maksudku tingkat kesulitan dan tantangan di SP jauh lebih besar dibanding dua semester lain itu. Karena kondisinya yang pendek, mata kuliah seperti dijejal-jejalkan. Aku dan kawan-kawan dapatkan mata kuliah diajarkan dua kali seminggu. Tugas yang diberikan pun jadi lebih terasa berat. Ya tapi itu konsekuensi. Kami mendapat keuntungan dengan ikut SP ini, kami bisa lulus lebih cepat, cuma 3,5 tahun. Ya seperti kata lagunya Bondan Prakosa, “Ya sudahlah…”

Baiklah, kini beralih ke kegiatan kampus. Paramadina memang terlihat lebih sibuk SP kali ini. Seleksi mahasiswa baru masih terus berlangsung. Ah, itu sudah kuceritakan di report sebelumnya, jadi tak usahlah diulangi. Paling juga membosankan kalau dibaca. Langsung pindah ke acara lain saja.

****

Kampus ini hanya aktif dalam bulan Ramadhan selama dua minggu. Itu pun tidak genap. Tetapi banyak kegiatan yang diselenggarakan. DKM (Dewan Keluarga Masjid), sebagai organisasi keagamaan menyelenggarakan buka puasa seminggu full. Bagiku yang anak asrama ini, ya itu berkah yang terlalu berharga untuk dilewatkan. Ya kau pasti taulah...

Dalam rangkaian acara itu, ada bedah film Act of Dishonor, sebuah film tentang ketimpangan distribusi kesempatan di berbagai bidang antara anak laki dan perempuan di Afghanistan. Kebetulan, artisnya, Nelofer Pazira datang langsung. Sedap ‘kan?

Lalu ada bedah buku novel biografis Nabi Muhammad Saw., “Muhammad: Lelaki Penggenggam Hujan” karya Tasaro GK. Dan Alhamdulillah, penulisnya juga datang langsung. Mantab pokoknya. Rangkaian acara ini kemudian ditutup dengan kolaborasi senat kampus dan DKM dengan menyelenggarakan konser Iwan Fals yang dilanjutkan dengan sajian hiburan tarian sufi Rumi dan teater.

Selain itu, Kampus Paramadina, di SP ini patut berbangga karena selain banyaknya kegiatan yang mewarnai, ia juga berhasil mengirimkan grup tarinya untuk ikut pertunjukan dan festival di Polania. Group ini bernama T-ta Paramadina dan berkunjung ke sana selama dua minggu. Beberapa diantara pesertanya adalah kawan dekatku sendiri. Ya meski aku tak ikut, aku ikut senang dan bangga tentunya. Bukankah kawan sejati aalah mereka yang merayakan keberhasilan kawannya seperti keberhasilannya sendiri?

****

Kalau soal gerak-gerikku sebagai duta kampus, aku harus sampaikan kalau memang bulan ini kami hanya berfokus pada seleksi mahasiswa baru. Paling-paling kalau ada info menarik tentang Paramadina, kami post didunia maya melalui jejaring sosial kami masing-masing. Kalau aku sendiri, aku temui beberapa teman baru di facebook. Ada yang bertanya soal bagaimana tes masuk Paramadina, ada juga yang tertarik dengan kegiatan yang diselengarakan di kampus kecil ini.

Yang jelas SP ini , meski sedikit menyebalkan karena tugas-tugas yang amit-amit, kami banyak mendapat pelajaran berharga. Aku juga dapatkan beberapa kawan baru, karena memang di SP ini aku tak hanya bergabung dengan kawan-kawan di jurusan manajemen, tetapi juga dari jurusan lain.

Setelah ini, aku dan kawan-kawan lain akan masuk kepada pilahan dimensi waktu selanjutnya. Setelah ini adalah semester gasal, atau tepatnya semester V buatku. Oya, tak terasa sudah dua tahun ya, aku di Jakarta ini….

****

Jakarta, 30 Agustus 2010
di asrama, sebelum mudik...


Friday, August 27, 2010

Report Medio Agustus: Dari Bulan Spesial sampai Antikorupsi

(KOMPAS/PRIYOMBODO)
Seperti biasa, dasar anak malas, membuat report selalu telat. Ya Allah, semoga Engkau ampuni diriku ini! Memang ini kesalahan, tetapi kalau terulang, ini menyedihkan, dan aku sudah pasti bagian dari orang-orang yang menyedihakn itu. Oh, Tuhan, ampuni aku ini!

Baiklah, sekarang aku ingin bicara yang lain. Biarpun telat, report harus dilanjutkan. Oke?!

Bulan spesial
Minggu-minggu awal Agustus tentu menjadi sedikit spesial daripada bulan-bulan yang ain. Ini bulan kemerdekaan. Bulan dimana negeri ini merengkuh kejayaannya di muka bumi ini. Di bulan ini, 65 tahun yang lalu, atmosfer masyarakat berubah dari ketergantungan, mendadak menjadi sebuah kemandirian untuk terus berbenah. Tujuh belas Agustus 1945 lalu benar-benar menjadi pintu gerbang kemerdekaan hakiki negeri ini, yang sayangnya belum tercapai.

Di bulan ini juga dimulai awal bulan puasa, bulan Ramadhan. Bagiku, yang muslim ini, bulan ini akan menjadi bulan paling spesial sepanjang tahun. Di bulan ini, ibadah akan dihargai lebih oleh Tuhan. Maka orang akan ramai bersembahyang di masjid-masjid, di surau-surau dan di rumah-rumah. Gempita Ramadhan benar-benar menjadi momen pembersihan bagi manusia yang memang dasanya bersalah dan berlupa.

Soal kampus
Di awal-awal bulan ini kegiatan Duta Paramadina lebih difokuskan pada kegiatan seleksi mahasiswa baru. Kampusku, Universitas Paramadina kini mengalami masa-masa regenerasi, seperti halnya kampus lain. Kami menerima mahasiswa baru melalui seleksi tulis dan wawancara.

Yang unik dari seleksi ini, wali yang mengantar putra-putri calon mahasiswa kemudian dikumpulkan di taman kampus, “Taman Peradaban” namanya. Kami berbincang banyak soal harapan, soal suasana kampus, pengajaran kuliah, hingga alasan mengapa ujian harus disertai wawancara.

Aku dan Duta Paramadina lainnya disilakan untuk menyampaikan realitas kampus kami kepada mereka, para wali. Tentu kami harus netral. Kami sampaikan bahwakelemahan kampus ini adalah kampus ini kecil, kampus ini mahasiswanya sedikit, kampus ini masih baru, kampus ini tentu tak sebanding dengan kampus-kampus tua lainnya, dan kampus ini swasta. Pernyataan terakhir, bahwa kampus ini swasta, dalam konteks Indonesia memang harus terpaksa dimasukkan dalam kategori "kelemahan" karena paradigma negeri-centered terlalu kuat menimbun-nimbun objektivitas berpikir orang-orang negeri ini.

Tetapi aku dan teman-teman tetap sampaikan bahwa kami berada di kampus yang tepat. Kami memiliki mimpi dan kami yakin kampus ini bisa mengantarkan kami ke sana. Meski kecil, kampus ini memberikan kami network yang luas kepada mahasiswa. Tenaga pengajar yang muda-muda akan menjamin transfer ilmu menjadi seimbang. Ruang kelas menjadi ajang diskusi. Dosen bukan sumber ilmu satu-satunya. Mahasiswa pun punya hak bicara, hak setuju, dan hak bantah. Bukankah memang seharusnya kuliah itu demikian?

Salah seorang wali sempat bertanya, bagaiamana jika ada mahasiswa yang nonmuslim masuk Paramadina. Pak Wija, Deputi Rektor III yang selalu mendampingi kami menjelaskan bahwa kampus ini membawa nilai-nilai agama sebagai dasar penyelenggaraan perkuliahan, bukan simbol-simbol keagamaan. Kami percaya bahwa nilai-nilai Islam itu universal dan bisa direguk oleh siapapun. Karena, pada dasarnya nilai Islam ini akan menyatu pada keserasian dunia yang sejalan dengan nilai-nilai dasar universal agama-agama lain: kesantunan, keramahan, disiplin, semangat berkebaikan, semangat sosial dan tentunya semangat berketuhanan.

Oya, mungkin di kampus kami yang unik adalah adanya matakuliah aneh. Mata kuliah antikorupsi namanya. Katanya, ini yang pertama kali di dunia. Dimana-mana, matakuliah ini tergabung dengan matakuliah etika.

Matakuliah bikin boke’
Matakuliah ini mengajarkan kami bermacam-macam serba-serbi korupsi, dari dalam negeri maupun luar negeri. Ada yang namanya petty corruption, yakni korupsi kecil. Juga ada grand corruption, korupsi yang besar. Kami dikenalkan dengan beberapa konsep mengenai antikorupsi beserta badan-badan pemerintah maupun yang nonpemerintah yang terlibat dalam pemberantasan korupsi. Mulai dari KPK, YLBHI, Tiri, TII, sampai ICW.

Aku baru tahu kalau dampak korupsi begitu massif: lesunya perekonomian, meningkatnya kemiskinan, tingginya kriminalitas, demoralisasi, kehancuran birokrasi, terganggunya sistim politik dan pemerintah, dan buyarnya masa depan demokrasi, serta runtuhnya penegakan hukum.

Di akhir kuliah, kami disilakan untuk melakukan investigasi kecil-kecilan. Kami dikelompokkan dan setiap kelompok harus melakukan sejumlah penelitian soal korupsi yang “di sekitar kita”. Kami mengambil korupsi yang berjenis kecil atau yang tadi kami sebut petty corruption, tadi. Korupsi ini memang benar-benar kecil dan sering terlewat. Keterlewatan ini bukan hanya karena tidak tahu, tapi juga karena terlalu sering dilakukan. Ora krasa jalaran kulina!

Yang termasuk tindakan yang baru aku tahu dan sering terlewat seperti pemalsuan bukti bayar kuliah. Jadi di suatu tempat, jasa pemalsuan ini laris manis oleh mahasiswa-mahasiswa yang mau “neken” orang tuanya. Parah! Kalau yang kategori sering kelewatan itu seperi kasus tilang. Ya, tilang yang sering dilakukan sama polisi. Kebanyakan kita ‘kan maunya cepet, bayar, abis itu beres.

Yang unik, temen-temen yang investigasi bener-bener merelakan diri di-tilang. Sekali tilang seratus ribu dibayarkan, uang pun terbang “melayang”. Lalu ketika presentasi, mereka ditanya seorang dosen, “’Kan ini investigasi, hasilnya ‘kan harus valid, nah, berapa kali kalian lakukan ini?”

“Lah, ya sekali aja lah, Bu! Bisa boke’ kalau terus-terusan…”


Friday, August 20, 2010

Masa Bodoh itu Penting, Lho…

 (http://photography.nationalgeographic.com/)
Heh, elo menang ngga?
Ya, Alhamdulillah juara tiga
Ah, apaan itu? Gue nih juara satu!!!

Baca judulnya, pasti kamu langsung bilang, konteksnya apa dulu? Masalahnya apa dulu donk? Ya maklum kalau tanya seperti itu. Masa bodoh memang identik dengan sikap acuk tak acuh. Sikap tak peduli terhadap orang lain. Sebuah respon negatif terhadap stimulus yang muncul dalam kehidupan. Simple-nya sikap ini identik dengan sikap negatif.

Umumnya, sikap acuh selalu diidentikkan dengan keengganan untuk melihat kesusahan orang lain. Jadi, sikap ini akan memiliki nilai relasi negatif bila dihadapkan dengan keburukan, penderitaan, lalu penindasan dan sebagainya. Masa bodoh ini bikin dosa. Tapi bagaimana kalau dibalik? (Maksudnya, Mas?)

Oke, bagaimana kalau yang dihadapi dengan sikap masa bodoh adalah prestasi orang, atau juga kesuksesan orang lain. Loh, emang ada? Ya iyalah. Inilah saat dimana masa bodoh itu jadi positif, bahkan bisa dibilang penting. Oke, Gue jelasin dulu ya…

Ketika kamu memenangkan sebuah kompetisi, atau mungkin mendapatkan nilai yang bagus, mungkin sebagian teman akan merasa senang. Tapi, kenyataannya, ada saja yang sinis dan dengan ketus mencoba mencari-cari bin mengorek-korek kesalahannya. Tujuannya satu, mencari titik lemah dari kesuksesan tersebut untuk selanjutnya dijadikan senjata untuk bilang, “Aa..h terang aja elo kan bla..bla..” atau, “Ah, gitu aja gue juga bisa, lebih bagus malah!” Dalam hatinya bisa ditebak kalau dia ngga rela orang lain sukses.

Kalap kalau denger orang lain sukses!

Saya sendiri punya teman. Dia begitu gethol untuk mengikuti lomba. Ya saya akui ia berhasil memenangkan beberapa kompetisi. Tapi ada sedikit yang saya kurang suka. Ketika ada teman lain juga memenangkan lomba, wow, responnya begitu ekspresif. Tapi ekspresif yang tak rela. Kemudian ia menceritakan kesuksesannya untuk menandingi wacana sukses teman lain yang juga menang lomba.

“Elo juara itu ya? Ah, aku lho juara ini.. ini.. ini”

Kadang saya sebel, tapi seringkali sebel banget. Tapi saya masa bodoh saja. Peduli amat dengan hal itu. Toh, apa yang terjadi telah terjadi. Bahasa Sundanya bodho teuing!

Inilah yang saya mau sampaikan. Seharusnya kita masa bodoh dengan kesuksesan orang lain. Inilah masa bodoh yang positif. Artinya, ya sudah, terima kesuksesan orang lain dan kemudian ikut merasakan senang. Bagi saya hal itu akan lebih memberi manfaat. Teman kita senang. Kita juga senang. Jadinya win-win solution.

Kita tak perlu membanding-bandingkan pencapaian kita dengan orang lain. Biarlah orang lain sukses dengan bidangnya, dan kita dengan bidang kita sendiri. Biarkan mereka senang dan kita dengan kesenangan kita sendiri. Ujung-ujungnya masa bodoh 'kan? Tapi masa bodoh yang positif bukan berarti acuh saja, tetapi memiliki tambahan apresiasi pada orang lain. Kita tidak mengorek dan membanding-bandingkan prestasi orang lain, tapi malah kita memberi apresiasi setinggi-tingginya.

Kita punya tujuan sendiri yang sudah tentu berbeda dengan orang lain. Maka kesuksesan pun tak bisa dibanding-bandingkan. Apalagi mengorek-koreknya.

Saya pernah membaca koran nasional yang menuliskan quote-quote para ahli. Sang ahli bilang, “Kesuksesan orang itu adalah ketika ia membandingkan kesuksesannya dengan apa yang direncanakan, bukan dengan kesuksesan orang lain”. Hmm…(*)


Friday, August 13, 2010

Gengsi, Mahal Coy…

ilustrasi (wikipedia.org)
Kau makan siang dimana?
Gue di Plangi
Gue di Sensi, elo?
Di warteg……..
Ha…ha….ha

Kalau Kamu makan siang, di mana? Tak usah di jawab. Karena bagi saya tak penting jawabannya. Tapi, bagi beberapa orang, adalah penting jawaban itu, sangat penting. Di mana Kamu makan, di situlah harga kamu. Itulah harga diri Kamu. Maksudnya?!

Sebelumnya saya jelaskan maksudnya percakapan yang membuka tulisan saya kali ini. Kalau Kamu di kota yang metropolis, macam Jakarta, saat seusai makan siang, sering ada diskusi kecil-kecilan di tempat kerja. Ada yang bertanya mengenai tempat kamu makan. Kedengarannya aneh buat orang di daerah. Makan ya makan, just that. Not more not less.

Oya, Plangi singkatan dari Plaza Semanggi, dan Sensi itu Senayan City. Kedua-duanya mall terkenal di Jakarta, Bro….. tahu ngga apa mall itu? Hehe..Pis2

Bagi orang yang hidup di metropolitan adalah penting orang itu menentukan di mana tempat untuk makan. Kamu akan dihargai ketika bisa makan di tempat yang elite. Kamu akan disanjung ketika bisa makan di resto terkenal. Wow, keren! Tapi ko’ gitu ya…

Ini tentu akan jauh berbeda bila kamu makan di warung punya strata paling rendah dalam hal tempat makan, yakni tak lain dan tak bukan adalah "warteg", alias warung tegal. Ketika kamu bersama dengan teman-temanmu yang habis makan di mall, lalu kamu sendiri habis makan di warteg, maka kamu tak punya kedudukan yang sama dengan yang lain. Kamu akan terlihat lebih rendah.

Sebenarnya apa yang di cari orang-orang itu? Saya jawab gengsi. Ya, G.E.N.G.S.I. Makan di tempat mahal adalah prestigious. Adalah yang bisa ke sana tentu orang-orang yang berduit, berkantong tebal. Karena memang harga makanannya selangit. Oleh karena itu, kadang juga muncul keinginan untuk disamakan atau minmal dianggap sebagai orang yang berkantong tebal itu.

Sekarang saya alihkan pembahasan ke masalah yang lebih substantif. Hah, apaan tuh?

Hakikat makan 'kan ya buat kenyang. Tak lebih. Kalau ada, itu relatif. Tergantung apa yang sedang dihadapi oleh orang yang ingin makan.

Tapi, meskipun inti makan itu ya cuma biar kenyang, mengapa orang itu rela mengeluarkan uang yang jauh lebih banyak untuk just makan. Apa yang di cari? Gengsi lagi. Gengsi itu mahal, Coy! Adalah sangat menyenangkan bila kau ditanya, “Makan dimana?” lalu kamu menjawab,”Di sana lho, ditempat mall yang punya resto terbaik itu.” Tapi, tentu kocek yang dikeluarkan juga lebih banyak.

Lalu kemudian saya tanya, apa sama kenyangnya orang tak punya dengan orang punya? Jawabannya absolutely much the same. Ya, sama. Tak kurang tak lebih.

Tapi kemudian gengsi menjadikannya berbeda. Gengsi menjadikan orang menjadi tak bisa melihat hakikat kebutuhannya. Semua diukur oleh materi. Demi gengsi, sebuah konsekuensi harga yang lebih tinggi pun diambil. Ya kalau boleh dibilang, ini sudah ngga rasional.

Saya sendiri juga bingung. Irrasionalitas itu seakan sudah tertanam. Siapa sih yang tak senang punya gengsi tinggi lalu dipuji. Oh, rasanya sudah kayak jadi yan terbaik aja……

Tapi jangan sampai irrasionalias itu mengubur rasionalitas kita. Hakikat hidup harus kita gali lebih dalam. Kita harusnya sadar bahwa gengsi tak akan memberi solusi. Yang ada hanya basa-basi yang berujung pada diri yang merugi.

Boleh saja gengsi, tapi ya sekali-kali. Karena pada kenyataannya kadang gengsi juga sebuah fakta yang tak bisa ditolak. Umpama kamu diundang makan di Plangi, ya mau ngga mau diusahakan datang.

Jadi, memiliki gengsi itu tak apa. Tapi, membanggakan gengsi itu lalu merendahkan yang lain seraya bertinggi hati adalah hal yang harus dijauhi.(*)


Saturday, August 7, 2010

Report Akhir Juli: Dari Kuliah dan Kuliah.....

Tidak banyak yang aku lakukan di minggu-minggu terakhir Juli ini. Kegiatan kuliah semester pendek juga begitu-begitu saja. Bahkan, sekarang telah mendekati masa akhir kuliah dan sebentar lagi ujian. Ya, ujian, sebentar lagi.

Aku selalu berdebar ketika ujian. Dan, seringkali perasaan ingin escape dari momen itu sungguh kuat. Lebih baik tak ada ujian. Tapi apa demikian benar? Oke, mari berpikir sedikit jernih. Kalau mau menelisik lebih dalam, maka ujian ini sebenarnya adalah pintu gerbang. Sebuah pintu gerbang menuju jenjang dengan tingkat standar lebih tinggi. Jadi, simple saja, kalau mau lebih baik, maka ujian harus dilalui. Dan kalau tak mau ujian berarti tak bisa jadi lebih baik ‘kan? Mudah, tapi sulit.

Soal wirausaha
Kali ini, kuliah yang aku sukai adalah kewirausahaan. Aku beruntung mendapatkan pengajaran mata kuliah ini. Kewirausahaan ini memiliki dua pemaknaan: sempit dan luas. Dalam hal pemaknaan sempit, kami, mahasiswa Paramadina diajarkan untuk kelak menjadi wirausaha-wirausaha yang mampu menciptakan lapangan kerja untuk menghadapi kenaikan pertumbuhan penduduk yang tak seimbang dengan penyediaan lapangan pekerjaan dari pemerintah.

Namun, dalam pemaknaan luas, maka kewirausahaan ini, seperti dikatakan dosenku, adalah semangat untuk berinovasi dan kreatif apapun keadaaannya, baik menjadi karyawan atau tidak, menjadi ilmuan, menjadi pendidik, atau apapun. Kewirausahaan dimaknai sebagai sebuh pola pikir yang mendasarkan semangat memberi manfaat (giving benefit) bukan mengambil keuntungan (taking profit).

Coba kalau orang-orang itu semua memiliki semangat kewirausahaan baik dalam pemaknaan sempit maupun yng luas. Wah, dunia ini akan damai ‘kan?

Sibuknya kampus
Sementara, kampusku sedang sibuk mempersiapkan kedatangan mahasiswa baru baik yang regular maupun jalur fellowship, atau lebih dikenal dengan Paramadina Fellowship (PF). Mengenai jalur regular, sejauh ini perkembangannya cukup baik. Paramadina meyelenggarakan tes masuk tiap tiga minggu sekali. Sudah banyak mahasiswa yang bergabung. Kami, dan aku sendiri cukup senang dan bangga. Untuk itu, aku sampiakan selamat bergabung dengan insitusi yang akrab kami sebut small but giant ini!

Kalau soal PF, tanggal 31 kemarin adalah puncak dari tahapan seleksinya. Banyak aplikasi yang masuk dan ternyata hanya beberapa yang bisa bergabung. Beberapa kawan sempat kotak denganku lewat facebook. Ada yang lolos dan ada pula yang tidak. Untuk yang telah tersemat namanya sebagai penerima fellowship, silakan segera persiapkan diri, silakan datang dan berjumpa nanti di Jakarta, Ibukota negara ini!

Sementara, yang belum masuk, aku selalu sampikan kalau PF bukanlah ukuran kesuksesan. Sukses bisa dari mana saja dan Paramadina hanya satu dari jutaan kesuksesan yang Allah Swt sebarkan di muka bumi ini. Silakan kembarakan lagi upaya, Kawan-Kawan. Aku yakin, kesuksesan lain telah menunggu, mungkin bukan sekrang, tetapi sebentar lagi dan tentu butuh sedikit tambahan energi dan pikiran lagi.

Kampus kami juga akan melepas keberangkatan kontingen tari tradisional (T-ta Paramadina) ke Polandia kelak tanggal 7 Agustus. Kemarin, juga pada 31 Juli, acara seremonial pelepasan dilangsungkan. Meski aku tak sempat mengikutinya, aku yakin itu pasti absolutely incredible. Aku tetap menyimpan sejuta harapan untuk kesuksesan dan keselamatan kawan-kawan, sungguh-sungguh. Kepulangan kalian tak hanya berarti nama baik Kampus ini, tetapi juga Bumi Pertiwi tercinta ini.(*)



*sumber gambar bisa di-klik langsung pada gambarnya.